Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANAK. Tampilkan semua postingan

Anak-anak Minta Tersedianya Fasilitas Bermain dan Belajar


Rekomendasi dalam forum anak kabupaten Gresik di kantor Bupati diantaranya tersedia tempat bermain dan belajar yang layak anak disetiap kecamatan, terutama di kecamatan Tambak Pulau Bawean.

Wakil Bupati Gresik Mohammad Qosim merespon positif rekomendasi ini. Dia bersedia untuk menyediakan fasilitas bermain dan belajar yang layak anak. "Sesuai rekomendasi, bupati dan wakil bupati Gresik akan membuat perencanaan kedepan sesuai harapan anak di kabupaten Gresik,"katanya.

Lebih lanjut Wabup Gresik membeberkan keberhasilan pembangunan pemerintah, diantaranya pembangunan wahana ekspresi pusponegoro (WEB) sebagai sarana untuk berekspresi dan stadion joko samudro untuk pengembangan bakat olahraga di kabupaten Gresik.

dr. Adi Yumanto kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan mengatakan forum anak dihadiri perwakilan kecamatan Sangkapura dan kecamatan Tambak, harapannya mensejajarkan anak di Pulau Bawean dengan di daratan Gresik.

Camat Tambak Narto menyatakan bersedia memenuhi rekomendasi forum anak. "Nantinya akan koordinasi bersama instansi terkait adanya tempat bermain dan belajar yang layak untuk anak,"paparnya.

Adapun sumbangsih bermain untuk anak, sudah pernah diberikan fasilitas permainan edukatif kepada sekolah PAUD di kecamatan Tambak. (bst)

Jamaliyah Mengeluh Soal Listrik Sering Padam


Jamaliyah berkesempatan menulis surat dan membacakan dihadapan wakil bupati Gresik Moch Qosim.

Siswa kelas V SDN 2 Kepuhlegundi Tambak ini sebelumnya pemenang lomba mengirim surat kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastutik.

Jamaliyah mengawali suratnya dengan mengucapkan terima kasih kepada Qosim. Karena telah dibantu sehingga bisa ke kementerian kelautan dan perikanan di Jakarta.

Didalam suratnya juga disebutkan bahwa kesulitan menikmati listrik. Sehingga terganggu dalam belajar.

“Semoga Wakil Bupati Gresik bisa membantu untuk menerangi listrik di kampung agar bisa belajar tanpa ada ganguan,”harapnya.(bst)

Deklarasi Anak Sangkapura Anti Narkoba







Komunitas Anak Sangkapura (KAS) menggelar deklarasi anti narkoba, bertempat di Pendopo Kecamatan Sangkapura, sabtu (23/4). Hadir Camat Sangkapura Abdul Adim, Kapolsek Sangkapura AKP Arif Rasyidi, dan dr. Tony S. Hartanto kepala UPT Puskesmas Sangkapura dan ratusan siswa perwakilan sekolah SMP, MTs, SMA dan MA.

Abdul Adim Camat Sangkapura mengajak kepada siswa untuk menjauhi narkoba. "Mari kita dukung Pulau Bawean zero narkoba,"katanya.

Melalui deklarasi anti narkoba, camat mengharap seluruh warganya mengantisipasi peredaran narkoba, termasuk menjauhi jangan pernah mencobanya.

Adanya deklarasi yang dipelopori oleh anak merupakan bukti cikal bakal generasi penerus bangsa yang membanggakan. "Sebagai Camat Sangkapura mengapresiasi adanya deklarasi anti narkoba,"paparnya.

AKP. Arif Rasyidi Kapolsek Sangkapura menyatakan deklarasi anti narkoba merupakan momentum paling berharga. Apalagi menurutnya anak sebagai pelopor dalam deklarasi, termasuk luar biasa keperdulian anak di Pulau Bawean.

Lebih lanjut Kapolsek Sangkapura mengharap dukungan seluruh pihak, termasuk anak. "Bila mengetahui ataupun melihatnya adanya peredaran narkoba silahkan dilaporkan,"tegasnya.

Kapolsek Sangkapura membeberkan beberapa kasus peredaran narkoba di Pulau Bawean. Adapun tersangka yang ditangkap sudah dikenakan vonis masuk penjara.

Dr. Tony S. Hartanto kepala UPT Puskesmas Sangkapura menjelaskan secara tinjaun medis dampak penggunaan narkoba, termasuk oplosan komik.

Menurutnya komik sebagai obat batuk yang legal diperjual belikan, tapi mengkonsumsi sudah diatur sesuai dosis pemakaian. "Jika menggunakan sampai 10 atau 30 sechet itu sudah diluar ketentuan, sehingga membuat pemakainya akan mabuk,"jelasnya.

dr. Tony mengajak kepada seluruh anak untuk menjauhi narkoba dikarenakan dampaknya akan merugikan kepada diri pemakainya.

Dalam deklarasi dibacakan ikrar bersama sebagai berikut : menolak lahirnya narkoba di bumi pertiwi, menjauhi dan mencegah peredaran narkoba, mendukung pemerintah memberantas narkoba, menjadikan Bawean zero narkoba, dan menegakkan hukum demi terwujudnya nusantara anti narkoba.

Setelah pembacaan ikrar selesai, dilanjutkan penandatanganan deklarasi komunitas anak Sangkapura anti narkoba. (bst)

Ketika Anak TK Merias Wajah Teman




Memperingati Hari Kartini dan Hari Anak Nasional lembaga pendidikan taman kanak- kanak gugus II menggelar sejumlah kegiatan. Peringatan ini dipusatkan Lapangan Putra Jaya desa Lebak Sangkapura, diantaranya dengan lomba rias, melukis dan menyanyi.

Ditempat itu pula digelar perkemahan. “Setiap tahun selalu bergantian tempat penyelenggaraannya tujuannya untuk memperkokoh antara sesama lembaga,” kata Hi. Fatimah Hanafi ketua Gugus II Taman Kanak-kanak.

Melalui banyak perlombaan, Fatimah mengharap bisa mengukur prestasi dan kemampuan siswa yang telah didiknya.

Adapun esensi dari kegiatan, memperingati Hari Kartini bertujuan menanamkan rasa cinta kepada pejuang perempuan di NKRI. “Serta menanamkan nilai perjuangannya agar bisa tumbuh Kartini baru di Pulau Bawean,” ujarnya.

Memperingati hari anak, juga merayakan adanya momentum hari berbahagia kepada seluruh anak di Pulau Bawean. (bst)

Pencak Yes, Narkoba No

Media Bawean, 5 Oktober 2015



Pesatnya pertumbuhan gadget dilangan anak muda mengancam keberadaan tradisi kebudayaan yang ada. Salah satunya, pencak silat Bawean yang kini mulai dijauhi generasi muda. Menghindari kepunahan tradisi ini, beberapa pemuda berinisiatif melakukan kegiatan road show dibeberapa tempat.

Hasilnya, pada Forum Anak se-Kabupaten Gresik bertempat di Kantor Bupati telah dipertontonkan antraksi pencak silat Bawean. “Setelah itu, saya menerima ucapan selamat, termasuk mendapat apresiasi dari Kepala Badan KBPP Kabupaten Gresik dr Adi Yumanto,” akunya Ketua Komunitas Anak Sangkapura Harun Arrasyid

Menurut dia, ini bermulada dari keprihatinannya terhadap generasi muda yang lebih memilih budaya asing. Sehingga, tradisi asli Bawean tidak lagi dimintai. “Pencak merupakan budaya turun temurun yang harus dipelajari untuk dipertahankan. Agar nantinya warisan dari nenek moyang tetap eksis di Pulau Bawean,” katanya.

Menurutnya pencak silat Bawean memberikan banyak manfaat sangat besar, selain bisa meneruskan budaya leluhur juga benteng diri ketika kita menghadapi sesuatu hal tidak diinginkan. “Dulu konon menurut ceritanya, anak muda diwajibkan belajar pencak silat sebelum merantau ke luar negeri, sebagai bekal selama ada di rantau,”paparnya.

Harun Arrasyid sendiri mengaku belajar pencak silat Bawean kepada pendekar asal Balikbak, bernama Jamal. “Setiap minggu, beliau mengajari pencak silat Bawean melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,”ujarnya.(bst)

Obsesi Besar Anak Bawean, Menjadi Pemain Sepak Bola

Media Bawean, 27 Desember 2014

Keunikan Mentalitas Juara Berawal dari Keapa-adaannya
Oleh : Ahmad Syauqi (Siswa SDN Kotakusuma-Sangkapura)

Mungkin saja adagium “Tak ada rotan akar pun jadi” bisa bersalin menjadi tak ada lapangan, sawah pun jadi. Hal ini sebagai pelecut bagi obsesi atau angan-angan yang kerap kali mengganggu pikiran seorang anak untuk menjadi pemain sepak bola ternama. Kebiasaan itu dilakoni oleh anak-anak di bawah umur di Desa Lebak Kecamatan Sangkapura-Gresik dengan memanfaatkan tegal atau sepetak tanah persawahan yang “nganggur” tidak permanen disulap menjadi lapangan sepak bola kecil-kecilan. Sawah tadah hujan tersebut dijadikan stadion mini untuk bersepak bola ria yang penuh dengan keeksotikan. Dengan semangat tanpa beban sedikitpun mereka mencoba membangun sebuah kebaruan dalam permainan sepak bola versi mereka yang tiada duanya di hamparan muka bumi ini. Tidak perduli Menteri Pertanian hendak menggenjot produktivitas swasembada padi sedang Menpora hendak meningkatkan sportivitas persepak bolaan tanah air. Tetap sarapan bola jadi idolanya anak-anak desa. 



Sekolak (ukuran luas tanah persawahan ala Bawean) yang sudah lama menunggu kehadiran musim hujan dijadikan arena bermain sepak bola oleh anak-anak. Mereka bermain dengan semangat untuk juara sebagai impian meraih angan demi cita-cita besarnya menjadi pemain sepak bola kelas nasional bahkan sampai kelas dunia sekalipun. Mereka ingin menjadi pesepak bola seperti Ruth Gullit (Si punya langkah terpanjang dengan rambut gimbalnya tanpa kutu dan ketombe ), Pele (Si gesit dan lincah), Maradona (si pemiliki tangan setan), David Beckham (pemilik rambut berkilau), Cristiano Ronaldo, Leonal Messy dan sebagainya. Tidak perduli dengan kondisi lapangan yang retak-retak akibat kemarau panjang hingga menjadi kolam sawah di saat musim hujan tiba. Tanah sawah yang penuh dengan kotoran hewan ternak tetangga sekitar turut mengambang dalam luapan air hujan bukan menjadi kendala baginya. Mereka berani dengan kotor demi satu impian yang menghantui pikiran besarnya untuk menjadi sang juara sepak bola.

Permainan sepak bola di kolam sawah ini menjadi tren baru bagi anak-anak yang tinggal di kawasan persawahan. Beda dengan anak-anak di perkotaan yang bermain sepak bola di cela-cela gang sempit sambil menunggu lalu lalang kendaraan lewat. Itu pun anak-anak di perkotaan selalu melakukan permainan sepak bola di tengah larut malam atau dini hari sebelum manusia kota bangun dan bergegas dari kesibukannya masing-masing. Bagi anak-anak desa bermain sepak bola di sawah atau tegal menjadi langganannya pada waktu sawah belum digarap oleh yang empunya. Warga pemilik sawah tidak keberatan dengan sawah sebagai lahan bercocok tanamnya digunakan untuk lapangan sepak bola yang bersifat serta merta dan kondisional itu hingga menunggu masa bercocok tanam tiba.

Lumrahnya, sepak bola adalah kesebelasan dengan segala aturan dan ketentuan. Beda dengan aturan dan ketentuan permainan sepak bola anak-anak yang diterapkan di Desa Lebak Sangkapura. Kadang bisa menjadi ketigaan, keempatan, kelimaan, keenaman, pol maksimal ketujuhan karena faktor ukuran lapangan yang kurang representatif untuk ideal kesebelasan. Paguyuban sepak bola anak-anak ini pun terjalin secara musiman karena anak-anak banyak permainan dan kesenangan lainnya yang harus digeluti setiap hari bergantung selera musimnya saja. Lewat naluri kebersamaan dalam permainan meraka bertemu di areal yang biasanya menjadi tempat mangkalnya.

Mereka tidak mau obsesinya terganggu hanya karena keadaan atau lapangan sepak bola yang tak punya. Semangat untuk menjadi pemain sepak bola sungguh luar biasa. Mereka bisa bermain tanpa club permanen, tanpa wasit, tanpa garis-garis pembatas, tanpa seragam yang sama karena prinsipnya sesuai bunyi sponsor “Bersama tidak harus sama”, bahkan tanpa sepatu. Durasi permainan tidak dibatasi oleh waktu. Gawang yang terkadang tidak perlu tegak lurus. Pandangan mereka terhadap air berbeda-beda. Orang mengalami paranoid tatkala air mengebah menjadi banjir. Walau kehadiran sporter hanya seorang penonton tidak menurunkan tensi semangat berjibaku. Menendang bola di atas air keruh menjadi keliburannya atau kesenangannya. Bahkan air coklat susu itu menyimbur seluruh mukanya pun tak diperdulikan amat. Seperti pepatah “ Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri” menjadi “Menendang bola di air tersimbur muka lawan”.

Ricuh pun tak pernah terjadi walau tanpa kehadiran Sang pengadil. Mereka ingin memberi tegoran halus agar persepakbolaan di Indonesia dimulai dari keapa-adaannya saja, tanpa tendensi lain selain olahraga. Wahai teman-teman seusiaku tetap semangat dan berjuang dalam sepak bola untuk menang bukan untuk menghadang. Lanjutkan permainanmu hingga musim hujan belalu tanpa harus menggatung sepatu. Ole…ole…ole…Buat anak muda penerus bangsa katakan “Sepak bola yes, narkoba dan ganja termasuk dopping No!”.

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean