Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label BAWEAN SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAWEAN SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Sunan Bonang Wafat di Pulau Bawean

Media Bawean, 7 Februari 2015

Sunan Bonang wafat karena usia lanjut saat berdakwah di Pulau Bawean, Gresik pada tahun 1525. Beritanya, segera tersebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di pulau tersebut.

Tetapi murid-murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah, mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan oleh orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban.

Lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya. Tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Pulau Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah mungkin karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di Kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air. Wallahualam bissawab 

Sumber : SINDO

Sumber : kisah islami, Wikipedia, dan diolah dari berbagai sumber.

2 Meriam Peninggalan Sejarah Bawean
Dipindahkan Tempat Ke Pulau Jawa

Media Bawean, 12 September 2014

Pemberangkatan KMP. Gili Iyang dari Pulau Bawean tujuan Gresik (jum'at, 12/9/2014) sempat molor disebabkan adanya 2 benda bersejarah yaitu meriam akan diangkut ke Pulau Jawa.

2 buah meriam tanpa dilengkapi surat jalan sempat jadi perhatian seluruh penumpang, membuat petugas sibuk melakuan koordinasi antar instansi untuk memberangkatkan kapal.

Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata 2 buah meriam kuno asal Pulau Bawean dibawah oleh anggota Koramil kecamatan Tambak. Akhirnya setelah melalui proses yang alot petugas melepaskan pemberangkatkan kapal dan 2 meriam terangkut ke Gresik.

Komandan Koramil Tambak, Kapten Infrantri Joko Sarjito dihubungi Media Bawean membenarkan 2 meriam yang dibawah olen anggotanya akan dipindahkan dari Pulau Bawean ke Pulau Jawa.

Alasannya 2 meriam itu akan dipajang di depan kantor Koramil Manyar Gresik. "Surat permohonan ada dari Koramil Manyar, termasuk surat yang diterima kepala desa,"katanya.

2 meriam kuno diambil dari desa Diponggo, itupun menurutnya sudah dapat persetujuan dari yang memilikinya melalui proses musyawarah. 

Lebih lanjut menjelaskan bahwa 2 meriam peninggalan bersejarah di Pulau Bawean ternyata tidak mendapatkan perawatan dari pemiliknya sehingga diserahkan untuk dibuat pajangan di Kantor Koramil Manyar.

Kenapa tidak ada surat jalan? "Memang tidak ada surat jalan untuk membawa 2 meriam, hanya ada permintaan resmi secara kedinasan,"jawabnya.

Ditanya apakan sudah koordinasi dengan Camat Tambak, Kapten Infrantri Joko Sarjito menyatakan sudah koordinasi kok, hasilnya disetujui untuk dipindah tempat ke Pulau Jawa. "Jika camat Tambak menyatakan tidak tahu, berarti camat lupa,"tuturnya.

Sugeng Gatot Subroto, Camat Tambak menyatakan tidak tahu menahu soal 2 meriam peninggalan sejarah yang dipindahtempatkan dari Pulau Bawean ke Pulau Jawa.

Camat sangat menyesalkan adanya pemindahan peninggalan bersejarah yang seharusnya tetap berada ditempat asalnya. "Saya sempat menyuruh kepada petugas agar 2 meriam itu ditahan sebab tidak ada surat jalan,"terangnya.

"Seandainya dibuat pajangan di Pulau Bawean masih bisa dimaklumi, tapi 2 meriam itu dipindah ke Pulau Jawa, tentunya menghilangkan benda bersejarah di Pulau Bawean,"pungkasnya dengan nada sangat kesal. (bst)

Situs Batu Kasur Bawean
Tempat Pelantikan Wali?

Media Bawean, 22 Agustus 2011


Sejak bebarapa bulan yang lalu, warga Pulau Bawean dikabarkan dengan ditemukannya batu bagus nan indah yang letaknya di Gunung Menara, desa Gunungteguh Sangkapura, Pulau Bawean.

Nasichun Amin sebagai Kepala KUA kecamatan Sangkapura, kepada Media Bawean menyatakan sudah mendatangi situs batu kasur yang diduga sebagai tempat pelantikan para wali.

Menurutnya, informasi yang diterima dari orang yang menghantarkan ke batu kasur, memang dinyatakan sebagai tempat pelantikan para wali. Untuk informasi lengkapnya silahkan menghubungi Maskur (Ketua BAZ kecamatan Sangkapura) yang menghantarkan kesana. 

Hasbullah dihubungi Media Bawean menyatakan tidak tahu, setelah ditanyakan apa betul batu kasur sebagai tempat pelantikan para wali?

Baharuddin mengatakan, saya bukan ahli sejarah ataupun ahli arkeolog sehingga tidak bisa menjelaskan. "Tetapi penulisan sejarah harus berdasarkan data emperis yang bisa dipertanggungjawabkan. Tidak bisa hanya berdasarkan dogeng atau mimpi,"jelasnya. (bst)

Beda Versi Tentang
Maulana Umar Mas'ud

Media Bawean, 10 Agustus 2011


Terjadi silang pendapat tentang masuknya Syech Maulana Umar Mas'ud ke Pulau Bawean, R. Hozaimi ditemui Media Bawean di rumahnya (selasa, 9/8/2011) menunjukkan bukti-bukti sejarah, termasuk tulisan   Raden Abdul Mukmin  tahun 1326 H. bertuliskan arab berbahasa melayu.

Didalam tulisan Raden Abdul Mukmin, menceritakan secara lengkap asal masuknya Syech Maulana Umar Mas'ud ke Pulau Bawean, termasuk keturunannya. 

Masuknya Syech Maulana Umar Mas'ud ke Pulau Bawean melalui Arosbaya Madura, sebelumnya dari Palembang. Ada versi lainnya, menyebutkan Syech Maulana Umar Mas'ud masuknya ke Pulau Bawean melalui Sidayu Lawas.

Sampai di Pulau Bawean tahun 1501 M., sedangkan versi lain menyebutkan tahun 1601 M. dan tulisan Jacob Vredenbregt dalam bukunya Bawean dan Islam tertulis tahun 1511 M.

Sedangkan nama yaitu Syech Maulana Umar Mas'ud dan Pangeran Malaulana Siddiq, tetapi menurut Raden Ismail sudah bisa diterima untuk nama. "Jadi persoalannya, yaitu asal masuknya ke Pulau Bawean dan tahun masuknya di Pulau Bawean. (bst)

Koleksi Barang Bersejarah
Di Pulau Bawean

Media Bawean, 10 Agustus 2011


Pulau Bawean memiliki banyak peninggalan bersejarah, salah satunya koleksi benda-benda peninggalan lama yang tetap tersimpan dibeberapa tempat sampai sekarang. Salah satunya, Media Bawean (selasa, 9 Agustus 2011) melihat secara langsung beberapa benda peninggalan bersejarah di rumah R. Hozaimi Bersaudara.

R. Hozaimi yang didampingi R. Ismail menjelaskan satu persatu nama benda yang terkoleksi di rumahnya. Menurut R. Hozaimi, untuk keasliannya tidak diragukan lagi, sebab melalui uji keaslian sudah dilakukan di Yogyakarta.

"Ini benda murni peninggalan bersejarah, bukan tiruan atau rekayasa, ataupun bukan hasil bertapa,"katanya.

Ada 8 benda, yaitu keris nogososro jenis laki-laki, keris nogososro jenis perempuan, keris jambia, keris gajah, badik, lubuk, benda kuningan, dan tombak. (bst)   

Jujuk Campa,
Putri Raja Yang Shalehah

Media Bawean, 19 April 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh Fitri, Fatma dan Arifah


Bawean penuh dengan cerita menarik. Ini bisa dimaklumi sebab Bawean adalah Pulau Persinggahan. Banyak saudagar yang mampir ke pulau ini untuk beberapa keperluan. Diantara legenda tersebut adalah kisahnya Jujuk Campa.

Raja Campa adalah pemeluk agama islam yang kuat. Beliau mempunyai beberapa orang putri yang sangat cantik. Dan putri putri itu amat teguh mengamalkan ajaran agama islam. Salah satu putri Campa menikah dengan saudagar Arab. Perkawinan tersebut melahirkan Raden Rahmat yang kelak dikenal dengan sunan Ampel. Sejak kecil Raden Rahmat dikenal super cerdas dan mempunyai otak yang berlian. Walau sebagai keluarga kerajaan ia amat akrab dengan teman sepermainannya. Barkat didikan kedua orang tuanya dan kakeknya raja Campa Raden Rahmat semakin bijaksana dan luas pengetahuannya terutama tentang agama. Nama asli jujuk Campa adalah Sayyid Rafi’uddin, tetapi orang orang menyebutnya raja Campa karena beliau barasal dari kerajaan Campa, sekarang Kamboja. Raja Campa mempunyai dua orang cucu yang kelak kedua cucunya tersebut menjadi orang orang yang berpengaruh dalam penyiaran agama islam khususnya di Pulau Jawa. Mereka itu adalah Raden Patah. Pada usia 20 tahun Raden Rahmat merasa dirinya berkewajiban untuk mengamalkan ilmunya. Lalu ia meminta izin kepada ibu dan ayahnya untuk pergi ke rumah bibiknya, Darawati di Pulau Jawa. Melihat kesungguhan anaknya maka dengan berat hati kedua orang tuanya mengikhlaskan kepergiannya. Tapi bagaimana perkasanya dan teguhnya keingainan Raden Rahmat, begitu ia akan berangkat dan memandangi wajah orang tuanya, maka meneteslah air matanya. Dan ternyata perpisahan itu merupakan perpisahan selama lamanya.

Kemudian dengan naik perahu Raden Rahmat menuju tanah Jawa. Pada saat itu perahu perahu dari arah utara yang akan menuju ke Surabaya atau Gresik dan sekitarnya biasanya mampir di pelabuhan persinggahan yaitu pelabuhan Kumalasa Pulau Bawean. Hal ini sebagai tanda tanda bahwaaa sebentar lagi perahu itu akan memasuki Surabaya atau Gresik. Ketika tiba di istana di kerajaan Majapahit dan telah lama bergaul disana Raden Rahmat di beri kekuasaan wilayah oleh raja Kertawijaya untuk memimpin tiga ribu rumah di Ampel Delta Surabaya. Sehingga akhirnya beliau dikenal dengan nama Sunan Ampel. Sementara itu pernikahan putri bungsu raja Campa, Darawati dengan Kertawijaya telah membuakan keturunan, diantaranya putranya itu bernama Raden Fatah. Pada saat itu komunikasi antara kerajaan Majapahit denagn kerajaan Campa semakin sering. Raden Fatah tidak dibesarkan di istana Majapahit melainkan ia di besarkan di Campa camboja oleh kakeknya sendiri. Dan ketika Raden Fatah menjadi seorang pemuda ia akan diantarkan oleh kakeknya ke kerajaan Majapahit, ke tempat kedua orang tuanya, di Jawa. Maka pada saat itu berangkatlah Raden Fatah bersama rombongan. Rombongan itu di pimpin oleh kakek Raden Fatah sendiri (Raja Campa). Tatkala sampai di pelabuhan persinggahan, tepatnya di pelabuhan Kumalasa, Pulau Bawean, rombongan tersebut mendapat kesulitan, yakni ada seorang putri yang sakit keras. Sehingga pemimpin rombongan (raja Campa) harus merawat si sakit. Tapi Raden Fatah dan rombongan yang lain terus melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di Surabaya ia bertemu dengan Raden Rahmat kakak sepupunya. Setelah Raden Fatah mengutarakan maksud kedatangannya, Raden Fatah tidak di perkenankan langsung ke Majapahit oleh Raden Rahmat. Ia masih di didik dan diajari ilmu agama oleh Sunan Ampel. Setelah dianggap cukup, baik bekal fisik atau mental batinnya, barulah Raden Fatah dipertemukan untuk menghdap ayahandanya, Raja Kertawijaya di Majapahit.

Pasa suatu ketika kerajaan Majapahit mengalami kehancuran disebabkan faktor faktor dari dalam dan luar kerajaan. Faktor dari luar antara lain karena pengaruh dakwah Raden Fatah yang di prakarsai oleh sunan Ampel. Selanjutnya Sunan Ampel menugaskan Raden Fatah untuk menjadi Adipati Demak, yang lambat laun menjadi sebuah kerajaan islam yang pertama kali dipulau Jawa yaitu kerajaan Demak dengan rajanya yang pertama adalah Raden Fatah dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Al- Falah. Menjelang ajalnya, sunan Ampel berpesan kepada Raden Fatah dan orang orang yang menjenguknya ‘’Aku sudah terlalu tua sekarang tinggal kewajiban kalian untuk melanjutkan tugas tugas Allah. Aku tidak bisa mewariskan apa-apa untuk kalian kecuali seperti kepandaianku yang tidak sempurna itu. Kalian harus menyempurnakannya sesuai dengan zaman dan kebutuhan kalian. Namun jangan lupa , bahwa zaman boleh berubah, tetapi Allah dan ajaran-Nya tidak. Itulah rahasia yang harus kalian gali’’ kemudian dengan mengucapkan ‘’Allahu Akbar’’ pulanglah beliau ke hadirat Allah SWT. Dan di kebumikan dimasjid Ampel Surabaya. Sedangkan Raden Fatah setelah memerintah kerajaan Demak sekitar sepuluh tahun (1508-1518), pulang ke Rahmatullah dalam usia yang cukup lanjut, dan dimakamkan di Demak, Jawa Tengah. Dalam kaitannya antara kehidupan Raden Fatah dengan cerita rakyat yang berkembang di Kumalasa pada waktu Raden Fatah melanjutkan perjalanannya ke tanah Jawa, ada salah satu putri raja Campa yang sakit keras sehingga harus dirawat oleh pimpinan mereka. Dan ternyata penyakit yang di derita oleh putri tidak sembuh. Yang akhirnya ia meninggal dunia di Bawean. Jenazahnya dimakamkan di dusun Kumalasa orang Kumalasa menyebutnya kuburan ‘’ Embah Potre’’ kuburan seorang putri dari keluarga Raja Campa.

Adapun orang yang merawat putri itu dan beliau ketua rombongan Raden Patah yang akan pergi ke Jawa, sudah tidak melanjutkan lagi ke Majapahit atau pulang ke Campa. Beliau menghabiskan usianya di Bawean. Kuburannya ada di kawasan pelabuhan Kumalasa. Kumalasa adalah sebuah desa di kecamatan Sangkapura yang memang unik, yang dikemudian hari banyak mewarnai kehidipan masyarakat di Pulau Bawean. Kalau kita tancapkan sebuah titik ditengah –tengah Pulau Bawean, kemudian kita tarik sebuah garis mata angin, maka desa Kumalasa terletak di arah Barat Daya dari pusat titik tersebut. Dan orang Kumalasa menyabut kuburan raja Campa dengan sebutan kuburan ‘’Jujuk Campa’’ jujuk maksudnya ‘’Embah’’ yang dihormati dan karena berasal dari negeri Campa maka dinamai ‘’Jujuk Campa’’ pada waktu-waktu tertentu biasanya orang-orang Bawean sering pergi kesana untuk ziarah dan ada pula yang memang mempunyai nadzar untuk berziarah ke makam jujuk Campa

Nama : Fitri, Fatma dan Arifah
Kelas : XI IPA MA Hasan Jufri

Kisah Wali Di Pulau Bawean
Keramat Jujuk Tampo

Media Bawean, 3 April 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini Media Bawean
By : Nur Diana


Kisah Keikhlasan Sang Pembela Orang Fakir

Di tengah – tengah laut Jawa terdapatlah sebuah pulau yang kecil nan menawan yaitu Pulau Bawaen. Bawean adalah satu-satunya pulau yang semuanya penghuninya beragama Islam. Bila dicari dalam peta Indonesia yang ukurannya kecil maka Pulau Bawean tidak tampak, tapi jika dalam ukuran yang besar maka Pulau Bawean hanya tampak senoktah. Pulau Majeti ini terdiri dua kecamatan, Sangkapura dan Tambak.

Meskipun kecil, Pulau Bawean memiliki banyak lagenda, konon peradaban Jawa dimulai dari Bawean. Aksara Jawa yang diciptakan oleh Ajisaka adalah awal peradaban Jawa. Sebelum ke Jawa Ajisaka dan kedua muridnya yaitu Dora dan Sembada, singgah di pulau ini. Kemudian Dora mengiringi sang guru ke Jawa Dwipa sedangkan Sembada ditugasi menjaga pusaka Ajisaka yang sengaja ditinggal di Bawean. Kini makam Dora dan Sembada berada di Jherat Lanjheng desa Lebak Sangkapura. Keduanya terbunuh karena sama-sama setia dengan titah Ajisaka.

Seperti yang telah dipaparkan oleh Zulfa Usman ( Buku Pulau Putri) , diantara legenda Bawean adalah terjadinya kesalahfahaman antara orang Patar Selamat dengan Jujuk Tampo yang mengakibatkan terbunuhnya Jujuk Tampo. 

Di Tampo, desa Pudakit Barat, terdapat kuburan tua yang Dikeramatkan oleh masyarakat setempat, mereka menyebutnya kuburan “Jujuk Tampo”, yang diyakini seorang wali. Jika bicara tentang validitas datanya, sepertinya tidak ada bukti tertulis yang menguatkan baik dari data sejarah maupun silsilah keluarganya. Cerita ini hanya diwariskan dari mulut kemulut. Jujuk Tampo adalah seorang muballigh Islam.

Menurut juru kunci makam Jujuk Tampo yakni bapak Mustakim, jika dilihat dari batu nisannya, kemungkinan besar, usia jujuk tampo ini lebih tua dibandingkan Maulana Umar Mas’ud yang makamnya ada di Sangkapura.

Makam Jujuk tampo dan istrinya, letaknya lebih tinggi sekitar 2 meter dari tanah, luas halamannya kurang lebih 30 m persegi. Para peziarah tidak boleh naik dan berjalan sembarangan, terutama bagi peziarah yang mempunyai nadzar. 

Berikut adalah kisah Jujuk Tampo versi Bapak Halimi (alm) seperti yang dituturkan oleh Bapak Mustakim.
Nama lain dari “Jujuk Tampo” adalah “Syekh Maulana Makdum Ibrahim”, nama ini adalah nama kecil Sunan Bonang. Beliau dikenal baik dan berkepribadian shaleh serta mempunyai banyak keistimewaan. Beliau memiliki perilaku aneh menurut orang kebanyakan , yaitu sering kali memungut rezeki dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Ia biasa mendatangi orang-orang kaya di desanya ataupun di tempat lain. Kecintaanya kepada orang papa sungguh luar biasa. Kebiasaan memungut zakat dan sedekah dari orang kaya ini beliau jalani sepanjang hidupnya. beliau tidak memperdulikan cemoohan, cibiran dan gunjingan orang-orang yang enggan berzakat. Demi membela orang-orang fakir dan miskin beliau rela mempertaruhkan harga dirinya dimata manusia.

Suatu hari Jujuk Tampo bertemu dengan seorang pemuda yang datang dari desa Patar Selamat yang sedang kelelahan dan kebingungan karena kehilangan seekor sapi. Beliau menyarankan agar si pemuda tadi pulang saja karena sapinya tidak bisa ditemukan. Segera si pemuda mengikuti apa saran Jujuk Tampo. Ia pulang dengan tangan hampa. Setiba dirumah, si pemuda tadi menceritakan tentang pengalamannya yakni bertemu dengan Jujuk Tampo yang menganjurkan untuk pulang saja.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba si pemuda meninggal dunia. Sang ayah yang shok menyangka bahwa anaknya telah di sihir oleh Jujuk Tampo. Keesokan harinya dia pergi menemui Jujuk Tampo untuk menuntut balas kematian anaknya. Setelah bertemu segera sang ayah tadi menghardik Jujuk Tampo dengan menuduhnya sebagai tukang sihir. Jujuk Tampo menjelaskan bahwa ia tidak menyihir si pemuda. Perdebatan tak terelakkan.

Untuk mengakhiri kesalahpahaman ini Jujuk Tampo menawarkan solusi yakni ia bersedia dibunuh. Jika nanti darah yang keluar berwarna merah maka berarti Jujuk Tampo memang bersalah. Tapi sebaliknya jika darah yang keluar nanti berwarna putih maka berarti Jujuk Tampo tidak bersalah dan orang Patar Selamat tidak boleh menginjakkan kakinya di Tampo untuk selamanya.

Segera sang ayah tadi menusuk perut Jujuk Tampo. Ajaib, darah yang semburat keluar berwarna putih. Dengan demikian maka teranglah bahwa Jujuk Tampo tidak bersalah. Ayah tadipun menyesali dirinya yang telah gegabah menuduh Jujuk Tampo yang shaleh sebagai seorang penyihir. Kutukan Jujuk Tampo masih berlaku hingga sekarang.

Nama : Nur Diana
Kelas : Kelas XII IPA Hasan Jufri
Alamat : Pudakit Barat Sangkapura

Tajung Ga'ang Kumalasa,
Pelabuhan Kenangan

Media Bawean, 30 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh : Ibna dan Anis



Tanjungga’an adalah salah satu obyek wisata di Bawean. Letaknya berada di dusun Sumur-Sumur Kumalasa. Banyak orang berkunjung di hari libur utamanya liburan panjang. Seperti liburan akhir tahun sekolah, tahun baru dan hari raya Idul Fitri. Biasanya pengunjung datang berombongan dengan keluarga atau teman-teman sebaya. Disamping melihat panorama pantai yang panjang dan indah merak juga membakar ikan bersama. Tradisi khas Bawean.

Tanjungga’an memang indah mempesona. Pasirnya putih bersih, pegunungannya indah dan goanya juga menawan. Pantainya yang landai memang cocok untuk mencuci mata merenungkan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Di ujung barat ada batu karang berbentuk jembatan. Menurut hikayat masyarakat setempat batu tersebut adalah jembatan yang menyatu dengan pantai Tanjung Kodok Paciran Lamongan. Dulu di Bawean banyak dihuni
oleh binatang buas seperti Harimau, Singa, Ular dan sebagainya. Oleh Maulana Umar Mas’ud binatang buas itu diusir ke Jawa melalui jembatan Tanjungga’an. Setelah semua binatang buas tersebut sampai di Jawa maka jembatan Tanjungga’an dan Tanjung Kodok dipisah supaya binatang buas tidak kembali ke Bawean. Kita boleh percaya atau tidak tetapi yang pasti saat ini di Bawean tidak pernah dijumpai binatang buas.

Cerita versi lain menyebutkan bahwa batu yang berbetuk jembatan itu menjadi petunjuk bahwa disanalah tempat berlabuhnya para wali yang berdakwah di Bawean. Seperti Sunan Bonang, Sunan Ampel, para murid Sunan Giri dan Waliyah Zainab. Diantara mereka Sunan Bonang-lah yang sering datang ke Pulau Bawean. Karena Bawean saat itu berada di bawah kekuasaan Kadipaten Tuban. Pelabuhan Bawean tempo dulu memang berada di sebelah barat Tanjungga’an tepatnya di Labuhan.

Di bawah bebatuan Tanjungga’an konon dihuni buaya buntung. Buaya ini hanya muncul disaat tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Buaya ini muncul sebagai isyarat bahwa Tanjungga’an tidak boleh dipakai untuk bermaksiat. Maka warga sekitar ikut memantau kegiatan pengunjung yang sedang berwisata. Warga akan menegur bila ada sepasang muda-mudi yang memadu kasih di Tanjungga’an.

Di sekitar Tanjungga’an juga terdapat sebuah goa yang konon pernah dihuni oleh Maulana Umar Mas’ud saat mengusir binatang buas hengkang dari Bawean. Ada yang menyebutkan bahwa goa tersebut adalah tempat musyawarah para wali. Kini kondisi goa tersebut tidak terawat. Jarang ada yang berani masuk ke dalamnya.

Seiring dengan perkebangan zaman maka Tanjungga’an semakin dilupakan. Masyarakat Bawean hanya mengenalnya sebagai obyek wisata belaka. Mereka tidak tahu bahwa disanalah dahulu pintu masuk keluar Pulau Bawean. Sebagai sebuah pelabuhan tentu sangat ramai. Wajar bila desa Kumalasa sangat mewarnai sejarah pulau Bawean. Di desa ini juga bisa dijumpai makam para putri yakni Putri Condrowulan dan Jujuk Campa. Bahkan kisah Waliyah Zainab juga di mulai dari Kumalasa sebelum kemudian beliau menetap dan disemayamkan di desa Diponggo.

Nama : Ibna dan Anis
Kelas : XI IPA MA Hasan Jufri
Asal : Sumur-Sumur Tanjung Kima Kumalasa

Putri Bawean,
Legenda Yang Terlupakan

Media Bawean, 29 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh : Rahma dan Wahyuni

Di sebelah barat Desa Kumalasa, berderetan dengan Labuhan Kumalasa ada sebuah tanjung namanya Tanjung Putri. Di dekat tanjung tersebut terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Putri Bawean. Siapakah dia?


Sebutan putri biasanya hanya untuk anak perempuan dari seorang raja. Dr. KH. Dhiyauddin Quswandhi menyebutkan bahwa makam Putri Bawean yang ada di Kumalasa tersebut adalah Dewi Condrowulan. putri dari Raja Campa (Kamboja). Semula Sang Putri setia mendampingi suaminya yaitu Syaikh Ibrahim Asmarakandi yang berdakwah islam di Pesisir Utara Jawa yakni di Palang Tuban. Dewi Condrowulan membesarkan anak-anaknya diantaranya Raden Rahmat atau Sayid Ali Rahmatullah yang kelak bergelar Sunan Ampel (Surabaya).

Suatu ketika muncul keinginan ini untuk menjenguk sang ayah yaitu Raja Campa. Berangkatlah mereka menuju Campa dengan menggunakan kapal laut. Ketika singgah di Pulau Bawean Sang Putri sakit parah dan akhirnya meninggal. Lalu disemayamkan di desa Kumalasa. Kenapa rombongan ini singgah di Kumalasa? Karena pelabuhan yang ramai saat itu berada di Kumalasa (Labuhan). Desa Kumalasa konon dari bahasa Arab “Kamalaisa” yang artinya tidak ada yang menyamainya.

Nama Condrowulan memang asing di telinga warga Bawean, karena selama itu tidak banyak yang mengetahui bahwa di Kumalasa ada makam Putri Condrowulan. Orang Bawean lebih mengenal dengan sebutan Putri Bawean. Memang kebanyakan manusia kurang peduli dengan sejarah sehingga mereka tidak mengetahui perjuangan dan jasa orang-orang terdahulu.

Putri Condrowulan adalah sosok wanita yang mulia dan shalehah. Beliau merupakan ibunda dari seorang wali tertua diantara Wali Songo yakni Sunan Ampel. Dari Sunan Ampel inilah kemudian muncul para wali yang tersebar di Jawa. Yakni Raden Qasim (Sunan Drajad) dan Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Kedua wali ini kemudian mendidik para santrinya dan disebarkan di beberapa daerah baik Jawa maupun luar Jawa. Para murid Wali Songo inilah yang kemudian menjadi pendakwah islam di daerahnya masing-masing.

Hingga hari ini kesuksesan perjuangan Wali Songo dan para muridnya banyak dirasakan manfaatnya oleh umat islam di Indonesia. Berkat perjuangan Wali Songo dan para muridnya islam menyebar ke seluruh pelosok negeri dan menjadi agama mayoritas. Sebagai penghormatan atas jasa Wali Songo maka umat islam di Indonesia membudayakan ziarah Wali Songo. Bahkan hari ini ziarah Wali Songo sudah menjadi paket wisata tersendiri.

Bagaimana dengan Putri Condrowulan? Sebagai generasi islam Bawean kita tidak boleh melupakan jerih payah para pendahulu. Kalau Sunan Ampel, Sunan Drajad dan Sunan Bonang sangat dihormati di Jawa maka Sang Ibunda yakni Putri Condrowulan menjadi tugas kita warga Bawean untuk memuliakannya. Menghormati dan memuliakan bukan sekedar berziarah ke makamnya tetapi lebih dari itu yakni spirit perjuangan dakwah islam harus lebih dikembangkan.

Nama : Rahma dan Wahyuni
Kelas : XI IPS MA Hasan Jufri
Alamat : Kumalabaru Kumalasa Sangkapura

Dhurung Menghilang Dari Pulau Bawean

Media Bawean, 14 Maret 2010

Dhurung Bawean Warisan Nenek Moyang

Hampir dipastikan setiap rumah lama peninggalan nenek moyang di Pulau Bawean memiliki dhurung di depan rumah. Dhurung memiliki nilai seni ukiran indah yang tidak bisa ditiru, serta memiliki fungsi serba guna yaitu tempat penyimpanan padi sebagai lubung dan tempat istirahat. Keamanan dhurung sebagai tempat penyimpanan padi, sebab dilengkapi jhelepang yang tidak bisa dilewati tikus.

Tetapi keberadaan dhurung di Pulau Bawean menurut Azizi Rosyidi warga desa Pudakit Timur, sudah berkurang tinggal 30 %. "Sebagian besar dibeli warga pendatang, dibawa keluar Pulau Bawean," katanya.

"Hampir setiap rumah yang dulunya memiliki dhurung didepan rumah, sekarang sudah menghilang dijual seharga Rp. 5 juta sampai Rp. 6juta," ujarnya.

"Kelangkaan dhurung di Pulau Bawean secara otomatis menaikkan harganya sampai Rp. 35juta, tetapi dhurung ini tidak akan dijual sebab peninggalan nenek moyang kita," jelasnya sambil menunjuk dhurung didepan rumahnya.

Apakah penjualan benda bersejarah di Pulau Bawean akan tetap berlanjut? selain dhurung, rumah kuno di Pulau Bawean sebagian besar sudah terjual kepada pembeli dari luar untuk dipasarkan ke mancanegara. (bst)

Makam Djokrokusumo Selesai Direhab 90%

Media Bawean, 7 Agustus 2009

Makam Djokrokusumo

Berkat dukungan dan sumbangsih kuat dari warga di Sangkapura, rehab makam Djokrokusumo sudah selesai dibangun sampai 90%.

Menurut Fendy selaku Koordinator Pembangunan dihubungi Media Bawean via ponselnya hari ini (7/8), mengatakan, "Alhamdulillah sampai saat ini pembangunan sudah mencapai 90%," katanya.

"Yang masih kurang adalah pembuatan jalan dan pemasangan keramik didalam dan diluar makam," ujarnya.

"Tujuan rehabilisasi makam adalah menyelamatkan tempat bersejarah yang ada di Pulau Bawean," jelas Kepala Kantor Pariwisata Bawean. (bst)

Orang Bawean Malas Merawat Harta Benda

Media Bawean, 17 Juli 2009

Parabola Dibuang Oleh Pemiliknya

Durung Rusak Tanpa Ada Perawatan

Sudah kebiasaan orang Bawean dalam memiliki harta benda, bila tak layak pakai maka langsung dibuang ataupun dibiarkan dengan sendirinya akan rusak.

Seperti antena parabola dibuang oleh pemiliknya, tanpa ada usaha untuk memperbaikinya. Juga seperti Durung yang termasuk peninggalan nenek moyang dibiarkan tanpa ada perawatan dari pemiliknya. (bst)

Runjangan Bawean Dimakan Rayap

Media Bawean, 9 Juli 2009

Runjangan Dimakan Rayap

Dampak kemajuan tehknologi tentunya akan menghilangkan sesuatu yang dianggap kurang efektif atau efisien dalam bekerja. Salah satunya adalah runjangan, yang penggunaannya diwaktu dulu sangat berguna untuk menumbuk padi, terkadang digunakan untuk hiburan dungkah.

Penggunaan runjangan pada saat ini sudah jarang ditemukan, setelah adanya mesin selip padi. Seperti terlihat digambar, runjangan sudah dimakan rayap. (bst)

Dermaga Ujung Sangkapura Saksi Sejarah Pelayaran Di Bawean

Media Bawean, 12 November 2008

Dermaga Ujung Sangkapura

Dermaga Ujung Sangkapura

Dermaga Ujung Sangkapura

Dermaga Ujung Sangkapura

Dermaga ujung dulu pernah menjadi tempat untuk keluar masuknya kapal di Pulau Bawean. Saat Media Bawean berkunjung ingat saat kecil, ketika orang tua membawaku untuk menghantarkan saudarah atau tetangga yang akan berlayar.

Sebagai penghubung untuk naik keatas Kapal masih naik sampan kecil. Adakah diantara mereka yang mengingat dengan tempat sesuai gambar diatas? (bst)

Kronologi Insiden Duel Udara F-16 TNI AU Dengan F/A 18 Milik AU Amerika Serikat Diatas Pulau Bawean

Media Bawean, 27 September 2008

Sumber : http://rixco.multiply.com/
Mungkin diantara anda belum pernah mendengar insiden Bawean.
Insiden Bawean adalah duel udara pesawat tempur F-16 TNI-AU dengan pewat tempur F/A 18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang menerobos masuk wilayah Indonesia di atas kepulauan Bawean. Ini bukan latihan militer, ini kenyataan.

Tanggal 3 Juli 2003, kawasan udara di atas Pulau Bawean sontak memanas ketika lima asing yang kemudian diketahui sebagai pesawat F/A 18 Hornet terdeteksi radar TNI AU. Dari pantauan radar kelima Hornet terbang cukup lama, lebih dari satu jam dengan manuver sedang latihan tempur. Untuk sememntara Kosek II Hanudnas (Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional) dan Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional) belum melakukan tindakan identifikasi dengan cara mengirimkan pesawat tempur karena kelima Hornet kemudian menghilang dari layar radar.

Sekitar dua jam kemudian, Radar Kosek II kembali menangkap manuver Hornet. Karena itu panglima Konanudnas menurunkan perintah untuk segera melakukan identifikasi. Apalagi manuver sejumlah Hornet itu sudah mengganggu penerbangan komersial yang akan menuju ke Surabaya dan Bali serta sama sekali tak ada komunikasi dengan ATC terdekat.







Dua pesawat tempur buru sergap F-16 TNI-AU yang masing-masing diawaki Kapten Pnb. Ian Fuadi/Kapten Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Tony Heryanto/Kapten Pnb. Satro Utomosegera disiapkan. Misi kedua F-16 itu sangat jelas yaitu melakukan identifikasi visual dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi mengingat keselamatan penerbang merupakan yang utama. Selain itu, para penerbang diminta agar tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam. Namun demikian, untuk menghadapi hal yang terduga kedua F-16 masing-masing dua rudal AIM-9 P4 dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

Menjelang petang, Falcon Fligh F-16 melesat ke udara dan tak lama kemudian kehadiran mereka langsung disambut dua pesawat Hornet. Radar Falcon Fligh segera menangkap kehadiran dua Hornet yang terbang cepat dalam posisi siap tempur. Perang radar atau jamming antara kedua pihak pun berlangsung seru. Yang lebih menegangkan pada saat yang sama, F-16 yang berada pada posisi pertama telah dikunci, lock on oleh radar dan rudal Hornet. F-16 kedua yang terbang dalam posisi supporting Fighter juga dikejar oleh Hornet lainnya. Namun posisi F-16 kedua lebih menguntungkan. Jika memang harus terjadi dog fight ia bisa melancarkan bantuan.

Untuk menghindari sergapan rudal lawan seandainya memang benar-banar diluncurkan, F-16 pertama lalu melakukan manuver menghindar, yakni hard break berbelok tajam hampir 90 derajat ke arah kanan dan kiri serta melakukan gerakan zig-zag. Manuver tempur itu dilakukan secara bergantian baik oleh F-16 maupun Hornet yang terus ketat menempel. Melihat keadaan yang semakin memanas, F-16 kedua lalu mengambil inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) sebagai tanda bahwa kedua pesawat F-16 TNI-AU tidak mempunyai maksud mengancam.

Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet yang mencegat mereka. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui bahwa mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional. "We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship". F-16 pertama lalu menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah Indonesia. Mereka juga diminta mengontak ke ATC setempat, karena ATC terdekat Bali Control belum mengetahui status mereka.

Usai kontak Hornet AS itu terbang menjauh sedang kedua F-16 TNI-AU return to base, kembali ke pangkalannya Lanud Iswahjudi Madiun. Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI-AU juga melihat sebuah kapal perang Frigat yang sedang berlayar ke arah timur. Setelah kedua F-16 mendarat selamat di pangkalan TNI-AU menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa fligh Hornet merupakan bagian dari armada US Navy. Namun yang paling penting dan merupakan tolak ukur suksesnya tugas F-16, Hornet AL AS itu baru saja mengontak MCC RAI dan melaporkan kegiatannya.

Keesokan harinya TNI-AU terus mengadakan pemantauan terhadap konvoi armada laut AS itu dengan mengirimkan pesawat intai B737. Hasil pengintaian dan pemotretan menunjukkan bahwa armada laut AS yang terdiri dari kapal induk USS Carl Vinson, dua frigat dan satu destroyer sedang berlayar diantara Pulau Madura dan Kangean menuju Selat Lombok. Selama operasi pengintaian itu pesawat surveillance B737 terus dibanyangi dua F/A 18 Hornet AL AS. Bahan-bahan yang didapat dari misi itu kemudian dipakai oleh pemerintah untuk melancarkan "keberatan" secara diplomatik terhadap pemerintah AS.

Kampung Carabaka 75 % Warganya di Jiran

Media Bawean, 2 Agustus 2008


Peninggalan Jujuk Baka Mambek
Di Carabaka ada kuburan keramat Jujuk Baka Mambek yang setiap menjelang hari idul adha hari senin selalu dibuka. Didalamnya ada banyak peninggalan seperti keris, piring dan lainnya. Kampung dinamai Carabaka karena meniru cara-caranya Jujuk Baka Mambek.

Durung Dan Mushalloh Di Carabaka
Carabaka identik dengan Malaysia, karena hampir 75% penduduk Carabaka tinggal di Malaysia daerah Johor Bahru kampung Sungai Rinting, Pertanian dan Kota Masai. Hampir setiap keluarga dipastikan ada di negeri Jiran, terkadang orangtua dan anaknya di Bawean ataupun anaknya di negeri Jiran dan orang tuanya di Bawean.(bst)

Sunan Bonang Wafat di Bawean

Media Bawean, 9 Juli 2008

Makan Sunan Bonang di Tambak

Sunan Bonang nama aslinya adalah RADEN MAKDUM IBRAHIM. Beliau adalah putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Dewi Candrawati adalah putri Prabu Brawijaya Kertabumi. Dengan demikian Sunan Bonang masìh ada hubungan dengan Keluarga Besar Majapahit. Raden Makdum Ibrahim sesudah selesai belajar dengan Sunan Ampel dì Surabaya bersama Raden Paku beliau meneruskan pelajaranya ke Samudra Pasai.

Disana beliau berguru kepada Syeh Maulana Ishak(Paman Sunan Ampel)dan beberapa ulama besar ahli tasawwuf dari Baghdad dan Iran. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam atau tauhid.

Sekembalinya ke tanah jawa Raden Makdum Ibrahim berdakwah di daerah Tuban. Cara berdakwah beliau sangat unik dan bijaksana. Beliau dapat mengambil hati rakyat untuk datang ke Masjid dengan menciptakan gending dan tembang yang disukai rakyat, beliau sangat ahli dalam membunyikan gending yang disebut bonang, itu sebabnya rakyat Tuban kemudian mengenlnya sebagai Sunan Bonang.

Sunan Bonang sering berdakwah keliling, hingga wafatnya beliau sedang berdakwah di daerah di Pulau Bawean. Oleh murid-muridnya jenazahnya diminta untuk dimakamkan di Tuban namun oleh murid-muridnya yang di Bawean tidak boleh, hingga malam harinya jenazah Sunan Bonang dilarikan ke Tuban oleh murid-muridnya yang di Tuban, anehnya di Bawean jenazah Sunan Bonang masih ada hanya kain kafanya tinggal satu.

Dengan demikian kuburan Sunan Bonang ada dua yang satu di barat Masjid Sunan Bonang Tuban. Yang satunya lagi di kampung Tegal Gubuk(Barat Tambak Bawean).

Ketika Intisari melacak ke pulau terpencil antara Jawa dan Kalimantan tersebut, terdapat dua makam Sunan Bonang di tepi pantai - dan tiada cara untuk memastikan mana yang lebih masuk akal, meski untuk sekadar “dikira” sebagai makam Sunan Bonang. Salah satu makam memang tampak lebih terurus, karena dibuatkan “rumah” dan diberi kelambu - sedang makam satunya masih harus bersaing pengakuan dengan spekulasi lain bahwa itu sebenarnya makam seorang pelaut dari Sulawesi yang kapalnya karam di sekitar Bawean.

Tentang makam di Bawean terdapat legenda yang bisa diikuti dari Islamisasi di Jawa: Walisongo, Penyebar Islam di Jawa, Menurut Penuturan Babad (2000) karya Ridin Sofwan, Wasit, dan Mundiri. Konon setelah Sunan Bonang wafat di Bawean, murid-muridnya di Tuban menghendaki agar Sunan Bonang dimakamkan di Tuban, tetapi para santri di Bawean berpendapat sebaiknya dimakamkan di Bawean saja, mengingat lamanya perjalanan menyeberangi laut. Syahdan, para penjaga jenazah di Bawean telah disirep (ditidurkan dengan mantra) oleh mereka yang datang Bawean telah disirep (ditidurkan dengan mantra) oleh mereka yang datangmalam hari dari Tuban.

Dikisahkan betapa kuburan dibongkar {versi lain, dalam Misteri Syekh Siti Jenar: Peranan Walisongo dalam Mengislamkan Tanah Jawa (2004) karya Hasanu Simon, jenazah masih di tengah ruangan dan jenazah dibawa berlayar ke Tuban malam itu juga, untuk dimakamkan di dekat astana mesjid Sunan Bonang. Meskipun begitu, menurut para santri Bawean, yang berhasil dibawa ke Tuban sebetulnya hanyalah salah satu kain kafan; sebaliknya menurut para santri Tuban, yang terkubur di Bawean juga hanyalah salah satu kain kafan.

Sumber :
SUNAN BONANG, WALI YANG MEMBUJANG
DENGAN EMPAT MAKAM :WALISANGA, ZIARAH PUSTAKA 5
Penulis & Fotografer: Seno Gumira Ajidarma http://walisongo.peperonity.com/go/sites/mview/walisongo/13279872

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean