Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » , » Dhurung Bawean Nasibmu Kini
Unik Diburu Kolektor Mancanegara

Dhurung Bawean Nasibmu Kini
Unik Diburu Kolektor Mancanegara

Posted by Media Bawean on Sabtu, 05 April 2014

Media Bawean, 5 April 2014

Satu per satu ciri khas budaya masyarakat Kepulauan Bawean terancam punah. Salah satunya bangunan adat Dhurung atau bangunan tempat beristirahat yang ada di depan rumah. Sebagian besar bangunan Dhurung peninggalan nenek moyang warga Bawean kini menjadi buruan kolektor bangunan antik, dari dalam maupun luar negeri.

BAWEAN memang memiliki keunikan dibanding wilayah lain di Kabupaten Gresik. Karena lokasinya yang terpisah 81 mil laut di Utara Pulau Jawa serta Gresik daratan, Kepulauan Bawean memiliki ciri khas untuk mengenal budaya masyarakatnya.

Jika di Pulau Jawa, khususnya warga Jawa Timur dan Jawa Tengah, mereka memiliki rumah adat Joglo lengkap dengan bayang atau tempat berkumpul, hal serupa juga ada di Kepulauan Bawean. Di Bawean, rumah adat mereka bisa diketahui dengan keberadaan Dhurung.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Olah Raga Gresik, Siswadi Aprilanto menjelaskan, Dhurung adalah nama dari sebuah gubuk tak berdinding yang terbuat dari kayu atau bambu. Atapnya berupa rumbai yang terbuat dari daun pohan yang dalam bahasa Bawean disebut pohon dheun.

Dalam tradisi masyarakat Bawean, bangunan Dhurung ini digunakan sebagai tempat beristirahat, menghilangkan lelah sehabis pulang dari sawah atau ladang.

Seperti halnya bayang dalam rumah adat Jawa, maka Dhurung ini juga menjadi tempat sosialisasi dengan tetangga sekitar atau tetangga kampung. Bahkan, tak jarang, digunakan sebagai tempat untuk mencari jodoh.

Biasanya, tempat ini diletakkan di depan atau di samping rumah. Terkadang, jika ukurannya besar, Dhurung ini berfungsi ganda. Selain fungsi di atas, separuhnya atau di bagian atasnya dibuat sebagai lumbung padi.

Di beberapa perkampungan lama di Kepulauan Bawean, baik yang ada di Kecamatan Sangkapura maupun Tambak, Dhurung hampir pasti dibangun di setiap rumah. Hal ini juga menunjukkan identitas dan pergaulan sosial pemiliknya. Mereka membuat Dhurung untuk melestarikan peninggalan nenek moyang, juga sebagai tempat mereka bersosialisasi.

Abdul Basit, tokoh muda Bawean menyebut, bangunan Dhurung punya nilai seni ukir yang indah dan tidak bisa ditiru. Juga memiliki fungsi serba guna. Masing-masing sebagai lumbung tempat penyimpanan padi dan tempat beristirahat. Ini disebabkan, bangunan Dhurung biasanya bersatu, antara tempat istirahat dan tempat penyimpanan padi.

Sebagai tempat penyimpanan padi, Dhurung juga dilengkapi jhelepang -semacam jebakan yang tidak bisa dilewati tikus sebagai hama pengganggu tanaman padi.

Hanya saja, saat ini keberadaan Dhurung di Kepulauan Bawean sudah jarang terlihat. Terutama, di pemukiman yang baru dibuka dan penghuninya yang mayoritas pasangan muda. Mereka mulai meninggalkan tradisi membangun Dhurung sebab tidak memiliki area sawah untuk menyimpan padi, serta lahan tempat tinggalnya yang terlalu sempit.

Menurut Abdul Basit, warga Bawean yang memiliki bangunan Dhurung tinggal 30 persennya saja. “Sebagian besar dibeli warga pendatang, dibawa keluar Kepulauan Bawean,” katanya. Dulu, di tahun 1980-an, hampir setiap rumah, memiliki Dhurung yang dibangun di depan rumah. Namun, sebagian besar saat ini sudah menghilang.

Bangunan itu sebenarnya tidak hilang, namun dijual seharga Rp 5 juta - Rp 6 juta kepada warga Bawean lainnya maupun warga pendatang. “Kelangkaan Dhurung di Kepulauan Bawean secara otomatis menaikkan harganya ,”jelas Abdul Basit. (*/ris/c4)

Sumber : Radar Gresik

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean