Media Bawean, 17 Maret 2012
Ketika petugas Syahbandar melarang adanya pelayaran sehubungan tingginya gelombang di perairan laut jawa, ternyata tidak memupuskan harapan nelayan Bawean untuk melintasi laut Bawean - Gresik.
Kenekatan nelayan tradisional asal Pulau Bawean, terbukti selamat sampai di pelabuhan Gresik setelah menempuh pelayaran selama 10 jam, berangkat dari Pulau Bawean (jum'at, 16/3/2012), jam 19.00 WIB. sampai di pelabuhan Gresik jam 05.00 (sabtu, 17/3/2012).
Turut serta dalam pelayaran adalah warga Singapura dan pekerja kapal asal Pulau Bawean dengan jumlah penumpang sebanyak 4 orang. Ongkos biaya angkut Bawean - Gresik, keseluruhan pendapatan penumpang sebanyak Rp.5 juta.
H. Hasan asal Pamon, desa Sidogedungbatu, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, sebagai pemilik Kelotok mengatakan sudah biasa berlayar menembus gelombang besar Bawean - Gresik. "Alhamdulillah tidak pernah ada masalah dalam berlayar, selalu selamat sampai ditujuan dalam kondisi gelombang tinggi sekalipun,"katanya.
"Daripada mencari ikan ke laut tidak jelas pendapatannya, lebih baik menghantarkan warga Bawean yang butuh berlayar ke Pulau Jawa,"paparnya.
Pada waktu kapal Express Bahari kembali berlayar (4/3/2012), H. Hasan mengaku berlayar pada malam minggu dengan tujuan Surabaya - Bawean. Menurutnya, memang gelombang sangat besar, semua barang-barang diatas kelotok bertaburan disebabkan gelombang tinggi, tapi selamat sampai di Pulau Bawean.
Ketika akan meninggalkan Pelabuhan Gresik, H. Hasan menawarkan siapa mau ikut pulang ke Pulau Bawean, cukup membayar Rp. 100ribu saja untuk per orang. Setelah ditawarkan ternyata tidak ada satupun yang bersedia ikut dalam pelayaran (bst)