Media Bawean, 7 Agustus 2008
Oleh : Mr. Gerbang Bawean
Kursi dari Pulau Bawean sudah dipastikan tetap 3 kursi untuk menjadi rebutan partai politik pada Pemilu 2009 yang ada di Pulau Bawean. Sampai saat ini parpol yang masuk di Pulau Bawean diantaranya PKB, Partai Demokrat, Hanura, PPP, Partai Golkar, PDI Perjuangan, PAN, PKS.Dari beberapa parpol yang ada, akan menempatkan caleg sesuai dengan jalur politiknya masing-masing parpol yaitu pengurus parpol ataupun tokoh yang dianggap kemampuan meraih suara sebanyak-banyaknya. Semua partai politik yang ada, optimis dapat meraih 3 kursi dari Pulau Bawean dengan kepercayaan yang dimiliki.
Apakah Jadi Anggota Dewan Enak?
Tentunya bila tidak enak, tidak mungkin anggota dewan sekarang akan mencalonkan kembali jadi calon legislatif dari partainya. Buktinya 3 anggota dewan sekarang, sudah mengambil posisi masing-masing untuk bertarung mendapatkan kursi yang sudah diduduki sekarang.
Seharusnya warga Pulau Bawean memilih wakilnya sesuai dengan harapan bersama untuk memperjuangkan suaranya di gedung dewan. Bila tidak ingin mengulang sejarah lama yang membuat sakit hati, bahkan menangis setiap mengalami kesulitan ternyata tidak mendapatkan apapun dari perjuangan anggota dewan.
Mereka menjauh dan menghilang disaat rakyatnya yang diwakilinya membutuhkan kapal untuk pulang ke Bawean. Sudah jelas warganya terlantar selama 17 hari di Gresik membutuhkan kapal, ternyata mereka sembunyi tak berani menampakkan diri kepada warganya. Seandainya mereka bijak, maka akan berkata " Inilah Dewanmu Yang Siapa Membantu". Sehingga amarah warga yang sudah 17 hari terlantar di Gresik melakukan aksi demo atas kekesalan terhadap tokoh central seperti anggota dewan kita.
Bukan hanya persoalan kapal saja, tapi persoalan Bawean yang sangat kompleks sehingga semberawut untuk diselesaikan, akibat tidak adanya reaksi kuat untuk memperbaikinya. Sampai saat ini timbul tanya pada diri sendiri, yaitu setiap anggota dewan kita melakukan reses ternyata tempatnya di daerah gunung-gunung, seperti Gandariyah ataupun Penyalpangan. Kenapa di gunung kok tidak dilaksanakan di wilayah perkotaan dengan mengundang semua elemen tokoh masyarakat yang ada. Sebab kalau di Gunung, mencari orang kritis dan pemikiran yang bisa membaca kondisi Bawean secara umum sangatlah sulit. Cenderung setiap mendengarkan ceramah ataupun pidato selalu menjawab Inggih dan Iya.
Anggota dewan kita sekarang sangat takut menghadapi persoalan dan cenderung lari dari masalah. Sehingga korbannya adalah warga Bawean sendiri yang butuh adanya pendekar legislatif seperti anggota dewan. Seandainya dewan kita berani menghadapi persoalan dan masalah, tidak mungkin masyarakat Bawean secara umum menilai gagal atas kinerjanya selama ini.
Bila ingin perubahan, mari kita memilih anggota dewan yang punya kemampuan tinggi dan keperdulian besar terhadap warga Bawean sendiri. (bst)



Posting Komentar