Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean

Asal Bawean Terpilih Nominator Desain Masker Terbaik


Nurul Hidayati asal Pulau Bawean terpilih sebagai nominator dari 20 peserta karya desain masker terbaik yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Sebelumnya Nurul Hidayati asal Dusun Telok Sangkapura Pulau Bawean Gresik pada tahun 2017 juga masuk 20 besar finalis 'Palm Awards Young Fashion Design Plaza Senayan Jakarta.

Tema "Tertata dan tidak Tertata" dengan judul "Bebas Bergaya di New Normal".

Nurul Hidayati mengatakan dalam pandemi covid-19 tentunya ada protokol kesehatan yang harus dilaksanakan. Akan tetapi menurutnya pada kenyataannya masih banyak yang tidak mematuhinya. 

"Disini saya mengungkapkan lewat masker dengan desain talitemali yang disusun teratur menggambarkan orang-orang yang taat protokol, sedangkan bebatuan yang tidak beratur menggambarkan orang-orang yang tidak taat protokol,"katanya.

"Perpaduan bebatuan dan talitemali ini terlihat unik namun tetap bergaya di new normal ini. Dalam masa pandemi ini saya berharap orang-orang sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan,"jelasnya. 

"Tetap patuhi protokol kesehatan agar terputusnya rantai virus covid-19,"pungkasnya. (bst)

Mau Pergi ke Bawean, Tahapan yang Harus Dipenuhi



Jika Anda ingin pergi atau berkunjung ke Pulau Bawean, diharuskan memiliki surat katerangan sehat yang dikeluarkan oleh Puskesmas terkait untuk memperoleh tiket kapal.

Kapal Express Bahari
Jadwal keberangkatan dari Gresik hari minggu dan kamis, sedangkan pengurusan surat katerangan sehat (suket) dilaksanakan hari sabtu dan rabu di UPT Puskesmas Alun-Alun Gresik.

Persyaratan pengurusan suket, yaitu foto copy surat identitas pribadi E-KTP sebanyak 1 lembar. Disetor kepada petugas jaga, datang lebih awal lebih baik untuk mendapatkan nomor urut antrian pemeriksaan.

Kapal Gili Iyang
Jadwal keberangkatan dari Gresik hari jum'at malam sabtu, sedangkan pengurusan surat katerangan sehat (suket) dilaksanakan hari jum'at pagi di UPT Puskesmas Industri Pasar Senggol Gresik.

Persyaratan pengurusan suket, yaitu foto copy surat identitas pribadi E-KTP sebanyak 1 lembar. Disetor kepada petugas jaga, datang lebih awal lebih baik untuk mendapatkan nomor urut antrian pemeriksaan.

Seteleh mendapatkan surat katerangan sehat, Anda langsung dapat membeli tiket kapal di tiketing. (bst)


Nelayan Pulau Bawean Siap Menangkan Pasangan 'Niat'


Kali ini dukungan terhadap pasangan yang disingkat Niat, ditunjukan warga nelayan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. 

Hal itu tampak saat Gus Yani dan Ning Min melakukan Silaturahmi (road show) selama tiga hari sejak, Kamis-Sabtu (13-15/8).

Antusiasme warga terlihat sejak kedatangan pasangan Niat yang langsung disambut dengan lantunan Sholawat dengan iringan seni hadrah. Bahkan, sejumlah ulama, kyai dan Tokoh Masyarakat (Tomas) setempat ikut menyambut dengan sukacita.

Menurut Ning Min, kegiatan selama di Pulau Bawean, yang paling utamanya yakni silaturahmi dengan para ulama, kiai, dan tokoh masyarakat. 

"Kami minta doa dan restu dan juga minta masukan terkait program yang akan Niat usung dalam Pilkada Gresik 2020. Sebab, tujuan utama Niat adalah menjadikan masyarakat Kabupaten Gresik bisa merasakan apa yang diinginkan," ujarnya, Sabtu (15/8).

"Yang tidak kalah penting, saya bersama Gus Yani minta bantuan doa agar dimudahkan dalam ikhtiar maju Pilkada Gresik 2020 dan nantinya diberikan oleh Allah SWT kemenangan. Sehingga, kami bisa mewujudkan keinginan masyarakat Kabupaten Gresik," tuturnya.

Ning Min menambahkan, bahwa kehadirannya di Pulau Bawean ini juga sebagai bentuk komitmen pasangan 'Niat' untuk memperhatikan dan memprioritaskan program layanan pendidikan dan kesehatan di Pulau Bawean.

"Kami di sini akan memberikan sosialisasi dan supporting kepada masyarakat Bawean, untuk nantinya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sini terutama dalam hal pendidikan maupun kesehatan," tegasnya.

