Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Budi Pekerti Cermin Keimanan

Budi Pekerti Cermin Keimanan

Posted by Media Bawean on Kamis, 17 Januari 2013

Media Bawean, 17 Januari 2013

Oleh: EKLIS DINIKA 
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Hasan Jufri (STAIHA) BAWEAN


Sudah tidak berartikah Al-Qur’an di mata generasi muda penerus bangsa saat ini?

Pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini, hal itu bermula dari ketidak tuntasan belajar siswa dalam mata pelajaran Al-Qur’an 100% siswa dinyatakan tidak tuntas dalam mata pelajaran tersebut. Berbahagialah mereka yang mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren karena di sana mereka menerima kajian-kajian Al-Qur’an secara mendalam sehingga mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Tapi… haruskah kita sebagai pendidik menutup mata melihat kenyataan seperti ini? Tak tergerakkah hati nurani kita untuk membantu menyelamatkan dan menjadikannya generasi Qur’ani generasi Rabbani? Karena tidak semua orang dapat memondokkan putra-putrinya …..B I A Y A itulah salah satu alasan orang tua, atau mungkin B I A Y A ada tapi anaknya tidak kerasan. Untuk itulah kita sebagai umat Islam apalagi seorang pendidik seharusnyalah berjuang sekuat tenaga dilandasi dengan kesabaran dan do’a agar generasi ke depan sesuai dengan harapan dan tetap di jalan Allah SWT.

Lima belas tahun lamanya saya mengabdikan diri di lembaga pendidikan baru tahun 2012 inilah saya merasakan kekecewaan yang begitu mendalam tiada terasa air mata ku jatuh tak terbendung, sudah begitu parahnya dan tak pentingkah Al-Qur’an di matanya atau di mata orang tua? Mengapa saya berkata seperti itu? Karena yang saya lihat Mushalla tempat mengaji setelah mangrib kian hari semakin berkurang di tukar dengan Les mata pelajaran yang harus bayar setiap bulannya…..yang tidak di pungut biaya sepeserpun mereka tinggalkan, bukankah Islam mengajarkan agar kita senantiasa menyeimbangkan antara ilmu agama dan umum?. Subhanallah…..apakah krisis akhlak yang melanda di kalangan pelajar saat ini di sebabkan karena mereka kurang memahami ajaran agama dan makna yang terdapat dalam Al-Qur’an?

MEMPERBUAHKAN BUDI PEKERTI

“ Sesungguhnya, engkau itu di atas akhlak yang utama”. (Al-Qalam:4).

“ Sesungguhnya yang paling utama dari kamu sekalian itu yang paling baik budi pekertinya” (Ibnu Abbas ra).

Dari ayat dan hadist di atas, jelaslah bahwa akhlak atau budi pekerti yang utama itu sangat dipuji oleh Allah, akhlak yang utama itu suatu perkara yang dapat menjunjung hamba Allah kepada tingkat keutamaan dan ketinggian. Dapatkah seorang hamba berakhlakul karimah jika mereka tidak mengenal dan memahami makna atau pun maksud dalam Al-Qur’an? Oleh sebab itu seharusnya semua pendidik mengaitkan atau memasukkan ajaran agama dalam setiap pembelajarannya walaupun itu pengetahuan umum.

Ahmad Syauky Bek berkata:”Sesungguhnya, umat itu tergantung kepada adanya akhlak; bila hilang akhlaknya, hilanglah umat itu.” Sanggupkah kita melihat generasi hilang hanya karena krisis akhlak? Tentu tidak, bukan?

Umat Muslim umumnya dan Pendidik khususnya di tuntut mengetahui cara mengamalkan akhlak sehingga dapat menimbulkan buah, tentang ikhtiar dan bagaimana cara membuahkannya, tergantung atas kebijaksanaan masing-masing. Tetapi di sini perlu kiranya kami beri petunjuk sekedar untuk mencari jalan.

>Akhlak dan budi pekerti itu tidak akan timbul buahnya pada orang yang tidak ada dasar ”Khasyyatallah” ( rasa takut kepada Allah). Hendaklah lebih dahulu rasa takut kepada Allah selalu ditebalkan benar-benar.

>Diikhtiari benar-benar supaya kita dapat memegang teguh, dan menjadi percontohan di dalam segala akhlak.

>Pada waktu menerangkan kepentingan satu-satunya akhlak, hendaklah diberi riwayat yang berhubungan dengan akhlak itu.

Mudah-mudahan petunjuk di atas dapat menambah manfaat serta mendapatkan hasil sesuai dengan yang kita harapkan. Dengan keteguhan, kebijaksanaan, dan kesabaran Insya Allah berangsur-angsur tercapailah keinginan dalam mengantarkan generasi penerus bangsa yang berbudi pekerti mulia.

AKHLAK YANG HARUS DIPAKAI OLEH ORANG MUKMIN

- Takut kepada Allah
“ Hai sekalian manusia! Takutlah kamu semua kepada Allah, sungguh pergoncangannya Hari Kiamat itu suatu perkara yang besar, ialah hari kamu semua melihat di situ orang perempuan yang memberi air susu lupa kepada susuannya; dan perempuan yang mengandung sama melahirkan kandungannya, dan kamu sekalian melihat orang-orang dalam keadaan mabuk, padahal mereka itu tiada mabuk hanyalah siksa Allah jua yang besar” ( al-Hajj: 1-2)

Rasa takut kepada Allah merupakan suatu dinding yang kuat dan kokoh, dapat menahan seseorang mengerjakan perbuatan maksiat. Di samping itu rasa takut kepada Allah dapat meringankan seseorang menjalankan kewajibannya, kewajiban terhadap Allah, masyarakat dan yang lainnya berbahagialah yang dapat mencapainya. Dengan adanya rasa takut kepada Allah apa pun perbuatan yang kita lakukan seakan-akan di minotoring oleh-Nya sehingga dengan sendirinya kita merasa malu untuk melakukan perbuatan yang di larang oleh Allah SWT. Jika hal itu ada dalam hati setiap umat manusia pada umumnya dan kalangan pelajar khususnya, tidak akan ada ceritanya orang yang lebih mementingkan kehidupan duniawi daripada ukhrawi.

Menepati Perjanjian
Dewasa ini banyak kita temui orang-orang yang dengan mudahnya mengucapkan janji, apa mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa itu salah satu hal yang di larang oleh Allah SWT.

“ Hai orang-orang beriman! Tepatilah akan perjanjian” (al-Maidah: 1)

Dari ayat di atas jelaslah bahwa menepati janji itu diperintahkan Allah, perintah yang utama. Tidak menepati janji adalah suatu perkara yang dilarang dalam agama Islam. Bahkan, di dalam hadist disebutkan orang yang tidak menepati janji itu setengah daripada golongan orang munafik. Untuk itu tanamkanlah akhlak ini dalam sanubari kita agar senantiasa menepati apapun bentuk janji yang telah kita ucapkan.

Rasulullah bersabda: “Empat sifat, barangsiapa terdapat padanya empat sifat itu, dialah orang Munafik. Dan barangsiapa terdapat dari padanya salah satu dari empat sifat itu, maka dialah setengah dari orang Munafik, sehingga mau meninggalkannya. Empat sifat itu ialah: 1) apabila berbicara, dia berdusta, 2) jika dia berjanji, tidak menepati, 3) bila telah sanggup, ia khianat, 4) kalau berbantah ia melewati batas (berkeras kepala, tidak mengakui salahnya meskipun salah).” ( HR. Bukhari)

Menepati janji merupakan hal terpenting di dalam kebersamaan terutama dalam persyarikatan/lembaga pendidikan. Persyarikatan/lembaga pendidikan tidak akan berjalan jika pengurus-pengurus, anggota-anggotanya, dan para pendidik (sudah tidak menepati perjanjian, melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah disanggupinya. Putusan-putusan yang vergadering (disahkan dalam rapat) tidak akan dapat terlaksana dengan sempurna, jika tidak ditepati hanya dibiarkan tinggal putusan saja.

- Benar
“Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah kamu sekalian berkata dengan perkataan yang benar; niscaya Allah memperbaiki kelakuanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia beruntung dengan keuntungan yang besar.” (al-Ahzab: 70-71).

Dari ayat di atas tercermin bahwa kebenaran itu menjadi pokok di dalam perbaikan aspek tingkah laku, dan hanya kebenaran yang menyebabkan terbukanya pintu diterimanya taubat kita. Agar perjalanan hidup kita selamat selayaknyalah akhlak ini ditanamkan dalam-dalam dalam setiap orang terutama pengurus, anggota, dan pendidik karena vergadering-vergadering tidak akan menghasilkan putusan yang akurat/baik jika ada salah satu di antara mereka di dalam pembicaraannya tidak berdasarkan kebenaran karena dengan berdasarkan kebenaran itulah martabat kita akan terjunjung.

-  Rahmah dan Mahabbah
Rahmah dan Mahabbah kepada sesama makhluk Allah, teristimewa kepada sesama umat Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah: “ Berbelas kasihlah kamu sekalian kepada semua orang yang ada di atas bumi, tentulah akan dibelas kasihani pula kamu semua oleh Dzat dan semua yang ada di langit.”

Mahabbah atau saling mencintai adalah suatu perkara yang diperintahkan di dalam Islam, selain itu mahabbah menjadi pokok atau factor kebahagian masyarakat. Oleh sebab itu, tanamkanlah sifat mahabbah di kalangan kita agar kebahagian masyarakat dan persatuan kita dapat tercapai, sempurna dan berbuah.

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean