Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Memoar : Lima Tahun Sudah Khairul Anwar Bersama Paus (Bagian 1)

Memoar : Lima Tahun Sudah Khairul Anwar Bersama Paus (Bagian 1)

Posted by Media Bawean on Senin, 06 Februari 2017



TULISAN SUGRIYANTO

Kisah ini terungkap kembali secara utuh saat saya bertemu dengan seorang Khairul Anwar atau nama kesehariannya Khairul di sebuah warung makan kawasan dermaga pelabuhan Bheringenan Desa Sungaiteluk beberapa waktu lalu. Pada waktu itu tepat lima tahun kejadian yang menimpanya. Pertemuan saya dengannya sebatas kebetulan saja. Kebetulan sama-sama hendak menikmati hidangan berbayar di warung makan siap saji. Hari itu Sabtu tanggal 28 Januari 2017 sesudah lewat waktu asar. Khairul tengah duduk di meja bagian barat dengan setepok rokok bermerek 234 beserta korek gas bawaannya menggeletak di meja warung makan tersebut, sedang saya berada di meja bagian sebelah timur sama-sama duduk menyendiri. Bagian muka warung itu menganga ke arah selatan lurus ke pantai dermaga. Tiupan angin kencang dan derasnya hujan kala itu cukup kentara kedahsyatannya. Saya memutar haluan ke arah barat dan Khairul pun memutar badan ke arah timur saling berhadapan. Awalnya saya tak hendak mengungkap masa lalunya yang penuh dengan rasa trauma itu, namun pertemuan ini seperti tak mau disia-siakan. Ini mungkin sebuah pertemuan yang menjadi biang kesempatan untuk menggali pengalaman sedih yang harus Khairul tanggung hingga saat ini. Khairul mengungkap dengan perasaan dan ujaran yang amat terbata-bata disertai tetesan air mata sebagai bawaan kejadian masa lalunya dalam bayangan nostalgia keharuan abadi.

Waktu itu hujan dan angin menggila. Cerita terus mengalir laksana aliran sungai dari sebuah puncak bukit melalui cela-cela himpitan batu menuju muara kebenaran sejati. Warung makan siap saji itu berada tepat di depan Hotel Intan dusun Bheringenan. Posisi warung makan itu sedikit “menyembeng” ke arah timur dari letak Hotel milik Bapak H. Gabun itu. Setegar batu karang saya mendengarkan penuturannya pun turut runtuh remuk dibuatnya. Kisahnya pun penuh dengan pengalaman dari seorang Khairul yang mengalami sendirian selama tiga hari dua malam berada di lautan lepas tanpa ada perahu, kapal, atau sampah laut yang menemani. Bintang dan bulan pun tak mau menampakkan diri. Angin barat dan hujan merundung sejadi-jadinya seperti mengganjar saja. Ke mana Khairul harus mengadu? Kepada siapa pula Khairul berseruh? Di malam gelap dan siang mendung membuat perasaan Khairul terus dihantui rasa ketakutan dan keputus asaan bahwa dirinya akan mati ditelan ganasnya gelombang lautan lepas. Sekujur tubuhnya kelak akan menjadi santapan ikan laut yang akan mengeroyoknya, termasuk deretan paus besar yang tak mau menjauh dari sisi Khairul selalu seperti mau menyantap daging Khairul yang sudah mengkerut berwarna keputihan akibat merendam selama tiga hari dua malam tanpa menjumpai terik mata hari sedikitpun. Kisah utuhnya adalah demikian.

Sehari sebelum Khairul melaut dengan sampan klotoknya untuk ”nyembak” atau ”nonongkol” alias ngepal, ia mendapat banyak ikan tongkol sebagai hasil tangkapannya. Menurutnya angin santer merupakan berkah terhadap perolehan rezekinya. Betapa tidak, hasil tangkapannya laku keras dengan harga relatif agak mahal. Khairul ingin mengulang kembali untuk meraup rezeki yang lebih banyak lagi dalam usaha melautnya. Pengakuan alam sadar dari seorang Khairul bahwa hal ini menandakan wujud keserakahan manusia yang memang tidak disadarinya kala itu. Dasarnya adalah sebuah kesenangan yang memang tidak dapat dibeli dengan apapun mahalnya, termasuk nyawa satu yang dimiliki Khairul sebagai taruhannya. Sebelumnya Khairul sudah tahu bahwa pemerintah secara resmi mengeluarkan warning tentang pelarangan melaut bagi para nelayan dan pelayaran, termasuk kapal-kapal milik PT. Pelni pun tidak diperkenankan untuk mengarungi samudera Indonesia karena ketinggian gelombang laut mencapai tujuh meter bahkan lebih. Tatkala menyebut ketinggian gelombang Khairul menunjuk dengan jari tangannya ke arah wuwung (Bawean: bubung,red) Hotel Intan. Sampai-sampai debar hati saya turut berdegup merasakan betapa mengerikan bila dihantam gelombang setinggi itu. Saya dan Khairul sama-sama mendongak ke atas puncak atau wuwung Hotel Intan sambil sesenggukan bersama.

Tepat pukul dua siang sesudah duhur Khairul meninggalkan rumah dengan bekal seadanya. Hasil penjualan ikan tongkol yang didapat sebelumnya sudah cukup untuk mengganti pembelian ”sango-sango” buat melautnya. Adanya bawaan di wadah berupa potongan cerigen putih berselempangkan tali tampar kusam itu sepenggal bekal alat pancing atau ”pamolo”, sepotong roti lembut berlapis dengan merek ”Paulus”, rokok, dan sebotol kopi panas disambinya. Sebelum berangkat melaut tidak ada firasat apa-apa pada dirinya. Anak istri sudah dipamitinya. Ia berjalan sendirian tanpa alas kaki penuh semangat demi sesuap nasi dan kepulan asap dapur keluarganya. Sisa penjualan ikan tongkol hasil tangkapannya pun dapat menyokong keperluan ongkos sekolah anaknya yang masih kecil itu. Sebagai tulang punggung keluarga Khairul tabah menghadapi garis nasib yang harus bergelut dengan keganasan laut di perairan lepas pantai Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur. Waktu itu Khairul melaut bersama sampan klotoknya yang memang hampir kedap air di seluruh bagian badan klotok. Bersama rekan lainnya Khairul mengemudikan sampan klotoknya dengan sedikit menaikkan tarikan gas mesin penggeraknya hingga melaju mendahului rekannya yang lain. Khairul bersama sampan klotoknya berada di garis ombak terdepan. Tatkala Pulau Bawean terlihat samar dari pandangannya, perolehan ikan tongkol cukup lumayan. Sepuluh ekor sudah dimasukkan dalam ”cekgung” sampan klotoknya. Antara Khairul dan teman sesama penyembak ini saling berjauhan jaraknya. Walau terlihat samar-samar mereka sudah bersepakat untuk saling mengingatkan sesama pengguna sampan klotok bila terjadi keadaan cuaca yang mendadak kurang bersahabat atau mengancam keselamatan sesama nelayan. Khairul pun masih melihat dari kejauhan posisi rekan nelayan yang sudah mulai memutar haluan sampan klotoknya menuju arah Pulau Bawean akibat cuaca ekstrem saat itu. Rupanya ikan tongkol terus berebut mengait di pamolo atau deretan pancing berbulu ayam milik Khairul. Tiba-tiba saja badai lautan lepas mengamuk sejadi-jadinya. Hujan lebat pun menjadi tirai penghalang pandangan Khairul terhadap keberadaan teman seperjuangan yang sudah berbalik menuju bibir pantai Pulau Bawean di Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura. Biasanya, sebelum magrib seluruh sampan klotok sudah menepi di bibir pantai Songaitopo. Kabar kehilangan Khairul hari itu menjadi gempar seketika. Ramai orang turut membicarakan, tak terkecuali pihak terkait dengan kondisi cuaca menyatakan bahwa sudah ada peringatan pelarangan melaut masih saja diterabasnya. Demikian akibatnya bila tidak mau mematuhi warning itu.

Apa yang terjadi sebenarnya pada sampan klotok milik Khairul pada waktu genting itu? Sebenarnya Khairul sudah mau balik kucing untuk tidak melanjutkan melayani godaan ikan tongkol yang terus menggelitiki hati girangnya. Ternyata, alamat yang terjadi pada mesin sampan klotok Khairul pecah bagian bloknya. Mendadak mesin mati dan sudah tidak bisa berfungsi lagi. Saat itu pula tiang sampan klotoknya patah akibat hempasan gelombang yang membukit serta tiupan angin dan hujan yang terus menderanya. Biasanya, Khairul melaut selalu membawa layar sebagai cadangan pengganti bila mesin ngadat atai mati. Hari itu tidak dibawanya. Cadangan layar itu dikibarkan bila ada gangguan pada mesin sampan klotoknya. Menghadapi gempuran gelombang yang menyangrai sampan klotoknya Khairul merasa ketir. Seorang Khairul dengan sampan klotoknya sendirian tidak tahu lagi sudah berposisi di mana. Khairul mencoba menurunkan sauh berupa jangkar kecil yang berada di depan sampan klotoknya agar bisa menahan laju sampan akibat terjangan badai. Tali pengikat jangkar rupanya sudah tidak jajak lagi dengan ke dalaman laut lepas dan ganas itu. Sebentar-sebentar Khairul menguras air laut dan air hujan yang terus memenuhi lambung sampan klotok di kegelapan malam sendirian. Kepada siapa Khairul harus mengeluh, mengadu, bahkan meminta pertolongan. Bibirnya mulai membiru mengerut, jari-jari tangan dan kaki memutih laksana cicak di dinding yang kehabisan darah. Sekujur tubuhnya gemetar kedinginan akibat hujan yang tak mau reda. Panasnya air kencingnya pun hampir tak terasa hangatnya dari potongan celana jinnya. Sekujur tubuh Khairul menggigil seperti hendak didatangi malaikat pencabut nyawa di malam gela-gulita itu.Jangankan untuk berdiri, duduk pun sudah tidak kuasa lagi akibat rasa dingin dengan gemetaran badan. Perut mulai mengeroncong. Sepuluh ikan hasil tangkapan diikatnya pada sekeping papan buat persiapan cadangan makan selama dalam pengapungan yang belum dapat diketahui kapan akan berakhir. Rasa ngeri disertai hujan air mata memelas sendiri tanpa ada siapa pun untuk berbagi. Khairul seperti seekor semut di atas pelapah kayu kering di tengah lautan lepas. Sunyi-sesunyi sunyinya dialami dan dirasakan sendirian.

Sepanjang malam Khairul terus berusaha agar sampan klotoknya tidak terbalik oleh hantaman badai laut. Roti sisa bawaannya masih bisa dimakan sekebir-sekebir dengan cara ”utik-utik” agar cadangan kekuatan tubuhnya bisa bertahan. Korek api gas masih terselip di saku celananya sebagai penyulut untuk membakar satu-persatu deretan ikan tongkol yang sebelumnya sudah terikat di sekeping papan lepasan. Ijuk kelapa yang tersimpan dalam kabin sampan klotoknya yang kedap air itu juga menjadi cadangan persiapan pembakaran. Bila memang tidak memungkinkan untuk dibakar, ikan tersebut akan disantap mentah-metah saja. Di malam pertama Khairul masih diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. Berkali-kali pula Khairul menyebut asmanya. Perasaan kesepian dan menakutkan di kesendirian itu membuat Khairul harus menangis mengiba-iba terutama kepada segerombolan ikan paus untuk tidak memangsanya. Seraya Khairul berujar lirih sambil menatap kepungan ikan paus yang terus mendekatinya ”Mak…Mak…Doakan Mak, ikan temani aku…temani aku…”. Terus saja Khairul meminta doa ibundanya karena satu-satunya doa dan harapan berada dimulut orang tua perempuannya yang masih hidup sebagai bisikan dari hati terdalamnya.

Menjelang subuh Khairul mulai melihat adanya seberkas sinar yang akan menemani dirinya setelah semalam tak mampu melihat apa pun karena gelapnya malam. Harapan Khairul di siang itu ada perahu atau kapal akan berlalu di sekitarnya. Pada waktu itu rasanya tidak mungkin akan ada pelayaran karena ketinggian gelombang laut masih berada di kisaran tujuh meter dengan angin dan hujan terus menggempur samudera. Apa yang akan diperbuat Khairul di sepanjang siang itu. Rupanya Khairul sudah berada di antara Kalimantan dan Sulawesi. Hal ini terlihat dari air laut separuh berwarna keruh dan separuhnya berwarna biru pekat. Khairul terus menahan rasa lapar dan rasa lelah yang harus dideritanya. Air hujan menjadi pelepas dahaga untuk menambah energi yang sudah berada di ambang penghabisan. Sampan klotok terus terombang ambing mengikuti ke mana tiupan arah angin. Saat malam mulai akan tiba kembali perasaan mencekam mulai merasuki dirinya. Ia mengebiri sisa sepotong roti. Sepanjang waktu di malam kedua itu perasaan Khairul sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Mungkin garis hidup Khairul akan berakhir di malam kedua itu. Lemas tubuh sebagai pemicu ketidak berdayaannya. Segerombolan ikan paus besar kembali mengitarinya berputar-putar di sekitar sampan klotoknya. Bahkan seekor yang terbesar mendekat seperti hendak menyergapnya. Khairul pun berseruh mengiba-iba kembali ”Jangan makan saya ikan…kancai saya ikan…kancai saya ikan…!”. Rupanya ikan paus pun terus mengawal kemana arah sampan klotok Khairul bergerak mengambang. Ini wujud pertolongan Allah SWT kepada Khairul melalui makhluknya berupa ikan paus. Padahal Khairul tahu bahwa cara makan ikan paus tinggal menganga saja sudah cukup untuk menelan seorang Khairul. Harapan dan angan-angan Khairul agar segara ada kapal lewat untuk memberikan pertolongan di siang hari kepadanya hampa belaka. Sampai malam pun tiba tak ada kapal yang berlalu. Malam datang menjelang kembali. Rasa ketakutan di malam gelap itu semakin memagut jangan-jangan sampan klotok yang ditumpanginya dilibas oleh kapal besar karena kegelapan malam. Bila demikian, tamatlah riwayat hidup Khairul dalam usaha mencari selamat untuk tetap bertahan dalam lautan kebimbangan.

Menjelang subuh di malam kedua, Khairul sudah benar-benar tak berdaya. Sebuah pelampung kecil sisa yang disimpannya dikenakan di antara kedua ketiaknya. Tenaga untuk mengenakannya pun sudah tinggal sisa belaka. Nafas nyawanya sudah mendekat di tenggorokannya. Sekitar pukul 08.00 pagi dari arah kejauhan muncul sebuah kapal besar terlihat samar. Khairul duduk menguatkan diri mengibarkan apa yang bisa dikibarkan sebagai pemberi aba-aba meminta pertolongan. Setelah nampak mendekat, kapal itu berlalu menjauh entah kemana tujuan dan arahnya. Harapan Khairul untuk mendapat pertolongan hampir pupus. Ternyata, kapal berbendera Philipina itu memutar haluan kembali mendekati Khairul sekitar pukul 08.30 dengan melemparkan tali sebagai usaha untuk memeberikan pertolongan. Jarak ujung tali yang sudah jatuh ke air laut dari atas anjungan kapal dengan sampan klotok Khairul masih menjadi pertimbangan rasa bimbangnya. Apakah Khairul akan melompat dari sampan klotoknya karena tak punya tenaga lagi atau tetap bertahan di atas klotok hingga meregang nyawa dengan perhitungan jarak yang relatif jauh menurut ukuran orang yang sudah tidak memiliki daya berenang itu. Babak dramatis ini cukup menegangkan pada diri seorang Khairul. Sepintas kapal MV. Ovel itu menjauh kembali memutar haluan. Untuk yang kedua kali ini kapal mendekat dan melempar tali kembali serta menghidupkan baling-baling di bagian lambung untuk menyedot diri seorang Khairul yang sudah lemas kehabisan energi. Rasa mencekam dan takut menghantui Khairul kembali setelah nekat melompat penghabisan dari sampan klotoknya. Tidak ada jalan lain keculai nekat melompat walau lemparan tali itu tetap jauh. Pikiran Khairul menggelayut bahwa dirinya akan termakan dan masuk pada kekuatan sedotan baling-baling kapal. Hancur dan jadi lumuran darah sekiranya tubuh Khairul harus masuk dalam pusaran arus kuat baling-baling kapal penolong tersebut yang besarnya menandingi alun-alun kota Sangkapura. Setelah tali tergenggam di tangan Khairul sekenanya pula melilitkannya pada bagian kedua ketiaknya. Kapten kapal memberi aba-aba untuk menyetop putaran baling-baling itu sesudah dipastikan Khairul benar-benar berpegang pada tali pertolongan.

Para ABK kapal MV. Ovel itu bersama-sama menarik tali yang telah diikatkan oleh Khairul di ketiaknya. Mereka dengan rasa kemanuasiaannya benar-benar memberikan pertolongan terhadap anak manusia sesama pelaut apalagi. Ketinggian kapal mencapai belasan meter itu membuat badan Khairul tergerek naik tak ubahnya bendera dalam upacara dengan iringan nyanyian kedukaan. Khairul menggantung seperti timba dalam sumur yang ditarik ke atas. Adegan asli ini persis seperti pengangkatan tujuh jenderal yang dimasukkan oleh PKI ke lubang buaya. Ingat wahai bangsa Indonesia betapa keji dan biadab perlakuan PKI itu. Manusia Philipina ini benar-benar manusia berhati mulia membantu orang tanpa melihat asal kebangsaannya. Terangkatlah Khairul dengan selamat. Sesampai di atas gladak kapal, Khairul sudah tidak sadarkan diri karena merasa seperti dalam mimpi saja setelah mendapat pertolongan. Semua awak kapal turut menangisi dengan terseduh-seduh sambil sibuk memberikan pertolongan. Mungkin rasa empati mereka sebagai rasa solidaritas sesama manusia dan sesama pelaut yang nasibya nanti tidak akan jauh beda dalam menghadapi musibah atau bencana di laut. Khairul didetek tentang keberadaan nyawanya. Setelah dipastikan Khairul masih bernyawa, Sang Kapten memerintahkan kepada para ABK agar Khairul dibawa segera ke kamar mandi air hangat untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang sudah mengkerut atau ”kerker” pucat pasih bak cicak putih setelah tiga hari dua malam bergelimang dengan air hujan dan simburan gelombang laut yang menggila itu.

Sedikit-demi sedikit kondisi Khairul mulai beranjak pulih. Ia dibopong menuju kamar VIP di lantai tujuh sebagai kamar kapten. Tingginya lantai tujuh itu minta ampun. Betapa berat rasanya tubuh Khairul harus menaiki tujuh tingkatan dek kapal bagian buritan dengan kondisi badan yang baru mandi air hangat itu. Susu dan makanan kaleng serta hidangan berbagai macam buah segar sebagai asupan utama menjadi sesuatu yang amat berharga untuk diri seorang Khairul. Khairul melihat di gladak pertama saat di tarik tambang luasnya persel bisa untuk lima helipad saking luasnya kapal berbendera Philipina itu. Sekitar delapan sel dek itu menghampar. Sedikitpun kapal tak bergeming walau dihantam badai terbesar kala itu. Kecepatan kapalpun hampir setera dengan kecepatan kapal cepat Expres Bahari yang ada selama ini. Setelah Khairul dinyatakan sadar mulailah perbincangan terjadi. Kapten dan ABK semua berbahasa Inggris. Pertama yang ditanyakan kepada Khairul meliputi nama, alamat, dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Sebagai bekal pendidikan di SMA dulunya Khairul mulai menjawab dengan menggunakan bahasa Inggris sengerti dan sebisanya. Dalam jangka waktu hampir sehari itu Khairul diperlakukan layaknya keluarga sendiri. Sementara, di rumahnya di Sawahdaya sudah diadakan selamatan dan tahlil keluarga karena sudah tipis harapan untuk keselamatan nyawa Khairul dengan melihat kondisi yang memang gawat kala itu. Anak dan istri sudah hampir kehabisan air mata yang meratapi dan menangisinya. Warga sudah berbela sungkawa yang mendalam atas peristiwa yang telah menimpa keluarga diri seorang Khairul. Berkali-kali istri Khairul memeluk anaknya dengan derai tangisan yang sama menggebu-menggebu. Setelah tiga hari berlalu tiba-tiba berita mengejutkan sampai kepada keluarganya lewat telepan bahwa Khairul masih hidup setelah ditolong oleh kapal MV. Ovel berbendera Philipina. Ternyata dari atas kapal di lautan zona internasional itu Khairul sempat melakukan kontak dengan pihak keluarga atas kemurahan para awak kapal. Bahkan hand phone yang dipakai untuk berkomunikasi itu sekaligus diberikan kepada Khairul untuk dapat terus digunakan berkomunikasi dengan pihak keluarga. Sungguh baik dan dermawan manusia Philipina itu. Khairul sempat diperlihatkan keadaan dirinya bersama sampan klotok yang terlihat di radar kapal seperti biji korek api. Bahkan, setelah itu beberapa awak kapal dan kapten memberi cindera mata berupa uang Philipina yang hingga saat ini masih menjadi azimat kenangan yang tak akan pernah terlupakan menyelinap di lopak-lopak atau dompet Khairul. Di atas lembaran uang kertas tersebut tercantum nama-nama ABK dan Kapten MV. Ovel beserta tanda tekennya. Kenangan lain yang masih diingat oleh seorang Khairul sebagai sisi kemanusiaan yaitu adanya keingin-tahuan mereka terhadap apa yang telah dilakukan Khairul selama ini hingga mengalami nasib tragis seperti saat itu. Setelah Khairul menjelaskan secara menyeluruh kepada mereka jalan penghidupannya, justru mereka tertarik dengan cara untuk mendapatkan ikan tuna atau ikan tongkol seperti yang dilakoni Khairul selama itu. Mereka meminta tahu cara menangkap ikan tongkol versi masyarakat nelayan Pulau Bawean. Mereka mengeluarkan pancing besar ukuran tak wajar beserta senar atau tali nilon ukuran besar pula. Beberapa tas rangsel miliknya mereka gunting-gunting halus menyerupai rumbai atau serabut halus sebagai pengganti bulu ayam yang dimaksud dengan pemberat sebagai timbangan berupa potongan besi yang akan dilempar dan dibawa lari kencang bersama MV. Ovel selama pengarungan antarasamudera. Dalam diri seorang Khairul melintas tangisan dalam hati agar jangan sampai pancing besar itu dimakan paus karena ikan tersebut telah berjasa menjaga dirinya dari ancaman hewan buas laut lainnya. ”Terima kasih kepada semuanya, khusunya kepada Kapten dan ABK MV. Ovel dari Philipina, tak terkecuali kepada Mak Amaniyah tercintanya atas doa ijabahnya dan ikan paus atas penjagaannya.” Tabahkan wahai sobat….

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean