Media Bawean, 3 Februari 2009
Aktivitas Warga Di Dermaga Bawean Sore Hari
Banyak Kapal Berlindung Di Pulau Bawean
Media Bawean, 10 Januari 2009
Pantai Bawean Masih Kotor
Kondisi pantai indah di Pulau Bawean masih kotor, dengan banyaknya sampah yang mengenangi pantai. Pandangan mata merasa kurang sedap memandangnya, dengan situasi pemandangan yang ada.
Seperti kawasan pantai Bom desa Sawah Mulya Sangkapura masih banyak sampah yang berserakan diarea sekitar pantai. Seandainya bisa dibersihkan, tentunya akan menarik untuk dipromosikan sebagai pantai wisata bahari. (bst)
Bawean, Little Island With Thousands Beauty
Media Bawean, 9 September 2008
Laporan Tim Penyelam Matihala Unpar Bandung
“Man cannot discover new ocean unless he has a lose sight of the shore”
Kerusakan Pantai BaweanSetelah melakukan penyelaman, eksplorasi darat, dilengkapi dengan berbagai pendataan, baik mengenai terumbu karang, maupun potensi wisata, Tim Ekspedisi Selam yang terdiri dari Ragil, Reza, Fenny, dan Fiona mendapat kesimpulan bahwa Bawean layak menjadi salah satu tujuan pariwisata Indonesia. Selain memiliki potensi pariwisata darat yang indah dan bervariasi, kehidupan bawah laut di Bawean juga cukup memukau, terutama di sebelah timur pulau. Tim berhasil mendapatkan 8 spot baru penyelaman, serta melakukan pendataan terumbu karang di 4 spot. Namun, dari 8 spot yang telah dieksplorasi, tim merekomendasikan 2 spot terbaik untuk nantinya menjadi tujuan wisata penyelaman.
Kedua spot tersebut adalah di perairan Pulau Gili Timur dan perairan Pamona. Di kedua spot ini, kondisi terumbu karang tergolong rapat, bervariasi, dan berwarna-warni. Aneka soft coral dan hard coral cukup memanjakan mata. Terdapat berbagai spons, coral foliose, dan gorgonian berukuran besar. Berbagai table coral besar dan kima aneka warna juga menghiasi kedua spot ini. Tim juga membuktikan keberadaan table coral raksasa berbentuk payung di perairan Pamona.
Selain keberadaan terumbu karang yang bervariasi, di kedua spot tersebut juga terdapat berbagai fauna laut yang beraneka ragam. Berbagai spesies Butterfly Fish, Angel Fish, Batfish, Sweetlips, Grouper, Parrot Fish, Moray Eel, Star Fish, dan Snapper dapat ditemukan di perairan kedua spot ini dan perairan Pulau Bawean pada umumnya. Bahkan tim sempat berjumpa dengan Napoleon Fish berukuran sangat besar di perairan Pamona, pada kedalaman kira-kira 14 meter yang tergolong dangkal. Di perairan Gili Timur, terdapat berbagai jenis ikan karang dan ikan hias yang tergolong besar. Untuk mendapatkan pemandangan indah tersebut, kita harus turun sampai dengan kedalaman 18 meter yang sudah merupakan wall atau tebing laut.
Salah satu keistimewaan perairan Pulau Bawean yang sempat kami abadikan adalah spesies mawar laut, yang persebarannya cukup banyak, terutama di perairan Tanjung Cina dan Gili Timur. Sama seperti mawar pada umumnya, mawar laut ini berwarna merah dan merah muda, hanya saja tumbuh di batu karang. Mawar laut merupakan salah satu spesies langka, memiliki kelopak sangat halus dan rapuh, sehingga harus dijaga kelestariannya. Sebenarnya masih banyak keistimewaan yang tidak dapat disebutkan satu persatu, karena seseorang baru akan dapat merasakan keindahan alam bawah laut apabila ia benar-benar sudah berada di dalam dinginnya air laut, di tengah flora dan fauna laut yang beraneka ragam itu.
Keindahan perairan timur Pulau Bawean sayangnya belum diimbangi oleh perairan sebelah barat pulau. Sebagian perairan sebelah barat seperti Tanjung Cina, Pulau Gili Barat, Teluk Bangsal dan Tanjung Gaang justru sudah mengalami kerusakan terumbu karang yang cukup parah. Banyak terumbu karang yang sudah hancur dan kehilangan warnanya akibat terkena jangkar nelayan dan racun potas (portas) untuk menangkap ikan. Penangkapan teripang dengan menggunakan linggis juga menjadi salah satu faktor rusaknya terumbu karang. Akibatnya fauna laut yang ada juga berjumlah sedikit, karena terumbu karang yang sehat merupakan rumah bagi para satwa laut. Nampaknya kesadaran untuk menjaga kelestarian terumbu karang di Bawean masih sangat rendah dan perlu ditingkatkan. Terumbu karang merupakan penahan ombak yang melindungi pantai. Jika terumbu karang habis, maka abrasi pantai tidak akan lagi dapat dihindarkan. Ada baiknya penyuluhan diberikan kepada para nelayan agar menerapkan metode penangkapan ikan yang tidak menimbulkan kerusakan terumbu karang. Alat pancing tradisional, bubu, dan jaring tentu saja masih dapat digunakan, selama para nelayan memiliki kesadaran untuk tidak menggunakan bom dan racun potas. Dalam melempar jangkar juga masih perlu diperhatikan agar tidak merusak terumbu karang yang masih sehat.
Sampai saat ini tim sedang dalam proses pembuatan laporan. Nantinya laporan yang telah selesai akan dikirim ke Bawean agar pemerintah setempat dapat mengetahui kondisi perairannya, dan melakukan langkah-langkah untuk melestarikan dan memperbaiki kondisi terumbu karang yang telah rusak. Rehabilitasi terumbu karang dengan penanaman terumbu karang buatan seperti yang sudah dilaksanakan di Kepulaun Seribu dapat menjadi jalan keluar yang baik untuk memecahkan masalah ini. Tim juga sedang mencari metode terbaik untuk melakukan transplantasi terumbu karang yang mudah-mudahan dapat segera dilaksanakan di Bawean. (Fiona)
Penyelaman Matihala UNPAR Di Pulau Bawean
Stiker Untuk Media Bawean
Tim penyelam Matihala dari UNPAR Bandung kemarin (18/8) tiba di Pelabuhan Gresik, setelah melakukan aktivitas penyelaman selama 12 hari di Pulau Bawean. Jumlah penyelam terdiri 6 orang, yaitu 2 senior dan 4 penyelam lainnya.
Menurut Viona mengatakan, "Selama di Pulau Bawean tim penyelam Matihala dapat sambutan dan respon yang positif dari warga Bawean. Banyak warga yang minta agar kondisi lautnya diteliti untuk mengetahui kerusakan laut yang ada," ujarnya.
"Kondisi laut Pulau Bawean yang rusak parah terletak disebelah barat, sedangkan untuk sebelah timurnya masih lebih baik," kata Viona.
Tim Matihala memberikan stiker kenang-kenangan kepada Media Bawean, saat disambut kedatangannya di Pelabuhan Gresik. Dalam waktu 1 minggu Tim Matihala akan memberikan berita lengkapnya kepada Media Bawean tentang perjalanannya selama di Pulau Bawean.
Sedangkan respon Kepala Pariwisata Pulau Bawean, Efendy kepada Media Bawean mengatakan, "Kedatangan tim penyelam dari Matihala UNPAR Bandung merupakan promosi Bawean menuju pulau wisata. Mereka juga banyak membeli souvenir khusus, seperti anyaman tikar dari Pulau Bawean," katanya.
Angin Kencang Dan Badai Besar Menerjang Bawean
Angin kencang dan badai besar menerjang hampir diseluruh pulau Bawean. Banyak pohon tumbang disetiap sudut tempat yang dikenal dengan sebutan Pulau Putri. Menurut H. Rahem warga Sungaiteluk, "Angin di Pulau Bawean sangat kencang sekali, sudah 3 hari yang lalu," katanya.
Banyak nelayan menghentikan aktivitasnya melaut, mengingat cuaca tidak bersahabat. Nelayan memilih berhenti sementara, daripada menangung resiko atas keselamatannya saat melaut.
Sedangkan tim penyelam dari Matihala yang berada di Pulau Bawean, juga kesulitan untuk melakukan penyelaman, mengingat kondisi angin sangat kencang. (bst)
Tim Penyelam Mahitala Menuju Bawean
Rencana penyelaman di laut Bawean oleh Tim Penyelam dari Matihala Unpar Bandung, hari Ini (6/8) berangkat dari pelabuhan Gresik menuju Pulau Bawean dengan naik kapal Ekpress Bahari 8B. Tim penyelam terdiri dari 6 orang, yaitu 3 putra dan 3 putri.
Sebelum naik kapal sempat terjadi kesulitan terhadap tabung oksigen yang dibawa sebanyak 15 biji sebagai alat persiapan untuk penyelaman. Akhirnya diputuskan untuk tabung dibawa oleh perahu, sedangkan personil penyelamnya naik Kapal. Perahu pengangkut tabung oksigen tersebut direncanakan sampai di Pulau Bawean besok pagi jam 06.00 WIB pagi.
Penyelam Matihala dari Bandung sampai di pelabuhan Bawean Jam 12.00 WIB dan disambut oleh Dinas Pariwisata di Pulau Bawean. Rencana penyelaman akan dilakukan selama 13 hari mengelilingi pulau Bawean.
Sedangkan kondisi penumpang di pelabuhan Gresik, untuk pelayaran hari rabu (6/8) banyak penumpang yang tidak mendapatkan tiket untuk ke Bawean. Padahal kapasitas kapal untuk sekarang sudah ditambah, tapi tetap lonjakan penumpang masih banyak. (bst)
Tim Penyelam Dari Mahitala Tiba Di Gresik
Media Bawean, 5 Agustus 2008
Tim penyelam dari Mahitala Bandung sudah tiba di Gresik, sejak kemarin (4/8). Para penyelam siap untuk mengarungi seluruh lautan di Pulau Bawean untuk melakukan penelitian terhadap lingkungan lautnya.
Media Bawean bertemu di Warung Makan Pak Ellan II Gresik, Viona salah satu team menjelaskan "penyelaman ini dimulai dari kawasan desa barat Sangkapura, sedangkan untuk kawasan timur akan dilakukan setelah selesai di barat," ujarnya.
Setelah beberapa team menanyakan tentang obyek wisata Bawean yang bisa didatangi, Media Bawean menjelaskan, "Bahwa obyek wisata di Pulau Bawean sangat banyak, bisa dikatakan bersaing dengan Pulau Bali. Tapi karena tidak ada pengembangan serius dan perawatan optimal oleh pihak pariwisata, maka obyek tersebut banyak yang rusak. Seperti di Pasir Putih dan Pantai Mayangkara di desa Kepuh Teluk," jelas Media Bawean.
Media Bawean sempat meminta kepada team penyelam, untuk mendeteksi adanya karang hidup di kawasan Pulau Gili sesuai info yang didapat selama di Pulau Bawean kemarin.
Penyelaman ini dilengkapi izin, diantaranya mengirim surat keberbagai rumah sakit di Gresik, dengan alasan khawatir terjadi emergency. Selama di Pulau Bawean team penyelam akan didampingi oleh pihak Pariwisata Pulau Bawean untuk penyelaman kesetiap lautan sekeliling Pulau Bawean.(bst)
Ekspedisi Selam Pulau Bawean Agustus 2008
Sebagai perkumpulan mahasiswa pecinta alam, MAHITALA senantiasa mempersiapkan anggota-anggotanya agar mampu bermain dengan aman dan nyaman di alam, tentunya dengan metode yang baik dan benar dan mendukung konservasi, tanpa merusak alam sekitar. Oleh karena itu, setelah melalui pendidikan dan pelatihan dasar, MAHITALA menyelenggarakan berbagai program lanjutan, salah satunya adalah Wandering Season atau Musim Pengembaraan.
Dalam Wandering Season, para anggota muda dapat memilih satu dari 6 cabang yang tersedia. Keenam bidang tersebut adalah climbing (panjat tebing), mountaineering (mendaki gunung), white watering / rafting (arung jeram), diving (menyelam), caving (penelusuran gua), dan pengamatan masyarakat tradisional. Dalam program ini, para anggota muda dituntut untuk mampu membuat manajemen perjalanan yang benar-benar mengutamakan keselamatan (safety), dengan lokasi, tujuan dan target, yang keseluruhannya ditetapkan sendiri dengan komitmen yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selama kurang lebih 5 bulan, anggota muda yang mengikuti program ini dipersiapkan secara matang, baik dalam hal fisik, mental, serta materi yang sekiranya diperlukan dalam pelaksanaan ekspedisi. Diharapkan Wandering Season ini dapat menjadi salah satu sarana pendewasaan yang berguna bagi perkembangan diri para anggota muda untuk menjadi pecinta alam yang mengerti betapa besar keagungan Tuhan yang tercermin dalam keindahan alam semesta.
Indonesia adalah sebuah negara yang hampir 70% wilayahnya berupa perairan. Selain itu dunia bawah laut sangat jauh berbeda dengan daratan karena kita tidak mengetahui apa saja yang ada di bawah sana. Sekarang ini bagi mereka yang tertarik dan ingin mengetahui tentang kehidupan bawah laut maka ada olahraga yang menunjang yaitu olahraga selam atau SCUBA diving. SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus) diving adalah jenis kegiatan dan sarana outdoor sport yang menjadi jawaban atas rasa keingintahuan itu.
Dalam Wandering Season tahun 2008 ini terbentuk satu tim yaitu tim selam Pulau Bawean yang terdiri dari 4 orang anggota muda MAHITALA, yaitu Ragil (21), Fenny (20), Fiona (21), dan Reza (20). Tim ini memilih untuk mendalami kegiatan selam, terdorong keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan bawah laut di daerah tujuan selam yang baru.
Tim selam ini memilih Pulau Bawean sebagai tempat tujuan karena dari data yang diperoleh, pesona bawah laut Pulau Bawean sangat menarik namun masih belum tereksplorasi. Belum banyak orang yang mengetahui potensi dan keindahan alam bawah laut Pulau Bawean.
Dalam ekspedisi ini, tim selam Bawean memiliki tujuan mengembangkan olahraga selam sebagai proses pendewasaan, menggali potensi sumber daya alam Pulau Bawean dan perairan sekitarnya, serta menyajikan data dan laporan terbaru bagi Mahitala dan pihak yang membutuhkan. Selain melakukan penyelaman dan pendataan terumbu karang (reef check) di beberapa titik, tim ini juga akan melakukan eksplorasi dan pendataan pulau dan penduduk yang sekiranya akan berguna bagi perkembangan potensi pariwisata Pulau Bawean.
Adapun ekspedisi ini akan dilaksanakan dari tanggal 4 sampai dengan tanggal 19 Agustus 2008 dengan beberapa lokasi tujuan antara lain Pulau Gili, Pulau Noko, Pulau Cina, Danau Katoba, dan lain-lain. Dalam kegiatan ini, diharapkan pemerintah serta masyarakat Pulau Bawean dapat menerima pelaksanaan kegiatan ekspedisi ini dengan tangan terbuka dengan memberikan bantuan dan dukungan yang sangat bermanfaat.
Soal Masker, Laut Kok Dibatasi
Akibat kerusakan laut para perkumpulan nelayan di Pulau Bawean membuat batasan sendiri-sendiri untuk kawasan laut sesuai wilayah desa yang dimiliki.



























