Media Bawean, 2 Mei 2011
Sumber : Surabaya Post
Tanggal 2 Mei hari ini, rakyat Indonesia memeringati Hari Pendidikan Nasional. Di hari ini pula dan entah sampai kapan, puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lebak III di Dusun Gunung Emas Pulau Bawean tetap harus belajar dengan dihantui rasa was-was kelasnya akan roboh.
OLEH: ASEPTA
Anda tentu mengenal film Laskar Pelangi karya sutradara Riri Reza yang diangkat dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata. Film yang menceritakan kondisi pendidikan di Belitung Timur dan booming di tahun 2008-an ini menjadi fenomenal karena memang humanis, menyentuh hati penontonnya saat melihat semangat anak-anak dalam meraih ilmu di tengah fasilitas sekolah yang serba terbatas.
Keterbatasan itu pula yang didapati di SDN Lebak III di Dusun Gunung Emas Pulau Bawean. Dinding dan atap bangunan sekolah tersebut bolong-bolong. Akibatnya bisa ditebak, setiap hujan datang, para siswa harus mengungsi. Yang lebih mengkhawatirkan, bangunannya nyaris roboh. Karena itulah setiap saat siswa, guru, bahkan walimurid pun dilanda kekhawatiran tertimpa bangunan bila sekolah itu ambruk saat berlangsung proses belajar mengajar.
SDN Lebak III ini merupakan satu di antara tiga sekolah dasar di Bawean yang kondisinya memprihatinkan. SD yang memiliki enam lokal dan satu kantor ini rusak parah. Tiga lokal yang saat ini ditempati oleh siswa kelas 1, 2, dan 3 nyaris roboh. Dinding-dindingnya retak dan bolong. Terdapat enam penyangga dari kayu untuk menahan agar tembok tidak roboh, persis seperti yang tergambar dalam film Laskar Pelangi.
Selain itu, atap sekolah yang terbuat dari asbes sudah banyak yang jebol, begitu juga langit-langitnya. “Bila hujan, terpaksa siswa kami pindahkan, karena atapnya sudah pada bolong. Kami khawatir roboh, apalagi pada saat hujan disertai angin kencang,” kata Zuhratun Nisak, Kepala SDN Lebak III.
Dari enam lokal yang ada, hanya tiga yang masih bisa dikatakan layak, karena memang baru direhab pada tahun 2000 lalu. Tiga lokal lainnya hampir roboh dan belum pernah tersentuh perbaikan sejak tahun 1981. Kepala sekolah enggan menyekat tiga lokal yang layak menjadi enam bagian, seperti di SDN Dekatagung I Kecamatan Sangkapura .
“Siswa di sekolah kami cukup banyak, totalnya mencapai 133 siswa. Jika dijadikan satu dalam tiga ruang, jelas kegiatan belajar mereka tidak efektif. Kami memang tidak punya pilihan. Kami harus berbuat apalagi agar pemerintah memberikan perhatian untuk anak-anak didik kami di sini? Apakah kondisi ini masih kurang bukti?” tandasnya.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Gresik, Munif sebenarnya mengetahui kondisi sekolah di SD Lebak III, namun hingga sekarang belum ada realisasi bantuan untuk perbaikan sekolah tersebut. “Memang harus diprioritaskan. Bangunan gedung sekolah di Gunung Emas kondisinya rusak parah, tidak seindah emas,” ujarnya.
Anggota DPRD Kabupaten Gresik asal Bawean, Muhajir mendesak Pemkab Gresik memprioritaskan perbaikan gedung-gedung sekolah di Bawean yang rusak parah, seperti di SDN Lebak III, SDN Dekatagung I, dan SDN Suwari I. Dia mengaku pernah menerima laporan, salah satu siswa di SDN Lebak III nyaris tertimpa atap plafon pada saat mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas. “Mereka jadi trauma sejak kejadian itu,” ungkap Muhajir.
Sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerbang Bawean berharap agar anggaran pendidikan dikucurkan dengan tepat sasaran. “Di Bawean memang ada anggaran perbaikan gedung sekolah, tapi sayang tidak tepat sasaran. Sekolah-sekolah yang rusak seperti SDN Dekatagung I, SDN Suwari I, dan SDN Lebak III belum pernah diprioritaskan perbaikannya. Sekolah-sekolah lain yang masih layak justru mendapatkan dana tersebut. Di Bawean, sekolah yang bagus semakin bagus, sekolah yang jelek akan semakin jelek,” kata Abdul Basit, koordinator LSM Gerbang Bawean.




Posting Komentar