Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » , » Mudik Balik Bersama Kardus

Mudik Balik Bersama Kardus

Posted by Media Bawean on Senin, 28 Juli 2014

Media Bawean, 28 Juli 2014

Kekuatan Dua Arus Tradisi yang Menguras Energi 
Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMA Negeri 1 Sangkapura) 

Membincang soal tradisi mudik dan balik menjelang dan sesudah Lebaran seperti menjadi head line yang mengemuka dalam setiap tahunnya. Kewajiban atau Undang-Undang Permudikan dan Perbalikan yang mengharuskan pulang dari dan kembali ke rantau belum pernah ditemukan asbabun nuzulnya. Sejak kapan pula kemunculan istiah mudik dan balik menjadi sebuah kebiasaan yang memunculkan kekuatan arus yang mobilitasnya bisa melebihi arus di bawah lautan yang dilaluinya sekalipun. Ribuan, bahkan jutaan umat manusia dengan segala ke-“ribetan”-nya pulang untuk melepas atau membuang rasa kangen (reb: Bawean- maelang kerrong) dengan induk semang dan kerabatnya di kampung halaman setelah setahun bahkan bertahun lamanya berpetualang merantau jauh dari keluarga. Mungkin inilah modus utama munculnya tradisi mudik dan balik sebagai sebuah pengungkapan atau penuangan rasa rindu dan kangen pada tanah kelahiran.

Dua istilah kata kunci yang mendulang banyak perhatian publik saat mau dan akan Lebaran adalah kata “mudik” dan kata “balik”. Kedua kata tersebut seperti antonim yang berapatan dalam pemakaiannya. Cukup memadukan dengan kata “arus” di setiap kata tersebut membentuk frasa sebagai jargon utama dalam urusan kesibukan yang banyak menguras energi baik yang dilakukan pihak pemerintah maupun jasa partikelir lainnya. Bila ditilik kembali istilah kata “mudik” dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dapat ditemukan maknanya yakni

1. (berlayar, pergi) ke udik ( hulu sungai, pedalaman), 2. pulang ke kampung halaman. Dari asal kata “udik” dapat ditemukan pula maknanya sebagai nomina yakni sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber), (daerah hulu sungai), desa, dusun, kampung (lawan kota), bahkan sebagai kiasan istilah “udik” bernosi kurang tahu sopan santun, canggung (kaku) tingkah lakunya. Tidak juga faktanya! Malah orang dusun lebih sopan dan santun serta hati-hati dalam bertatakrama walau terkadang sedikit tampak norak performanya di mata orang kota. Dalam berbicara pun dengan sesama warga dusun di tengah kerumunan warga kota suaranya paling lantang di atas 20.000 Hertz frekwensinya. Nyaring-nyaringan suaranya orang dusun. Asli Lho!

Sorot tajam tatapan penulis memfokus pada kesibukan dan barang bawaan yang terlihat secara kasat mata yang kerap kali dibawa para pemudik. Berbagai barang bawaan dengan berbagai variasi kemasan . Koper, tas, keranjang, kresek berlabel mal atau pertokoan tertentu dari kelas paling kere hingga kelas yang mentereng pun disambinya (red: Indonesia-dibawanya). Termasuk kardus bekas dan gres dengan ikatan tali rafiah atau rumput Jepang yang membelenggunya. Ikatan “rambut” Jepang tersebut sampai membentuk serupa jaring net voli bal yang menyelimuti seluruh badan kardus. Hingga kardus tak berkutik sedikit pun. Barang bawaan para pemudik menjadi tampak ringkes karena segala benda atau barang keperluan mudik masuk menyelinap di dalamnya. Mulai dari buku, sepatu, sandal, pakaian yang belum sempat masuk laundry kiloan pun melompat ke dalam kardus karena terburu mudik dikejar waktu. Belum lagi berbagai ragam makanan lebaran, buah, wartel, gubis, kentang, dan seledri persiapan sup tulang santapan lebaran masuk beramai-ramai di dalam kardus. Kardus sarat dengan muatan. Tak terkecuali pemudik yang nakal sengaja disempat-sempatkan memasukkan mercon dan kembang api yang akan diatraksikan di dusunnya sebagai sifat riak atau show of force agar sekeliling tetangga tahu bahwa dirinya merasa pernah menjadi orang kota yang pulang kampung. Tak heran lah!

Pemanfaatan kardus untuk memuat barang bawaan buat mudik dan balik menjadi pilihan yang amat jitu. Dengan menggunakan kardus semua barang bawaan dapat ditata rapi sesuai keinginan. Orang lain pun tidak akan tahu dan tidak perlu tahu apa isi di dalam kardus tersebut. Tradisi mudik balik dengan kemasan kardus menjadi perhatian penulis agar dapatnya pembaca mengenal lebih dekat esensi dari kata kardus itu sendiri. Di dalam kitab berjudul “Kisah Para Nabi” tulisan Ibnu Katsir dengan nama lengkapnya Abu Al Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir Al Qursyi Al Bashrawi Al Damsyiqi memiliki arti tersendiri. Menarik, bahkan penulis sendiri terperngah setelah membaca sebuah keterangan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, beberapa orang sahabat, Sa’id bin Musayyab, dan ulama lainnya mengatakan, “Iblis adalah pemimpin malaikat di langit dunia.” Ibnu Abbas mengemukakan,”Nama Iblis itu adalah Azazil.” Dan sebuah riwayat disebutkan, “Namanya Al Harits, Al Nuqas mengatakan,”Gelar yang dimiliki Iblis itu adalah Abu Kardus.” (Ibnu Katsir: 2008: 25). Jadi, pemudik yang membawa kemasan dalam kardus paling besar tergolong membawa barang dengan bapaknya atau moyangnya kardus.

Arus mudik dan balik benar-benar banyak menyedot tenaga untuk mengatasinya. Moda transportasi baik darat, laut, dan udara hampir kualahan mengatasinya karena membludaknya pemudik dan pebalik terutama mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. Kota menjadi lengan dan sepi katang setelah ditinggal oleh orang-orang udik. Padahal, tanpa mudik pun mereka bisa menjalin komunikasi via kartu lebaran, sms, mms, email, pacebukan, bahkan via 3G-an baik menggunakn HP atau Webcam bisa bersuka ria dengan keluarga nunjauh di mato di kampong sano. Namun, karena tergugah nafsuh untuk segera pulang maka tiada opsi alternatif kecuali balik kampung. Keserentakan kepulangan inilah yang menyebabkan banyak pihak yang tersibukkan sebagai langkah antisipasi melancarkan dua serangan arus mudik dan balik. Berbagai macam jasa transportasi dikerahkan, mulai yang berbayar hingga yang gratis. Pemudik benar-benar dimanjakan. Bahkan, dengan mudik gratis para pemudik dapat menambah pundi-pundi keuangan yang mestinya dirogoh dari kocek pribadinya. Tidaklah mengherankan bila saku baju baru para pemudik saat Lebaran tetap kembung sarat dengan muatan keuangan yang bisa dikeluarkan sebagai “angpau” atau “Duit Raye” buat sanak saudara dan famili di bawah umur.

Latar belakang yang menjadi modus operandi dari kegiatan mudik berdasarkan hasil pantauan penulis adalah cukup beraneka ragam. Mulai jumpa kangen bersama keluarga, reuni, ziara kepada pendahulu sebagai leluhurnya, menghadiri penganten keluarga, foto bareng di tempat-tempat indah dan bersejarah, berdayung sampan, bakar ikan segar, sate-satean, bahkan ada juga yang niatnya buang uang receh setelah menjadi orang sukses di rantau. Tentu, mereka tidak ingin meniru atau menjadi “Malin Kundang” yang berpuluh tahun merantau menjadi kaya raya tidak mengakui keberadaan ibunya. Mereka atau para pemudik tidak mau dikutuk menjadi batu sebagai anak durhaka. Momen Lebaran inilah saat yang paling indah dan dinantikan untuk menyucikan hati dengan bermaaf-maafan untuk mengembalikan status warna hati yang putih “ngecling” laksana bayi pertama yang terlahir ke dunia. Penyempuhan hati ini juga butuh energi kebaikan sebagai tangga perbuatan yang pernah dititih selama masa bulan Suci Ramadan.

Bagaimana dengan kekuatan arus balik? Para pebalik juga diburu waktu untuk kembali beraktivitas di tempat kerja dan studinya di perkotaan. Janji-janji dengan teman kerja, teman sejawat, teman sekampus, teman sepondok, bahkan tetangga kos yakni oleh-oleh dari daerah sebagai makanan khas juga menjadi iming-iming untuk diolehkan setelah balik. Termasuk tanaman unik yang tiada duanya di Nusantara adalah oleh-oleh berupa kayu sentegi yang dianggap berbau klenik pun dijanjikan ke orang kota. Untuk membawa barang bawaan saat balik terkadang masih menggunakan kardus yang sama atau menggantinya dengan yang lebih besar. Energi yang dikerahkan menjadi turut berlebih menyesuaikan dengan netto isi di dalamnya. Biasanya barang yang dilompet (dimasukkan paksa.Red) berbagai jenis mulai dari pisang raja, pisang elang, pisang molen, dan pisang-pisang lain sebagai buah andalan ke daerahan. Pisang daerah beda dengan pisang kota yang bergelantungan lunglai akibat pengkarbitan. Pisang-pisang warga udik benar-benar masak segar secara alami. Termasuk makanan khas daerah seperti; koncok-koncok, posot-posot, kerupuk pettola khas Tambak, bahkan sisa makanan toplesan yang belum berluang pun diterjun-bebaskan ke dalam kardus. Tiada yang tersisa sedikitpun semuanya harus tumpas habis dibawa kembali ke rantau. Sebagai wujud kepedulian kepada para pebalik mohon waspada dan hati-hati demi keselamatan sampai tujuan. Ingat, barang bawaan diceklis terlebih dahulu sebelum dibawa kembali ke rantau. Termasuk waspada dengan tangan setan para pencopet dan penggendam durjana selama di perjalanan. Lebaran sebagai wujud kebahagian jangan samapai bertukar menjadi kesedihan akibat kelalaian. Tinggalkan dan lupakan Abu Kardus untuk selamanya.

Sebagai penulis setia di EmBe selayaknya saat lebaran ini menjulurkan tangan dengan telapak putih sebagai lambang harapan dan permohonan maaf dalam merayakan kemenangan sejati dalam berjibaku melawan hawa nafsu yakni tulus menguntai “Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin” Termasuk bos dan awak EmBe menguntaikan dengan tulus pula hal yang sama. Allahu Akbar wa Lillahilhamd.

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean