Media Bawean, 28 Februari 2010
“Maulid identik dengan berkat, sedangkan berkat berasal dari kata barokah. Bila seseorang mengangkat berkat, seharusnya ikhlas agar bisa barokah. Sebaliknya bila mengharap-harap agar mendapat berkat lebih besar, secara otomatis nilai barokahnya akan hilang,” jelasnya.
“Ada contoh maulid kampung di Pulau Bawean, seperti di Tajung, Rengkeh-Rengkeh dan Air Panas Kepuhlegundi. Bila mengadakan acara maulid, warganya mengundang sanak saudara dan keluarganya dari luar kampong ataupun guru-gurunya mengaji dimasa kecil, kemudian berkat yang ada diberikan kepada undangan, sedangkan dirinya sendiri tidak mengambil berkat. Mungkin cara ini nilai barokahnya lebih besar daripada diambil sendiri tetapi bila tidak sesuai akan melakukan protes,” ujarnya.
“Berkat maulid di Pulau Bawean adalah budaya nenek moyang kita terdahulu dengan berkat hasil bumi seperti beras, gula, kangkong dan lain-lain, tapi sekarang berubah, berkat barang-barang took,” paparnya. (bst)
Posting Komentar