Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label DESA KLOMPANGGUBUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DESA KLOMPANGGUBUK. Tampilkan semua postingan

Pilkades Kalompanggubuk, Suli Terpilih Kembali Sebagai Kades

Media Bawean, 11 Juni 2013


Keberhasilan dalam memimpin desa Kalompanggubuk, kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik telah menghantar Suli terpilih kembali sebagai Kepala Desa (Kades).

Dalam pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) yang diselenggarakan hari ini (selasa, 11/6/2013), Suli berhasil memenangkan dengan memperoleh suara sebanyak 458 suara. 

Situasi dan kondisi Pilkades Kalompanggubuk berjalan lancar tanpa hambatan, walaupun kehadiran warga diiringi dengan turunnya hujan sangat lebat.
Berikut Hasil Penghitungan Suara Pilkades Kalompanggubuk
Daftar Pemilih Tetap (DPT) : 1.322
Calon Nomor 1 (Salamet) : 329 suara
Calon Nomor 2 (Suli) : 458 suara 
 Tidak Sah : 15 suara 
Tidak Hadir : 520

Bencana Longsor Di Kelompang Gubuk, 2 Hektar Sawah Hilang & Kerugian 2 M.

Media Bawean, 9 Maret 2012


Disaat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik merayakan HUT ke-38 dan Hari Jadi Kota Gresik ke-525, warga desa Kelumpang Gubuk, kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik menghadapi bencana longsor dahsyat yang terjadi sejak hari sabtu malam (3/3/2012) sampai minggu (4/3/2012), sekarang kondisi tanah masih terus bergerak belum stabil.

Sebelumnya diawal tahun 2012, pertama kali bencana longsor terjadi sehingga memutuskan akses jalan desa menuju Dusun Padeggalan dan perkampungan Kalocok, desa Kelumpang Gubuk. Pasca bencana, jalan poros desa (JPD) kemudian diperbaiki kembali melalui swadaya masyarakat setempat serta melalui proyek tanggap darurat dengan bantuan pemerintah kabupaten Gresik.

Suli dihubungi Media Bawean (kamis, 8/3/2012) mengatakan bencana longsor yang terjadi sekarang termasuk paling dahsyat dibanding sebelumnya, telah menghilang lahan pertanian milik warga sekitar 2 hektar bila dinominalkan kerugiannya bisa mencapai Rp.2 Miliyar.

"Penyebab longsor diakibatkan terlalu tingginya curah hujan tanpa berhenti selama 2 hari, dampaknya ruas jalan yang sudah diperbaiki kembali rusak lagi,"katanya.

"Akibatnya aliran sungai jadi danau, sedangkan sawah milik warga berubah menjadi sungai.  Sedangkan ukuran lokasi bencana panjangnya 230 meter dan lebarnya 100 meter,"ujarnya.

Solusi alternatif agar akses jalan yang menghubungkan ke Dusun Padeggalan dengan jumlah 111 kepala keluarga (kk) bisa normal kembali, Suli menyatakan sudah mulai merintis jalan baru yang letaknya sekitar 250 meter dari lokasi bencana sekarang.

Abd. Adim sebagai Sekcam Tambak menyatakan peristiwa bencana yang terjadi di Kelumpang Gubung telah berdampak hilangnya lahan pertanian seluas 2 hektar milik warga. 
 
Camat Tambak, Suropadi mengatakan sudah meninjau langsung lokasi bencana di desa Kelumpang Gubuk. "Memang dahsyat, bencana longsor yang terjadi seperti di Dusun Candi beberapa tahun yang lalu. Tapi untungnya, lokasi bencana bukan tempat pemukiman warga hanya merugikan banyak lahan pertanian berupa sawah milik warga,"terangnya. (bst)

JPD Ambrol Di Klompanggubuk, Akses Transportasi Terputus

Media Bawean, 11 Januari 2012


Ambrolnya jalan poros desa (JPD) di Dusun Jati-Jati, desa Kalompanggubuk, kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik terjadi hari senin malam selasa (1/1/2012) jam 23.00 WIB. 

Jalan menuju perkampungan warga di Padegalan dan Karocok terputus total diakibatkan ambrolnya JPD sepanjang 100 meter dengan kedalaman 1 sampai 2 meter.

Berdampak kepada warga sebanyak 114 KK, mencari solusi jalan alternatif menyusuri gunung disebabkan tidak berani melawatinya selama 3 hari setelah ambrol. Sedangkan pengajar di SDN Kalompang gubuk yang letaknya di Padegalan terpaksa berjalan kaki.

Suli ditemui Media Bawean (rabu, 11/1/2012) mengatakan sampai sekarang masih belum bisa dilewati kendaraan roda empat, sementara untuk pengguna sepeda motor bisa melewati dengan kondisi tidak hujan.
"Setelah kejadian, selama 3 hari JPD menuju Padegalan tidak ada yang berani melewatinya disebabkan kondisi jalan masih labih atau bergerak, khawatir terjadi ambrol lanjutan,"katanya.

"Selang 3 hari selanjutnya, warga mengadakan gotong royong untuk membuat jalan setapak untuk pengguna jalan kaki dan sepeda motor. Bisa dilewati sepeda motor saat kondisi tidak hujan,"paparnya.

Ambrolnya JPD menuju akses rumah penduduk dan pendidikan, menurut Kepala Desa Kalompanggubuk sangat diperlukan segara pembangunan kembali oleh pemerintah melalui proyek tanggap darurat agar putusnya jalur transportasi tersambung kembali. (bst)

Molod Di Klompang Gubuk Tradisi Lama Dipertahankan

Media Bawean, 13 Februari 2011

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. 1432 H. di Pulau Bawean sudah diselenggarakan dibanyak tempat, di Kalompang Gubung, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean dari sisi angkatan tetap mempertahankan tradisi lama dipadukan yang baru.

Kepala Desa Kalompang Gubung, Suli dihubungi Media Bawean (13/2/2011) mengaku mendapat undangan sebanyak 13 tempat dari berbagai kampung di desanya.

"Angkatan molod tetap mempertahankan tradisi lama yaitu didalam wadah terdiri dari hasil bumi lengkap, termasuk ayam hidup juga dimasukkan didalamnya. Selain hasil bumi, menurut Suli, warganya juga mengisi angkatan dengan barang-barang toko seperti roti dan lain-lain,"katanya.

Berapa nominal satu angkatan? "Nilainya sampai Rp.1 juta dalam satu angkatan,"jawabnya.

"Warga tetap bertahan dan tidak mau diperkecil sehubungan sudah melakukan persiapan selama dua bulan sebelum acara  molod dilaksanakan,"terangnya.

"Tetapi warga di kawasan pinggiran sudah mulai memperkecil, sedangkan warga yang rumahnya letaknya di gunung tetap mempertahankan sampai sekarang," ujarnya.

"Acara molod di Kalompang Gubuk, masih tetap seperti dahulu yaitu pembacaan barzanji secara lengkap, asrakalan, termasuk ceramah agama oleh da'i yang diundang,"papar Suli sebagai Kepala Desa Kalompang Gubuk. (bst)

Kampung Batu Celeng Dirubah Nama Pedalaman Warga Tetap Menyebutnya Kampung Batu Celeng

Media Bawean, 4 April 2010

Warga Batu Celeng Sedang Bermain Di Sore Hari

Di desa Kalompanggubuk Kecamatan Tambak Pulau Bawean, ada sebuah kampung bernama Batu Celeng.

Hari ini (3/4) Media Bawean berkunjung ke Kampung Batu Celeng untuk membuktikan secara langsung batu celeng yang ada disana. Mislawati (24 Th.) warga setempat mengatakan, "Batu Celeng sudah tidak ada sudah lama sebelum saya dilahirkan, itu cerita nenek moyang bahwa dinamakan kampung Batu Celeng karena disini dahulunya ada batu celeng.

"Pernah nama Batu Celeng digagas untuk dirubah nama menjadi Pedalaman, tetapi semua orang sampai sekarang tetap menamai kampung Batu Celeng," katanya.

Jumlah rumah di kampung Batu Celeng sebanyak 36 buah, sedangkan kerja harian warganya adalah merawat ternak sapi dan bertani ke sawah selama dua kali musim tanam. (bst)

Kampung Kalocok Di Pulau Bawean

Media Bawean, 5 Juli 2009

Rumah Dalimi Dan Akhmad Di Kampung Kalocok

Rumah Ditinggal Ke Malaysia, Ditumbuhi Karakap

Media Bawean hari ini (5/7) melakukan penjelajahan ke puncak paling tertinggi di Pulau Bawean. Masuk melalui desa Sokaoneng, dilanjutkan masuk desa Kalompanggubuk terus ke kampung Berung Seng, kemudian naik ke kampung Padeggalan dan kampung terakhir bernama Kalocok.

Kampung Kalocok masuk desa Kalompanggubuk kecamatan Tambak, setelahnya sudah tidak ada perkampungan lagi, bila dilanjutkan turun dengan berjalan kaki selama 2 jam akan sampai di Telaga Kastoba.

Ada dua rumah diperbatasan paling akhir, yaitu rumah Dalimi dan Akhmad, keduanya saat ini berada di Sigambut Malaysia. Menurut tetangganya kepada Media Bawean mengatakan, "sudah sekitar 10 tahun tidak pulang ke Pulau Bawean," ujarnya.

Melihat kondisi rumah sampai diatas atapnya ditumbuhi tanaman karakap sebagai tanda rumah sudah tidak dihuni cukup lama. (bst)

Kakek Di Padeggalan Tidak Dapat BLT

Media Bawean, 18 Mei 2009

Kakek Rabi (70 Th.) Asal Padeggalan

Kakek Rabi (70 Th.) Di Depan Rumahnya

Besok (19/5) adalah pembagian Bantulan Langsung Tunai (BLT) di Kecamatan Tambak, tetapi masih banyak warga miskin yang tidak mendapatkan haknya. Contohnya seperti kakek Rabi (70 Th.) di Padeggalan desa Kalompanggubuk untuk pembagian BLT besok tidak mendapatkan, sedangkan warga yang dapat BLT di padeggalan bisa dihitung dengan jari.

"Dari dulu sampai sekarang tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah, padahal rumah bisa dilihat terbuat dari bambu," ujar Kakek Rabi kepada Media Bawean (18/5).

"Sedangkan beras saja disuruh beli, karena tidak punya uang untuk membelinya tidak ada warga disini yang mau membeli, sebab warga disini menjual beras untuk mendapatkan uang," katanya.

"Warga disini sulit untuk mendapatkan uang, hanya hasil menjual beras, buah kelapa saja untuk membeli ikan," paparnya.

Persoalan tidak dapatnya BLT bagi warga miskin di Pulau Bawean tidak bisa menyalahkan kepala desa atau pihak terkait, sebab pembagian BLT dengan menggunakan data dari BPS. (bst)

Kampung Berung Seng Di Kalompang Gubuk

Media Bawean, 18 Mei 2009

Berung Seng

Kampung Berung Seng

Di desa Kalompanggubuk ada sebuah kampung yang bernama Berung Seng. Kenapa bernama Berung Seng? Menurut warga setempat, mengatakan, "Memang di kampung berung seng, banyak berung atau durung yang atapnya menggunakan seng.

Di buktikan Media Bawean, saat berkunjung ke kampung Berung Seng hari ini (18/5), ternyata hampir setiap rumah memiliki berung atau durung beratapkan seng. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean