Media Bawean, 8 Agustus 2008
Oleh : Mr. Gerbang Bawean
Menghadapi pemilihan umum (Pemilu) tahun 2009, warga Bawean harus memilih wakilnya dengan menggunakan logika yang sehat. Bukan untuk kepentingan sesat, tapi untuk kemanfaatan jangka panjang.
Sudah saatnya warga Bawean memilih kursi yang baik, jangan memilih kursi rusak. Bila memilih kursi rusak, maka untuk memperbaikinya membutuhkan waktu dan proses panjang yang hasilnya belum bisa dipastikan akan kembali baik. Kursi rusak saat diduduki, selalu membuat penggunanya merasa kesal dan menimbulkan kemarahan.
Seyogyanya kursi rusak dengan kursi baik bisa dibedakan dalam memilih yang terbaik untuk mewakili rakyat Bawean di gedung dewan. Bila kursi baik masuk dalam pilihan, maka semuanya akan terwakili suaranya disaat sidang rakyat berlangsung. Saat sekarang kursi yang baik dan rusak sama-sama berkompetisi untuk mendapatkan jatah kursi. Mereka melakukan segala hal, dengan tujuan utama meraih kursi.
Segala sesuatunya sudah mulai diobral sesuai kemampuannya untuk membuai warga Bawean. Ada yang merasa didukung oleh kyai A B C dan lainnya, ada yang merasa didukung oleh penguasah A B C D, bahkan ada yang merasa siap memberikan apapun yang diminta asal mendukung.
Kenapa setiap pemilihan harus dengan modal uang besar? Kenapa warga Bawean setiap akan menentukan pilihannya selalu menanyakan uangnya terlebih dahulu? Menurut sebagain opsi yang berkembang di masyarakat Bawean, calon anggota dewan harus punya kemampuan menjual dan membeli. Menjual artinya calon harus laku bila ditawarkan pada pemilih, tapi harus diimbangi oleh kemampuan membeli. Membeli artinya memiliki kemampuan modal uang yang besar untuk diberikan pada pemilih, baik berbentuk uang atuapun berbentuk materi seperti semen dan lainnya.
Tetapi bila hanya mampu menjual saja, tanpa diimbangi kemampuan membeli menurut opsi yang ada sangat sulit untuk dipilih. Demikian juga punya kemampuan membeli dengan modal besar, tapi tidak mampu menjual, juga akan mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan suara. Haruskah opsi tersebut menjadi budaya masyarakat Bawean dalam setiap moment pemilihan, seperti pilkades, pilkada, pilgub ataupun pemilu?
Oleh : Mr. Gerbang Bawean
Sudah saatnya warga Bawean memilih kursi yang baik, jangan memilih kursi rusak. Bila memilih kursi rusak, maka untuk memperbaikinya membutuhkan waktu dan proses panjang yang hasilnya belum bisa dipastikan akan kembali baik. Kursi rusak saat diduduki, selalu membuat penggunanya merasa kesal dan menimbulkan kemarahan.
Seyogyanya kursi rusak dengan kursi baik bisa dibedakan dalam memilih yang terbaik untuk mewakili rakyat Bawean di gedung dewan. Bila kursi baik masuk dalam pilihan, maka semuanya akan terwakili suaranya disaat sidang rakyat berlangsung. Saat sekarang kursi yang baik dan rusak sama-sama berkompetisi untuk mendapatkan jatah kursi. Mereka melakukan segala hal, dengan tujuan utama meraih kursi.
Segala sesuatunya sudah mulai diobral sesuai kemampuannya untuk membuai warga Bawean. Ada yang merasa didukung oleh kyai A B C dan lainnya, ada yang merasa didukung oleh penguasah A B C D, bahkan ada yang merasa siap memberikan apapun yang diminta asal mendukung.
Kenapa setiap pemilihan harus dengan modal uang besar? Kenapa warga Bawean setiap akan menentukan pilihannya selalu menanyakan uangnya terlebih dahulu? Menurut sebagain opsi yang berkembang di masyarakat Bawean, calon anggota dewan harus punya kemampuan menjual dan membeli. Menjual artinya calon harus laku bila ditawarkan pada pemilih, tapi harus diimbangi oleh kemampuan membeli. Membeli artinya memiliki kemampuan modal uang yang besar untuk diberikan pada pemilih, baik berbentuk uang atuapun berbentuk materi seperti semen dan lainnya.
Tetapi bila hanya mampu menjual saja, tanpa diimbangi kemampuan membeli menurut opsi yang ada sangat sulit untuk dipilih. Demikian juga punya kemampuan membeli dengan modal besar, tapi tidak mampu menjual, juga akan mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan suara. Haruskah opsi tersebut menjadi budaya masyarakat Bawean dalam setiap moment pemilihan, seperti pilkades, pilkada, pilgub ataupun pemilu?


Posting Komentar