Media Bawean, 16 Februari 2010
Sumber : SURYA
“Jangan bicara harga tiket. Berapapun, asal ada pesawatnya, kami mampu beli,” ujar Mazlan Mansyur, pengusaha muda asal Bawean saat ditanya soal kemampuan warga Bawean menyongsong kehadiran lapangan terbang di Bawean.
Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Mazlan mengatakan bahwa separuh lebih dari total warga Bawean bekerja di luar negeri. Kebanyakan di Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.
“Siapkan dulu lapangan dan pesawat terbangnya, buat jadwal tetap penerbangannya, lalu tentukan harga tiketnya,” sarannya.
Ia mengingatkan, dulu sekitar tahun 1994 ketika masih ada kapal super cepat jet foil, harga karcisnya sudah Rp 180.000 per orang dan selalu penuh dibeli. Padahal, saat itu harga tiket pesawat Surabaya – Jakarta sekitar Rp 200.000.
Mazlan mengingatkan, warga Bawean yang bekerja bahkan menetap di luar negeri bila ditotal dengan sanak keluarganya sudah mencapai 500.000 jiwa.
Mereka ini, tambahnya, setiap lebaran atau ada acara keluarga, selalu mudik ke Bawean. Namun, mereka selalu terkendala angkutan bila sudah sampai di Bandara Juanda Surabaya.
“Tetapi, sebagian besar dari mereka akhirnya memilih kembali ke negaranya karena anak istrinya takut naik kapal laut yang tergolong kecil,” ujarnya.nsan
Sumber : SURYA
“Jangan bicara harga tiket. Berapapun, asal ada pesawatnya, kami mampu beli,” ujar Mazlan Mansyur, pengusaha muda asal Bawean saat ditanya soal kemampuan warga Bawean menyongsong kehadiran lapangan terbang di Bawean.
Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Mazlan mengatakan bahwa separuh lebih dari total warga Bawean bekerja di luar negeri. Kebanyakan di Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.
“Siapkan dulu lapangan dan pesawat terbangnya, buat jadwal tetap penerbangannya, lalu tentukan harga tiketnya,” sarannya.
Ia mengingatkan, dulu sekitar tahun 1994 ketika masih ada kapal super cepat jet foil, harga karcisnya sudah Rp 180.000 per orang dan selalu penuh dibeli. Padahal, saat itu harga tiket pesawat Surabaya – Jakarta sekitar Rp 200.000.
Mazlan mengingatkan, warga Bawean yang bekerja bahkan menetap di luar negeri bila ditotal dengan sanak keluarganya sudah mencapai 500.000 jiwa.
Mereka ini, tambahnya, setiap lebaran atau ada acara keluarga, selalu mudik ke Bawean. Namun, mereka selalu terkendala angkutan bila sudah sampai di Bandara Juanda Surabaya.
“Tetapi, sebagian besar dari mereka akhirnya memilih kembali ke negaranya karena anak istrinya takut naik kapal laut yang tergolong kecil,” ujarnya.nsan
Posting Komentar