Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUKU. Tampilkan semua postingan

Resensi Buku Tradisi Maulid Bawean


Oleh: Siti Izzatul Istiqomah (Mahasiswa asal Pulau Bawean di Negeri Jiran Malaysia)    
                                                                                Judul Buku : Peringatan Maulid Nabi Antara Tradisi & Keharusan
Penulis : Sugriyanto, S.Pd.
Penerbit : PT Ilalang
Kota Terbit : Lamongan Jawa Timur
Tebal Buku : 204 halaman
Harga : Rp 60.000

Buku berjudul "Peringatan Maulid Nabi Antara Tradisi dan Keharusan" goresan pena Sugriyanto ini merupakan buku yang mencoba merekonstruksi tradisi atau budaya yang pernah dilakoni warga Pulau Bawean sekian abad lamanya hingga saat ini. Tradisi atau budaya berupa perayaan peringatan Maulid Nabi ini setiap tahun tepatnya pada bulan Rabiul Awal selalu diperingati oleh umat Islam di seluruh belahan dunia, tak terkecuali di Pulau Bawean. Eksotisme dan keunikan perayaan peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh warga Pulau Bawean serasa tiada duanya di muka bumi dengan segala kekhasan pernak-perniknya. Hal itu juga diungkap oleh penulis dengan cermat hingga amat menyentuh lubuk yang paling dalam sebagai pewarisnya.

Terbitnya buku setebal 204 halaman dengan tata wajah yang elegan ini mencoba mengulas secara mendalam perihal tradisi dan budaya Maulid Nabi berdasarkan studi empirisme dan kajian filosofi mengenai adat atau budaya sebagai wujud kearifan lokal. Kekuatan buku ini, selain memaparkan tradisi yang harus dan mesti dilakukan, juga tidak mengenyampingkan hakikat fungsi bahasa sebagai alat kumunikasi. Penulis cukup piawai merangkai kata dalam kalimat, termasuk pencantuman istilah kedaerahan sehingga mampu memberikan pemerian yang konkret mengenai penuangan ide yang sesuai dengan adatnya. Selain itu, di dalam buku karya perdana dari Sugriyanto ini dilengkapi dengan gambar-gambar sebagai ikon bermakna dalam perayaan Maulid Nabi yang setiap tahunnya diperingati. Lambang-lambang atau simbol yang harus tersuguh dalam "angka'an" maulid terekam secara utuh dengan filosofi makna yang  dikandungnya teramat mendalam.   

Sisi lain dari kekuatan buku ini tetap disandarkan pada beberapa acuan yang cukup relevan sebagai sumber rujukan dengan persoalan yang dibahas. Buku dan kitab tarekh yang menjadi tumpuan utama penulisan buku ini juga menjadi dasar penguat akan adanya pengungkapan rahasia di balik peringatan perayaan peringatan Maulid Nabi.  Di awal buku ini, pembaca diajak oleh penulis untuk berkelana dalam mengenali lebih dekat keberadaan Pulau Bawean dengan segala desa dan dusunnya di dua kecamatan yakni Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak. Sejarah kelahiran Nabi juga mendapat porsi yang seimbang dalam pemaparannya. Pembaca akan mendapat suguhan padat mengenai kelahiran Nabi serta situasi alam dan isinya kala itu terlukiskan pula dalam buku ini dengan menyertakan kutipan terjamahan kitab Al-Barzanji. Betapa istimewanya bulan Rabiul Awal ini sebagai bulan agung karena tiga peristiwa bersejarah ini terjadi dalam bulan yang sama yaitu kelahiran Nabi, hijrahnya Nabi, serta wafatnya Nabi. Semua tertuang dalam buku karya Sugriyanto --yang kalau boleh saya katakan sebagai budayawan muda Pulau Bawean dengan multitalentanya. Uniknya lagi, buku ini tersusun atas 25 (dua puluh lima) bagian menjadi penanda urutan nabi paling akhir sebagai Nabi "akhiruzzaman" yang menjadi rahmat bagi sekalian alam dalam bingkai "Uswatun Hasanah."

Kisah-kisah penuh hikmah mengenai perayaan peringatan Maulid Nabi di Pulau Bawean tertulis secara detail dari bagian ke bagian. Keunikan dari penulis sendiri terletak pada karakter gaya penulisannya yang segar dan penuh "joke-joke" menggelitik. Secara teknis penulisan boleh dikata memenuhi standard, namun masih terdapat beberapa kata yang masih terdapat salah ketik. Akan tetapi, esensi makna yang dikandung tetap masih mudah dipahami oleh kalangan pembaca dari berbagai segmen. Kenapa peringatan Maulid Nabi sebagai tradisi akhirnya menjadi sebuah keharusan untuk dirayakan bagi kaum muslimin di dunia, khususnya umat Islam di Pulau Bawean? Rahasianya juga terungkap di bagian terakhir (bagian ke-25) pembahasan  "Mutiara Hikmah" yang langka dibahas oleh para penulis lainnya. Rasanya pembaca pada umumnya dan masyarakat Pulau Bawean pada khususnya akan merasa “kehilangan” sebagian serpihan sejarahnya sendiri bila tidak membaca dan memiliki buku fenomenal karya anak pulau ini.

Catatan:
Buku dimaksud bisa didapatkan di beberapa toko buku terdekat atau pesan langsung ke alamat: Duku Desa Sungairujing Sangkapura dengan nomor hp: 082331700551 atau Langsung dapatkan di Toko Buku Bapak H, MAKMUN Pasar Sangkapura Bawean

Arul Chandrana Penulis Terkenal asal Pulau Bawean


Arul Chandrana dilahirkan di Lamongan, tanggal 17 Juni 1987. Ayahnya berasal dari Brondong, sedangkan ibunya dari Pulau Bawean. Menginjak usia 6 tahun pindah ke Pulau Bawean, sejak itu tempat dan tanggal kelahirannya berubah jadi 17 Mei 1987 dan dilahirkan di Gresik.

Arul punya kegemaran membaca buku sejak kelas IV Madrasah Ibtidaiyah di desa Kumalasa Sangkapura. "Seluruh buku pasti kubaca, termasuk koran juga. Sedangkan bidang studi yang kusukai yaitu bahasa Indonesia dan sejarah,"katanya.

Menginjak kelas VI sudah mulai gemar menulis tentang cerita dan puisi. "Cerita apa saja pasti kutulis, termasuk cerita warga Bawean pergi ke kebun dan horor seperti patakotan,"ujarnya.

Untuk menulis, Arul menggunakan kertas bekas yang sudah dipakai belajar selama setahun. "Biasanya buku bagian belakang banyak yang belum habis, lalu disobek dimanfaatkan untuk menulis seluruh apa saja terkait kehidupan di Pulai Bawean,"paparnya.

Setelah lulus MI, melanjutkan MTs. lalu MA Darussalam di Kumalasa. Setelah tamat, melanjutkan kuliah di Universitas Roggolawe Tuban dengan jurusan bahasa Inggris.

Adapun tulisan bisa diterima oleh penerbit setelah lulus kuliah, yaitu tahun 2011 dengan buku pemburu rembulan yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama Yogyakarta. "Buku itu menceritakan pendidikan dan kehidupan di Pulau Bawean,"tuturnya.

Setelah itu, terbit lagi buku berjudul Berbagai Keajaiban dalam Hidup yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo tahun 2014. Selanjutnya tahun 2015 diterbitkan oleh Indiva dengan bukunya Panduan Ramadhan untuk Remaja atau Ramadhan In Love.

Pada tahun 2016, ada 2 buku yang terbit yaitu Penakluk Kutukan diterbitkan Republika dan Kapten Bhukal oleh Tiga Serangkai.

Guru di Pondok Pesantren Manarul Qur'an Lamongan mengaku tidak terlalu mengharap banyak dari royalti yang didapat. Alasannya di Indonesia bagi penulis buku mendapatkan royalti yang sangat kecil, karena pasaran buku masih sangat kurang peminatnya bila dibandingkan pemasaran pakaian.

Suami Rif’atin Aliyah dengan mempunyai anak satu mengaku pulang ke Bawean waktu hari raya idul fitri. Membandingkan kondisi sekarang dengan dahulu waktu sekolah di Pulau Bawean, Arul mengakui sekarang sudah lebih maju. "Jaringan komunikasi seperti Wifi sudah terjangaku luas diperkampungan warga, termasuk pembangunan infrastruktur jalan dan lain sudah banyak kemajuan,"ungkapnya. (bst)

Kisah Gadis Kecil dan Makhluk Terkutuk dari Pulau Putri



Judul : Sang Penakluk Kutukan
Penulis : Arul Chandrana
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : I, Februari 2016
Tebal : 289 hlm

Pulau Bawean adalah sebuah pulau terpencil di tengah laut yang terletak di antara Pulau Jawa dan Kalimantan. Jika Anda mengelilingi pulau ini, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk sampai ke titik semula.

Lantaran kaum lelaki di pulau ini banyak yang merantau, Bawean kemudian disebut juga Pulau Putri. Di sana tidak ada binatang buas, seperti harimau, macan, beruang, atau serigala. Hutan Bawean hanya dihuni oleh monyet pemakan buah, rusa Axil kuhli khas Bawean, dan babi hutan yang bersembunyi di kala siang.

Namun, meskipun mungil dan terpencil, pulau ini memiliki banyak kisah yang bagi sebagian orang mungkin tidak dapat dipercaya, walaupun mungkin benar adanya. Salah satunya adalah kisah pertemuan gadis kecil dengan makhluk terkutuk yang diceritakan dalam novel ini.

Makhluk itu bernama Akdong, yaitu makhluk yang bahkan lebih mengerikan dari hewan buas manapun. Penulis novel ini, Arul Chandrana, mendeskripsikan makhluk tersebut sedemikian detail bahwa sosok itu memiliki rambut yang tumbuh jarang-jarang, telinganya kecil karena mengerut, dan wajahnya rusak seluruhnya.

Tidak hanya itu, di wajah Akdong juga tidak ada alis atau bulu mata. Hidungnya berpilin. Bibirnya bengkak dan keriput serta mulutnya mirip dengan gambar patung Batara Kala di buku pelajaran. Sementara, pipinya berkerut kasar dan banyak cekungan.

Gadis kecil tersebut tidak pernah berharap bahwa dia akan bertemu dengan Akdong yang ditakuti penduduk desa, dibenci, dihindari, dan diyakini sebagai sumber dari segala malapetaka itu. Namun, pertemuan Ranti hari itu akan menjadi titik awal tragedi berikutnya bagi penduduk Desa Kumalasa.

Ranti merupakan anak seorang tabib yang oleh teman-temannya selalu diolok-olok karena ayahnya dicap sebagai dukun. Padahal, tabib dan dukun mempunyai definisi yang berbeda. Ranti sering melintasi hutan sendirian, namun ia tentu tidak pernah khawatir akan adanya binatang buas. Ia hanya khawatir terhadap sosok Akdong yang sering diceritakan penduduk tersebut.

Makhluk yang diusir penduduk desa puluhan tahun tersebut kini hidup bersama bocah mirip monyet. Bocah tersebut adalah seorang anak laki-laki yang diduga menjadi sumber kekuatan hitam Akdong. Namun, tidak semua yang diceritakan atau dituduhkan oleh penduduk tersebut adalah suatu kebenaran.

Karena itu, kisah gadis kecil dan makhluk terkutuk ini mencoba mengingatkan kepada kita bahwa jangan mudah percaya pada setiap cerita yang didengar, apalagi menuduh orang sembarangan. Tidak semua yang diceritakan orang banyak adalah kebenaran. Kadang kala justru kebenaran itu ada di dalam kisah yang paling jarang diceritakan.

Mengomentari karyanya sendiri, penulis menyebut bahwa novel ini adalah sebuah karya fiksi karena mengingat besarnya kemiripan kisah Ranti dan Akdong dengan beberapa peristiwa nyata yang berada di pulau yang memiliki hamparan pasir putih tersebut.

Novel Sang Penakluk Kutukan ini bercerita tentang kebencian-kebencian yang selalu diwariskan kepada para pennduduk desa, desas-desus yang meracuni, raja jin dan kekuasaannya, persahabatan dan pengkhianatan, keluarga dan permusuhan, serta tentu saja kutukan dan perlawanan.

Sebagai penulis asli Bawean, Arul kerap memunculkan bahasa asli Bawean dalam setiap percakapan di dalam novel ini. Namun, bahasa yang digunakan dalam percapakan tersebut sejatinya bukanlah bahasa orang Bawean menyeluruh, hanya bahasa lokal Desa Kumalasa, yang cenderung mengandung huruf vokal 'O'.

Buku ini tidak ditulis seperti halnya novel kebanyakan karena dalam setiap babnya novel ini tidak diberikan judul-judul khusus. Dengan demikian, kisah-kisahnya mengalir seperti air. Hal ini membuat pembaca selalu penasaran untuk membuka setiap lembaran baru di halaman selanjutnya.

Dengan membaca novel ini, Anda akan sedikit mengenal tentang keunikan Pulau Putri. Namun, tentu Anda tidak akan bisa mengenal pulau ini dengan baik tanpa membaca literatur yang lain, tanpa berbicara langsung dengan penduduk asli, atau tanpa menginjakkan kaki langsung di pantainya yang berpasir putih. c39, ed: Hafidz Muftisany

Sumber Koran Republika

Wakil Bupati Gresik (Moh. Qosim)
Meresmikan Perpustakaan Bawean

Media Bawean, 21 Maret 2015







Perpustakaan Bawean telah diresmikan olehWakil Bupati Gresik, Drs. H. Mohammad Qosim, M.Si. tadi malam di kantor Media Bawean, alamat Sungairaya, desa Lebak, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Hadir dalam peresmian rombongan Wakil Bupati Gresik, bersama Muspika Sangkapura, Ketua MUI Sangkapura, Ketua Bawean Peduli dan praktisi pendidikan, serta perwakilan pelajar.

Prosesi peresmian diawali dengan penyerahan bantuan buku pustaka kepada 2 pembaca perpustakaan Bawean, yaitu dari perwakilan pelajar dan orang tua lanjut usia. Dilanjutkan ceramah oleh Wakil Bupati Gresik untuk memotivasi warga gemar membaca.

Wakil Bupati Gresik menjelaskan pentingnya membaca untuk menambah ilmu pengetahuan. Menurut Wabup, buku adalah jendela dunia, membaca kuncinya. "Silahkan manfaatkan perpustkaan Bawean untuk menambah ilmu pengetahuan,"jelasnya.

"Sebagai generasi penerus bangsa seyogyanya gemar membaca untuk menjadi pemimpin masa depan yang baik,"paparnya.

 Wabup Gresik mendukung berdirinya Perpustakaan Bawean, dan menyumbang sebanyak 16 dos buku untuk menambah koleksi buku pustaka.

Abdul Basit Sebagai pengelolah Perpustakaan Bawean menjelaskan berdirinya dilatarbelakangi banyak kebutuhan warga yang datang ke Pulau Bawean untuk mengetahui tentang buku Pulau Bawean. Di Perpustakaan Bawean sudah tersedia buku-buku tentang Pulau Bawean, termasuk buku tentang Gresik.

Selanjutnya tujuan didirikan perpustakaan untuk menyediakan buku pustaka bagi mahasiswa dan warga di Pulau Bawean agar gemar membaca. "Buku diperbolehkan untuk dipinjam, tapi wajib dikembalikan sesuai waktunya,"tuturnya.

Peresmian Perpustakaan Bawean ditandai pengguntingan pita oleh Wakil Bupati Gresik yang didampingi Muspika Sangkapura, Ketua MUI Sangkapura, dan Ketua Bawean Peduli. Selanjutnya penandatanganan, dilanjutkan baca bersama. (adv)

Insiden di Atas Pulau Bawean

Media Bawean, 12 November 2014

Dalam beberapa pekan terakhir, jet tempur Sukhoi TNI Angkatan Udara memaksa mendarat pesawat asing yang melanggar wilayah udara Indonesia. Satu pesawat Cessna asal Singapura dipaksa turun di Bandara Supadio, Kalimantan Barat, lalu pesawat Gulfstream yang dipiloti warga negara Arab Saudi digiring ke bandara El Tari, Nusa Tenggara Timur.

Namun dua kejadian itu tak seberapa dibanding peristiwa serupa yang terjadi pada 3 Juli 2003. Kala itu dua pesawat F-16 TNI AU mencegat dua pesawat F-18 Hornet dan empat kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat di atas Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Kejadian itu dituangkan dalam buku Insiden di Atas Pulau Bawean yang berisi kumpulan tulisan dan kesaksian penerbang yang disunting oleh Marsekal Muda Wresniwiro.

Buku ini menguraikan secara lengkap dan mendetail soal pencegatan itu dan juga pembahasan aspek hukum internasional serta pertahanan dan keamanan.

Berikut ini nukilannya:

Kapten Penerbang Fajar Adriyanto belum sampai 20 menit di rumahnya sepulang operasi di Aceh ketika komandannya menelpon. Komandan Skuadron Udara 3 Iswahyudi Madiun, Letnan Kolonel Penerbang Tatang memerintahkan perwira TNI Angkatan Udara berkode “Red Wolf” itu segera kembali ke markas.

“Fajar, sekarang juga perintahkan seluruh penerbang kembali ke skuadron, ada penerbangan gelap di Laut Jawa,” kata Tatang. “Perintah Pangkohanudhas, kita terbang sekarang juga untuk intercept!”

Pada 3 Juli 2003 pagi sekitar 11.41 WIB, Pusat Operasi Sektor Pertahanan Udara Nasional II Makassar menerima informasi dari Military and Civil Coordination Center (MCC) soal adanya penerbangan gelap lima pesawat di atas Pulau Bawean. Kelima pesawat itu tak mengabari penerbangan mereka ke MCC Ngurah Rai di Bali ataupun MCC Juanda di Surabaya.

Hari itu, Fajar mengudara bersama Kapten Penebang Ian “Hyena” Fuady, Kapten Penerbang M. Tonny “Racoon” Haryono, dan Kapten Penerbang M. Satriyo “Serpent” Utomo. “Tugas kalian hanya identifikasi,” kata Tatang sebelum memimpin doa. “Jangan emosi, jangan menembak bila tidak ada perintah.”

Keempatnya terbang pada pukul lima sore dengan dua pesawat F-16 Fighting Falcon dengan amunisi rudal AIM-9P4 dan peluru 200 ea. Beberapa detik menjelang posisi pesawat gelap itu, terbaca di radar ada dua jet menuju ke arah mereka dengan kecepatan yang bukan pesawat sipil.

“Tiit tiit tiit tiit!” Radar Warning Receiver pun berbunyi penanda senjata pesawat yang datang itu telah mengunci mereka. Selama beberapa detik kedua pihak sama-sama mencoba mengacak radar lawan.

Falcon Fajar dan Ian belok mendadak buat melepaskan kuncian itu lalu melesat maju menjadi umpan agar dikejar musuh. Fajar mengatakan, saat itu mereka sempat komunikasi dengan Surabaya agar menjauhkan pesawat sipil dari wilayah dog fight itu. Ada pesawat Mandala, Bouraq, dan Garuda Indonesia yang segera menjauh.

Saat pesawat gelap itu masuk jarak pandang, Fajar melihat lawannya adalah dua F-18 Hornet. Ia dan Ian juga melihat ada fregat berlayar di bawah sehingga mereka meyakini ada jet tempur itu berasal dari kapal induk yang berada dekat.

Hornet pertama memburu Falcon-1 milik Fajar dan Ian, lalu tak lama Hornet kedua mengendus keberadaan Falcon-2. Saat kondisi memanas itu, Falcon-1 memerintahkan Falcon-2 agar “rocking the wing” sebagai tanda mereka tidak mengancam.

Ian membuka komunikasi.

“Hornet flight this is Falcon”
“Falcon, your position contact by our radar, plese stay away!”
“Hornet, our mission only identify, what is your mission?”
“We are over international waters, stay away from our warship!”
“Negative, this is Indonesian teritory!”

Keempat penerbang TNI AU panas hati mendengar Laut Jawa disebut perairan internasional. Namun, kata Fajar, mereka menahan diri karena perintahnya mereka dilarang menembak.

“Hornet Flight, you must report your mission to ATC Bali or Surabaya for Traffic Information.”
“Hornet copied, we will contact Surabaya controller.”
“Hornet fligth, your mission identified, please back to your ship and don't fly again and we will back to our base.”

Dua jet Hornet kembali ke kapal mereka. Namun karena selama percakapan itu RWR terus berbunyi, diduga ada pesawat-pesawat lain yang mengawasi adu manuver Falcon versus Hornet itu.

Setibanya di pangkalan, Fajar mengatakan, “Kami masih sedikit gemetar, seandainya tadi terjadi tembak menembak, wah... tak tahulah apa yang bakalan terjadi.” Sejarah mencatat insiden serupa pernah terjadi di Libya dan militer Amerika Serikat menembak jatuh pesawat pencegatnya.

Dalam “Insiden Bawean” yang diikuti ketegangan diplomatik antara kedua negara ini, baik Indonesia ataupun Amerika merasa benar. Bagi TNI, Angkatan Laut Amerika Serikat seharusnya patuh pada UNCLOS 1982 tentang perairan di negara kepulauan.

Sesuai kesepakatan internasional itu, Indonesia sebagai negara kepulauan memang diwajibkan memberi jalur khusus buat melintasnya kapal-kapal asing. Namun para pelintas itu harus dalam status “innocent”.

Dengan status “innocent” itu menurut Panglima TNI ketika itu, Jenderal Endriartono Sutarto, kapal nelayan yang lewat pun tidak boleh menggunakan perangkat penangkap ikannya selama melintas. Itu berarti kapal selam harus lewat dalam keadaan muncul di permukaan, apalagi kapal induk seperti USS tidaklah boleh menerbangkan jet tempurnya.

Kalaupun mau melepas pesawat tempur dengan dalih pengawalan, maka harus terbang lurus di atas konvoi kapal. Ruang udara pergerakan mereka hanya 45 kilometer di sisi kanan dan kiri kapal induk.

Masalah, Amerika Serikat tak pernah meratifikasi UNCLOS 1982, sehingga mereka tak mengenal jalur khusus kapal asing di peraian Indonesia. Bagi mereka, di luar teritorial laut yang ditarik dari garis pantai adalah perairan internasional dan mereka bebas melewatinya.

Akan halnya soal izin, Atase Pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia ketika itu, Stanley Harsha, menyatakan lima jet tempur yang mengawal kapal induk USS Carl Vinson, dua fregat, dan satu kapal destroyer itu sudah minta izin masuk wilayah Indonesia. “Malam sebelum lewat, kami telah memberi tahu pemerintah Indonesia, ini operasi biasa sesuai dengan hukum internasional,” kata Harsha.

Namun dalih itu tak bisa sepenuhnya diterima. Pakar hukum internasional Priyatna Abdurrasyid yang pada saat itu menjadi staf ahli TNI Angkatan Udara menilai Amerika setidaknya melanggar dua aturan Konvensi Chicago 1944 yang digagas Amerika sendiri.

Pertama, jet tempur Amerika melintasi ruang udara Pulau Bawean yang jelas wilayah RI. Konvensi Chicago menyatakan sebuah negara berdaulat dan berkuasa penuh terhadap ruang udara di atas wilayahnya.

Kedua, manuver jet tempur Hornet itu mengganggu penerbangan sipil seperti diadukan oleh pilot pesawat maskapai Bouraq kepada MCC Soekarno-Hatta. Konvensi Chicago mengharuskan pesawat tempur Amerika itu dalam pergerakannya tidak boleh menganggu keamanan penerbangan pesawat sipil.

Pelajaran dari “Insiden Pulau Bawean” itu, kata Priyatna, Indonesia tak boleh absen apalagi abai dalam pembahasan hukum internasional yang mengatur soal wilayah udara, laut, dan militer. “Perlu diusahakan Indonesia turut secara aktif dalam penyusunannya,” kata Priyatna.
Selengkapnya bisa dibaca di buku:
Judul: Insiden di Atas Bawean
Editor: Wresniworo
Penerbit: AK Group Yogyakarta, 2004
Tebal: xvii + 266 halaman

Tertarik Menulis Buku Tentang Pulau Bawean

Media Bawean, 27 Agsutus 2011


Laura Macpherson asal kulit putih, hari ini (sabtu, 27/8/2011) datang ke Pulau Bawean dalam rangka menulis sebuah buku. Kedatangan Laura yang direncanakan selama 1 minggu, didampingi fotografer terkenal asal Surabaya bernama Agoessam.

Diantaranya menggali potensi wisata, ekonomi, budaya, seni dan lainnya, sengaja kedatangannya tepat hari raya idul fitri untuk mengetahui budaya relegi di Pulau Bawean.

"Tertarik untuk menulis tentang Bawean, sehubungan potensi yang ada tidak pernah terpublikasikan ke dunia international,"katanya.

Harapannya, menurut Laura, buku yang ditulis bisa beredar di seluruh dunia dengan menggunakan bahasa Inggris.

Hari pertama di Pulau Bawean, Laura bersama fotografer menemui penulis buku Sketsa Bawean, yaitu Fathan Al Irsyad. Merespon ketertarikan Laura untuk menulis buku tentang Pulau Bawean. Irsyad menyatakan sangat mendukung, sehubungan minimnya buku bacaan tentang Pulau Bawean. "Banyak potensi di Pulau Bawean belum terpublikasikan, sehubungan minimnya minat penulis untuk mengangkat topik Pulau Bawean,"paparnya.

"Bila membutuhkan sesuatu untuk membantu kelengkapan data, silahkan menghubungi dan siap menghantar serta mencarikan referensinya,"terang Fathan Al Irsya sebagai Ketua PPAI kecamatan Sangapura. (bst)

Resensi Buku : Inilah Jalan Hidup Saya

Media Bawean, 14 Maret 2011

Judul : AMIEN RAIS , Inilah Jalan Hidup Saya

Penulis : Bagus Mustakim & Nurhuda Kurniawan

Penerbit : Insan Madani

Halaman : 326

Cetakan I : Juni 2010

Peresensi : Ali Asyhar


Bila Gus Dur dikenal sebagai bapak pluralisme maka Amien Rais dijuluki bapak reformasi. Julukan ini bukan tanpa sebab, Amien sudah sejak lama bersuara lantang tentang perlunya suksesi bagi kepemimpinan nasional. Kala itu berbicara suksesi adalah hal yang “diharamkan”. Rezim orba sukses membuat keyakinan masal bahwa Soeharto layak menjadi presiden seumur hidup. Mengganggu jabatan Soeharto sama dengan mengganggu bangsa dan negara Indonesia. Paling banter setiap selesai pemilu kita disuguhi wacana siapa yang berhak menjadi pendamping Soeharto yakni wakil presiden.

Puncaknya ketika Amien berteriak tentang Freeport dan Busang. Teriakan Amien menjadikan masyarakat membuka mata bahwa ada banyak kedzaliman di negeri ini. Bak tsunami kesadaran ini menerjang tembok-tembok tebal rezim orba. Air terus menerobos mencari celah untuk mengalir. Teriakan Amien menjadi penyengat yang efektif untuk membangunkan masyarakat dari mimpi panjangnya. Diskusi dan obrolan merebak. Dari mahasiswa sampai orang-orang di warung mulai berani bicara politik, korupsi dan nepotisme orba meski mereka masih bingung bagaimana cara menghentikan korupsi tersebut. Melihat gejala perlawanan ini Soeharto marah. Amien dipaksa mundur dari Dewan Pakar ICMI.

Reformasi ’98 yang dimotori oleh mahasiswa sejatinya bibit-bibitnya sudah ditanam Amien. Hasilnya semakin banyak yang bersuara lantang seperti Sri Bintang Pamungkas yang terang-terangan menggugat pembonsaian partai. Ia mendirikan PUDI ( Partai Uni Demokrasi Indonesia) dan tidak lama kemudian Bintang dijebloskan ke bui. Mahasiswa di kampus mulai berani mengkaji ajaran Marxime dan komunisme. PRD, SEMID, FORKOT dan kelompok-kelompok kritis mulai menjamur. Meski dikejar-kejar aparat namun sepertinya sudah terlambat. Rakyat sudah mulai bangun dari hipnotis ala orba.

Waba’du. Amien Rais memang kader Muhammadiyah tulen. Ia lahir tanggal 26 April 1944 dari pasangan aktifis Muhammadiyah. Ayahnya Syuhud Rais adalah alumni Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Sedangkan Ibunya, Sudalmiyah, juga aktifis perempuan. Ia pernah memimpin Aisyiyah Surakarta selama 20 tahun. Bahkan kakek Amien, Sukiman Wiryo Sudarmo, adalah pendiri Muhammadiyah di Gombong Jawa Tengah. Sejak TK sampai SMA Amien menghabiskannya di lembaga pendidikan Muhammadiyah di Solo. Ia juga bergabung dengan kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan.

Pendidikan tingginya di mulai dari UGM dan IAIN Sunan Kalijogo Yogjakarta. Setamat dari Jogja ia melanjutkan S2 nya ke University of Notre Dame, Indiana sampai 1974. Progam doktoralnya ia tempuh di Political Science, University of Chicago. Desertasinya berjudul Moslem Britherhood in Egypt: Its, Demise, and Resurgence (Organisasi Ikhwanul Muslimin : kelahiran, keruntuhan dan kebangkitan kembali). Penyelesaian desertasinya ia lakukan di Mesir tahun 1980.

Dalam buku ini Amien menguraikan pemikiran-pemikirannya secara utuh. Ia berbicara tentang politik, demokrasi, reformasi, ekonomi, nasionalisme, civil society dan kebudayaan. Sepak terjangnya dalam politik ia sampaikan dengan lugas, sederhana dan jenaka. Ia juga memaparkan tindakan-tindaknnya yang membuat sebagian orang gemas. Seperti ketika ia mempelopori Poros Tengah yang ia katakan sebagai alternative diantara dua kekuatan besar yakni Poros Megawati dan Poros Habibie. Poros tengah kemudian mencalonkan Gus Dur sebagai presiden dan setelah berhasil maka poros tengah jualah yang getol menurunkannya.

Membaca buku ini kita juga akan disuguhi keseharian Amien Rais. Ia secara jujur juga menceritakan kegalauan dan kepanikannya menghadapi masalah. Ia panik dan menangis ketika istrinya, Kusnariyati Sri Rahayu, terlambat 4 jam pulang kerja sewaktu mereka di Chicago. Ia juga panik ketika mendengar kabar bahwa ia akan ditangkap aparat karena kritiknya kepada penguasa. Seperti biasa ketika ia gundah ia selalu meminta nasehat kepada ibundanya. Kita juga bisa membaca management Amien ketika memimpin Muhammadiyah dan PAN. Bagiamana ia bisa menahkodai dua organisasi yang berbeda karakter. Tentang perbedaan pendapatnya dengan alm.Lukman Harun, Soetrisno Bachir juga ia jelaskan apa adanya.

Amien memang sosok pejuang. Disaat namanya mulai digantikan nama-nama baru ia memilih dunia pendidikan sebagai pengabdiannya. Ia menyebut UGM sebagai home base-nya. Disamping menjadi dosen ia juga mengelola yayasan Budi Mulia II bersama istrinya. Ia percaya bahwa lembaga pendidikan akan menjadi amal jariyah. Selamat membaca.

Resensi Buku : Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi

Media Bawean, 8 Maret 2011

Judul : Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi
Penulis : Muhamad Idrus Ramli ( LBM NU Jember)
Penerbit : Bina Aswaja Surabaya
Halaman : 175
Cetakan II : Januari 2011
Peresensi : Fauziyah , S.Pdi (Guru MAK Hasan Jufri )

Suatu ketika Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki ( Tokoh Sunni) sedang berhalaqah dengan para muridnya di serambi masjidil Haram. Di bagian lain Ibnu Sa’di ( Tokoh Wahabi) juga sedang duduk-duduk dengan para muridnya. Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan deras sehingga saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air dengan derasnya. Seperti biasa kaum muslimin segera berhamburan membasahi tubuhnya dengan air tersebut bahkan meminumnya untuk mencari berkah.

Melihat hal tersebut Polisi kerajaan Saudi Arabia terkejut dan mengira bahwa kaum muslimin telah berbuat kemusyrikan. Para Polisi itupun menghardik “ Haram, haram…musyrik...musyrik…! Kum muslimin bubar dan menuju halaqah Sayid Alwi menanyakan perihal ngalap berkah tersebut. Sayid Alwi membolehkan dan bahkan menganjurkan agar mereka terus melakukannya. Mereka kembali ke Ka’bah dan membasahi tubuhnya dengan air. Bentakan Polisi kerajaan sudah tak dihiraukan lagi. Melihat hal tersebut segera Polisi kerajaan menuju tempatnya Ibnu Sa’di. Mendengar pengaduan Polisi tersebur bergegaslah Ibnu Sa’di menuju halaqahnya Sayid Alwi. Ia bertanya “ Wahai Sayid, benarkah anda membolehkan mereka mengharap berkah dari air yang mengalir dari Ka’bah?” Sayid Alwi menjawab “ Benar. Mereka mendapat dua keberkahan. Pertama berkah dari langit dan kedua berkah dari Baitillah. Karena Allah telah berfirman dalam QS. 50 : 9 “ Dan kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah”. Allah juga berfirman dalam QS. 3 : 96 “Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah ( Makkah) yang diberkahi (oleh Allah)”. Mendengar jawaban tersebut Ibnu Sa’di kagum dan berujar “
Subhanallah, bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini ?” akhirnya Ibnu Sa’di segera menuju Ka’bah dan membasahi tubuhnya dengan air. Melihat tindakan tokoh Wahabi ini Polisi kerajaan pergi dengan perasaan malu. Kisah ini disampaikan oleh Syaikh Abdul Fatah Rawah dalam kitab Tsabat. Beliau adalah saksi mata kejadian tersebut.

Di atas adalah secuil kisah yang dituturkan oleh Muhamad Idrus Ramli dalam “ Buku Pintar berdebat dengan Wahabi”. Kyai muda Jember ini tergolong penulis produktif. Ia menempatkan dirinya menjadi salah satu benteng muda dalam membela faham Ahlussunah Wal-Jama’ah. Buku ini merupakan kumpulan pengalaman penulis dan teman-temannya ketika berdebat dengan orang-orang Wahabi (Salafi) yang dengan gampang dan gegabah mengkafirkan sesama muslim.

Secara terperinci Kyai yang alumni Sidogiri ini menguraikan sebelas bab yakni Mencari berkah, Allah maha suci, Bid’ah Hasanah, Otoritas Ulama’, Bukan Ahlussunah, Menurut As-Syathibi, Istighatsah dan tawassul, Cerdas bermadzhab, Tradisi Yasinan dan Permasalahan tradisi. Secara keseluruhan Wahabi dibungkam dengan dalil-dalail naqli dan aqli.

Dalam sebuah diskusi tentang Aswaja di PWNU Jawa Timur, Idrus menyatakan bahwa Wahabi sama dengan Khawarij karena mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah golongan selain mereka. Mereka disebut khawarij bukan semata – mata karena melawan kaum muslimin tetapi karena Takfir dan Istihlal dima’ al-Mukhalafin tersebut. Berbeda dengan ‘Aisyah dan Mu’awiyah, meski keduanya juga memerangi Ali bin Abi Thalib tetapi tidak takfir dan istihlal sehingga keduanya bukan khawarij. Dalam kitab Kasyf as-Syubuhat Muhamad bin Abdul Wahab (Pendiri Wahabi) secara terang benderang me-musyrikkan orang-orang di luar golongannya. Ia menyebut bahwa ulama madzhab empat adalah Syetan karena menyusun ilmu fiqh yang ia katakan syirik. Bahkan pengikut Wahabi yakni Muhamad bin Ahmad Basyamil dengan congkak menyebut bahwa umat islam saat ini lebih musyrik dari pada Abu Jahal dan Abu Lahab (Kaifa Nafhamu al-Tauhid hal.16).

Wahabi selalu mengintai. Ia menyusup ke semua lapisan untuk merusak aqidah dan amaliah kaum muslimin. Belakangan mereka rajin meng-infiltrasi mahasiswa dari kampus-kampus umum untuk dicekoki faham meraka. Dengan jargon standart “ kembali kepada al-Quran dan Hadits” hakikatnya mereka menjauh dari ajaran al-Quran dan Hadits. Ciri-ciri meraka diantaranya adalah : Membid’ahkan amaliah muslimin bahkan memusyrikkannya dan menghujat para kyai ( ulama).

Pahlawan Kesiangan

Media Bawean, 10 November 2008

Sumber : ANTARA Sumut

Irwansyah, Dosen Fakultas Sastra USU

Sebuah instansi mengadakan sayembara penulisan dalam rangka Hari Pahlawan. Karena jelas dalam rangka apa, tentu bertemakan kepahlawanan, yaitu “Penanaman Nilai-Nilai Kepahlawan”. Hadiahnya juga menggiurkan. Tidak cuma kertas yang lazim disebut piagam penghargaan, ada kertas yang lain. Kertas itu sering membuat mata orang jadi ijo bahkan bisa gelap mata, kertas berharga yang disebut dengan duit. Artinya, para pemenang mendapat dua macam kertas sekaligus, piagam plus jutaan rupiah.

Jelas saya tergiur. Saya mau ikut sayembara. Mulai saya berpikir apa yang mau saya tulis. Mulailah saya berjalan dengan pikiran. Tepatnya bukan hanya sewaktu berjalan, juga saat berkenderaan dan makan. Otak terus berputar mencari bahan tulisan. Waktu penutupan kian mepet. Bahan tulisan belum juga ada yang pas di hati. Biasanya kalau terpikir terus akan terbawa mimpi. Saya berdoa agar waktu tidur datang mimpi. Selama ini bukankah sering terdengar ide datang bersama mimpi. Ada yang bilang ketiban wangsit. Banyak orang yang tadinya biasa-biasa saja, tahu-tahu mendadak sontak jadi terkenal bisa mengobati segala macam penyakit, mulai dari jasmani sampai rohani. Bisik-bisik yang sampai ke telinga beliau menjadi dubes (dukun besar) karena dapat mimpi. Bukan mimpi basah, tetapi rezekinya yang tadinya kering sekarang basah.

Setiap bangun pagi saya disambut rasa kesal. Tidak ada mimpi. Sekarang saya mulai berjalan dengan pikiran bersama kesal. Tiba-tiba saja kesal saya bertambah karena saya melihat seseorang di kejauhan. Soalnya, seseorang itu meminjam buku saya yang sudah lama sekali tidak dikembalikannya. Dalam soal pinjam-meminjam buku bukankah ada falsafah “gilalah orang yang mau meminjamkan buku.”, tetapi “lebih gila bila mengembalikan buku yang dipinjam”. Sambil berpikir siapa yang gila saya coba menghindar darinya supaya kesal saya tidak berubah jadi marah. Tahunya malah dia mendatangi saya. Kaget saya, tetapi belum sempat marah. Ia mengembalikan buku yang telah bertahun-tahun dipinjamnya itu. Buku itu berjudul Tegak Lurus dengan Langit kumpulan cerpen Iwan Simatupang.
Malamnya, untuk merayakan kembalinya si buku yang hilang, buku kumpulan cerpen itu menemani saya di ranjang. Salah sebuah cerpen Iwan berjudul “Oleh-Oleh untuk Pulau Bawean” saya ingat bercerita tentang pahlawan. Cerpen itu kembali saya baca ulang sembari tiduran.
Inilah ceritanya.
Beberapa sampan merapat di Pulau Bawean. Orang-orang berkerumun ingin melihat mereka yang baru kembali dari Jakarta. Seorang tua, rambutnya hampir putih semua, paling banyak dikerumuni.
Dia pun bercerita. Tentang Jakarta. Tentang Kalibata, tempat Harun prajurit KKO asal Bawean yang digantung pemerintah Singapura, dimakamkan.
“Semua bermata basah. Ya, jenderal, ya mahasiswa, ya wanita berkerudung, ya pastor berjubah putih, ya ustadz berkain sungkit. Ah! Sungguh bangga aku berasal dari Pulau Bawean. Aku, kami semuanya bangga. Bangga telah mempunyai saham dari Pulau Bawean ini di Kalibata yang megah itu.”
Kemudian.
“Dan kalian… bila masih mau mendengarkan kata-kata seorang tua seperti aku ini: dengarlah baik-baik pesanku ini! Jadikan pulau kita penghasil 1000, ya, sejuta Harun untuk tanah air kita! Tanamkan baik-baik tindak dendam kesumat algojo-algojo di Singapura itu dalam sanubari kalian, anak-anakku. Ayo, belajar! Ayo, bekerja! Kita membalas dendam pada mereka dengan mengikuti jejak si Harun di bidang kita masing-masing. Itulah oleh-oleh yang mampu aku bawa dari Jakarta, anak-anakku….”
….
Sebuah warung reot kecil, di pinggir Jalan Pasar Minggu, menuju Kalibata. Beberapa anak setengah telanjang dengan mata bulat memperhatikan iring-iringan yang lewat.
“Siapa yang diusung, Man?”
“Tentunya pahlawan.”
“Pahlawan dari mana?”
Seorang penjual jambu klutuk menaruh pikulannya dan menjawab, “KKO. Mereka dibunuh orang-orang Singapura.”
….
Tak berapa lama kemudian, dari Kalibata terdengar letusan sekian senapan ditembakkan sekaligus. Aba-aba yang mendahuluinya terdengar pilu sekali, menyayat udara yang dihirup sekian ratus ribu manusia yang berkabung.
….
“Dan pahlawan-pahlawan kita ini berasal dari mana?”
“Dari tanah air kita ini, Jang! Asal-usul mereka mungkin seperti kau-kau ini juga. Lari-lari setengah telanjang semasa kecil, pernah nyolong mangga dan nyuitin gadis-gadis yang lewat. Anak-anak rakyat! Kemudian mereka memutuskan jadi prajurit, yang kemudian menjadi dalih resmi mereka untuk diusung ke Kalibata sini.”
Tak lama kemudian, iring-iringan kembali dari arah Kalibata. Mereka melihat banyak mata yang merah sekali.
“Itu wanita-wanita dan orang-orang yang di mobil mewah itu, siapa?”
“Itulah keluarga pahlawan-pahlawan nasional kita itu. Orang tua, handai-tolan, pacar mereka. Orang-orangnya, ya, macam kita-kita ini juga.”
Tiba-tiba Maman, bocah 6 tahun, setengah telanjang, berteriak,”Aku juga nanti mau jadi pahlawan!”
Tak seorang menyahut. Penjual jambu klutuk menggeleng saja. Disandangnya pikulannya kembali, membawa beberapa buah jambu klutuk yang tak terjual habis pulang ke rumahnya. Beberapa buah diberinya pada si calon pahlawan yang setengah telanjang itu.
“Nih! Makanlah jambu ini. Dan…makanlah yang kuat, ya? Supaya lekas besar, supaya kau lekas jadi pahlawan…”

Ia sendiri menganggap ucapannya itu hambar. Tetapi pikirannya, tidakkah hidup yang suram menjadi ringan, bila saja masih ada dari bangsa kita yang benar-benar mau seperti anak setengah telanjang itu?
Rasa kantuk perlahan mulai merayapi saya. Saya ingat. kita mengenal banyak pahlawan. Amir Hamzah, bangsawan Langkat bergelar “Raja Penyair Pujangga Baru” dan Sisingamangaraja XII bergelar Pahlawan Nasional. Jenderal Ahmad Yani dan para jenderal korban keganasan Gestapu/PKI tahun 1965 di Lubang Buaya disebut Pahlawan Revolusi, Pahlawan Seroja, yaitu yang berjuang di Timtim. Para TKI kita yang mengadu nasib di mancanegara yang tidak sedikit bernasib tragis dielu-elukan sebagai Pahlawan Devisa. Para guru yang masih banyak bernasib seperti Umar Bakrinya Iwan Fall dan Bu Muslimahnya Laskar Pelangi menyandang gelar Pahlawan Tanpa Tnda Jasa.

Saya seorang guru (belum besar) di fakultas sebuah universitas negeri. Kalau begitu saya juga pahlawan walaupun tanpa tanda jasa. Kantuk saya pun sempurna. Saya tertidur dengan hati berbunga.
Esoknya. Saya bangun kesiangan. Saya ingat-ingat. Saya juga pahlawan. “Pahlawan” kok “kesiangan”? Gak papa, asal jangan “Pahlawan Kesiangan”.

TMI, 5 November 2008
Irwansyah, Dosen Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU)

Ajaran Keteladanan KH. Badri Masduqi

Media Bawean, 23 Oktober 2008

Judul Buku: KH Badri Masduqi
Penulis: Saifullah
Penerbit: Pustaka Pesantren-LKiS, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, April 2008
Tebal: vi +290 halaman.
Peresensi: Ahmad Hasan MS






Almarhum KH Badri Masduqi merupakan ulama kharismatik yang memiliki jangkauan luas dari berbagai bidang kehidupan. Wajar bila KH Tauhidullah Badri, dalam kata pengantar buku ini, mengatakan bahwa KH Badri Masduqi adalah sosok multidimensi yang memiliki beragam aktivitas mulai dari pengasuh Pondok Badridduja, Dosen Ma’had Aly serta pemimpin Thariqah Tijaniyah di Indonesia. Semasa hidupnya Almarhum Masduqi rajin mengisi di berbagai forum pengajian, seminar, bahtsul masail hingga menerima tamu dari berbagai masyarakat yang berkunjung ke rumahnya.


Dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1942, KH Badri Masduqi sejak kecil terlihat tanda-tanda keistimewaanya. Sejak kecil, ia sudah mulai belajar membaca Al-Quran dengan orang tuanya, Nyai Muyassaroh sekaligus memperoleh didikan yang baik dari kakeknya, Miftahul Arifin yang tinggal di daerah Pamekasan, Madura. Pendidikan formalnya diawali dari Sekolah Rakyat ( SR ) meski hanya sampai kelas IV pada 1950.

Pendidikan informalnya dilakukan melalui pengembaraannya ke berbagai pesantren di Tanah Air. Beberapa pesantren yang pernah ia jelajahi adalah pesantren Zainul Hasan, Probolinggo (1950), Pesantren Bata-Bata, Pamekasan, (1956), Pesantren Sidogiri, Pasuruan ( 1959 ), dan terakhir di Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo (1965).

Di pesantren Bata-Bata, KH Badri Masduqi sering berpuasa dan hapal Alfiyah Ibnu Malik dalam waktu cukup singkat. Tidak heran bila pujian banyak datang kepadanya. Semasa mudanya, ia dikenal sebagai pemuda yang tangguh. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Anshor, Kraksaan, Probolinggo. Saat terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965, ia juga menjadi pelopor anak muda untuk menumpas pemberontakan PKI.

Sebagai seorang kiai, ia memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan pesantren. Tidak heran bila aktivitas sehari-harinya ia gunakan untuk mengajar, mendidik di pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo. Pada 1975-1977, ia mulai berkiprah di Nahdlatul Ulama (NU). Lalu ditunjuk sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kraksaan. Selain berjuang di organisasi, ia juga aktif di jajaran Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Pada 1982, misalnya, ia dikenal sebagai motor penggerak tokoh NU: KH Mahrus Ali (Lirboyo, Kediri), KH Kholil Ag (Bangkalan, Madura), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kh Ahmad Siddiq dan sebagainya.

KH Masduqi juga dikenal sebagai tokoh Muqaddam Tarekat Tijaniyah. Setiap kali tampil di berbagai forum diskusi ilmiah dan seminar, ia seringkali mewacanakan tentang Tarekat Tijaniyah. Bukan hanya itu, berbagai kaset rekaman pun ia lakukan dalam rangka menyebarkan ajaran tarekat Tijaniyah. Meski demikian, ia tidak lantas bertindak konservatif. Ia dikenal sebagai tokoh moderat yang memandang masalah melalui jangkauan pemikiran yang luas. Jelasnya, ia berdiri di atas paham Ahlussunnah wal Jamaah yang menganut setia ajaran Nabi Muhammad beserta sahabatnya.

Ia merupakan sosok alim yang menguasai segudang ilmu pengetahuan; baik pengetahuan tentang agama, penguasaan kitab kuning, penguasaan masalah-masalah hukum, maupun penguasaan bidang pengetahuan umum seperti ketajaman analisa sosial-politiknya. Di hadapan para kiai lainnya, ia tidak hanya dikenal sebagai ulama yang menguasai model pendidikan dan pengajaran kitab-kitab klasik (salaf), melainkan juga sebagai ulama yang konsentrasi terhadap model pendidikan pesantren modern sebagaimana yang dilakukan terhadap pesantren yang didirikannya, Badridduja.

Pengorbanan yang dilakukannya melalui Pesantren Badridduja amatlah besar bagi umat, bangsa dan negara. Itulah sebabnya, jasa-jasa perjuangannya yang telah dirintis selayaknya dilestarikan dan menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia agar senantiasa meneladani kiprah perjuangannya yang selalu memperjuangkan kesejahteraan umat.

Peresensi adalah Santri pada Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari, Yogyakarta

Buku " Sketsa Bawean"

Media Bawean, 13 Juni 2008

Buku "Sketsa Bawean"
Buku "Sketsa Bawean" termasuk buku istimewa tentang Bawean saat ini. Bukunya lux dan sangat bagus disertai foto-foto Bawean secara lengkap dan sangat menarik untuk dimiliki.

Buku Sketsa Bawean menurut Fathan Al Irsayad ditulis tahun 1993, yang awalnya dari penulisan skripsi studinya di program sejarah.


Menurut Irsyad, "Pada saat penulisan tersebut terhambat karena terbatasnya sumber yang akan dijadikan acuan," katanya.

"Setelah lulus kuliah penulisan buku kami lanjutkan dengan sumber dari media yang ada seperti surat kabar dan lainnya. Termasuk juga mendukung tulisan Raden Abdurrahman dan Zulfa Ustman, serta tulisan dari Malaysia karangan Kalam Ahmadi," ujarnya Irsyad yang sekarang jadi PNS Depag.

Penulis Buku "Sketsa Bawean" Fathan Al Irsyad

"Setelah jadi buku "Sketsa Bawean" ke penerbit Gramedia dihubungkan oleh Yayasan Amal Ilmu di Gresik. Kita sebagai penulis saja, selanjutkan Yayasan Amal Ilmu yang berhubungan dengan pihak penerbit," papar Irsyad.

"Sejak Januari 2008 buku tersebut sudah dijual di Toko Gramedia dengan penerbitan pertama 3000 ex, " tambah Irsyad.

Setelah ditanyakan tentangan tulisan berikutnya, Irsyad menjawab "Kami menulis lebih spesefik tentang rusa Baweaan atau Axis kuhlii, yang penulisannya sedang berlangsung dan tunggu penerbitannya," katanya. (bst)

Inu Kencana Syafiie Leluhur Dari Bawean

Media Bawean, 9 Juni 2008


Membaca buku IPDN Undercover karangan Inu Kencana Syafiie, sampai halaman 19 ada tulisan Leluhur ayahanda berasal dari Bawean......

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean