Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Dua ABK Ditemukan Selamat, Adpel Ancam Cabut Ijazah Pelaut Nakhoda

Dua ABK Ditemukan Selamat, Adpel Ancam Cabut Ijazah Pelaut Nakhoda

Posted by Media Bawean on Selasa, 12 Agustus 2008

Media Bawean, 12 Agustus 2008

Sumber Jawa Pos

GRESIK - Pencarian korban Kapal Motor (KM) Palangkaraya yang tenggelam di Perairan Jawa, sekitar 11 mil laut dari Pelabuhan Bawean, membuahkan hasil. Kemarin (11/8), nelayan menemukan dua korban terapung di laut.

Mereka adalah Santoso dan Budi, keduannya awak buah kapal (ABK) barang rakitan 1961 tersebut. Santoso, bagian juru minyak, ditemukan nelayan asal Lamongan dan kini masih dirawat di Kecamatan Brondong, Lamongan.

Dia ditemukan terapung sekitar 2 mil dari lokasi tenggelamnya kapal milik H Munif, pengusaha asal Pulau Bawean, tersebut. Sementara itu, Budi, kelasi kapal, ditemukan nelayan Bawean dan kini dirawat di puskesmas Kecamatan Tambak, Pulau Bawean.

Berdasar catatan administrator Pelabuhan Gresik, masih ada seorang penumpang kapal nahas tersebut yang belum ditemukan. Namun, Adpel belum bisa menyebutkan identitas penumpang tersebut.

''Sebab, dalam manifes tidak disebutkan. Dia adalah penumpang liar,'' kata Kepala Seksi (Kasi) Angkutan Lalu Lintas dan Angkutan Laut (Lala) Adpel Gresik Pudi Astonugroho ketika ditemui Jawa Pos di kantornya kemarin (11/8).

Jumlah penumpang kapal tersebut memang masih simpang siur. Menurut pengakuan sementara nakhoda Djaelani Fauzi, jumlah penumpang 30 orang. Rinciannya, 17 awak buah kapal dan 13 penumpang gelap.

Sebanyak 29 orang telah ditemukan. Seorang di antara 29 orang tersebut meninggal. ''Nakhoda memang belum kami periksa karena masih shock. Namun, berdasar pengakuan sementara nakhoda tersebut, tinggal seorang penumpang yang belum diketahui,'' kata Tedi -sapaan Astonugroho.

Karena penumpang tersebut liar, Adpel sulit mendapatkan identitas penumpang yang hilang itu. ''Saya tidak tahu siapa namanya karena tidak masuk dalam manifes,'' ujarnya.

Keberadaan penumpang liar dalam kapal barang tersebut diduga sengaja disembunyikan. Diduga kuat itu dilakukan untuk mendapatkan uang ceperan. Sebab, penumpang liar tersebut tetap ditarik uang tanpa karcis Rp 100.000 per orang.

''Sebelum berangkat, petugas kami memeriksa ke dalam kapal tersebut. Namun, petugas tidak menemukan penumpang selain ABK,'' tegas Tedi.

Belakangan diketahui, kapal barang tersebut mengangkut penumpang selain barang. ''Pemeriksaan nakhoda memang baru direncanakan besok (hari ini, Red). Melihat kondisi di lapangan, nakhoda bisa mendapat sanksi berupa pencabutan ijazah pelautnya,'' ungkapnya.

Menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos, sejumlah warga di Pulau Bawean mengaku telah kehilangan anggota keluarga. Mereka adalah menumpang KM Palangkaraya yang tenggelam tersebut.

Di antaranya, Musdhalifah. Perempuan 45 tahun asal Dusun Tanjungan, Desa Pekalongan, Kecamatan Tambak, itu mengaku kehilangan anaknya, Abdul Rahman, 19.

''Anak saya sempat menelepon naik KM Palangkaraya. Dia minta dijemput Sabtu sekitar pukul 12 malam,'' kata Musdalifah melalui telepon. ''Tapi, sampai sekarang anak saya belum pulang,'' ungkapnya dengan nada risau.

Sementara itu, sejumlah penumpang yang selamat dalam kecelakaan tersebut, yakni Abdul Kadir Hasnan, Ubaidillah, serta suami-istri Imam Marfuat dan Nurul Azizah menyatakan, ketika ''nunut'' KM Palangkaraya, mereka ditarik Rp 100.000 per kepala.

''Sebelum kapal berangkat, kami diminta bersembunyi di kamar berukuran 2 x 3 meter di lantai dasar kapal. Katanya untuk menghindari pemeriksaan petugas,'' jelas mereka ketika ditemui di Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik kemarin.

Sebagaimana diberitakan, diduga kelebihan tonase dan diterjang ombak besar, KM Palangkaraya tenggelam di sekitar 11 mil Pulau Bawean. Seorang meninggal dan 29 lainnya selamat.

Dalam manifes, kapal tersebut memuat dua mobil (ambulans dan Toyota Yaris), 21 sepeda motor, 80 ton semen, 40 ton pupuk, 49 ton beras rakyat miskin (raskin), dan 10 ton general kargo (berisi sembako). Juga, 19 awak buah kapal (ABK)

Namun, sejumlah saksi menyebutkan bahwa kapal milik H Munif, pengusaha asal Pulau Bawean, itu mengangkut 63 sepeda motor, dua mobil, 5000 sak semen, 40 ton pupuk, 49 ton raskin, 10 ton sembako, serta puluhan penumpang. (yad/ib)

SHARE :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean