Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label KORAN DUTA MASYARAKAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KORAN DUTA MASYARAKAT. Tampilkan semua postingan

Genjot Internet Pedesaan

Media Bawean, 11 Juli 2009

Sumber : Duta Masyarakat

Pemkab Gresik menyiapkan anggaran awal dari APBD sebesar Rp 400 juta untuk memperluas jaringan internet ke desa-desa. Ditargetkan pada 2010 mendatang, sebanyak 60 desa dari 356 desa di Kab Gresik sudah ada jaringan internet.

"Pengembangan jaringan internet ini sangat diperlukan, karena selama ini jaringan internet di Gresik masih minim, apalagi Gresik dikenal sebagai kawasan industri,"ujar Sekda Gresik Husnul Khuluq, kemarin.

Khuluq menandaskan, terkait perluasan jaringan internet, pihaknya akan memprioritaskan daerah-daerah yang dekat dengan kawasan industri, perkantoran, dan pendidikan.

Sasaran awal program ini meliputi tiga wulayah yakni Kecamatan Gresik, Kebomas, dan Manyar. "Pengembangan jaringan internet hingga ke pelosok desa ini sangat diperlukan apalagi menghadapi era globalisasi seperti sekarang," kata dia.

Selama ini, lanjut Khuluq, jaringan internet yang ada baru sebatas di lingkungan pemkab, belum sampai ke tingkat kelurahan hingga kecamatan.

Dengan pengembangan jaringan internet hingga ke pelosok desa setidaknya bisa mendukung Pemkab Gresik dalam mengakses setiap informasi terbaru di setiap kecamatan hingga kelurahan.

"Selain untuk kecamatan yang ada di Gresik, ke depan jaringan internet juga akan dikembangkan di Kecamatan Sangkapura dan Tambak yang ada di Pulau Bawean," tandasnya. ndik/dir

Demam Berdarah Serang Bawean

Media Bawean, 27 Mei 2009

Sumber : Duta Masyarkat
GRESIK- Serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) ke Pulau Bawean seakan tak mau dicegah. Meski pemerintah setempat telah melakukan penyemprotan (fogging), tetap saja ada saja warga yang menjadi korban.

Indah Aprilia, misalnya. Karena DBD, gadis belia 7 tahun ini terpaksa dibawa ke Gresik dengan naik kapal Ekpress Bahari 8B. "Saya curiga, anak saya digigit nyamuk demam berdarah saat berada di sekolahnya (SDN Tambak 1 Bawean, Red),"Kopral Mardiono, orang tua korban yang tinggal di Desa Pekalongan Kecamatan Tambak Bawean, kemarin.

Kecurigaan Mardiono terbit karena di sekolah tersebut sebelumnya ada yang terkena demam berdarah. "Apalagi, menurut dokter, trombosit anak saya sudah menunjuk angka 64.000, sehingga harus mendapatkan perawatan di RSUD Ibnu Sina Gresik," ungkapnya.

Mengetahui kejadian tersebut, Wakil Bupati (Wabup) Gresik, Sastro Soewito, yang waktu itu berada di Bawean untuk meresmikan gabungan kelompok tani Bawean, langsung melihat kondisi pasien penderita DBD.

Wabup juga langsung berkoordinasi dengan RSUD Ibnu Sina dan meminta rumah sakit tersebut serius merawat pasien DBD dari Bawean.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Ibnu Sina Gresik dr Dyah Widowati, mengatakan, pasien DBD dari Bawean telah dirawat dengan intensif. "Alhamdulillah, dia dinyatakan sembuh dan besok Rabu (hari ini, Red) sudah bisa pulang," tandas Widowati sembari mengatakan hingga saat ini masih ada empat pasien DBD tengah menjalani perawatan. (dik)

Perangkat Nakal Terancam Sanksi

Media Bawean, 22 Mei 2009

Sumber : Duta Masyarakat

GRESIK - Banyaknya oknum perangkat desa maupun kecamatan yang nekat menarik pungutan dalam pembuatan Kartu tanda Penduduk (KTP) membuat Dinas kependudukan (Dispenduk) geram. Sebab, berdasar Perda No 1 Tahun 2009 tentang pelaksanaan administrasi kependudukan, tidak ada biaya sepeser pun dalam pembuatan KTP. Biaya hanya dikenakan bagi pemegang KTP yang telat melakukan perpanjangan.

"Denda sebesar Rp 5 ribu berlaku ketika pemilik telat memperpanjang hingga satu minggu," ujar Kepala Dispenduk, Sutarto, kemarin.

Karena itu, Sutarto mengingatkan oknum yang masih menarik pungutan dalam pembuatan KTP untuk segera berhenti melakukan praktik tersebut. Jika tidak, para perangkat 'nakal' ini akan mendapatkan sanksi tegas.

"Langkah ini kami tempuh untuk mengurangi keresahan masyarakat yang mengeluh karena ditarik pungutan saat mengurus KTP," sembari menandaskan bahwa sanksi tidak berlaku apabila masyarakat membuat KTP melalui biro jasa.

Selain menggratiskan KTP, mantan Kabag Umum dan Perlengkapan Pemkab Gresik ini juga akan memberikan kemudahan kepada masyarakat melalui konsep kios mobile untuk pelayanan KTP dan akte kelahiran."Konsepnya sudah kami godok dan selanjutnya akan kami ajukan ke Pemkab Gresik," pungkasnya. (dik)

Mukjizat Akui Ajak Warga Dukung Syarif Musa

Media Bawean, 28 April 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK— Mukjizat, Kades Kumalasa, Kecamatan Sangkapura, Bawean, tanpa ‘tedeng aling-aling’ mengakui dirinya mengedarkan surat kepada warganya untuk mendukung caleg PKB, Syarif Musa. Semua itu dilakukan sang kades atas inisiatifnya sendiri sebagai bentuk balas budi, mengingat banyaknya proyek di desanya yang terwujud berkat jasa Syarif Musa.

Pengakuan Mukjizat ini terungkap dalam sidang pelanggaran UU RI No 10 tahun 2008 tentang Pemilu yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Gresik, Senin (27/4).

Selain mendudukan Mukjizat di kursi pesakitan PN Gresik, sidang tersebut juga dihadiri Baharuddin (Caleg PKS No 2 Dapil VII Bawean) sebagai pelapor, tiga orang saksi warga Dusun Tajung Kima Desa Kumalasa, dua orang Panwascam Sangkapura, dan Elvita Yulianti dari Panwaskab Gresik.

Usai sidang, Elvita Yulianti dari Panwaskab Gresik, mengatakan, pihaknya menyerahkan masalah ini berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Tugas Panwaskab, kata dia, hanya memberikan rekomendasi kepada institusi terkait jika menemukan atau menerima laporan tentang pelanggaran pemilu. “Bila pelanggaran adminstratif kami serahkan ke KPUD, sedangkan yang menyangkut pelanggaran pidana pemilu kami serahkan ke pihak kepolisian,” ujar Mbak Vetty, panggilan akrab Elvita Yulianti. (dik)

Mukjizat Disidang Hari Ini

Media Bawean, 27 April 2009

Sumber : Duta Masyarakat

GRESIK, Pemeriksaan dan pemberkasan ekstra maraton yang dilakukan aparat kepolisian maupun kejaksaan, akhirnya mengantarkan Mu'jizat, duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Gresik, hari ini (Senin, 27/4).

Tersangka UU RI No 10 tahun 2008 tentang pemilu ini dengan penuh keberanian siap menghadapi persidangan tanpa didampingi pengacara. "Dalam sidang besok (hari ini, Red) saya tidak akan didampingi pengacara," ujar Mu'jizat, kemarin.

Seperti diberitakan, Kepala Desa (Kades) Kumalasa, Sangkapura, Bawean, ini ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah mengajak warganya, bahkan melakukan intimidasi agar memenangkan caleg dari PKB, Syarif Musa. Padahal, berdasarkan instruksi bupati, perangkat desa harus bersikap netral dan tidak boleh memihak pada salah satu parpol.

Sayangnya, ketika dipanggil penyidik Polres Gresik untuk menjalani pemeriksaan, sang kades justru melarikan diri ke Malaysia. Polisi akhirnya memburu Mu'jizat dan berhasil menangkapnya saat mengikuti acara hajatan di rumah saudaranya di Malaysia.

Sementara itu, Syarif Musa, caleg PKB yang disebut-sebut bakal diperiksa polisi, ternyata batal diperiksa. Sebab, kasus yang menimpa Mu'jizat adalah kasus perseorangan yang muncul akibat inisiatif pribadi.

Kasat Reskrim Polres Gresik, AKP Fadli Widiyanto, menyatakan, Syarif tidak memiliki hubungan langsung dengan keberadaan surat ajakan yang dibuat Mu'jizat. Bahkan, keterangan Mu'jizat tidak mengarah pada adanya perintah dari caleg PKB Dapil Bawean nomor urut 1 itu. "Jadi, ide surat tersebut murni inisiatif tersangka," ujarnya. (dik)

Mu'jizat Tertangkap Interpol Malaysia

Media Bawean, 24 April 2009

Sumber : Duta Masyarakat

GRESIK, Mu'jizat, Kepala Desa (Kades) Kumalasa, Sangkapura, Bawean akhirnya benar-benar tidak mendapat mukjizat. Tersangka kasus tindak pidana pemilu yang melarikan diri ini akhirnya tertangkap Interpol di Johor, Malaysia, di salah satu rumah kerabat tersangka yang selama ini jadi tempat persembunyian, Kamis (23/4).

"Tersangka ditangkap saat mengikuti acara hajatan di rumah saudaranya di Malaysia. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerjasama dengan pihak Interpol melacak keberadaannya," terang Kapolres Gresik, AKBP M Iqbal.

Mengingat batas waktu dalam penanganan kasus pemilu ini sangat terbatas, lanjut Kapolres, tersangka kini dijemput oleh Kasat Reskrim, AKP Fadli Widiyanto di Jakarta. Begitu tiba di Polres Gresik, tersangka akan langsung menjalani pemeriksaan. Sebab, batas waktu pelaporan pidana pemilu hanya 14 hari, yang bakal berakhir hari ini (Jumat, 24/4).

"Keesokan harinya berkas yang bersangkutan bisa langsung dilimpahkan ke Kejaksaan," tandas Iqbal.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mu'jizat ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah mengajak warganya, bahkan melakukan intimidasi, untuk memenangkan caleg dari PKB, Syarif Musa. Padahal, berdasarkan instruksi bupati, perangkat desa harus bersikap netral dan tidak boleh memihak salah satu parpol. Ia melarikan diri ke Malaysia ketika dipanggil penyidik Polres Gresik untuk menjalani pemeriksaan. (dik)

Selebaran Intimidasi Marak

Media Bawean, 9 April 2009

Sumber : Duta Masyarakat

GRESIK- Warga yang tinggal di Pulau Bawean resah, menyusul maraknya selebaran berisi ajakan untuk memilih salah satu calon anggota DPRD Kabupaten Gresik, sampai tadi malam, selebaran tersebut beredar luas di tangan masyarakat Pulau Bawean, apalagi seleberan tersebut ditandatangani seorang kepala desa. Selain dibubuhi stempel kepala desa, selebaran itu menggunakan kop surat Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik.

"Setiap warga di desa kami mendapatkan surat itu agar memilih nama caleg tertentu. Kalau tidak, kepala desa mengancam akan menolak proyek pembangunan jalan desa," terang warga Desa Kumalasa.

Hal itu meresahkan warga, karena selebaran dengan menggunakan kop surat resmi itu berisi intimidasi. Dalam kalimat penutup surat yang dibuat kepala desa itu tertulis, "Sekarang Tinggal Pilih, Ikut Saya atau Orang Lain!!!"

Sementara, Ketua Panwaslu Kecamatan Sangkapura, Mukhlis, menyatakan pihaknya sudah melaporkan temuannya itu kepada Panwaslu Kabupaten Gresik.

"Kami sudah memanggil kepala desa yang membuat surat itu dan caleg dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Semua keterangannya sudah kami laporkan ke Panwaslu Kabupaten Gresik," katanya.

Selanjutnya, dia minta agar Panwaslu Kabupaten Gresik, segera menindak tegas karena perbuatan kepala desa dan caleg itu telah meresahkan warga Pulau Bawean.

"Tidak hanya di Desa Kumalasa, selebaran ini beredar luas di tangan warga Pulau Bawean," kata Mukhlis.

Selain selebaran, warga Pulau Bawean juga terusik oleh praktik politik uang yang dilakukan oleh sejumlah caleg yang bakal bertarung memperebutkan suara terbanyak di Daerah Pemilihan (Dapil) Sangkapura dan Tambak dalam pemungutan suara.

"Tapi sampai sekarang, kami masih kesulitan melacaknya karena belum ada warga yang menerima uang dari caleg yang berani melaporkan," katanya. (dik)

Gelontor Rp 2,8 M ke Bawean

Media Bawean, 2 April 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK, Lembaga pendidikan di bawah naungan Departemen Agama (Depag) Kab Gresik yang ada di Pulau Bawean patut bersyukur. Betapa tidak, dalam waktu dekat ini, Depag akan menggelontor bantuan sebesar Rp 2,8 M lebih dalam bentuk block grant rehab gedung madrasah.

"Sebanyak 31 madrasah akan menerima bantuan masing-masing sebesar Rp 91.500.000. Dengan begitu, total bantuan yang akan diberikan Depag senilai Rp 2.836.500.000," ujar Ustadz Faishol, Sie Evaluasi dan Sertifkasi pada Mapenda Depag Gresik, kemarin.

Lebih lanjut Faishol menjelaskan, pemberian bantuan dalam bentuk block grand rehab gedung madrasah ini sifatnya mendesak, mengingat banyaknya kondisi gedung madrasah yang tidak laik pakai.

"Bantuan block grant rehab tersebut akan dikerjakan secara swakelola dengan harapan masing-masing madrasah dapat berpacu meningkatkan kualitas lembaga pendidikannya sehingga representatif dan layak untuk kegiatan belajar mengajar (KBM)," jelasnya.

Selain bantuan tersebut, lanjut Faishol, tim Depag yang dipimpin oleh Kakan Depag Kab Gresik Agus Thohir turun langsung ke Bawean. Tim Depag langsung mengumpulkan pimpinan lembaga pendidikan mulai Roudhotul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah (MA) di Pondok pesanteren (Ponpes) Hasan Jufri Sangkapura Bawean.

"Dalam pertemuan tersebut, tim Depag melakukan sosialisasi Peraturan Pemerintah (PP) 74 Tahun 2008 tentang guru, baik masalah Tunjangan Fungsional Guru (TFG), sertifikasi, akreditasi, hingga sosialisasi ujian nasional,"ujar Faishol mendampingi Kasi Mapenda Depag Kab Gresik Khusnul Marom, Rabu (1/4). (dik)

Bupati Robbach Instruksikan PNS Netral

Media Bawean, 24 Maret 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK—Bupati Gresik, Robbach Ma’sum memerintahkan PNS dan perangkat pemerintahan desa berskikap netral dalam Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2009. Perintah itu tertuang dalam Instruksi Bupati Nomor 2 tahun 2009 tertanggal 16 Maret 2009 yang ditindaklanjuti Sekda Gresik dengan menerbitkan surat Nomor 270/570/437.73/2009 tertanggal 19 Maret 2009.

Inti Instruksi Bupati dan Surat Sekda tersebut adalah melarang PNS, aparat pemerintahan desa di wilayah Kabupaten Gresik menjadi anggota dan atau pengurus partai dan wajib bersikap netral. Kendati demikian, Robbach yang juga Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Gresik itu mengharuskan para PNS dan aparat pemerintahan desa menggunakan hak pilihnya. “PNS dan aparat pemerintahan desa juga wajib menjaga stabilitas keamanan di wilayah masing-masing,” kata Robbach.

Kabag Humas Pemkab Gresik, Hari Syawaludin, mengatakan, Instruksi Bupati dan Surat Sekda Gresik tersebut telah dikirim ke seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) se-Kabupaten Gresik. Ia berharap seluruh PNS dan aparat pemerintahan desa mematuhi instruksi tersebut. “Karena itu, PNS di lingkungan Pemkab Gresik dilarang mengikuti kampanye pemilu,” tandas mantan Camat Manyar ini, kemarin.

Terpisah, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Kuwadijo, mengatakan, partisipasi aktif PNS dibatasi dalam hak pilihnya dan wajib menjaga netralitasnya sehingga dilarang ikut sebagai peserta aktif parpol atau ikut kampanye pemilu.

Aturan mengenai netralitas PNS tersebut telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2004 dan berbagai surat edaran dari Menteri Dalam Negeri. “Jika seorang PNS terbukti menjadi partisipan aktif dalam kegiatan politik praktis, seperti kampanye rapat terbuka yang digelar pada 16 Maret-5 April, maka PNS yang bersangkutan wajib mengundurkan diri dari jabatannya sebagai PNS,” tegas Kuwadijo. (dik)

Caleg-Parpol Sakiti Nahdliyin

Media Bawean, 13 Maret 2009

Sumber : Duta Masyarakat
Tuban, Pemanfaatan atribut dan institusi Nahdlatul Ulama (NU) oleh para caleg dan parpol untuk kampanye di jalanan, dinilai telah menyinggung perasaan warga dari ormas terbesar di tanah air.

Untuk itu Pimpinan Wilayah NU (PWNU) Jatim bakal mengambil tindakan tegas. Apalagi penggunaan gambar maupun atribut NU tersebut, telah melanggar keputusan hasil Konbes NU di Surabaya tahun 2006.

Sesuai keputusan Konbes NU Nomor 1/2006, dilarang menggunakan atribut maupun institusi NU berikut banomnya, untuk kepentingan politik praktis.

"Dalam waktu dekat kami akan memberikan teguran terhadap parpol dan caleg yang menggunakan institusi dan atribut NU maupun banomnya. Ini jelas pelanggaran terhadap keputusan Konbes NU."

Hal itu ditegaskan Ketua Tanfidiyah PWNU Jatim, KH Muhammad Hasan Mutawakil Alallah di sela-sela kegiatan Silaturahmi PWNU Jatim dengan PCNU Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik dan PCNU Bawean di kantor PCNU Tuban, Rabu (11/3) siang.

Untuk kesiapan itu, PWNU bakal segera menggelar rapat harian khusus membahas sikap dan tindakan yang bakal ditempuh terkait problem penggunaan atribut NU tersebut. Apalagi tak sedikit parpol yang memanfaatkan institusi dan banom NU untuk sosialisasi calegnya. (tbu)

Buntut Demo Kasek KejamDisdik Terjunkan Tim ke Bawean

Media Bawean, 12 Maret 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK, Demo keluarga besar SMAN 1 Sangkapura menuntut Kepala Sekolah (Kasek) Zairasi mundur dari jabatannya direspons cepat Dinas pendidikan (Disdik) Kabupaten Gresik. Kepala Disdik, Chusaini Mustaz, Rabu (11/3) menurunkan tim ke sekolah tersebut.

"Kami sudah menurunkan tim untuk melihat langsung situasi dan kondisi di SMAN 1 Sangkapura," ujar Chusaini yang juga mantan Kasek SMAN 1 Gresik ini.

Sesampai di Bawean, tim Disdik langsung menggelar rapat yang diikuti komite sekolah, kepala sekolah, dan seluruh dewan guru. Guna mendapatkan masukan yang benar, tim Disdik meminta seluruh dewan guru menuliskan kondisi dan keadaan yang sebenarnya di SMAN 1 Sangkapura di atas selembar kertas kosong tanpa mencantumkan identitasnya.

Zairasi, sang 'tertuduh' dalam soal ini, kemarin tidak bersedia mengomentari aksi demo yang dilakukan para guru, siswa, dan karyawan sekolah yang dipimpinnya itu. "Yang penting, kami ingin situasi di sekolah tetap kondusif, apalagi pelaksanaan ujian akhir sudah dekat," kata Zairasi.

Hal serupa disampaikan Ketua Alumni SMAN 1 Sangkapura, Irsyad. Menurutnya, para alumni ingin kegiatan belajar-mengajar kembali aktif. "Jangan sampai mengorbankan siswa, apalagi menjelang pelaksanaan ujian akhir," pintanya.

Seperti diberitakan, ratusan siswa, guru, komite sekolah, dan karyawan SMAN 1 Sangkapura, Bawean, berunjuk rasa di halaman sekolah, Selasa (10/3). Mereka menuntut Zairasi mundur dari jabatannya. Kata mereka, Zairasi adalah kasek yang kejam dan otoriter. Ia juga telah berbuat dholim pada para guru. Saking dholimnya, para guru sering disebut sebagai Fir'aun, kafir, dan tukang becak. (dik)

Tuntut Mundur Kasek KejamKesal Disamakan dengan Fir’aun

Media Bawean, 11 Maret 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK—Ratusan siswa, guru, Komite Sekolah, dan karyawan SMAN 1 Sangkapura Bawean, berunjuk rasa di halaman sekolah, Selasa (10/3). Mereka menuntut Zairasi, sang kepala sekolah (kasek), mundur dari jabatannya. “Kami tidak mau dipimpin kasek yang kejam dan otoriter,” kata Afandi, guru bidang studi Sosiologi.

Zairasi juga disebut para pengunjuk telah berbuat dholim pada para guru. Saking dholimnya, para guru sering disebut sebagai Fir’aun, kafir, dan tukang becak.

“Kami, para guru dan siswa, merasa tertindas dan sering disakiti. Dia sangat kejam, angkuh, sombong, dan semaunya sendiri,” ujar Afandi.

Selama ini, lanjut Afandi, para guru memendam kesabaran. Laporan ke Dinas Pendidikan sebenarnya telah dibuat, namun tak kunjung ada tanggapan.

Akhirnya, tak ada jalan lain, para guru sepakat melakukan demo menuntut mundur Zairasi dari jabatan Kasek SMAN 1 Sangkapura.

“Kami berharap pihak terkait, khususnya Kepala Dinas Pendidikan, mendengar suara hati para guru yang sering didholimi Kasek,” pinta Afandi.

Prihatin pada nasib para guru, para siswa yang tergabung dalam OSIS SMAN 1 Sangkapura turut mengecam tindakan Kasek Zairasi. Sambil menitikkan air mata, mereka membacakan pernyataan sikap yang antara lain berbunyi “siapa pun yang mendholimi para guru adalah manusia laknat dan biadab, guru adalah insan bermartabat tidak untuk dihujat, guru adalah pahlawan bukan objek untuk dilecehkan, dan guru adalah orang bijak bukan tukang becak.”

Hingga berita ini diturunkan, Kasek Zairasi belum bisa dikonfirmasi karena telepon selulernya dimatikan. (dik)

'Dukun Sesat' Huni Terali Besi

Media Bawean, 10 Maret 2009

Sumber : Duta Masyarakat

Kendati sudah diusir dari 'Pulau Putri' Bawean, perjalanan Ayatullah Ahmad Ali Akbar, yang dicap sebagai dukun sesat, belumlah berakhir. Sosok yang akrab disapa Gus Ali Akbar itu kini justru dijebloskan ke tahanan Polres Gresik.

Polisi menangkap lelaki berambut gondrong yang mengaku berasal dari Desa Kraton, Kecamatan Suranenggal, Kabupaten Cirebon, ini karena diduga telah melakukan pemalsuan identitas.

Gus Ali Akbar pernah membuka praktik pengobatan di Tambak dan Sangkapura, Bawean. Terungkapnya dugaan pemalsuan identitas Kartu Tanda Penduduk (KTP) bermula saat Gus Ali Akbar membuka praktik pengobatan di Desa Daun, Sangkapura.

Saat itu, karena praktik pengobatannya disertai ajaran sesat yang menghina umat Islam, warga bersama MUI setempat memutuskan mengusir Gus Ali Akbar. Tak mau diusir, sang dukun ini pun meminta tolong kepada Burhan (37), warga Probolinggo untuk membuat KTP guna memperjeles identitasnya.

Dalam proses pembuatannya, tersangka mengirimkan dua alamat yakni di Desa Kraton, Kecamatan Suranenggal, Kabupaten Cirebon dan Dusun Krajan No 66, Kelurahan Kauman, Kecamatan Kesepuhan, Kabupaten Cirebon. Tapi setelah di-crosscheck petugas, ternyata alamat yang dimaksud tidak ada.

"Memang kalau kelurahannya ada, tapi Kecamatan Kesepuhan itu tidak ada. Bahkan camat yang menandantangani juga fiktif alis direkayasa," ujar Kanit Polsek Sangkapura, M. Iksan yang melakukan penyidikan langsung ke Cirebon.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Gresik AKP Fadli Widiyanto, Senin (9/3) membenarkan pihaknya telah mengamankan Ayatullah Ahmad Ali Akbar atas kasus pemalsuan identitas.

"Jika terbukti bersalah, tersangka dijerat pasal 263 jo 266 KUHP tentang pemalsuan dan menyuruh menggunakan surat palsu dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara," tandas mantan Kasat Reskrim Polres Malang ini.

Terpisah, Kuasa hukum Gus Ali Akbar, Irfan Choirie Senin kemarin mengatakan, kliennya tidak pernah berniat membuat KTP palsu. Sebab, saat meminta tolong dibuatkan KTP yang sesuangguhnya alais tidak palsu, kliennya juga telah membayar uang sebesar Rp 3 juta. Kendati begitu, pihaknya tetap menghormati proses hukum yang dilakukan Polres Gresik.

"Yang jelas, klien saya justru menjadi korban pemalsuan KTP. Selain itu, klien saya juga berhak hidup di Bawean, seperti warga Bawean yang juga bisa tinggal di mana-mana," tegas Irfan yang juga adik kandung anggota DPR RI Effendi Choirie ini. (dik)

Kapal Dipaksa Kabur Ditembaki Militer Rusia5 WNI Selamat, ABK Sidoarjo Hilang

Media Bawean, 25 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat

VLADIVOSTOK, Sebuah kapal China, The New Star, dengan nakhoda dan lima ABK warga negara Indonesia (WNI) serta ABK lain warga Tiongkok, diberondong tembakan oleh pasukan penjaga pantai Vladivostok, Rusia. Tujuh pelaut China tewas dan satu ABK WNI, Dwi Sutrisno, sampai Selasa (24/2) kemarin dilaporkan masih hilang. ABK ini diketahui kelahiran Sangkapura Bawean Gresik dan tinggal di Sidoarjo.

Kapal The New Star itu tenggelam pekan lalu di perairan Vladivostok, Rusia, setelah ditembaki kapal tempur Rusia. Aparat keamanan Rusia menuding kapten kapal bertanggung jawab atas penembakan tersebut sebab kapal itu secara ilegal telah melewati perbatasan laut negeri tersebut. Namun ada versi lain kapal itu bermasalah saat berada di pelabuhan tapi nakhoda dipaksa kabur oleh pemilik kapal sehingga ditembaki aparat keamanan negeri tersebut hingga hampir karam. Para ABK lalu berupaya menyelamatkan diri dengan naik sekoci. Sebagian dari mereka telah ditemukan, sebagian lagi masih dinyatakan hilang, termasuk seorang WNI. Sedang nakhoda kapal, Adi Mazwir, asal Padang, dan empat ABK lain, Alwi asal Binjai (Medan), Fachruddin Fahmi asal Sangkapura Bawean Gresik, Bernet Deny Pekayon asal Bekasi, dan Andrianus Kudato dari Tanjung Priok Jakarta dilaporkan selamat dalam insiden tersebut.

Untuk itu Departemen Dalam Negeri (Deplu) RI segera memastikan pemulangan kelima korban selamat tersebut. Nani, istri korban Kudato, Selasa (24/2) kemarin, mendapat kepastian itu dari Deplu. Kudato adalah first engineer kapal The New Star.

"Kemarin Deplu kabari saya. Dan saya tanya kapan pulang. Katanya dalam 1-2 hari ini akan memberikan perkembangan lagi," kata Nani.

Nani mengatakan, saat ini kondisi Kudato dan rekannya dalam keadaan sehat. Kelimanya akan melakukan temu pisah bersama rekan lain di salah satu hotel di Vladivostok, Rusia.

"Kita sudah hubungi Bapak. Keadaan sehat. Nanti mau bertemu pisah dulu dengan rekannya, baru akan pulang. Dari KBRI Moskow juga kemarin sudah mendatangi mereka," katanya.

Deplu juga sudah mengabari Nani bila ada satu orang ABK Indonesia yang hilang yakni Dwi Sutrisno. "Tujuh orang dari China," katanya.

KBRI Moskow akan memberikan perlindungan hukum maksimal bagi para ABK WNI yang terlibat insiden Vladivostok. "Kami terus memantau perkembangan kasus ini dari waktu ke waktu," kata

Dubes RI di Moskow Hamid Awaluddin Selasa kemarin.

Dikatakan, saat ini para petugas Rusia masih terus melakukan penyelidikan atas kasus penembakan kapal New Star berbendera Sierra Leone milik perusahaan China itu. Yang menggembirakan, empat ABK WNI oleh petugas pemeriksa sudah dinyatakan tidak bersalah sehingga bisa kembali ke tanah air, setelah menyelesaikan urusan gaji dengan pemilik kapal serta administrasi lainnya.

Sedang nahkoda Adi Mazwir sementara harus tetap berada di Rusia untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Kami memberikan perlindungan maksimal kepada kapten kapal. KBRI akan mengupayakan bebas dari jeratan hukum karena yang bersangkutan dalam menjalankan tugasnya di bawah tekanan," katanya.

Hamid mengaku untuk mendapat akses cepat guna menolong ABK WNI dia sudah mengontak Dubes Rusia di Jakarta, Ivanov, untuk ikut membantu. "Ini menyangkut perlindungan warga Indonesia, saya harus serius," katanya seperti disampaikan Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Moskow M. Aji Surya.

Hamid menghendaki diberikan akses secepat mungkin sehingga ABK WNI dapat dijumpai dan bisa memberikan keterangan mengenai duduk permasalahan versi mereka. Dan upaya melibatkan Ivanov itu ternyata membuahkan hasil. Setelah komunikasi baik di Moskow maupun di Vladivostok, maka tim KBRI bisa meluncur ke Nakhodka, kota pelabuhan di mana kapal New Star sempat berlabuh untuk menurunkan muatannya. Akhirnya, Ahad siang Tim KBRI tiba di kota tujuan dan ditemani beberapa petugas Rusia menuju hotel, di mana ABK WNI dikabarkan sempat menginap.

Dipaksa Kabur

Hasil penelusuran KBRI Moskow terkait insiden itu, menyebutkan, nakhoda terpaksa mamacu kapal dari pelabuhan dalam keadaan terpaksa. Tidak lupa, surat pengalihan tanggungjawab juga sudah diteken sebelumnya.

Adi Mazwir, sang nakhoda, belum lama bekerja di kapal The New Star. Pada November 2008 yang bersangkutan menerima tawaran dari seorang agen kapal di Jakarta untuk bekerja di kapal The New Star yang berada di Bangkok.

Setelah selesai pengurusan segala sesuatunya, termasuk ongkos tiket, Adi Mazwir berangkat ke Bangkok sendirian. Setibanya di Bangkok, Adi Mazwir mengetahui bahwa kapal tersebut milik perusahaan China namun dia tidak bisa menolak karena untuk kembali ke Indonesia tidak mempunyai biaya.

Akhirnya Adi Mazwir menandatangani perjanjian kontrak kerja di kapal tersebut dan menerima pelimpahan tugas dari kapten kapal sebelumnya pada 2 Januari 2009.

Di kapal berbendera Sierra Leone itu sudah terdapat 5 ABK WNI dan 10 ABK China lain, termasuk salah satunya keponakan pemilik kapal tersebut. Adi Mazwir lalu diperintahkan untuk berangkat ke Rusia membawa 4.991 ton beras Thailand.

Pada 3 Januari 2009 kapal mulai berlayar dari Bangkok menuju Nakhodka, Rusia. Perjalanan menuju Nakhodka rupanya lancar-lancar saja, meskipun bumi bagian utara sudah memasuki musim dingin di mana beberapa bagian laut dihiasi oleh es.

Pada 29 Januari 2009 kapal melakukan bongkar muatan beras. "Sayang, pihak perusahaan penerima beras dari Rusia menyatakan tidak puas dengan kualitas beras yang dikirim, karena sebagian beras mengandung air atau berkeringat. Karena kualitas beras yang rendah tersebut perusahaan Rusia bermaksud mengadukan ke pengadilan dan meminta ganti rugi pada kisaran US$ 340 ribu," ujar salah seorang ABK.

Selain itu, sampai selesai urusan, maka kapal tidak diizinkan untuk meninggalkan kota kecil Nakhodka. Setelah lebih dari seminggu di tempat tersebut, maka Adi Mazwir mulai dibujuk oleh sang pemilik kapal agar bersedia kabur meninggalkan pelabuhan, namun ditolaknya karena harus seizin dari petugas.

Setelah ditekan beberapa kali oleh pemilik dan keponakannya yang juga menjadi ABK, Adi pun membuat pernyataan untuk ditandatangani oleh keponakan sang pemilik, yang menyebutkan bahwa tanggungjawab kapal dan segala risikonya di tangan sang keponakan.

Surat pernyataan tersebut ditandatangani sang keponakan yang warga China dan berhasil dipegang oleh Fakhruddin Fahmi. Surat tersebut saat ini berada
di tangan petugas pemeriksa.

"Kita sangat bersyukur bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh nahkoda adalah sebuah keterpaksaan, force majeur, dan bahkan sudah melakukan pengalihan tanggung jawab," kata Dubes Hamid.

China Protes

Pemerintah China sendiri memprotes Rusia. "Sikap Rusia menenggelamkan kapal tersebut tak bisa diterima," kata Zhang Xiyun, pejabat Kementerian Luar Negeri China kepada Konselor Menteri Rusia untuk China Morgulov Igor seperti dilansir Xinhua.

Dikatakan Zhang, sikap Kementerian Luar Negeri Rusia mengenai insiden itu "sulit dipahami dan tidak bisa diterima" oleh China.

Wakil Menteri Luar Negeri China Li Hui telah memanggil Duta Besar Rusia Sergei Razov terkait insiden ini. Li mendesak otoritas Rusia menyelesaikan investigasi atas insiden tersebut secepatnya. Li juga menyerukan Rusia mengerahkan segenap upaya untuk mencari ABK yang masih hilang. (det/wis/inc)

PN "Hambat" Kasasi Korupsi Reklamasi Bawean

Media Bawean, 25 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK, Kepala Kejaksaan negeri (Kajari) Gresik, Teuku Abdul Djalil, menegaskan, proses kasasi Kejari Gresik atas dugaan kasus korupsi reklamasi Pantai Sangkapura, Bawean, terhadap 4 terdakwa masih belum bisa dilakukan. Pasalnya, salinan putusan lengkap dari Pengadilan Negeri (PN) Gresik hingga kini belum dikirimkan ke Kejari Gresik.

"Memang benar salinan putusan 4 terdakwa kasus korupsi reklamasi Bawean dari PN Gresik belum kami terima hingga hari ini. Padahal, salah satu syarat untuk melalukan memori kasasi adalah salinan putusan lengkap dari PN Gresik. Jika salinan itu tidak ada, kasasi tidak bisa dilakukan," tandas Kajari asal Nagroe Aceh Darussalam (NAD) ini.

Menanggapi hal itu, Humas PN Gresik, M Zaini mengatakan, salinan putusan memang belum dikirimkan ke Kejari Gresik, namun petikannya sudah.

"Memang putusan lengkapnya belum, karena masih dalam proses penggandaan dan penjilidan. Lembarannya kan banyak, masing-masing terdakwa kurang lebih sekitar 230 halaman. Secepatnya kalau sudah selesai akan segera dikirimkan," tegasnya serius.

Seperti diberitakan, keempat aktor kasus korupsi reklamasi Bawean tersebut masing-masing Siti Kuntjarni Hariyani, Sekretaris Inspektorat Kabupaten Gresik, Sumarsono, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup, Sihabudin, Direktur CV Daun Jaya dan Buang Idang Guntur, Direktur CV Kebangkitan.

Keempatnya diputus bebas oleh Pengadilan Negeri Gresik pada 10 Februari lalu. Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Gresik siap mengajukan kasasi. (dik)

Kembali PulangTiga Nelayan Bawean Selamat

Media Bawean, 21 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK - Tiga nelayan asal Bawean yang hilang sejak sembilan hari lalu akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat oleh Kasiman, nelayan asal Brondong Lamongan. Ketiga nelayan tersebut adalah Ridha (64), M Syahrul Basyar (27), dan M Syafi'i (27), semuanya warga Desa Sungai Rujing, Kecamatan Sangkapura, Bawean. Namun, mereka baru kembali ke Bawean dengan menumpang KM Dharma Kartika pukul 09.00, kemarin pagi.

Kapolsek Sangkapura, AKP Zamzani, mengatakan ketiga nelayan yang hilang itu ditemukan akhir pekan lalu. Petugas Syahbandar Brondong langsung mengantarkan mereka dari Lamongan ke Gresik, keesokan paginya. "Mereka ditemukan Kasiman, nelayan Lamongan, setelah sebelumnya tiga hari mengapung di lautan,"ujar mantan Kapolsek Ujungpangkah ini.

Sementara, Syahrul, salah seorang nelayan Bawean yang hilang, menceritakan mereka bertiga berangkat hari Rabu (11/2) pukul 16.00 dengan perahu klothok. Saat hendak memasang jaring, join mesin pecah dan baling-baling kipas patah. Akhirnya perahu ukuran 2 meter x 7 meter bocor. "Kami berusaha mengeluarkan air sampai tiga hari. Beruntung, sebelum perahu kami tenggelam, kami ditolong kapal porsin milik Kasiman, nelayan Brondong Lamongan ,"ungkap Syahrul.

M Syafi'i mengimbuhkan, selama di laut tiga hari tiga malam, mereka hanya satu kali makan ikan mentah, dan setelahnya tidak makan sampai mendapat pertolongan dari perahu korsin milik nelayan Lamongan.

Sebagai bentuk kepedulian, Pemkab Gresik menyerahkan santunan Rp 1,5 juta kepada ketiga nelayan tersebut. Ketua Pemuda Bawean Gresik (PBG) Daifi, juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 500 ribu.

"Kami prihatin atas kejadian tersebut. Namun, kami bersyukur akhirnya mereka ditemukan dalam keadaan selamat," tandas Daifi saat menyerahkan bantuan di rumah Muzamil, warga Bawean yang tinggal di Jalan Harun Thohir 46 Gresik. (dik)

Tiga Nelayan Masih Raib di Laut

Senin, 16 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK, Kendati sejumlah warga dibantu aparat Muspika dan Polsek Sangkapura terus melakukan pencarian, tiga nelayan yang hilang, hingga kini belum ditemukan. Seperti diberitakan, sejak Rabu (11/2) lalu ketiga nelayan tersebut berangkat melaut menggunakan perahu klotok. Diduga karena ombak besar, mereka tenggelam.

Ketiga nelayan itu adalah Mohammad Syahrul (27), Ridha (64), dan Moh Syafi'i (27), ketiganya warga Desa Sungai Rujing kecamatan Sangkapura Bawean. Selain Ridha, para nelayan itu masih bersatus bujangan.

"Kami sudah mencarinya ke Daun, Pamona, Kepuhlegundi tapi hasilnya nihil. Kami hanya bisa berdoa semoga tiga warga kami yang melaut sejak empat hari lalu dapat kembali dengan selamat," ujar Kades Sungairujing Zaenal yang tak henti-hentinya melakukan pencarian bersama warga lainnya, Ahad (15/2).

Kini, keluarga ketiga nelayan yang hilang itu masih terus dicekam rasa cemas. Mereka takut terjadi sesuatu di laut. Kendati begitu mereka, pasrah dan berdoa semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan.

"Kami benar-benar takut, khawatir, dan cemas terhadap nasib mereka. Kami hanya bisa berharap semoga mereka diberikan pertolongan dan bisa pulang kembali,"ungkap Suma, istri Ridha.

Belum diketemukannya ketiga nelayan ini dibenarkan Kapolsek Sangkapura AKP Zamzani. Untuk itu, pihaknya bersama warga terus melakukan pencarian meski sampai saat ini belum membuahkan hasil. "Kendati begitu, kami akan terus melakukan pencarian,"tandas zamzani sembari kembali mewanti-wanti kepada para nelayan agar tidak melaut dulu ketika kondisi cuaca buruk, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali. (dik)

Pasiennya Anggap Sakti, Saat Ditangkap Pingsan

Media Bawean, 13 Februari 2009

Sumber ; Duta Masyarakat
Menyoal Menjamurnya Aliran Sesat di Jatim (1)

Aliran sesat semakin menjamur di Jawa Timur. Di Blitar saja dalam waktu hampir bersamaan muncul dua aliran sesat. Setelah itu disusul dukun nyeleneh yang minta dipuja oleh para pasiennya di Pulau Putri, Bawean, Gresik. Sulitnya hidup diduga sebagai biang orang berlaku nyeleneh.

NAMANYA Soleh Ali Akbar. Si dukun ini berlaku aneh saat bersama pasiennya menggali kubur untuk jasadnya sendiri bila kelak meninggal. Ulahnya itu sebenarnya masih lumrah. Yang jadi soal, pria ini minta warga memuja kuburan isi jasadnya tersebut. Dia pun mengaku sebagai tuhan. Bukan hanya itu, dia juga melecehkan Al Quran. "Tapi kita heran juga, orang kayak gitu kok ya ada saja yang percaya bahwa dia sakti. Ini gejala apa?" kata Zainuddin, warga setempat.

Untuk itu MUI dan Muspika Sangkapura, Bawean, mendesak agar pihak berwenang menangkap Ali Akbar yang dinilai telah menistakan Islam. Aparat Polsek Sangkapura pun langsung bertindak menggerebek markas Ali Akbar. Sang dukun sempat pingsan sebelumnya akhirnya diringkus oleh polisi. Namun pria itu hanya mendekam di bui sehari. Pria berambut gondrong dan berkalung taring ini berhasil bebas dari tahanan Polsek Sangkapura setelah ada campur tangan pengacaranya, Musta'in, Rabu (11/2) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Ali Akbar akhirnya kembali ke padepokannya di Gunung Temu Kunci Daun Timur Sangkapura.

Bebasnya dukun yang meresahkan warga Bawean ini, kata Kapolsek Sangkapura AKP H Zamzani, sesuai aturan sebab sampai saat ini pelaku belum ditetapkan sebagai tersangka. Artinya, dia hanya ditahan selama 24 jam.

"Kalau pelaku tidak kami keluarkan, justru kami salah. Tapi orang-orang justru mempertanyakan kenapa kok dikeluarkan. Padahal kami mengacu kepada aturan yang ada," tandas mantan Kapolsek Ujungpangkah ini, Kamis (12/2) kemarin.

Zamzani menambahkan, pihaknya telah memberikan saran kepada MUI Sangkapura bila ingin membawa kasus Ali Akbar ke jalur hukum. Yakni harus dilaporkan ke Polsek Tambak sebab TKP-nya di Desa Diponggo Kecamatan Tambak Bawean. "Tapi kalau kasus ini diselesaikan dengan jalan musyawarah, maka harus digelar kembali pertemuan antara Muspika, MUI, dan ulama," ujarnya. Laporan yang diterima kepolisian dari MUI dan Muspika Sangkapura, dalam menjalankan praktik pengobatan alternatifnya, pelaku memasukkan unsur aliran menyimpang dari ajaran Islam. Misalnya mengubah bacaan syahadat. Bahkan sampai menginjak kitab suci Al Quran.

Namun, pelaku mengaku hanya menganggap Al Quran sebagai pegangan dalam menjalankan ritual pengobatan. Dia juga mengaku tidak menginjak Al Quran, tapi hanya menaruh kitab suci umat Islam itu di bawah kakinya.

Demo Kerahkan Pasien

Ketua Pengurus Cabang NU Bawean Ir H Syariful Mizan mengatakan, Muspika telah memperingatkan Ali Akbar agar menghentikan praktik pengobatannya itu, Selasa (27/1) lalu. Awalnya dia bersedia, tapi tak lama kemudian kesepakatan itu dilanggar. Dengan mengerahkan massa pasiennya, Rabu (28/1), Ali Akbar mendesak Muspika mencabut larangan membuka praktik pengobatannya itu. "Karena dianggap sudah meresahkan warga, Muspika akhirnya mengusir Ali Akbar dari desanya," katanya.

Tapi peringatan tersebut tetap tak diindahkan. Terbukti di Desa Daun, Ali Akbar tetap membuka praktik pengobatan. Bahkan, karena banyaknya pasien yang berobat, Ali Akbar juga mendirikan ruang rawat inap. Biaya pengobatan ada yang digratiskan, tapi ada juga yang mencapai Rp 6 juta. Warga desa pun banyak yang percaya dengan kehebatan Ali Akbar yang bisa menyembuhkan penyakit, apalagi dengan penampilannya yang berambut gondrong dan memakai kalung taring. Ya angker seperti dukun. "Awalnya warga tidak percaya, namun setelah berobat ada yang sembuh, ditambah beredar kabar dari mulut ke mulut, itulah yang menjadikan nama Ali Akbar terkenal meski sebagian pasien masih tetap tak bisa disembuhkan" katanya.

Sebagian saksi menyebut, saat melakukan ritual pengobatan, Ali Akbar mengajak pasiennya mengagungkan dirinya seperti tuhan. Bahkan dia sempat membuat pemakaman di salah satu bukit di Desa Daun yang jika dirinya mati, warga diminta memuja makamnya. Meski demikian Ali Akbar menolak dianggap melecehkan Islam. Dia mengaku bisa menyembuhkan orang sakit setelah lama bersemedi di beberapa makam leluhur Desa Sangkapura.

Secara terpisah, Abdul Basit Karim dari LSM Gerbang Bawean yang sempat mengikuti penangkapan Ali Akbar mengaku, dirinya sempat berdialog dengan sang dukun yang diduga menganut ajaran sesat itu. Kepada Basit, Ali Akbar mengatakan bahwa dirinya sekarang sudah tidak mau berhubungan dengan manusia. Karena itu, sekarang menyepi di Gunung Temu Kunci. Di gunung itu pengikut Ali Akbar tengah bekerja membuat padepokan dan kuburan untuknya. "Silakan foto kuburan yang saya buat, tapi setelahnya kamu (Abdul Basit, Red.) akan mati," ujar Ali Akbar sembari mengatakan jika dia sebenarnya sudah mati. Sedang yang ada sekarang Ki Ageng Temu Kunci. (*)

Ombak Besar, Tiga Nelayan Hilang

Jumat, 13 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK, Belum reda perbincangan tentang hilangnya Khairul Anwar yang akhirnya diselamatkan kapal berbendera Australia, kini tiga nelayan Bawean dikabarkan hilang saat melaut dengan perahu klotok, kemarin. Mereka adalah Muh. Syahrul (27), Ridah (64) dan Moh. Syafi'i (27), ketiganya warga Desa Sungairujing, Kecamatan Sangkapura.

Informasi dari berbagai pihak menyebutkan, awalnya ketiga nelayan itu pergi melaut menggunakan satu perahu klotok sejak Rabu (11/2) sekitar pukul 15.30 WIB. Biasanya, jika berangkat sore hari, malam harinya, sekitar pukul 22.00 WIB, mereka sudah kembali ke rumah. Namun, diduga karena ombak besar, ketiga nelayan tersebut hingga saat ini belum kembali.

Sementara itu, Khairul Anwar, nelayan Bawean yang sempat hilang selama empat hari, Rabu (11/2) lalu telah sampai ke Pulau Bawean dengan naik kapal Ekpress Bahari 8B. Bak pahlawan laut, Khairul Anwar disambut keluarga dan teman-temannya di dermaga Sangkapura. Dari dermaga, Khairul Anwar naik mobil Kecamatan Sangkapura dengan diantar langsung oleh Camat Sangkapura Suhaemi ke rumahnya di Sawah Daya Kotaksuma Sangkapura.

Sesampai di rumah, Khairul Anwar disambut ratusan orang dengan isakan tangis gembira. Di antaranya Kades Pudakit Timur, keluarga, kerabat , dan teman-temannya. "Khairul hebat, bisa menenggelamkan kapal TNI Teluk Kupang," kelakar salah seorang teman Khairul sembari tersenyum. (dik)

Di Bawean Muncul Ali Akbar

Media Bawean, 12 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
Sementara, di Gresik muncul paktik pengobatan alternatif ala Ali Akbar (45). Karena diduga sesat membuat gelisah warga Bawean. Menyikapi keresahan warga ini, MUI Kecamatan Sangkapura, langsung menggelar rapat di Sekretariat Bawean Serambi Madinah (BSM) Sangkapura, kemarin. Tidak hanya itu. Ratusan warga dan tokoh masyarakat Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, juga siap melakukan mengusir Ali Akbar, karena diduga sesat.

Hadir dalam rapat tersebut, KH Abdul Latif (Ketua MUI Sangkapura), Syariful Mizan (Ketua MWC NU Bawean), Ismail (Muhammadiyah), KH Bajuri Yusuf, KH. Zakariyah, KH. Hazin, KH. Hamzah, H Hanafi, H Minsawi, Ali Masyahar, Syafik, Achmad Shodiq, Fathoni, Esfar, Anol, anggota Polsek Sangkapura dan anggota Koramil Sangkapura.

Dalam rapat yang membahas ajaran Ali Akbar ini, terungkap jika dalam menjalankan praktik pengobatan alternatifnya, Ali Akbar memasukkan unsur aliran yang menyimpang dari ajaran Islam. Dia tidak hanya mengubah bacaan syahadat, tetapi juga berani menginjak kitab suci Al Quran. “Orang-orang hanya bisa berkata agar melakukan perbuatan sesuai dengan Al Quran. Tapi bagi saya Al Quran sebagai pijakan, kata Ali semabri menginjakkan kakinya ke Al Quran,”kata Ustadz Achmad Shodiq menirukan perkataan Ali Akbar, dukun nyeleneh itu.

Menyikapi ajaran Ali Akbar ini, MUI Sangkapura mendesak agar pihak berwenang segera mengambil tindakan untuk memproses secara hukum terhadap Ali Akbar atas tindakannya yang telah menistakan Islam. Selain MUI, ratusan warga dan tokoh masyarakat Daun Sangkapura juga merapatkan barisan untuk menyikapi ajaran yang dimiliki oleh Ali Akbar. Termasuk, Kepala Desa Daun, Abdul Aziz Anwari, juga siap melakukan pengusiran.

Keresahan warga yang kian memuncak akibat sepak terjang Ali Akbar ini langsung disikapi Polsek Sangkapura, Pulau Bawean. Dukun yang diduga melecehkan Islam saat berpraktik itu ditangkap polisi guna menghindari amuk massa. “Dia menetap sebagai penduduk pendatang di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, sudah setahun. Tapi tidak punya KTP malah ngelantur. Katanya dia asli Sidoarjo dan Cirebon,” kata Wakil Kepala Polsek angkapura, Aiptu Hariri, kemarin.

Berdasar laporan yang diterima kepolisian dari MUI dan Muspika Sangkapura, dalam menjalankan praktik pengobatan alternatifnya, pelaku memasukkan unsur aliran yang menyimpang dari ajaran Islam. Ia mengubah bacaan syahadat, bahkan sampai menginjak kitab suci Al Quran. Namun, pelaku mengaku hanya menganggap Al Quran sebagai pegangan dalam menjalani ritual pengobatan. Dia juga mengaku tidak menginjak Al Quran, tapi hanya menaruh kitab suci umat Islam itu di bawah kakinya. (dik)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean