Media Bawean, 2 Agustus 2013
Oleh: Sugriyanto (Dosen STAIHA-Gresik)
Renungan Ukhwah Wathaniyah
Para elit religius sebentar lagi akan melaksanakan acara rutin tahunan dalam forum atau sidang Isbath untuk menentukan permulaan tanggal 1 Syawal sebagai hari kemenangan kaum muslimin di bumi pertiwi Indonesia tercinta yakni kembali kepada kesucian (fitrah). Seluruh umat beriman Indonesia tanpa terkecuali seperti terlahir kembali zonder noda dan dosa baik dosa kepada Tuhannya maupun dosa kepada sesama, khususnya dosa kepada sesama bangsa Indonesia dalam paket Lebaran Idul Fitri. Penulis amat terkesiap dengan sebuah jargon iklan yang lewat dalam tayangan televisi dari produk rokok tertentu berbunyi “ Bersama tidak harus sama.” Makna secara lugas jinggle tersebut bisa diartikan menghargai adanya perbedaan (baca: kebhinnekaan) dalam skoupe berbangsa dan bernegara. Sehingga bangsa Indonesia yang pluralis atau majemuk ini dapat bersatu padu demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dicita-citakan bersama.
Sungguh luar biasa potensi kekuatan kaum muslimin Indonesia dengan jumlah relatif terbesar di muka bumi ini bila dapat menyatukan kekuatan energi spiritualnya dalam frame keagamaan di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia. Kita mendambakan elit religius baik kalangan cendekiawan maupun para ulama’ serta umara’ (pemerintah) harus tetap berijtihad mencari formulasi dengan hikmah sebagai terobosan anyar dalam memutuskan dan menetapkan perkara, khususnya perkara penetapan 1 Syawal 1434 H sebagai hari kemengan bersama umat Islam Indonesia dalam tajuk Hari Raya Idul Fitri. Tentu dengan tetap meminimalisasi keterlibatan hawa “nafsu” baik nafsu kepentingan golongan atau kelompoknya apalagi dalam nafsu politiknya. Kiai, ulama, cendekiawan, umara’ apapun lebel keilmuannya dari Sabang sampai Meraoke, sehebat apapun ilmu agamanya terutama tentang keislaman di dalam shalat mereka masih menyentuhkan dahi atau keningnya ke arah tanah di kala sujud mengingat asal muassallnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia itu “apes” atau rendah di hadapan Khaliknya. Maka tidak sepatutnya manusia merasa hebat, lebih pandai, lebih alim, lebih segalanya dari sesama. Tak terkecuali termasuk penulis yang amat naif ini pun kerap kali meneteskan air mata dalam sujud atas segala kelemahan dan kebodohan. Apalagi hal tersebut sudah dinashkan dalam Al-Qur’an surat Bani Israil atau Al-Isra’ ayat 85 yang artinya sebagai berikut.
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah “ Ruh itu urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.” (QS Al- Isra’ : 85).
Bila ditelaah pada akhir ayat tersebut terdapat arti kata sedikit menandakan keterbatasan pengetahuan manusia. Tak patutlah bila kita sebagai manusia selalu “pasang badan” di tele visi saat sidang isbath dengan dalil-dalil seakan-akan diri dan kelompoknya yang paling benar apalagi dieuforiakan dengan riuh rendah tepuk tangan dalam setiap akhir pemaparannya.Seolah-olah “akulah” orang Islam yang paling benar dan hebat. Sedangkan umat di bawah-umat kebanyakan- hanya mendambakan kedamaian, kekompakan dan persatuan sejati umat Islam dalam bernegara. Termasuk dalam sidang isbath penentuan 1 Syawal tanpa debat.
Tahun yang lalu adanya perbedaan penetapan 1 Syawal yang pernah dikisahkan oleh pemimpin agung atau imam besar Masjid Isiklal Jakarta bahwa ekses negatif adanya perbedaan penetapan 1 Syawal tersebut terhadap sebuah keluarga (suami-istri) yang beda madzhab atau paham hampir terjadi perceraian karena satu sama lain cekcok mempertahankan pendiriannya masing-masing. Masih banyak kasus lain yang rasanya tidak muat bila diungkap seluruhnya dalam tulisan ini. Gara-gara beda penetapan awal 1 Syawal komangdang takbir pun dalam mengagungkan asma Allah SWT. juga sama-sama ditahan (baca: terpending) karena alasan klasik toleransi dengan kelompok atau golongan muslim lainnya. Padahal kelak di akhirat Allah SWT. tidak akan pernah repot mempertanyakan manusia atau kaum beriman dari kelompok atau golongan mana pun. Justru itu di dunia ini tak patutlah mengagung-agungkan kelompok dan golongan apalagi membanggakan diri. Toh, akhir hidup ini adalah kematian yang akan menemukan kebenaran hakiki sesuai yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Anjuran jangan sombong dan jangan membanggakan diri sudah termaktub dalam surat Lukman yang artinya sebagai berikut.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri .“(QS Lukman : 18).
Sungguh penulis amat tercenung setelah membaca cerpen atau karya rekaan berjudul Robohnya Surau Kami yang ditulis oleh sastrawan sekaligus ulama Ali Akbar Navis. Cerpen tersebut menggambarkan umat Islam Indonesia yang taat beribadah diwakili tokohnya H. Saleh dan kawan-kawan dalam cerita berbingkai (cerita di atas cerita) itu dimasukkan oleh Allah SWT. ke dalam api neraka karena sikap egoismenya. Cerpen ini amat sangat menyindir namun membuat kita harus melepas senyum atas kekritisan dan kedalaman nilai-nilai religius yang digambarkan oleh A.A. Navis.Walau oleh “Paus” Sastra Indonesia yakni H. B. Jassin dalam buku Essey dan Kritik cerpen tersebut dianggap tidak memberikan jalan keluar atau pemecahan bagi umat Islam. Namun, sebagai karya sastra yang tidak berangkat dari kekosongan tentu tetap akan memperkaya khazanah pemikiran umat Islam Indonesia. Cuplikan cerpen “nyeleneh” itu dapat dipaparkan sedikit fragmennya sebagai bahan acuan pandangan penulis Islam dalam mengungkap kondisi bangsa Indonesia di akhirat. A.A. Navis menceritakan nasib H. Saleh dan kawan-kawannya yang taat beribadah. Bahkan H. Saleh sudah sembilan kali ke Mekkah namun tetap dicampakkan ke kerak api neraka.(naudzu billah tsumma naudzu billah). Dari dalam kobaran api neraka mereka hendak berdemonstrasi atau meresolusi bahwa Tuhan dianggap tidak adil. Perhatikan cuplikan berikut.(Setelah mereka berhasil keluar neraka menghadap Tuhannya}.
“Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan
“ Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.”
“ O, di negeri yang tanahnya subur itu?”
“Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.”
“ Negeri yang lama diperbudak negeri lain?”
“ Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu Tuhanku.”
“ Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?”
“ Benar. Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu”
“ Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu
orang lain yang mengambilnya, bukan?” Dan seterusnya ......” Kamu semua mesti masuk neraka.
Hai, malaikat halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.” (Robohnya Surau
Kami).
Permasalahan utama yang diangkat oleh A.A. Navis adalah tentang sikap egoisme bangsa ini. Sastrawan tersebut hendak mengingatkan atau menyadarkan kita untuk menanggalkan sikap mementingkan diri dan kelompoknya (egoisme). Jangan-jangan dengan tanpa disadari kaum penjajah punya cara lain untuk menyusupi pemikiran umat Islam Indonesia dengan menciptakan alat canggih berupa teropong benda-benda langit yang dianggap paling akurat dan cermat. Toh, kenyataannya elit religius di atas berdebat juga. Hingga saat ini pun belum menemukan titik sepakat. Padahal pada zaman dulu tanpa alat canggih itu umat Islam mampu melihat hilal di bawah sumpah. Aman-aman saja. Sekarang semakin ruwet dan membingungkan umat yang selalu menunggu kepastian.
Mestinya kaum muslimin yang besar dan kuat di bumi peninggalan para wali ini tidak seperti jumlah buih di lautan. Begitu banyak namun mudah diombang ambongkan oleh gelombang dahsyat pemikiran yang ujung-ujingnya tidak rela melihat umat beriman di Indonesia bersatu atau kompak. Terutama syaithan dan iblis dengan sumpah serapahnya untuk menggoda manusia lewat berbagai pintu kesesatan dan permusuhan (saling bunuh). Tatkala Allah SWT. menanyakan kepada Iblis tentang hamba Allah yang tidak dapat digoda oleh iblis lewat hawa nafsunya sekali pun hanyalah orang-orang yang mukhlis yakni orang yang mendapat taufik dan hidayah-Nya. Kita sudah mahfum bersama bahwa kaum beriman itu bersaudara. Sebagaimna firman Allah SWT. yang artinya sebagai berikut.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan rahmat.” (QS Al-Hujurat:10).
Usaha untuk menanggalkan segala bentuk atribut kelompok atau golongan dengan mengedapankan kepentingan umat yang lebih besar dan bangsa Indonesia tercinta ini dalam perjalanan ke depan hendaknya bisa duduk satu meja dengan kemesraan dan kegayengan dibarengi sedekah berupa untaian senyum kepada sesama. Dalam sidang isbath mendatang sikap itu hendaknya benar-benar menjadi warna karakter bangsa Indonesia yang lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan bukan kepentingan dan keyakinannya semata.
Sejenak mari menoreh kembali sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang pernah mengalami kejayaan yakni di masa para wali yakni kiprah Wali Songo yang diwariskan kepada penerusnya. Yaitu tertanamnya nilai-nlai kebersamaan dan kekompakan. Betapa berat rasanya Sunan Kali Jogo yang harus mengubah bentuk wayangnya pada acara peresmian Mesjid Agung Demak atas saran Sunan Giri Gresik tetap mau mengikuti masukannya demi kekompakan. Padahal sesuhunan-sesuhunan itu jelas pada garisnya yakni Islam tradisional dan garis Islam modernis. Walaupun dari kaca mata hukum bukan prinsip namun bentuk kerelaan wujud suatu kekompakan. Sepatutnya peristiwa itu menjadi teladan bagi kita umat Islam saat ini untuk mencontohnya.Bukan “pasang badan” dan arogansi keagamaan yang tercermin dalam “bahasa” verbal dan gesture yang nampak di televisi. Sepertinya kita telah melupakan sejarah kecemerlangan Islam masa lalu. (baca : Dahlan Asy’ari Kisah Perjalanan Wisata Hati oleh Susatyo Budi Wibowo). Luar biasa kedua tokoh besar Islam Indonesia sebagai suri teladan dalam membina kerukunan umat Islam di Indonesia hingga mencapai titik kulminasi yakni Indonesia merdeka. Janganlah menjadi bangsa yang mudah melupakan sejarahnya. Terutama sejarah kejayaan umat Islam. Hal ini diingatkan oleh Begawan sejarah dari Universitas Gajah Mada Jogjakarta yakni Prof. DR. Sartono kartodirdjo pernah mengatakan bahwa orang yang tidak tahu sejarahnya sendiri, berarti telah kehilangan kesadaran kolektifnya dan kehilangan kemanusiaannya, sehingga sama dengan pasien rumah sakit jiwa. (Mustakim,S.S: 2005: 3). Tokoh besar Islam Indonesia yang banyak mengikuti jejak para wali adalah Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan Kiai Hasyim Asy’ri pendiri Nahdhatul Ulama’. Kedua organisasi keagamaan tersebut sangat besar pengaruh dan kiprahnya dalam memajukan Islam di Indonesia. Namun, kebesaran itu jangan sampai menjadi kebanggaan utama karena bendera Islam dan cinta tanah air (hubbul wathan) lebih utama. Nasab keduanya ‘nyambung’ ke waliullah yakni Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik. Hanya gerakan Kiai Ahmad dahlan atau Muhammad Darwis basisnya di Kauman Jogjakarta sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari basisnya di Jombang Jawa Timur. Hingga saat ini kedua ormas keagamaan itu tetap eksis. Termasuk ormas keagamaan lainnya turut berkembang dinamis pula. Ini tentu berkat jiwa kebersamaan dan toleransi yang sama-sama dimilikinya.
Penulis juga iri dengan masa-masa orde baru di bawah kepemimpinan mantan presiden Soeharto (almarhum) mampu mempersatukan umat Islam. Jarang terjadi perbedaan penetapan hari besar islam khusunya Idul Fitri. Bahkan sehabis ashar hingga menjelang maghrib kaum muslimin di Indonesia kebanyakan sudah memukul beduk dan mengomandangkan takbir memuji kebesaran Ilahi setelah sebulan dalam tempaan puasa Ramadhan. Sehingga pengeluaran dan pembagian zakat fitrah tidak karut-marut dan tersalurkan seluruhnya karena tidak harus menunggu dan menunggu hasil keputusan sidang isbath yang lambat dan penuh debat. Termasuk kita iri dengan negeri jiran atau tetangga yang serentak dan kompak dalam perayaan hari raya Idul Fitri. Padahal di negeri jiran pun tidak sedikit paham dan golongan yang menjamur namun kerajaan atau pemerintah berkuasa mampu mengatasinya. Tentu hal ini harus dimulai dari i”tikad suci dan baik dari kaum muslimin Indonesia agar tetap bisa mesra bersama antara cendekiawan, ulama, kiai dan umara’ dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini menjadi negara yang diridai-Nya.
Betapa senang dan bangganya kaum Islam awam (umat di bawah) melihat elit religius di atas bergandengan tangan penuh kemesraan plus taburan canda dan senyum, bukan ketegangan yang abadi. Silahkan Bapak Din Syamsudin dan Bapak Said Aqil Siraj serta pemimpin ormas besar lainnya membawa gerbong ormas keagamaan masing-masing namun pemerintah (umara’) via kementerian agama yakni Bapak Surya Darma Ali (SDA) yang punya rel sebagai jalannya gerbong itu untuk menuju stasiun yang sama (Islam yang rahmatal lil alamin) dengan damai dan selamat. Berpeganlah pada tali Allah jangan bercerai berai termasuk dalam penetapan 1 Syawal duduk satu meja, kedepankan cintanya kepada Tanah Air Indonesia dengan membawa umat dalam kekompakan. Sehingga sidang isbath penetapan awal 1 Syawal sebagai hari Raya Idul Fitri 1434 H tahun ini dapat ditemukan benang merahnya. Silakan hisab, rukyatul hilal bareng-bareng dalam satu teropong Islam. Penulis juga menyakini dan percaya bahwa perbedaan atau khilafiayah itu rahmat. Namun, persamaan itu juga nikmat. Semoga.