Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean

"JANGANKAN BARU HUJAN AIR, HUJAN BATU SEKALIPUN PORSEMA TETAP BERLAKU"


Oleh: Sugriyanto

     Hebat! Untaian ini tepat untuk mengungkapkan semangat dan ketegaran para pengisi dan panitia di saat opening seremonial PORSEMA ke-XIV tahun 2022. POSEMA yang keterusan diselenggarakan di Kecatan Sangkapura sejak awal dihelat tahun 1977 hingga tahun 2022 ini. Rencana PORSEMA berikutnya pada tiga tahun mendatang akan diselenggarakan di Kecamatan Tambak jika tiada aral yang berarti. Salah satu faktor yang menjadi alasan udzurnya PORSEMA digelar di Kecamatan Tambak konon katanya tidak mempunyai pusat lapangan yang memadahi. Padahal, faktanya lapangan sepak bola yang berada di jantung Kecamatan Tambak luasnya hampir dua kali luasnya alun-alun Kecamatan Sangkapura. Selentingan beredar kabar bahwa warga Kecamatan Tambak tidak mau repot. Pembuktian dari dua faktor keudzuran Kecamatan Tambak untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan PORSEMA ke-XV tahun 2025 mendatang tetap ditunggu bersama faktanya kesanggupannya.

     Sepertinya baru tahun ini, 2022 pelaksanaan PORSEMA yang diguyur hujan sejak pagi hingga menjelang sore. Namun demikian para pengisi acara open seremonial dibawa kendali panitia induk tetap berlangsung dengan tetap bergairah dan bersemangat. Semestinya jadwal yang sudah tertera di-run down penampilan kesenian tradisi Dikker dari pengurus ranting Desa Gunungteguh bermain pukul 08:30 WIB menjadi molor hingga penampilannya untuk berperforma di atas panggung induk  baru kelar bermain sekitar pukul 09: 15 WIB karena derasnya hujan "Sungguh terlalu!" Penampilan Dikker menjadi penyelamat dan penenang hati para pengisi acara yang lain  dengan durasi permainan untuk diperpanjang dan diperpanjang. Semula Dikker dijatah waktu tampil cukup 20 menitan akhirnya boleh tampil lebih waktunya. Andai Dikker hanya diberi waktu sesuai ketentuan di-run down makan pengisi acara berikutnya akan berkuyub-kuyub bila harus berperforma tidak di bawah tenda utama di atas panggung sewaan milik Santika sound sistem asal kawasan "Happak Je" Desa Daun Kecamatan Sangkapura. Penampilan berikutnya setelah grup Dikker undur diri seperti: Dhungka, Tungtung, Al-Banjari, dan Zamrah bisa luntur semua make-up dan dandanannya.

     Kabar yang merebak di arena perhelatan PORSEMA berupa tudingan miring kepada pawang hujan. Reputasi pawang hujan yang sudah teken kontrak putih di atas hitam cukup dipertaruhkan kemandiannya atau kemujarabannya. Anggapan lain yang sempat merebak adanya perbuatan aniaya dengan adanya salah seorang tak dikenal mengenakan baju atau pakaian, baik pakaian luar maupun pakaian dalam dipakai atau dikenakan secara terbalik. Hal ini sudah menjadi kepercayaan warga setempat yang tak boleh dilanggar dan dibantah. Apalagi ada dari panitia atau pemangku hajat dari PORSEMA mengenakan "cawat" secara sengaja atau tidak atas keterbalikannya. Kepercayaan lain dari warga setempat yang bisa mengundang turun dan derasnya hujan bila ada orang yang berbuat mengambil batunya Danau Kastoba walau sebutir kerikil kecilnya. Mungkin juga terdapat orang tak dikenal dengan sengaja atau tidak, menyiram dan memandikan kucing atas sebuah amarah kejengkelan dan kekesalannya terhadap hewan rerawatan nabi tersebut. 

     Sambil menunggu hujan reda, para pengisi acara merasakan kegusaran hati. Semestinya penonton menjubeli alun-alun Sangkapura di acara opening seremonial PORSEMA akhirnya terpaksa hanya beberapa gelintir saja yang mau menonton mendekat panggung utama, itupun sambil berhujan-hujan. Penonton lainnya menepi dan menjauh untuk menghindari guyuran hujan. Termasuk juru kamera dan juru besut video dari panitia induk harus berpayung yang ditahan oleh leher dan ketiak karena sebagian tangannya harus menggenggam alat shootingnya. Walau demikian derasnya hujan mengguyur, panitia dan pengisi acara tetap memegang teguh pada semboyan kenekatannya "Jangankan baru hujan air, hujan batu sekalipun PORSEMA tetap berlaku". Maksud istilah atau ungkapan "berlaku" itu adalah bermain atau berlangsung. Apalagi panitia dan pengisi acara bukan anaknya garam (baca, Bawean: buje) sehingga tegar tetap semangat berlaku. Apapun dan bagaimanapun PORSEMA adalah gawe bersama. Pada puncak acara opening seremonial hingga untaian doa penutup upacara yang dimunajatkan oleh Kiai Musajjad asal Sokaoneng Kecamatan Tambak , Sang Surya bersinar kembali memanasi hamparan alun-alun yang butir sinarnya begitu kemilau. Sukses!

Biografi KH. Bajuri bin Nur



Dulu, diparuh abad 21 terdapat sosok kiai yang berpengaruh di Sungaitopo desa Sungai Teluk Sangkapura Bawean. Beliau adalah KH. Bajuri bin Nur yang mengasuh PP. an-Nur. Kiai yang ahli falak ini adalah putra ke dua dari KH. Muhamad Nur bin Abu Bakar yang merintis pesantren. KH.Bajuri mulai menjadi pengasuh selepas wafatnya sang rama yakni tahun 1943.

Di masa KH. Bajuri pesantren an-Nur berkembang pesat. Banyak para santri dari seluruh Bawean berdatangan untuk menimba ilmu darinya. Dengan kedisiplinan yang tinggi beliau mendidik para santrinya untuk menjadi pelayan masyarakat.

Pengembaraan keilmuan beliau cukup panjang. Sebagaimana lazimnya kiai zaman dulu yang berkelana untuk mencari mutiara samudera hikmah. Beliau memulai belajar mengaji dari ayahandanya sendiri yakni KH. Muhamad Nur bin Abu Bakar. 

Selanjutnya mulailah beliau singgah di beberapa pesantren di Jawa yaitu Langitan, Jombang, Kediri dan lain-lain. Tak cukup itu saja beliau juga mengaji di Makah al-Mukaramah selama 25 tahun. Maka wajar jika kemudian beliau menjelma menjadi kiai yang sangat alim.

KH. Bajuri menikah dengan Nyai Siti Khadijah. Dari pernikahannya beliau dikaruniai 2 putra dan 5 putri. Kini para putra-putri dan keluarga yang lain sedang berikhtiar untuk mengembangkan lagi PP.an-Nur dengan membentuk Yayasan PP. an-Nur (2006). Yayasan ini mengelola beberapa lembaga pendidikan yaitu : Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an an-Nur (TKQ), Taman Pendidikan An-Nur (TPQ), Madrasah Diniah an-Nur Dan Madrasah Takhassus an-Nur. Saat ini Yayasan Pondok Pesantren an-Nur dikepalai oleh ustadz Muhamad Yusuf dan ustadz Mukri sebagai sekretarisnya. Nampak kegiatan pendidikan yang semarak di Sungaitopo utamanya selepas shalat maghrib.

Demi mengabdikan dirinya beliau juga aktif di NU mulai tingkat ranting, MWC dan cabang. KH. Bajuri bin Nur sangat aktif di forum bahtsul masail. Sebuah forum untuk memecahkan masalah keagamaan dan social dari sudut pandang fiqh.

Pada masa perang kemerdekaan beliau bergabung dengan laskar Hizbullah Bawean. Semangat mempertahankan kemerdekaan menjadikan seorang pejuang rela mengorbankan jiwa dan raganya. Pada saat Negara di rongrong oleh pemberontakan G 30 S / PKI beliau juga tampil di barisan kiai dengan menumpasnya.

Beliau berpulang pada tahun 1975 dan kepengasuhan dilanjutkan oleh 2 guru tugas dari Tebuireng yakni Kiai Afnan dan Kiai Subakir yang bertahan selama 3 tahun. Sejak tahun 1978 PP.an-Nur ditinggalkan para pengasuhnya. (bst)

Penghasilan Warga Desa Balikterus dari Gula Merah


Warga desa laki-laki maupun perempuan, setiap pagi dan sore masuk hutan untuk mengambil bambu berisi nira dan memasangnya lagi di tangkai buah aren yang telah dipotong. Hutan desa banyak tumbuhan aren kemudian disadap niranya yang oleh warga setempat disebut la’ang.

Adenan (52) warga setempat hari itu amat trampil memanjat pohon aren untuk mengambil bumbung yang berisi nira. “Setiap pagi dan sore kami selalu memasang dan mengambil bumbung di pohon aren. Untuk satu buah tangkai buah aren ini bisa diambil la’ang-nya hingga dua bulan, sedangkan sekali ambil, satu tangkai buah aren ini bisa menghasilkan lima liter,” kata pria yang sudah penuh keriput di raut mukanya itu.

Menurut Adenan, nira yang diambil dari tangkai buah aren yang baru dipotong sangat bagus kualitasnya dijadikan gula aren. ”Warnanya merah bersih, tapi jika nira diambil dari tangkai buah aren yang sudah lama dipotong, hasil gulanya agak gelap,” kata Adenan. Selain itu, dia menambahkan, nira aren di dari pegunungan di Desa Balikterus ini sangat segar untuk diminum langsug, apalagi bila dicampur dengan es.

”Rasanya sangat segar, biasanya pada saat bulan puasa, orang Bawean banyak yang membeli nira untuk dinikmati ketika makan buka, dipercaya la’ang juga bisa meningkatkan stamina dan kejantanan lelaki,” jelasnya.

Sepulang dari mengambil nira aren di hutan, Adenan langsung menuju rumah sore itu. Dan sesampainya di rumah sederhananya, Masriyah (40), istrinya, membawa bumbung berisi nira ke dapur untuk dimasak.

”La’ang dipanaskan di wajan selama beberapa jam hingga kental berwarna kemerahan. Setelah itu, la’ang dicetak di potongan bambu berdiameter empat centimeter,” papar Masriyah.

Kemudian dibiarkan hingga mengeras. Setelah mengeras, gula aren dilepas dari cetakannya dan dibungkus daun pisang. Per bungkus isinya sepuluh biji. Harga satu bungkus gula aren saat ini Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Satu bungkus gula aren berisi sepuluh biji itu dibutuhkan nira dua liter. Dia menjelaskan, gula aren ini mampu bertahan lama, bisa berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat yang hangat biar tidak meleleh.

Hampir semua penduduk yang tinggal di Balikterus, berjumlah hingga ratusan kepala keluarga memanfaatkan gula aren sebagai penghasil pendapatan utama. Mereka menjual gula aren ke pasar-pasar. Tapi seringkali, turis asing atau perantau yang bekerja di Malaysia dan Singapura pulang membawa gula aren untuk dijual di negeri jiran itu.

”Di Malaysia biasanya gula aren Bawean ini dicampur dengan kelapa muda. Jadi pesanan akan meningkat pada saat musim libur atau hari-hari Lebaran, bahkan saking banyaknya pesanan, kita kekurangan barang,” imbuh Masriyah.

Tak ayal jika pada saat pesanan ramai, warga Balikterus kehabisan stok. Meskipun jumlah keluarga yang memproduksi gula aren ini ratusan, cara mereka mengolah masih tradisional, jadi tidak mumpuni untuk memproduksi gula aren dalam jumlah massal.

Sebenarnya, penghasil gula aren di Bawean tidak hanya di Desa Balikterus di beberapa daerah lainnya juga terkenal dengan produksi gula arennya, tapi penghasil gula aren dengan kualitas terbaik di Bawean adalah di Balikterus.

Desa yang berjarak lima kilometer dari kecamatan Sangkapura itu berada di daerah datarang tinggi. Pegunungan Balikterus sangat lebat dengan tanaman aren. Jadi, bahan baku gula aren di Balikterus sangat berlimpah, karena itu kualitas gula aren Balikterus terbaik. (bst

Minat Mudik Warga Pulau Bawean Tinggi, Sehari Dikerahkan Dua Kapal Cepat


Jadwal baru kapal cepat untuk melayani pemudik, khususnya warga Bawean, diberlakukan kemarin (28/4). Dua armada kapal cepat dikerahkan untuk pelayaran Gresik–Bawean dan sebaliknya.

Dalam satu hari, pelayaran akan dilakukan dua kapal cepat dengan dua jadwal keberangkatan. Dari pantauan Jawa Pos, suasana di area pelabuhan penumpang Gresik tampak berbeda.

Hiruk pikuk penumpang terasa sejak pagi. Area pelabuhan dipenuhi para pemudik yang ingin menuju Bawean. Penumpang kapal cepat dari dua jadwal keberangkatan menjadi satu. Kapal Express Bahari 6F berangkat lebih dulu pukul 07.00 WIB, sedangkan Express Bahari 8E berangkat pukul 08.30 WIB.

Diharapkan, tambahan jadwal tersebut dapat mengakomodasi para pemudik. Apalagi, selama dua tahun masa pandemi Covid-19 ini, pelayaran Bawean sempat tidak beroperasi.

Faiz, salah seorang pemudik asal Bawean, menyatakan, dalam mudiknya kali ini, dirinya memberanikan pulang kampung bersama keluarga besar karena merasa pandemi Covid-19 mulai reda.

Tiket kapal cepat saat tiba musim mudik bisa dipesan melalui online. Bahkan seminggu sebelum jadwal keberangkatan, baik itu keberangkatan dari Gresik ke Bawean maupun sebaliknya.

Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan Pemkab Gresik Muhammad Arifin menyatakan, dua armada tersebut akan beroperasi hingga pasca-Idul Fitri 1443 H. Dimulai pada 28 April dan pengecualian pada 2 dan 3 Mei 2022 karena kapal off. ’’Kemudian, kapal beroperasi lagi setelah hari raya mulai 4 sampai 8 Mei 2022,’’ katanya.

Pengoperasian dua kapal cepat serta pemberlakuan dua jadwal keberangkatan tersebut baru pertama dilakukan Pemkab Gresik untuk warga Bawean yang ingin mudik Lebaran. Dengan demikian, pelayaran mudik itu diharapkan bisa berjalan lancar. Tidak ada warga Bawean yang tidak kebagian tiket.

Setidaknya, ada lebih dari 500 penumpang yang mudik dalam sehari kemarin. Perinciannya, 250 penumpang kapal Express Bahari 6F dan 340 penumpang kapal Express Bahari 8E.






H. Samwil Anggota DPRD Jawa Timur Menggelar Buka Puasa Bersama Tokoh dan Ulama Bawean


Serap aspirasi warga Pulau Bawean Kabupaten Gresik, H. Samwil anggota DPRD Propinsi Jawa Timur dari Partai Demokrat, hari ini berkunjung ke tanah kelahirannya.

Ditemui Media Bawean, anggota dewan yang tak pernah melupakan kampung kelahiran menyatakan akan menggelar buka puasa bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean, hari minggu (24/4).

Menurutnya pertemuan di Pulau Bawean bertujuan menyerap aspirasi dan harapan dari tokoh dan ulama.

Pertemuan bersama tokoh dan ulama menurutnya adalah momentum yang sangat dirindukan setelah beberapa tahun terhalang wabah corona untuk menggelar pertemuan. 

Hadir dalam acara buka puasa bersama, pengurus PCNU Bawean bersama Banomnya yang digelar di kantor NU letaknya di Sangkapura. (bst)

Tradisi "MAMALEMAN" di Pulau Bawean Mulai Luntur


Oleh: Sugriyanto

     Memasuki malam "lekor-lekor" atau malam-malam ganjil ke 21, 23, 25, dan seterusnya di bulan puasa, warga Pulau Bawean menggelar acara "MAMALEMAN". Acara ini berupa khatmul Qur'an, khususnya di masjid-masjid dan di langgar-langgar. Agar istilah "MAMALEMAN" ini tepat pelafalan dan maknanya maka fonem {E} dilafalkan pepet seperti pelafalan fonem {e} pada kata "telah".  Setelah sekian kali mengkhatamkan 30 juz Al Qur'an yang dibaca secara bersama dan bergiliran di tempat-tempat ibadah itu pada akhirnya tiba pada acara puncak yakni pembacaan surat-surat pendek pada juz ke 30 yang dimulai dari surat Ad-Dhuha hingga surat An-Nas. Umumnya, pada acara khatamul Qur'an ini disertai penyuguhan hidangan nasi talaman atau piringan yang disertai penyuguhan kuliner sesuai kebiasaan dusun, desa, dan dua kecamatan yang ada di Pulau Bawean. 

     Usai acara "MAMALEMAN" dihelat sudah tidak ada lagi acara tadarus Al Qur'an di seluruh masjid atau langgar karena akan dilanjut dengan tadarus sendiri di rumah masing-masing. Sisa waktu hari bulan puasa dipergunakan untuk berbagai macam persiapan dalam menyambut perayaan Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan penutupan acara tadarus bersama ini waktunya disesuaikan dengan kesepakatan bersama dengan mengambil waktu-waktu malam ganjil paling akhir sekalipun. Khatmil Qur'an merupakan puncak perayaan MAMALEMAN di tempat-tempat ibadah. Selamatan itu disertai dengan pengangkatan nasi talaman atau nasi hidangan dengan berbagai sajian berdasarkan adat dan tradisi masing-masing dusun, desa, dan kecamatan. Warga Pulau Bawean berebut pahala dalam bulan suci Ramadhan dengan memberikan suguhan secara bergiliran kepada para petadurus sejak malam pertama bulan puasa hingga puncaknya pada acara MAMALEMAN ini. 

     Selanjutnya, anak-anak di kawasan Sangkapura Kota mengadakan acara MAMALEMAN dengan melakukan acara tolong-tolongan. Ruang tamu atau teras rumah mereka dihias seindah-indahnya sejak terbenamnya senja hingga malam hari. Tradisi MAMALEMAN di Sangkapura Kota tepatnya di wilayah Desa Kotakusuma dan Desa Sawahmulya perayaan acara ini bisa berlangsung beberapa malam sampai semua sanak saudara dan famili dan teman-temannya selesai kegiatan tolong-tolongannya. Suguhan yang dipersembahkan sebagai barang bawaan dalam acara tolong-tolongan ini berupa makanan khas daerah olahan warga Pulau Bawean sendiri dalam bentuk liliput atau miniatur yang nampak unik. Makanan khas daerah yang menjadi bahan hantaran terdiri atas sati kolang kaleng warna-warni, sasagun, nogosari, kuejur, kuelapis, marning jagung, poden, range atau gendus, kuelumpur, serta jajanan pasar lainnya. Jajanan minimalis ini di letakkan di atas beberap lepek yang ditata di atas talam atau baki cantik dengan tudung saputangan. 

     Sistem tolong-tolongan ini telah memberikan pelajaran bernilai edukasi kepada anak-anak betapa pentingnya saling berbagi dan bersilaturahmi. Namun, kini tradisi ini mulai luntur karena beberapa sebab atas kesibukan dan hal kemajuan zaman yang menggerusnya. Anak-anak sudah mulai asing dengan rumah tetangga karena pagar rumah warga sudah tinggi-tinggi dan berkunci. Pergaulan sudah mulai mengarah ke individualis yang sudah cuek atau menipisnya rasa kebersamaan antar sesama sehingga kurang perduli terhadap nasib dan keadaan tetangga rumah kanan-kiri terutama di kawasan Sangkapura kota tersebut. Anak-anak yang masih balita biasanya diantar kakak atau orang tuanya menuju rumah tetangganya dalam mengantarkan hidangan itu. Bila rumah yang bertolong itu relatif jauh maka hantaran hidangan itu langsung dibalas. Akan tetapi apabila yang mengantarkan hidangan itu dekat maka dibalas menghantarkannya pula. Pada akhir acara MAMALEMAN ini tidak ada yang merasa dirugikan. Semua untung dengan hasil akhir yang didapat dari acara tolong-tolongan ini. Hal inilah yang dikatakan malam tolong-tolongan ini penuh keberkahan.

     Catatan penting dari acara MAMALEMAN ini sudah dikatakan sudah luntur nilai tradisinya karena makanan yang disajikan sudah tidak unik lagi. Semula makanan liliput sebagai jajanan pasar tradisional yang disajikan, kini sudah makanan produk industri modern yang dibeli di market atau pasar modern lainnya. Isinya pun sudah berupa koka-koka dan sejenisnya sebagai hasil industri modern. Akibatnya, anak-anak kuluarga tidak mampu secara ekonomi terpaksa mengunci diri rumah mereka karena merasa mender dan tak mampu untuk membelinya. Para perajin makanan atau jajanan pasar mini-mini itu sudah kehilangan pendapatan yang biasa dapat dan diraup di setiap tahun pada acara MAMALEMAN di bulan puasa, kini tinggal gigit jari kuat-kuat. Ngastabe!

Bupati Gresik Gus Yani Bakal Maksimalkan PLTD agar Pulau Gili di Bawean Teraliri Listrik


Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani akan memaksimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Pulau Gili di wilayah Bawean.

Gus Yani sapaan akrabnya menambahkan Pulau Gili masih belum terpenuhi pasokan listriknya, sehingga listrik yang ada di Pulau Gili tidak bisa dipergunakan penuh 24 jam.

Untuk itu, Pemkab Gresik tengah mengupayakan pasokan listrik untuk masyarakat di Pulau Gili.

"Pulau Gili selama ini belum ada pasokan listrik secara penuh 24 jam. Kami pemkab Gresik saat ini tengah berupaya mewujudkan pasokan listrik tersebut melalui PLTD. Mudah-mudahan tahun ini dapat terealisasi," imbuh Gus Yani.

Dirinya berharap, upaya pemkab Gresik demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera dapat terwujud dan terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan."

Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud," imbuhnya.

Bantuan Ambulance Laut untuk Pulau Gili Bawean


Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menuturkan, nantinya bantuan ambulans laut ini ditempatkan di Pulau Bawean agar bisa melayani masyarakat utamanya yang tinggal di Pulau Gili desa Sidogedungbatu kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik.

“Di pulau tersebut terdapat 1.800 jiwa dengan 300 kepala keluarga. Butuh waktu 20 menit kalau menyeberang. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat disana,” tuturnya.

Bupati milenial ini menambahkan, selain bisa digunakan untuk melayani kesehatan. Keberadaan ambulans laut tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai sentra vaksinai bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Bawean maupun Pulau Gili Noko.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik, dr Mukhibatul Khusna menyatakan ambulans laut ini memiliki beberapa fasilitas. Diantaranya, enam orang yang terdiri dua tempat tidur pasien dan satu tenaga kesehatan (Nakes). Ambulans tersebut juga dilengkapi beberapa alat kesehatan penunjang lainnya.

“Rencananya ambulans laut itu dimanfaatkan untuk emergency, atau kedaruratan antar seperti di Pulau Bawean dan Gili Noko,” pungkasnya. (bst)

Sosialisasi Perda Nelayan DPRD Gresik di Sambati Jaring Trawl Masih Marak di Perairan Laut Bawean



Aturan dalam peraturan daerah ( Perda ), tengah di sosialisasikan anggota dewan. Kepada masyarakat. Disambati nelayan yang menggunakan jaring trawl ( cangkang ), keberdaanya menganggu ekosistem juga berdampak pada pendapatan nelayan lainya.

Menurut Anggota DPRD Gresik Musa mengatakan, sosialisasi peraturan daerah Nomor 1 Tahun 2022. Tentang perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pemerintah mempunyai dasar untuk bisa membuat nelayan sejahterah.

“Yang di keluhkan, terkait masih banyaknya kapal-kapal dari daerah lain. Masuk di perairan bawean, mengunakan jaring trawl ( cangkang ). Minta untuk dilakukan operasi dan ditertipkan.”ujarnya.

Adanya perda ini, perhatian pemerintah terhadap hasil tangkapan bisa memiliki daya jual yang tinggi. Juga ada perlindungan terhadap zona aman, pada waktu nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut. Pemerintah khususnya, bisa tercapainya kesejahteraan masyarakat salah satunya kesejahteraan nelayan.

Ditambahkan Musa, bahwa kesejahteraan nelayan menjadi prioritas. Karena nelayan dan komoditas perikanan telah memberi sumbangsih dalam pembangunan, potensi kekayaan alam laut, dapat dikembangkan menjadi sektor ekonomi kelautan.

“Pengaturan perlindungan dan pemberdayaan nelayan menjadi sebuah kebutuhan yang sangat strategis, dan penting dalam rangka mengoptimalkan hasil produksi perikanan tangkap. Dengan demikian kesejahteraan nelayan akan meningkat. Terhadap nelayan kecil nelayan tradisional, dan nelayan buruh akan memiliki dampak positif bagi peningkatan produksi perikanan tangkap di Kabupaten Gresik.”ungkapkanya. [bst)


Kekuatan Aspek Bentukan

Oleh: 

A. Fuad Usfa

Saya sering berkata, bahwa terdapat dua keadaan yang ada dalam diri manusia, yaitu fitrah dan bentukan.

Fitrah, manakala itu melekat pada diri manusia itu sendiri, secara asalnya. 

Contoh dari yang disebut fitrah itu seperti adanya alat pendengaran, adanya alat penglihatan, lahir sebagai laki-laki, lahir sebagai perempuan, rasio, emosi, dan lain-lain yang keberadaannya memang serta merta melekat pada manusia.

Adapun bentukan adalah segala sesuatu yang keberadaannya dimiliki manusia karena faktor bentukan. Karena dibentuk, baik langsung maupun tidak, baik disadari maupun tidak. Seperti pengetahuan, tata nilai, cara berjalan, perihal makanan, budaya, dan sebagainya yang eksistensinya oleh sebab dibentuk. Eksistensinya oleh sebab dari luar dirinya, atas campur tangan manusia serta alam lingkungan lainnya.

Fitrah itu ya memang begitu adanya. Sedang bentukan adalah karena dibentuk. Dengan demikian bentukan itu tergantunglah pada siapa yang membentuk, dari mana sumber datangnya, serta dimanakah ruang dan kapankah waktunya. Pendek kata, bahwa bentukan itu tergantung.

Saya sering pula berkata, bahwa apa yang diketahui oleh manusia adalah apa yang ada di hadapannya. Oleh sebab itu yang paling efektif untuk membentuk kita adalah yang paling dekat dengan kita, yaitu orang tua kita. Merekalah yang mengenalkan sesuatu yang pertama kali pada kita, sejak dari masa bayi, bahkan sedari alam kandungan. Berarti mereka telah membentuk diri kita. Tentang nilai, budaya, dan sebagainya. Umumnya manusia hanya mengikut saja. Itulah sumber utama. Dalam perkembangannya akan bersentuhan dengan sumber-sumber lain, selain orang tua dan keluarga. 

Perubahan-perubahan muncul oleh berbagai sebab. Baik yang datang dari diri sendiri maupun dari luar dirinya. Umumnya oleh sebab yang datang dari luar dirinya. Baik secara evolusi maupun revolusi. Oleh sebab berbagai sumber dan tekanan. 

Walaupun terjadi perubahan-perubahan, baik secara evolusi maupun revolusi, namun perubahan-perubahan yang telah terjadi itu akan diikuti begitu saja oleh generasi berikutnya. Dengan demikian pola yang lama akan berjalan kembali, yaitu ‘mengikut’. Itulah arus utama. 

Generasi baru akan mengikuti generasi di atasnya. Mereka akan lupa dan bahkan tidak akan pernah menggubris akan keadaan mengapa generasi di atasnya itu menjadi berubah. Biarpun atas paksaan berat dan bertubi-tubi sekalipun. Bahkan generasi berikutnya itu bisa dengan gigih membela nilai-nilai (baru) yang mereka peroleh (bentukan baru) itu. Tidak akan pernah peduli dengan penderitaan (pun) yang dialami generasi di atasnya (-termasuk oleh kakek-nenek dan buyutnya, bahkan dari garis terdekatnya, yaitu ayah-dan ibunya sekalipun-). 

Generasi baru itu tidak merasakannya secara langsung, atau mungkin merasa tidak perlu perduli akannya, atau mungkin sejarah dan ideologi yang dibangun sudah menggeser eksistensi yang sesungguhnya telah terjadi itu. 


Semua itu bisa terbentuk oleh sebab salahsatu sifat dasar manusia, yaitu oleh sebab adanya semangat bertahan untuk hidup.

Semboyan-semboyan baru terbentuk. Itulah narasi. Atas dasar kekuatan narasi manusia mengorganisir diri. Misalnya, narasi kebenaran dibenturkan dengan narasi kebatilan, padahal azasinya adalah kepentingan. Manusia telah berkutat dalam wilayah kepentingan. Dari wilayah ini maka muncullah (dibentuklah) simbol-simbol. 

Kemudian dari pada itu manusia menjadi terjebak dalam ranah simbol-simbol. Manusia berjuang untuk mempertahankan simbol. Beragam muatan (entitas) dimasukkan dalam simbol-simbol itu. Manusia rela melakukan apa saja demi simbol yang telah dimaknai entitas lain. Simbol bukan hanya sekedar benda mati yang jelas nampak di permukaan, melainkan dipahami dengan keberadaan roh (semangat/entitas) di baliknya. 

Dengan demikian generasi berikutnya menjadi teralinasi dari eksistensi nilai-nilai leluhurnya. Demikian hal itu akan terjadi selanjutnya. Semua itu oleh sebab faktor bentukan.

(Cannington WA, 20 April 2022)

Operasi Mamin di Sangkapura, Tidak Ditemukan Barang Kadaluarsa




Operasi makanan dan minuman (mamin) yang kadaluarsa atau expired digelar diwilayah kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Kabupaten Gresik, hari rabu (21/4).

Sasaran operasi, yaitu toko di Pasar Sangkapura dan toko riteil yang ada disekelilingnya.

Turut dalam operasi adalah Forpimcam meliputi pihak kecamatan, Polsek, Koramil, juga Puskesmas Sangkapura.

AKP Suja'e Kapolsek Sangkapura mengatakan operasi makanan dan minuman (mamin) digelar mencari barang yang sudah kadaluarsa, tapi tetap dipasarkan oleh pedagang.

Tapi setelah dilakukan operasi, ternyata hasilnya nihil alias tidak ditemukan adanya barang kadaluarsa yang dijual di pasar ataupun toko riteil.

"Kesadaran pedagang sudah tinggi, sehingga bisa memilah barang yang layak dijual ataupun sudah kadaluarsa,"katanya.

Walaupun hasilnya nihil, operasi digelar dengan memberikan informasi kepada pedagang ataupun pembeli yang hadir agar waspada terhadap adanya barang kadaluarsa, termasuk memberikan pemahaman tentang bahayanya bagi yang mengkonsumsi. (bst)

Cek Warga Tanjung Ori Korban Mercon, Kades Bilang itu Berita Hoax


Adanya warga desa Tanjungori kecamatan Tambak Pulau Bawean Gresik yang menjadi korban petasan alias mercon menjadi viral di jejering media sosial khususnya Whatsapp.

Media Bawean menelusuri kebenaran informasinya, ternyata kesimpulan Berita Hoax.

Nurahli Kepala Desa Tanjungori kecamatan Tambak mengatakan sudah melakukan pengecekan kepada seluruh kepala dusun, untuk mencari tahu yang jadi korban petasan. "Ternyata tidak ada warga desa Tanjungori yang jadi korban petasa,"tegasnya.

Berarti kesimpulannya, menurut Kades itu informasi yang tersebar luas di media sosial adalah berita hoax alias palsu. "Jangan percaya, itu berita bohong,"paparnya. (bst)

Bedil Bumbung, ”Goodby…!”


Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMA Negeri 1 Sankapura) 

Illustrasi dari sebuah kisah nyata dari sisi kebiasaan tetangga sebelah rumah bernama Si Mamat yang keranjingan bermain bedil bumbung di setiap bulan puasa. Kini kebiasaan itu menjadi sebuah nostalgia penuh romantika. Kesukaannya dalam bermain bedil bumbung tak terkalahkan oleh gempuran permainan modern apapun jenisnya yang ada di setiap bulan suci Ramadan. Sejak mungkar (Bawean: terbit) matahari hingga terbenamnya matahari tetap saja ia asyik dengan membunyikan bedil bumbung. Kebiasaan yang merasuki pikirannya membuat Si mamat lupa dengan segala aktivitas lain yang menjadi tugasnya. Ia masih bersekolah di tingkat dasar dengan grade kelas rendah. Libur puasa olehnya dipergunakan untuk bermain bedil bumbung. Semboyan Si Mamat yang mendarah daging ”Tiada hari tanpa bedil bumbung sebulan puasa.”

Si Mamat kadang tak begitu riskan dengan tragedi atau kecelakaan dalam bermain bedil bumbung yang kerap kali mendera dirinya. Bulu alisnya gosong mengkriting akibat lalapan si jago merah saat menyulut lubang bedil bumbung akibat jilatan api yang membara dari dalam cerobong bambu itu. Belum lagi nafasnya hampir habis dipergunakan meniup kepulan asap putih di dalam bedil bumbung agar terbuang habis keluar. Bunyi dentuman yang keras pun tetap menjadi kegirangannya. Bahkan, uang jajan sebagai jatah untuk keperluan puasanya tersedot dalam pengadaan minyak tanah dan korek api. Benar-benar Si Mamat tenggelam dalam kesenangan yang dianggap sebagai penyulut aroma suasana puasa. Tanpa kehadiran bedil bumbung puasa kurang berasa suasananya. Yang benar aja…Si Mat?

Hampir sepanjang waktu dalam sehari tak ada waktu jedah untuk berhenti bermain padasan bambu berbahan bakar minyak tanah. Bedil bumbung bila disulut dari lubang di pangkalnya akan mengeluarkan bunyi dentuman. Si mamat benar-benar maniak dengan permainan yang dianggap sebagai warisan budaya tersebut. Menjelang sore, Si Mamat berhenti bermain bedil bumbung dan cepat-cepat bergegas mandi untuk mengaji kepada ibunya sendiri. Si Mamat kecil cepat-cepat menyiapkan rehan dan Qur’an juz amma bersila di hadapan ibunya. Rasa kantuk menyerang konsentrasi Si Mamat akibat seharian waktunya terkuras dalam bermain. Ibunya menyuruh mengeja alip-alipan dengan menggunakan ejaan ala kampungan kononnya. Padahal kita semua bisa baca Al Qur’an dengan sistem itu dulunya. Bukan sistem ini dan itu di era terkini yang terkadang kerjanya menyalahkan bacaan orang-orang terdahulu. Lalu, Ibunya mendekti dan Si mamat mengikuti : alip jheber a, alip nejjer i, alip neppes u ( ejaan model Parsia atau Iran). Setelah bersama mengeja, ibunya menyuruh Si Mamat untuk membunyikan ejaan yang baru di lafalkan secara step by step itu. Serta-merta Si Mamat melafalkan dengan bunyi : Jeddem…(tiruan bunyi bedil bumbung). Prilaku Si Mamat telah mengusik dan membuat ibunya terperangah kaget tak alang kepalang karena yang dikeluarkan adalah suara bedil bumbung yang setiap hari dimainkannya itu. Mestinya yang harus keluar dari kerongkongan Si Mamat adalah a,i,u. Sebagai orang tua, ibu Si Mamat justru tertawa ngakak karena suatu kewajaran dari seorang anak yang memang ngantuk dan polos tatkala disuruh mengeluarkan bunyi huruf hijaiyah yang baru saja diejanya.

Lembaran sejarah masa lalu perlu disingkap untuk menguak tabir rahasia keberadaan permainan bedil bumbung yang pernah digilai oleh masyarakat. Tentu hal ini tidak pernah terlepas dari rentetan sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Sekitar abad ke 13 Islam sudah menyebar di nusantara dengan membawa ajaran dan budaya melalui proses sinkretisme damai yakni pertemuan dua budaya yang berbeda tanpa harus melalui jalan konfrontasi. Secara perlahan-lahan Islam diterima menjadi agama yang penuh kedamaian yakni bisa berdampingan dengan penganut ajaran ajaran nenek moyang bangsa Indonesia terdahulu. Salah satu kreasi lama penganut ajaran islam di Indonesia saat mengambil air wudlu untuk salat menggunakan padasan bambu untuk bersuci karena jeding dan bak penampungan air permanen belum memadai dan sangat sederhana adanya. Padasan bambu itu memiliki lubang di bagian pangkal yang posisinya horizontal untuk memancurkan air wudlu. Sedang di bagian pucuk padasan dibuat lubang persegi agar air sumur yang ditimba mudah jalan masuknya. Hampir setiap rumah penduduk kala itu menggunakan sistem bersuci seperti itu.

Berbeda kemudian setelah bangsa Belanda bercokol di nusantara sebagai penjajah dengan segala kemajuan pola pikir dan teknologinya mulai melirik halus penuh pretensi untuk memengaruhi umat Islam lewat berbagai macam cara dan cela. Salah satu yang dibidik adalah bagaimana padasan bambu itu yang semula sebagai alat untuk ambil air wudlu bisa menjadi sebuah permainan dengan mengeluarkan bunyi dentuman. Semula lubang di pangkal padasan bambu posisinya horizontal diubah menjadi vertikal menghadap lurus ke atas. Awalnya, padasan bambu itu diisi air oleh umat Islam diganti dengan minyak tanah oleh bangsa Belanda yang menguasai persoalan teknis ledakan. Berubahlah kemudian fungsi padasan bambu sebagai tempat untuk air wudlu menjadi permainan yang menghasilkan dentuman. Sebagai barang baru banyak memberi warna dan pengaruh kepada seluruh umat Islam dengan shock cultural yang menyelubunginya dalam kehidupan. Belanda dengan cara yang halus mampu merasuki jiwa umat Islam dari yang semula lemah lembut dan penuh kedamaian menjadi garang penuh dengan bunyi-bunyi kekerasan lewat modifikasi dan rekayasa peninggalan budaya padasan bambu menjadi bedil bumbung. Puncak kesemarakan penggunaan bedil bumbung terjadi pada saat perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan 1366 H. Momen inilah semarak letupan mercon dan bedil bubung sebagai luapan rasa kebahagian dalam suasana kemerdekaan setelah bangsa Indonesia hidup dalam hegemuni penjajahan Belanda terlama kurang lebih tiga setengah abad. Di sinilah Belanda berhasil menanamkan warisan kekerasan lewat bunyi-bunyi petasan dan bedil bumbung yang terkooptasi dalam bingkai warisan budaya sekadar anggapan belaka. Belanda telah berhasil menyusup lewat kultur umat Islam dari sebuah padasan bambu menjadi bedil bumbung. Bahkan yang lebih mengerikan lagi perkembangan terkini muncul varian bedil bumbung menjadi srengdor berupa tatanan kaleng bekas berbahan sepirtus dengan memanfaatkan percikan pelatuk korek gas di pangkalnya. Srengdor sangat memekakkan telinga dan berbahaya.

Berbeda dengan kebiasaan warga Pulau Bawean-yang juga ikut-ikutan membunyikan bedil bumbung di saat menjelang puasa dan pada malam-malam tertentu. Konon, tanpa kehadiran bedil bumbung suasana puasa kurang semarak. Awal-awal memang benar penggunaan bedil bumbung yang dianggap warisan budaya sesuai dengan adat permainan yang minim risiko. Namun, apa yang terjadi dari sebuah perkembangan permainan budaya mengalami metamorfosis dengan varian bergantung tempat atau wilayah suatu desa atau dusun masing-masing. Salah satu dusun yakni Sungaitirta menjadikan permainan bedil bumbung di bulan puasa dalam tatanan perlombaan antarkelompok anak muda dulunya. Beberapa deret bedil bumbung di pasang berhada- hadapan dengan jarak tertentu untuk beradu kenyaringan. Kelompok siapa yang pada akhir dentuman bunyinya meredup atau kalah nyaring maka kelompok itu harus menggendong anggota kelompok lainnya keliling lapangan. Unik dan menarik permainan yang demikian. Biasanya dilakukan di tanah lapang setelah salat tarawih.

Beda dusun beda pula cara memainkan bedil bumbung. Di dusun Lebak Kecamatan Sangkapura Gresik juga memiliki keunikan dalam atraksi budayanya. Bedil bumbung dijadikan penyemarak saat bulan puasa terutama puncaknya pada acara ”Mamaleman” atau memasuki malam tanggal 21 Ramadan ke atas . Seluruh langgar dikelilingi dengan barisan bedil bumbung yang siap membuat suasana malam menjadi meriah penuh dengan kegembiraan dalam menyambut 10 malam terakhir sebagai malam pembebasan dari api neraka. Termasuk di dusun-dusun lain pun demikian. Paling mengejutkan dan cukup heboh adalah permainan bedil bumbung di daerah Telaga Kastoba dan sekitarnya. Penduduk di sana melakukan pembunyian bedil bumbung dengan besar-besaran bambu dan nyaring-nyaringan. Serunya lagi bedil bumbung di tempatkan di tempat yang agak tersembunyi. Mereka beraksi dari bebarapa semak belukar dengan moncong bedil bumbung mengarah ke jalan umum. Pernah sesekali orang lewat terkejut mendadak sambil meniup kepalan tangan kanannya seraya memasukkan udara dalam genggamannya ke arah ke dua telinga dengan maksud mengembalikan tekanan udara di telinga kembali kepada keseimbangan semula. Mereka lari tertawa terbirit-birit akibat kejutan dari suara nyaring bedil bumbung yang moncongnya menganga di sepanjang jalan. Jika warga yang lewat tidak menyadari maka akan pingsang mendadak mendapati bunyi tembakan dari bedil bumbung berjenis bambu jumbo atau jenis petong.

Ada pula yang sangat unik dan menarik lagi permainan bedil bumbung yang dimainkan warga di Kecamatan Tambak pinggir laut atau tepi pantai. Di daerah pesisir Tambak di bulan puasa dulu ramai dengan atraksi membunyikan bedil bumbung di atas sampan milik masing-masing warga. Pemandangan di pantai sore hari menjelang bedug magrib terkesan seperti adanya perang-perangan di laut antara bangsa Cina dengan bangsa Indonesia di pesisir Kota Tuban dulunya. Efek bising dan gangguan terhadap warga yang tengah menjalankan puasa minim sekali. Apalagi sampan mereka didayung agak ke tengah. Moncong bedil bumbung saling mengarah ke sampan lawan sepermainannya. Bagian moncong bedil bumbung di sumbat dengan barang-barang yang sekiranya mencolot jauh tidak sampai membahayakan lawan mainnya. Paling banter bila kena sasaran barang-barang colotan bedil bumbung tersulut sekadar ”mencol” atau lebam ringan saja. Kejadian gawat pun pernah dialami salah seorang pegiat bedil bumbung di atas sampan akibat tiupan angin melawan arah moncong bedil bumbung. Saat disulut, api menjilat tinggi keluar dari lubang penyulut dan langsung melalap rambut sang pemain. Spontan korban melompat ke dasar laut. Akhirnya ia pun selamat.

Perkembangan terkini nasib bedil bumbung tinggal kenangan belaka seiring dengan melambungnya harga minyak tanah. Bila diganti dengan bensin atau karbit risiko bahaya amat besar. Di samping itu saat ini bambu atau tonggak bambu dan sejenisnya semakin sulit di dapat. Untuk membikin satu bedil bumbung harus mengeluarkan tenaga ekstra. Anak-anak sendiri sudah merasa ogah atau enggan untuk memainkannya karena berdasarkan pengalaman banyak korban yang berjatuhan. Data dari pusat kesehatan masyarakat beberapa tahun silam menunjukkan di setiap menjelang bulan puasa luka bakar ringan hingga serius dipicu oleh penyalah gunaan permainan bedil bumbung tanpa ada garansi keselamatan dan SOP (Standar Operasi Prosedur) sebagai teknik pengamanan di lapangan. Ingat, wahai saudara-saudara kaum muslimin di manapun berada bahwa malam itu tidak mendunia. Di saat bagian bumi Indonesia dan sekitarnya memasuki waktu malam di saat itulah malaikat turun hendak menurunkan keberkahan. Malam itu tidak seharusnya disambut dengan letupan bunyi bedil bumbung , petasan, dan sejenisnya yang sangat membisingkan. Malaikat juga makhluk Allah butuh ketenangan suasana. Alangkah sakralnya malam bulan puasa diisi dengan lantunan ayat-ayat suci tanpa harus dibarengi dengan dentuman bedil bumbung. Untuk mengembalikan kembali permainan bedil bumbung yang dianggap warisan budaya harus ada upaya duduk bersama dengan menetapkan aturan main dan pakem yang semestinya agar tidak disalah gunakan oleh generasi penerus. Pihak kemanan semata menjalankan aturan dan meminimalisasi risiko sebagai wujud preventif demi kemaslahatan dan kenyamanan setiap warga negara. Merenunglah kembali akan perlunya dan tidaknya warisan budaya bedil bumbung untuk dimainkan Bila demikian, hanya untaian selamat jalan ”Goodby” wahai bedil bumbung…!”

Pelaku Pencurian Kotak Amal Dibina di Polsek Sangkapura


Hasil keputusan pertemuan antara pihak Pemerintah Desa Bululanjang Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik bersama saksi dan takmir masjid Buloloar yang digelar di kantor Polsek Sangkapura (rabu,20/4) memutuskan agar kasus pencurian kotak amal masjid tidak dilanjutkan sampai proses hukum berlanjut.

Alasannya, pihak korban dan saksi merasa keberatan untuk melaporkan kasus ke Polres Gresik dengan pertimbangan biaya transportasi dan lainnya. Sedangkan pertimbangan lainnya, yaitu nominal kerugian uang yang dicuri oleh pelaku sebesar Rp.232.0000. 

Selanjutnya Harun Ilhan (19 th.) asal Daun sebagai pelaku akan dibina di kantor Polsek Sangkapura.

Kapolsek Sangkapura AKP Suja'e mengatakan proses hukum selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada pelapor dan saksi. "Jika merasa keberatan dengan petimbangan banyak hal, maka kedepannya jangan ada anggapan bahwa polisi tidak serius menangani kasusnya,"katanya.

Menurutnya permintaan kepala desa bersama korban pihak takmir dengan pertimbangan pelaku baru beranjak dewasa, nominal kerugian yang kecil dan pertimbangan pelaku dari keluarga kurang mampu untuk sekarang masih bisa diterimanya. "Tapi kedepan, jika pelaku melakukan ulang perbuatannya, maka proses hukum akan dilanjutkan,"tegasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean