Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Jazilul Fawaid, pimpinan MPR RI kelahiran Pulau Bawean


Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid resmi ditetapkan sebagai salah satu pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) periode 2019-2024.

Dia menjadi satu dari 10 pimpinan MPR RI yang dilantik dalam rapat paripurna yang diselenggarakan di Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Kamis malam.

Jazilul bukanlah orang baru di Senayan. Pria kelahiran Gresik, 5 Desember 1971 ini merupakan anggota DPR petahana periode 2014-2019 yang kala itu duduk di komisi V membidangi infrastruktur, transportasi, daerah tertinggal dan transmigrasi, meteorologi, klimatologi, dan geofisika, serta pencarian dan pertolongan.

Jazilul lahir di Pulau Bawean, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Putra pasangan M Sunan Hamli dan Insiyah ini sejak kecil telah tumbuh di lingkungan yang religius. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru agama.

Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Ma’rif Islamiyah, Kertosono, Gresik, Jazilul muda melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Ihya’ul Ulum, Gresik, pimpinan ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) KH. Ma’shum Sufyan (Alm).

Selayaknya santri pada umumnya, ayah empat orang anak ini menghabiskan hari-hari di pesantren dengan memperdalam ilmu-ilmu agama, termasuk menekuni bacaan kitab-kitab salafi maupun kitab kuning.

Di pondok pesantren ini pula Jazilul mulai mengenal organisasi NU. Setelah mengenyam pendidikan pesantren selama enam tahun, Dia kemudian hijrah ke Jakarta dan menempuh pendidikan S1 di Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) serta S2 di Istitut Ilmu AL Quran (IIQ).

Karier politik Jazilul dimulai ketika dirinya aktif berkegiatan di organisasi NU Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Di dalam organisasi ini, pria yang akrab disapa Cak Jazil tersebut mulai berjejaring dengan tokoh-tokoh muda NU.

Pada 1999, mantan Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini dipercaya menjabat sebagai wakil sekjen Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa yang notabene merupakan organisasi sayap PKB.

Suami dari Chalimatus Sa’diyah ini pada 2009 maju dalam pemilihan calon anggota legislatif dari PKB dan berkompetisi pada daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur II meliputi wilayah Pasuruan dan Probolinggo.

Saat itu, dia menempati posisi kedua, kalah jumlah suara dari adik pendiri PKB, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lily Chadijah Wahid yang menduduki peringkat teratas caleg PKB di dapil Jawa Timur II.

Namun pada Maret 2013 Jazilul dilantik menjadi anggota DPR RI dalam pergantian antar waktu (PAW) anggota Fraksi PKB menggantikan Lily Wahid untuk sisa waktu periode 2013-2014.

Jazilul kembali maju dalam kontestasi Pemilihan Legislatif 2014. Setelah bertarung dalam dapil Jawa Timur X yang meliputi wilayah Gresik dan Lamongan, dia akhirnya terpilih kembali menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 dengan perolehan 94.147 suara.

Pemilik usaha digital printing CV Kreasi Permaisindo itu duduk di Komisi V yang membidangi transportasi, pekerjaan umum dan perumahan rakyat. Pada periode tersebut, Jazilul juga memperoleh amanah untuk menjabat sebagai wakil ketua Badan Anggaran DPR.

Pada Pemilihan Legislatif 2019, Jazilul kembali mencalonkan diri. Masih dalam dapil yang sama seperti 2014, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) itu berhasil menjadi anggota DPR untuk ketiga kalinya dengan perolehan 186.838 suara.

Berbagai tugas dan tanggung jawab sebagai pimpinan MPR telah menanti di depan mata.

Terdekat, Jazilul dan sembilan pimpinan MPR lainnya akan menjalankan wewenang untuk melantik Joko Widodo dan KH. Maruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 hasil pemilihan umum pada 20 Oktober mendatang.

Memaknai Batuk "Kiai Jenggot"


Oleh: Sugriyanto

Tepat pada hari kewafatan KH. Abdul Hamid Thobri sebagai pendiri Pondok Pesantren Shalafi "Nurul Huda" ini digelar haul ke-38 dengan semarak penuh hidmat dan bersahaja. Pondok pesantren yang berdiri kokoh di Dusun Pancor Desa Sidogedungbatu kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Gresik ini menggelar acara haul pada hari Senin malam Selasa tanggal 25 Pebruari 2019 atau bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil akhir 1440 H atmosfernya terasa sedikit berbeda dengan acara haul tahun sebelumnya. Perbedaan ini terlihat dari rangkaian acara pada tahun ini diawali dengan menggelar pengajian umum dari kelompok sholawatan dengan mendatangkan KHR. Moh. Khalil As'ad pada tanggal 14 Pebruari 2019 yang lalu. Panitia dan jajarannya menganggap rangkaian penggelaran acara pengajian umum dimaksud sedikit "lopot" waktunya dengan hari kewafatan al-Maghfurlah KH.Abdul Hamid Thobri yang semestinya sehingga sebagai ganti lanjutannya digelarlah acara haul pada hari Senin malam Selasa, 25 Pebruari 2019 ini secara semarak.

Acara haul sederhana ini dimulai dengan pembacaan "burdat" bersama oleh para pengasuh dan wakil alumni dengan khusuk di depan teras salah satu ruang pondok yang menjadi pengganti panggung utama menghadap ke arah utara. Seluruh hadirin duduk sama merendah seraya mengikuti acara dengan hening pula. Tepat pukul 20:45 WIB penggelaran haul dibuka oleh pembawa acara. Harapan dari haul ini disampaikan oleh penata acara dengan maksud agar semakin erat jalinan tali ikatan para alumni pondok pesantren "Nurul Huda" yang menyebar hampir di seluruh penjuru Pulau Bawean.

Di susul kemudian acara sambutan wakil alumni sekaligus sebagai ketua panitia yang dimandatkan kepada Ustadz Hisyam. Dalam penyampaian untaian sambutan singkatnya, beliau mengucapkan rasa terimaksih kepada semua pihak yang telah menyemarakkan atau menghadiri acara haul KH. Abdul Hamid Thobri ke-38 ini. Ucapan terima kasih pula ditujukan kepada semua pihak tanpa dapat disebutkan satu-persatunya yang telah berkontribusi, baik berupa materi, pikiran, maupun tenaga serta segala bentuk partisipasinya. Semoga amal baik tersebut mendapat balasan dari Allah SWT. dengan imbalan yang sepantasnya teriring doa surat suci lewat bingkisan surat al-fatihah. Ucapan permohonan maaf juga disampaikan atas segala kekurangan sempurnaan pelaksanaan acara haul tahun ini.

Kegiatan lain yang menjadi rangkaian helatan rutin bulanan berupa "dzikir al wiridullatif". Ada banyak jenis wirid sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Al-Mughfurlah KH. Abdul Hamid Thobri. Hampir setiap waktu, terutama sehabis melaksanakan salat wajib lima waktu dan waktu-waktu ijabah lainnya, beliau melakukan hal tersebut secara istiqomah. Kebiasaan bernilai "usaha" ingat atau dzikir kepada Allah SWT. telah ditorehkan oleh beliau. Ada beberapa jenis wirid yang selalu dilakoni oleh KH. Abdul Hamid Thobri yang pada akhirnya diteladani oleh para santri dan alumni.

Acara berikutnya, berupa sambutan perwakilan pengurus pondok "Nurul Huda" oleh Kyai Sholehoddin Zakariyah. Pada kesempatan penuh khusuk dan rasa tawaduk sambil duduk bersimpuh beliau mengungkap bahwa semestinya Ilmu itu tidak cukup hanya digunakan sebagai pengetahuan belaka akan tetapi bisa diamalkan. Pada sela sambutan mewakili keluarga besar pondok "Nurul Huda", Kiai Sholehoddin Zakariyah mengungkap secuil kisah panggilan atau gelar yang diberikan kepada Al-Maghfurlah KH. Abdul Hamid Thobari oleh warga Dusun Sarambhe Desa Kebun Telukdalan. Sebutan KH.Abdul Hamid Thobri di sana dipanggil "Kiai Jenggot" (Baca, Bawean: Keae Jengguk). Salah satu yang menjadi tengara khusus dari "Kiai Jenggot" ini adalah suara batuknya. Jumlah suara batuk dari Sang "Kekasih Allah", KH. Abdul Hamid Tobri ini saja bisa dijadikan patokan waktu menjelang masuknya waktu subuh dan waktu solat lainnya. Batuk "karomah" beliau dijadikan tengara yang diyakni masyarakat Dusun Sarambhe. Menurut penuturan warga Sarambhe serta bagi warga di sekitar pondok "Nurul Huda" semasa hidup beliau. Termasuk para nelayan dan warga sekitar jika mendengar alunan batuk beliau maka hitungan atau jumlah batuk beliau dijadikan isyarat masuknya waktu supaya pulang kembali dalam rangka menunaikan kewajiban ibadahnya.

Suasana acara semakin menggema merasuk ke dalam relung kalbu para hadirin saat rangkaian acara pembacaan surat Yasin yang dipandu oleh KH.Abdullah Sodiq. Kemudian dilanjutkan dengan acara tahlil yang dipimpin oleh Kiai H.Machfudz asal Grejek, serta dirangkai dengan pembacaan solawat nabi yang dipimpin oleh Kiai Muniri. Menjelang akhir pembacaan solawat ini para hadirin turut berdiri bersama dengan iringan suara tetabuan jidor khusus yang dimiliki oleh pihak panitia melantukan solawat nariyah sebagai pungkasannya.

Sebelum acara ini ditutup dengan doa terlebih dahulu diisi dengan acara siraman rohani oleh K.H. Natsir pengasuh pondok pesantren "Annasiriyah" Guntung. Walau beliau dalam kondisi "sakit" sekian tahun lamanya tetap berusaha sekuat tenaga untuk bisa menghadiri haul tahun ini. Beliau mencoba memompa semangat para alumni pondok "Nurul Huda" agar turut menjaga kelestarian atau kelangsungan pondok yang pernah membesarkan para santri yang hingga sampai saat ini terhitung 155 santri dengan rincian 80 santri putra dan 75 santri putri. Dalam penghujung ceramahnya KH.Natsir mengungkap betapa penting dan "ijabah" doa kedua orang tua dalam mengantarkan keberhasilan putra-putrinya yang didasarkan pada sebuah keterangan. Doa orang tua laki-laki kepada anaknya setara, bahkan lebih ijabah dari doa 40 wali kutub. Sedangkan doa seorang ibu kepada anaknya lebih dari 120 kali doa wali kutub ijabahnya . Amin.

Bupati Lumajang Kunjungi Keluarga di Bawean


Bupati Kabupaten Lumajang terpilih Thoriqul Haq berkunjung ke Pulau Bawean Gresik tujuan bersilaturahmi dengan keluarga isterinya di desa Lebak kecamatan Sangkapura Kabupaten Gresik.

Thoriqul Haq ditemui Media Bawean mengatakan tujuan kedatangannya di Pulau Bawean dalam rangka bersilaturahmi dengan keluarga isterinya. "Setelah sukses dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lumajang, sekarang saat bertemu keluarga untuk mengucapkan terima kasih atas dukungannya, khususnya do'a yang telah diberikan,"katanya.

Rencananya pelantikan pada tanggal 22 September 2018. "Kedepannya juga mengharap dukungan keluarga di Pulau Bawean agar bisa mempimpin Kabupaten Lumajang selama 5 tahun kedepan,"ujar mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.

Disinggung soal pengembangan pariwisata di Pulau Bawean, Thoriq menyatakan sangat mengagumi keindahan alam yang ada di Pulau Bawean. "Keindahan alam Bawean merupakan potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata,"ungkapnya.

Untuk menunjang pariwisata di Pulau Bawean, menurutnya perlu ada pengembangan sarana transportasi udara untuk dilayani pesawat terbang yang kapasitas penumpangnya lebih banyak. (bst)

KH. Anwari Faqih; Pendidik Yang Visioner


Oleh: Ainul Yakin*

“…. Kita itu harus punya idealisme, dan idealisme kita jangan pernah hilang ….”( KH. Anwari Faqih)

Demikian salah satu potongan kalimat yang pernah disampaikan KH. Anwari saat memberi pengajian rutin yang pernah didengar langsung oleh penulis. Satu potongan kalimat yang masih mengiang kuat di telinga penulis bahkan sejumlah santri beliau yang mengikutinya saat itu. Kalimat yang memiliki muatan makna yang cukup dalam dan bisa menjadi bekal yang amat berharga bagi kita dalam menajalani kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam berjuang di masyarakat. 

Kiyai Berik, demikian nama beliau popular di masyarakat, adalah sosok yang memiliki peran yang cukup besar dalam bidang pendidikan di masyarakat Bawean, khususnya desa Kebuntelukdalam. Tidak lama setelah terjun ke masyarakat, Kiyai Berik dipercaya oleh masyarakat untuk mendidik putera-puterinya mengaji al-Quran dan belaajr ilmu agama lainnya. Satu persatu masyarakat memercayakan dan menitipkan anakknya untuk diajari beliau. Ada yang dari Kebuntekukdalam sendiri, ada pula yang dari Gunung sawah, Duku, dan sebagainya sampai akhirnya beliau mendirikan pondok pesantren.

Sebelum kembali ke masyarakat, Kiyai Berik sempat menimba ilmu di Jawa, yaitu di PP. Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Di sana beliau belajar langsung kepada KH. Zaini Mun’im, pengasuh sekaligus pendiri pesantren Nurul Jadid. Di samping itu beliau juga berguru kepada KH. Hasan Abdul Wafi, menantu KH. Zaini, yang terkenal kealiman dan ketegasannya di Jawa Timur. Kiyai Berik belajar di PP. Nurul Jadid sekitar lima tahun lamanya pada tahun 70an bersama teman-teman sejawatnya dari Bawean, salah satunya, KH. Abdul Aziz, Kiyai Hilmi, Kiyai Nawawi, Kiyai Abdur Rauf, Kiyai Zaini, Kiyai Sarbini Dahlan dan lain-lain. Waktu di pondok, beliau dikenal sangat dekat dengan pengasuh, bahkan sering kali pengasuh memanggil Anwari muda untuk kepentingan pesantren. 

Setelah kembali ke masyarakat, Kiyai Berik menikahi seorang puteri dari Bapak Asyari yang bernama Adifah. Bersama Nyai Adifah beliau dikarunia putera-puteri yang beranama, Laili Muji Rahman, Moch. Lutfi, Lis Isnaningsih dan Farah Diana. Beliau tinggal bersama keluarga besarnya di Pettong Kebuntelukdalam dengan bahagia sampai akhir hayatnya. Sebelum meninggalkan kita, di akhir masa hidupnya beliau melengkapi rukun Islam yang ke lima yakni menunaikan ibdah haji ke Baitullah. Tepat pada hari yang sangat mulia, Jumat (5/12/2014) beliau berpulang ke Rahmatullah di usainya yang ke 74. 

Mendirikan Pesantren 
Sekalipun alumni pesantren, awal mula kembali ke masyarakat (Kebuntelukdalam), Kiyai Anwari tidak langsung dipercaya oleh masyarakat untuk mengajar ngaji apa lagi medirikan pesantren. Mungkin hal ini wajar karena usianya belaiu yang masih muda dan gayanya yang nyentrik. Tidak seperti santri yang lain yang selalu setia dengan kopyah, serban dan sarung khas seorang santri. Awal-awal kembali ke masyarakat, beliau tidak terlalu familiar dengan sarung dan kopyah, bahkan sering kelihatan mengenakan celana, tanpa mengenakan kopyah. Pemandangan yang kurang lumrah bagi seorang santri pada masanya. 

Namun seiring berjalannya waktu, dengan komitmen dan konsistensi beliau dalam menjalankan ilmunya sekalipun tanpa atribut kesantrian yang mencolok, lambat laun mulai dipercaya oleh masyarakat. Pelan tapi pasti masyarakat satu persatu mulai menitipkan putera puterinya untuk diajari ilmu agama. Mulai dari tetangganya, familinya sendiri, hingga ke dusun lain seperti Gunung Sawah, Duku dan sekitarnya hingga akhirnya makin banyak. Karena banyaknya santri yang datang dari berbagai daerah seperti Alas Timur, Pamona, Tanjung Ori, Daun, Sangkapura, yang tidak mungkin bolak-balik tiap hari ke pondok, serta tuntutan masyarakat untuk mendirikan pesatren, akhirnya didirkanlah pondok pesantern yang diberi nama Ummi roti’ah (sang ibu pengembala).

Di pesantren yang posisinya ada di Pettong itu, beliau mengajar langsung kepada para santrinya tentang al-quran dan ilmu-ilmu agama. Setelah santrinya makin banyak, beliau dibantu oleh santri senior dalam mengajar santri. Model pembelajarannya pun mengalami perkembangan, yang sebelumnya dilakukan secara floor. Akhirnya dimodel klasikal dan berjenjang, ada yang tingkatan pemula dan ada pula yang tingkat senior. Materi yang dijarkannya pun berbeda-beda. Mulai dari ilmu alat seperti nahwu Jumirah, Imrithi, Mutammiah dan Alfiyah, ilmu fiqh seperti kiatb Safinah dan Fathul Qarib sampai kitab Nashaihul Ibad dan Tafsir Jalalain. Bahkan pada tahun 97-2000an santri sempat diajari Bahasa Ingris yang gurunya didatangkan dari luar pesantren.

Berkat keistikamahan beliau dalam membina santri, tidak sedikit almuninya yang sudah mengabdi di masyarakat, ada yang menjadi guru, kiyai, dosen dan menjadi aparat pemerintah. Alumninya pun tersebar di berbagai daerah di Bawean bahkan hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. 

Di sela-sela kesibukannya membina santri, Kiyai Anwari tidak puas dengan model pendidikan tradisional yang digelutinya yakni lenggar (pesantren). Oleh karenanya beliau juga merintis berdirinya lembaga formal yaitu MTs dan MA Kebuntelukdalam yang nantinya diberinama Himayatul Islam. Di lembaga formal itulah beliau optimalkan kemampuan manajerial dan kepemiminannya dalam mengurus pendidikan. Hari-harinya banyak dihabiskan di pesantren dan lembaga. Seakan tidak punya waktu luang untuk bersantai-santai dan berleha-leha. 

Belakangan, setelah usianya makin sepuh, dan uzur hingga tidak bisa mengurus santri dengan maksimal, akhirnya peran beliau sebagai pengasuh pesantren banyak dialihkan kepada Kiyai Fauzi Rauf, menantunya sekaligus ketua Tanfidziyah PCNU Bawean.

Merintis Lembaga Formal
Awal mula merintis lembaga formal yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), tidak sedikit Kiyai Anwari mendapat tantangan dari masyarakat. Di sani-sini banyak yang mengkritik dengan nada sumbang, tapi ada juga yang mendukungnya. Mengkritik barangkali karena tidak tahu maksud dan tujuannya beliau mendirikan lembaga formal, atau karena persoalan non teknis lainnya. Sebaliknya mereka yang mendukung mungkin karena ada harapan baik dan positif khususnya untuk kemajuan pendidikan Kebuntelukdalan ke depannya.

Polemik tersebut barangkali bisa dipahami, sebab tren pendidikan pesantren kala itu adalah model salaf dan tradisional. Jarang sekali ada pesantren yang sekaligus di dalamnya terdapat pendidikan formal. Pendidikan formal yang ada di masyarakat waktu itu kebanyakan hanya pendidikan tingkat dasar yakni SD/MI. Di samping itu tenaga yang cukup mumpuni untuk mengisi pada lembaga formal yang digagas Kiyai Anwari pun sangat terbatas. Dengan segala pertimbangan serta dukungan tokoh masyarakat Telukdalam akhirnya didirikalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang diberinama Himayatul Islam pada tahun 86/87an.

Pada tahun pertama dibuka, lembaga tersebut (MTs) mendapatkan siswa yang cukup banyak, suatu prestasi yang cukup menarik, sekalipun tidak sedikit siswa yang akhirnya berhenti dipertengahan jalan. Satu persatu mereka berhenti tidak sampai tuntas karena banyak hal. Pemandangan yang cukup menyedihkan dalam lembaga pendidikan. Padahal, Kiyai Anwari selaku pimpinan saat itu tidak begitu memperketat siswa. Bagi siswa yang masih punya kesibukan seperti mencari rumput, membantu orang tua di rumah, beliau tetap memperkenanakna agar tetap mengerjakan tugas kesehariannya, tapi sebisa mungkin tetap masuk sekolah. Yang penting mereka punya keinginan sekolah bagi Kiyai Anwari sudah bagus, kala itu. Sekalipun demikian hanya beberapa siswa saja yang mampu bertahan hingga lulus.

Namun demikian periode pertama telah berhasil meluluskan sekitar 30 siswa. Lalu, tahun berikutnya, setelah angkatan pertama lulus, dibukalah pendaftaran siswa Madrasah Aliyah (MA) yang berafiliasi ke MA Umar Mas’ud. Konon pada tahun pertama dibuka MA hanya mendapatkan satu siswa yaitu Fathorrazi. Sekalipun satu siswa, Rosi demikian orang menyebutnya berhasil menuntaskan sampai lulus Aliyah.

Ketabahan dan kerja keras Kiyai Anwari dalam membina Madrasah yang dirintisnya, akhirnya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Madrasah yang dulunya tidak dilirik orang akhirnya menjadi madrasah yang cukup diperhitungkan di kawasan Bawean. Animo masyarakat pun untuk menyekolahkan putera-puterinya di Kebuntelukdalam semakin meningkat. Adanya lembaga formal jenjang menengah menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat.Belakangan sejumlah desa dan pesantren mendirikan lembaga formal yang sama seperti yang telah digagas oleh Kiyai Anwari beberapa tahun silam. Walhasil, lembaga tersebut telah banyak melahirkan alumni dan sarjana yang pengabdiannya telah nyata di masyarakat.

Pekerja Keras Dan Visioner
Sebagaimana kiyai lainnya, beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikaan. Dalam menekuni pendidikan yang dibidaninya, Kiyai Anwari termasuk sosok yang sangat peduli dan focus mulai sejak berdirinya pesantren maupun lembaga formal hingga akhir hayatnya. Setiap saat beliau selalu menyempatkan diri untuk mengontrol kondisi pesantren dan lembaga. Seakan tidak tidak ada waktu kosing buat bersantai ria. 

Dalam mendidik santri-santrinya, beliau tidak hanya mencukupkan dengan menyampaikan konsep dan pengetahuan yang sifatnya teoritis belaka, tapi beliau mengajak santrinya terjun langsung ke lapangan. Kiyai Anwari selalu mendapingi dan mengajak santri-santrinya untuk kerja bakti, turun ke lapangan, membangun pesantren bersama santri-santrinya. Tidak hanya memerintah tapi ikut terlibat langsung bekerja bersama santri. Bahakan urusan kebutuhan air santri misalnya, beliau selalu terjun langsung ke lapangan, beliau selalu mengontorl kondisi air santri, jika ada kendalan air, beliau mengajak santri untuk mengontorol langsung sumbernya,Olo Tompo.

Beliau adalah sosok pekerja keras, tidak suka berpangku tangan apa lagi bermalas-malasan. Mulai dari pekerjaan yang sifatnya fisik seperti membenahi kamar santri dan mushalla yang rusak sampai pekerjaan kepesantrenan dan kelembagaan yang sifatnya menguras otak dan pikiran beliau tangani langsung dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Kesungguhan dalam mebina pesantren dan lembagabeliau tunjukan dengan kerja nyata. Malam harinya beliau mendampingi santri mengaji, siangnya aktif di lembaga. Beliau control guru dan kondisi pembelajaran di sekolah. Tidak bosan-bosannya beliau menanyakan kondisi lembaga sebagai bentuk tanggung jawab beliau sebagai pimpinan dan pemangku pesantren. 

Disamping itu, beliau juga terkenal sebagai sosok yang cerdas dan visioner. Gagasan-gagasan dan kebijakan Kiyai Anwari kadang susah ditangkap, bahkan ungkapannya pun kadang dianggap aneh. Cara pandang dan visi beliau yang terlampau jauh ke depan barangkali yang membuat orang di sekelilingnya seringkali salah paham dan susah menagkap, kadang cenderung menolak. Bahkan santri sendiri seringkali merasa lucu dan aneh terhadap ungkapan dan keputusan beliau. Hanya segelintir santri dan koleganya yang cerdas saja yang dapat memahaminya dengan baik.

Sebuah contoh, konon, Beliau pernah bilang kepada santri, “mak la nenggu TV maloloh, TV paghik bede e kocekna bekna kanak..” ( kok nonton TV terus, suatu saat nanti TV itu ada di saku kalian anak-anak..). Sebagai tanggapan terhadap santri yang selalu nonton TV sehabis pengajian, yang sedikit bernada ngeluh agar santri tidak terlalu banyak nonton TV, wong pada akhirnay TV itu bukan lagi barang aneh dan baru. 

Sontak, mendengar ungkapan kiyai tersebut, santri pun merasa lucu dan senyum kecut, dalam benaknya masak TV ada di saku, aneh-aneh saja kiyai. Ternyata, hari ini, ungkapan kiyai puluhan tahun lalu menjadi nyata. TV sudah ada di gadget kita masing-masing. Ungkapan yang cukup aneh dan susah diterima akal pada masa itu, dan hari ini kita baru tahu jawabannya.

Labih lanjut, saat memberi pengajian pada santri sekitar tahun 90an, Kiyai Anwari pernah mengatakan, “..suatu saat nanti, guru, imam masjid, mushalla, khatib,semuanya akan ada sertifikatnya,….” Maksudnya, nanti, entah kapan persisnya, akan ada sertifikasi guru, imam dan khatib bahkan semuanya yang berkenaan dengan kepentinagn publik. Ungkapan tersebut sebagai motivasi kepada santri agar mempersiapkan diri sebelum diberlakukannya sertifikat sekaligus agar santri tidak terkejut jika nantinya ada tuntutan sertifikasi.

Hari ini, ungkapan beliau 20 tahun silam tentang sertifikasi guru/ pengajar sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Bahkan belakangan, wacana sertifikasi imam dan khatib juga makin menguat. Barangkali dulu orang tidak pernah menyangka akan ada sertifikasi khatib apa lagi imam shalat, tapi apa boleh buat kedunya sudah menjadi wacana yang cukup kuat di kalangan pemerintah. 

Beberapa tahun silam, saat hari libur Kiyai kerap kali mengajak santri mengangkut batu untuk menguruk sungai ujung utara gedung MA (dulu), sekarang menjadi MTs. Yang namanya santri ya mau-mau saja tanpa menanyakan maksud Kiyai. Sungai yang begitu dalam dan curam di uruk untuk meratakannya pun butuh waktu yang tidak sebentar. Dengan sabar, bulan-bulan demi bulan, tahun demi tahun hasil urukannya hingga rata. Ternyata, hari ini hasil urukan tersebut sudah kita nikamti bersama dalam bentuk Jeding dan Toilet siswa, termasuk tempat parkir sepeda. Mungkin, kala itu bekerja semacam itu terasa capai dan penat bagi mereka yang pragmatis dan berpikir jangka pendek. Namun bagi mereka yang idealis dan visioner justru sebaliknya.

Dari sejumlah contoh kasus baik berupa ungkapan maupun tindakan kiyai Anwari di atas, menunjukkan betapa beliau memiliki kecerdasan melihat masa depan yang susah ditangkap kebanyakan orang. Disamping itu pilihan tindakan beliau yang tidak mudah dimengerti santri saat itu ternyata memiliki visi dan orientasi jangka panjang. Keduanya hanya bisa dimengerti dan dipahami setelah menjadi kenyataan.

Menyinggung ungkapan kiyai tentang idealisme, tidak mudah sebenarnya kita mengungkap makna yang dikehendaki kiyai tentang idealismee. Secara harifiah, idealisme berarti “cita-cita mulia, keinginan yang sempurna, gagasan dan angan-angan yang kuat dan ideal”. Jika idealisme kita maknai sebagai cita-cita, keinginan, angan-angan yang sempurna dan mulia, maka sudah semestinya setiap kita memilikinya. Dengan cita-cita tersebut kita akan berusaha menggapainya tanpa kehilangan kendali. Sebab idealisme adalah mesin yang menajdi motor penggerak dalam tindakan kita. Jika kita hidup dan bertindak tanpa idealsime, itu artinya kita sudah terjebak pada hal-hal yang sifatnya pragmatis dan kesenangan sesaat. Artinya sudah semestinya kita menjaga dan merawat cita-cita mulia yang berorientasi jangka panjang, tidak hanya urusan yang sifatnya material semata tapi lebih dati adalah yang immaterial, tidak hanya usuran duniawi tapi juga ukhrawi, tidak hanya urusan pribadi tapi juga kemasyarakatan bahkan kemanusiaan. Itulah yang semestinya menjadi idealismee dalam hidup kita. 

Dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini agar tindakan kita lebih terarah, maka berpegang pada cita-cita ideal menjadi penting. Sebab cita-cita itulah yang menjadi orientasi sekaligus visi kita dalam menjalankan roda kehidupan ini. Baik dalam kehidupan pribadi atau dalam bermayarakat, termasuk dalam dunia pendidikan. Dengan keinginan yang ideal kita tak mudah puas dengan pencapaian yang didapat dan tak pernah merasa cukup dalam menuju ke arah yang lebih baik dan labih baik. Sehingga perjuangan menuju kebaikan tak akan menemukan ujung dan taka da habis –habisnya. Artinya kita akan terus selalu bergerak menuju cita-cita ideal tersebut untuk kebaikan bersama bukan untuk kepentingan pribadi yang sifatnya sesaat.

Idealisme adalah wujud dan keberadaan seseorang, eksistensi seseorang tergantung idelisemnya, cita-ciata dan tujuan mulia akan manjadi cermin keberadaan dirinya di tengah-tengah kehidupan bersama. Barangkali ini yang dimaksudkan Kiyai Anwari soal idealisme. Oleh karenanya beliau tak pernah merasa letih dan merasa selasai dalam berjuang di masyarakat karena idealismeenyatak pernah hilang dari benaknya. Tidak heran jika beliau berpesan agar idealisme kita jangan sampai hilang. Jika idealisme kita sudah hilang, maka hilang pulalah diri kita sekalipun kita hidup secara biologis. Jika idelaisme kita hilang, maka keberadaan dan eksistensi kita pun sirna. 

Demikian pula dalam dunia pendidikan. Beliau tidak pernah puas dengan pencapaian yang sudah didapatnya. Misalnya denganeksisnya pesantren, MTs dan MA yang dirintisya.Tidak puas dalam arti tidak merasa cukup dengan kebaikan yang telah digapainya, dan bukan berarti tidak pernah bersyukur dengan pemberia Tuhan, tapi justru kedidakpuasan dalam mencapai kebaikan adalah bentuk kesyukuran beliau untuk terus mencapai kebaikan berikutnya, untuk melakukan perjuangan yang lebih gigih lagi demi kebaikan dan kemajuan yang lain berikutnya yang lebih baik.

Bahkan belakangan, beliau pernah mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi di Kebuntelukdalam, yang tenaganya diharapkan dari alumninya sendiri yang sudah dicanangkan jauh hari sebelumnya dan siap berjuang mewarisi idealismebeliau. 

Menyebarkan Gagasan (Ide) Melalui Silaturrahim
Kiyai Anwari bukanlah sosok yang pandai berorasi, tentu bukan sosok yang jago panggung, dalam kesehariannya beliau tampak tidak banyak bicara, lebih banyak berbuat. Lebih pas dikatakan sebagai figure yang low profil, tidak banyak bicara tapi lebih banyak berbuat dan bertindak yang lebih pasti dan nyata. Beliau terkenal suka silaturrahim baik kepada masyarakat biasa maupun koleganya. Gagasannya pun lebih banyak disebarkan melalui cara-cara kultural, dngan cara silaturrahim door to door ke rumaha tokoh masyarakatdari pada cara-cara yang formal dan kaku.

Tak henti-hentinya beliau melakukan silaturrahim kepada tokoh-tokoh masyarakat, kolega dan wali santri, sebagai bentuk kepedulian dan upaya memikirkan persoalan kemasyarakatan. Hampir setiap turun dari jum’atan beliau tidak langusng pulang ke dalemnya tapi masih menyempatkan untuk silaturrahim ke tokoh-tokoh masyarakat seperti kepada kiyai Abdullah, Kiyai Muhammad Yusuf, dan lain-lain. Dengan cara demikian hubungan antar tokoh masyarakat makin baik, gagasan dan cita-cita ideal beliau lambat laun pun dapat diterima dan bahkan dapat dukungan yang kuat dari berbagai elemen. 

Beliau lebih suka marangkul dari pada “memukul”. Apalagi kepada tokoh masyarakat. Kepada anak muda sekalipun beliau perlakukan demikian, beliau tidak pandang buluh, mereka tokoh atau bukan, nakal atau tidak, semuanya beliau rangkul demi kebaikan masyarakat secara umum. Tak segan-segannya beliau merangkul anak muda kampong. Dengan cara tersebut, anak muda yang dulunya sering kali “usil” terhadap santrinya menjadi sungkan, bahkan mereka yang tidak mendukungnya malah justru menjaga dan mendukung pesantren yang dipangkunya.

Sebelum beliau meninggalkan kita untuk selamanya, beliau pernah mengutarakan keinginannya untuk mendirikan perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Yang akan mengisi dan membidaninya adalah santri-santrinya yang sudah menjadi sarjana dan mumupuni dalam bidang pendidikan. Sebuah cita-cita yang mulia yang belum tercapai saat beliau masih hidup yang sepatutnya kita realisasikan sebagai generasi penerus perjuangan beliau.

Penutup
Keberhasilan Kiyai Anwari dalam berdakwah dan mengembangkan pendidikan di masyarakat tidak lepas dari kerja keras dan kedisiplinan beliau. Beliau bukan sosok yang suka berpangku tanga,mudah menyerah dan pasrah kepada kenyataan, apa lagi putus asa. Dengan idealism dan pandangannya yang visioner beliau mampu eksis dan mewujud di tengah-tengah masyarakat yang cukup dinamis. Hasil karyanya pun nyata dan kita rasakan saat ini di masyarakat. Ide dan visinya yang kadang susah ditangkap menjadi karakter dan ciri khas tersendiri yang membuat beliau makin dicintai selakigus disegani oleh kolega dan masyarakatnya.

Berangkat dari kenyataan dan jejak-jejak perjuangan beliau, barangkali kalau boleh menafsirkan visi dan ide beliau tentang pendidikan adalah menyiapkan tenaga dan Sumber Daya Manusia(SDM) yang sesuai dengan kebutuhan zamannya dan siap diposisikan diberbagai lini. Oleh karenanya sebelum beliau meninggalkan kita pernah berucap sebagai bentuk kesyukuran bahwa lembaga yang dipangkunya baik pesantren maupun lembaga formal tidak sedikit telah melahirkan alumni yang sudah mengisi dan mengabdi secara nyata di masyarakat, baik di instansi pemerintah maupun non pemerintah seperti aparat desa, menjadi kiyai,dosen, guru dan sebagainya, yang selama ini disara cukup sulit didapatkan.

Barangkali tidak berlebihan jika beliau dikatakan sebagai sosok yang visioner dengan idealisme yang tak pernah lekang oleh waktu dan lapuk ditelan masa. Semoga kita dapat mewarisi idealisme dan melanjutkan visinya. amin…. wallahu a’lam bisshawab

*Santri Pettong periode 1997-2000, saat ini aktif sebagai Pengajar di Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean