Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean

PROBLEMATIKA GAGASAN PENGEMBANGAN PULAU BAWEAN SEBAGAI KAWASAN WISATA


Oleh: A. Fuad Usfa

1. Pendahuluan
perbincangan perihal pengembangan pulau Bawean sebagai kawasan wisata telah berkembang sedemikian rupa. Konon Pemerintah telah melakukan langkah-la gkah dalam upaya meujudkanbya. Persoalannya, bagaimana kesadaran (pemahaman sadar) kita tentang konsep pengembangan kawasan wisata yang tentu akan membawa berbagai konsekwensi.

2. Apa Produk Kita?
Keparawisataan merupakan industri, dengan demikian tentu harus punya produk, dan atas produk itu kita mesti memasarkan. Yaitu memasarkan ketengah-tengah masyarakat luas, melintas daerah dan negara. 

Bila mana produk itu menarik, maka akan makin banyaklah peminat, demikian pula sebaliknya. Si peminat (calon pembeli) tentu akan menakar kesesuaian dengan selera dan kepentingannya. Sama halnya dengan kita juga bila berposisi sebagaimana mereka. Bisa jadi selera atau kepentingan mereka sama dengan kita, bisa jadi pula berbeda. 

Kita sebagai tuan rumah (produsen) tentu dituntut mampu menawarkan hasil produksi yang sesuai dengan harapan mereka.

3. Oyek Wisata dan Subyek
Sasaran wisata disebut obyek, okeh sebab itu si wisatawan bermakna subyek. Dengan demikian mereka berhak menentukan pilihannya. Mereka mempunyai timbangan yang beragam, dan kita tidak bisa menggiring mereka untuk menerima begitu saja atas dasar penilaian kita. Kita hanya bisa menunjukkan pada mereka bahwa apa yang kita miliki memanglah unggul, baik, dalam takaran kita maupun (utamanya) mereka. Artinya janganlah kita bicara panorama yang indah, bagus, hanya dalam takaran kita saja. Kita harus sudah bicara dalam konteks skala pasar. Untuk itu kita mesti memetakan tentang apa yang kita miliki, serta pangsa pasar.

Setelah itu mau diapakan?. Apakah akan dibiarkan begitu saja seperti apa adanya, lalu si wisatawan akan ‘dipaksa’ (dalam tanda petik) untuk seperti kita saja yang datang ke pantai, lalu bakar ikan dan sebagainya, selanjutnya manggut-manggut dan bergumam, ‘indahnya pantai kita ini...!!!, lalu pulang. Ataukah akan kita kelolah secara profesional sesuai pola bisnis?. Lalu dibangunnya hotel-hotel dan sarana penginapan lain bagi orang-orang yang datan berkunjung yang tentu dari berbagai kawasan, termasuk dari manca negara. Singkatnya bagi para wisatawan, baik domistik dan manca negara, yang nota bene mereka itu orang yang tidak punya keluarga dan  relasi dengan kita. Oleh sebab mereka yang datang dari berbagai kawasan dan kalang tentu kita harus menyiapkan juga bebagai skala, termasuk skala internasional. Konsekwensinya bisa pantai yang alamipun dipoles sedemikian rupa (-contoh kecil: dirawat. Disirami, dirapikan, dipasang irigasi untuk mengatasi banjir, dipasang tanggul untuk mengatasi keterkikisan, dan lain-lain untuk merawat alam dan keamanan wisatawan, dan seterusnya-), walau itu semua tanpa harus menghilangkan nuansa alaminya, dan sebagainya.

Demikian pula dengan gunung-gunung, air terjun, danau, dan sebagainya. Belum lagi pengembangan obyek wisata baru. Okeh sebab mereka yang datang selalu pula dalam satu keluarga, maka fasilitas untuk anak-anak mereka harus disediakan sebagai satu kesatuan paket. Dan seterusnya.

4. Sarana dan Prasarana
Kita punya produk, namun bagaimana harus mencapai dan mendapatkan produk kita itu?.
Untuk itu tentu diperlukan sarana dan prasarana. Okeh sebab sasaran ya adalah domistik dan manca negara (wisdom dan wisman),maka sarana dan prasarana itu haruslah memenuhi standard baik domistik maupun internasional. 

Sebagaimana ulasan di atas juga, dalam hal ini tentu diperlukan pihak penanam modal (investor) berskala besar, menengah, dan kecil. Adapun investor tentu akan menghitung dari aspek kelayakan dalam skala bisnis.

Tidak terkecuali dengan sarana transportasi yang tentu harus rutin dan berkelayakan (baik dalam lensa domistik maupun internasional), sebab wisatawan mesti menjangka lama perjalanan oleh sebab biasanya mereka berwisata di saat waktu luang/libur (holiday) saja. Sehingga bagi mereka waktu sangatlah diperhitungkan sedemikian rupa, apa lagi bilamna sasaran wisata mereka tidak hanya satu kawasan saja.

5. Suatu yang Menjanjikan
Bilamana pengembangan wisata ini berjalan baik, maka kawasan kita akan dipoles sedemikian rupa. Sarana dan prasarana ataupun berbagai fasilitas umum akan dibangun dengan pola modern, maka secara ekonis akan mampu membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, oleh sebab akan terjadi perputaran uang yang cepat.

Dengan yang demikian itu akan bermunculanlah pasar-pasar (sentra-sentra usaha) yang amat kondusif untuk pengembangan semua sektor usaha. Sebagai ilustrasi, katakan misalnya bila dalam satu minggu saja datang seribu wisatawan, dan rata-rata wisatawan mengeluarkan uang (-dalam hitungan paling sedikit-) satu juta rupiah, maka berarti tambahan uang yang beredar dari sektor itu saja sudah mencapai satu milyar. Berarti dalam satu bulan akan mengucurkan tambahan dana yang mengalir dan berputar sebesar empat milyar rupiah. Demikian seterusnya.

Hanya saja persoalan yang muncul kemudian adalah di arus mana uang itu mengalir dan berputar secara signifika?. Berapa yang mampu diserap oleh penduduk tetap?, dan dari serapan penduduk tetap itu berapa prosenkah yang berputar di arus bawah?.

Pada konteks ini peran Pemerintah sangat diharapkan dalam mengeluarkan berbagai kebijakan (regulasi) yang bisa diharapkan dapat memberi perlindungan terhadap pemodal kecil dan menengah di arus bawah. Sehingga kalangan masyarakat kita tidak justru menjadi obyek. Demikian pula peran dari pada tokoh-tokoh masyarakat. 
Persoalannya, mungkinkah?!. Secara ideal, tentu harus!. Banyak pembelajaran yang mesti kita telash, bila kita mau.

6. Antisipasi
Salahsatu kelemahan kita adalah pada ketiada mampuan mengantisipasi. Sering kita melakukan pengambilan keputusan untuk jangka waktu kini (sesaat) saja. Padahal masa kini akan segera tertinggal untuk hari esok, sehingga begitu hari esok tiba kita harus menyesuaikan lagi dengan masa itu, yang dengan demikian kita akan berada dalam posisi tertinggal dari ‘mereka’.

Sering kita selalu berpikir terlalu teknis, tidak antisipatif. Berkaitan dengan daya antisipasi saya teringat apa yang diutarakan Lukman Harun. Beliau mengutarakan suatu contoh tatkala kita memilih sekolah. Sering kita memilih yang menjadi trend masa kini, padahal untuk empat tahun ke depan (tergantung tingkatan, maksudnya di masa kita lulus kelak) bidang tersebut sudah tidak diperlukan lagi, kalaupun diperlukan sudah mencapai titik jenuh (overlouded), yaitu sudah terjadi suatu masyarakat yang berpendidikan berlebih. 

Demikian pula dalam bidang prestise dalam bidang profesi.

Adapun yang saya maksudkan dalam konteks ini, persoalannya, bila mna pulau Bawean kelak sudah menjadi kawasan wisata, sejauh mana antisipadi kita di sektor ini?. Apakah menunggu menggelindi gnya bola di hadapan kita, ataukah akan menyambut bola?. Ataukah hanya akan menjadi penonton?, tentu tidak.

7. Dampak
Segala perubahan di mana dan kapanpun juga pasti akan menumbuhkan dampak, baik positif maupun negatif. Hal tersebut merupakan konsekwensi logis.
Terhadap dampak negatif yang dapat kita lakukan adalah mengatasi dampak negatif yang terjadi dan mungkin terjadi. Dampak tersebut berupa dampak lingkungan (DAL) dan dampak sosial (DAS).

Dampak lingkungan musalnya busa terjadi terhadap kesediaan air bumi mana kala telah dibangunnya hotel-hotel serta tempat-tempat penginapan lain, pemandia, tempat rekreasi buatan, dan sebagainya, sehingga berdampak terhadap menurunnya tingkat kecukupan air untuk keperluan rumah tangga dan sektor usaha kecil maupun tingkat kesuburan tanaman secara luas dan sebagainya. Sebagaimana kita tahu bahwa kalangan wisatawan pada umumnya berasal dari kalangan kelad berpunya sehingga daya pengaruhnya mungkin lebih signifikan, dan terutama bagi mereka yang sedang dalam usia pencarian patron tentu lebih kondusif, serta berbagi hal lainnya.

8. Konstruksi
Tidak semua kawasan wisata mempunyai konstruksi yang sama. Coba perhatikan di Indonesia seperti Bali, Malang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Padang, Toba, dan sebagainya. Coba perhatikan pula manca negara seperti, Singapore, Malaysia, Mesir, Australia, dan sebagainya.

Lalu kita akan menggunakan pola tersendiri?, atau bagaimana, dengan segala kemungkinannya. Dengan kata kunci pertanyaan, ‘mungkinkah?’. Atau gabungan dari berbagai pola. Kemana saja kita harus belajar?, lalu yang mungkin dicontoh?. Atau pasrahkan saja pada Pemerintah atau para pemilik modal?. Atau biarkan saja bergulir secara alami tanpa perlu akselarasi ataupun pengelolaan secara profesional?.

9. Penutup
Adapun yang pasti, waktu akan terus bergulir, masa depan adalah keniscayaan. Perubahan terjadi karena gerak, dan gerak akan selalu dinamik. Tidak akan ada perubahan tanpa gerak. Adapun yang disebut diampun adalah gerak. Karena gerak itulah maka berubah, secara sadar gerak menuntut ke pilihan. Pilihan adalah tantangan, apapun pilihannya. Satu kata kunci: Optimis!.

(Cannington WA, 19 Juli 2020)
Efisi revisi tulisan lama saya.
Saya masukkan pula di group WA ‘Bawean Strategic Forum’.

Warganya Banyak Kerja di Luar Negeri, Desa Paromaan Butuh Sinyal Handphone


Desa Paromaan kecamatan Tambak Pulau Bawean Gresik adalah salah satu kawasan yang belum terjangkau sinyal handphone. Padahal warganya dominan bekerja ke luar negeri yang berprofesi sebagai pekerja kapal. 

H. Kafil Kamsidi Kepala Desa Paromaan mengatakan sudah sejak lama warga menunggu sinyal handphone dapat terjangkau sebagai kebutuhan alat komunikasi. "Tapi sampai sekarang belum kunjung ada, kapal sinyal handphone bisa terjangkau di desa Paromaan,"katanya.

Soal pengajuan ataupun permohonan menurutnya sudah berulang kali disampaikan, tapi sampai sekarang belum ada respon dari pihak penyedia layanan telekomunikasi.

Kafil sebagai kepala desa yang sudah 3 kali menjabat menegaskan bahwa warganya banyak yang bekerja kapal ke luar negeri  sehingga alat komunikasi sangat dibutuhkan. "Banyak warga yang mencari sinyal ke luar wilayah, seperti ke Tanjungori ataupun Tambak,"ujarnya.

Lebih lanjut Kades Paromaan berharap pihak penyedia layanan komunikasi untuk segera melayani wilayahnya sehubungan kebutuhan warganya sangat besar. (bst)

Tidak Benar Berita Penumpang Gelap Kapal dari Bawean


Adanya pemberitaan tentang penumpang gelap dalam pelayaran kapal Express Bahari 8E rute Pulau Bawean Gresik dibantah oleh aparat yang berwenang di Pulau Bawean.

Lutfil Manar kepala UPT Perhubungan Bawean mengatakan tidak benar jika ada penumpang gelap dalam pelayatan kapal cepat dari Pulau Bawean. "Tidak benar, apalagi penjagaannya ekstra ketat oleh petugas tim gugus tugas covid-19 yang melibatkan TNI - Polri, Dinkes. Dishub dan Syahbandar,"katanya.

Menurutnya setiap calon penumpang kapal diperiksa melalui boarding tiket, terus pemeriksaan suhu. dilanjutkan pemeriksaan surat kesehatan yang dicocokkan dengan kartu identitas calon penumpang.

Hal senada disampaikan M. Yasin petugas Syahbandar Bawean menyatakan tidak benar adanya penumpang yang tidak bertiket. "Seluruh penumpang diperiksa oleh petugas gabungan di pintu masuk pelabuhan menuju kapal,"paparnya.

Perlu diketahui jumlah calon penumpang kapal rute Pulau Bawean - Gresik melonjak sehubungan banyaknya santri yang ingin kembali nyantri di pondok pesantren yang tersebar di Pulau Jawa. Diantara pemicunya adanya aturan kouta jumlah penumpang kapal yang dikurangi 50% dari kapasitas normal, serta pengurangan frekuwensi jadwal kapal. (bst)

Saya Korban Fitnah oleh Pengikut Sendiri


Marhawi setelah mendengar beberapa pernyataan terkait isu yang berkembang di masyarakat secara tegas menyatakan itu fitnah.

Beberapa pernyataan disampaikan langsung oleh Kyai Muzayyin bersama Kyai Lukman kepada Marhawi ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Qun Fayaqun, hari kamis (28/5).

Marhawi menyatakan secara tegas bahwa itu fitnah yang dilakukan oleh pengikutnya sendiri.

"Terus terang, saya tidak pernah menyampaikan pernyataan tersebut, tapi kenapa bisa berkembang di masyarakat seperti itu,"katanya.

"Sementara ini dalam pertemuan selalunya saya mengajak kebaikan, seperti rajin sholat dan lain-lain,"ujarnya.

Jadi kesimpulannya, timbulnya banyak fitnah yang berkembang di masyarakat bersumberkan dari beberapa pengikutnya yang ingin membesarkan gurunya. (bst)


Tidak ada Perkumpulan, Semuanya Bubar


Marhawi yang menghebohkan Pulau Bawean sehubungan adanya video viral terkait wirid dengan berbagai gerakan, menyatakan mohon maaf kepada seluruh warga Pulau Bawean dimanapun berada.

"Ini kekhilafan saya, terkait pendapat jasad yang ada didalam kubur dan nur cahaya hitam. Mohon dimaafkan, saya sebagai insan yang tidak terlepas dari salah dan khilaf,"katanya.

Selanjutnya menurut Marhawi, sudah tidak ada perkumpulan lagi, sudah dibubarkan. "Jika saya melanggar, resikonya sesuai pernyataan secara tertulis maka akan dituntut secara hukum,"ujarnya.

Soal adanya perkumpulan sebelumnya, menurutnya tidak pernah membentuknya, mereka datang dengan sendirinya tanpa ada perekrutan ataupun baiat. "Tidak benar jika saya membentuk perkumpulan, termasuk tidak pernah melakukan baiat,"paparnya.

"Terus terang sudah seringkali dikatakan bahwa keilmuan yang saya miliki tidak sebanding dengan orang-orang yang datang mau belajar. Tapi mereka memaksa terus sehingga sampai ada pertemuan,"ungkapnya.

Lebih lanjut Marhawi menjelaskan bahwa adanya pertemuan itu hanya biasa saja, tidak ada istilah guru dengan murid. "Hanya cerita-cerita biasa saja, seperti diskusi,"akunya saat ditemui Media Bawean di Pondok Pesantren Qun Fayaqun Batusendi, hari kamis (28/5). (bst)

Marhawi Buat Surat Pernyataan dihadapan Tokoh Bawean



Marhawi asal Pulau Gili yang kini berdomisili di desa Lebak kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik semalam dihadapan tokoh -tokoh Nahdlatul Ulama, juga dihadiri Kepala Desa Lebak membuat surat pernyataan, yang isinya sebagai berikut :

Dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim,

saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa ajaran saya yang diajarkan pada kelompok saya menyimpang dari ajaran islam yang benar, untuk itu saya bertaubat akan kembali kepada ajaran islam yang benar, dan kepada pengikut atau kelompok saya tidak dibenarkan melanjutkan ajaran saya.

Dan saya berjanji tidak akan menyebarkan ajaran saya kepada siapapun.

Demikian surat pernyataan saya dibuat atas dasar kesadaran tanpa ada paksaan dari siapapun, dan apabila saya menyimpang dari pernyataan ini, saya siap diproses secara hukum.

Dalam surat pernyataan ditandatangani oleh Marhawi diatas materi yang disaksikan oleh banyak tokoh di Pulau Bawean. (bst)

Forkopimcam Tambak Gelar Operasi Mamin Kadaluarsa


Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Tambak di Pulau Bawean Kabupaten Gresik menggelar operasi makanan dan minuman (mamin), hari rabu (20/5).

Operasi dipimpin langsung Camat Tambak Agung Endro Dwi Setyo Utomo dengan mendatangi banyak toko disepanjang jalan lingkar Pulau Bawean.

Menurutnya operasi digelar dalam rangka menjelang hari raya idul fitri. "Sesuai tradisi warga Bawean menjelang lebaran akan berbelanja makanan dan minuman,"katanya.

"Menghindari adanya mamin yang kadaluarsa, maka digelar operasi ke banyak toko di kecamatan Tambak,"ujarnya.

Operasi digelar melibatkan pegawai kecamatan, anggota kepolisian dan koramil memeriksa makanan dan minuman dengan melihat masa kadaluarsa.

Hasil operasi diamankan berbagai makanan dan minuman yang sudah kadaluarsa. "Semua barang akan langsung dimusnahkan,"tegasnya. (bst)

Curi Motor di Warkop, Pemuda Bawean Gresik Diamankan Polisi


M Syarif alias Dayat (20) warga Kecamatan Sangkapura (Pulau Bawean) Kabupaten Gresik akhirnya diamankan polisi. Pemuda ini ditangkap usai mencuri motor Honda Scoopy nopol W 2125 BE di sebuah warkop Jl Dr Soetomo, Gresik.

Kala itu, korban berinisial FES (25) sedang nongkrong di warkop. Sesaat kemudian dia buang air kecil ke toilet. Tanpa disadari kunci motornya dibiarkan tergeletak di meja. Dari situ, pelaku lalu mengambil kunci motor dan membawa kabur motor korban.

Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo didampingi Kapolsek Gresik Kota AKP Inggit Prasetyanto menjelaskan, korban menyadari motornya dibawa kabur pelaku setelah dia kembali dari toilet warkop.

“Tersangka sempat ditanya oleh penjaga warung. Oleh tersangka dia mengatakan mau mengambil uang. Saat korban keluar dari toilet, dia kaget kunci motor dan motornya dibawa kabur pelaku,” ujar Kusworo, Senin (18/5/2020).

Dari situ korban lalu melaporkan kejadian itu ke Polsek Gresik Kota. Setelah melakukan penyelidikan, pelaku akhirnya berhasil dibekuk saat berada di terminal Joyoboyo, Kota Surabaya. Hanya saja, motor curiannya telah dijual entah kemana.

“Kita masih mencari keberadaan penadahnya. Motor curian itu sudah dijual oleh tersangka seharga Rp 1,5 juta. Yang mana uang Rp 500 ribu dikasihkan kepada perantara yang menjual motor. Lalu Rp 500 ribu untuk bayar kos, Rp 100 ribu untuk beli baju baru dan sisanya habis untuk kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Atas perbuatan itu, tersangka yang merupakan seorang residivis dijerat pasal 363 KUHP jo pasal 262 KUHP tentang tindak pidana pencurian. Dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

“Pada bulan Mei 2019 tersangka pernah dihukum atas kasus pencurian HP. Dan baru keluar penjara sekitar 5 bulan yang lalu,” pungkasnya. (Reporter : Azharil Farich/Kabar Jawa Timur)

Putus Penyebaran Corona, Dishub Gresik Berhentikan Operasi KMP Gili Iyang


Dalam rangka memutus mata rantai virus corona dan memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada masyarakat Pulau Bawean, Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik mengeluarkan surat pemberhentian sementara beroperasinya kapal KMP Gili Iyang rute Gresik - Pulau Bawean.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik, Nanang Setiawan membenarkan kapal KMP Gili Iyang diberhentikan beroperasi sementara mulai tanggal 18 Mei 2020 sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.

"Adapun angkutan sembako atau barang, bisa melalui Kapal Layar Motor (KLM) dan Perahu yang melayani pelayaran Gresik - Pulau Bawean,"katanya.

Sesuai surat yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik, diantara pertimbangan diberhentikannya KMP Gili Iyang dikarenakan hasil rapid test untuk calon penumpang di Puskesmas Alun- Alun Gresik diketahui beberapa orang hasilnya reaktif. (bst)

Antara Pulau Bawean dan Pondok Pesantren Sidogiri


Tak terbayang angan dan nalar; Titik nun jauh di sana, tinggalkan jejak mulia di sini;
Bawean yang tampaknya nanar dan hambar;
Ternyata, putra terbaiknya pernah torehkan sejarah di Pesantren Sidogiri.

Adalah Kiai Aminullah dan Kiai Muhammad Mahalli;
Santri taat Sayyid Sulaiman asal Bawean angkatan pertama;
Menjadi penerus, setelah sang guru kembali;
Mengasuh para santri laksanakan tugas misi agama.

Kiai Aminullah adalah titisan Maulana Umar Mas’ud; Seorang Raja peletak dasar-dasar ke-Islaman di Pulau Bawean;
Menjadi pengasuh pesantren Sidogiri angkatan kedua yang tak pernah surut;
Mendidik santri meraih mimpi menuju puncak pengabdian.

Buah karyanya cukup banyak yang dipersembahkan;
Meski banyak yang hilang, Prasasti dengan khat kaligrafi bercorak riq’i;
Satu-satunya peninggalannya yang masih tersimpan;
Terpampang di dalam masjid kuno Kanigoro, terawat hingga kini.

Sepeninggal kiai Aminullah, pesantren Sidogiri masih putra Bawean pengasuhnya;
Kiai Muhammad Mahalli adalah generasi selanjutnya.

Sama seperti guru dan pendahulunya;
Kiai santun ini menguasai ilmu falak dan ilmu agama;
Bahkan juga memiliki segudang karamah yang tak terjangkau akal;
Ilmu agama dan karamahnya mengalir abadi dan kekal.

Namanya terpatri melalui salah satu karya seninya;
Sebuah kaligrafi jadwal shalat rawatib terpasang indah di Masjid Sidogiri;
Sebagai tanda peninggalan dan bukti keberadaannya;
Di bagian bawah tertulis: “Bikhatbithi Muhammad Mahalli Al-Baweani”.

Juanda, 6 Mei 2020 – 02:13
Nico Ainul Yakin

Pulau Bawean, Noktah Kecil di Tengah Samudera


Mungkin karena malas membaca peta. Banyak yang tak tahu di mana letakmu berada. Mungkin karena malas membaca sejarah. Banyak yang tak paham asal usulmu bermula.

Berada di tengah samudera diapit pulau-pulau raksasa. Di utara ada Borneo, di selatan ada Jawa dan Madura.

Sejauh mata memandang, terbentang luas samudera. Jauh di timur terdapat daratan Sulawesi, di barat ada pulau Sumatera.

Dibandingkan planet-planet yang menghiasi tata surya. Di bumi yang memang sudah kecil. Letakmu hanya seperti noktah yang tak terlihat di peta.

Untuk bisa mengatakan bahwa kau ada. Mungkin hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar. Maka di situlah, kau nyata adanya. Asal usulmu bukan hanya sarat sejarah, tapi juga kaya makna.

Namamu sudah dikenal jauh sebelum berkembangnya peradaban nusantara. Terdapat banyak kata sebagai pertanda nama dan keluhuran makna. Tak hanya itu, tapi juga ada peradaban yang sudah terbentuk di sana.

Majeti dan majedi adalah nama yang mula-mula ada. Konon diambil dari kosa kata bahasa Arab bermakna “uang logam” dan “temuan”. Sebuah makna simbolik yang tersirat atas tingginya sebuah etos kerja. Juga nilai-nilai toleransi yang dijunjung bersama.

Namamu juga tercatat dalam dalam pupuh ke-17 kitab Negara Kertagama. Ditulis oleh Empu Prapanca saat Majapahit berjaya. Buwun adalah kata yang disematkan, bermakna “Matahari Terbit”. Sebagai simbol, bahwa sumber kehidupan di sini tak pernah berhenti. Dan akan terus bangkit mengorbit hingga mewujud cita dan cinta.

Asal usul namamu juga tertulis dalam legenda Maulana Umar Mas’ud. Penguasa Islam pertama yang menghempaskan raja berkepala babi ke laut. Sebagai tamsil keadilan pasti mengalahkan keangkara-murkaan. Kebenaran pasti meruntuhkan kebathilan.

Boyan adalah namamu yang lain, bermakma sinar atau cahaya. Siapapun yang datang ke sini, sinar atau cahaya akan tampak duluan. Nama Boyan juga disebut bangsa Eropa dan Cina di mancanegara.Karena tak fasih dalam ucapan.

Begitu banyak asal usul namamu, para jurnalis menemukan satu fakta. Saat itu, yang tampak banyak lalu-lalang kaum putri. Tak banyak dijumpai kaum pria karena bertaruh nasib di mancanegara. Maka para jurnalis itu menyebutnya Pulau Putri.

Belakangan muncul nama Tripardikan. Hadiah dari Pembantu Bupati yang bertugas di Bawean. Nama yang sesungguhnya singkatan. Sebagai penggambaran bahwa Bawean adalah kota Santri, Pariwisata dan Pendidikan.

Juanda, 5 Mei 2020 – 02.14
Nico Ainul Yakin

Gili Iyang Berangkat Tak Sesuai Waktu, Tim Medis Kecewa


Sesuai jadwal, KMP Gili Iyang hari ini jumat (1/5) berangkat dari Pelabuhan Gresik ke Pelabuhan Bawean jam 13.00 WIB. Namun kenyataannya, petugas memberangkatkan lebih awal yaitu jam 11.00 WIB.

Akibatnya, tim medis dari Pulau Bawean yang semalam merujuk pasien ke Gresik harus menunda kepulangannya sehubungan ketinggalan kapal. Bukan hanya itu, termasuk pasokan darah untuk RSUD Umar Mas'ud, termasuk obat-obatan dan APD tertinggal di Gresik.

Direktur BCW-LSM Bawean, Dari Nazar menyesalkan atas keputusan petugas memberangkatkan kapal sebagai satu satunya armada kapal yang diperbolehkan beroperasi yaitu KMP Gili Iyang untuk membawa Logistik ke Pulau Bawean.

Menurutnya keberangkatan kapal tidak sesuai waktu telah membawa dampak kerugian kepada masyarakat yang sudah mempersiapkan barangnya untuk dimuat. "Mereka merasa kecewa dengan keberangkatan kapal yang mendahului jadwal yang ditentukan,"katanya.

Disamping logistik, juga tim medis seperti perawat RSUD Umar Mas’ud Bawean yang semalam membawa pasien rujukan ke Gresik. "Setelah mengurus surat ternyata sudah ditinggal kapal,"ujarnya.

dr. Tony S. Hartanto Direktur RSUD Umar Mas’ud Bawean menyatakan seharusnya mendapat bantuan donor darah dari Gresik, tapi gagal terbawa sehubungan keberangkatan kapal mendahului jadwal yang ada.

Kekecewaan juga diungkapkan Kepala Puskesmas Tambak dr. Saiful juga merasa kecewa atas keberangkatan kapal dikarenakan pegawainya bernama Survin Arafina, AMD.Keb yang ditugaskan untuk mengambil obat-obatan sebanyak 8 kerdus dari GFK berikut 1 kerdus APD juga gagal berangkat karena keberangkatan kapal tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Dari Nazar mengku sudah melakukan klarifikasi kepada pihak ASDP yaitu Eva via telepon, alasannya kapal diberangkatkan lebih awal dikarenakan logistik di atas kapal sudah penuh dan tidak ada penumpang / ASN yang ikut, sehingga biar tidak terlalu sore maka pada jam 11.00 WIB. dilepas untuk menuju Pulau Bawean.(bst)

Malam Ramadan di Kampung Tahun 90-an


Tulisan : Anis Hamim

Keseruan malam bulan puasa di kampung puluhan tahun lalu masih terkenang. Bergabung dengan mereka yang asyik menangani kartu-kartu remi, memelototi yang di tangan dan yang ditebar di hadapan. Sesekali berfikir keras membaca kartu lawan, lalu menyusun taktik strategi untuk menang.

Para pegiat remi itu empat orang, duduk beralaskan tikar, dan membentuk formasi saling berhadapan. Dengan rokok di tangan, mengebulkan asap di tiap hembusan. Dikerumuni beberapa warga kampung, yang sengaja datang sebagai penggembira, sekaligus penyemangat yang menambah keseruannya.

Permainan kartu itu tidak melibatkan uang. Tapi, yang menang tetap dapat kebanggaan. Sedangkan yang kalah dapat jepitan. Jika anda hadir belakangan, lihatlah telinga para kontestan. Dari merah nya, sudah cukup untuk mengenali siapa kalah, siapa menang.

Dulu, sebelum tersentuh layanan PLN, listrik kampung Bawean punya layanan istimewa selama bulan puasa. Mesin pembangkit nya menyala non stop sepanjang malam. Dari jam 6 sore hingga 6 pagi.

Sedangkan di luar bulan Puasa, listrik menyala sampai tengah malam saja; padam, lalu hidup lagi pada jam 4 pagi. 2 jam kemudian listrik mati lagi, berganti penerangan sinar matahari. Tidak terlalu masalah, karena HP belum ada.

Dengan listrik menyala non stop sepanjang malam, banyak warga kampung memanfaatkannya untuk berkegiatan hingga larut malam. Selain mengaji dan bermain kartu remi, warga juga main karambol, kartu domino, catur, hingga pingpong.

Mayoritas pemain nya adalah laki-laki, jarang sekali ada perempuan yang berpartisipasi. Mereka lebih banyak ber kegiatan di rumah. Perempuan dianggap kurang pantas untuk keluar rumah malam-malam.

Tanpa komando siapa-siapa, para pegiat mulai berdatangan ke arena. Setiap kampung punya arena nya masing-masing. Ada yang bertempat di dhurung, langgar, atau salah satu serambi rumah salah satu warga.

Kegiatan 'midnite' itu membuat kampung cukup meriah, di malam bulan Puasa. Setelah tidak bisa makan, minum dan merokok di siang hari, banyak warga kampung memindahkan kegiatan sosial ekonomi nya ke malam hari.

*** Keramaian malam sudah terasa pada saat azan Isyak berkumandang. Warga kampung, laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak terlihat memenuhi langgar-langgar dan masjid, untuk bergabung sebagai jamaah Taraweh. Di beberapa tempat, jamaah nya meluber hingga ke halaman. Terutama di 10 hari pertama. Di malam-malam berikutnya, jumlah jamaah menyusut hingga tinggal beberapa baris saja.

Selesai taraweh, beberapa warga lanjut ber tadarrus. Yang bisa mengakses corong-corong langgar dan masjid, bacaannya akan terdengar ke seantero kampung. Sedangkan yang tanpa pengeras suara, bacaannya nya hanya terdengar sayup-sayup di sekitar lokasi itu saja.

Bacaan tadarrus itu turut membuat kampung penuh warna. Suara pelantunnya bersahutan di kegelapan langit malam. Beriringan bunyi kodok dan binatang malam lainnya.

Di bagian lain, banyak warga berbaring santai, bercengkrama di rumah sembari menyantap sisa hidangan buka puasa nya. Sebagian lainnya berkerumun di depan lapak para pedagang yang menjual bakso, rujak, nasi goreng atau mie instan rebus biasa. Lapak-lapak itu juga memindahkan jam operasionalnya dari siang ke malam hari. Alasannya mengikuti demand mayoritas pelanggannya juga.

Tidak ketinggalan pula, sekelompok anak muda. Dengan sarung melintang dipundaknya, mereka mulai berdiskusi tentang rencana patrol keliling kampung nya. Mereka bahas juga alat-alat musik yang akan mereka bawa. Tanpa diperintah siapapun, anak-anak muda ini merasa terpanggil untuk beraksi nyata. Memastikan ibu-ibu tidak terlambat bangun untuk menyiapkan makan sahur keluarganya.

Dengan alat-alat seadanya seperti panci, timba, dan barang bekas pakai lainnya, anak-anak muda itu memainkan nada sejadinya. Lagu-lagu dangdut Rhoma Irama atau Mansyur S selalu jadi andalannya. Jadi lah lagu 'Awet muda,' 'Kana,' 'Darah Muda' dinyanyikan dengan iringan 'tang ting tung' sekenanya.

Rombongan patrol itu bergerak, silih berganti membelah jalan kampung, hingga tidak ada lagi sudut tersisa. Dengan penuh semangat mereka mendendangkan syair lagu, sambil berseru 'bangun, bangun, sahuuur, sahuuur.'

Ada juga yang tidak berkenan. Kediamannya didatangi rombongan patrol liar. Ia pun keluar bawa pentungan. Anak-anak muda itu lari ketakutan.

(Ahimsya, Ciputat, 30 April 2020)

Tersangka Pembunuhan di Alastimur Dilayarkan ke Jawa


Muslim (30 th.) tersangka pembuhunan di dusun Alastimur desa Daun kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik dilayarkan malam ini (kamis, 30/4), dengan naik KMP. Gili Iyang.

AKP. Rahmad Kapolsek Sangkapura mengatakan pelaku bernama Muslim dibawa layar dari Pulau Bawean ke Gresik. "Besok sampai di Gresik, tersangka akan langsung dibawa ke rumah sakit Polda Jatim di Surabaya,"katanya.

Adapun pemeriksaan di Rumah Sakit Polda Jatim menurut AKP Rahmad memerlukan waktu selama seminggu lamanya. "Diperiksa oleh psikolog beserta tim ahli untuk memutuskan tersangka gangguan kejiwaan atau tidaknya,"paparnya.

"Jika mengalami gangguan kejiwaan, maka status tersangka langsung hilang dan dirawat ke rumah sakit jiwa di Surabaya. Akan tetapi bila hasil pemeriksaan menunjukkan normal, maka proses hukum tetap berlanjut,"terangnya.

Sesuai kronologi, korban bernama Tarip usia 86 tahun sedang tidur didapurnya, tiba-tiba didatangi pelaku bernama Muslim usia 30 tahun. Korban langsung dicekik dan digorok lehernya, pada hari selasa (28/4).

Melihat orang tuanya yang sudah tua renta digorok lehernya, Nining aryani berteriak-teriak meminta tolong, sehubungan rumahnya berdekatan dengan mushollah sehingga teriakan lambat terdengar. Setelahnya langsung tetangga berdatangan di rumah korban.

Pelaku tetap diam ditempat dengan membawa pisau dapur.

Setelah kejadian, Jajaran Polsek dan Koramil Sangkapura langsung mendatangi TKP, dan pelaku langsung diamankan di kantor Polsek Sangkapura. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean