Media Bawean, 20 Juni 2008
Tulisan EndahVision Singapura
Diterjemah Oleh Fiya (Kontributur Media Bawean Kuala Lumpur)
Tulisan EndahVision Singapura
Diterjemah Oleh Fiya (Kontributur Media Bawean Kuala Lumpur)
Dalam Tahun 60-an dan 7-an, ada beberapa orang saudara orangtauku dari Bawean datang melawat ke Singapura. Mereka terdiri dari nelayan, petani, tukang kayu dan tukang ukir. Mereka suka membawa "Kemed", ikan kering, kekacang, beras, kerupuk, bangku kayu dan tikar sebagai oleh-oleh.
Kedatangan tamu dari Pulau Bawean disambut dengan tangan terbuka oleh keluargaku. Orang tuaku sangat bermurah hati dan berusaha untuk membuat kunjungan itu satu kenangan indah buat mereka. Banyak buah tangan yang dihadiahkan waktu mereka pulang, misalnya pakaian, barang keperluan rumah dan barang mainan kanak-kanak.
Perempuan Bawean yang kutemui pula, rata-ratanya sangat mahir dalam seni anyaman seperti menganyam tikar atau anyaman-anyaman lain. Orang laki-laki pula sangat pintar menghasilkan kerja tangan. Seperti sepupu dan pamannya ibuku yang pernah kutemui awal tahun 70an dulu, mereka sangat pintar dalam pertukangan kayu. Aku pernah melihat mereka membantu datukku yang suka bertukang dalam waktu senggangnya, membuat bangku dan meja kayu. Aku juga ingat orang-orang Bawean juga membawa hasil kerja tangan mereka untuk dijual ke orang-orang Bawean di Singapura. Antara barangan yang terkenal waktu itu adalah papan memotong untuk keperluan dapur. Itu selalu punya banyak permintaan.
Pengunjung-pengunjung dari Pulau Bawean memang suka membawa buah tangan untuk saudara-saudara dekat mereka di Singapura. Sepupu ayahku yang datang melawat keluarga kami pada tahun 70an membawa bungkusan kecil beras dan kekacang yang mereka tanam sendiri. Ini adalah hasil daripada tanaman atas sebidang tanah yang dimiliki oleh ayahku di sana. Ayahku mewarisi tanah itu dari bapanya dan mengijinkan sepupunya untuk menguruskannya. Mereka menjadikan tanah itu sawah padi dan tempat tanaman kekacang untuk kebutuhan mereka sendiri. Jadi, bila mereka berkunjung ke Singapura, mereka membawa hasil dari tanah itu sebagai tanda terima kasih. Mereka bilang ayahku sekeluarga harus merasakan hasil tanaman beras dari tanahnya itu. Setelah itu, beberapa tahun sebelum ayahku meninggal, tanah itu diserahkan sepenuhnya kepada mereka. Secara peribadi, kupikir itu adalah keputusan yang bijak. Aku percaya, mereka masih lagi tinggal di tanah itu dan aku berharap bisa ketemu mereka lagi satu hari nanti.


Posting Komentar