"Selain itu, kami juga ingin mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal. Sehingga, apa yang ada di Pulau Bawean ini bisa dikenal masyarakat luas baik objek wisatanya maupun untuk kulinernya," tuturnya.

Potensi wisata Bawean sangat mungkin untuk dikembangkan dan bisa menjadi icon tersendiri bagi Kabupaten Gresik yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan Kota santri, Kota Wali hingga Kota Industri.

"Apalagi, banyak industri di Kabupaten Gresik yang masuk sebagai aset nasional. Maka tentunya bila bisa dikelola dengan baik, manfaatnya bisa dirasakan oleh masayarakat. Serta, demi kepentingan bangsa dan negara," tandasnya.

Dalam kegiatan tersebut, pasangan Niat juga melaksanakan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Gus Yani - Ning Min dengan perkumpulan Nelayan Bawean yang isinya adalah:

1. Akan membuat kebijakan tentang pelarangan alat tangkap besar semacam tongkang, dll.

2. Memperhatikan kesejahteraan buruh nelayan di pulau Bawean.

Bahkan, pasangan Niat berjanji akan merealisasikan apa yang menjadi keinginan nelayan Bawean jika nanti terpilih menjadi Bupati dan Wakil Gresik periode 2020-2024.

Untuk diketahui dalam Pilkada Gresik 2020, pasangan Niat diusung oleh enam partai. Diantaranya, PDIP, Partai Nasdem, Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, dan PAN yang total memiliki 29 kursi di DPRD Gresik.

Dengan rincian, Partai Golkar 8 kursi, PDIP 6 kursi, Partai Nasdem 5 kursi, Partai Demokrat 4 kursi, PPP 3 kursi, dan PAN 3 kursi.

H. Kemas Aman, Jejak Sang Pelaut Bawean


Essai ditulis oleh Kemas Saiful Rizal, anak kedua almarhum, kontributor Media Bawean.

Setelah berjuang melewati masa kritis 14 hari, akhirnya Ayah meninggal di hari ke 14 itu di RSUD Ibnu Sina Gresik pada tanggal 17 Agustus 2020 pukul 09.45 WIB. Dokter mengatakan bahwa masa kritis Ayah 7 hingga 14 hari, bila berhasil melewati masa kritis itu maka bisa sembuh, ternyata takdir berkata lain, Ayahku meninggal diusia 75 tahun, sama dengan usia Republik ini.

Ayah memiliki riwayat penyakit kencing manis (diabet) sejak tahun 1992, Namun  mengalami kondisi kesehatan yang sangat menurun sejak  Januari 2020. Puncaknya sejak 2 minggu terakhir Ayah mengalami serangan stroke yang menyerang saraf menelannya, sehingga tidak bisa makan atau minum sedikitpun.

Lahir di Pulau Bawean  21 Oktober 1945. Beliau menyelesaikan Sekolah Dasarnya di SD Negeri di Desa Kepuh Teluk Kecamatan Tambak. SMP-nya tamat dari SMP Negeri 2 Gresik yang terletak di dekat Pelabuhan Gresik seiring Kakek Nenekku yang pindah dari Bawean ke Gresik. Kakek (bapak ayahku) berasal dari Desa Kepuh Teluk, sedangkan Nenek (ibu ayahku) dari Desa Diponggo keduanya di Kecamatan Tambak.

Selepas SMP, ayahku mondok di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Di Pondok Gontor, Beliau selesaikan hanya 4 tahun. Karena beliau masuk Gontor selepas SMP (umumnya santri yang masuk Gontor adalah selepas SD), Ayahku bisa ikut program akselerasi (percepatan). Ayah lulus dari Gontor tahun 1966. Beliau sering bercerita bahwa salah satu teman seangkatannya adalah politisi NU, KH. Syukron Makmun. Ayah juga seangkatan dengan KH. Hasan Sahal, putra dari salah satu Kyai pendiri Gontor. Saat Kyai Hasan Sahal bertabligh di Gresik, saya pernah menanyakan ke beliau apakah mengenal nama Kemas Aman, Kyai Hasan Sahal langsung ingat "iya Kemas Aman adalah teman saya bermain sepak bola" katanya.   

Lulus dari Gontor ayah sempat mencicipi bangku kuliah, namun hanya setahun, tepatnya di Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah (FIAD) Universitas Mihammadiyah Surabaya. Lalu ayah ambil ijazah ilmu pelayaran yang mengantarkannya menjadi nakhoda dan memiliki sejumlah kapal.

Tahun 1970, saat jejaka usia 25 tahun (menikah di usia 27 tahun) ayah mulai mengoperasikan Kapal atau Perahu Layar Motor (PLM) bernama Harapan Bhakti yang melayani penyeberangan Bawean-Gresik maupun Bawean menuju Tanjungpinang, Bangka dan Belitung. 

Sebelum ayah, menurut cerita ibuku, kapal yang melayani Bawean - Gresik adalah sejenis perahu layar (tanpa mesin), yang dimiliki oleh Pak Yusuf (dusun Pateken, Desa Kotakusuma). Pelayaran melalui perahu belum tentu ada setiap minggu. Pun waktu tempuh Bawean-Gresik bisa sampai 2 hari 2 malam bila angin kurang bersahabat.

Dengan perahu layar motor yang dioperasikan ayah, waktu tempuh lebih pasti. Misalnya  berangkat jam 4 sore dari Bawean, pukul 7 pagi sudah tiba di Gresik (15 jam). Jadwal pelayaranpun dilakukan setiap minggu sekali, dari Bawean maupun dari Gresik.

Sukses dengan terobosan ini, ayah membuat kapal kedua yaitu PLM Tirta Bhakti. Sedangkan kapal pertama, yakni Harapan Bhakti belakangan dipermak dan berganti nama menjadi Bawean Ekspres.

Melihat usaha ayah maju, banyak pengusaha Bawean lain yang masuk di bisnis kapal. Ada H. Marzuki (masih kerabat Ibuku) yang memiliki kapal Bawean Murni, Murni 2 dan Tri Murni. Kapal-kapal lainnya antara lain Kastoba (milik H. Ismail, sepupu ibuku), Mahkota (Raden Ali Dusun Daya Bata, Sangkapura), Harapan Bahagia (H. Hedar, istrinya adalah sepupu ibuku), Aji Raya 1 dan Aji Raya 7 (KH. Abdul Aziz - Diponggo, masih kerabat Ayah).

Bawean Ekspres adalah puncak kesuksesan ayah sekaligus kejatuhan ayah dalam bisnis kapal. Semua kapal-kapal yang saya sebut diatas adalah kapal-kapal kayu. Suatu sore di tahun 1985, saat kapal Bawean Ekspres berlayar dari pelabuhan Gresik menuju Bawean dengan membawa 100 penumpang lebih, tak berselang lama sejak meninggalkan  pelabuhan Gresik sekitar 2-3 jam Bawean Ekspres bertabrakan dengan sebuah kapal besi yang akhirnya membuatnya tenggelam seketika. Setelah malang melintang di laut selama 15 tahun, sejak itulah ayahku berhenti bekerja di laut. Usahanya kemudian beralih ke darat.

Diakhir hidupnya, ayah yang tinggal di Pulau Bawean, tapi demi pengobatannya Ayah harus dilayarkan ke Gresik. Selama seminggu dirawat di rumah sakit di Gresik, alhamdulillah masih bisa bertemu dengan dengan saudara-saudara ayah dan ibu yang tinggal di Gresik (dan di wilayah Jawa lainnya, Surabaya, Malang dll). Meninggal di Gresik, ibuku menghendaki ayah dikebumikan di Pulau Bawean, biar dekat dengan Ibu dan agar kuburnya bisa sering ditengok. Di akhir hayatnya sekali lagi ayahku tidak bisa dipisahkan dengan laut. Kapal Gili Iyang, menyeberangkan jenazah ayah, diiringi Ibu dan keempat anaknya menghantarkan ayah ketempat peristirahatan terakhirnya di Pulau Bawean tercinta.

Ayah Ayah meninggalkan seorang istri, H. Kamariyah (63 th) dan empat orang anak, masing-masing Nyimas Muthmainnah, AMd (46), Kemas Saiful Rizal, SE (44), Nyimas Indah Amilah, SSi, Apt (41) dan Kemas Husnul Yakin (40) serta 8 orang cucu.

(Tulisan ini tercipta diatas Kapal Gili Iyang, 18 Agustus 2020 pukul 03.30 WIB. Tulisan ini murni subjektif, bila ada yang keberatan atau tidak setuju saya mohon dimaafkan).

Yahya Zaini Minta Pemda Gresik Serius Garap Wisata Bawean


Dalam momentum pulang kampung saat lebaran Idul Adha, anggota DPR RI Yahya Zaini, berkesempatan berkunjung ke beberapa obyek wisata di Bawean, antara lain, Pulau Noko, Pulau Cena dan Lokasi Penangkaran Rusa Bawean, 3 dan 4 Agustus 2020.

Sebagai putera daerah, Yahya sangat bangga dengan keindahan alam dan potensi wisata di Bawean. Namun pengembangannya masih sangat lamban. Ia membandingkan 2 tahun lalu berkunjung ke tempat yang sama,  perubahannya sedikit sekali. Misalnya di Pulau Noko, sudah ada gazibu, toilet dan musholla, namun sayang tidak ada perawatan. 

Bahkan lokasi penangkaran Rusa Bawean terkesan tidak terawat dengan baik. Padahal Rusa Bawean merupakan rusa tunggal yang jenisnya hanya ada satu di dunia. Rusa Bawean " Atung" sangat terkenal di dunia karena pernah jadi maskot Asian Games 2018 yang lalu di Jakarta. Popularitas Atung tidak sebanding dengan perhatian dari Pemda untuk membenahi fasilitas penangkaran maupun sebagai obyek wisata, tegas anggota DPR dari Partai Golkar tersebut.

Demikian halnya dengan pulau Cena, obyek wisata yang belum tergarap dengan baik, padahal selain  keindahan alamnya, luat di kawasan Pulau Cena kaya dengan terumbu karang yang eksotik. Salah satu  spot diving yang menyenangkan bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. 

Menurut Yahya perlu ada kordinasi yang baik antara Pemda Gresik dengan Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pariwisata untuk memajukan wisata di Bawean. Ia juga berharap Pemerintah Desa dapat dilibatkan supaya sebagian dana Desa bisa dialokasikan untuk pengembangan wisata di wilayahnya. Pemda harus aktif mendorong dan menggerakkan Pemerintah Desa,  tegasnya.

Selama ini perhatian Pemda Gresik sudah lumayan bagus, tetapi belum cukup. Perlu ada peta jalan yang jelas serta dorongan yang kuat untuk mempercepat pengembangan wisata Bawean. Partisipasi masyarakat Bawean sangat besar untuk mendorong kemajuan wisata. Tokoh-tokoh Bawean yang ada di rantau, seperti di Jakarta, Surabaya dan kota-kota lain sangat peduli terhadap kemajuan kampung halamannya. 

Sekali lagi, Yahya berharap Pemda Gresik lebih serius menggarap wisata di Bawean ke depan. Sebab, Bawean bisa jadi icon wisata Kabupaten Gresik dan bahkan Propinsi Jawa Timur. Sebagai Anggota Anggota DPR RI ia selalu siap untuk membantu, pungkasnya. (bst)

PROBLEMATIKA GAGASAN PENGEMBANGAN PULAU BAWEAN SEBAGAI KAWASAN WISATA


Oleh: A. Fuad Usfa

1. Pendahuluan
perbincangan perihal pengembangan pulau Bawean sebagai kawasan wisata telah berkembang sedemikian rupa. Konon Pemerintah telah melakukan langkah-la gkah dalam upaya meujudkanbya. Persoalannya, bagaimana kesadaran (pemahaman sadar) kita tentang konsep pengembangan kawasan wisata yang tentu akan membawa berbagai konsekwensi.

2. Apa Produk Kita?
Keparawisataan merupakan industri, dengan demikian tentu harus punya produk, dan atas produk itu kita mesti memasarkan. Yaitu memasarkan ketengah-tengah masyarakat luas, melintas daerah dan negara. 

Bila mana produk itu menarik, maka akan makin banyaklah peminat, demikian pula sebaliknya. Si peminat (calon pembeli) tentu akan menakar kesesuaian dengan selera dan kepentingannya. Sama halnya dengan kita juga bila berposisi sebagaimana mereka. Bisa jadi selera atau kepentingan mereka sama dengan kita, bisa jadi pula berbeda. 

Kita sebagai tuan rumah (produsen) tentu dituntut mampu menawarkan hasil produksi yang sesuai dengan harapan mereka.

3. Oyek Wisata dan Subyek
Sasaran wisata disebut obyek, okeh sebab itu si wisatawan bermakna subyek. Dengan demikian mereka berhak menentukan pilihannya. Mereka mempunyai timbangan yang beragam, dan kita tidak bisa menggiring mereka untuk menerima begitu saja atas dasar penilaian kita. Kita hanya bisa menunjukkan pada mereka bahwa apa yang kita miliki memanglah unggul, baik, dalam takaran kita maupun (utamanya) mereka. Artinya janganlah kita bicara panorama yang indah, bagus, hanya dalam takaran kita saja. Kita harus sudah bicara dalam konteks skala pasar. Untuk itu kita mesti memetakan tentang apa yang kita miliki, serta pangsa pasar.

Setelah itu mau diapakan?. Apakah akan dibiarkan begitu saja seperti apa adanya, lalu si wisatawan akan ‘dipaksa’ (dalam tanda petik) untuk seperti kita saja yang datang ke pantai, lalu bakar ikan dan sebagainya, selanjutnya manggut-manggut dan bergumam, ‘indahnya pantai kita ini...!!!, lalu pulang. Ataukah akan kita kelolah secara profesional sesuai pola bisnis?. Lalu dibangunnya hotel-hotel dan sarana penginapan lain bagi orang-orang yang datan berkunjung yang tentu dari berbagai kawasan, termasuk dari manca negara. Singkatnya bagi para wisatawan, baik domistik dan manca negara, yang nota bene mereka itu orang yang tidak punya keluarga dan  relasi dengan kita. Oleh sebab mereka yang datang dari berbagai kawasan dan kalang tentu kita harus menyiapkan juga bebagai skala, termasuk skala internasional. Konsekwensinya bisa pantai yang alamipun dipoles sedemikian rupa (-contoh kecil: dirawat. Disirami, dirapikan, dipasang irigasi untuk mengatasi banjir, dipasang tanggul untuk mengatasi keterkikisan, dan lain-lain untuk merawat alam dan keamanan wisatawan, dan seterusnya-), walau itu semua tanpa harus menghilangkan nuansa alaminya, dan sebagainya.

Demikian pula dengan gunung-gunung, air terjun, danau, dan sebagainya. Belum lagi pengembangan obyek wisata baru. Okeh sebab mereka yang datang selalu pula dalam satu keluarga, maka fasilitas untuk anak-anak mereka harus disediakan sebagai satu kesatuan paket. Dan seterusnya.

4. Sarana dan Prasarana
Kita punya produk, namun bagaimana harus mencapai dan mendapatkan produk kita itu?.
Untuk itu tentu diperlukan sarana dan prasarana. Okeh sebab sasaran ya adalah domistik dan manca negara (wisdom dan wisman),maka sarana dan prasarana itu haruslah memenuhi standard baik domistik maupun internasional. 

Sebagaimana ulasan di atas juga, dalam hal ini tentu diperlukan pihak penanam modal (investor) berskala besar, menengah, dan kecil. Adapun investor tentu akan menghitung dari aspek kelayakan dalam skala bisnis.

Tidak terkecuali dengan sarana transportasi yang tentu harus rutin dan berkelayakan (baik dalam lensa domistik maupun internasional), sebab wisatawan mesti menjangka lama perjalanan oleh sebab biasanya mereka berwisata di saat waktu luang/libur (holiday) saja. Sehingga bagi mereka waktu sangatlah diperhitungkan sedemikian rupa, apa lagi bilamna sasaran wisata mereka tidak hanya satu kawasan saja.

5. Suatu yang Menjanjikan
Bilamana pengembangan wisata ini berjalan baik, maka kawasan kita akan dipoles sedemikian rupa. Sarana dan prasarana ataupun berbagai fasilitas umum akan dibangun dengan pola modern, maka secara ekonis akan mampu membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, oleh sebab akan terjadi perputaran uang yang cepat.

Dengan yang demikian itu akan bermunculanlah pasar-pasar (sentra-sentra usaha) yang amat kondusif untuk pengembangan semua sektor usaha. Sebagai ilustrasi, katakan misalnya bila dalam satu minggu saja datang seribu wisatawan, dan rata-rata wisatawan mengeluarkan uang (-dalam hitungan paling sedikit-) satu juta rupiah, maka berarti tambahan uang yang beredar dari sektor itu saja sudah mencapai satu milyar. Berarti dalam satu bulan akan mengucurkan tambahan dana yang mengalir dan berputar sebesar empat milyar rupiah. Demikian seterusnya.

Hanya saja persoalan yang muncul kemudian adalah di arus mana uang itu mengalir dan berputar secara signifika?. Berapa yang mampu diserap oleh penduduk tetap?, dan dari serapan penduduk tetap itu berapa prosenkah yang berputar di arus bawah?.

Pada konteks ini peran Pemerintah sangat diharapkan dalam mengeluarkan berbagai kebijakan (regulasi) yang bisa diharapkan dapat memberi perlindungan terhadap pemodal kecil dan menengah di arus bawah. Sehingga kalangan masyarakat kita tidak justru menjadi obyek. Demikian pula peran dari pada tokoh-tokoh masyarakat. 
Persoalannya, mungkinkah?!. Secara ideal, tentu harus!. Banyak pembelajaran yang mesti kita telash, bila kita mau.

6. Antisipasi
Salahsatu kelemahan kita adalah pada ketiada mampuan mengantisipasi. Sering kita melakukan pengambilan keputusan untuk jangka waktu kini (sesaat) saja. Padahal masa kini akan segera tertinggal untuk hari esok, sehingga begitu hari esok tiba kita harus menyesuaikan lagi dengan masa itu, yang dengan demikian kita akan berada dalam posisi tertinggal dari ‘mereka’.

Sering kita selalu berpikir terlalu teknis, tidak antisipatif. Berkaitan dengan daya antisipasi saya teringat apa yang diutarakan Lukman Harun. Beliau mengutarakan suatu contoh tatkala kita memilih sekolah. Sering kita memilih yang menjadi trend masa kini, padahal untuk empat tahun ke depan (tergantung tingkatan, maksudnya di masa kita lulus kelak) bidang tersebut sudah tidak diperlukan lagi, kalaupun diperlukan sudah mencapai titik jenuh (overlouded), yaitu sudah terjadi suatu masyarakat yang berpendidikan berlebih. 

Demikian pula dalam bidang prestise dalam bidang profesi.

Adapun yang saya maksudkan dalam konteks ini, persoalannya, bila mna pulau Bawean kelak sudah menjadi kawasan wisata, sejauh mana antisipadi kita di sektor ini?. Apakah menunggu menggelindi gnya bola di hadapan kita, ataukah akan menyambut bola?. Ataukah hanya akan menjadi penonton?, tentu tidak.

7. Dampak
Segala perubahan di mana dan kapanpun juga pasti akan menumbuhkan dampak, baik positif maupun negatif. Hal tersebut merupakan konsekwensi logis.
Terhadap dampak negatif yang dapat kita lakukan adalah mengatasi dampak negatif yang terjadi dan mungkin terjadi. Dampak tersebut berupa dampak lingkungan (DAL) dan dampak sosial (DAS).

Dampak lingkungan musalnya busa terjadi terhadap kesediaan air bumi mana kala telah dibangunnya hotel-hotel serta tempat-tempat penginapan lain, pemandia, tempat rekreasi buatan, dan sebagainya, sehingga berdampak terhadap menurunnya tingkat kecukupan air untuk keperluan rumah tangga dan sektor usaha kecil maupun tingkat kesuburan tanaman secara luas dan sebagainya. Sebagaimana kita tahu bahwa kalangan wisatawan pada umumnya berasal dari kalangan kelad berpunya sehingga daya pengaruhnya mungkin lebih signifikan, dan terutama bagi mereka yang sedang dalam usia pencarian patron tentu lebih kondusif, serta berbagi hal lainnya.

8. Konstruksi
Tidak semua kawasan wisata mempunyai konstruksi yang sama. Coba perhatikan di Indonesia seperti Bali, Malang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Padang, Toba, dan sebagainya. Coba perhatikan pula manca negara seperti, Singapore, Malaysia, Mesir, Australia, dan sebagainya.

Lalu kita akan menggunakan pola tersendiri?, atau bagaimana, dengan segala kemungkinannya. Dengan kata kunci pertanyaan, ‘mungkinkah?’. Atau gabungan dari berbagai pola. Kemana saja kita harus belajar?, lalu yang mungkin dicontoh?. Atau pasrahkan saja pada Pemerintah atau para pemilik modal?. Atau biarkan saja bergulir secara alami tanpa perlu akselarasi ataupun pengelolaan secara profesional?.

9. Penutup
Adapun yang pasti, waktu akan terus bergulir, masa depan adalah keniscayaan. Perubahan terjadi karena gerak, dan gerak akan selalu dinamik. Tidak akan ada perubahan tanpa gerak. Adapun yang disebut diampun adalah gerak. Karena gerak itulah maka berubah, secara sadar gerak menuntut ke pilihan. Pilihan adalah tantangan, apapun pilihannya. Satu kata kunci: Optimis!.

(Cannington WA, 19 Juli 2020)
Efisi revisi tulisan lama saya.
Saya masukkan pula di group WA ‘Bawean Strategic Forum’.

Warganya Banyak Kerja di Luar Negeri, Desa Paromaan Butuh Sinyal Handphone


Desa Paromaan kecamatan Tambak Pulau Bawean Gresik adalah salah satu kawasan yang belum terjangkau sinyal handphone. Padahal warganya dominan bekerja ke luar negeri yang berprofesi sebagai pekerja kapal. 

H. Kafil Kamsidi Kepala Desa Paromaan mengatakan sudah sejak lama warga menunggu sinyal handphone dapat terjangkau sebagai kebutuhan alat komunikasi. "Tapi sampai sekarang belum kunjung ada, kapal sinyal handphone bisa terjangkau di desa Paromaan,"katanya.

Soal pengajuan ataupun permohonan menurutnya sudah berulang kali disampaikan, tapi sampai sekarang belum ada respon dari pihak penyedia layanan telekomunikasi.

Kafil sebagai kepala desa yang sudah 3 kali menjabat menegaskan bahwa warganya banyak yang bekerja kapal ke luar negeri  sehingga alat komunikasi sangat dibutuhkan. "Banyak warga yang mencari sinyal ke luar wilayah, seperti ke Tanjungori ataupun Tambak,"ujarnya.

Lebih lanjut Kades Paromaan berharap pihak penyedia layanan komunikasi untuk segera melayani wilayahnya sehubungan kebutuhan warganya sangat besar. (bst)

Tidak Benar Berita Penumpang Gelap Kapal dari Bawean


Adanya pemberitaan tentang penumpang gelap dalam pelayaran kapal Express Bahari 8E rute Pulau Bawean Gresik dibantah oleh aparat yang berwenang di Pulau Bawean.

Lutfil Manar kepala UPT Perhubungan Bawean mengatakan tidak benar jika ada penumpang gelap dalam pelayatan kapal cepat dari Pulau Bawean. "Tidak benar, apalagi penjagaannya ekstra ketat oleh petugas tim gugus tugas covid-19 yang melibatkan TNI - Polri, Dinkes. Dishub dan Syahbandar,"katanya.

Menurutnya setiap calon penumpang kapal diperiksa melalui boarding tiket, terus pemeriksaan suhu. dilanjutkan pemeriksaan surat kesehatan yang dicocokkan dengan kartu identitas calon penumpang.

Hal senada disampaikan M. Yasin petugas Syahbandar Bawean menyatakan tidak benar adanya penumpang yang tidak bertiket. "Seluruh penumpang diperiksa oleh petugas gabungan di pintu masuk pelabuhan menuju kapal,"paparnya.

Perlu diketahui jumlah calon penumpang kapal rute Pulau Bawean - Gresik melonjak sehubungan banyaknya santri yang ingin kembali nyantri di pondok pesantren yang tersebar di Pulau Jawa. Diantara pemicunya adanya aturan kouta jumlah penumpang kapal yang dikurangi 50% dari kapasitas normal, serta pengurangan frekuwensi jadwal kapal. (bst)

Saya Korban Fitnah oleh Pengikut Sendiri


Marhawi setelah mendengar beberapa pernyataan terkait isu yang berkembang di masyarakat secara tegas menyatakan itu fitnah.

Beberapa pernyataan disampaikan langsung oleh Kyai Muzayyin bersama Kyai Lukman kepada Marhawi ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Qun Fayaqun, hari kamis (28/5).

Marhawi menyatakan secara tegas bahwa itu fitnah yang dilakukan oleh pengikutnya sendiri.

"Terus terang, saya tidak pernah menyampaikan pernyataan tersebut, tapi kenapa bisa berkembang di masyarakat seperti itu,"katanya.

"Sementara ini dalam pertemuan selalunya saya mengajak kebaikan, seperti rajin sholat dan lain-lain,"ujarnya.

Jadi kesimpulannya, timbulnya banyak fitnah yang berkembang di masyarakat bersumberkan dari beberapa pengikutnya yang ingin membesarkan gurunya. (bst)


Tidak ada Perkumpulan, Semuanya Bubar


Marhawi yang menghebohkan Pulau Bawean sehubungan adanya video viral terkait wirid dengan berbagai gerakan, menyatakan mohon maaf kepada seluruh warga Pulau Bawean dimanapun berada.

"Ini kekhilafan saya, terkait pendapat jasad yang ada didalam kubur dan nur cahaya hitam. Mohon dimaafkan, saya sebagai insan yang tidak terlepas dari salah dan khilaf,"katanya.

Selanjutnya menurut Marhawi, sudah tidak ada perkumpulan lagi, sudah dibubarkan. "Jika saya melanggar, resikonya sesuai pernyataan secara tertulis maka akan dituntut secara hukum,"ujarnya.

Soal adanya perkumpulan sebelumnya, menurutnya tidak pernah membentuknya, mereka datang dengan sendirinya tanpa ada perekrutan ataupun baiat. "Tidak benar jika saya membentuk perkumpulan, termasuk tidak pernah melakukan baiat,"paparnya.

"Terus terang sudah seringkali dikatakan bahwa keilmuan yang saya miliki tidak sebanding dengan orang-orang yang datang mau belajar. Tapi mereka memaksa terus sehingga sampai ada pertemuan,"ungkapnya.

Lebih lanjut Marhawi menjelaskan bahwa adanya pertemuan itu hanya biasa saja, tidak ada istilah guru dengan murid. "Hanya cerita-cerita biasa saja, seperti diskusi,"akunya saat ditemui Media Bawean di Pondok Pesantren Qun Fayaqun Batusendi, hari kamis (28/5). (bst)

Marhawi Buat Surat Pernyataan dihadapan Tokoh Bawean



Marhawi asal Pulau Gili yang kini berdomisili di desa Lebak kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik semalam dihadapan tokoh -tokoh Nahdlatul Ulama, juga dihadiri Kepala Desa Lebak membuat surat pernyataan, yang isinya sebagai berikut :

Dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim,

saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa ajaran saya yang diajarkan pada kelompok saya menyimpang dari ajaran islam yang benar, untuk itu saya bertaubat akan kembali kepada ajaran islam yang benar, dan kepada pengikut atau kelompok saya tidak dibenarkan melanjutkan ajaran saya.

Dan saya berjanji tidak akan menyebarkan ajaran saya kepada siapapun.

Demikian surat pernyataan saya dibuat atas dasar kesadaran tanpa ada paksaan dari siapapun, dan apabila saya menyimpang dari pernyataan ini, saya siap diproses secara hukum.

Dalam surat pernyataan ditandatangani oleh Marhawi diatas materi yang disaksikan oleh banyak tokoh di Pulau Bawean. (bst)

Forkopimcam Tambak Gelar Operasi Mamin Kadaluarsa


Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Tambak di Pulau Bawean Kabupaten Gresik menggelar operasi makanan dan minuman (mamin), hari rabu (20/5).

Operasi dipimpin langsung Camat Tambak Agung Endro Dwi Setyo Utomo dengan mendatangi banyak toko disepanjang jalan lingkar Pulau Bawean.

Menurutnya operasi digelar dalam rangka menjelang hari raya idul fitri. "Sesuai tradisi warga Bawean menjelang lebaran akan berbelanja makanan dan minuman,"katanya.

"Menghindari adanya mamin yang kadaluarsa, maka digelar operasi ke banyak toko di kecamatan Tambak,"ujarnya.

Operasi digelar melibatkan pegawai kecamatan, anggota kepolisian dan koramil memeriksa makanan dan minuman dengan melihat masa kadaluarsa.

Hasil operasi diamankan berbagai makanan dan minuman yang sudah kadaluarsa. "Semua barang akan langsung dimusnahkan,"tegasnya. (bst)

Curi Motor di Warkop, Pemuda Bawean Gresik Diamankan Polisi


M Syarif alias Dayat (20) warga Kecamatan Sangkapura (Pulau Bawean) Kabupaten Gresik akhirnya diamankan polisi. Pemuda ini ditangkap usai mencuri motor Honda Scoopy nopol W 2125 BE di sebuah warkop Jl Dr Soetomo, Gresik.

Kala itu, korban berinisial FES (25) sedang nongkrong di warkop. Sesaat kemudian dia buang air kecil ke toilet. Tanpa disadari kunci motornya dibiarkan tergeletak di meja. Dari situ, pelaku lalu mengambil kunci motor dan membawa kabur motor korban.

Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo didampingi Kapolsek Gresik Kota AKP Inggit Prasetyanto menjelaskan, korban menyadari motornya dibawa kabur pelaku setelah dia kembali dari toilet warkop.

“Tersangka sempat ditanya oleh penjaga warung. Oleh tersangka dia mengatakan mau mengambil uang. Saat korban keluar dari toilet, dia kaget kunci motor dan motornya dibawa kabur pelaku,” ujar Kusworo, Senin (18/5/2020).

Dari situ korban lalu melaporkan kejadian itu ke Polsek Gresik Kota. Setelah melakukan penyelidikan, pelaku akhirnya berhasil dibekuk saat berada di terminal Joyoboyo, Kota Surabaya. Hanya saja, motor curiannya telah dijual entah kemana.

“Kita masih mencari keberadaan penadahnya. Motor curian itu sudah dijual oleh tersangka seharga Rp 1,5 juta. Yang mana uang Rp 500 ribu dikasihkan kepada perantara yang menjual motor. Lalu Rp 500 ribu untuk bayar kos, Rp 100 ribu untuk beli baju baru dan sisanya habis untuk kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Atas perbuatan itu, tersangka yang merupakan seorang residivis dijerat pasal 363 KUHP jo pasal 262 KUHP tentang tindak pidana pencurian. Dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

“Pada bulan Mei 2019 tersangka pernah dihukum atas kasus pencurian HP. Dan baru keluar penjara sekitar 5 bulan yang lalu,” pungkasnya. (Reporter : Azharil Farich/Kabar Jawa Timur)

Putus Penyebaran Corona, Dishub Gresik Berhentikan Operasi KMP Gili Iyang


Dalam rangka memutus mata rantai virus corona dan memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada masyarakat Pulau Bawean, Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik mengeluarkan surat pemberhentian sementara beroperasinya kapal KMP Gili Iyang rute Gresik - Pulau Bawean.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik, Nanang Setiawan membenarkan kapal KMP Gili Iyang diberhentikan beroperasi sementara mulai tanggal 18 Mei 2020 sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.

"Adapun angkutan sembako atau barang, bisa melalui Kapal Layar Motor (KLM) dan Perahu yang melayani pelayaran Gresik - Pulau Bawean,"katanya.

Sesuai surat yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik, diantara pertimbangan diberhentikannya KMP Gili Iyang dikarenakan hasil rapid test untuk calon penumpang di Puskesmas Alun- Alun Gresik diketahui beberapa orang hasilnya reaktif. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean