Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210

BERITA POPULER

adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label DESA KEPUHLEGUNDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DESA KEPUHLEGUNDI. Tampilkan semua postingan

Absensi Check Lock desa Kepuhlegundi Layak Ditiru


Pemerintah desa Kepuhlegundi layak ditiru, sehubungan pemberlakuan sistem check lock untuk absensi seluruh aparatnya.

Amyadi Sekdes desa Kepuhlegundi mengatakan sistem absensi check lock sangat efektif untuk kedisiplinan bersama. "Diantara 13 desa di kecamatan Tambak yang memberlakukan check lock hanya desa Kepuhlegundi,"katanya.

"Bahkan informasinya, se Kabupaten Gresik yang sudah memberlakukan check lock,"ujarnya.

Menurutnya sangat wajar jika kemarin mewakili desa di kecamatan Tambak dalam mengikuti lomba desa. "Selain pemberlakuan sistem check lock, administrasi desa juga bagus,"paparnya.

Termasuk peta desa juga bisa dilihat di balai desa yang sudah terbangun megah yang letaknya sangat strategis.

Lebih lanjut Amyadi menyatakan pelayanan kepada seluruh warganya tetap dijadikan priorities utama dalam menjalankan roda pemerintahan. "Jika pelayanan kepada seluruh warga sudah baik, maka dukungan masyarakat juga tercipta dengan sendirinya untuk pemerintahan desa,"paparnya. (bst)

Biaya Potong Tali Pusar dii Kepuhlegundi Rp.400ribu

Media Bawean, 12 Februari 2012


Tugas mulia bidan desa untuk melahirkan bayi terkadang didahului oleh dukun persalinan di kampung, anehnya sang bidan masih memungut bayaran kepada ibu yang melahirkan.

Seperti kejadian menimpah ibu Muzayyanah (30 th.) isteri Hamidi (35 th.) asal Panyelpangan, Kepuhlegundi, kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik, yang melahirkan anak keduanya tanggal 6 desember 2011 telah dipungut bayaran Rp.400ribu.

Hamidi ditemui Media Bawean (jum'at, 10/2/2012) mengatakan isterinya telah dilahirkan oleh dukun persalinan di kampungnya dengan tarif sangat murah yaitu Rp.30ribu. Kemudian setelah lahir, sang dukun tidak berani untuk memotong tali pusarnya sehingga disarankan untuk memanggil bidan desa.

Kemudian Hamidi menjemput salah satu bidan desa, selanjutnya bidan desa memotong tali pusarnya, setelahnya lalu dihantar kembali ke rumahnya. Menurutnya biaya potong tali pusar termasuk diberi obat-obatan dikenakan biaya Rp.400ribu.

Pembayaran keuangan dilakukan setelah beberapa hari yang diminta oleh perwakilan bidan desa lainnya. "Anehnya bila digratiskan, kenapa masih ada penarikan biaya sebesar Rp.400ribu,"ujar Hamidi yang berprofesi sebagai kyai kampung dengan tanda tanya.

Apakah anda ikhlas dengan pembayaran Rp.400ribu? "Ikhlas secara terpaksa, khawatir atau takut bisa isteri akan melahirkan selanjutnya akan dipersulit,"jawabnya.

Amyadi sebagai perangkat desa Kepuhlegundi menyatakan program jampersal masih terkesan belum sepenuhnya gratis, masih banyak ibu melahirkan yang dikenakan biaya. "Bila harus dikenakan biaya, semestunya diseragamkan saja agar tidak ada perbedaan biaya saat ibu melahirkan,"terangnya. (bst)

Anak Lulus Kuliah
Hasil Kerja Cari La'ang

Media Bawean, 30 Mei 2011


Media Bawean (senin, 30/5/2011) berhasil menemui warga asal Panyelpangan yang berprofesi sehari-hari sebagai pencari air la'ang. Bagaimana kisah suksesnya pekerja keras setiap sore pergi ke hutan mencari bahan utama pembuat gula aren atau dikenal gula merah? Berikut hasil liputan Media Bawean ;

Asbi Hafi (65 th) berprofesi mencari air la'ang sejak kecil sampai tua, Alhamdulillah, menurutnya mampu membiayai kuliah 2 dari 5 anaknya sampai lulus mendapatkan gelar S1. 

"1 anak masih sekolah Madrasah Aliyah dan 2 anak sudah menikah sebelum berkuliah, asalkan ada kemauan melanjutkan sekolah akan diusahakan, walaupun hasil dari mencari air la'ang,"katanya.

"Biar hidup sederhana, pendidikan anak tetap di nomor satukan sampai lulus kuliah, sebab anak termasuk kewajiban kita untuk mendidiknya,"papar Asbi Hafi.

Pencari La'ang yang lain, bernama Ahmad (50 th.) menyatakan bangga menekuni profesi sebagai pencari la'ang ke hutan setiap hari.

"Walaupun hasilnya sangat kecil dibandingkan hasil merantau ke luar negeri, tetapi rasanya sangat nikmat bersama keluarga di Pulau Bawean,"ujarnya.

Menurut pengakuan Ahmad, dahulu pernah merantau ke Malaysia, tetapi akhirnya memutuskan pulang kembali ke Bawean, dengan alasan merasa bahagiah berkumpul dengan isteri dan anak.

Penghasilan pencarian air la'ang, setelah diolah menjadi gula aren atau gula merah, setiap harinya memperoleh uang antara Rp. 10ribu sampai Rp.30ribu.

Sedangkan jumlah warga Panyelpangan yang berprofesi mencari air la'ang menurut sumber Kepala Dusun, sebanyak 50 warga. (bst)

Warga Panyelpangan Pertahankan Kayu Bakar

Media Bawean, 30 Mei 2011


Program konvensi minyak tanah ke gas elpiji dari pemerintah yang terbagi rata diseluruh Pulau Bawean, ternyata tidak mengubah pola lama masyarakat menggunakan kayu bakar sebagai sumber api dalam memasak.

Pantauan Media Bawean, (senin, 30/5/2011) hampir belakang dan samping rumah penduduk banyak tumpukan kayu bakar.  Banyak warga ditanyakan, kenapa mempertahankan kayu bakar sebagai sumber memasak, padahal pemerintah sudah membagikan gas elpiji? alasannya, hasil memasak menggunakan kayu bakar lebih enak dibanding memakai gas elpiji, termasuk penghematan sebab kayu bakar tidak membelinya, asalkan mau mengambil di hutan terdekat sangat banyak. Alasan lainnya, khawatir meledak seperti berita di televisi.

Nacma (70 th.) nenek tua asal Panyelpangan mangatakan setiap saat bila tidak kerja di rumah selalu dimanfaatkan mencari kayu ke hutan. "Sehari-hari memasak menggunakan kayu bakar, termasuk memasak air dan memanggang ikan,"katanya.

Menurut Nacma, gas elpiji ukuran 12 kg dipakai  selama 7 bulan, sedangkan ukuran 3 kg dipakai selama 3 bulan. "Hanya ketika kebutuhan mendadak saja menggunakan gas elpiji, seperti butuh memasak waktu malam hari saja,"paparnya.

Keuntungan lainnya, ungkap Nacma kepada Media Bawean, saat ada acara selamatan bisa digunakan atau memanfaatkan kayu bakar sebagai sumber api dalam memasak. (bst)

Kecolongan Dengan Maling

Media Bawean, 25 Februari 2011

Kejadian pencurian di desa Kepuhlegundi, menurut Nurwan sebagai Kepala Desa, dihubungi Media Bawean (jum'at, 25/2/2011), mengaku kecolongan dengan maling.

"Padahal sebelumnya, kita sudah mengantisipasi dengan melakukan penjagaan malam hari disetiap dusun, ternyata diluar perkiraan warga, malingnya beraksi waktu siang hari,"katanya.

Peristiwa kejadian pencurian di rumah warga Dusun Tanjung, desa Kepuhlegundi, kemarin (kamis, 24/2/2011), menurut Nurwan, membuat suasana desa menjadi mencekam, warga merasa resah sebelum maling ditangkap.

"Harapan besar kepada pihak berwajib yaitu kepolisian untuk secepatnya bisa mengungkap siapa pelaku pencurian,"paparnya.

"Kondisi tadi malam, warga sempat melakukan pencarian keberbagai tempat, sehubungan munculnya sinar laser dari banyak tempat dengan  tiga warga yaitu merah, hijau dan kuning. Setelah dicari tidak ditemukan darimana sumbernya sinar laser berasal, yang jelas banyak warga melihatnya,"terangnya. (bst)

Karang Taruna Kepuhlegundi Eksis Tanpa Memiliki Induk

Media Bawean, 15 September 2010


Inilah kehebatan desa Kepuhlegundi Kecamatan Tambak Pulau Bawean, Organisasi Karang Taruna esksis tanpa memiliki induk ditingkat kecamatan. Buktinya, hari ini (Rabu, 15 September 2010) mengadakan Kegiatan Bhakti Sosial Khitanan Massal dan Halal Bihalal bersama warga desa Kepuhlegundi bertempat di balai desa.

Kegiatan Bhakti Sosial Khitanan Massal dipusatkan di Balai Desa Kepuhlegundi, diikuti sebanyak 20 orang dari beberbagai dusun di desa Kepuhlegundi, yang dilaksanakan tadi padi jam 08.30 WIB. Sedangkan halal bihalal bersama warga akan dilaksanakan malam ini  jam 20.00 WIB. dengan menghadirkan penceramah KH. Nizar dari Guntung Sidogedungbatu.

Seorang Ibu yang anaknya dikhitan mengatakan gembira dengan adanya program bhakti sosial karang taruna, sebab selama ini tidak pernah ada kegiatan sosial khitanan massal. "Bila ada, itupun tidak pernah sampai ke desa-desa, khusus diwilayah tertentu saja di Pulau Bawean,"katanya dengan senyuman.

Nurwan sebagai Kades Kepuhlegundi menyambut senang dengan adanya program bhakti sosial khitanan massal, sehingga bisa mengurangi beban bagi warganya, khususnya bagi orang yang tidak mampu.

"Saya salut dengan keeksisen Karang Taruna yang berdiri sejak tahun 2008, program-program yang dilaksanakan langsung dirasakan oleh warga desa Kepuhlegundi," ujarnya.

"Kontribusi Karang Taruna desa Kepuhlegundi sangatlah besar dalam membantu program desa, kekompakan serta kebersamaan pemuda dan pemudi dalam melaksanakan kegiatan terbukti sejak berdiri, diantaranya kemarin menyabut bulan puasa ramadhan mengadakan safari ramadhan ke dusun-dusun serta tanpil memberikan pengajian dan pendidikan kepada warga," jelas Nurwan.

Ketua Karang Taruna desa Kepuhlegundi, Abd. Majid mengatakan, "Kegiatan bhakti sosial khitanan massal didukung oleh semua pihak, sehingga terselenggara dengan baik dan mendapat respon positip dari semua warga desa Kepuhlegundi," paparnya.

"Setiap peserta khitanan massal dikenakan biaya Rp. 50ribu, untuk membantu pembiayan medis dengan mendapatkan sarung yang merupakan bantuan Bapak Karim asal Carabaka yang profesinya sebagai Kontraktor Kerja di Malaysia,"pungkasnya.

"Karang Taruna Kepuhlegundi aktif sejak tahun 2008, terbentuknya atas kemauan pemuda dan pemudi desa Kepuhlegundi untuk menggerakkan roda organisasi ditingkat desa, yang sampai saat ini belum tahu siapa pengurus Karang Taruna ditingkat Kecamatan Tambak," tuturnya.

Kebingungan Abd. Majid dengan tidak tahu menahu induknya tidak membuatnya patah semangat menggerakkan roda organisasi kepemudaan Karang Taruna, mereka bersama pemuda dan pemudi desa Kepuhlegundi tetap melaksanakan kegiatan yang bisa memberikan manfaat kepada warga di desanya.

Sementara Adiluddin sebagai Ketua Karang Taruna Kecamatan Tambak, menyatakan sudah sejak lama Karang Taruna Kecamatan Tambak tidak aktif, sehubungan pengurus lama sudah habis masa kerjanya. "Sampai saat ini belum ada pemilihan pengurus baru, sedangkan pengurus lama sudah tidak eksis lagi dengan kegiatan-kegiatan Karang Taruna di tingkat Kecamatan Tambak," jelasnya dihubungi Media Bawean via ponselnya. (bst)

Menjenguk Asbani Sebagai Korban Pembacokan

Media Bawean, 3 Mei 2010

Asbani Korban Pembacokan Didampingi Isteri Tercinta

Media Bawean kemarin siang (2/5) menjenguk Asbani (45 th.) warga Panyelpangan desa Kepuhlegundi Kecamatan Tambak sebagai korban pembacokan yang dilakukan oleh tersangka bernama Amir (30 Th.) di Puskesmas Sangkapura.

Asbani berada dalam kamar dengan isi dua orang pasien, terlihat sedang tidur pulas diatas ranjang didalam ruangan UGD Puskesmas Sangkapura.

Media Bawean menemui isteri Asbani bernama Salamah (40 Th.) dengan didampingi dua orang anaknya menanyakan soal pembiayaan pengobatan yang ditanggung oleh suaminya. "Terus terang saya datang kesini tidak membawa uang sedikitpun, bila ditarik biaya lalu darimana saya akan membayarnya," katanya dengan nada sedih dan haru.

"Pekerjaan suamiku hanya membantu-bantu orang saja, tidak mampu bila biaya pengobatan suami ditanggungkan kepada kami sebagai orang tidak mampu dan kekurangan," jelasnya lebih lanjut.

Kades Kepuhlegundi Nurwan dihubungi via ponselnya, mengatakan, "Korban memiliki kartu Jamkesmas, tetapi belum diserahkan kepada pihak Puskesmas sebab masih mengurus KTP korban," terangnya.

"Melihat kondisi perekonomian korban, sangat layak untuk digratiskan sebab tergolong tidak mampu," papar Kades Kepuhlegundi.

Perawat Puskesmas Sangkapura ditemui Media Bawean diruangannya, menyatakan soal pembiayaan menjawab belum bisa disebutkan sebab belum dijumlah total. "Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Kepala UPTD Puskesmas Sangkapura," terangnya.

Masuk kedalam ruangan yang ditempati Asbani, beliau sudah terbangun dari tidurnya dan duduk dengan didampingi isteri tercintanya. "Alhamdulillah kondisi sudah membaik dan bisa bergerak, yang sakit bagian tangan kanan dan di radang tenggorokan," ujarnya.

Media Bawean menghubungi Kepala UPTD Puskesmas Sangkapura via ponselnya sedang tidak aktif. (bst)

Bor Minyak Peninggalan Penjajahan Belanda

Media Bawean, 12 Juni 2009

Hanafi Menunjukkan Bor Minyak Di Pulau Bawean

Hari ini (12/6) Media Bawean dihantar oleh Hanafi Sholeh menuju tempat pengeboran minyak di kaki Gunung Lantong Carabaka Kepuhteluk Tambak.

Menuju lokasi memerlukan waktu lama dengan berjalan kaki naik turun gunung selama satu jam. Sampai dilokasi sudah tercium bau minyak menyengat dihidung.

"Ini adalah peninggalan penjajah Belanda, yaitu bor minyak dikawasan kaki gunung Lantong," kata Hanafi Sholeh.

"Banyak orang dari jawa yang datang kesini untuk meninjau ke lokasi pengeboran, informasinya mau mengambil minyaknya. Tapi sampai sekarang belum ada yang terealisasi," jelasnya.

Ada keanehan di tempat bor terdengar suara seperti air mendidih. (bst)

Siang Hari Di Pulau Bawean

Media Bawean, 28 Februari 2009

Warga Carabaka Duduk Santai Di Durung

Warga Carabaka Duduk Santai Di Durung

Siang hari yang panas, saat Media Bawean berencana meliput berita ke daerah Tambak. (28/2) Sempat berhenti di durung melihat langsung aktivitas warga Carabaka Kepuhlegundi di siang hari.

Setelah datang mengambil rumput, mereka istirahat di durung dengan rmakan ujak kedongdong muda bersama. Inti pembicaannya adalah Caleg (Calon Legislatif) yang mau dipilih dalam pemilu nanti tanggal 9 April.

"Eson meleah ............, sebab bik tokellen kalaben bini," katanya.
Kata yang lain, "Eson meleah ..............., la kebengko berempa kali, eson nyerser," ujarnya.
"Eson melea si aberik pesse ka eson, sebab mun la deddi tak kerah engak," lanjut lainnya.

Terus pembicaraan mereka seputar politik untuk memilih Caleg ditingkat Kabupaten. Media Bawean pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Tambak.(bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean