Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label PROFESI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFESI. Tampilkan semua postingan

Pensiun PNS, Junaidi Berprofesi Menangkap Gurita


Warga Bawean lagi ngetren pergi melaut mencari ikan gurita, salah satunya Junaidi pensiunan PNS pegawai kecamatan Sangkapura.

Nelayan pergi melaut mencari ikan gurita diawali tahun ini, mulai harga Rp.25 ribu perkilogram sampai sekarang sudah mencapai Rp.55 ribu.

Junaidi mengaku sejak pensiun sudah aktif pergi melaut, salah satunya mencari ikan gurita. "Jika sehari mendapatkan 20 kg, sudah dipastikan mendapatkan Rp.1 juta,"paparnya.

Tapi modalnya untuk umpannya juga besar, membuat seperti kepeting yang terbuat dari beraneka ragam termasuk sendok makan.

"Sekarang ini sudah hampir merata nelayan di Bawean yang mencari ikan gurita ke laut. Sedangkan pengepulnya juga banyak yang siap membeli hasil tangkapan nelayan,"katanya.

Adapun waktunya berangkat melaut pada pagi hari sampai sore hari.

Selain aktif pergi melaut, Junaidi juga menerima pesanan nelayan untuk umpan gurita, yang dijual Rp.500 ribu. "Memang mahal karena modalnya besar juga hasilnya lebih besar,"pungkasnya. (bst)

Cerita Suhan : Pengangkut Jenazah dari Gresik ke Bawean





Suhan Efendy (57 th) aktif berprofesi sebagai jasa pengangkutan jenazah sudah 9 tahun lalu. Awalnya diminta mengangkut jenazah pekerja kapal yang meninggal dunia di Abu Dhabi. "Waktu itu diberi ongkos Rp. 7 juta untuk mengangkut jenazah dari Pelabuhan Gresik ke Pulau Bawean,"katanya.

Setelah itu Suhan dipercaya banyak orang, setiap ada keluarganya yang meninggal dunia di Gresik selalunya meminta untuk dijemput ke Pelabuhan Gresik. "Hampir setiap bulan, terkadang sampai 2 kali dalam sebulan mengangkut jenazah. Sampai sekarang diperkirakan sudah 50 kali mengangkut jenazah,"ujarnya.

Sekarang ongkosnya Rp.8 juta untuk pengangkutan dari Gresik ke Pulau Bawean. Sedangkan waktu tempuh pelayaran ambulance laut jenis klotok, menurut Suhan selama 9 jam sampai 10 jam lamanya.

Soal ketinggian gelombang laut, Suhan menyatakan sudah seringkali menghadapi gelombang tinggi didalam perjalanan, antara 5 meter sampai 6 meter. "Ketika kapal jurusan Gresik - Pulau Bawean tidak beroperasi karena gelombang tinggi, saya tetap berangkat menjemput jenazah sesuai permintaan keluarganya di Bawean,"paparnya.

Selama dalam perjalanan dari Gresik ke Pulau Bawean tidak pernah mengalami hambatan apapun ketika mengangkut jenazah. "Terkadang hanya kerusakan mesin saja, itupun bisa teratasi karena klotok menggunakan mesin ganda,"jelasnya.

Untuk pelayanan lebih bagus, perahu milik Suhan sudah dimodifikasi bagian tengahnya ada tempat khusus untuk peti jenazah.

Lebih lanjut Suhan mengungkapkan pengalamannya bahwa sebenarnya jenazah yang diangkutnya tergantung amalan semasa hidup. "Jika orang yang diangkutnya banyak kebaikannya seperti klotok ada yang mendorong agar lebih cepat sampai di Pulau Bawean. Sebaliknya jika orang tersebut kurang baik, seperti lama untuk sampai,"terangnya.

Pernah sekali Suhan mengalami hambatan ketika membawa jenazah dari Pelabuhan Bawean tujuan Sidayu Lawas, ternyata waktu itu klotoknya mengarah ke Jepara Jawa Tengah sehingga butuh waktu 24 jam sampai ditujuan.

Selain berprofesi sebagai jasa pengangkutan jenazah, Suhan juga menekuni mencari ikan ke laut. "Jika tidak ada jemputan, yach mencari ikan tongkol ke tengah laut,"pungkasnya. (bst)

Krupuk Posot Jadi Oleh-Oleh Para Perantau

Media Bawean, 5 September 2015



Saat berkunjung ke Pulau Bawean, wisatawan bisa membawa berbagai macam oleholeh. Salah satunya, kerupuk posot. Makanan khas Pulau Bawean cukup digemari wisatawan untuk dijadikan oleh-oleh. Bahkan, warga Bawean yang merantau ke wilayah lain, menjadikan makanan ini sebagai oleh-oleh yang wajib dibawa.

Syamsiyah, 56, pembuat kerupuk posot di Desa Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura, Gresik mengaku sudah lima tahun membuat kerupuk posot. Setiap harinya mampu membuat antara 150 bungkus sampai 200 bungkus. Sedangkan harganya dipatok Rp 16 ribu, jika di pasaran dijual Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu. “Ini harga di pasaran,” ujarnya.

Dikatakan, saat ini ia sudah memiliki 10 orang pekerja. Setiap hari membuat kerupuk posot ikan tongkol. “Pembuatan kerupuk posot, dilakukan mengambil daging ikan tongkol, lalu dicampur tepung kanji, dan telur. Tentu melalui takaran yang sudah ada, selanjutnya diulek sampai jadi satu,” terang dia.

Hasil ulekan akan diposot dengan tangan-tangan pekerja di atas sebidang papan seperti lapangan karambol. Selesai diposot, langsung digoreng sampai masak. Akhirnya dibungkus dan siap dipasarkan ke toko atau mini market di Pulau Bawean. “Terkadang pembeli datang sendiri untuk dibuat oleh-oleh berlayar ke Jawa atau Malaysia,” katanya.

Syamsiyah mengakui, untuk pembuatan kerupuk tergantung hasil tangkapan nelayan melaut. Terkadang ikan tongkol harganya meroket tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan penggemar setianya, tetap saja membuatnya setiap hari. (bst)

Pembuat Batu Bata Mampu Kuliahkan Anak

Media Bawean, 28 Agustus 2015



Mayoritas warga Dusun Air Kuning, Desa Bululanjang, Kecamatan Sangkapura berprofesi sebagai pembuat batu bata merah. Meski begitu, masyarakat di sana tetap mementingkan pendidikan anak-anaknya. Bahkan, beberapa warga berhasil menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi favorit dari hasil membuat bata merah.

Junaidi, 50, salah satu pembuat bata merah mengaku hasil penjualan batu bata merah telah berhasil membiayai kuliah anaknya di perguruan tinggi favorit di Surabaya. Termasuk sekarang memondokkan anak ke salah satu pondok pesantren (ponpes) di Pasuruan.

“Selama musim kemarau lahan sawah dipergunakan untuk mencetak batu bata merah, setelah musim tanam telah tiba maka akan ditanami padi,” paparnya.

Hasil tanam padi dipergunakan untuk makan bersama keluarga di rumah selama setahun, sedangkan batu bata merah hasilnya dibuat mencukupi kebutuhan rumah tangga termasuk menyekolahkan anak. “Kami membaginya seperti itu,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Hamdi, 34. Pihaknya mengatakan, dari profesinya sebagai mencetak batu bata merah dirinya bisa mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk membiaya pendidikan anak bersekolah. “Alhamadulillah Mas, semua bisa tercukupi,” kata dia.

Menurut dia, dirinya sehari bisa mencetak batu bata merah sebanyak 5 ribu biji, lalu dikumpulkan sampai banyak. Setelah seminggu lamanya, akhirnya batu bata merah dibakar selama sehari semalam.“Harganya di Pulau Bawean, 1000 biji batu bata merah dijual seharga Rp 600 ribu,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Achmad Ghozi, tokoh pemuda setempat menjelaskan, warganya bekerja tidak mengenal waktu, bisa kerja selama sehari semalam mencetak batu bata merah yang dibantu seluruh keluarga. “Banyak generasi muda aktif membantu orang tuanya bekerja daripada bermain tidak menghasilkan apa-apa,”pungkasnya.(bst)

Permintaan Pindang Meningkat, Pembuat Kendil Kebanjiran Order

Media Bawean, 27 Agustus 2015


Melonjaknya permintaan Ikan Pindang membawa berkah tersendiri bagi pembuat kendil pindang di Pulau Bawean. Sebab, meningkatnya permintaan pindang otomatis juga berpengaruh pada permintaan kendil sebagai wadah untuk pindang tersebut.

Suhaema, 65, warga Disallam, Kecamatan Sangkapura mengatakan permintaan kendil meningkat banyak saat ikan pindang sedang produksi. Tergantung musim ikan di Pulau Bawean. “Walaupun tidak ada permintaan, pembuatan kendil tetap berlangsung. Hasilnya dikumpulkan sampai akhirnya ada pembeli yang datang,” ujarnya.

Dikatakan, sejak usia muda sudah menekuni membuat kendil yang terbuat dari tanah liat. “Bekerja membuat kendil sejak dari kecil sampai sekarang, meneruskan profesi pekerjaan orang tua,”katanya.

Proses membuat kendil, dimulai dari pengambilan tanah liat lalu dicampur pasir. Lalu diaduk dengan air, setelah tercampur jadi satu kemudian dibuat dengan keterampilan tangan tidak memakai cetakan.

Selanjutnya kendil dijemur agar terkena panas matahari. Proses akhirnya kendil dibakar selama sehari. Berprofesi sebagai pembuat kendil sehari bisa membuat 100 biji, dengan harga jualnya Rp.600. “Lumayan bisa mencukupi kebutuhan bersama keluarga,”katanya.

Menurut Abdus Salam, Kepala Desa Patarselamat mengatakan warganya lebih banyak berprofesi sebagai pembuat kendil. “Sejak dari dahulu sampai sekarang masih tetap berjalan, khususnya di Dusun Disallam dan Sukela,”paparnya. (bst)

Cari Kayu Bakar Dijual Ke Juragan Pindang

Media Bawean, 18 Agustus 2010


Aktivitas warga Dusun Penang Gunung, desa Telukjatidawang, Kecamatan  Tambak, Pulau Bawean, selain mencari kayu jati, juga aktif mencari kayu bakar ke hutan sekitar kampungnya, untuk dijual ke Juragan Pindang di Dedawang.

Mukri (35 th.) warga Penang Gunung, ditemui Media Bawean, hari ini (18/8) mengatakan aktivitas rutin setiap hari yang dilakukan oleh warganya, khususnya kaum perempuan adalah mencari kayu kayu bakar ke hutan. "Seperti isteriku, setiap minggu mampu mengumpulkan kayu bakar sebanyak 1 mobil dengan dijual seharga Rp.250ribu," katanya.

"Sumber penghasilan disini, selain mencari daun jati, yach mencari kayu bakar yang hasilnya lumayan untuk menambah kebutuhan rumah tangga," ujar juragan sapi di Penang Gunung.

Hampir disekeliling kampung di Penang Gunung, terlihat banyak tumpukan kayu bakar yang siap dijual kepada juragan ikan pindang. Sedangkan manfaat kayu bakar bagi para pemindang ikan, sebagai bahan bakar untuk memasak ikan. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean