Media Bawean, 12 Agustus 2008
Sumber Jawa Pos
14 Jam Terapung, Makan Wafer
Enam di antara 29 penumpang Kapal Motor (KM) Palangkaraya yang selamat di Perairan Jawa, sekitar 11 mil dari Pelabuhan Bawean, pada Sabtu (9/8) pukul 22.00 masih menjalani perawatan intensif di RS Muhammadiyah Gresik. Apa cerita mereka?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik
"Kapal mau tenggelam! Cepat semua barang dibuang!" Teriakan nakhoda Kapal Motor Palangkaraya Djaelani Fauzi itu masih terngiang di telinga Imam Marfuat, 28, maupun Nurul Azizah, 28. Teriakan tersebut terdengar jelas oleh pasangan suami-istri yang baru menikah tujuh bulan silam itu.
Saat itu, Sabtu (9/8) sekitar pukul 22.00, Imam, Nurul, dan puluhan penumpang lainnya berada di ruang kemudi kapal barang tersebut. Mesin kapal jenis caterpillar 350 PK itu mati. Kapal pun mulai miring.
Sejumlah ABK, yang semuanya tidak mengenakan seragam sehingga mirip penumpang, mencoba mengeluarkan muatan, seperti elpiji dan semen. Kapal semakin miring. "Cepat...! Ambil pelampung," teriak Djaelani sekali lagi.
Dalam hitungan detik, bodi kapal seberat 291 gross ton (GT) itu melorot ke dasar laut. Alarm mobil Toyota Yaris milik Ainul Rofiq, menantu pemilik kapal, terus meraung-raung.
Penumpang maupun ABK berhamburan meloncat ke laut. "Ya, Allah, seperti kiamat saja," aku Imam. Imam mencoba lari ke pinggir. Tanpa disadari, dia sudah berada di laut. Pria asli Trenggalek itu terus memegangi tangan kiri istrinya, Nurul Azizah. "Saking kuatnya pegangan tangan suami, tangan saya sampai memar," ujar Nurul.
Puluhan penumpang terapung. Imam terus memegangi tangan Nurul. Dia lalu meraih sebuah papan selebar 50 sentimeter. Pada papan tersebut, terdapat tampar, Imam lalu mengikat pinggang istrinya dengan tali itu.
"Istri saya tidak bisa renang. Kalau pegangan lepas, pasti hilang," katanya soal alasan mengikat pinggang istri dengan tampar tersebut.
Keduanya lalu terapung di laut mengikuti ombak. "Selama 14 jam, saya dan istri terombang-ambing," ceritanya. Selama itu, mereka hanya makan sebuah wafer. Wafer tersebut tiba-tiba muncul dari dalam laut.
Hujan deras yang mengguyur Perairan Jawa, sekitar 11 mil dari Pulau Bawean, digunakan Imam untuk minum. "Sambil memegangi tangan istri, saya ndangak minum air hujan. Rasanya begitu nikmat," kenangnya. Minggu sekitar pukul 11.00, keduanya diselamatkan oleh kapal cepat Ekpress Bahari EB 8B.
Penumpang lain, Abdul Kadir Hasnan, punya kenangan lain. Saat itu, pria 53 tahun tersebut berada di kapal itu bersama anak sulungnya, Ubaidillah. Sekitar pukul 21.30, pria asal Perum Kalirejo, Bangil, itu salat Isya. "Setelah salat, saya merasa bodi kapal sudah miring,"akunya.
Beberapa menit kemudian, ombak besar datang. Bodi kapal yang sudah miring tersebut semakin miring hingga akhirnya tenggelam. Dia pun terapung di laut. Tiba-tiba, dia melihat buntut ikan. "Seperti ada yang mendorong saya sehingga saya disenggol ikan," katanya.
Beberapa menit kemudian, ada sebuah papan selebar daun pintu di dekatnya. Abdul Kadir, Ubaidillah, serta Ny Kasnawiyah langsung memegangi papan tersebut.(ib)
Sumber Jawa Pos
14 Jam Terapung, Makan Wafer
Enam di antara 29 penumpang Kapal Motor (KM) Palangkaraya yang selamat di Perairan Jawa, sekitar 11 mil dari Pelabuhan Bawean, pada Sabtu (9/8) pukul 22.00 masih menjalani perawatan intensif di RS Muhammadiyah Gresik. Apa cerita mereka?
CHUSNUL CAHYADI, Gresik
"Kapal mau tenggelam! Cepat semua barang dibuang!" Teriakan nakhoda Kapal Motor Palangkaraya Djaelani Fauzi itu masih terngiang di telinga Imam Marfuat, 28, maupun Nurul Azizah, 28. Teriakan tersebut terdengar jelas oleh pasangan suami-istri yang baru menikah tujuh bulan silam itu.
Saat itu, Sabtu (9/8) sekitar pukul 22.00, Imam, Nurul, dan puluhan penumpang lainnya berada di ruang kemudi kapal barang tersebut. Mesin kapal jenis caterpillar 350 PK itu mati. Kapal pun mulai miring.
Sejumlah ABK, yang semuanya tidak mengenakan seragam sehingga mirip penumpang, mencoba mengeluarkan muatan, seperti elpiji dan semen. Kapal semakin miring. "Cepat...! Ambil pelampung," teriak Djaelani sekali lagi.
Dalam hitungan detik, bodi kapal seberat 291 gross ton (GT) itu melorot ke dasar laut. Alarm mobil Toyota Yaris milik Ainul Rofiq, menantu pemilik kapal, terus meraung-raung.
Penumpang maupun ABK berhamburan meloncat ke laut. "Ya, Allah, seperti kiamat saja," aku Imam. Imam mencoba lari ke pinggir. Tanpa disadari, dia sudah berada di laut. Pria asli Trenggalek itu terus memegangi tangan kiri istrinya, Nurul Azizah. "Saking kuatnya pegangan tangan suami, tangan saya sampai memar," ujar Nurul.
Puluhan penumpang terapung. Imam terus memegangi tangan Nurul. Dia lalu meraih sebuah papan selebar 50 sentimeter. Pada papan tersebut, terdapat tampar, Imam lalu mengikat pinggang istrinya dengan tali itu.
"Istri saya tidak bisa renang. Kalau pegangan lepas, pasti hilang," katanya soal alasan mengikat pinggang istri dengan tampar tersebut.
Keduanya lalu terapung di laut mengikuti ombak. "Selama 14 jam, saya dan istri terombang-ambing," ceritanya. Selama itu, mereka hanya makan sebuah wafer. Wafer tersebut tiba-tiba muncul dari dalam laut.
Hujan deras yang mengguyur Perairan Jawa, sekitar 11 mil dari Pulau Bawean, digunakan Imam untuk minum. "Sambil memegangi tangan istri, saya ndangak minum air hujan. Rasanya begitu nikmat," kenangnya. Minggu sekitar pukul 11.00, keduanya diselamatkan oleh kapal cepat Ekpress Bahari EB 8B.
Penumpang lain, Abdul Kadir Hasnan, punya kenangan lain. Saat itu, pria 53 tahun tersebut berada di kapal itu bersama anak sulungnya, Ubaidillah. Sekitar pukul 21.30, pria asal Perum Kalirejo, Bangil, itu salat Isya. "Setelah salat, saya merasa bodi kapal sudah miring,"akunya.
Beberapa menit kemudian, ombak besar datang. Bodi kapal yang sudah miring tersebut semakin miring hingga akhirnya tenggelam. Dia pun terapung di laut. Tiba-tiba, dia melihat buntut ikan. "Seperti ada yang mendorong saya sehingga saya disenggol ikan," katanya.
Beberapa menit kemudian, ada sebuah papan selebar daun pintu di dekatnya. Abdul Kadir, Ubaidillah, serta Ny Kasnawiyah langsung memegangi papan tersebut.(ib)


Posting Komentar