Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Pelajaran KH. Ahmad Dahlan
Tentang Falsafah Ajaran Islam (II)

Pelajaran KH. Ahmad Dahlan
Tentang Falsafah Ajaran Islam (II)

Posted by Media Bawean on Rabu, 29 Oktober 2014

Media Bawean, 29 Oktober 2014

Oleh :Eklis Dinika (Dosen STAIHA BAWEAN dan Ketua Aisyiyah)

Saudara, diantara manusia di dunia ini banyak yang merasa dirinya paling benar dan tidak mau di salahkan, semua itu di picu oleh watak angkuh dan takabbur yang ada dalam diri manusia. “Kebanyakan diantara para manusia berwatak angkuh, dan takabbur, mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri”.

Sebagaimana orang Yahudi yang selalu menganggap bahwa dirinya akan bahagia dan selain orang Yahudi akan sengsara, begitu juga halnya dengan orang Kristen yang beranggapan bahwa hanya golongannya yang akan bahagia dan masuk surga dan yang lainnya tidak.

Begitulah, anggapan tiap-tiap golongan agama baik itu Majusi, Shabiah dan masih banyak yang lainnya. Mereka mempunyai anggapan masing-masing dimana hanya golongannyalah yang akan selamat, sedang lainnya akan sengsara. Golongan Islam juga demikian hanya golongan Islamlah yang selamat dari api neraka, selain golongan Islam akan sengsara.

Saudara, bagaimana dengan orang yang tidak beragama? Orang yang tidak berdasar agama di yakini oleh golongan Islam, Yahudi, Kristen, Majusi, dan agama –agama lain adalah orang yang tidak beragama akan celaka dan sengsara. Namun, sebaliknya saudara, golongan yang tidak beragama beranggapan bahwa manusia sesudah mati tidak akan celaka dan tidak akan disiksa.

Dengan demikian jelaslah tiap-tiap golongan melemparkan kecelakaan atau kesalahan kepada golongan selain golongannya. Tentang hal ini pernyataan fatwa Kyai Dahlan adalah: “Manusia satu sama lain selalu melemparkan pisau cukur, mempunyai anggapan pasti paling tepat dan melemparkan celaka kepada orang lain”.

Kyai Dahlan heran, mengapa para pemimpin agama dan yang tidak beragamapun selalu beranggapan paling benar serta mengambil keputusan secara individu tanpa mengadakan sebuah pertemuan antar mereka, bertukar pikiran memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah. Jangan hanya berdasar anggapan-anggapan individu saja, dalam arti disepakati dengan suami atau istrinya, dengan murid-muridnya, teman-temannya, dan gurunya tentu saja akan di benarkan. Tetapi, cobalah mengadakan permusyawaratan dengan golongan yang lain di luar golongannya sendiri untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar dan manakah sesungguhnya yang salah.

Keadaan demikian itu banyak terdapat dalam satu macam agama, yang menganggap salah terhadap sebagian golongan yang lain. Misalnya, mereka yang beragama Kristen Khatolik menganggap salah terhadap mereka yang beragama Kristen Protestan. Sebaliknya, kaum Kristen Protestan juga menyalahkan kaum Kristen Khatolik. Begitu juga dikalangan umat Islam, mereka yang mengaku sebagai Ahli Sunnah wal Jamaah, menetapkan salah terhadap mereka yang didakwa termasuk golongan Mu’tazilah, demikian seterusnya.

Ringkasnya, tiap-tiap golongan dari yang besar sampai yang kecil, bahkan sampai perseoranangpun mereka menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan sudah benar, kemudian menyalahkan kepada lainnya. Firman Allah dalam surat ar-Rum : 32 yang artinya ”Semua golongan bersukaria dengan barang yang ada dalam golongannya”.

Mereka merasa sudah benar, tidak memerlukan lagi untuk mengetahui keadaan golongan lain, tidak perlu bermusyawarah dengan yang lain, dan mengabaikan hujjah atau alasan golongan lain. Sudah teguh pendiriannya, sengaja tidak mau membanding-bandingkan ataupun menimbang. Tetapi kenyataan di lapangan satu sama lain saling bertengkar, berselisih dan bermusuhan, padahal sesuatu yang diperselisihkan itu kalau sudah diselidiki tentunya akan terlihat, mana yang benar dan mana yang salah. Hanya satu yang benar diantara yang diperselisihkan itu. Sebagaimana firman Allah dalam surah Yunusayat 32 yang artinya “Maka tidak ada sesudahnya yang benar, kecuali yang salah”.

Saudara, pertanyaannya apakah segala macam perselisihan itu benar?. Hanya sekali hidu di dunia yang fana ini, kalau sampai salah akan celaka. Tetapi, bagaimana pun mereka hanya selalu mengangap dirinya paling benar dan menggunakan alasan yang sah, tidak terbersit kekhawatiran jika yang di angganya benar itu salah. Hanya sekali hidup di bumi untuk bertaruh. “ Tidaklah aman akan siksa Allah, kecuali mereka golongan yang rugi”.(Surah Al-A’raf ayat 99).

(Alhamdulillah, saudara tunggulah coretan selanjutnya yaitu pelajaran ke-3)

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean