Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Pusaka Utama Pulau Bawean


Dalam Al Qur'an surat Al Haqqah: 38 -39, Allah SWT. bersumpah terhadap apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat. Ayat sesudahnya Allah menjelaskan tentang Al Qur'an.

Al Qur'an kitab suci yang diturunkan kepada Rasul yang mulia, Al Qur'an bukan perkataan seorang penyair, dan ia bukan juga perkataan tukang tenung. Ia Al Qur'an diturunkan oleh Allah, Tuhan seluruh alam.

Saya mencoba mengangkat ayat ini untuk mengambarkan betapa visionernya para orang tua, tokoh-tokoh Pulau Bawean. Mereka membuat pusaka untuk pulau yang dicintainya, dengan langsung menyandingkannya dengan kalamullah Al Qur'an.

Sesuatu yang tersandingkan dengan Al Qur'an maka dengan sendirinya mulialah ia. Ini menggambarkan pusaka Bawean yakni Al Qur'an, diopinikan dengan sangat santun dan mengikat.

Sehingga keluarlah satu konsensus yang terkenal, mengakar, walaupun mungkin tak terarsipkan dlm tulisan tangan.

"Bukan orang Bawean bila ia tak bisa ngaji Qur'an" (benni oreng Bhebian mon tak bisa ngaji) adalah narasi cinta orang tua yang mengerti tentang cinta dan makna kehidupan.

Kata-kata itu yang menurut saya adalah cara para orang tua menjaga generasi penerusnya, sebuah penjagaan yang tak mengekang, karena tetap ada kebebasan, kebebasan untuk menjadi sesuatu, asalkan dengan tetap berlandaskan kepada Al Qur'an.

Ia menjaga kesucian Al Qur'an, yang pada hakikatnya Al Qur'an lah yang menjaga, penjagaan yang luar biasa karena ia mampu menata habbit (kebiasaan manusia yang  mencintainya), dari kebiasaan yang mulia ini menghantarkan dirinya meraih berbagai kemudahan, kesuksesan dan keberkahan.

Ini bukan jargon kosong, karena ini adalah bahasa qolbu,  bahasa kesadaran, dan banyak dari kita telah mempersaksikan kesaktian pusaka Bawean ini.

Rama Jazilul Fawaid menyampaikan testimoni di acara halal bihalal warga Bawean di Jakarta, "Saya bisa menjadi anggota DPR RI karena saya orang Bawean, orang Bawean hebat karena Qur'an".

Begitu pula dengan Rama Yahya yang juga anggota DPR RI, pernah masuk kepengurusan sebuah partai besar, bila dianalisa, pasti karena Qur'an-nya, kalau tidak salah Beliau pernah menjadi ketua kaderisasi partai.

Demikian pula dengan guru saya Pak Mustafa Kamal, bukan karena gelar dari UGM nya Ia menjadi hebat, dikenal dan dihormati, namun karena Quran-nya. Oleh karenanya, ia selalu menangis bila ingat betapa besar jasa orang tua dan guru yang telah mengajarkannya Al Qur'an.

Fakta sejarah ini harus menjadi landasan filosofis di dalam merumuskan kebijakan di Pulau Bawean. Karenanya jargon Bawean sebagai destinasi wisata Qurani, bukan jargon kosong.

Karena ini adalah jatidiri orang Bawean. Maka perjuangkanlah, seperti bagaimana orang tua kita telah dengan lantang berani membuat konsensus tentang Pulau Bawean.

Sukabumi 161019 (Yuhdi B)

Pintar Membaca Al Qur'an, Bekal Warga Bawean Merantau



Masyarakat Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur dikenal sangat religius. Sebelum merantau ke tanah perantauan masyarakat Bawean yang hidup di zaman dulu harus memiliki empat bekal di antaranya adalah harus bisa membaca Alquran.

"Sebelum merantau orang Bawean harus memiliki empat hal sebagai bekal, yaitu bisa membaca Alquran dengan baik, bisa membaca //Barzanji//, sudah mengaji kitab Sullam Safinah (kitab dasar agama), dan bisa pencak silat," ujar Muhyiddin, wartawan Republika.co.id, dalam diskusi bertema “Religion and Locality Case of Bawean Islam" di Smart Room Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Jumat (10/6) yang digelar Prodi Magister (S2) Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurut dia, orang Bawean banyak yang merantau ke beberapa negara tetangga seperti ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Proses tradisi merantau tersebut telah berlangsung sejak akhir abad ke-19, tepatnya pada 1980-an.

Salah satu peserta diskusi asal Malaysia, Mak Cik Salma mengakui bahwa masyarakat Bawean sangat banyak yang merantau ke negaranya sejak dulu dan dikenal ulet dalam bekerja.

Namun, kata dia, orang Malaysia mengenal masyarakat Bawean dengan panggilan Boyan. "Memang mereka sangat giat dan tekun dalam bekerja. Tapi kita mengenal Bawean sebagai Boyan," kata Mak Cik Salma, yang sedang menempuh studi filsafat di program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.

Peneliti dari Leeds University UK, Jonathan D Smith, mengatakan secara teoritis tentang kajian agama dan lokalitas. Kandidat doktor studi agama ini mengatakan, lokalitas sangat penting dalam kajian agama. Tanpa menyadari ini, peneliti agama akan rawan tergelincir dalam generalisasi berlebihan atau menerjemahkan lokalitas dalam kacamatanya sendiri.

Dengan lokalitas, para pengkaji agama akan terbantu untuk menghadirkan banyak gambaran tentang suatu agama, sehingga perspektif kita akan agama akan menjadi semakin luas. Namun, menurut dia, para peneliti harus membuang stereotif yang tidak berguna untuk mencapai hal itu.

“Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan membuang stereotip-stereotip yang tidak berguna dalam membaca lokalitas agama," kata dia.

Sumber : Republika

Jejak Ulama di Pulau Bawean


Dakwah Islam di Pulau Bawean Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur makin gencar setelah ulama besar bermunculan pada abad ke-19. Sejumlah tempat ibadah pun mulai bermunculan, seperti masjid, mushalla, atau langgar. Berdasarkan laporan statistik, jumlah masjid di Bawean saat ini mencapai 114 bangunan. Setiap desa rata-rata memiliki empat masjid.

Dalam buku Pesantren Hasan Jufri dari Masa ke Masa, Ali Asyhar membagi para ulama Bawean menjadi dua dua kategori. Mereka adalah ulama generasi hijaz dan generasi emas. Ulama generasi hijaz ratarata belajar agama ke Makkah.

Para ulama Bawean generasi Hijaz, di antaranya KH Muhammad Hasan Asy'ari al-Baweani al-Fasuruani yang lahir di Bawean sekitar 1820 M. Alim satu ini ini wafat pada 1921 M di Pasuruan. Makamnya berada di belakang Pondok Pesantren Besuk Kejayan Pasuruan.

Selanjutnya, muncul cendekiawan lain dari Desa Kebuntelukdalam, Sangkapura, Bawean, yaitu KH Mas Raji bin H Thayib. Ia lahir pada 1874 dan wafat pada 1964 di usia 90 tahun.

Pada 1885, kemudian lahirlah KH Dhofir bin KH Habib di Desa Kota kusu ma, Sangkapura, Bawean. Alim asal Bawean ini wafat dan dikuburkan di Jakarta pada 19 Agustus 1971 saat mengantar istrinya berangkat haji dari Singapura.

Ulama hijaz selanjutnya, yaitu KH Abdul Hamid Thabri. Dia lahir pada 20 September 1899 di Desa Sidogedungbatu, Sangkapura, Bawean. Komandan Hizbullah Bawean ini wafat pada 25 April 1981 dengan meninggalkan sembilan orang anak.

Pada 1913 Masehi, ulama hijaz juga lahir di Desa Daun Kecamatan Sangkapura, Bawean, yaitu KH Subhan bin KH Rawi. Setelah belasan tahun belajar di Makkah, dia mendiri kan Pondok Pesantren Darussalam di Desa Daun. Dia wafat pada 1978 Masehi.

Sementara, ulama Bawean yang masuk dalam kategori generasi emas adalah KH Abdul Hamid Satrean dari Desa Kebuntelukdalam. Kemudian, KH Fadlilah dan KH Khatib dari Desa Pekalongan, serta KH Hasan Jufri dan KH Yusuf Zuhri yang berasal dari Desa Lebak.

Desa Sukaoneng paling banyak melahirkan ulama generasi emas, yaitu KH Mohammad Amin, KH Manshur, dan KH Burhan Manshur. Selain itu, ada juga KH Muhammad Yasin dari Desa Kepuhteluk, KH Hatmin dari Desa Laccar, dan KH Muhammad Asyiq Mukri dari Desa Gelam.

Para ulama generasi emas tersebut rata-rata mengajarkan agama Islam melalui pondok pesantren. Hingga hari ini, pesantrenpesantren yang dibangun ulama generasi emas tersebut terus mengalami perkembangan. Pesantren-pesantren itu kini bahkan sudah menggabungkan dengan sekolah sekolah umum.

Sumber : Republika

Jejak Wali Songo di Pulau Bawean


Maulana Umar Mas'ud bukanlah yang pertama menyebarkan Islam ke Bawean. Sebelumnya, ada jejak Wali Songo yang pernah singgah di Pulau Bawean Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur sekitar 1460 Masehi, yaitu Sunan Bonang. Karena itu, selain ada di Tuban, makam Sunan Bonang juga terdapat di Bawean, tepatnya di Kecamatan Tambak.

Setelah Sunan Bonang, ada juga seorang wali perempuan yang menyebarkan Islam di Bawean bagian utara, yaitu Wali yah Zainab (1580 Masehi). Dia merupakan cucu dari Sunan Sendang Dhuwur Paciran Lamongan yang menikah dengan cucu Sunan Giri yang bernama Pangeran Sedo Laut.

Waliyah Zainab awalnya datang ke Pulau Bawean bersama suami dan kerabatnya. Namun, sayangnya, suami dan kerabatnya meninggal dunia di tengah laut setelah perahunya tenggelam. Dari musibah itu yang selamat hanya dua orang, yaitu Waliyah Zainab dan seorang pembantunya yang bernama Mbah Rumbut.

Dalam buku Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean, Dhiyauddin Qushwandhi menjelaskan bahwa Waliyah Zainab adalah generasi keempat penerus ajaran Syekh Siti Jenar.

Makam Waliyah Zainab kini menjadi tempat yang paling banyak diziarahi oleh masyarakat Bawean. Letaknya di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak. Bahasa masyarakat Bawean Diponggo sendiri berbeda dengan bahasa Bawean pada umumnya. Lebih mirip bahasa Jawa yang digunakan Waliyah Zainab.

Dalam buku Pesantren Hasan Jufri dari Masa ke Masa, Ali Asyhar menuliskan bahwa pada 1743 Masehi, Bawean juga pernah berada di bawah kekuasaan Madura.

Namun, orang Bawean enggan dipanggil orang Madura meskipun bahasa kesehariannya hampir sama dengan bahasa Madura. Pasalnya, penduduk pulau ini tidak hanya merupakan keturunan orang Madura, tapi juga banyak yang memiliki nenek moyang dari Jawa, Bugis, Mandar, dan Palembang.

Sumber : Republika

Dakwah Islam di Pulau Bawean


Setelah Wali Songo berdakwah di tanah Jawa, ajaran Islam menyebar luas ke seluruh nusantara. Bahkan, hingga pulau-pulau terpencil seperti Bawean yang berada di Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur.

Bawean merupakan pulau mungil yang berada di tengah Laut Jawa. Lokasinya berada sekitar 120 kilometer sebelah utara Kabupaten Gresik. Dilihat dari peta, pulau ini hanya tampak seperti titik nun huruf Arab. Karena itulah pulau ini dijuluki "Titik Nun dari Pulau Jawa".

Pulau Bawean banyak mendapatkan julukan. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pulau ini dulunya disebut dengan nama Buwun. Sementara, pemerintah kolonial Belanda dan Eropa mengenal Bawean dengan sebutan Bovian.

Masyarakat Bawean awalnya menganut ajaran anamisme dan dinamisme. Namun, setelah berabad-abad lamanya, kini masyarakat Bawean sudah 100 persen menganut agama Islam. Hal ini tak terlepas dari peran dakwah ulama nusantara.

Berdasarkan catatan dan dokumen sejarah, Islam masuk ke Pulau Bawean pada abad ke-16. Dalam buku berjudul Bawean dan Islam, Jacob Vrendenbergt mencatat, Islam masuk ke sana sejak 1511 Masehi.

Kemudian, ajaran Islam menyebar luas di Bawean setelah datangnya Syekh Umar Mas'ud, tokoh penyebar Islam yang datang dari Pulau Madura. Nama aslinya adalah Pangeran Perigi yang merupakan cucu Sunan Drajat.

Berdasarkan catatan historiografi disebutkan bahwa Umar Mas'ud baru berhasil mendirikan kerajaan Islam di Bawean setelah mengalahkan penguasa Bawean yang menganut ajaran animisme dan dinamisme, yaitu Raja Babileono.

Saat Umar Mas'ud datang ke Bawean, dakwah yang dilakukannya hampir serupa dengan yang dilakukan para Wali Songo. Dia tidak langsung mengajak masyarakat Bawean masuk Islam. Selama bertahun-tahun dia mendekati masyarakat lebih dulu.

Karena keramahan dakwahnya, akhirnya banyak masyarakat Bawean yang bersimpati kepada Umar Mas'ud. Namun, Raja Babileono justru merasa terganggu dengan dakwah Umar Mas'ud tersebut. Penguasa yang ahli sihir itu pun menantang Umar Mas'ud untuk mengadu kesaktian.

Atas pertolongan Allah, Umar Mas'ud pun berhasil mengalahkan Raja Babileono. Setelah itu, Umar Mas'ud mendirikan kerajaan Islam di Dusun Sungai Raja, Desa Lebak, dan berkuasa selama 29 tahun mulai 1601 hingga 1630 Masehi.

Selama berkuasa, Umar Mas'ud bisa dengan leluasa berdakwah di Pulau Bawean. Untuk melancarkan dakwahnya, dia pun memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pusat Sangkapura.

Umar Mas'ud membangun Sangkupura layaknya kota-kota Islam di Pulau Jawa. Bentuk konsepsi tata kota Islam terlihat dari penempatan keraton di pusat pemerintahan Umar Mas'ud. Keraton yang dikenal sebagai Bengko Delem itu terletak di sisi utara Alun-Alun Bawean.

Sementara, di sisi selatan alun-alun dibangun pasar terbesar yang ada di Pulau Bawean. Tidak hanya itu, Umar Mas'ud juga membangun sebuah masjid agung di sebelah barat alun-alun. Konsep tata kota Islam tersebut merupakan prakarsa dari Sunan Giri.

Umar Mas'ud wafat pada 1630 Masehi dan dimakamkan di belakang Masjid Jami' Sangkapura. Dalam buku Pesantren Hasan Jufri dari Masa ke Masa, Ali Asyhar menjelaskan bahwa kerajaan Islam tersebut diteruskan oleh para penurus Umar Mas'ud hingga generasi ketujuh, yaitu Raden Panji Prabunegoro atau Raden Tumenggung Pandji Tjokrokusumo pada 1747-1789 Masehi.

Sumber : Republika

Warga Kompak Menghantar Calon Jamaah Haji




Calon jamaah haji (Chj) asal Pulau Bawean mulai berangkat untuk menuju Gresik untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Ada 4 pasang yang berangkat hari ini (senin, 9 Juli 2018) dengan naik Kapal Express Bahari.

Keberangkatan calon jamaah haji asal Bawean dihantarkan banyak keluarga dan warga asal kampungnya di Pelabuhan Bawean. Mereka kompak menghantarkan warga untuk menunaikan ibadah haji.

Nur Ichsan petugas KUPP Bawean mengatakan sudah waktu warga Bawean menghantarkan calon jamaah haji di Pelabuhan Bawean. "Diperkirakan puncaknya nanti akhir bulan ini,"katanya. (bst)

Langgher Kona di Pulau Bawean


Dusun Bengkosubung desa Kotakusuma Sangkapura, memiliki warisan arsitektur bangunan kayu yang berumur ratusan tahun. Bangunan itu berupa mushollah dengan bentuk panggung. Hingga kini masih bertahan dan berdiri kokoh. Mushollah yang didirikan oleh almarhum Kyai Dhofir ayah dari Almarhum KH. Ali Dhofir (mantan anggota DPRD Kabupaten Gresik).

M. Yasin warga Bengkosubung mengatakan mushollah panggung yang terbuat dari kayu sudah berusia ratusan tahun. Warga sekitar turut andil dalam menjaga bangunan tersebut. "Masih berdiri kokoh karena dijaga oleh warga sekitarnya,"katanya.

Menurutnya seluruh masyarakat kompak menjaganya, misalnya ada kerusakan pada kayunya langsung diganti . Sebagai bangunan yang khas, maka mushollah panggung menjadi tempat yang menarik dikunjungi. “Banyak warga yang berjamaah sholat lima waktu,"paparnya.

Musholla juga dijadikan tempat aktifitas keagamaan lainnya, seperti peringatan maulid ataupun hari besar Islam.

Himmatus Syarifah tokoh Fatayat NU Bawean menyatakan menarik dengan berdiri kokoh mushollah panggung yang terbuat dari kayu. "Ini aset yang harus tetap dijaga sebagai warisan kepada anak dan cucu kita kelak,"pungkasnya. (bst)

Sunan Bonang Wafat di Pulau Bawean



Sunan Bonang wafat karena usia lanjut saat berdakwah di Pulau Bawean, Gresik pada tahun 1525. Beritanya, segera tersebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir. Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di pulau tersebut.

Tetapi murid-murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah, mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan oleh orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya. Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban.

Lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya. Tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Pulau Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah mungkin karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di Kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air. (bst)

ISRA’ MI’RAJ Menembus Segala Dimensi


Oleh : AFANDI,S.Pd.M.Pd. (Kepala SMAN 1 Sangkapura)

Mengenang kembali diperjalankannya hamba Allah, Rasulullah Muhammad SAW dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsya (tempat terjauh ke utara) serta naik ke langit ketujuh (sidratul muntaha) dalam perintah penyederhanaan waktu salat dari lima puluh waktu menjadi lima waktu dalam sehari semalam merupakan peristiwa maha dahsyat. Perjalanan di malam ini terjadi dengan roh dan jasad beliau. Hal ini terlihat pada sebuah keterangan bahwa bila rohnya saja yang berisra’ mi’raj berarti itu hanya bisa terjadi dalam alam mimpi, namun bila jasadnya saja yang mengalaminya, tak ubahnya mayit saja yang bergerak. Dengan demikian sudah tidak dapat diragukan lagi bahwa Rasulullah Muhammad SAW sebagai hamba (abdun) yakni jasad dan roh diperjalankan oleh Allah SWT sebagai sebuah kemukjizatan yang menembus segala dimensi kehidupan hingga zaman termutaakhir seperti sekarang ini.

Betapa terkagumnya pikiran ini bila melihat kemajuan teknologi kedoteran saat ini dengan preparat pembedahan dalam mengangkat sebuah penyakit atau proses partus serta keperluan medis lainnya, termasuk bedah menggenakan sinar laser. Kehebatan termodern ini sudah pernah dialami oleh Rasulullah SAW saat berada di Hijir Ismail. Beliu diterlentangkan oleh dua malaikat yakni Malaikat Jibril dan Mikail dibantu satu malaikat lain untuk melakukan bedah operasi pembersihan atau pemurnian (purifikasi) jiwa Rasulullah SAW di organ hatinya (qolbun) dengan cara mencuci di baskom emas berisi air zam-zam. Pembasuhan itu dilakukan selama tiga kali berturut –turut. Secara metafisis ritual ini sebagai perlambang bahwa selevel hamba Allah SWT yang telah dipersandingkan namanya di tiang lauhil mahfudz dalam dua kalimat tauhid itu masih harus dibersih-sucikan dari segala kotoran jiwa terlebih dahulu untuk menghadap Sang Maha Suci. Bagaimana lagi dengan hati manusia kebanyakan akan bisa dekat atau “menyatu” dalam ungkapan manunggaling kaulo gusti bila kesucian itu belum ada harmonisasi. Nabi Musa, As saja saat menerima firman Allah SWT secara langsung pernah memohon kepada-Nya untuk menampakkan diri pun tidak kuasa apalagi sampai hendak menyatu. Jauh panggang dari asap!

Kendaraan modern yang tercanggih saat ini adalah pesawat terbang dan roket penjelajah ruang angkasa. Buraq Nabi yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighal itu dengan sayap di pahanya mampu menerbangkan Rasulullah SAW melewati beberapa bukit terjal yang dikawal oleh dua malaikat yakni Jibril dan Mikail plus satu malaikat lainnya. Jenis kendaraan berupa buraq ini kerap kali dikendarai Nabi Ibrahim tatkala hendak menunaikan salat di masjidil haram. Perjalanan perdana lewat penerbangan pertama mendarat di sebuah tempat dan Rasulullah melakukan salat. Tempat pertama yang dituju dalam penerbangan di malam hari bernama Thoibah atau sebutan lainnya Thaif yakni tempat kelak yang akan dijadikan tujuan hijrahnya Nabi. Tempat kedua yang dituju adalah Madyan yakni tempat tumbuhnya pohon Musa. Tempat ketiga yang dituju adalah Bukit Tursina sebagai tempat Musa menerima wahyu langsung dari Tuhannya. Tempat keempat yang dituju adalah Baitul Maqdis atau Batlehem di Palestina lalu naik ke langit ketujuh. Pesawat terbang tercanggih sekali pun saat ini baru bisa menembus planet bumi yakni bulan serta planet dekat lainnya. Bila kita menyaksikan kebenaran itu kita tidak perlu terlalu kagum atas kehebatan otak pikir manusia yang telah menciptakan pesawat super canggih saat ini karena semua itu ada yang menciptakan dan menghendakinya. Kalau saat ini sudah ada wisata luar angkasa, sejak zaman Nabi pun sudah lebih canggih daripada saat ini. Wisata luar angkasa yang dialami oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai wahana penghibur diri setelah orang-orang terdekat yang dicintainya telah mendahuluinya. Kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi memusuhi beliau. Ini termasuk dimensi batin dalam menghibur diri Rasulullah agar tetap tegar dan gembira menjalani cobaan hidup ini.

Perjalan bersama buraq perdana ini, Rasullullah bertemu dengan jin ifrit berobor menjadi tunggang langgang lari terbirit-birit setelah dibacakan bacaan tertentu. Rombongan Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan hingga menyaksikan petani memanen hasil panennya. Sekali habis dipanen setelah itu pula tumbuh kembali untuk siap dipanen lagi. Kejadian ini sebagai tamsil pahala bagi mereka yang berjihad di jalan Allah SAW yakni dilipat-gandakan menjadi tujuh ratus kali. Perjalanan selanjutnya, Rasulullah SAW menghirup aroma harum yang menyeruak. Malaikat menegaskan bahwa aroma tersebut adalah aroma Masyitah binti Fir’aun dan putera-puteranya. Mereka rela walau mengakhiri hidupnya di kuali atau bejana tima besar demi memperhatahankan keyakinannya dengan mempertuhankan Allah azzawajalah. Ketegaran Masyitah untuk tetap pada pendiriannya hingga rela dilempar ke kuali dengan air mendidih atas seruan kebenaran dari anaknya yang masih bayi atau dalam buaian. Kejujuran seorang anak tidak dapat diragukan lagi. Dari peristiwa keajaiban ini muncul beberapa nama bayi kecil yang sudah mampu berbicara dengan jujur yakni bayi Masyitah, saksi Nabi Yusuf,As. bayi Juraij, Isa putra Maryam. Tamsil yang begitu mengerikan tentang beberapa orang yang sedang menggunting bibir dan lidahnya menggunakan gunting dari besi. Setelah bibir dan lidahnya digunting sendiri akan utuh kembali seperti sedia kala, tanpa nampak bekas guntingan. Sisksaan ini akan diberikan kepada para mubaligh yang suka menebarkan fitnah. Mereka termasuk umat Nabi Muhammad yang pandai mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Naudzu billah! Masih banyak siksa atau azab yang ditampakkan kepada Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra’ Mi’raj. Hal tersebut di atas tercakup dalam dimensi hukum dan sanksinya.

Dalam perjalanan mi’raj (naik) ,di langit pertama, belaiu bertemu dengan Nabi Adam,AS sebagai bapaknya para Nabi. Di langit kedua, Beliau bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyah. Di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf,As bersama beberapa orang sebagai kaumnya. Di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris,As yakni nabi yang pertama kali menciptakan logam. Di langit yang kelima beliau bertemu dengan Nabi Harun, As. Nabi yang separuh jenggotnya berwarna putih dan separuhnya berwarna hitam. Di langit keenam beliau bertemu dengan Nabi Musa, As. Dan di langit ketujuh beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim,As yakni nabi yang mendapat julukan halilurrahman sebagai nabi yang tulus atau ikhlas. Kecanggihan alat modern berupa pesawat luar angkasa saat ini hanya mampu menembus planet keempat saja yakni planet Mars yang memungkinkan manusia untuk mendarat di sana. Tentu, semua takjub dan heran dengan kehebatan pesawat luar angkasa yang ada saat ini. Pesawat Rasulullah SAW berupa buraq dengan kawalan dua malaikat yakni Jibril dan Mikail plus satu malaikat lainnya mampu menembus langit ke tujuh yakni ke sidaratul munthaha. Setiap memasuki lapisan langit tidak lupa pula ucapan salam terlontar sebagai wujud aspek atau dimensi tatakrama atau bersopan santun antara sesama nabi dan rasul.

Setelah melewati langit ketujuh atau sidartul muntaha, malaikat menyerah diri tidak kuasa untuk mengantarkan Rasulullah Muhammad SAW untuk menghadap langsung ke hadapan Allah SWT. Alasan mendasar dirinya akan terbakar. Padahal kita mahfum bahwa malaikat tercipta dari cahaya saja menyatakan tidak sanggup karena bila memaksakan menghadap Robnya akan terbakar. Apalagi sekadar manusia biasa pada umumnya. Sedangkan bagi Rasulullah Muhammad SAW tidaklah mengherankan karena beliau sebagai kekasih-Nya. Saat memasuki pintu surga, Rasulullah Muhammad SAW menyaksikan tulisan berbunyi ”Pahala Sedekah Itu Dilipatgandakan Sepuluh Kali , Dan Pahala Menghutangi Dilipatgandakan Delapan Belas kali.” Sebuah kalimat penuh hikmah ini cukup mencengangkan. Pandangan awan tentu akan bertanya-tanya mengapa bisa terjadi demikian? Alasan logisnya orang yang meminta itu terkadang ia masih mempunyai sesuatu. Sementara orang yang hutang itu pasti karena terpaksa oleh kebutuhan. Jadi, apa yang dilakukan oleh Raja Salman baru-baru ini dengan memberi pinjaman atau hutangan mungkin karena ingin melipatgandakan pahalanya menjadi delapan belas kali. Sudah barang tentu Indonesia sangat membutuhkan pinjaman lunak tersebut. Dimensi ini meliputi dimensi ekonomi atau keuangan suatu negara.

Beberapa ulasan di atas tercakup dalam dimensi horizontal yakni hubungan antarsesama manusia dalam kehidupan baik segi sosial, ekonomi, budaya, maupun dimensi eksoteris lainnya dalam mencapai kebahagian di dunia. Namun, di balik perjalnan isra’ mi’raj tersirat dimensi rohani dalam menerima kebenaran dalam ujian. Salah seorang sahabat, Abu Bakar dengan keyakinan yang mantap menerima kebenaran tentang berita perjalanan isra’ Mi’raj itu hingga mendapat gelar asshiddiq atau sebagai pembenar. Perjalanan Nabi berupa Isra’ Mi’raj langsung mendapat tantangan dari kaumnya karena diangga tidak rasional. Abu Jahal dengan berbagai usahanya untuk menjatuhkan reputasi Rasulullah Muhammad SAW melakukan testimoni di depan publik kaum quraisy dan umat Islam lainnya atas segala apa yang baru saja telah dialami oleh Rasulullah SAW. Abu Jahal merasa jatuh gengsi dan takut dinyatakan kalah di hadapan publik sampai melontarkan pertanyaan yang menjalar ke hal yang bukan-bukan mirip pertanyaan anak kecil. Dia bertanya tentang jumlah pilar atau tiang masjidil aqsya. Namun, semua terjawab dengan sempurna oleh Rasulullah Muhammad SAW. Walau demikian Abu Jahal Cs. masih belum beriman juga.

Persoalan esensi yang menjadi misi utama diperjalankannya Rasulullah Muhammad SAW mengenai perintah salat. Bentuk kekuasaan sekaligus kemaha-murahan Allah SWT terhadap umat Nabi Muhammad yakni salat yang semula direncanakan lima puluh waktu dalam sehari semalam menjadi lima waktu. Sarana menjalin hubungan vertikal ini menjadi sebuah peringatan bagi umat Islam betapa penting dan luar biasanya ibadah salat, terutama salat jamaah. Baik dan buruk perbuatan seseorang dapat dilihat atau tercermin dari kekhusukan dalam salatnya. Bahkan, amalan yang dimintai pertanggungjawaban pertama kali di akhirat kelak adalah ibadah salatnya. Penghamabaan kita yang sejati secara vertikal lewat salat dalam tindak tanduk gerakannya menjadi perwujudan kepatuhan hamba terhadap Tuhannya. Segala gerak tubuh dalam salat sangat menyehatkan. Betapa mahal nilai dari sebuah kesehatan via gerak dalam salat. Inilah diantrara segala dimensi sejatinya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean