Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » , » Membuka Jendela Bawean di Surabaya
Diaspora dan Perlu Otoritas Khusus

Membuka Jendela Bawean di Surabaya
Diaspora dan Perlu Otoritas Khusus

Posted by Media Bawean on Rabu, 20 November 2013

Media Bawean, 20 November 2013


Seminar "Bawean Dalam Perspektif Masyarakat" diselenggarakan di Hotel Halogen Surabaya (16/11/2013), oleh pelaksana PUKAD - HALI. Hadir pembicara di sesion kedua, yaitu M.Riza Fahlevi (Wakil Pimpinan Redaksi Batam Pos), Dr.H.Tjuk K. Sukiadi, SE. (Pengamat Ekonomi Unair) dan H.Zaenal Abidin (Direktur Atria Tours & Wisata, PT. Andromeda Atria Wisata ).

M. Riza Fahlevi dalam menyampaikan makalahnya menyatakan bingung dengan kebijakan pemerintahan Gresik untuk pembangunan di Pulau Bawean. "Dari dahulu konsep pembangunan di Pulau Bawean selalu berubah-rubah, mulai dari pengembangan agraria untuk pertanian, perikanan dan sekarang pengembangan pariwisata,"katanya.

Semenstinya menurut Riza, Pemkab Gresik perlu mempelajari dan mendalami terdahulu sebelum menentukan program pembangunan di Pulau Bawean. "Mencontoh Pemko Batam, merintis dari kecamatan tertinggal sampai menjadi pemerintahan kota melalui ide cemerlang BJ Habebe, yaitu sebagai kota penyanggah dari negara Singapore,"ujarnya.

"Karakteristik masyarakat Pulau Bawean adalah perantauan atau dikenal sebutan diaspora. Sudah turun temurun warganya sudah suka merantau ke manca negara, termasuk tersebar diseluruh daerah di Indonesia,"paparnya.

"Semestinya Diaspora dimanfaatkan untuk pengembangan pembangunan di Pulau Bawean. Pemerintahan Gresik melakukan hubungan dan kerjasama dengan warga Bawean di berbagai negara dan daerah untuk menentukan kebijakan pembangunan di Pulau Bawean. Setelah terjalin hubungan kerjasama yang baik, secara otomatis pengembangan wisata akan terdongkrak dengan sendirinya,"jelasnya.

Sementara ini, menurut perantau di Batam yang aktif sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Batam Pos, mengaku kecewa dan tersiksa bila akan ke kampung halamannya di Pulau Bawean. "Tersiksa dan sungguh tersiksa, seperti tawanan perang bila akan pergi ke Pulau Bawean,"tuturnya.

"Perlu adanya pelayanan bagus dibidang transportasi laut yang menghubungkan Gresik - Pulau Bawean, agar tidak mengecewakan setiap ada warga atau keturunan Pulau Bawean akan pulang kampung. Termasuk tidak mengecewakan kepada pengunjung yang ingin berwisata ke Pulau Bawean,"imbuhnya.

Dr.H.Tjuk K. Sukiadi, SE. dalam pemaparan makalahnya berpendapat untuk kemajuan Pulau Bawean diperlukan adanya kewenangan khusus dari pemerintah Gresik yang diserahkan sepenuhnya kepada camat di Pulau Bawean.

"Camat diberikan otoritas untuk melaksanakan tugasnya sesuai kebutuhan masyarakat di Pulau Bawean. Bila terjadi sesuatu tidak harus menunggu persetujuan dari Gresik, dikarenakan prosesnya akan memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya,"ungkapnya.

H. Zaenal Abidin sebagai nara sumber ketiga mengajak kepada seluruh peserta seminar untuk menghormati yang tua di Pulau Bawean. "Mari kita harga perjuangan tokoh di Pulau Bawean, jangan dilunturkan dikarenakan dekadinsi moral anak muda,"tegasnya.

Menurutnya melihat situasi dan kondisi di Pulau Bawean, sepertinya sudah banyak perbedaan dengan terdahulunya. "Seperti anak mengaji di mushollah sudah mulai berkurang, lebih banyak bermain daripada belajar agama kepada sang kyai,"pungkasnya. (bst)

Bersambung......

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean