Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Memaknai Batuk "Kiai Jenggot"

Memaknai Batuk "Kiai Jenggot"

Posted by Media Bawean on Selasa, 26 Februari 2019


Oleh: Sugriyanto

Tepat pada hari kewafatan KH. Abdul Hamid Thobri sebagai pendiri Pondok Pesantren Shalafi "Nurul Huda" ini digelar haul ke-38 dengan semarak penuh hidmat dan bersahaja. Pondok pesantren yang berdiri kokoh di Dusun Pancor Desa Sidogedungbatu kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik ini menggelar acara haul pada hari Senin malam Selasa tanggal 25 Pebruari 2019 atau bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil akhir 1440 H atmosfernya terasa sedikit berbeda dengan acara haul tahun sebelumnya. Perbedaan ini terlihat dari rangkaian acara pada tahun ini diawali dengan menggelar pengajian umum dari kelompok sholawatan dengan mendatangkan KHR. Moh. Khalil As'ad pada tanggal 14 Pebruari 2019 yang lalu. Panitia dan jajarannya menganggap rangkaian penggelaran acara pengajian umum dimaksud sedikit "lopot" waktunya dengan hari kewafatan al-Maghfurlah KH.Abdul Hamid Thobri yang semestinya sehingga sebagai ganti lanjutannya digelarlah acara haul pada hari Senin malam Selasa, 25 Pebruari 2019 ini secara semarak.

Acara haul sederhana ini dimulai dengan pembacaan "burdat" bersama oleh para pengasuh dan wakil alumni dengan khusuk di depan teras salah satu ruang pondok yang menjadi pengganti panggung utama menghadap ke arah utara. Seluruh hadirin duduk sama merendah seraya mengikuti acara dengan hening pula. Tepat pukul 20:45 WIB penggelaran haul dibuka oleh pembawa acara. Harapan dari haul ini disampaikan oleh penata acara dengan maksud agar semakin erat jalinan tali ikatan para alumni pondok pesantren "Nurul Huda" yang menyebar hampir di seluruh penjuru Pulau Bawean.

Di susul kemudian acara sambutan wakil alumni sekaligus sebagai ketua panitia yang dimandatkan kepada Ustadz Hisyam. Dalam penyampaian untaian sambutan singkatnya, beliau mengucapkan rasa terimaksih kepada semua pihak yang telah menyemarakkan atau menghadiri acara haul KH. Abdul Hamid Thobri ke-38 ini. Ucapan terima kasih pula ditujukan kepada semua pihak tanpa dapat disebutkan satu-persatunya yang telah berkontribusi, baik berupa materi, pikiran, maupun tenaga serta segala bentuk partisipasinya. Semoga amal baik tersebut mendapat balasan dari Allah SWT. dengan imbalan yang sepantasnya teriring doa surat suci lewat bingkisan surat al-fatihah. Ucapan permohonan maaf juga disampaikan atas segala kekurangan sempurnaan pelaksanaan acara haul tahun ini.

Kegiatan lain yang menjadi rangkaian helatan rutin bulanan berupa "dzikir al wiridullatif". Ada banyak jenis wirid sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Al-Mughfurlah KH. Abdul Hamid Thobri. Hampir setiap waktu, terutama sehabis melaksanakan salat wajib lima waktu dan waktu-waktu ijabah lainnya, beliau melakukan hal tersebut secara istiqomah. Kebiasaan bernilai "usaha" ingat atau dzikir kepada Allah SWT. telah ditorehkan oleh beliau. Ada beberapa jenis wirid yang selalu dilakoni oleh KH. Abdul Hamid Thobri yang pada akhirnya diteladani oleh para santri dan alumni.

Acara berikutnya, berupa sambutan perwakilan pengurus pondok "Nurul Huda" oleh Kyai Sholehoddin Zakariyah. Pada kesempatan penuh khusuk dan rasa tawaduk sambil duduk bersimpuh beliau mengungkap bahwa semestinya Ilmu itu tidak cukup hanya digunakan sebagai pengetahuan belaka akan tetapi bisa diamalkan. Pada sela sambutan mewakili keluarga besar pondok "Nurul Huda", Kiai Sholehoddin Zakariyah mengungkap secuil kisah panggilan atau gelar yang diberikan kepada Al-Maghfurlah KH. Abdul Hamid Thobari oleh warga Dusun Sarambhe Desa Kebun Telukdalan. Sebutan KH.Abdul Hamid Thobri di sana dipanggil "Kiai Jenggot" (Baca, Bawean: Keae Jengguk). Salah satu yang menjadi tengara khusus dari "Kiai Jenggot" ini adalah suara batuknya. Jumlah suara batuk dari Sang "Kekasih Allah", KH. Abdul Hamid Tobri ini saja bisa dijadikan patokan waktu menjelang masuknya waktu subuh dan waktu solat lainnya. Batuk "karomah" beliau dijadikan tengara yang diyakni masyarakat Dusun Sarambhe. Menurut penuturan warga Sarambhe serta bagi warga di sekitar pondok "Nurul Huda" semasa hidup beliau. Termasuk para nelayan dan warga sekitar jika mendengar alunan batuk beliau maka hitungan atau jumlah batuk beliau dijadikan isyarat masuknya waktu supaya pulang kembali dalam rangka menunaikan kewajiban ibadahnya.

Suasana acara semakin menggema merasuk ke dalam relung kalbu para hadirin saat rangkaian acara pembacaan surat Yasin yang dipandu oleh KH.Abdullah Sodiq. Kemudian dilanjutkan dengan acara tahlil yang dipimpin oleh Kiai H.Machfudz asal Grejek, serta dirangkai dengan pembacaan solawat nabi yang dipimpin oleh Kiai Muniri. Menjelang akhir pembacaan solawat ini para hadirin turut berdiri bersama dengan iringan suara tetabuan jidor khusus yang dimiliki oleh pihak panitia melantukan solawat nariyah sebagai pungkasannya.

Sebelum acara ini ditutup dengan doa terlebih dahulu diisi dengan acara siraman rohani oleh K.H. Natsir pengasuh pondok pesantren "Annasiriyah" Guntung. Walau beliau dalam kondisi "sakit" sekian tahun lamanya tetap berusaha sekuat tenaga untuk bisa menghadiri haul tahun ini. Beliau mencoba memompa semangat para alumni pondok "Nurul Huda" agar turut menjaga kelestarian atau kelangsungan pondok yang pernah membesarkan para santri yang hingga sampai saat ini terhitung 155 santri dengan rincian 80 santri putra dan 75 santri putri. Dalam penghujung ceramahnya KH.Natsir mengungkap betapa penting dan "ijabah" doa kedua orang tua dalam mengantarkan keberhasilan putra-putrinya yang didasarkan pada sebuah keterangan. Doa orang tua laki-laki kepada anaknya setara, bahkan lebih ijabah dari doa 40 wali kutub. Sedangkan doa seorang ibu kepada anaknya lebih dari 120 kali doa wali kutub ijabahnya . Amin.

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean