Media Bawean, 13 Agustus 2008
Sumber Jawa Pos
Hingga Kemarin Satu Penumpang Belum Ditemukan
GRESIK - Posisi nakhoda kapal motor (KM) Palangkaraya Djaelani Fauzi semakin terpojok. Dalam pemeriksaan kemarin (12/8), pria 60 tahun itu berterus terang telah menyembunyikan penumpang gelap dalam kapal barang tersebut.
Namun, Djaelani tidak menyebutkan alasan menaikkan penumpang gelap itu. "Saya menyuruh penumpang tersebut sembunyi," kata seorang penyidik menirukan pengakuan Djaelani ketika pemeriksaan kemarin.
Djaelani mengakui, sebelas penumpang dimasukkan dalam ruang berukuran 1 x 2 meter di lantai dasar kapal milik H. Munif, pengusaha asal Pulau Bawean, tersebut. Sedangkan dua penumpang lainnya tidak turut masuk ruang itu.
Sebab, dua orang tersebut adalah volunteer (petugas tapi tidak mendapatkan gaji dari kapal). Sehingga, jumlah mereka 13 orang. Hingga kemarin, seorang di antaranya masih belum ditemukan alias hilang.
Pemeriksaan terhadap awak kapal itu dilakukan sejak pukul 09.00. Hingga pukul 15.45, empat penyidik dari Adpel Gresik belum merampungkan pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan tersebut, ada tujuh di antara 17 anak buah kapal (ABK) rakitan 1961 itu yang diperiksa.
Mereka adalah Djaelani, mualim I Sartono, kelasi Samsul Arifin dan Mulyono, juru mudi Sunadi, Kepala Kamar Mesin (KKM) Mustari, serta mualim II Selamet.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos, penyidik mencecar nakhoda dan ABK itu dengan pertanyaan tentang siapa yang memerintahkan memasukkan penumpang tersebut. Juga, perbedaan manifes nakhoda dengan kondisi fisik di kapal seberat 291 gros ton tersebut. Benarkah ada perbedaan laporan yang dibuat nakhoda dengan kondisi fisik di lapangan?
Kasi Penjagaan dan Keselamatan (Gamat) Adpel Gresik Nuralim mengatakan, pemuatan penumpang dalam kapal bermesin caterpillar 350 PK tersebut diinstruksikan oleh Djaelani.
"Ketika kapal diperiksa, penumpang disembunyikan dalam ruang kapal," jelas Nuralim kemarin.
Bagaimana dugaan perbedaan muatan yang dilaporkan oleh nakhoda dengan pengakuan sejumlah saksi mata? "Apanya yang beda. Muatannya sama dengan yang dilaporkan oleh nakhoda," tambahnya dengan nada tinggi.
Dalam manifes disebutkan, kapal itu mengangkut dua unit mobil (ambulans dan Toyota Yaris), 23 sepeda motor, 80 ton semen, 40 ton pupuk, 49 ton beras rakyat miskin (raskin), 10 ton general cargo (berisi sembako), dan 17 ABK.
"Jumlahnya seperti itu. Siapa bilang kapal tersebut kelebihan tonase? Paling, itu kata sumber-sumber yang tidak mau disebutkan namanya," sindirnya.
Namun, sejumlah saksi mata menyebut kapal milik H. Munif tersebut mengangkut 63 sepeda motor, dua mobil, 40 ton semen, 40 ton pupuk, 49 ton raskin, 10 ton sembako, ratusan elpiji, genting, batu bata, dan puluhan penumpang.
Diduga, kapal barang tersebut tenggelam akibat kelebihan muatan sehingga terbalik ketika diterjang ombak. (yad/ib)
Sumber Jawa Pos
Hingga Kemarin Satu Penumpang Belum Ditemukan
GRESIK - Posisi nakhoda kapal motor (KM) Palangkaraya Djaelani Fauzi semakin terpojok. Dalam pemeriksaan kemarin (12/8), pria 60 tahun itu berterus terang telah menyembunyikan penumpang gelap dalam kapal barang tersebut.
Namun, Djaelani tidak menyebutkan alasan menaikkan penumpang gelap itu. "Saya menyuruh penumpang tersebut sembunyi," kata seorang penyidik menirukan pengakuan Djaelani ketika pemeriksaan kemarin.
Djaelani mengakui, sebelas penumpang dimasukkan dalam ruang berukuran 1 x 2 meter di lantai dasar kapal milik H. Munif, pengusaha asal Pulau Bawean, tersebut. Sedangkan dua penumpang lainnya tidak turut masuk ruang itu.
Sebab, dua orang tersebut adalah volunteer (petugas tapi tidak mendapatkan gaji dari kapal). Sehingga, jumlah mereka 13 orang. Hingga kemarin, seorang di antaranya masih belum ditemukan alias hilang.
Pemeriksaan terhadap awak kapal itu dilakukan sejak pukul 09.00. Hingga pukul 15.45, empat penyidik dari Adpel Gresik belum merampungkan pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan tersebut, ada tujuh di antara 17 anak buah kapal (ABK) rakitan 1961 itu yang diperiksa.
Mereka adalah Djaelani, mualim I Sartono, kelasi Samsul Arifin dan Mulyono, juru mudi Sunadi, Kepala Kamar Mesin (KKM) Mustari, serta mualim II Selamet.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos, penyidik mencecar nakhoda dan ABK itu dengan pertanyaan tentang siapa yang memerintahkan memasukkan penumpang tersebut. Juga, perbedaan manifes nakhoda dengan kondisi fisik di kapal seberat 291 gros ton tersebut. Benarkah ada perbedaan laporan yang dibuat nakhoda dengan kondisi fisik di lapangan?
Kasi Penjagaan dan Keselamatan (Gamat) Adpel Gresik Nuralim mengatakan, pemuatan penumpang dalam kapal bermesin caterpillar 350 PK tersebut diinstruksikan oleh Djaelani.
"Ketika kapal diperiksa, penumpang disembunyikan dalam ruang kapal," jelas Nuralim kemarin.
Bagaimana dugaan perbedaan muatan yang dilaporkan oleh nakhoda dengan pengakuan sejumlah saksi mata? "Apanya yang beda. Muatannya sama dengan yang dilaporkan oleh nakhoda," tambahnya dengan nada tinggi.
Dalam manifes disebutkan, kapal itu mengangkut dua unit mobil (ambulans dan Toyota Yaris), 23 sepeda motor, 80 ton semen, 40 ton pupuk, 49 ton beras rakyat miskin (raskin), 10 ton general cargo (berisi sembako), dan 17 ABK.
"Jumlahnya seperti itu. Siapa bilang kapal tersebut kelebihan tonase? Paling, itu kata sumber-sumber yang tidak mau disebutkan namanya," sindirnya.
Namun, sejumlah saksi mata menyebut kapal milik H. Munif tersebut mengangkut 63 sepeda motor, dua mobil, 40 ton semen, 40 ton pupuk, 49 ton raskin, 10 ton sembako, ratusan elpiji, genting, batu bata, dan puluhan penumpang.
Diduga, kapal barang tersebut tenggelam akibat kelebihan muatan sehingga terbalik ketika diterjang ombak. (yad/ib)



Posting Komentar