Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label TULISAN RIZA FAHLEVI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN RIZA FAHLEVI. Tampilkan semua postingan

Keberpihakan Pemerintah
dalam Pembangunan Pulau Bawean

Media Bawean, 16 November 2013

Oleh : M. Riza Fahlevi (CO Editor In Chief Batam Pos/Jawa Pos Group)

Hari Sabtu-Minggu (16-17) November, saya diundang LSM Pusat Kajian Demokrasi, HAM dan Lingkungan Hidup (PUKAD-HALI) Jawa Timur, sebagai pembicara dalam seminar nasional, “Bawean Dalam Perspektif Masyarakat”. Selain saya, ada enam pembicara lain yang turut diundang, beberapa orang profesor doktor dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, Univetsitas Brawijaya Malang, Unair Surabaya, dan presiden persatuan Bawean Malaysia dan Singapura.

Di forum ini panitia meminta saya berbicara tentang "Keberpihakan Pemerintah dalam Pembangunan Bawean". Dari judul yang telah ditentukan itu, malah menimbulkan pertanyaan bagi saya. Apa memang ada keberpihakan pemerintah, khususnya pemerintah kabupaten Gresik dalam pembangunan Bawean?

Kalau dibilang keberpihakan pemerintah dalam pembangunan Bawean tidak ada sama sekali, saya tak yakin itu. Hanya saja belum tepat, sehingga pembangunan yang dilakukan tidak dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat.

Sebenarnya hal itu tak perlu terjadi, bila Pemkab Gresik memahami karakter dan kultur masyarakat Bawean itu sendiri. Konsep pembangunan dan pengembangan Pulau Bawean, tentu tak sama dengan konsep Mayor Pierre L’Efant, membangun Washington, Raffless membangun Singapura, atau BJ Habibie membangun dan mengembangkan Pulau Batam. Semua ini berbeda.

Batam adalah pulau industri, dari sebuah kawasan ekonomi khusus, inilah yang menjadi landasannya. Habibie mendisain ekonomi Batam untuk memanfaatkan sebesar-besarnya keuntungan ekonomi yang didapat singapura. Istilahnya, bila Singapura itu "balon pecah" maka pecahannya akan mengarah ke Batam. Dari sinilah Batam berkembang, dan pembangunannya dirasakan oleh masyarakat hingga ke anak cucu.

Sementara Bawean, itu berbeda. Lalu konsep seperti apakah yang tepat untuk mengembangkan pulau ini? Ada baiknya kita pahami dulu sejarahnya.

Beberapa literatur menyebut Bawean telah ada ratusan tahun lalu. Dulu pulau ini bernama "Majedi", bahasa sansekerta yang berarti Matahari Terbit. Sistem pemerintahannya adalah kerajaan, dengan sistem kepercayaan lokal.

Hingga di abad 14, Cakraningrat IV dari Madura menaklukkan kerajaan ini. Dari sinilah Islam menyebar dan dianut 100 persen penduduknya. Tak hanya itu, proses akulturasi membuat asli Bawean hilang berganti bahasa penguasa, Madura, hingga kini.

Dari sini, Bawean menjelma menjadi pulau transit. Letaknya yang berada di tengah antara Jawa, Kalimantan dan Sumatera, membuat pulau ini kerap disinggahi kaum saudagar, nelayan dan para wali dari Jawa, Pelembang, Mandar bahkan Campa.

Ada kalanya kaum-kaun tersebut menetap, membangun klan di Bawean, membuat warga Bawean menjadi multi kultur, hingga kini. Keberadaan Pulau Bawean sebagai pelabuhan transit makin kukuh di era penjajahan Belanda.

Di sini mereka membangun pelabuhan moderen, lengkap dengan dam, perkantoran, dan pergudangan. Sistem ini mengingatkan pada sistem free trade zone yang jamak dijumpai saat ini.

Hingga era kemerdekaan, pembangunan Bawean mandeg. Perannya sebagai kawasan transit tak lagi ada. Pemerintah setelahnya berupaya mengembangkan Bawean sebagai kawasan agraris, namun tak berhasil. Begitupun sempat dibikin sebagai sentra perikanan, juga tak jalan.

Hingga saat ini, arah pengembangan Bawean kurang jelas ke mana arahnya. Namun, yang masih tak berubah adalah semangat penduduknya untuk merantau, sebagaimana yang dilakukan kakek buyutnya dulu.

Bagi laki-laki Bawean belum bisa dikatakan matang bila belum merantau. Itulah yang mendorong banyak lelaki Bawean merantau, sehingga Bawean akhirnya disebut "pulau putri", karena di Pulau Bawean yang tinggal hanya kaum perempuan saja.

Dari sinilah kemudian muncul idiom bagi lelaki Bawean yang berbunyi: "Jangan menikah sebelum membuka langit, jangan membuka langit sebelum merantau, jangan merantau sebelum memiliki bekal." Terkait "bekal" ini, di era 80-an ke bawah, ada tren anak-anak muda untuk berguru ilmu silat sebelum merantau.

Kebiasaan merantau ini sudah tercatat lama. Ada yang menyebut, pada abad ke 16 warga Bawean sudah berdiaspora ke semenanjung Malaya. Dari kaum perantau ini, masyarakat Bawean mengadopsi budaya Melayu, hingga kini.

Hingga saat ini banyak warga Bawean mempunyai ikatan darah dengan masyarakat Malaysia dan Singapura. Singapura masih menyebut orang Bawean perantuan sebagai "boyanes", di mana berdasarkan sensus tahun 2010 ada 57.148 jiwa etnis Boyan yang kini menetap di Singapura.

Hingga ketika migrasi bebas ke Malaysia dilarang, seiring konfrontasi RI dan Malaysia, warga bawean banyak yang menetap di Kepulauan Riau. Seperti pulau Bintan, Batam, hingga Lingga. Sehingga jangan heran bila saat ini banyak ditemukan “peninggalan-peninggalan” para diaspora Bawean tersebut.

Yang paling nyata, di daerah-daerah tersebut banyak ditemukan kampung Boyan. Bahkan di Bangkok, Thailand pun ada. Karena sudah lama berdiaspora, maka saat ini di daerah rantauan, keturunan bawean banyak yang sukses di segala bidang, baik di pemerintahan dan seni.

Berangkat dari uraian ini, maka mestinya sudah bisa dipahami ke mana arah pembangunan Bawean ditautkan. Karena karakter masyarakat Bawean adalah diaspora, maka apa yang bisa dikembangkan dari dispora? Dan apa yang paling dibutuhkan oleh diaspora?

Diaspora adalah fenomena yang lumrah atau biasa, namun menyimpan potensi yang luar biasa. World Bank bahkan mengakui diaspora mampu mengangkat perekonomian dengan menurunkan tingkat kemiskinan.

Di Bawean sendiri, warga diaspora ini mempunyai sumbangsih besar bagi kemajuan pulau asal mereka. Potensi nyata dari diaspora Indonesia adalah pengiriman uang dari luar ke dalam negeri.

Ini baru potensi remitansi, belum lagi potensi intangible lain yang bisa digunakan untuk membangun. Peningkatan investasi karena sebagian besar diaspora kita adalah pedagang dan ada yang memegang jabatan penting di sektor swasta dan pemerintah. Kebanyakan diaspora Bawean adalah orang dengan pemikiran cemerlang yang justru lebih banyak membantu negara tujuan.

Gambaran kecil ini sudah menunjukkan potensi yang mestinya Pemkab Gresik bisa mengembangkan tiga fokus pembangunan di Bawean, sehingga hasilnya dirasakan masyarakat di sana. Seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan infrastruktur lunak (kesehatan dan pendidikan), dan pemanfaatan sumber daya alam.

Fokuslah pada tiga hal tersebut. Sayang, pemkab gresik memang masih sangat lemah dalam memanfaatkan potensi Bawean. Lahan pertanian, perikanan, wisata, masih belum dikelola maksimal.

Belum lagi bila berbicara tentang transportasi, khususnya kapal, sesuatu yang sangat vital bagi masyarakat diaspora yang menganggap laut adalah penghubung. Ini adalah kunci utama. Sederhana saja, bila ingin membangun Bawean, perhatikan akses menuju ke sana. Sediakan transportasi (kapal) yang pasti.

Tapi kenyataannya, jangankan kapal terbang, kapal laut saja sulitnya bukan main. Hampir tiap hari kita melihat dan membaca tentang warga Bawean yang marah, karena ketiadaan kapal ini. Kadang di antara mereka ada warga keturunan Bawean yang ingin melihat kampung halaman kakek buyutnya, namun harus menelan getir juga.

Dari sinilah ketidak puasan ini bermula dan meluas, jadi bahan cerita di jejaring sosial. Kabar ini kian mendunia, membawa citra Bawean, sebagai pulau menyebalkan untuk dikunjungi.

Saya sebagai warga perantau merasakan betapa tersiksanya saat akan pulang ke Bawean, kampung halaman saya sendiri itu. Kadang harus terkatung-katung di gresik tanpa kepastian, dan ini berarti harus merogoh kocek ekstra untuk biaya makan dan penginapan.

Tak cukup hanya itu, pelayanan di pelabuhan jauh dari kata profesional dan manusiawi. Bahkan, pelayanan Pemko Tanjungpinang saat melayani TKI ilegal yang dideportasi dari Malaysia, jauh lebih baik dari pelayanan pelabuhan di Gresik.

Saat pulang ke Bawean, rasanya seperti tawanan perang. Ini sungguh memuakkan. Selalu berulang dan berulang. Jadi wajar saja bila warga Bawean mencap Gresik tak memperhatikan mereka.

Bila soal kapal saja susah, bagaimana lagi mau bicara soal menggali potensi, misalnya pariwisata? Memangnya wisatawan mau ke Bawean pakai apa? Kunci wisata itu adalah pelayanan dan kenyamanan. Bila sudah tak nyaman, saya rasa mereka akan berpaling pada kawasan lain.

Bicara soal kapal ini, saya ada cerita sedikit. Di Kabupaten Natuna, wilayah utara Provinsi Kepulauan Riau juga memiliki masalah serupa. Untuk menuju ke kabupaten kaya minyak itu, warga menggunakan kapal laut, yang lebih tepatnya disebut dengan kapal barang.

Bedanya, pengelolaan kapal di sana lebih transparan. Sudah dua bulan ini, KM Bahari 5, armada milik PT putra Anambas shipping yang memenangkan kontrak subsidi trayek Natuna-pontianak dan natuna-Tanjungpinang sebesar Rp23 miliar selama dua tahun, tak melaut.

KM Bahari 5 sudah tak beroperasi karena mesinnya rusak, dan sampai saat ini masih lego jangkar di pelabuhan rakyat, pelantar Penagi, Ranai. Akibat kerusakan ini PT putra Anambas shipping didenda sekitar Rp5 juta perhari selama satu bulan lebih.

Tak hanya itu, berdasarkan perjanjian antara pemkab dan PT putra Anambas shipping, perusahaan itu terancam putus kontrak jika sampai tanggal 5 november tidak mengoperasikan KM Bahari 5 dengan rute Natuna-Pontianak.

Daripada putus kontrak, akhirnya perusahaan tersebut mengerahkan armada pengganti bernama KM Tenang Jaya 1. Inilah yang disebut pemerintah pro rakyat, inilah yang disebut melayani rakyat, ini jualah yang disebut keberpihakan pembangunan.

Di Bawean bagaimana? Apakah sistem ya seperti itu? Apakah Pemkab Gresik sudah transparan membeber kontrak kapal trayek Bawean-Gresik? Apa kompensasi yang diberi pada masyarakat bila suatu ketika armada perusahaan kapal tersebut tak melaut?

Saya dengar belum ada...

*) Dibawakan dalam seminar "Bawean dalam Prespektif Masyarakat", di Hotel Halogen, Surabaya, 16-17 November 2013.

Iklan & Media

Media Bawean, 17 April 2013

KOLOM MEDIA

Oleh : M. Riza Falevi (Guru Besar Media Bawean)

Bukan rahasia lagi media massa saat ini telah menjadi lembaga eknomi yang erat kaitannya dengan industri dan mekanisme pasar. Mekanisme pasar artinya tak lepas dari aktivitas ekonomi atau bisnis yang erat kaitannya dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa.

Karena itu media massa saat ini berdiri pada dua kaki, satu kaki menjejak pada idealisme dan kaki lain pada industri. Idealisme ibarat hati untuk bisa merasa dan meraba, sedangkan industri ibarat jantung untuk menjaga agar hidup dan tumbuh.

Agar jantung tetap berdetak, tentunya harus ada darah yang dipompa ke penjuru tubuh. Darah di media massa ini adalah iklan. Bila iklan lancar maka pendapatan akan meningkat, mediapun akan sehat. Tapi bila iklan seret, media akan anemia. Apabila terus begitu, bisa berakibat fatal, pingsan atau bahkan mati.

Pers bisa berkembang seperti saat ini bila ditopang oleh iklan. Semakin banyak yang beriklan, maka akan semakin kuatlah perusahaan pers tersebut. Di tahun 2013 ini, kue iklan yang tersedia bakal mencapai Rp80 triliun!

Kue ini tak datang pada perusahaan pers atau media dengan sukarela, namun harus diperebutkan. Di antara yang berebut itu ada media elektronik (televisi dan radio), cetak (koran, tabloid dan majalah), serta online.

Untuk itu, media harus bersaing menyajikan konten baik format hiburan, edukasi dan informasi yang sangat menarik agar masyarakat tertarik. Semakin banyak yang tertarik lalu menonton atau membaca, maka ratingnya akan naik, tirasnya akan terdongkrak.

Dari sinilah pemasang iklan akan masuk. Karena semakin banyak media ditonton atau dibaca, akan semakin besar pula ”jualan” yang disampaikan pengiklan, diterima masyarakat. Sebaliknya, dari sinilah media menjaring rupiah sebesar-besarnya.

Di televisi misalnya, untuk acara ber-rating tinggi, harga iklannya dipatok sangat tinggi. Untuk iklan dengan durasi 15 hingga 30 detik saja, harganya sekitar 10 juta hingga 15 juta rupiah! Contohnya acara Termehek-mehek di Trans TV, yang harga iklannya mencapai Rp 5,5 juta per slot, dengan durasi 30 detik.

Memang harga ini tak seragam, tergantung "hukum ekonomi", semakin banyak dikonsumsi maka akan semakin mahal. Namun bila dikalkulasikan, rata-rata tarif iklan televisi terbagi dalam dua jenis, tarif murah berkisar 50 ribu hingga 350 ribu rupiah per spot (durasi 15-30 detik) dan tarif mahal berkisar 6 juta hingga 16 juta rupiah per spot (durasi 15-30 detik).

Demikian juga pada media cetak. Misalnya koran, harga iklan dibandrol per milimeter kolom. Sama halnya dengan televisi, di koran harga iklan-iklan di halaman utama, tentunya berbeda dengan di halaman yang kurang diminati. Demikian.

Tentang bagaimana iklan menopang hidup sebuah media ini dapat kita pelajari pada kasus penerbit majalah di New York yang diambang kebangkrutan. Di antaranya Readers Diggest Association dan enam perusahaan afiliasinya. Chief Executive Readers Digest, Bob Guth, menyebutkan, penyebabnya karena kurangnya iklan yang masuk.

Nasib yang sama juga didera time Warner Inc, yang bisnisnya meliputi televisi, film, dan percetakan. Saat ini, perusahaan media mingguan Time tersebut sedang membahas penjualan sebagian majalahnya kepada Meredith Corp, penerbit majalah Better Homes dan Gardens.

Setelah diteliti, langkah ini untuk mendukung rencana Time Warner untuk merombak beberapa divisi usaha yang performanya dinilai buruk, serta melindungi perusahaan dari penurunan dalam penjualan iklan.

Tahun lalu, pendapatan divisi iklan salah satu unit penerbit majalah terbesar di Amerika Serikat itu, turun 7 persen menjadi USD3,4 miliar, sedangkan laba usaha menurun 25 persen menjadi USD420 juta, karena iklan dan pendapatan langganan yang lebih rendah.

Kondisi itu akibat menjamurnya media digital yang menjadi saingan utama bisnis media cetak tersebut. Di negara maju seperti Amerika Serikat, di mana internet kian mewabah, konsumsi media cetak kian rendah. Masyarakat kian beralih pada televisi dan media digital.

Apa yang terjadi di Amerika ini, mulai ada gejalanya menular ke Indonesia. Di kota-kota besar, di mana akses internet kian massive, masyarakatnya pun sudah tak terbiasa lagi mengkonsumsi informasi dari media cetak. mereka sudah beralih mengkonsumsi informasi dari televisi dan tablet, bahkan kebiasaan ini dimulai sedari balita. Akibatnya, konsumsi iklan media cetak menurun.

Riset AC-Nielsen, The Nielsen Indonesia, Advertising Information Services Nielsen, awal Mei 2011 lalu menyebut, belanja iklan di Indonesia pada kuartal I/2011 meningkat tumbuh 20 persen menjadi Rp15,6 triliun dibandingkan periode yang sama 2010 senilai Rp13,0 triliun.

Televisi menjadi media utama yang menjaring iklan terbanyak pada kuartal I/2011, dengan meraup 62% dari total belanja iklan, atau sekitar Rp9,672triliun. Artinya, belanja iklan di televisi mengalami peningkatan sebesar 21% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya, surat kabar menjadi media kedua yang disasar industri untuk membelanjakan anggaran iklan mereka, dengan meraih 35% pangsa iklan atau sekitar Rp5,45 triliun dari total belanja iklan kuartal I/2011. Sedangkan majalah dan tabloid menjadi media yang meraih 3% pangsa pasar iklan atau sekitar Rp0,468 triliun.

Besarnya kue iklan yang harus direbut ini akan sangat prospektif sekaligus kompetitif bagi media, baik cetak, elektronik dan daring untuk terus berbenah dan tumbuh. Namun tetap harus diingat bahwa bisnis media adalah bisnis kepercayaan yang harus dirawat. Jangan sampai ditukar dengan iklan. *** 
Terbit di Majalah.batampos.co.id

Boyan, Melayu dan Marco Polo

Media Bawean, 24 September 2011

Oleh : M. Riza Fahlevi 
(Wakil Pemimpin Redaksi Batam Pos)

Minggu lalu saya menghadiri halal bihalal warga Bawean di Batam. Orang Bawean juga disebut orang Boyan. Tanah klahiran saya ini memang uniknya bukan main.

Bayangkan saja, pulau yang berada di utara Jawa Timur ini, masyarakatnya berbahasa Sumenep (Madura), namun berbudaya Melayu, khususnya kesenian. Padahal penduduknya tak ada dari tanah Melayu.

Penduduk Bawean saat ini berakar pada suku-suku yang menetap selama ratusan tahun di pulau ini. Di antaranya suku Jawa (mereka pendatang dari Majapahit dan para wali penyebar Islam).

Selanjutnya, Palembang/Kemas (bisnisman papan atas yang menetap di era Belanda), ada juga Bugis Mandar (pelaut yang nenetap karena Bawean kaya akan hasil laut), Madura (menetap setelah ekspansi Kesultanan Cakraningrat IV ke Bawean, juga didorong migrasi dari tanahnya yang gersang).

Sisanya, ada keturunan Arab, India, China, dan Campa. Namun mereka sudah berbaur tak lagi menonjolkan identitas etnik seperti di daerah lain. Mereka menetap karena kepentingan dagang, mengingat pulau ini dahulu menjadi pulau transit armada dagang dari gerbang asia, sebelum melanjutkan ke Jawa.

Keunikan inilah yang membuat Antropolog Belanda, Jacob Vredenbregt, melakukan penelitian lalu dituangkan dalam bukunya De Baweanners in hun Moederland en in Singapore, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh AB Lapian dengan judul Bawean dan Islam. Tak jelas siapa yang mentransplantasi budaya Melayu ini ke Bawean. Yang saya dengar dan baca, paling tentang akulturasinya saja.

Kalau dirunut kisahnya, Bawean dulu dipimpin raja pagan lalu Hindu dan berbahasa asli Bawean yang kini punah. Hingga di era abad 15-an, pulau ini banyak disinggahi pedagang Arab dan kaum Muslim lain dari Jawa. Bahkan Wali Songo.

Hingga di abad 16 Kesultanan Cakraningrat IV dari Sumenep Madura, mengekspansi pulau ini. Saat itulah, bahasa Sumenep (Madura) jadi bahasa resmi (administratif), yang lama kelamaan menghilangkan bahasa asli Bawean. Dari sini Islam jadi agama resmi.

Meski begitu, soal kebudayaan, khususnya seni, orang Bawean cenderung ke Melayu, tanah yang terletak ratusan mil laut dari pulau ini. Hal ini disebabkan pada abad itu, orang Bawean sudah mengenal Melaka (kini Malaysia) sebagai daerah rantauannya. Ada juga yang menetap di sini.

Jadi, wajar bila di Malaysia, Singapura hingga beberapa daerah di kepulauan Riau ini, banyak terdapat Kampung Boyan. Bahkan di Singapura, sensus 1980-an ke bawah, orang Bawean (Boyanesse) tercatat sebagai etnis tersendiri ke-4 setelah Melayu, China, India.

Kembali lagi. Di antara perantau-perantau tersebut, ada juga yang pulang kampung. Dari merekalah, orang Bawean mengenal dan menyerap budaya dan seni Melayu. Demikian sejarah singkat, terjadinya transplantasi budaya Melayu ke Bawean.

Soal transplantasi budaya ini memang sudah biasa terjadi di dunia. Ini sudah hukum alam, di mana peradaban maju selalu mempengaruhi peradaban yang berkembang. Hal yang mendasarinya adalah satu rasa takjub (sense of wonder) dari si penjelajah atau perantau yang bersangkutan. Dengan rasa inilah, dia mencangkok budaya ke tempat asalnya: amati, tiru, modifikasi, jadilah hal baru (co-creation).

Buku Wimar Witoelar, Still More About Nothing, mengupas, bahwa dulu Eropa juga tak luput dari hal ini. Ditandai ketika Marco Polo membawa budaya China ke Eropa yang begitu kuat penerimaannya, hingga orang lupa akan hal-hal yang tak lahir di Eropa. Kalau kita makan spaghetti Bolognaise, kita lupa spaghetti itu sebetulnya mi yang dipindahkan ke dalam konteks bumbu Kota Bologna, Italia.

Saat orang lihat kembang api pada malam tahun baru di Times Square, orang tidak tahu bahwa kembang api itu asli China, dibawa oleh Marco Polo ke Venezia, kemudian diteruskan oleh orang lain ke New York. Banyak lagi contoh transpalansi budaya yang membuat dunia lebih sempurna.

Sama halnya ketika seniman lukis Eropa abad pertengahan, pasca-Perang Salib, gemar menorehkan kalimat la ilaa haillallah, pada setiap karyanya. Saya baca hal ini di buku Hanum Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa.

Dia menyebut, kegandrungan orang Eropa abad pertengahan memajang kalimat Islami ini juga ditemukan pada dinding (inskripsi) di Gereja Pellermo di Sisilia, hingga mantel kebesaran Raja Roger dari Sisilia, yang dibuat tahun1113. Mantel ”The Baptized Sultan” itu sekarang tersimpan di Museum Harta Kerajaan, Istana Hofburgh, di Wina, Austria.

Yang menarik, lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus sekalipun, tak lepas dari torehan kalimat la ilaa haillallah. Salah satu buktinya lukisan Vierge a I’Enfant atau The Virgin an The Child, karya Ugolino di Nerio (1315-1320) yang kini tersimpan di Denon Wing, Museum Louvre, Paris. Museum dengan koleksi terlengkap di dunia, tempat lukisan maestro dunia tersimpan, mulai Rembrandt hingga Leonardo da Vinchi.

Kalimat la ilaa haillallah itu tertera pada hijab Bunda Maria, menggunakan huruf Arab Pseudo Kufic. Mana mungkin kalimat Tauhid Muslim itu tertera pada simbol suci Katolik?

Ceritanya pada awal abad 12 saat peradaban Islam di Arab maju. Bersamaan pasca-Perang Salib, pergerakan antarmanusia begitu besar. Orang-orang Eropa dan penakluk Kristen di Yerussalem, menyebar luaskan berita tentang hasil-hasil tenun indah dan tekstil kaum Muslim yang berkualitas. Inilah yang mereka bawa ke Eropa yang memang saat itu masih belum tersentuh pencerahan (renaissan).

Kerajinan ini sangat berharga, jadi kebanggaan para raja dan orang kaya Eropa. Merekapun gemar mendatangkan, atau menerima hadiah (suvenir), khas Timur Tengah, seperti permadani, keramik dan kain sutra.

Semua hasil industri ini tak bisa lepas dari pahatan atau bordir kalimat la ilaa haillallah. Kata-kata ini jadi semacam tag line favorit khas Timur Tengah kala itu. Barang belum dikatakan branded asli Timur Tengah bila tak tertera kalimat tauhid tersebut.

Tak heran bila kemudian, pemakaian kalimat ini jadi massive menghiasi baju kerajaan, busana dan kerudung bangsawan atau konglomerat Eropa kala itu. Nah, di saat yang bersamaan lukisan Bunda Maria dan Yesus atau Madonna and Child/Virgin Mary and Child, menjadi tema favorit para seniman kala itu.

Nah, supaya tampak sesuai tren, mereka menuliskan kalimat la ilaa haillallah pada kerudung yang dikenakan Bunda Maria. Tentunya, karena mereka tak tahu apa artinya. Jadi sama sekali tak disengaja. 

M. Riza Fahlevi (Guru Besar Media Bawean)
Sumber : http://rizafahlevi.blogspot.com/2011/09/bawean-melayu-dan-marco-polo.html

Ibu...

Media Bawean, 8 Mei 2010

Oleh : M. Riza Fahlevi


Ibu...

Ketika kata ini disebut, maka beribu kata sanjungan biasanya akan menyertai. Ibu adalah kasih, ibu adalah sayang, ibu adalah wanita terhebat di muka bumi. Kasih ibu adalah sifat Tuhan yang dihembuskan ke dunia kepada kaum wanita. Di antara 99 nama Allah (asmaul husna) sebagian besar, selalu merepresantasikan sifat ibu ini.

Sungguh luar biasa.

Namun di era moderen hal tersebut mulai bergeser. Bermula dari konsep pembangunan (development) yang selanjutnya memunculkan aksi feminisme, dan berakses pada kesetaraan gender.

Sejarah perbedaan gender antara jenis lelaki dan perempuan, terjadi melalui proses yang amat panjang. Hal ini pun terjadi karena dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan direkonstruksi secara sosial, kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara.

Hingga kemudian ada penyimpangan anggapan bahwa gender adalah ketentuan Tuhan, bersifat biologis dan tak bisa diubah. Perbedaan gender ini adalah kodrat lelaki dan kodrat perempuan semata.

Dari sini, kemudian muncullah, seperti yang saya sebut di atas, konsep pembangunan (development). Konsep ini bermula dari Amerika, di era kejatuhan pamor sistem ekonomi kapitalis oleh sosialis.

Development diciptakan untuk menggeser kepopuleran sistem sosialis itu sendiri. Dari sistem ini, lahirlah aksi feminisme, dan berakses pada kesetaraan gender.

Kesetaraan gender ini sebenarnya tidak buruk, namun dalam penerapannya kadang terlalu disalah artikan hingga melenceng dari konsep sejatinya.

Sebenarnya untuk memahami konsep gender, harus dibedakan antara gender dengan kata seks (jenis kelamin). Yang dimaksud jenis kelamin adalah ciri fisik yang melekat dada lelaki dan perempuan. Misalnya, lelaki memiliki sperma dan perempuan memiliki rahim.

Secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara lelaki dan perempuan. Ini adalah sudah ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan (kodrat).

Sedangkan konsep gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang direkonstruksi secara sosial maupun kultural.

Misalnya bahwa perempuan itu selalu lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri sifat itu sendiri merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Sebab, kadang ada juga lelaki lemah lembut, emosional, atau keibuan. Sebaliknya ada juga wanita yang kuat, rasional, perkasa.

Misalnya pada suku-suku Amazon, wanita lebih kuat dari laki-laki. Mereka adalah pemimpin bagi sukunya, pelindung seluruh rakyatnya, termasuk kaum lelaki itu. Sementara di suku lain, laki-lakilah yang berperan sebagai kepala dan bersifat lebih kuat, pelindung kaum wanita.

Dari sinilah mungkin mengapa akhir-akhir ini muncul pendapat bahwa menjadi seorang ibu itu adalah pilihan. Artinya, peran ibu bisa diganti dan direkonstruksi. Sama halnya dengan memilih jenis kelamin. Dengan kecanggihan dunia medis, manusia bisa memilih mau menjadi wanita atau lelaki. Bila demikian, maka sudah tak jelas lagi yang mana konsep gender dan konsep sexual.

Misalnya, wanita moderen saat ini tak perlu repot lagi merawat bayinya, karena saat ini sudah banyak bertebaran rumah-rumah penitipan anak, atau menyewa baby sitter terlatih.

Bahkan, kini seorang wanita tak perlu repot-repot mengandung bila ingin punya anak, karena mereka bisa menyewa rahim dari seorang wanita lain. Praktik ini disebut surrogate mother.

Menurut saya, bila peran ibu yang dimaksud adalah mendidik anak, ya, saya setuju bahwa itu disebut pilihan, itu adalah gender. Karena, kaum lelaki bisa saja mengambil peran ini. Namun bila dalam konteks melahirkan, menyusui, bahkan merawat anak, saya kurang setuju. Dua domain ini adalah kodrat bagi kaum wanita, bukan pilihan.

Anda boleh mengatakan saya kolot atau apa, namun saya hanya melihat akan ada pengaruh psikologis antar anak yang dilahirkan, disusui, diasuh oleh ibu sendiri, dari pada yang tidak. Karena punya anak, bukanlah sekadar berkembang biak, melainkan juga bertanggung jawab atas kelangsungannya, tak hanya konsep lahir seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, melainkan juga konsep batin, seperti kasih sayang.

Dalam hidup ini, bagaimanapun kesejatian, tak akan bisa tergantikan oleh kepalsuan.

Dari sini saya jadi teringat dalam episode Kick Andy, Mencari Akar di Luasnya Dunia. Episode ini mengisahkan, betapa gigihnya anak manusia mencari akar dirinya.

Kisah yang menyentuh ketika Kiyati, dipertemukan dengan orang ibu kandungnya, Mulyati. Kiyati, memang sejak masih usia 14 hari sudah diadopsi oleh warga negara Jerman.

Meskipun Kiyati sejak lahir tak menerima sentuhan sang ibu kandung, namun tetap saja mentalnya belum siap untuk bertemu ibundanya. Perlu waktu hingga belasan tahun untuk menyiapkan diri.

Hingga akhirnya pertemuan itu terjadi. Kiyati pun luruh, tak kuasa membendung air mata. Anak manusia ini telah menemukan akarnya.

Dari sini, kian meyakinkan kita bahwa kasih ibu memang tak ada bandingan, sungguh tak tergantikan. Dari sini, konsep bahwa menjadi ibu itu pilihan, luruh sudah. Menjadi ibu adalah kodrat, termasuk menjalankan peran sebagai ibu.

Menjadi ibu bukanlah pilihan, atau masuk dalam konsep gender. Alasannya, Mansour Faqih dalam bukunya, Analisis Gender dan Transformasi Sosial menulis, karena gerakan transformasi gender itu lebih merupakan gerakan pembebasan perempuan dan laki-laki dari sistem yang tidak adil.

Transformasi gender adalah upaya liberasi dari segala bentuk penindasan, baik secara struktural, personal, kelas, warna kulit maupun ekonomi internasional.

Bila merujuk dari definisi ini, pertanyaannya adalah, apakah menjadi ibu adalah buah dari ketidak adilan? Apakah menjadi ibu merupakan sebuah bentuk penindasan, struktural, personal, kelas, oleh sistem patriarki?

Saya rasa tidak. Menjadi ibu adalah peran mulia. Di tangannyalah masa depan anak bangsa dibina.

Sebagaimana yang ditulis Profesor Quaraish Shihab, yang amat bagus untuk kita renungkan bersama.

“Hormati wanita, karena ibu adalah wanita. Tak seorang lelakipun yang mampu melahirkan dan tak seorang anak Adam pun yang tak beribu, walau ada yang tak berayah.” Selamat Hari Ibu....

BUKU

Media Bawean, 29 April 2010

Oleh : M. Riza Fahlevi

Tak banyak yang tahu bahwa pada tangal 23 April lalu, dunia memperingati hari buku. Meski sama-sama tak dimasukkan dalam hari libur nasional, peringatan ini kurang bergema bila dibanding dengan hari Valentine. Padahal, peringatan inilah yang menandai perjalanan peradaban jagad ini.

Saya pernah ditanya, apa yang terlintas di benak saya saat disebut kata ”buku”. Bagi saya buku adalah kenangan persahabatan. Saat SD berebut membaca kisah 25 Nabi dan Rasul, buya HAMKA. Selang di bangku SMP, mulai larut dalam kisah-kisah petualangan, Gullver hingga Tom Sawyer.

Berganjak ke SMA, mulai antre dipersewaan komik, melalap beratus seri kisah pendekar klasik China karya Asmaraman Khopinghoo. Sesekali diselingi novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, hingga catatan Anne Frank.

Hingga mahasiswa masih antre lagi di perpustakaan, baca The Art of Philosphy, The Art of War, The Art of Loving, Psikologi Komunikasi, buku-buku ”kiri”, buku-buku ”kanan”. Majalah dan koran, sudah tak terhitung lagi. Hingga hari ini membaca buku-buku tasawwuf moderen karya Agus Mustofa, sekaligus bersahabat dengan penulis dan distributornya. Begitulah kesan saya dan saya rasa tiap orang memiliki kesan tersendiri yang beragam akan buku.

Keasyikan membaca buku ini adalah, imajinasi masih bebas merdeka mengembara, mereka-reka gambar apa yang cocok bagi kata-kata yang tengah dibaca. Penyair Prancis, Charles Pierre Baudelaire pernah menulis, bahagialah pikiran yang terbang seperti layang-layang pagi, dan memahami ”bahasa” bunga dan benda yang tak berbunyi.

Bukan seperti televisi yang kadang membatasi ruang nalar. Gunawan Muhammad pernah menulis di twitter-nya, TV adalah media perkasa: bisa membuat kebencian jadi fasih dan preman jadi pahlawan. Inilah mengapa, di negara maju televisi disebut sebagai candu yang berbahaya bagi generasi penerus.

Berbicara menganai buku, tentunya tak lepas kaitannya dengan kertas. Sebuah buku dasar-dasar Publisistik pernah membedah, bahwa dunia sudah seharusnya berterima kasih kepada Ts’ai Lun (Cai Lun), penemu kertas berkebangsaan Tionghoa pada tahun 105 Masehi.

Sebelum era ini, perpustakaan lebih banyak dipenuhi skroll ketimbang buku. Maklumlah, saat itu tulisan masih diukir dan dipahat dalam kulit kayu, bambu, hingga daun lontar (parkamen). Setelah revolusi yang memulai peradaban buku inilah, kemudian mengubah peradaban kitab suci, dan peradaban manusia modern.

Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ketangan orang-orang Arab pada masa Dinasti Abbasiyah yang memerintah antara 750-1258, terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi (abad ke-8).

Hingga muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. Kertas masuk ke Eropa lewat Islam pada abad ke-11, sedangkan industri kertas masuk ke Itali dan Jerman baru awal abad ke-15, tujuh abad setelah kaum Muslim menggunakannya.

Perkembangan kertas yang kemudian menjadi buku ini, membuat ilmu peradaban Islam saat itu kian maju. Dalam sebuah catatan, ibu kota Abbasiyah, Baghdad, merepresentasikan kota-kota modern saat ini seperti New York, Paris, atau London di dalam peradaban Barat modern.

Cendekiawan muslim, Luthfi Assyaukanie Ph.D pernah menulis, Marshal Hodgson, penulis The Venture of Islam, mengatakan, Baghdad adalah bintang terang di semua gugus kota yang ada di planet bumi saat itu.

Di Baghdad kaum Muslim mencapai kejayaannya di mana berbagai aspek kehidupan mengalami artikulasinya secara sempurna. Islam Baghdad adalah Islam yang gemilang yang menandakan pencapaian agama yang dibawa Nabi Muhammad.

Bagdad di masa kejayaannya adalah kota rujukan bagi peradaban dunia saat itu. Kota-kota Islam lain yang mereplikasi Baghdad adalah Cordova, Granada, dan Sevilla di Spanyol di bawah kekuasaan Dinasti Umayah.

Sama seperti Baghdad, ketiga kota itu merupakan mercusuar peradaban Islam di zaman pertengahan. Tanpa Baghdad dan Cordova, agama Islam tetaplah sebuah agama padang pasir yang tidak menarik.

Kejayaan ini tak lepas kaitannya dengan banyaknya jumlah buku yang dihasilkan, setara dengan iklim membaca masyarakatnya. Tak heran saat itu bermunculan para filusuf, ilmuan. Puluhan perpustakaan besar (maktabah) didirikan, termasuk Perpustakaan Baghdad yang diawasi langsung oleh khalifah. Selain karya-karya asing, buku karya ilmuan muslim sendiri juga ada di Perpustakaan Baghdad ini. Koleksi buku Perpustakaan Baghdad berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid.

Verba valent, scripta manent. Kata-kata bisa hilang, tetapi tulisan tetap abadi. Dakwah yang palng abadi tetaplah dakwah melalui tulisan. Berkah buku tidak akan pernah berkekurangan. Meskipun orang melirik pada dunia maya dengan perkembangan ternologi, membuat berbagai macam situs untuk mengabadikan pemikirannya, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan sebuah buku. Ia bisa menjangkau pikiran manusia kapan saja, dibaca di mana saja, dan mengubah diri pembacanya seketika itu juga.

Namun dunia kemudian meratapi peristiwa ketika Abbasiyah dihancurkan pasukanMongol (1258). Mereka membakar atau membuang ke koleksi buku Perpustakaan Baghdad ke Sungai Tigris. Ini adalah pemusnahan buku paling mengerikan dalam sejarah perpustakaan Islam. Tumpukan api unggun pembakaran buku Perpustakaan Baghdad konon menyamai ketinggian menara Masjid Agung Baghdad.

Ini adalah peristiwa terburuk dalam sejarah kepustakaan dunia, setelah peritiwa terbakarnya Ptolemies, perpustakaan besar di Alexandria di era kejayaan Romawi Timur, Byzantium.

Sedangkan sejarah percetakan buku di Indonesia dimulai pada tahun 1619 ketika pemerintah kolonial belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaannya di Hindia Belanda. Namun perkembangan percetakan di daerah itu, dimulai dengan kedatangan misionaris Inggris, Medhurst, ke Batavia pada tahun 1828.

Ketika misionaris Amerika dan Inggris pindah ke China, pada tahun 1840-an, percetakan itu ditinggalkan di Singapura dan dimanfaatkan oleh Reverend Keasberry dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Penerbitan mereka berdua menghasilkan beberapa buku dengan iluminasi dan edisi yang mewah di zamannya.

Sebuah buku Roeman Pergaoelan mengisahkan, buku awal yang dicetak dalam bahasa Minangkabau adalah Malayan Miscellanies 1820-1822 dan Kaba Cindur Mata pada tahun 1904. Malayan Miscellanies ditulis Dr W Jack dan terdiri atas dua volume.

Volume I adalah syair dalam bahasa Melayu yang bercerita tentang perjalanan Raffles ke Minangkabau berjudul Account of a Journey from Moco-Moco to Pangkalan Jambi, Trough Korinchi in 1818. Kedua ditulis dalam bahasa Minangkabau setebal 8 halaman yang berisi undang-undang serta keturunan raja Moko Moko Inderapura Darat.

Penerbitan ini menjadi era baru percetakan buku di Sumatera, khususnya Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Sejumlah penerbitan di Sumatera Barat dan Sumatera Utara inilah yang memberikan sumbangan berarti bagi kehidupan sosial politik pada masa-masa pra kemerdekaan.

Melalui buku inilah, fungsi jurnalistik bagi masyarakat dapat dijalankan dengan maksimal, terutama dalam hal kritik sosial dan advokasi bagi masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada akhir 1930-an sejumlah penerbit karya sastra di berbagai daerah mulai mengelola penerbitannya secara khusus. Roman mulai diterbitkan secara periodik. Dalam mengusahakan penerbitan karya sastra itu, para penggagasnya tetap mengusahakan terwujudnya cita-cita mereka terhadap kemerdekaan.

Hal itu diperlihatkan dengan keterlibatan mereka dalam organisasi pergerakan politik dan juga pandangan ideologi para pegiat penerbitan tersebut. Semangat nasionalisme menjadi sesuatu yang mendasari penerbitan karya sastra.

Hingga saat ini, buku selalu menjadi media penting untuk mencerdaskan masyarakat. Tak heran bila di negara-negara maju, budaya membaca tumbuh dengan hebatnya. Amien Rais pernah bercerita, betapa masyarakat Amerika sangat suka membaca. Hal ini juga sama dengan yang ada di Jepang. Tiada hari tanpa buku, bahkan saat antre hingga dalam kereta-pun masih membaca.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Budaya membaca ini sangat jarang ditemukan. Di sini, masyarakat masih mendewakan televisi. Apalagi setelah internet merambah ponsel, budaya membaca buku kian hilang berganti dengan chatting dan kegiatan narsis lainnya.

Hal ini kian diperparah, oleh kurangnya pemerintah daerah memperhatikan minat baca, atau memfasilitasi ketersediaan buku-buku ini.

Sejauh yang saya lihat, visi dan misi para kandidat Bupati Gresik yang bersaing, tak ada yang menyentuh soal ini. Semua masih pada tataran materaialistis.

Kini, tugas Media Bawean-lah yang harus mendorong mereka agar tergerak melakukan ini. Siapkanlah event kampanye untuk meningkatkan minat baca.

Komplen Sekumpulan Anak Muda

Media Bawean, 24 Oktober 2009

Oleh : M. Riza Fahlevi (http://rizafahlevi.blogspot.com)


Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya menerima Komplen Sekumpulan Anak Muda soal pemberitaan Media Bawean.

Sabtu, 3 Oktober, Tiga anak-anak muda usia belasan, datang bertandang ke rumah. Saya melihat, seorang di antaranya sangat resah. Hal ini bisa saya tangkap dari bahasa tubuhnya. Matanya tak terarah, tubuhnya gelisah. Begitulah.

Semula, mereka bersilaturahmi, ngucapkan selamat hari raya, bla... bla... bla... Hingga akhirnya, seorang anak muda yang resah tadi, mulai membuka suara.

”Sampean kenal Basit Media Bawean?” tanyanya.

”Ya, tentu saja,” saya menjawab.

”Sampean kok bisa jadi penulis tetapnya?”

”Oh, itu. Sebenarnya saya suka menulis di blog. Nah, catatan di blog saya itulah, bila dirasa menarik, diambil juga oleh Media Bawean,”

”Oh, begitu ya...”

”Memangnya mengapa?”

”Oh, enggak, sebenarnya saya cuma minta tolong agar foto saya yang dipasang di berita Media Bawean dicabut. Malu saya kak,” ujarnya.

Selanjutnya dia menjelaskan, kegusarannya itu bermula saat membaca berita Media Bawean yang berjudul Polsek Sangkapura Mengamankan Pemuda Mabuk-mabukan.

Dalam berita itu ditulis, Polsek Sangkapura pada Rabu (30/9) mengamankan beberapa pemuda asal Desa Sungaiteluk yang sedang mabuk-mabukan di pinggir jalan raya dengan minuman beralkohol. Pengamanan dilakukan, setelah kantor Polsek mendapat laporan dari warga setempat.

Operasi dipimpin langsung oleh Kapolsek Sangkapura AKP Zamzani,SH. dengan anggota langsung mendatangi TKP dan berhasil mengamankan 5 orang pemuda sedang asyik minum-minuman jenis anggur hitam yang beralkohol. Kelima pemuda diamankan di Mapolsek Sangkapura dan mendapatkan pembinaan.

Nah, anak muda yang datang ke rumah ini rupanya salah satunya. ”Saya malu Kak, bagaimana nanti bila saudara-saudara saya baca, baik yang di sini maupun di rantau,” ujarnya.

”Lho kenapa harus malu, kan namamu tak disebut?”
”Iya kak, tapi kan wajah saya terpampang di sana!”

Di sela-sela dia menjelaskan, ponselnya berdering. ”Nah ini dia dari kawan saya yang fotonya ikut nampang di situ,” jelasnya, lalu dia mengangkat telepon.

Ella, pokoknya bekna kalaben eson tak bisa beu paraben pole (Udahlah, kamu dan aku tak akan lagi dapat cewek,” ujarnya.

Lalu, si penelepon bertanya bagaimana hasil; pembicaraannya dengan saya. ”Iye, la ekabela ka eson (iya, udah aku bilangin),” jelasnya, lalu menutupo telepon.

”Gitulah kak, dari tadi kawan-kawan terus nelepon minta tolong. Yang terakhir ini paling parah, di foto itu dia berpose sedang memegang botol,” lanjutnya.

”Saya tahu saya salah, tapi tak usahlah foto kami dipasang. Kan kami sudah dihukum di kantor polisi, malam ditangkap, siang baru boleh pulang. Jadi berapa hukuman lagi yang harus kami terima?,” ujarnya.

Sayapun mafhum, lalu berjanji akan disampaikan pada Basit, selaku Pemrednya. ”Saya hanya bisa membantu, semua keputusan di tangan Basit. kalian harus paham itu,” terang saya. Syukurlah, anak muda ini maklum, lalu minta diri.

Selanjuunya saya telepon Basit, saya ceritakan semuanya. Saya katakan, bahwa saya sangat mendukung Media Bawean membantu kepolisian fight crime. Namun, saya harap juga mengedepankan rasa kasih sayang juga.

Menurut saya, anak-anak itu sudah cukup mendapat hukuman dari polisi, jadi jangan masih dihukum lagi oleh pemberitaan. Nanti apa kata keluarganya, kawan-kawannya, bahkan pacarnya? Toh, kesalahannya juga tak begitu berat.

”Kecuali bila mereka pembunuh atau merampok, pajang aja fotonya besar-besar.”

Alhamdulillah, basit mengerti. Dan foto itu langsung dicabut.

Mengunjungi Bandara Bawean

Media Bawean, 16 Oktober 2009

Oleh : M. Riza Fahlevi


M. Riza Fahlevi Di Lapter Bawean

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya Mengunjungi Bandara Bawean, daerah Tanjungori, Tambak.

Setelah bersepeda motor dari Sangkapura menempuh jarak 25 kilo bersama Pemred Media Bawean, sekitar 1 jam lebih melintasi rusaknya jalan lingkar dengan lubang lubang besar, batu tajam bak medan off-road, akhirnya saya tiba juga di lapangan terbang Bawean, Sabtu (4/10).

Lapangan terbang Pulau Bawean terletak di Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak. Pembangunan bandara ini dimulai pada tahun 2007, dengan panjang landasan pacu 900 meter.

Ide pembuatan bandara ini bermula saat bisnismen asal Singapura dan Malaysia mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jawa Timur kala itu, Imam Utomo.

Mereka mengatakan pada Gubernur, mengapa di Bawean tak dibangun bandara saja, sehingga jarak tempuh antara Surabaya dan pulau tersebut akan lebih singkat dan mudah dibanding dengan kapal.

Dengan pesawat udara, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Bendingkan dengan kapal laut yang memakan waktu 3 jam. Lebih dari 10 kali lipatnya.

Dari sinilah, kemudian pada awal Januari, tim dari Institut Tehnologi Surabaya turun melakukan pengkajian hingga akhirnya ditemukan lokasi yang cocok di dekat tebing di Tanjungori.

Saat saya ke sana, kondisinya masih dalam pengerjaan. Sudah 60 persen selesai, sudah pula lengkap dengan terminal penumpang baik deperture maupun arrival.

Untuk menuju terminal itu, dari jalan utama masih harus masuk ke dalam sekitar 2 kiloan. Kondisinya cukup baik. Tinggal perluasan landasan pacu saja yang masih terkendala. Konon masalah pembebasan lahan-lah yang membuat hal ini berlarut-larut.

Mumpung masih dalam pengerjaan, saya melihat langsung ke landasan pacunya. Wow, cukup luas. Dari kondisi fisiknya landasan ini hanya diperuntukkan untuk pesawat jenis Fokker 50. Karena bila melayani boeing atau air bus, masih kurang panjang dan luas lagi.

Namun, saya rasa cukuplah untuk membuka isolasi ini.

Sesampainya di landasan pacu tiu, saya turun dari sepeda motor. Tak sadar, tubuh ini luruh mengucap sujud syukur, lalu saya menelentangkan badan di atas aspalnya.

Kepanasan? Ya iyalah, saat itu tepat pukul 12.00, saat matahari menampakkan kegarangannya. Mana pada tanggal tersebut, jarak rotasinya lebih dekat dengan khatulistiwa, lagi.

Melihat aksi saya ini, Basit, terheran-heran. Dasar wartawan, secepat kilat dia mengambil kamera poketnya, lalu jepret, jepret, dia mengambil gambar saya.

Usai melakukan sksi ini, saya mengajak Basit meninjau ujung landasan. Dari sini saya tahu, ternyata bandara ini dibangun di atas tebing.

Dari atas sini view-nya sangat indah. Saya bisa melihat indahnya panorama alam Bawean, dengan pantai berpasir putih, dan sederet kapal-kapal nelayan berjejer didekat perkampungan.

Subhanallah. Allah ternyata sungguh baik, dengan memberikan penduduk pulau Bawean alam yang begitu indah, kaya dan ramah. Sayapun bertasbih, tahlil dan tahmid.

Setelah itu, saya memanggil Basit. ”Lihatlah Pak! Lihatlah! Inilah kunci kemakmuran pulau kita!” seru saya. Basit menyimak.

Lalu saya menjelaskan, bahwa tak mungkin pemerintah pusat mengucurkan uang miliaran rupiah untuk membangun lapangan terbang di sebuah pulau terpencil semacam Bawean, bila tak ada apa-apanya. ”Di beberapa kabupaten di Kepulauan Riau saja, tak semuanya memiliki lapangan terbang,” ujar saya.

Dari sinilah, nanti potensi Bawean akan tergali, pendapatan asli daerah akan terbantu, sehingga bisa membuat status pulau ini bisa saja naik.

Lalu saya menceritakan pertemuan saya dengan Gus Dur tahun 2008 lalu. Menurutnya, Bawean bisa maju asal tiap hari harus ada penerbangan. ”Ya, nantinya ada pesawat terbang dari Bawean menuju Sembilangan, yang berada di pantai barat Madura,” jawab Gus Dur.

Beberapa profesor yang ikut nimbrung dalam diskusi kami saat itu menimpali, bahwa Bawean memiliki sumber kelautan yang sangat baik. Bila Kenjeran saja bisa makmur hanya memanfaatkan selat Madura, Bawean pasti lebih bisa lagi. Karena potensi kelautannya lebih besar dan banyak.

Bahkan kabarnya, nantinya Bawean akan menjadi hub dan pusat industri maritim dan hortikultura di Indonesia bagian Barat. Hal ini akan mengulang kejayaan Bawean di masa penjajahan Belanda lampau, yang memang diperuntukkan untuk itu.

Berasal dari inilah kenapa saat ini di Bawean banyak ditinggali multi etnis, mulai Palembang hingga Mandar.

Kini, tinggal mencari investornya saja. Cara yang paling mudah, dengan menggalakkan pariwisata. Dari sinilah mereka akan masuk.

Berbicara soal potensi wisata Bawean, sunguh kaya. Tinggal dikelola saja. Pantainya landai dan bersih, penduduknya baik dan ramah, kulinernya mantap mantap, apa lagi? Mau mandi air panas? Ada. Mau mandi air terjun? Bisa.

Atau mau melakukan outbound di danau, hiking, tracking, rappeling hingga puncak gunung? Tinggal pilih saja, Bawean banyak memiliki gunung. Jumlahnya konon sampai 99 buah. Setara asmaul husna. Luar biasa.

Bagi yang suka diving, fishing, ah itu sih kecil. Di sini tak kalah indahnya dan asyiknya. Apalagi bicara soal fishing, tak usah kelaut dalam, di dermaga saja, Anda sudah bisa mendapat ikan kakap merah.

Terumbu karangnya juga bagus, khususnya di pantai Mayangkara dan beberapa pulau kecil, seperti Nusa, Cina, Karabile, Noko, dan Gili.

Bila mau wisata kampung, macam Dorani homestay di Malaysia, atau wisata religi di sinilah surganya. Di pulau ini selain alamnya masih perawan, juga menyimpan banyak peninggalan bernilai religius dan sakral. Di sini ada gelebung, situs Nyai Zainab, hingga jherat lanjheng (kuburan panjang).

Cuma, semua potensi ini belumlah terekspos. Untuk itu, saya menyarankan agar para camat membikin lomba desa wisata. Caranya, tiap desa mengusulkan potensi wisata unggulannya. Potensi wisata ini, selanjutnya dikelola desa masing-masing.

Tentu ini kan baik, karena selain akan menambah pendapatan bagi desa yang bersangkutan, juga akan membuat potensi wisata Bawean kian dikenal dan bisa terorganisir dengan baik.

”Itulah mengapa tadi saya sampai sujud syukur Pak Basit. Ini sebagai rasa kecintaan saya terhadap pulau ini. Kita bisa lebih aju lagi, setara dengan daerah lain,” jelas saya. Basit pun mafhum.

Saya melanjutkan, tak usah terlalu jauh, keuntungan di depan mata saja dengan berdirinya bandara ini bagi penduduk, akan dapat menciptakan multy player effect yang baik.

”Dengan adanya bandara, nantinya akan banyak menyerap tenaga kerja dan lahan bisnis, mulai rumah makan, transportasi hingga penginapan. Bahkan bisa jadi akan mengubah ‘naga bisnis’ pulau Bawean dari Sangkapura, ke Tambak!”

Selamatkan Bawean

Media Bawean, 14 Oktober 2009

Oleh : M. Riza Fahlevi (http://rizafahlevi.blogspot.com/)

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya bertemu seorang guru yang konsen untuk Selamatkan Bawean.

Saat berkunjung ke SMP Muhammadiyah, Sangkapura, sekolah tempat saya dulu mencari ilmu, saya bertemu seorang guru yang sangat kritis. Khususnya dalam masalah lingkungan.

Dalam diskusi itu, dia sangat gundah. ”Banyak hutan di Bawean yang dirusak, dan gundul. Kalau ini dibiarkan, maka keselamatan penduduk jadi taruhannya,” sergahnya bersemangat.

Semula, saya menanggapinya biasa saja. Saya malah berseloroh, ”Sudahlah, masalah itu terlalu berat, mending mengurus yang kecil-kecil saja,” jelas saya.

Namun sang guru malah makin bersemangat, ”Justru karena ini masalah besar harus dipikirkan Pak!”

Kali ini saya tak sembarangan lagi, rupanya dia serius. Lalu saya bertanya, apa tindakannya melihat semua ini. ”Kalau hanya ngomong prihatin, semua juga bisa. Tapi harus bertindak juga dong!” saran saya.

Dia makin sengit, ”Oh, saya sudah melakukan itu. Saya telah meninjau beberapa lokasi, dan memang di sana terjadi kerusakan hutannya sangat parah!” jelasnya.

Dia juga mengurai, data data temuannya ini dia sampaikan para beberapa petinggi daerah di Bawean. Namun hingga kini belum ada respon berarti. Sementara kerusakan dan penjarahan terus meluas.

Menjawab ini, saya akhirnya memberikan saran bagaimana supaya aksinya bisa lebih bergaung. ”Mas, kalau hanya bergerak sendiri tentu akan sangat susah. Perjuangan Anda akan kehabisan tenaga,” jelas saya.

Untuk itu saya menyarankan agar dia coba menggandeng berapa organisasi lingkungan, seperti Greenpeace dan semacamnya, atau masuk dalam kelompok diskusi tentang hutan di milis internet. Saya yakin aksinya akan lebih didengar.

Karena, saat ini isu kerusakan hutan memang lagi menghangat, karena berdampak pada pemanasan global. Isu inilah yang membuat beberapa negara-negara maju berkumpul dan mengucurkan dana miliaran dolar untuk menyelamatkan hutan ini.

Menurut data yang dirilis Food Agricultural Organization tahun 2007, laju perusakan hutan 1,8 juta hektar per tahun. Dalam 1 menit perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepak bola. Dengan kata lain, dalam sejam hutan seluas 300 lapangan sepak bola rusak.

Bahkan, beberapa waktu lalu, Joko Arif, Juru Bicara Kampanye Bidang Kehutanan Greenpeace di Jakarta, mengatakan penggundulan hutan di Indonesia menyumbang 75 persen gas rumah kaca.

Hingga diskusi ini berakhir, saya masih memikirkan temuan sang guru itu. Oh, pantas saja di Bawean saat ini sangat panas. Dulu saya berpendapat, Batam dan Surabaya adalah kota terpanas, namun kini, setelah beberapa tahun kemudian saya datang ke Bawean, anggapan saya itu gugur. Bawean, menjadi kota terpanas di antara dua kota itu. Bisa bayangkan.

Padahal untuk ukuran pulau kecil yang berada di tengah laut dan memiliki banyak gunung dan hutan, seharusnya udara Bawean lebih sejuk dan basah di Banding Surabaya dan Batam.

Hal ini diperparah, karena di pulau ini sangat jarang turun hujan, meski tahun ini sudah memasuki musim penghujan.

Akibat penggundulan hutan, tentu membuat kawasan resapan air terganggu. Semua ini berdampak pada berkurangnya debit air pada sumber-sumber air utama di Pulau Bawean seperti hutan primer di kawasan Gunung Nangka, Gunung Besar, Gunung Bengkoang, Gunung Dedawang dan juga menyediakan danau sebagai tempat resapan air yaitu Danau Kastoba dengan vegetasi yang masih utuh mengitari sekeliling danau.

Saat saya melakukan ekspedisi keliling Bawean, saya melihat beberapa punggung gunung sudah gundul, banyak sawah sawah mengering, tanahnya retak retak akibat kekurangan air. Sementara hewan ternak seperti sapi, mulai kesulitan mencari rumput segar. Semua mengering.

Debit air di sumur-sumur warga pun, khususnya yang tinggal di perkotaan, mulai menyusut. Meski ada, kadang kotor. Penduduk kini menggantungan suplai air dari sumber mata air di pegunungan, dengan menggunakan pipa yang dikelola desa masing-masing. Namun lagi-lagi, airnya kadang tersendat.

Di sisi lain, akhir-akhir ini konflik pemanfaatan air di Bawean sudah mulai terasa lebih-lebih pada saat musim kemarau dima debit air berkurang. Beberapa kelompok petani pengguna air menganggap bahwa adanya akses masyarakat dengan pipanisasi dari dalam kawasan telah mengurangi jumlah air yang dipakai untuk kebutuhan pengairan.

Di satu sisi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di pulau. Beberapa sumber air yang memberikan manfaat lain seperti Air Terjun Kuduk-kuduk ataupun Air terjun Latcar kini keindahannya semakin meredup karena debit air terjunnya semakin berkurang.

Tak puas, saya pun melihat sungai-sungai yang dulu dikenal memiliki air yang berlimpah, seperti ke sungai Patar Selamat dan Bengkosobung. Ternyata sama, sudah banyak terjadi pendangkalan dan penyempitan, rasanya lebih cocok disebut parit dari pada sungai. Airnya pun kotor dan keruh bercampur sampah.

"La derak kabbhi songai engkene nak (udah dangkal semua sungai saat ini, nak)," jelas seorang warga yang saya temui saat melihat-lihat kondisi sungai di Barat Sungai awal Oktober lalu.


Saat mendaki puncak Tanjung Gaan, lebih miris lagi. Kayu mentigi (santeghi), kayu bertuah yang dulu tumbuh lebat di sana, juga tak tampak lagi. Habis dijarah. Saya jadi khawatir, jangan-jangan kayu ini sudah punah dari ranah Bawean, sehingga anak cucu Bawean hanya bisa mendengar bahwa dulu di pulau ini tumbuh kayu mentigi, dari cerita pengantar tidur para orang tuanya saja.

Yang lebih kesalnya lagi, dulu saat akan merapat di pulau ini, dari kejauhan saya melihat Bawean sebagai pulau biru. Warna ini disumbang oleh lebatnya hutan yang menutup gunung ganangnya.

Namun kini, dari kejauhan Bawean menjelma menjadi pulau merah. Gunung ganang yang berselimut hutan tebal itu, banyak yang gundul. Sampai-sampai saya ragu, jangan-jangan saya tersasar ke pulau lain.

Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

“Dan janganlah kalian mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (QS. Asy-Syu’aro: 151-152)

Berkunjung ke Markas Media Bawean

Media Bawean, 13 Oktober 2009

Oleh : M. Riza Fahlevi ( rizafahlevi.blogspot.com)


Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya Berkunjung ke Markas Media Bawean berikut ini.

Baru saja saya tiba di Bawean, tiba-tiba ”Titit... titit....” Massage alert tone standard ponsel saya berbunyi. Ada SMS dari Abdul Basit, Pemred Media Bawean.

”Bapak, jadi berkunjung ke Media Bawean?” bunyinya.
”Untuk apa ya?” jawab saya.
”Lho kan Bapak guru besar kami, jadi wajar dong berkunjung ke mari?” jawab Basit.
”Baik, nanti jam delapan (20.00) saya datang,” balas saya. Pembicaraan selesai.

Hingga akhirnya pukul 20.00 saya menepati janji. Motor yang saya kendarai pun parkir di sebuah deretan bangunan petak. Saya hitung ada empat petak, tiap petak berukuran sekitar 4 x 4 meter.

Pintu bangunan ini, menggunakan pintu geser ke atas dan ke bawah. ”Oh, di sini rupanya markas yang menjadi gudang ide pembangunan pulau Bawean itu?” gumam saya dalam hati.

Kantor ini treletak di Jalan Pendidikan Sawah Laut, tepat sebelah selatan depan Rumah sakit Sangkapura. Malam itu, kantor media Bawean cukup terang oleh temaram lampu led hemat energi Sinyoku, setara 80 watt.

Tanpa ragu saya masuk. Di dalam ada seorang lelaki berbadan subur, mengenakan pakaian bak kaum santri, sarung kotak, baju koko warna kuning, berpeci haji bersulam benang emas, sedang mengutak atik sebuah laptop.

”Ah, pasti ini Abdul Basit itu,” pikir saya menebak. Sekadar diketahui, saya belum pernah bertemu langsung dengan Basit. Hubungan kami selama ini hanya melalui SMS, telepon atau chatting di Facebook.

Makanya saya agak bingung juga, ketika dia meminta saya menjadi guru besar Media Bawean yang luar biasa ini. Ya sudahlah, saya saya terima saja. Semoga saja menjadi ibadah.

”Assalamualaikum...”
”Wa alaikum salam,” lelaki subur menjawab, lalu itu bangkit dari duduknya, badannya setengah membungkuk, lalu menjabat tangan saya, lalu bekas telapak tangan saya dia cium.

Saya bingung. Siapakah saya ini? Apakah setan sifat Malaikat, atau seorang malaikat bersifat syetan bak kisah Harut Marut?

”Slamat datang bapak,” sambutnya, suaranya lembut pandangannya tetap tertunduk.
”Terimakasih,” balas saya. ”Oh benar ternyata dia Basit,” bisik saya dalam hati.

Kemudian Basit mempersilakan saya duduk di kursinya. ”Sudah kita duduk di sini saja,” balas saya, sembari menunjuk ke sebuah tikar Bawean yang terhampar di ruang tersebut.

Dari wajahnya, tikar ini amatlah multi fungsi. Kadang sebagai alas para tamu yang hadir, tempat makan, bahkan juga tempat tidur Basit bila kantuk menjajah.

Selanjutnya kami terlibat perbincangan hangat. Saat tiu saya berpesan agar Basit, sebagai pengelola Media Bawean, tak larut dalam sanjungan dan alergi kritik bahkan hinaan.

Karena orang yang kerap menerima kritikan memiliki energi lebih dari orang yang terbiasa disanjung atau orang-orang yang mengkritiknya.

Oleh karena itu mengapa tak ada orang besar yang tumbuh dari hasil mengkritik. Orang besar itu umumnya tumbuh dari hasil membangun dan menguatkan orang lain. Watawa saubil haq, wa tawa saubissabr.

Selanjutnya kami membicarakan banyak hal. Sejak malam itu, saya sering bertandang ke markas media Bawean ini. Saya pun tak merasa kesepian, karena suasana di sekitar Media Bawean cukup ramai. Kadang saya mendengar ada sekumpulan orang bercanda, tertawa kecil, atau orang yang sedang membuka tutup pintu. Pokoknya semarak.

Namun, setelah lama-lama saya mulai merasa aneh. Saat akan pulang, saya perehatikan lagi, kantor Media Bawean ini terpencil, terpisah dari perkampungan dan rumah penduduk. Juga bangunannya tak ada yang menggunakan pintu engsel, melainkan slidingdoor. Lalu, dari mana asal suara-suara itu?

Penasaran saya tanya ke Basit. Menjawab keanehan saya ini, dia hanya tersenyum. ”Ah itusih hiburan saya sehari-hari. kadang saya mendengar ada segerombolan orang tawuran di belakang,” jawabnya.

”Emang di belakang itu ada perkampungan?”
”Tak ada Bapak. tepat di belakang kantor ini adalah kuburan warga!”

Saya terhenyak mendengar jawaban ini.

”Tak takut sendirian di sini?”

”Tidak Bapak, saya santai saja. Tiap malam saya kadang pulang di atas jam 12 (dini hari). Saya berperinsip, tak ada orang mati gara-gara diganggu setan. Jadi kenapa harus takut?”

Media Bawean, Its Time!

Media Bawean, 25 September 2009

Oleh : M. Riza Fahlevi*

Saya pernah bertanya pada pemimpin redaksi Media Bawean, Abdul Basit Karim, mau dibawa ke mana media ini? Apakah Media Bawean hanya akan menjadi media komunitas, media forum, media kepentingan, media radikal, atau media perjuangan untuk memajukan pulau Bawean, atau apa lagi?

Saya bertanya seperti ini, karena seiring waktu Media Bawean harus menentukan posisinya atau kata orang bule stand, positioning, bla-bla bla. Karena, begitulah semua media bermula. Semula melalui fase kritis, fase pengembang, dan fase penerus.

Kalau kita runut, dari tiga fase ini, saya menilai Media Bawean sudah mempu melalui fase kritis, from nothing to some thing-lah. Kini saatnya, media ini memasuki fase pengembang. Sebuah fase yang jauh lebih susah dari fase kritis.

Hal ini seiring dengan grafik tingkat kepuasan pembaca pada media yang selalu di atas pencapaian. Pembaca, selalu saja kurang puas dan selalu saja meminta lebih. Inilah yang sekarang mulai dirasakan media ini.

Semula, pembaca senang membaca media bawean dengan informasi apa adanya. namun, lambat laut, permintaan mereka akan meningkat. Minta beritanya diperbanyak lah, minta menyoroti ini itu lah, dan lain-lain. Dulu, mungkin pembaca masih bisa maklum dengan argumen pengelolanya bahwa masih kekurangan ini dan itu, namun lama-lama tentu alasan ini tak akan diterima lagi.

Untuk itu sebelum masa tersebut datang, pengelola Media Bawean harus lebih kreatif lagi menyajikan hal-hal yang baru di media ini. karena bermodal semangat saja tidak cukup. Kreatif dan terus belajar, itulah kunci sukses media, bila ingin tetap eksis. Meminjam tagline Jawa Pos, "Selalu ada yang baru".

Bagaimana caranya?

Saya mengusulkan agar pengelola media Bawean mulai sedikit demi sedikit masuk pada manajerial media, khususnya dalam segi pemberitaan (news gathering), sehingga liputannya bisa padu.

Jangan sampai nanti pembaca membaca sebuah berita, namun keesokan harinya tak tahu bagaimana lanjutannya. Tentunya mereka akan kecewa.

Misalnya hari ini ada memberitakan pohon tumbang yang menutup jalan, besoknya jangan sampai lanjutannya malah hilang. Dan lain-lain.

Atau misalnya, Media Bawean ingin memberitakan buruknya infrastruktur di pulau ini, maka penyajian beritanya harus fokus pada akar berita itu sendiri. Sehingga dengan demikian, akan mampu menggedor para pemegang kebijakan di Gresik.

Nah, semua ini hanya dapat diketahui setelah melakukan menajemen pemberitaan itu.

Langkah sederhananya dengan melakukan Planning, Organizing, Actuating, Controlling (POAC) agenda dan event. Bisa harian, mingguan dan bulanan.

Dari sinilah nanti akan ditemukan sebuah sari-sari agenda setting yang akan menjadi jati diri media ini. Apakah agenda settingnya, apa tag linenya, apa tujuannya dan kemana pula muaranya?

Jadi, bisa lebih fokus apakah akan menjadi media perjuangan aspirasi dan sebagainya.

Media Bawean nantinya akan mampu mempetakan sebuah issue dan pengembangannya, sebuah row material berita dan approximity-nya. Media ini juga akan mampu melakukan coverge akan ilmu pengetahuan, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan di pulau ini.

Tak hanya itu, nanti akan dapat juga melakukan sistem bedah wilayah akan karakteristik dan keragaman Bawean itu sendiri, sehingga akan mampu lebih dekat dengan pembacanya dan bisa menyajikan rubrik baru yang interaktif.

Berat memang, namun bagaimana lagi, inilah resiko pekerja media. Maju terus Pak Basit, Bawean bangga pada Anda.

*CO Editor In Chief Batam Pos/Jawa Pos Group
& Guru Besar Media Bawean

Medianya Orang Bawean

Media Bawean, 8 Juli 2009

Oleh : Riza Fahlevi (http://rizafahlevi.blogspot.com/)

Saya merasa bersyukur bisa mengecapi abad internet, sehingga jarak dan waktu tak lagi jadi masalah besar, khususnya dalam mengakses informasi. Seperti, ingin tahu apa yang terjadi di kampung halaman saya, Pulau Bawean.

Dulu, keinginan saya tersebut saya puaskan dari telepon. Ya, biasanya kalau lagi kangen kampung halaman, saya biasa menelepon Kadir, Iwan, Mansyur dan lainnya, hanya sekadar ingin bertanya apa yang terjadi.

Dari mereka, saya biasa mendapat kabar tentang “people”. Misalnya, si fulan yang meninggal, si fulan yang menikah, atau si fulan yang melahirkan.

Atau juga soal “Ekonomi”, misalnya soal trend bisnis yang lagi boom di Bawean dan sebagainya.

Ada juga kadang, cerita “seputar Bawean”, misalnya soal ada pertandingan voli, bola kaki, hingga gerak jalan.

Selain itu, soal “gaya hidup”, misalnya kisah orang-orang yang tengah keranjingan bersepeda, main tenis atau bahkan main layangan. Dan lain-lain dan lain-lain. Semua terangkum dan diulas lengkap oleh mereka.

Namun, itu dulu, dulu sekali. Saat ini, kebiasaan saya tersebut sudah agak berkurang. Kalaupun nelepon, ya paling hanya basa basi saja.

Maklumlah, saat ini, di kampung saya sudah memiliki media online. Namanya Media Bawean (MB) http://bawean.net/. Sehingga, informasi tentang kampung saya tersebut, kini sudah bisa berdiri sejajar bahkan dengan Jakarta sekalipun.

Karena itulah, saya menjadikan MB sebagai pilihan pertama untuk mengakses informasi. Dan saya rasa, saya tak sendiri, karena banyak warga Bawean yang kini merantau di serata Indonesia hingga ke mancanegara, baik di Singapura, Malaysia maupun Australia, juga melakukan hal serupa.

Dari Media Bawean ini mereka mendapat informasi lebih lengkap. Dari sini, mereka tahu macam-macam tentang Bawean itu sendiri. Misalnya, kondisi infrastrukturnya, hingga masyarakatnya.

Informasinya yang singkat, ditambah banyak foto, membuat saya tak terlalu kesulitan untuk membaca media ini.

Dari MB-lah, mereka baru tahu, ternyata ada orang Bawean bernama Rogeh, yang menikahi 18 gadis ABG. Wah, “lebih hebat” dari Syeh Puji dong. Gara-gara kasus ini, Bawean sampai terkenal di forum-forum online sekelas Kaskus.us sekalipun.

Selain itu, mereka juga tahu betapa lingkungan pantai Pasir Putih kini rusak akibat dijarah orang tak bertanggung jawab. Selain itu, mereka juga melihat bagaimana perkembangan lapangan terbang yang kini terus dibangun. Dan ini memang yang ditunggu, biar pulang kampung jadi lebih menyenangkan.

Mereka kini juga tahu, bahwa sekolah di Kuduk-kuduk sudah sangat tak layak, atau jalan lingkar di telukdalam yang rusak parah. Bahkan, mereka juga tahu bahwa nasabah Bank Jatim kian banyak, sehingga untuk menabung saja harus antre hingga menyentuh angka ratusan!

Dan yang paling penting, bisa tahu jadwal kapal atau kondisi cuaca. Beda dengan dulu, kalau mau pulang ke Bawean masih ragu dulu, "Ada kapal enggak ya?" atau "Ombah gede enggak ya?" dan lain-lain.

Luar biasa. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Saya jadi teringat akan omongan bos Jawa Pos Grup, Dahlan Iskan. Bila ingin menilai sebuah kota berkembang atau tidak, lihat saja halaman korannya. Dan juga, bila ingin membuat kota itu maju, harus ada media di sana.

Semua ini memang sudah teruji. Banyak kota-kota di Indonesia, berganjak maju, setelah ada media massa di sana.

Fungsi medialah yang menjadi pelumas agar gerak kota atau daerah tersebut menjadi dinamis. Pelumasnya, adalah informasi dan komunikasi.

Dengan dua elemen ini, maka pertukaran ide dan gagasan akan semakin cepat. Intinya, orang kian peduli akan daerahnya. Dengan demikian, tentu pembangunan akan lebih mudah diarahkan.

Dan memang benar, hal ini saya saksikan sendiri, geliat Bawean setelah MB ada. Masyarakat kian peduli. Hal ini saya lihat dari komen mereka di bawah berita. Kadang tak hanya kritik, tapi juga gagasan.

Bentuk kepedulian ini, mereka tunjukkan dengan ikut andil merawat MB. Dari dulu tak punya apa-apa, hingga kini memiliki kantor yang meski sederhana, namun tetap representatif.

Dan Alhamdulillah, hasil kerja MB didengar oleh pengambil keputusan. Tentu ini baik, yang berarti Bawean tak lagi terabaikan, Bawean kini mendapat kepedulian, jadi jangan coba-coba mengganggu Bawean lagi, karena sudah ada yang membelnya. Karena masyarakat Bawean kini tak lagi tidur.

Siapa di balik MB?

Ini yang membikin mata saya terbelalak. MB ternyata hanya digerakkan satu orang. Dialah Abdul Basit. Di MB, dia marangkap reporter, editor, editor eksekutif, pemimpin redaksi, pemimpin perusahaan, bahkan pemimpin umumnya.

Tak heran bila Basit memiliki pergaulan luas. Mulai wong cilik, hingga pejabat di Gresik. Lingkar pergaulannya antar sesama jurnalispun cukup bagus. Beberapa kali dia kerap mendampingi wartawan media massa nasional, untuk meliput keindahan Pulau Bawean.

Kinerja Basit saya nilai cukup “militan”. Saya saja yang berkecimpung dalam bisnis media massa, sangat jarang meluhat ada reporter yang bisa bekerja sekeras itu.

Bayangkan, untuk mengkaver Bawean seorang diri tentu bukanlah hal mudah. Keliling pulau ini 50 kilo, dengan kondisi alam yang masih perawan, adalah tantangan tersendiri. Namun semua itu bisa dia lalui dengan baik meski itu semua tanpa gaji yang jelas.

Selain itu, mental Basit juga cukup bagus. Naluri jurnalisnya bisa ditanding. Pokoknya bila ada yang dilihatnya mengandung unsur what, when, where, who, why, how, langsung didatangi dan diwawancara.

Meski demikian, bukan berarti kinerja MB mulus. Selalu ada saja tantangan. Kian besar, kian diguncang. Ya, saya rasa wajar sajalah.

Yang unik, ternyata tantangan yang terberat Basit saat ini adalah hal yang sangat umum. Bukan represif penguasa, bukan pula aksi demonstrasi, melainkan gunjingan orang!

Pernah suatu ketika, hal ini sempat membuat dia limbung. Saat itulah saya SMS dia, “Wah… ternyata mudah ya untuk membungkam MB…”

Syukurlah, sejak saat itu semangatnya bangkit kembali.


Wajah Media Bawean

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean