Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label TULISAN HASAN JALI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN HASAN JALI. Tampilkan semua postingan

Hadith-Hadith Daif (Lemah)
Berkaitan Dengan Bulan Ramadhan

Media Bawean, 26 Juli 2012

Oleh; Hasan Jali* 



1. Teks hadith; أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفرَةٌ وَأَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
Maksudnya: Permulaan bulan ramadhan itu rahmat, pertengahan maghfirah dan pengakhirannya merupakan pembebasan dari neraka.

Alasan lemah; Dalam sanad hadith itu ada nama rawi yang bernama SALLAM BIN SAWWAR, ALI BIN ZEID BIN JUDAN dan MASLAMAH BIN AL-SHALT (Menurut ahli kritik hadith Ibnu Ady, Imam Yahya bin Ma`in dan Abu Hatim, ketiga nama itu adalah pembohong).

2. Teks hadith; لَوْ تَعْلَمُ اُمَّتِي مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّوْا أَنْ تَكُونَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ
Maksdunya; Seandainya umatku mengetahui pahala ibadah bulan ramadhan, nescaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi ramadhan semua.

Alasan lemah; 1) Kandungan hadith itu yang menjelaskan besarnya pahala orang yang berpuasa, padahal dalam hadith sahih yang lain orang yang berpuasa dengan motivasi iman dan semata-mata mencari pahala hanya akan diampunkan dosa-dosanya yang kecil sahaja, manakala dosa besar tidak dapat diampuni kecuali dengan bertaubat. 2) Dalam sanad hadith itu ada nama rawi JARIR BIN AYYUB AL-BAJALI (Menurut ahli kritik hadith, dia adalah pembohong).

3. Teks hadith; كَانَ النَّبِيُّ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشِرينَ رَكْعَةً وَاْلوِتْرَ
Maksdunya; Nabi s.a.w salat pada bulan ramadhan 20 rakaat dan witir. Alasan lemah; Dalam sanad hadith itu ada nama rawi ABU SYAIBAH IBRAHIM BIN UTHMAN. (Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, hadith di atas lemah sekali. Menurut Imam Syu`bah, dia adalah seorang pembohong).

4. Maksud hadith; Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; Ubay bin Kaab datang menghadap Nabi s.a.w, kemudian berkata; Wahai Rasulullah, semalam ada sesuatu yang saya lakukan, maksudnya pada bulan ramadhan. Nabi kemudian bertanya, apakah itu wahai Ubay? Ubay menjawab, orang-orang wanita di rumah saya mengatakan, mereka tidak dapat membaca al-Quran . Mereka meminta saya untuk mengimami solat mereka. Maka saya solat bersama mereka delapan rakaat, kemudian saya solat witir. Jabir kemudian berkata, maka hal itu diredhai oleh Nabi SAW., kerana beliau tidak berkata apa-apa.

Hadith lain; Dari Jabir bin Abdullah, Nabi SAW. mengimami solat pada suatu malam ramadhan 8 rakaat dan witir.

Alasan lemah; Dalam kedua sanad hadith itu ada nama rawi ISA BIN JARIYAH (Menurut ahli kritik hadith Imam Ibnu Ma`in dan Imam al-Nasa`I, dia adalah sangat lemah hadithnya dan seorang pembohong.

5. Teks hadith; نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصَمْتُهُ تَسبِيحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهَ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ
Maksud hadith; Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.

Alasan lemah; Dalam sanad hadith itu ada nama rawi MA`RUF BIN HISAN, SULAIMAN BIN AMR AL-NAKHA`I, ABD AL-MALIK BIN UMAIR (Semua rawi itu sangat lemah terumanya Sulaiman).

6. Teks hadith; شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَينَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ اَلىَ الله اِلاَّ بِزكَاةِ الفِطْرِ
Maksud hadith; Ibadah bulan ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.

Alasan lemah; 1) Dalam sanad hadith itu ada nama rawi MUHAMMAD BIN UBAID AL-BASHRI dan ABD AL-RAHMAN BIN UTHMAN BIN `UMAR. Kedua orang ini tidak dikenal namanya oleh mana-mana ahli hadith. Jadi, status hadith ini tidak diketahui. 2) Kandungan ini hadith ini juga tidak logik, sebab tidak ada hubungan apa-apa antara puasa dan zakat fitrah kecuali dalam waktu mengeluarkannya sahaja, seperti bersuci dan solat. Puasa seseorang boleh diterima jika sudah memenuhi syarat-syaratnya dan zakat fitrah bukanlah salah satu syarat diterimanya ibadah puasa.

Itulah beberapa hadis yang popular di masyarakat berkaitan dengan bulan ramadhan. Jadi, setelah kita mengetahui status hadis-hadis ini, saya mengimbau kepada para pendakwah dan kiai-kiai khususnya serta mesyarakat umumnya untuk tidak menyampaikannya lagi, apalagi mengamalkannya.

Tulisan ini adalah dinukil dari karya – Hadis-hadis Bermasalah karya Prof. KH. Mustafa Yaqub, MA
Tulisan ini hanya untuk sharing informasi saja.
• Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Tafsir-Hadis

Kebaikan & Keburukan Merantau
(Renungan untuk Warga Bawean)

Media Bawean, 13 Juli 2012

Oleh: Hasan Jali*

“Mengembaralah dengan meninggalkan negeri-negerimu untuk mencari kemuliaan. Dan bermusafirlah kerana terdapat lima faedah bermusafir iaitu menghilangkan kedukaan, mencari rizki, faedah ilmu, faedah adab dan menemani orang yang mulia (Imam al-Syafii).

Bagi orang Bawean, merantau adalah tradisi dan telah berlangsung lama sehingga ke hari ini. Hampir setiap anggota keluarga sudah pernah menjejakkan kaki ke luar Bawean, baik di tanah Jawa atau ke luar negeri. Destinasi luar negeri tentu sudah bisa ditebak iaitu Singapura dan Malaysia. Maka tidak heran, jika di kedua Negara ini orang-orang Bawean merata-rata tinggal di banyak tempat. Di Malaysia, tempat-tempat orang Bawean ialah Gombak, Ampang, Keramat, Hulu Kelang, Sungai Buluh, Johor dan lain-lain. Kalaupun ada yang ke Negara lain, bilangannnya sangat kecil. 

Saya tidak akan membincang kebaikan merantau secara umum, namun akan lebih memfokuskan kepada tradisi merantau orang Bawean dari aspek ekonomi, khususnya yang ke luar negeri dengan tujuan bekerja.

Pertama, kebaikan merantau. Yang ini kita tak boleh menafikan sedikitpun. Sebab mayoritas penduduk Bawean ‘disuapi’ ringgit/dolar setiap bulan. Isi dapur mereka adalah jerih payah ahli keluarga yang bekerja di luar negeri, baik untuk kebutuhan setiap hari atau keperluan jangka panjang. Sebab, duit kiriman ada yang dibelikan sawah untuk modal atau tabung di bank untuk di ambil bungannya setiap bulan. Ahli keluarga yang merantau, biasanya suami saja atau suami isteri dan anak-anaknya ditinggalkan di Bawean bersama neneknya.

Memang ada penghasilan dari sawah dan lautan, tapi sekedar cukup untuk di makan setiap hari. Untuk ‘jajan’ lebih, makanan yang lebih enak, pakaian yang lebih mahal, rumah yang lebih mewah dan pendidikan yang lebih tinggi, tentu perlu huluran kiriman dari luar negeri. Sebab, harga barang-barang di Bawean sangat mahal, bahkan lebih mahal dari ibu kota Jakarta. Karena itu, merantau mencari rizki memang tidak dapat dielakkan bagi sebagian orang Bawean, bahkan sampai sekarang, sebab sumber pekerjaan yang sangat minim.

Bukti lainnya ialah banyak anak-anak Bawean sekarang sudah mengenyam pendidikan lebih tinggi dibanding 10 tahun lalu. Kuliah ke Jawa, Jakarta bahkan ke luar negeri. Dan telah banyak yang Master dan Doktor. Kemajuan, ya luar biasa. Oleh karena itu, kita harus berterimakasih kepada orang-orang Bawean di pengasingan yang secara tidak langsung telah membangun Bawean melalui anak-anaknya.

Fasilitas jalan di kampung-kampung juga banyak bantuan dari luar negeri. Di Kampung saya Gunung Bukal, Pekalongan tidak pernah ada bantuan dari pemerintah sehingga sekarang. Dan akhirnya, orang di Malaysia juga yang turun tangan. Dan realitas seperti ini banyak di alami di beberapa tempat di Bawean. Selain itu, masjid-masjid dan musollah sudah banyak yang bagus, karena berkat ‘tangan-tangan pemurah’ di luar negeri.

Namun, sisi-sisi positif merantau ini juga mempunyai sekurang-kurangnya dua sisi gelap yang lain. Pertama, banyak perselingkuhan, perzinaan bahkan perceraian di Bawean, karena isteri ditinggal di kampung dan suami jarang pulang di perantauan. Bahkan, angka perceraian meningkat setiap tahun mengikut laporan dari KUA Sangkapura. Ini semakin valid, karena ada kawan Bawean sewaktu belajar di UIN Jakarta dulu pernah membuat Disertasi S 2 nya tentang ini.

Saya tidak mau menyalahkan mana-mana pihak tentang perkara ini, karena ini berkaitan dengan ‘isi dapur’ setiap orang. Dari sudut suami tentu saja baik dan dibenarkan, bahkan mencari nafkah adalah wajib bagi kepala rumah tangga. Dan saya yakin, karena keadaan lah mereka terpaksa ke luar negeri meninggalkan anak dan isteri. Saya yakin, tidak seorang suami pun yang mau secara sengaja meninggalkan ahli keluarganya tanpa keperluan yang mendesak. Tapi, pada sisi yang lain, keperluan biologis tentu juga kebutuhan bagi suami atau isteri. Namun, berzina tentu bukan solusi, bahkan menambah masalah.

Bagi suami di perantauan, dengan dalil agama mereka boleh kawin lagi. Bagaimana pula dengan perempuan? Mereka akan mengalami siksa batin yang hebat. Dan hanya isteri-isteri yang mempunyai iman yang kuat saja yang boleh bertahan dari godaan seperti ini.

Sisi gelap lainnya ialah anak yang ditinggalkan kurang kasih sayang dari orang tua. Terbukti kenakalan remaja merajalela di kampung-kampung Bawean. Ini karena salah satu dari orang tua merantau atau kedua-duanya. Tentu ada sebab lain. Namun tidak dinafikan bahawa anak yang kurang kasih sayang sewaktu kecil akan membesar dengan watak yang keras. Kalau ini terjadi, tentu sangat disayangkan sebab mereka adalah generasi masa depan yang akan membangun Bawean nanti.

Inilah pengamatan secara tak langsung yang saya amati selama ini. Secara peribadi, saya meminta maaf apabila ada yang kurang suka dengan ‘celotehan’ ini. Saya hanya berharap kita mengeliminasi dampak-dampak negatif sekecil mungkin dari tradisi merantau yang sangat baik ini demi diri kita sendiri, keluarga kita, anak-anak kita dan pulau Bawean kita. Saya yakin itu bisa dicarikan jalan keluar, kalau ini dibincang secara baik-baik antara ahli keluarga antara satu sama lain. Wassalam.

• Mahasiswa akhir sesi 2007-2012, S 2 di Universiti Malaya, Kuala Lumpur.

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean