Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Bisnis Jabatan

Bisnis Jabatan

Posted by Media Bawean on Senin, 22 September 2008

Media Bawean, 22 September 2008
Oleh : Mhmdh Zkyh (zmhmdh@yahoo.com)

Di mana-mana rakyat selalu mendambakan pemimpin yang adil, serta mau memperhatikan rakyatnya dan berusaha mensejahterakan rakyat, sehingga kalau ternyata yang terjadi malah sebaliknya, maka rakyat pun kecewa, mengeluh, mengumpat, bahkan protes dan demo, baik dari obrolan dengan kawan-kawan maupun tulisan-tulisan di media massa, sering sekali kita dapatkan keluhan terhadap penguasa atau pemimpin, yang korup lah, yang tidak memperhatikan nasib rakyat lah, dan berbagai kaluhan lagi.

Pertanyaannya: kapan kita memiliki pemimpin yang adil, yang memikirkan nasib rakyat, yang peduli terhadap kepentingan rakyat? Dan sampai kapan kita mengeluh, mengumpat, protes, demo dsb? Jawabnya, kalau kitan ingin mencapai sesuatu harus berusaha, bukan hanya bermimpi dan berangan-angan. Artinya kita harus berusaha memiliki pemimpin yang sesuai dengan keinginan kita.

Barangkali banyak yang lupa atau pura-pura lupa bahwa pemimpin kita tidak turun dari langit, akan tetapi datang dari rakyat, dan dipilih oleh rakyat, jadi kalau pemimpinnya bobrok berarti salahnya yang memilih, siapa suruh memilih pemimpin yang tidak baik, sebenarnya sederhana saja, kalau ingin pemimpin yang baik, maka pilihlah yang baik, jangan kita memilih yang buruk, lalu memimpikan dapat yang baik, ini aneh bin ajaib. Sekali lagi saya tegaskan bahwa kalau pemimpin kita buruk, korup, dan sebagainya. Berarti kitalah yang salah dalam memilih pemimpin. Sekarang bagaimana caranya memilih pemimpin yang baik? Nah, ini masalahnya.

Barangkali salah satu sebabnya adalah karena masing-masing hanya memikirkan kepentingannya sendiri, itupun kepengingan sesaat, bukan kepentingan jangka panjang. Dalam ajang pemilihan pemimpin, baik pilkades, pilkada, pilpres termasuk pemilihan ketua partai dan wakil di dewan, masih sangat diwarnai dengan kepentingan masing-masing yang sifatnya sesaat. Seseorang memilih si fulan jadi pejabat atau wakil rakyat pertimbangannya hanya karena dia memberi uang sepuluh, dua puluh ribu rupiah. Tanpa mau repot-repot berpikir bagaimana karakternya yang penting dia bagi-bagi duit, itulah yang saya pilih, apapun dan bagaimanapun dia. Sementara kalau ada calon yang tidak punya duit, tidak dipilih, walaupun dialah yang paling baik dan paling layak,. Maka bukan rahasia lagi bahwa untuk menjadi kepala desa harus mempunyai modal sekian ratus juta, untuk menjadi anggota dewan, harus mempunyai dua ratus hingga tiga ratus juta. Disinilah sumber musibah.

Sebenarnya dengan berpikir sederhana saja, orang yang mendapatkan jabatan dengan modal besar (membeli jabatan), artinya dia itu berbisnis dengan jabatan, dia membeli jabatan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, kalau untuk menjadi kades ia mengeluarkan 100 juta, maka ia harus mendapat keuntungan lebih dari itu. Artinya tujuan dia mendapatkan jabatan tidak lain hanyalah untuk mendapat keuntungan pribadi. Maka bagaimana diharapkan dia mau memikirkan rakyat dan kesejahteraan rakyat?

Kalau untuk menjadi wakil rakyat harus mengeluarkan modal dua ratus juta misalnya, maka setelah kursi dewan di dapat, yang pertama dipikir adalah bagaimana mengembalikan modal? Terus kalau modal kembali, apakah selesai disitu? Belum, yang namanya orang dagang, kalau hanya kembali modal, itu belum untung, setelah itu ia harus memikirkan bagaimana mendapat keuntungan sebesar-besarnya dengan modal tersebut. Terus kapan memikirkan rakyat? Oo, itu nanti, kalau sudah modal kembali, kalau sudah mendapat keuntungan besar, kalau masa jabatan sudah berakhir, kalau yang menjabat sudah ganti orang lain, baru memikirkan rakyat, baru koar-koar, seharusnya begini, seharusnya begitu. Terus yang sekarang sedang menjabat, kapan memikirkan rakyat? Nanti, setelah habis masa jabatan. Dan seterusnya dan seterusnya.

Lalu, kapan kita punya pemimpin yang baik atau wakil yang baik? Ya, kalau kita sudah baik, kalau kita sudah mengenyampingkan kepentingan pribadi dan golongan demi kepentingan umum dan kepentingan bersama, kalau masing-masing kita sudah memikirkan bangsa dan Negara kita, kalau kita memilih pemimpin berdasarkan karakter dan kemampuan, bukan karena dia bagi-bagi duit. Kita jangan hanya bisa menkritik kalau ada pejabat yang korup, sebab pejabat yang korup lahir dari rakyat yang korup, sebelum pejabat korupsi, rakyat telah korupsi lebih dulu, sebab orang yang memilih calon tertentu karena diberi uang, sama saja ia telah melakukan perbuatan korupsi, maka jangan heran kalau nantinya pejabat yang ia pilih menjadi pejabat yang korup.

Oleh karena itu kita perlu intrsospeksi diri, terutama dalam menghadapi pemilu 2009, harus betul-betul selektif memilih orang yang akan menjadi wakil kita di dewan, harus memilih orang-orang yang betul-betul mempunyai kemampuan dan kemauan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan yang hanya mementingkan diri sendiri, dan golongannya, jangan hanya melihat besarnya modal yang ia miliki, jangan memilih orang yang berbisnis dengan jabatan, kita harus sadar bahwa memilih caleg berarti menyerahkan urusan kita dan bangsa kita kepada calon yang kita pilih, maka serahkanlah urusan warga Bawean kepada orang yang amanat dan tanggung jawab untuk memperjuangkan rakyat Bawean.

SHARE :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean