Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label BAWEAN PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAWEAN PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Kepala Sekolah Perlu Diaudit
Terkait Pengelolaan Keuangan Sekolah

Media Bawean, 30 Januari 2015

Kepala Sekolah di Pulau Bawean, Gresik sudah saatnya diaudit terkait keuangan yang dikelolahnya, sehubungan banyaknya kecurigaan memperkaya diri sendiri.

Beberapa guru ditemui Media Bawean mengatakan keuangan sekolah kecenderungan dikelolah secara pribadi oleh kepala sekolah tanpa ada laporan keuangan yang transparan kepada guru, komite sekolah ataupun wali murid. Hanya sebatas laporan keuangan keatas sebagai bentuk pertanggungjawaban yang mudah dimanipulasi.

Kepala Sekolah mengelolah keuangan secara pribadi tidak terbuka, sehubungan guru ataupun komite sekolah tidak punya keberanian ataupun nyali untuk membongkar kedoknya. Sementara dibelakangnya ramai menjadi buah bibir bahwa kepala sekolah memperkaya diri sendiri.

Menurut salah satu guru kepada Media Bawean, kepala sekolah seenaknya sendiri mengatur keuangan sekolah, tanpa transpransi ataupun laporan yang jelas terkait sumber dana yang diterimanya dari BOS, BSM ataupun proyek lainnya, memperoleh nominal berapa ataupun pengeluarannya juga kurang jelas.

"Perlu adanya laporan keuangan untuk transparansi, keuangan yang diperoleh sekolah nominalnya berapa dan dikeluarkan berapa, bila perlu diumumkan secara terbuka di sekolah untuk pembelajaran tranparansi kepada siswa,"katanya.

"Sepertinya kepala sekolah ketakutan untuk memberikan laporan keuangan secara transparan kepada guru termasuk komite sekolah, ada apa ini?,"ujarnya.

Informasi yang diterima Media Bawean, ada beberapa kepala sekolah di Pulau Bawean sudah terbongkar kedoknya setelah dilakukan audit ataupun dimintai laporan keuangan oleh pengurus ataupun yayasan.

Haruskah kepala sekolah yang memperkaya diri sendiri ataupun tidak transparan dipertahankan? Sudah saatnya kepala sekolah diaudit untuk kesejahteraan guru yang mengajar, termasuk menghapus pungli di sekolah. (bst)

Bantuan Buku Untuk STAIHA Bawean
Bantuan Lab. Komputer Untuk SDIT

Media Bawean, 26 Januari 2015



STAIHA Bawean, Gresik terus berbenah. Kampus islam yang dimiliki Pulau Bawean ini terus meningkatkan mutu kualitasnya. Disamping melengkapi dosen tetap, STAIHA juga melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di Malang Jawa Timur. Kini STAIHA membenahi perpustakaan dengan menambah koleksi buku berjumlah ratusan.

Ratusan buku baru yang dimiliki STAIHA saat ini adalah bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Buku senilai 75 juta ini terdiri lebih dari 350 judul. Diantaranya adalah : Ensiklopedi peradaban islam (10 jilid), Ensikloped mukjizat al-Qur’an (11 jilid) , Ensiklopedi fatwa Ramadlan, Ensiklopedi Gus Dur (10 jilid) , Atlas Wali Songo dan Ensiklopedi sains.

Untuk buku biografi dan Novel diantaranya : Biografi Jusuf Kalla, Jendral Nasution, Soeharto, Jokowi, Hitler, Mahfudz MD, Chairul Tanjung, Sintong Panjaitan, Jendral Hoegeng, Jendral Pranoto, Soekarno dan Hatta. Tak ketinggalan novel-novel Pramodya Ananta Toer seperti : Bumi Manusia, Jejak langkah, Anak semua bangsa dan Rumah kaca. Juga cerita untuk anak-anak muslim.

Buku-buku referensi lainnya adalah : Semua bahan ajar untuk jurusan pendidikan, akuntansi, syariah, hukum, kamus induk bahasa Arab ( al-Munjid, al-Munawir,ar-Rahman dan al-Mufid),Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Inggris, motivasi, undang-undang, perpajakan, bea cukai, IQ dan lain-lain.

Menurut puket 1 bidang akademik dan kemahasiswaan, Wiwin Suryaningsih. M.Hi bahwa buku-buku bantuan dari pemprov Jatim ini sangat membantu untuk bahan referensi. “ Terima kasih pemprov Jatim atas bantuan bukunya. Sangat bermanfaat sekali “ tuturnya.

Di saat yang sama Pemprov Jatim juga memberi bantuan berupa laboratorium komputer untuk SDIT al-Huda Sangkapura senilai Rp 100 juta. Bantuan ini telah diterima oleh Kepala SDIT al-Huda Elya Puspa. S.Pd “ Terima kasih pemprov Jatim atas kepeduliannya “ Pungkasnya.(kuncoro 11)

Kuliah atau Menikah?

Media Bawean, 18 Januari 2015

Sonya Winanda : Pengajar Muda di Bawean

Bibirnya bergetar, matanya merah akibat desakan air mata,tangisannya pecah saat mencium tangan sang nenek yang sedari tadi berdiri mematung di sisi kanan mobil pengantar. Perempuan yang sudah udzur itu tak sedikit pun mengedurkan pelukan, sementara sirine kapal meraung-raung tanda perpisahannya tiba.

Suasana haru demikian pekat. Nanik Ijawati, penerima beasiswa penuh Unuversitas Al-Azhar Indonesia (UAI), berpamitan pada keluarga untuk berangkat ke Jakarta, 28 November lalu. “Ate-ate parajin abelajar, jhe’ sampek atengghel sembhejheng,” bisik sang nenek dalam bahasa Bawean yang berarti “Hati-hati, rajin belajar dan jangan tinggalkan sholat”.

Usia Nanik masih 18 tahun, anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya masih duduk di bangku sekolah, masing-masing di Tsanawiyah dan TK. Sejak lahir, Nanik tinggal di pulau kecil Gili berukuran 400 ribu meter persegi berjarak 2,3 km timur pulau Bawean. Baik Bawean maupun Gili sama-sama tercatat sebagai bagian kabupaten Gresik. Gresik dan Bawean berjarak kurang lebih 120 km perjalanan laut dapat di tempuh empat jam dengan kapal cepat dan 12 jam dengan kapal lambat.

Kaum perempuan, khususnya di pulau Gili, kebanyakan memutuskan menikah di usia muda. Bahkan, menikah selepas sekolah dasar atau menengah sudah menjadi hal biasa. Teguh, salah satu Pengajar Indonesia Mengajar bertugas di sana, mengatakan, “Sangat jarang putra-putri Gili melanjutkan sekolah hingga tingkat universitas. Mereka terkendala biaya dan terbatasnya akses informasi.”

Jika tak ada generator listrik, Gili hanya di temani cahaya bulan dan bintang saat malam hari. Masyarakat di sana belum pernah menikmati aliran listrik dari PLN. Pulau berpenduduk sekitar seribu jiwa itu hanya di aliri listrik dari pukul 18.00 hingga 22.00. sinyal telephon seluler hanya ada di titik-titik tertentu. Maka, setelah listrik pudar, warga lebih memilih tidur.

Di balik segala keterbatasan tersebut , beberapa putra-putri Gili bersemangat melanjutkan pendidikan ; termasuk Nanik. Ia baru saja lulus Madrasah Aliyah (MA) Hasan Jufri, Bawean. Menurut Gus Ali, Kepala MA Hasan Jufri, Nanik salah satu siswa berbakat. Nanik bahkan aktif mengikuti lomba pidato berbahasa Arab.

Nanik tak berani bermimpi besar. Ia takut membebani ibunya. Sejak ayahnya meninggal 2010, ia sehari-hari membantu ibunya, Haliyah, berjualan makanan ringan di madrasah tak jauh dari rumah. Begitu cara mereka bertahan hidup. Maka, Nanik sempat menelan dalam-dalam keinginan untuk kuliah, termasuk memendam cita-cita menjadi guru. Namun, siapa sangka, ia justru dinyatakan lulus sebagai mahasiswa UAI jurusan Sastra Arab. Senang tak terkira ia mendengar kabar tersebut. Tadinya, jika ia tak lulus, pilihannya cuma menikah.

Masalahnya , beasiswa itu hanya menanggung SPP. Biaya pendaftaran, transportasi, akomodasi dan biaya hidup hanya di tanggung mahasiswa. Haliyah, yang semula mendukung putrinya kuliah , ganti mulai cemas. “Nanti Nanik tinggal dimana? Di Jakarta pasti serba mahal, tidak seperti disini.” Ungkapnya khawatir.

Mendengar hal ini, komunitas peduli Bawean yang di gawangi Gus Ali, H. Ma’mang dan basit bergerak cepat menggalang dana dari komunitas Bawean di Qatar untuk meringankan beban Nanik. Para Pengajar Muda dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar pun menyebarkan kabar ke media sosial untuk mencarikan kakak atau orang tua angkat. Maka, berkat rekomendasi Drs Nadlif Msi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Nanik juga mendapatkan beaiswa dari Pemerintah Kabupaten Gresik.

Berkah pun tidak berhenti di situ. Berkat prestasinya di semester pertama perkuliahan, Nanik juga mendapatkan Beasiswa Bidik Misi. Mungkin Nanik masih akan sering bersedih karena rindu pada sang ibu dan kampung halaman, atau malah mungkin sempat menyerah. Siapa yang tahu akan jalan yang ia pilih setelah ini? Toh tak ada yang pasti di dunia ini, bukan? Tapi setidaknya, ia dan keluarganya telah menjadi satu dari sedikit masyarakat Gili yang mengambil langkah melompati keterbatasan diri. Setiap orang memiliki keterbatasannya. Namun yang mampu meraih mimpi bukanlah orang pintar, melainkan yag tak pernah menyerah.

SK Impassing Turun
Guru Madrasah Di Bawean Gembira

Media Bawean, 14 Januari 2014


Puluhan guru madrasah di Pulau Bawean, Gresik, sedang bergembira. Surat Keputusan impassing yang ditunggu bertahun-tahun akhirnya keluar. SK impassing adalah penyetaraan pangkat bagi guru non-PNS. Dengan penyetaraan pangkat ini maka tunjangan profesi yang akan diterima disesuaikan sesuai pangkat dan golongan masing-masing.

Ketua KKMA (Kelompok Kerja Madrasah Aliyah) Sangkapura, Moh. Nasir,M.Pdi menjelaskan bahwa SK impassing ini berlaku mulai Januari 2015 “ Saya ucapkan selamat kepada para guru yang SK impassingnya sudah keluar. Dengan demikian maka pada pemberkasaan yang akan datang tunjangannya sudah sama dengan PNS. Sesuai pangkat dan golongannya” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh ketua KKMTs (Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah) , Moh.Nazarudin, M.Pd. Menurutnya dengan turunnya SK impassing ini menunjukan bahwa perhatian pemerintah terhadap guru semakin baik “Ini harus menjadi motivasi bagi para guru untuk lebih disiplin dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai pendidik” tuturnya.

Para guru yang mendapatkan SK impassing ini tersebar di MTs dan MA se Pulau Bawean. Dari data yang ada MTs dan MA Hasan Jufri tercatat sebagai sekolah dengan penerima SK impassing terbanyak yaitu 22 guru. Drs Kholisun,M.Pdi adalah penerima SK dengan pangkat dan golongan tertinggi yaitu IVa dengan masa pengabdian 20 tahun. 

“Alhamdulillah dan terima kasih kepada semuanya. Kepada kepala MA Hasan Jufri, KKMA, penma, kemenag dan kemendikbud” tambahnya. (kuncoro 11)

Serba-Serbi Kegiatan Liburan
Semester Ganjil Di Hasan Jufri

Media Bawean, 31 Desember 2014






Liburan identik dengan bersantai ria. Mengendorkan otot-otot yang tegang setelah berbulan-bulan menjalani kegiatan rutin yang kadang menjemukan. Namun bersantai ria bisa diselingi dengan kegiatan menarik sehingga nilai pendidikan bisa kita raih. Dalam mengisi liburan semester ganjil tahun ini di lingkungan YPP.Hasan Jufri ada beberapa kegiatan,yaitu :

Turnamen Futsal Pelajar

Turnamen futsal ini sudah memasuki tahun kedua. Hasan Jufri Cup 2 yang dikuti oleh 22 tiem dari kecamatan Sangkapura dan Tambak ini berlangsung sejak tanggal 15 Desember 2014 sampai 25 Desember 2014.

Menurut ketua pelaksana, Supriyanto S.Pd, turnamen ini bertujuan untuk mempererat persahabatan antar pelajar sekaligus mengisi liburan “ Dengan adanya turnamen futsal antar pelajar se-Bawean ini kami harapkan potensi-potensi siswa dalam bidang olah raga yakni futsal bisa berkembang. Sekolah wajib memberi sarana agar para siswa terasah kecerdasannya. Cerdas skill olah raganya” paparnya. Di tempat yang sama, Kepala MA Hasan Jufri, Moh.Nasir M.Pdi menuturkan bahwa kegiatan ini adalah kerjasama MA Hasan Jufri dengan bank Jatim cabang Bawean,” Terima kasih kepada bank Jatim Bawean yang selalu mendukung usaha-usaha kita untuk mencerdaskan generasi bangsa ini” tambahnya.

Hasan Jufri Cup 2 ini menghasilkan para juara yaitu :

Juara 1 : SMPN 1 Sangkapura dengan hadiah Rp. 600.000 dan piala tetap
Juara 2 : MTs Maarif Telukjatidawang dengan hadiah Rp. 450.000 dan piala tetap
Juara 3 : SMP Islamiyah Tambak dengan hadiah Rp. 250.000 dan piala tetap
Juara 4 : SMP PGRI Kepuhteluk dengan hadiah Rp. 150.000 dan piala tetap


ICP Study ke Pare dan Jogjakarta

ICP MTs Hasan Jufri berinovasi tiada henti. Beragam kegiatan telah dilakukan seperti anjang sana ke sekolah-sekolah tingkat dasar di Bawean dengan pengantar bahasa Inggris. Bukan hanya itu, ICP MTs Hasan Jufri juga sering dikunjungi para turis Eropa yang sedang berlibur di pulau ini. Kesempatan bertemu dengan turis digunakan oleh para siswa untuk memperlancar spaking english-nya.

Pada liburan semester ganjil ini ICP mengajak para siswanya untuk bertandang di Pare Kediri. Selama seminggu para siswa digembleng di REC ( Rhima English Course) dengan direktur Iin Akhirowati. Pada puncaknya mereka melaksanakan ujian yakni cas-cis-cus dengan para turis di candi Borobudur dan Prambanan.

Menurut koordinator program, Rahman S.Pd, kegiatan ini sudah berlangsung dua kali, “ Insya Allah akan kita laksanakan tiap tahun melihat antusiasme para siswa yang sangat tinggi” ujarnya. Kesan ceria juga disampaikan oleh Daniel, siswa kelas VIII asal Kebuntelukdalam ini “ Senang sekali bisa ke Pare. Di sana-sini berbahasa Inggris” terangnya.

Di waktu yang sama MA Hasan Jufri juga mengikuti lomba pidato yang dilaksanakan oleh remaja masjid jami’ Sangkapura dalam rangka Maulid Nabi SAW. Azka Fikran, siswa kelas XII MAK berhasil menjadi juara pertama tingkat dewasa.(kuncoro11)

Dua Hari Di Purwakarta
Forum Kemajuan Pendidikan Daerah

Media Bawean, 21 Desember 2014

Oleh : Ali Asyhar (Dosen STAIHA dan Wakil Ketua PCNU Bawean)




Selama dua hari (15-16/12) saya bersama pak Nadlif (Kadinas Gresik) dan pak Soekadi menghadiri Forum Kemajuan Pendidikan Daerah (FKPD) 2014 di Indosat Training Center Jatiluhur Purwakarta Jawa Barat. Forum yang diikuti oleh perwakilan dari 17 kabupaten se-Indonesia ini diinisiasi oleh Yayasan Indonesia Mengajar (IM). Yayasan ini digagas oleh Anis Baswedan cs empat tahun lalu dan kini digawangi oleh Hikmat Hardono sebagai direktur ekskutif. Yayasan IM telah mengirimkan ratusan pengajar muda ke seluruh pelosok nusantara. Pengajar muda ini mengabdi selama satu tahun tanpa gaji. Mereka menebar semangat dan inspirasi kepada para guru.

Di tahun ke-empat ini IM berusaha mempertemukan para penggerak pendidikan di 17 Kabupaten se-Indonesia. Tujuan utamanya adalah, pertama : Silaturahmi. Dengan mempertemukan para penggerak pendidikan maka diharapkan ada transfer pengetahuan dan inspirasi. Setiap daerah memiliki kearifan lokal masing-masing yang bisa diteropong oleh daerah lain. Kedua : menumbuhkan kemandirian di tingkat lokal. Harus disepakati sedari awal bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Diperlukan sinergi antara masyarakat, orang tua dan pemerintah. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab IM. Maka prakarsa dan inovasi pendidikan harus terus diusahakan secara simultan dengan bergandeng tangan.

Tahun 2014 ini Bawean ditempati para pengajar muda berjumlah 6 orang yang tersebar di kecamatan Sangkapura dan Tambak. Mereka adalah lentera nan inspiratif. Direncanakan tahun 2015 Bawean kembali ditempati oleh pengajar muda untuk terakhir kalinya. Setelah itu Bawean dlepas karena dianggap sudah banyak para kader penggerak pendidikan. Benarkah sudah siap dilepas?

Saya termasuk orang yang berpendapat bahwa Bawean harus siap. Mustahil kita berharap untuk terus menerus ditempati pengajar muda. Sudah cukup inspirasinya. Saatnya semuanya membuat inovasi-inovasi pendidikan. Membuat inovasi bukan perkara mudah tapi juga bukan soal yang pelik. Selama ini saya meyakini bahwa sudah banyak orang atau kelompok yang berkerja untuk pendidikan. Sudah puluhan para guru dan tokoh inspiratif di pulau ini. Tinggal satu yang belum yaitu bergandeng tangan untuk satu tujuan yakni kualitas pendidikan di Bawean yang lebih unggul dari sekarang.

Sekedar Contoh

Pak Iswan, Halmahera Selatan. Sudah dua tahun ini Ia mempelopori program Pemuda penggerak Desa. Diajaknya para pemuda yang memiliki dedikasi dan kompetensi untuk membuat taman baca di tiap-tiap kampung. Meski dengan merangkak, perlahan program ini mendapat apresiasi dari warga. Selanjutnya ia mengembangkan program ini menjadi desa cerdas. Ciri desa cerdas adalah warganya haus informasi baik dari media cetak maupun elektronik.

Di Kabupaten Paseran Kalimantan Timur ada inovasi lain. Ibu Sriatun mengajak para guru terus belajar membuat karya tulis. Tanpa jemu ia masuk dari satu lembaga ke lembaga yang lain untuk menemukan guru yang mau mengembangkan diri. Ternyata tidak gampang, mayoritas mereka menolak ketika diajak untuk mengikuti pelatihan karya tulis ilmiah di Universitas Negeri Malang. Dengan semangat baja Ibu Sriatun menemani para guru dari angkatan pertama sampai sekarang. Hasilnya bermunculan para guru yang mahir membuat karya tulis ilmiah di Paseran. Bukan hanya itu, para guru hebat ini tenyat juga menjadi pelopor di lembaganya masing-masing.

Terakhir saya tampilkan Aday dari Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Pemuda yang tidak lulus kuliah ini membuat kelompok kecil yang suka musik. Mereka masuk ke banyak lembaga untuk sekedar bercerita,berbagi,menjadi teman curhat bagi para siswa. Tak dinyana kelompok ini disambut dengan antusias oleh para siswa. Mereka tidak mengajak para siswa untuk menjadi musisi tetapi menjadi dirinya sendiri sesuai dengan bakat dan minatnya. Aday membangun kesadaran kolektif bahwa manusia yang baik adalah mereka yang bekerja dengan sungguh –sungguh dan memberi manfaat bagi dirinya dan sesama.

Sekarang, stop berteori dan mari bekerja.

Sekolah Negeri Jangan Asal Tarik Iuran
Wajib Minta Persetujuan Bupati

Media Bawean, 9 Desember 2014

Merespon seringkali terjadinya penarikan di sekolah negeri berkedok sumbangan, H. Muntarifi (anggota DPRD Kabupaten Gresik) dalam resesnya yang diselenggaran di GOR Bulu Tangkis, Pudakit Barat, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik memohon kepada orang tua siswa bila anaknya dimintai sumbangan dipersilahkan untuk melapornya.

Menurutnya sumbangan untuk sekolah negeri sesuai aturan wajib mendapat persetujuan dari Bupati Gresik, jika tidak ada persetujuan dipastikan sumbangan itu pungutan liar.

"Itupun jumlah sumbangan tidak ditentukan, termasuk waktunya juga tidak ada batasan,"ujarya.

"Jika ada penarikan di sekolah negeri, tanyakan dulu surat persetujuan dari Bupati, termasuk dalam sumbangan tidak ditentukan nominalnya dan tidak ada batasan waktunya untuk membayar,"jelasnya.

Dalam reses, ada keluhan dari kepala sekolah tentang seringnya pungutan bila ada pengiriman atlet ke daratan Pulau Jawa. "Seluruh sekolah diwajibkan untuk membayar iuran, padahal tidak mengirim atlet,"keluhnya.

Termasuk kesejahteraan guru mengaji yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah juga terungkap dalam reses yang diselenggarakan oleh anggota DPRD dari FPPP.

Menindaklanjuti keluhan guru di Pulau Bawean, H. Muntarifi yang termasuk dalam Komisi D DPRD Kabupaten Gresik menjelaskan tentang adanya tunjangan khusus bagi guru K2 yang tidak diterima CPNS, termasuk tunjangan lainnya.

Selain kesejahteraan guru, juga ada tuntutan pegawai di Puskesmas Sangkapura agar mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Alasannya selama ini kesejehateraan guru selalu diperhatikan, sementara terkait lainnya nyaris terlupakan. Padahal dalam pelayanan meminta yang terbaik dan prima.

Dibidang pemerintahan, meminta kepada anggota dewan untuk memperjelas status aparat desa yang banyak kosong di Pulau Bawean. (bst)

Pemerintah Gresik Berkomitmen
Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Media Bawean, 2 Desember 2014

Pemerintah Kabupaten Gresik menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Kendati masih banyak guru honorer yang berpenghasilan Rp 200 ribu, namun Dinas Pendidikan telah mengusulkan untuk menaikkan tunjangan bagi mereka.

Wakil Bupati Gresik, Moch Qosim menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Gresik masih berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan guru di Kabupaten Gresik. “Sejak saya dan Pak Sambari menjabat di Gresik, kami selalu meningkatkan kesejahteraan guru. Hal ini bisa dilihat dari jumlah APBD yang dialokasikan untuk pendidikan sebesar 37 persen lebih,”ujarnya.

Dikatakan, kesejahteraan guru yang diberikan pemerintah berbagai macam bentuk. Di antaranya, peningkatan kapasitas dan kualitas SDM guru hingga memberikan berbagai macam tunjangan maupun insentif. “Untuk peningkatan kapasitas guru, pemerintah melalui dispendik menggelar diklat secara rutin,” katanya.

Sementara untuk insentif dan tunjangan, Wabup Qosim menuturkan, ada sejumlah bentuk yang diberikan. Dia menyebutkan, insentif guru TPA dan TPQ, serta Madrasah Diniyah jumlahnya mencapai Rp 165 ribu per bulan. Kemudian, ditambah biaya operasional pendidikan (BOP) Rp 1,4 juta untuk setiap lembaga dalam setahun.

“Insentif guru TK dan Rp 165 ribu per bulan di- tambah BOP Rp 2 juta untuk setiap lembaga dalam setahun,” jelas mantan Kadispendik Gresik ini.

Sementara, biaya operasional pendidikan (BOP) untuk pesantren, pihaknya memberikan bantuan sebesar Rp 5 juta pada setiap lembaga dalam setahun. “Semua bantuan yang kami berikan tersebut bersumber dari APBD murni. Tentu jumlahnya akan kami tambah setiap tahunnya,”terangnya.

Sementara itu, ada penghasilan lain untuk guru PNS, guru penilik dan pengawas sebesar Rp 100 ribu per bulan. Ditambah lagi, anggaran BPPDGS (Bantuan Penyelenggaraan Pen- didikan Diniyah dan Guru Swasta) untuk Madrasah Diniyah dan guru swasta mulai TK sampai SMA.

“Anggaran tersebut berasal dari provinsi dan kabupaten. Serta tunjangan fungsional guru, untuk guru yang menjadi pengajar di sekolah negeri namun belum tersertifikasi Rp 315 ribu, anggaran tersebut dari pemerintah pusat,”tandasnya.(fir/c4/ris)

Sumber : Radar Gresik

Menapak-Tilasi Lika-Liku Guru

Media Bawean, 26 November 2014

Refleksi Menyambut Hari Kebesaran Sang Pendidik 
Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMA Negeri 1 Sangkapura) 

Arah semprongan lewat dua keker (baca: lensa) membidik kepada dua kata kunci yang selalu menjadi topik utama di setiap sesi pembicaraan baik di media sosial dan media cetak serta media-media lainnya adalah kata “Guru” dan “Buruh”. Kedua kata tersebut jika dilafalkan dengan artikulasi yang kepleset sedikit antara huruf “G” dan “B” serta matinya lafal fonim “H” yang samar-samar maka akan mengerucut pada nosi yang relatif sama yakni sama-sama pekerja. Yang satu pekerja di sekolah atau lembaga pendidikan sedangkan yang satunya pekerja di pabrik atau perusahaan lainnya. Namun, tuntutan keduanya relatif sama yakni mengenai kesejahteraan. Sejahtera lahir dan batin. Kerja…Kerja…Kejar…

Sejenak marilah menghela nafas panjang untuk mengenang dan mengingat sejarah masa lalu berdirinya PGRI dan penetapan Hari Guru Nasional. Setelah 100 hari Indonesia merdeka dengan tetap dijiwai semangat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 para pejuang pendidikan mengadakan Konggres Guru Indonesia di Surakarta tanggal 24-25 Nopember 1945. Alhasil, pada tanggal 25 Nopember 1945 ditetapkan sebagai hari berdirinya PGRI dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 sebagai Hari Guru Nasional.

Antara Guru dan Buruh boleh dibilang senasib dan seperjuangan. Hal ini tercermin dari pekik semangat “merdeka” yang gegap gempita mengawal laju kemerdekaan untuk bersatu mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan utama:
1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
3. Membela hak dan nasib “Buruh” umumnya, guru pada khususnya. (Buruh berucap terima kasih guru)

Sungguh menarik dan terkesima dengan tema yang diusung PGRI dan HGN dalam memperingati hari kelahirannya yakni mengkristal dalam sebauh idiom “Revolusi Mental”. Konotasi yang muncul manakala berbicara mengenai kata “Revolusi” sedikit trauma mendengarnya. Akibat terlalu kesusu atau terburu-buru untuk memenuhi akan hausnya kekuasaan di negeri ini, tujuh jenderal pun diakhiri nyawa dan kariernya dengan gerakan “revolusi” pula. Tautan pikiran penulis pada pahlawan revolusi dengan gelar anumerta sebagai sebuah penghargaan atas jasa-jasa dan perjuangannya setelah wafat. Termasuk guru, khususnya di negeri ini selalu mendapat penghargaan bagi mereka yang sudah purna tugas dan yang berpulang kepangkuan ilahi. Jangan heran jika banyak guru aktif yang melempem dalam usaha inovatif dalam kegiatan tulis-menulis atau kreativitas positif lainnya sebagai usaha meningkatkan kadar keprofesionalannya akan terus dan tetap jauh dari penghargaan yang semestinya harus diterima. Zonder alas an yang rasional dan proporsional.

Sementara itu, kebencian tentara Jepang terhadap guru sangat memuncak. Jepang alias Jepun amat tidak menyukai suatu pergerakan atau lembaga lainnya di negeri ini kala itu melibatkan tangan seorang pendidik atau guru. Hal ini menjadi target utama tentara Jepang yang telah bercokol di bumi pertiwi selama tiga setengah tahun. Bangsa –Matahari terbit itu- berpretensi bahwa bangsa Indonesia di bawah kepemimpinan seorang guru atau pendidik akan menjadi momok dalam ekspansi jajahannya. Tidaklah mengherankan bila gerakan-gerakan kepemudaan yang melibatkan guru atau tenaga pendidik akan menjadi target larangannya.

Padahal, Kaisar Hiro Hito pernah melontarkan suatu ungkapan monumentalis tatkala kota di Jepang yakni Kota Hirosima dan Nagasaki yang diluluh-lantakkan oleh dua bom atom Litle boy dan Fatman yang dijatuhkan oleh tentara Amerika seraya berujar penuh harapan “Masih adakah guru yang tersisa?”. Bukan yang lain yang ditanyakan. Statement Kaisar amat bertolak belakang dengan tentaranya yang dipaket untuk menikam rakyat Indonesia kala itu. Mereka benci banget dengan guru. Hal ini menandakan betapa kuat dan berpengaruhnya perjuangan guru dalam membela dan meningkatkan kesadaran rakyat untuk bebas dan melawan penjajah. Ujung-ujungnya atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya (Pembukaan UUD 45).

Fenomena saat ini muncul sebuah trend baru guru “nyambi” dan guru “ Tak Lulus PLPG”. Akibat citra yang dilekatkan pada diri guru teramat “suci” dan “sakral” sehingga guru hanya boleh bekerja sebagai guru. Untuk bekerja atau “nyambi” di luar kegiatan dinasnya kerap kali menjadi buah mulut masyarakat. Seakan-akan tabu dan di luar kepantasan bila guru harus dinamis di luar dinasnya. Maunya masyarakat guru sepulang mengajar “bersemedi” atau “bertapa” saja di kamarnya dengan kemeja dan pakaian kesopanannya agar harkat dan martabatnya tetap mulia. Benarkah demikian? Perlu kiranya label ini didudukkan pada posri yang semestinya bahwa guru juga makhluk zoon politikon. Di samping sebagai individu juga sebagai makhluk sosial yang memiliki jalinan interaksi dengan masyarakat pada umumnya dalam segala aspek kehidupan.

Jangan diherani bila ada guru jadi tukang parabola, tukang penjual akik, tukang meubel, pemilik toko, penjual bensin, peracang, penggendong termos es ke sekolahnya, membuka kreditan jilbab dan busana, dan segala kegiatan usaha lainnya yang masih halal dan tidak mengganggu tugas kedinasannya, why not! Sebagaimana penulis mengutip tulisan Dr. Dedi Supriadi dalam bukunya berjudul “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” termaktub sebagai berikut. Secara hokum, upaya para guru tersebut di atas dibenarkan sebagaimana dinyatakan dalam pasal 35 Peraturan Pemerintah No. 38/1992 tentang tenaga Kependidikan yang berbunyi, “ Tenaga Kependidikan dapat bekerja di luar tugas pokoknya untuk memperoleh penghasilan tambahan sepanjang tidak mengganggu penyelenggaraan tugas pokok.” Intinya guru juga manusia yang ingin juga naik haji seperti yang lainnya.

Perlu kiranya adanya sinkronisasi yang harmonis dalam diri seorang guru dengan letupan jargonnya dalam menyambut HUT PGRI dan HGN berbunyi sabagai berikut, “Melalui Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI, kita Wujudkan Revolusi Mental Melalui Penguatan Peran Strategis Guru”. Di tengah menyeruaknya idiom hebat dan bagus dari “Revolusi Mental” masih muncul sebuah berita yang kurang sinkron dengan tema di atas yakni berita kepahitan “Kemampuan Mentok, 378 Guru Tak Lulus” dar PLPG. Salah satu penyebabnya rata-rata sudah parobaya, berusia 50 tahun ke atas. Akses informasi terbatas. Baca Koran saja tidak. (Jawa Pos, 20 Nopember 2014 hal. 32 dalam Kolom Pendidikan). Semoga peristiwa yang menimpa guru-guru SD tersebut di atas dijauhkan dari Guru di Bawean, khusunya di Sangkapura dengan tetap mau membaca dan berkarya. Revolusi Mental sejatinya adalah perubahan mindset atau pola pikir bukan gerak fisik yang berselaput seragam kewibawaan sementara keropos di dalamnya yakni miskin ilmu dan pengetahuan karena keengganan dalam menghadapi tantangan kemajuan yakni malas membaca. Selamat HUT PGRI dan HGN. Arigato sensei…(Baca: Jepang Terima kasih guru)

PGRI Sangkapura Kompak Hadir
Hari Guru & HUT PGRI di Kota Kediri

Media Bawean, 26 November 2014





Eksistensi guru masih diyakini sebagai tulang punggung pembangunan mutu pendidikan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen untuk terus memprioritaskan kepentingan-kepentingan guru khususnya dalam rangka peningkatan kompetensi dan profesionalitas.

Hal ini dibuktikan melalui penyediaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD Jatim dengan penggunaan paling utama untuk peningkatan kualitas guru, yaitu 60 persen. Wakil Gubernur Jawa Timur Drs H Saifullah Yusuf menegaskan, jika pembangunan pendidikan di Jatim itu ingin berhasil maka yang harus diurus dulu adalah gurunya. Mulai dari mutu hingga kesejahteraan guru harus benar-benar diperhatikan oleh pemerintah.

“Anggaran pendidikan, baik APBN maupu APBD harus bisa dirasakan oleh guru. Sebab guru yang memiliki peran utama dalam menyiapkan generasi-generasi pemimpin bangsa selanjutnya,” tegas Gus Ipul, saat memberi orasi pada peringatan Hari Guru Nasional ke 39, HUT PGRI ke 69 dan Hari Aksara Internasional ke 49 di GOR Jayabaya, Kota Kediri, (Minggu, 23/11). Gus Ipul meyakinkan, pemerintah akan terus berjuang agar kesejahteraan guru semakin meningkat.

Menurut Gus Ipul, guru harus mampu memfasilitasi pembelajaran, pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap untuk memenuhi kebutuhan siswa. Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh peran guru, lingkungan, kebijakan pemerintah, dan instrumen lainnya. Pendidikan yang diberikan oleh guru harus memberikan kesadaran tentang peran siswa dalam kehidupan sosial. Karenanya guru harus mampu menciptakan dinamika dalam kegiatan, misalnya kebebasan untuk bertanya atau mengusulkan. Dalam meningkatkan kompetensi, guru tidak saja melalui jalur resmi tapi juga jalur tidak resmi, misalnya rajin membaca dan mengetahui informasi terbaru melalui teknologi IT.

Lebih lanjut beliau menambahkan, mengenai Kurikulum 2013 telah disosialisasikan kepada sekitar 80% elemen pendidikan. Sehingga jika terdapat kekurangan harus disempurnakan, dievaluasi dan diperbaiki bukan diganti lagi. Apabila diganti lagi nanti justru akan membingungkan karena akan dimulai dari nol kembali. Melihat antusiasme ribuan guru yang hadir, dalam kesempatan itu Gus Ipul secara langsung menawarkan diri untuk dijadikan ketua panitia peringatan guru pada tahun mendatang. Hal ini sontak menarik perhatian dan langsung disambut gembira seluruh anggota PGRI yang hadir.

Gayung bersambut, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Dr. Harun, M.Si, MM membenarkan bahwa prioritas pendidikan di Jatim dimulai dari guru. Hal ini diimplementasikan dalam berbagai hal, diantaranya melalui workshop, beasiswa dalam dan luar negeri, tunjangan untuk guru dan berbagai program lainnya. Harun mengatakan, peringatan hari guru nasional selalu disambut antusias oleh seluruh guru di Jatim. Bahkan lebih dari 25 ribu guru mulai tingkat kecamatan hingga 38 kabupaten/kota hadir dalam satu momen penuh sejarah ini.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Besar PGRI Pusat Sulistiyo menyampaikan, PGRI akan memperjuangkan pengesahan Perubahan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tentang guru. Dalam PP tersebut mengatur mengenai beban mengajar guru selama 24 jam akan didistribusikan sebagai wali kelas, pengajar ekstrakurikuler, merencanakan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran. Selain itu PGRI juga memperjuangkan agar guru dikelola oleh setingkat Direktur Jenderal (Dirjen).

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Dr. Harun, M.Si, MM mengatakan bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kota tahun demi tahun mengalami peningkatan yang luar biasa, beliau berharap di tahun berikutnya buta aksara harus menjadi prioritas. Selain itu beliau juga mengungkapkan bahwa saat ini penyandang buta aksara yang tersisa sekitar 530.000 orang dan beliau yakin 5 tahun mendatang Jatim akan zero buta aksara.

Berkesempatan membuka acara ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Drs. Siswanto, M.Pd yang mendukung penuh program pemberantasan buta aksara di Jawa Timur dengan berbagai program pembinaan dan pengembangan pendidikan baik formal dan informal.

Senada hal tersebut Walikota Kediri, Abdullah Abubakar, SE menyampaikan bahwa kegiatan seperti peringatan HAI ke-49 akan memotivasi penuntasan buta aksara, juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar penyelenggara kegiatan. Selain itu mempromosikan batik ikan khas Kediri yang sudah mulai terkenal bahkan pemasarannya hingga merambah pasar internasional.

Pembukaan dimeriahkan oleh penampilan tari budaya "Panjalu Jayadi" yang menceritakan tentang perjuangan masyarakat Kediri dalam menghadapi penjajahan, dan ditutup dengan iringan musik gendhing persembahan SMP Pawyatan Daha Kediri. Rangkaian acara pembukaan ditutup dengan pengguntingan pita oleh Bunda Ve selaku istri Walikota Kediri sebagai tanda pembukaan pameran HAI ke-49.

PGRI kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik menghadiri peringatan Hari Guru Nasional ke 39, HUT PGRI ke 69 dan Hari Aksara Internasional ke 49 di GOR Jayabaya, Kota Kediri.

Kehadiran rombongan PGRI asal Pulau Bawean, Gresik merupakan bukti organisasi guru telah eksis dan berkiprah tinggi memajukannya.

Rombongan berangkat dari Gresik menuju Kediri menggunakan kendaraan bis. Setelah menghadiri kegiatan di GOR Jayabaya, melanjutkan tour wisata ke Gunung Kelud yang letaknya juga di Kediri. (bst) 

Sumber : http://www.klinikpendidikanjatim.com/

Nasib Guru Sukwan di Pulau Bawean
Gaji Sebulan Cukup Membeli Permen

Media Bawean, 12 November 2014

Nasib guru non PNS yang mengabdi mengajar di sekolah negeri ataupun swasta ibaratkan lagu Rhoma Irama, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Gaji perbulan yang diterima guru non PNS yang statusnya Sukwan menerima antara Rp.50 ribu sampai Rp.100 ribu, sedangkan guru berstatus PNS sudah mendapatkan gaji jutaan rupiah, ditambah tunjangan sertifikasi, ditambah lagi tunjangan daerah terpencil sehingga kesejahteraannya semakin mewah dalam kehidupannya.

Pendapatan Rp.50 ribu sampai Rp.100 ribu bila diukur dari UMR masih jauh antara langit dengan bumi, sementara tugas di sekolah lebih banyak ataupun lebih berat dipikulkan kepada guru yang statusnya sukwan bukan PNS.

Bagaimana respon anggota DPRD Kabupaten Gresik asal Pulau Bawean? 

H. Muntarifi sebagai anggota DPRD Kabupaten Gresik dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ditemui Media Bawean menyatakan dirinya masuk Komisi D yang bidang tugasnya pendidikan dan kesehatan.

Menurutnya, kondisi nasib guru sukwan di Pulau Bawean sungguh sangat memprihatinkan, butuh keseriusan pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraannya. "Bila dibandingkan pendapatan guru PNS dengan guru non PNS, perbandingannya sangat jauh lebih diperhatikan guru berstatus PNS. Sementara guru non PNS pendapatannya hanya cukup dibuat beli permen saja, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya masih kelabakan,"katanya.

"Sudah saatnya pemerintah Kabupaten Gresik untuk memperhatikan nasib guru sukwan yang nasibnya masih belum jelas arahnya. Melalui pendataan yang ada, idealnya pendapatan mereka disesuaikan ataupun distandarkan UMR untuk memanusikan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa,"paparnya.

"Sungguh ironis, pemerintah lebih memperhatikan nasib guru PNS yang pendapatannya sudah besar setiap bulannya, sedangkan guru non PNS ditinggalkan tanpa ada perhatian khusus,"tuturnya.

Melalui kiprahnya sebagai anggota DPRD Kabupaten Gresik, H. Muntarifi menyatakan siap untuk diajak berkomunikasi ataupun menerima pengaduan dari guru di Pulau Bawean, termasuk guru non PNS.

"Silahkan hubungi, bila ada keluhan ataupun persoalan pendidikan di Pulau Bawean. Sebagai wakil rakyat asal Pulau Bawean siap memperjuangkan aspirasi masyarakat,"tegasnya.

Disamping persoalan pendapatan guru non PNS yang minim, H. Muntarifi menyoroti tenaga mengajar di Pulau Bawean sepertinya banyak guru tidak sesuai bidangnya. "Seharusnya lembaga pendidikan menyesuaikan keahlian guru yang dimiliki disesuaikan jurusan keilmuan dengan bidang studi pegangan mengajar di sekolah,"terangnya. (bst)

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Gresik
Bicara Soal Pendidikan di Bawean

Media Bawean, 5 November 2014 

Terkait persoalan pendidikan di Pulau Bawean, Gresik, Media Bawean berhasil mewawancarai Kepala Dinas Pendidikan. Kabupaten Gresik. Drs. Nadlif, M.Si. di ruang kerjanya hari selasa (4/11/2014).

Menurutnya mutasi 3 siswa baru dari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang masuk SDN I Sawahmulya sudah selesai melalui kebijaksanaan khusus, walaupun dari segi aturan jelas pelanggaran.

"Bagaimana mau dikeluarkan, wong kepala sekolahnya sudah terlanjur menerima 3 siswa masuk sekolah,"katanya.

Terjadi kasus 3 siswa baru yang masuk SDN I Sawahmulya, menurut Nadlif merupakan pelajaran kepada kepala sekolah agar berhati-hati dalam penerimaan siswa mutasi antar sekolah. "Perlu dilihat dari segi aturan dibolehkan atau tidak, sehingga dalam penerimaan siswa mutasi antar sekolah tidak melanggar peraturan yang ada,"ujarnya.

Apakah dalam penerimaan 3 siswa mutasi di SDN Sawahmulya melanggar aturan? "Jelas dong, sebab mutasi memperhatikan akreditasi sekolah bersangkutan. Mutasi dari SDIT ke SDN secara aturan tidak boleh,"paparnya.

"Sehubungan kepala sekolah sudah terlanjur menerimanya, sehingga 3 siswa yang mutasi dari SDIT tetap diperbolehkan masuk sekolah di SDN I Sawahmulya,"jelasnya.

"Yang kasihan pihak SDIT, mutasi kok langsung 3 siswa sehingga mengurangi jumlah peserta didik di sekolahnya,"terangnya.

Disinggung soal guru K2 di Pulau Bawean yang belum diterima dalam mengikuti test CPNS, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik mengajak kepada seluruh guru K2 untuk giat mengajar dan istiqomah menunggu proses selanjutnya.

Adapun guru K2 yang diterima CPNS melalui pemalsuan data menurutnya sudah diblokir. Sebelumnya sudah membentuk tim khusus untuk melakukan penelitian terhadap guru K2 yang dicurigai melakukan pemalsuan data. "Jika tetap diterimanya maka pihak bersangkutan bersama pembuat data palsu akan terancam dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku,"tegasnya. (bst)

Peresmian Ponpes Darussalam Daun
Managemen Pengelolaan oleh MWCNU

Media Bawean, 30 Oktober 2014






Pondok Pesantren Darussalam, desa Daun, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik telah diresmikan oleh Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim, tepat hari jum'at malam sabtu (24/10/2014).

Peresmian dihadiri Wakil Bupati bersama rombongan, KH. Saiful Munir dari Gresik, tokoh ulama dan pengasuh pondok pesantren se- Pulau Bawean, serta warga desa Daun.

Ustadz Hisyam, ketua MWCNU Daun dalam sambutannya mengatakan Pondok Pesantren Darussalam termasuk satu-satunya lembaga pendidikan di Pulau Bawean, yang dibawa langsung naungan Nahdlatul Ulama. 

"Manejemen dan pengelolaan Pondok Pesantren Darussalam Daun sepenuhnya tanggungjawab MWCNU Daun, setelah ada perjanjian antar beberapa pihak,"katanya.

KH. Badrussurur sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam menyatakan siap melaksanakan seluruh program yayasan yang ketuanya Ustadz Ahmad Fathoni.

Menurutnya siap untuk mengasuh dan mendidik santri untuk mencetak generasi bangsa dan negara yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, KH. Badrussurur memohon bantuan untuk pembangunan pondok pesantren melalui anggaran pemerintah kabupaten Gresik. "Termasuk rumah dinas pengasuh masih belum ada di bangunan ponpes yang baru yang letaknya di Billah Kokap,"ujarnya.

Harapan pengasuh langsung disambut oleh Wakil Bupati Gresik, dengan memberikan langsung bantuan untuk Pondok Pesantren Darussalam, desa Daun.

Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim memberikan apreasiasi atas diresmikannya Pondok Pesantren Darussalam, desa Daun. Dalam sambutannya beliau mengajak kepada semua pihak, khususnya masyarakat desa Daun untuk mendukung terselenggaranya pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam.

"Melalui pondok pesantren akan dicetak generasi bangsa yang siap mengantisipasi terjadinya kenakalan remaja,"paparnya.

Beliau memberikan contoh beberapa kejadian di Indonesia, disebabkan kurangnya pendidikan agama kepada anak.

Wabup didampingi KH. Saiful Munir dan Muspika Sangkapura, serta Ketua PCNU Bawean meresmikan Pondok Pesantren Darussalan dengan menabuh gendang secara bergantian.

Setelah peresmian, dilanjutkan peninjaun lokasi Ponpes Darussalam yang baru di Billah Kokap.  (bst)

Gugus II Gelar Santuan Anak Yatim
Lomba Baca Asmul Husna & Shalawat

Media Bawean, 26 Oktober 2014


Memperingati Tahun Baru Islam 1436 H. Gugus TK dan RA di Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik menggelar berbagai macam kegiatan, diantaranya memberikan santunan untuk anak yatim, lomba membaca asmaul husna, membaca shalawat badar dan shalawat nariyah.

Kegiatan yang dipusatkan di Alun-Alu kota Sangkapura digelar selama 2 hari, mulai minggu (26/10/2014) sampai besok (senin, 27/10/2014).

Kegiatan lomba diikuti 12 lembaga TK dan RA yang tergabung dalam Gugus II, menampikan kreasi setiap lembaga yang dilanjutkan pembacaan asmaul husna, shalawat badar dan shalawat nariyah.

Menariknya didalam kegiatan juga diadakan santunan anak yatim, berupa pemberian uang tunai yang diserahkan oleh Hj. Fatimah sebagai Ketua Gugus II, yang dilanjutkan penyerahan tas sekolah oleh Cuk Sugrito dan Imron dari UPTD. Pendidikan Kecamatan Sangkapura.

Hj. Fatimah ditemui Media Bawean mengatakan kegiatan diselenggarakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1436 H. "Sebagai umat Islam seyogyanya merayakan pergantian tahun baru dengan kegiatan positip bernuansa Islami,"katanya.

Menurutnya kegiatan diselenggarakan dalam rangka memupuk keimanan sejak dini melalui lomba baca asmaul husna, baca shalawat badar dan shalawat nariyah. Melihat penampilan peserta lomba, Hj. Fatimah menyatakan bangga atas keberhasilan guru TK dan RA yang berhasil mendidik siswanya sehingga mampu tampil prima diatas panggung.

"Melalui lomba diharapkan peserta didik bisa menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini untuk mencetak generasi penerus bangsa dan negara yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT."jelasnya.

Lebih lanjut Hj. Fatimah mengajak kepada seluruh masyarakat untuk berbagi bersama anak yatim. "Gugus II telah memberikan santunan kepada anak yatim di masing-masing lembaga sebanyak 5 anak,"paparnya.

Santunan yang diserahkan bersumberkan dari donatur dan uang kas gugus yang dikhususkan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1436 H.(bst)

Mahasiswa Bawean Unjuk Rasa
Soal Mutasi 3 Siswa Swasta ke Negeri

Media Bawean, 24 Oktober 2014


Puluhan mahasiswa Bawean melakuka unjuk rasa di depan pintu masuk pelabuhan, kemarin hari kamis (23/10/2014|), mereka menuntut soal 3 siswa SD yang ditolak masuk SDN I Sawahmulya.

Gerakan Mahasiswa Bawean (Gemaba) melakukan orasi menutut penolakan pengeluaran siswa SDN 1 Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura, Sosialisasi aturan tentang pendidikan di Pulau Bawean, Pecat Kepala UPT Dinas P dan K Kecamatan Sangkapura, Libatkan Mahasiswa dalam semua kebijakan di Pulau Bawean dan Kembalikan kedaulatan Mahasiswa Bawean.

Dengan membentangkan poster pengunjuk rasa membagi-bagiakan selebaran kepada warga yang melewati jalan kawasan dekat Pelabuhan Bawean. Secara bergantian melakukan orasi dengan mempertontonkan adengan yang menggambarkan 3 nasib siswa yang dikeluarkan dari sekolah, serta kondisi pendidikan di Pulau Bawean.

Setelah melakukan unjuk rasa di dekat Pelabuhan Bawean, perwakilan mahasiswa diterima Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim di kantor kecamatan Sangkapura.

Wabup Gresik mengajak kepada mahasiswa untuk berpedoman kepada aturan yang ada. "Termasuk soal mutasi siswa sekolah dasar juga dikembalikan kepada peraturan yang berlaku,"katanya.

"Sudah jelas didalam aturan, bahwa mutasi siswa antar sekolah swasta ke sekolah negeri itu boleh, dengan catatan akreditasinya sama atau lebih tinggi status sekolah asalnya,"paparnya.

Adi Suwoyo, Kepala UPTD Pendidikan Sangkapura ditemui Media Bawean menyatakan bingung adanya unjuk rasa kok mengarah kepada dirinya. "Padahal persoalan mutasi siswa sudah ada aturan yang mengaturnya,"tuturnya.

"Adapun adanya keputusan boleh atau tidaknya siswa mutasi dari sekolah swasta pindah ke sekolah negeri sudah dikoordinasikan melalui kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik. Hasilnya dikembalikan kepada aturan dalam mutasi antar sekolah, bahwa tidak ada larangan hanya terkait akreditasi sekolah asal harus lebih tinggi dibanding sekolah yang menjadi pilihan,"jelasnya. (bst)

SMPN I Sangkapura
Gelar KTS Menggali Potensi Siswa

Media Bawean, 21 Otober 2014


Kemeriahan Kegiatan Tengah Semester (KTS) di SMPN I Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik dengan menggelar berbagai macam pertandingan olahraga dan seni, yang dimulai hari kamis (16/10/2014) sampai hari selasa (21/10/2014). Pertandingan olahraga meliputi bola voli putra dan putri, tenis meja putra dan putri, atletik lompat jauh, lomba melukis, serta kesenian lomba karaoke.

Antusias seluruh siswa untuk mengikuti kegiatan KTS berlangsung semarak disertai semangat yang tinggi untuk meraih prestasi. Dibuktikan ketika pertandingan digelar, seluruh siswa bersemangat untuk bertanding dengan mendapat dukungan teman kelasnya.

Kepala SMP Negeri 1 Sangkapura Muhammad Sahafuddin, S.Pd. ditemui Media Bawean menyambut gembira atas diselenggarakannya Kegiatan Tengah Semester (KTS) untuk menggali potensi siswa untuk meraih prestasi sesuai bakat yang dimilikinya.

Menurutnya, potensi siswa dalam menekuni dunia olahraga dan seni telah membawa harum nama sekolah termasuk Pulau Bawean, buktinya bila bertanding di tingkat Kabupaten Gresik selalunya pulang membawa juara. 

"Melalui didikan guru di sekolah, bakat siswa dapat tersalurkan secara baik untuk pengembangan bakat dan minat dalam olahraga dan seni,"ujarnya.

Sebagai Kepala SMPN I Sangkapura mengucapkan terima kasih kepada seluruh dewan guru bersama seluruh siswa, khususnya atlet yang berprestasi dalam mengikuti O2SN tingat Kabupaten Gresik dan Lomba Zamrah dalam Pekan Seni Pelajar yang juara I se-Kabupaten Gresik.

Abdul Wahid, Ketua Panitia KTS SMPN I Sangkapura menyatakan kegiatan diselenggarakan dalam rangka menggali bibit siswa yang berprestasi dalam dunia olahraga dan seni.

"Selama ini SMPN I Sangkapura telah berhasil mengukir prestasi dalam mengikuti O2SN dan Pekan Seni Pelajar tingkat Kabupaten Gresik, untuk mempertahankan prestasi diperlukan kegiatan seperti KTS,"paparnya.

Hasilnya seleksi dari kegiatan KTS, tentunya siswa berprestasi akan dibina secara khusus melalui latihan ataupun pendidikan tekhnik olahraga yang benar sesuai aturan.

"Setelah nantinya pelaksanaan O2SN ataupun kegiatan lainnya akan dilaksanakan, SMPN I Sangkapura sudah memiliki kesiapan untuk bertanding dengan harapan membawa pulang prestasi,"tuturnya.

Guru Olahraga yang merangkap wasit senior bola voli di Pulau Bawean, menegaskan bahwa menggali bibit atlet olahraga ataupun melakukan seleksi siswa berkemampuan dibidang seni mutlak diperlukan agar mempunyai kesiapan untuk bertanding. "Bukan saat akan bertanding baru diadakan seleksi ataupun asal caplok untuk jadi atlet, percuma dong mengirim atlet dengan cost biaya tinggi ternyata hasilnya tidak siap bertanding,"pungkasnya dengan senyuman manis. (bst) 

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean