Media Bawean, 2 Agustus 2008
Sumber : Koran Tempo
Feature Jeda
Orang-orang Bawean ikut menyebarkan Islam ke berbagai daratan Indocina. Caranya antara lain dengan menikahi perempuan lokal.
Musibah membawa berkah. Begitulah yang saya alami pada hari kedua di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, akhir Juni lalu. Belum genap pukul enam pagi, Nguyen Cong Khe mengabarkan dirinya telah siap di lobi hotel untuk mengantar saya berkeliling kota dengan sepeda motor. Dengan tarif 100 ribu dong (sekitar Rp 50 ribu), dia bersedia membawa sekaligus menunjukkan tempat-tempat yang hendak saya kunjungi selama tiga jam.
Khe merekomendasikan agar saya terlebih dulu menikmati keindahan arsitektur Katedral Notre Dame sebelum ke War Remnant Museum, Ho Chi Minh Museum, dan lokasi lainnya. "Suasana di sana seperti di Prancis," ujarnya berpromosi. Saya manut saja mengikuti saran tukang ojek yang biasa mangkal di Pasar Ben Than itu.
Hanya butuh 15 menit Khe meliuk-liuk menembus padatnya lalu-lintas. Ternyata dia tak ngecap. Beberapa jalan di kawasan Distrik I itu menggunakan nama beraroma Prancis, seperti Pasteur, Le Loi, Alexandre de Rhodes, atau Paris. Boulevard dan taman dengan pohon mahoni besar-besar membuat suasana sekitarnya terasa nyaman.
Di taman halaman depan gereja, beberapa warga tengah bersenam sembari menikmati hangatnya mentari pagi. Sementara itu, dua-tiga pasangan keluarga muda asyik melemparkan makanan ke arah ratusan merpati yang berkerubung di sana. Semuanya begitu damai. Seolah peperangan yang melelahkan tak pernah singgah di kota itu. Bata merah yang menjadi dinding sekujur bangunan membuat Gereja Notre Dame begitu anggun. "Katedral ini dibangun seperti aslinya di Paris sana," ujar Khe, sok tahu.
Dari sekitar 7-8 juta penduduk di Ho Chi Minh atau Saigon, 12 persen di antaranya penganut Katolik Roma, 2 persen Protestan, dan 50 persen Buddhisme. Di negeri dengan paham sosialis-komunis ini, mereka yang tak beragama atau agamanya tak diketahui tercatat sebesar 34 persen, dan penganut lain-lain (Cao Dai, Hoa Hao, Islam, Hindu) sebesar 2 persen.
Adalah Alexandre de Rhodes yang memperkenalkan ajaran Nasrani di bumi Vietnam. Dia adalah misionaris asal Prancis pertama yang menjejakkan kaki di negeri itu. Rhodes menetap di Ho Chi Minh pada kurun waktu 1619-1646. Pada 1867 sampai 1957, Prancis menguasai bumi Vietnam.
Dari Katedral, Khe membawa saya ke Independence Palace. Dari sinilah musibah bermula. Karena jam kunjungan baru dimulai pukul 08.00, saya hanya bisa memandangi gedung itu dari luar pagar. Sesekali saya bergelantungan di pagar saat memotret.
Rupanya, tingkah itu dianggap tak elok. Satu dari tiga tentara yang mengendarai sepeda motor gandeng tiba-tiba datang menegur. Saya maklum dan meminta maaf. Tapi, sebelum ngeloyor, saya iseng membidikkan kamera ke arah mereka. Reaksinya di luar dugaan.
"Wxyz@+?!!?*#@+*">...," entah apa kalimat yang dilontarkan. Dari ekspresi dan nada bicaranya, saya menangkap kesan mereka sangat marah. Takut kamera dirampas, saya langsung terbirit-birit menghampiri Khe. "Move, move...." Kami pun ngacir. Museum Ho Chi Minh di pinggiran Sungai Saigon di Distrik 4 menjadi tujuan berikutnya.
Memasuki jalan Nam Ky Khoi Nghia, laju sepeda motor Khe oleng. Sial. Rupanya ban depan gembos. "Ya, sudahlah, itung-itung olahraga pagi," batin saya menghibur diri. Meski Vietnam bisa disebut negeri berjuta sepeda motor, tak gampang menemukan tukang tambal sepagi itu.
Ketika tubuh mulai berpeluh membantu Khe mendorong sepeda motor, saya terhenyak takjub. Di seberang jalan, di antara deretan ruko dan rumah-rumah bedeng nan kumuh, menyembul sebuah kubah berwarna keemasan. Di puncaknya mengacung simbol bulan sabit dan bintang. "Masjid Al-Rahim. La Mosquee Rahim 1885," begitu tulisan yang terpampang di depan kubah.
Sungguh, dari semula saya tak pernah menyangka bakal ada masjid di negeri itu. Sebab, pada peta saku yang disediakan Hotel Park Hyatt Saigon tempat kami menginap, tak satu pun tergambar simbol masjid. Padahal di peta itu, selain puluhan pagoda yang tersebar di sejumlah distrik, sebaran simbol gereja di Kota Ho Chi Minh mencapai 16 buah.
Beruntung arus lalu-lintas tengah tersendat sehingga saya dapat leluasa menyeberang jalan memasuki halaman masjid. Dari segi arsitektur, tak ada yang istimewa dari masjid ini. Hiasan kaligrafi di dinding ruangan dengan luas sekitar 8 x 10 meter tak berbeda dengan masjid atau musala di Indonesia. Lantainya dilapis ubin teraso, diselimuti karpet hijau yang sudah lusuh.
Aroma pesing bercampur karbol pembersih lantai dari tempat wudu melintas hingga ke dalam masjid. Sungguh tak berbeda dengan kondisi musala dan masjid di kawasan tempat saya tinggal di Depok. Tapi perasaan haru-biru tak berkurang oleh semua itu. Meski saya cuma mengenakan celana pendek dan berkaus oblong, hasrat untuk berwudu dan melakukan sujud syukur tak surut.
Bayangan sesosok perempuan yang berkelebat di kaca-kaca jendela langsung mengusik. Saya tergopoh menghampiri perempuan muda yang tengah berupaya menghidupkan sepeda motor matic yang terparkir di halaman masjid. "Saya bisa bahasa Indonesia, kok," katanya acuh tak acuh ketika saya memperkenalkan diri. Masker dan helm batok di kepala ia longgarkan sejenak.
Fatimah. Dia menuliskan namanya di notes saya. Usianya sekitar 27-28 tahun. Fatimah mengaku lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2000-2006. Tentang kemungkinan dirinya mahir berbahasa Jawa, perempuan dengan rambut sebahu itu menggeleng. "Terlalu rumit," ujarnya kemudian.
Menurut Fatimah, di sekitar Masjid Rahim banyak bermukim kaum muslim asal Indonesia dan Malaysia. Mereka telah berpuluh tahun mukim dan menjadi warga Vietnam. "Kehilangan identitas dan tak bisa kembali," ujarnya. Tapi soal apa penyebabnya, Fatimah dengan tegas menyatakan tak punya waktu untuk menjelaskan karena harus bergegas menuju Konsulat Jenderal RI di Jalan Phung Khac Khoan 18, tempatnya bekerja. "Temui Haji Ally saja," ujarnya sebelum pergi.
Haji Ally adalah imam Masjid Rahim sekaligus Wakil Presiden Komunitas Muslim di Ho Chi Minh. Tinggalnya persis di samping masjid. Ia dan istrinya, Nikma, menyambut ramah begitu tahu saya dari Jakarta.
Di awal percakapan, saya menduga Ally dan istrinya yang sibuk menggoreng kue pastel itu berasal dari Malaysia. Maklum, dialek dan pilihan kata yang diucapkan sangat kental berbau Melayu. Rupanya, saya keliru. "Saya ini dari Bawean," kata Ally. Lho? Ia mengaku terakhir kali menyambangi pulau kecil di utara Pulau Madura itu pada 1979. Kenapa? Lelaki yang tahun depan berusia 80 tahun itu menggeleng. "Long story, masa lalu. Sudah banyak lupa saya," ujarnya.
Di luar alasan politik dan keamanan, Ally menjadi warga Vietnam karena kepincut oleh Nikma. Di usia lebih dari 60 tahun, kecantikan belum sepenuhnya pudar pada perempuan asal suku Campa, satu dari 64 suku minoritas di Vietnam, itu.
Jumlah warga Vietnam keturunan Bawean di Ho Chi Minh konon sekitar 500 orang. Mereka mulai bermigrasi ke Vietnam pada 1880. Orang-orang Bawean ini dikenal sebagai muslim yang taat dan ikut menyebarkan Islam ke berbagai daratan Indocina. Caranya antara lain dengan menikahi perempuan lokal.
Konsul Jenderal RI Irdamis Achmad mengaku tak punya data pasti soal orang Vietnam keturunan Bawean. Namun, secara umum, mereka sudah satu generasi terputus dengan kampung halamannya. Padahal komunitas Bawean di Bangkok, Kuala Lumpur, atau Singapura ada yang masih menjalin komunikasi. "Meski sudah menjadi warga negara lain, soal mencari calon istri masih ada yang bolak-balik ke Madura sana," kata Irdamis.
Meski berideologi komunis, pemerintah Vietnam cukup moderat dalam memelihara kerukunan beragama. Sejak diterapkan politik pintu terbuka pada 1986, kehidupan beragama tumbuh subur di negeri itu. Pemerintah tak menghalangi warga untuk melaksanakan peribadatan sesuai dengan agama masing-masing.
Karena itu, meski jumlah kaum muslim di Ho Chi Minh hanya sekitar 0,7 persen, mereka memiliki 15 masjid. Sedangkan di Hanoi, ibu kota Vietnam, diketahui hanya ada satu masjid: An-Nur di Jalan Hang Luoc dekat Pasar Dong Xuang. Masjid yang dibangun pada 1890 oleh saudagar India itu mulanya bernama Chua An Do, yang artinya masjid India. Baru pada 1990, masjid yang memiliki luas 614 meter persegi itu berganti nama menjadi An-Nur.
Pemerintah Arab Saudi, kata Irdamis, biasanya memberikan bantuan rutin untuk perawatan semua masjid. "Saya sering ke Masjid Rahim. Tapi, kalau Jumatan, saya biasa keliling," ujarnya.
Sudrajat
Sumber : Koran Tempo
Feature Jeda
Orang-orang Bawean ikut menyebarkan Islam ke berbagai daratan Indocina. Caranya antara lain dengan menikahi perempuan lokal.
Musibah membawa berkah. Begitulah yang saya alami pada hari kedua di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, akhir Juni lalu. Belum genap pukul enam pagi, Nguyen Cong Khe mengabarkan dirinya telah siap di lobi hotel untuk mengantar saya berkeliling kota dengan sepeda motor. Dengan tarif 100 ribu dong (sekitar Rp 50 ribu), dia bersedia membawa sekaligus menunjukkan tempat-tempat yang hendak saya kunjungi selama tiga jam.
Khe merekomendasikan agar saya terlebih dulu menikmati keindahan arsitektur Katedral Notre Dame sebelum ke War Remnant Museum, Ho Chi Minh Museum, dan lokasi lainnya. "Suasana di sana seperti di Prancis," ujarnya berpromosi. Saya manut saja mengikuti saran tukang ojek yang biasa mangkal di Pasar Ben Than itu.
Hanya butuh 15 menit Khe meliuk-liuk menembus padatnya lalu-lintas. Ternyata dia tak ngecap. Beberapa jalan di kawasan Distrik I itu menggunakan nama beraroma Prancis, seperti Pasteur, Le Loi, Alexandre de Rhodes, atau Paris. Boulevard dan taman dengan pohon mahoni besar-besar membuat suasana sekitarnya terasa nyaman.
Di taman halaman depan gereja, beberapa warga tengah bersenam sembari menikmati hangatnya mentari pagi. Sementara itu, dua-tiga pasangan keluarga muda asyik melemparkan makanan ke arah ratusan merpati yang berkerubung di sana. Semuanya begitu damai. Seolah peperangan yang melelahkan tak pernah singgah di kota itu. Bata merah yang menjadi dinding sekujur bangunan membuat Gereja Notre Dame begitu anggun. "Katedral ini dibangun seperti aslinya di Paris sana," ujar Khe, sok tahu.
Dari sekitar 7-8 juta penduduk di Ho Chi Minh atau Saigon, 12 persen di antaranya penganut Katolik Roma, 2 persen Protestan, dan 50 persen Buddhisme. Di negeri dengan paham sosialis-komunis ini, mereka yang tak beragama atau agamanya tak diketahui tercatat sebesar 34 persen, dan penganut lain-lain (Cao Dai, Hoa Hao, Islam, Hindu) sebesar 2 persen.
Adalah Alexandre de Rhodes yang memperkenalkan ajaran Nasrani di bumi Vietnam. Dia adalah misionaris asal Prancis pertama yang menjejakkan kaki di negeri itu. Rhodes menetap di Ho Chi Minh pada kurun waktu 1619-1646. Pada 1867 sampai 1957, Prancis menguasai bumi Vietnam.
Dari Katedral, Khe membawa saya ke Independence Palace. Dari sinilah musibah bermula. Karena jam kunjungan baru dimulai pukul 08.00, saya hanya bisa memandangi gedung itu dari luar pagar. Sesekali saya bergelantungan di pagar saat memotret.
Rupanya, tingkah itu dianggap tak elok. Satu dari tiga tentara yang mengendarai sepeda motor gandeng tiba-tiba datang menegur. Saya maklum dan meminta maaf. Tapi, sebelum ngeloyor, saya iseng membidikkan kamera ke arah mereka. Reaksinya di luar dugaan.
"Wxyz@+?!!?*#@+*">...," entah apa kalimat yang dilontarkan. Dari ekspresi dan nada bicaranya, saya menangkap kesan mereka sangat marah. Takut kamera dirampas, saya langsung terbirit-birit menghampiri Khe. "Move, move...." Kami pun ngacir. Museum Ho Chi Minh di pinggiran Sungai Saigon di Distrik 4 menjadi tujuan berikutnya.
Memasuki jalan Nam Ky Khoi Nghia, laju sepeda motor Khe oleng. Sial. Rupanya ban depan gembos. "Ya, sudahlah, itung-itung olahraga pagi," batin saya menghibur diri. Meski Vietnam bisa disebut negeri berjuta sepeda motor, tak gampang menemukan tukang tambal sepagi itu.
Ketika tubuh mulai berpeluh membantu Khe mendorong sepeda motor, saya terhenyak takjub. Di seberang jalan, di antara deretan ruko dan rumah-rumah bedeng nan kumuh, menyembul sebuah kubah berwarna keemasan. Di puncaknya mengacung simbol bulan sabit dan bintang. "Masjid Al-Rahim. La Mosquee Rahim 1885," begitu tulisan yang terpampang di depan kubah.
Sungguh, dari semula saya tak pernah menyangka bakal ada masjid di negeri itu. Sebab, pada peta saku yang disediakan Hotel Park Hyatt Saigon tempat kami menginap, tak satu pun tergambar simbol masjid. Padahal di peta itu, selain puluhan pagoda yang tersebar di sejumlah distrik, sebaran simbol gereja di Kota Ho Chi Minh mencapai 16 buah.
Beruntung arus lalu-lintas tengah tersendat sehingga saya dapat leluasa menyeberang jalan memasuki halaman masjid. Dari segi arsitektur, tak ada yang istimewa dari masjid ini. Hiasan kaligrafi di dinding ruangan dengan luas sekitar 8 x 10 meter tak berbeda dengan masjid atau musala di Indonesia. Lantainya dilapis ubin teraso, diselimuti karpet hijau yang sudah lusuh.
Aroma pesing bercampur karbol pembersih lantai dari tempat wudu melintas hingga ke dalam masjid. Sungguh tak berbeda dengan kondisi musala dan masjid di kawasan tempat saya tinggal di Depok. Tapi perasaan haru-biru tak berkurang oleh semua itu. Meski saya cuma mengenakan celana pendek dan berkaus oblong, hasrat untuk berwudu dan melakukan sujud syukur tak surut.
Bayangan sesosok perempuan yang berkelebat di kaca-kaca jendela langsung mengusik. Saya tergopoh menghampiri perempuan muda yang tengah berupaya menghidupkan sepeda motor matic yang terparkir di halaman masjid. "Saya bisa bahasa Indonesia, kok," katanya acuh tak acuh ketika saya memperkenalkan diri. Masker dan helm batok di kepala ia longgarkan sejenak.
Fatimah. Dia menuliskan namanya di notes saya. Usianya sekitar 27-28 tahun. Fatimah mengaku lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2000-2006. Tentang kemungkinan dirinya mahir berbahasa Jawa, perempuan dengan rambut sebahu itu menggeleng. "Terlalu rumit," ujarnya kemudian.
Menurut Fatimah, di sekitar Masjid Rahim banyak bermukim kaum muslim asal Indonesia dan Malaysia. Mereka telah berpuluh tahun mukim dan menjadi warga Vietnam. "Kehilangan identitas dan tak bisa kembali," ujarnya. Tapi soal apa penyebabnya, Fatimah dengan tegas menyatakan tak punya waktu untuk menjelaskan karena harus bergegas menuju Konsulat Jenderal RI di Jalan Phung Khac Khoan 18, tempatnya bekerja. "Temui Haji Ally saja," ujarnya sebelum pergi.
Haji Ally adalah imam Masjid Rahim sekaligus Wakil Presiden Komunitas Muslim di Ho Chi Minh. Tinggalnya persis di samping masjid. Ia dan istrinya, Nikma, menyambut ramah begitu tahu saya dari Jakarta.
Di awal percakapan, saya menduga Ally dan istrinya yang sibuk menggoreng kue pastel itu berasal dari Malaysia. Maklum, dialek dan pilihan kata yang diucapkan sangat kental berbau Melayu. Rupanya, saya keliru. "Saya ini dari Bawean," kata Ally. Lho? Ia mengaku terakhir kali menyambangi pulau kecil di utara Pulau Madura itu pada 1979. Kenapa? Lelaki yang tahun depan berusia 80 tahun itu menggeleng. "Long story, masa lalu. Sudah banyak lupa saya," ujarnya.
Di luar alasan politik dan keamanan, Ally menjadi warga Vietnam karena kepincut oleh Nikma. Di usia lebih dari 60 tahun, kecantikan belum sepenuhnya pudar pada perempuan asal suku Campa, satu dari 64 suku minoritas di Vietnam, itu.
Jumlah warga Vietnam keturunan Bawean di Ho Chi Minh konon sekitar 500 orang. Mereka mulai bermigrasi ke Vietnam pada 1880. Orang-orang Bawean ini dikenal sebagai muslim yang taat dan ikut menyebarkan Islam ke berbagai daratan Indocina. Caranya antara lain dengan menikahi perempuan lokal.
Konsul Jenderal RI Irdamis Achmad mengaku tak punya data pasti soal orang Vietnam keturunan Bawean. Namun, secara umum, mereka sudah satu generasi terputus dengan kampung halamannya. Padahal komunitas Bawean di Bangkok, Kuala Lumpur, atau Singapura ada yang masih menjalin komunikasi. "Meski sudah menjadi warga negara lain, soal mencari calon istri masih ada yang bolak-balik ke Madura sana," kata Irdamis.
Meski berideologi komunis, pemerintah Vietnam cukup moderat dalam memelihara kerukunan beragama. Sejak diterapkan politik pintu terbuka pada 1986, kehidupan beragama tumbuh subur di negeri itu. Pemerintah tak menghalangi warga untuk melaksanakan peribadatan sesuai dengan agama masing-masing.
Karena itu, meski jumlah kaum muslim di Ho Chi Minh hanya sekitar 0,7 persen, mereka memiliki 15 masjid. Sedangkan di Hanoi, ibu kota Vietnam, diketahui hanya ada satu masjid: An-Nur di Jalan Hang Luoc dekat Pasar Dong Xuang. Masjid yang dibangun pada 1890 oleh saudagar India itu mulanya bernama Chua An Do, yang artinya masjid India. Baru pada 1990, masjid yang memiliki luas 614 meter persegi itu berganti nama menjadi An-Nur.
Pemerintah Arab Saudi, kata Irdamis, biasanya memberikan bantuan rutin untuk perawatan semua masjid. "Saya sering ke Masjid Rahim. Tapi, kalau Jumatan, saya biasa keliling," ujarnya.
Sudrajat



Posting Komentar