Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label DESA PATARSELAMAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DESA PATARSELAMAT. Tampilkan semua postingan

PKK Desa Patarselamat Gelar Maulid, Penceramah Dosen UIN Sunan Ampel

Media Bawean, 11 Januari 2015




Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. 1436 H. Tim Penggerak PKK desa Patarselamat, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik mengundang penceramah asal Pulau Jawa, yaitu KH. DR. Muhammad Shodiq, dosen dan wakil dekan FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya.

Peringatan  Maulid yang digelar di desa Patarselamat (sabtu, 10/1/2015), sempat tertunda beberapa jam sehubungan menunggu kedatangan KMP. Gili Iyang dari Gresik ke Pulau Bawean.

Menghadapi gelombang besar selama perjalanan di laut, KH. DR. Muhammad Shodiq menyatakan dakwah yang dilakakukannya melalui terjangan gelombang tinggi, itupun dilalui mencontoh kepada Rasulullah dalam melakukan dakwah yang selalu memperoleh banyak tantangan.

Dalam ceramahnya, Wakil Dekan FISIP UIN Sunan Ampel membahas sejarah kehidupan Rasululullah, serta mengajak kepada seluruh yang hadir untuk meneladani dan mencontohnya.

Hadir penceramah dalam peringatan maulid oleh tim penggerak PKK desa Patarselamat, menurut Abdus Salam sebagai kepala desa, menyatakan melalui proses relasi antar pertemanan  sehingga bisa mengundang beliau.

Abdul Adim,Camat Sangkapura mengapresiasi atas digelarnya peringatan maulid mengundang penceramah dari Pulau Jawa. "Sungguh luar biasa maulid oleh tim penggerak PKK di tingkat desa telah mengundang penceramah dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya,:"katanya. (bst)

Warga Patar Gelar Ibadah Qurban

Media Bawean, 5 Oktober 2014








Pelaksanaan Qurban di Dusun Patar, desa Patarselamat, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik dilaksanakan hari ini (minggu, 5/10/2014).

Sebelum pemotongan hewan digelar, waktu pagi warga Patar menunaikan shalat jamaah hari raya Idul Adha bertempat di masjid jami Istiqomah.

Pemotongan hewan qurban di dusun Patar, merupakan tradisi turun temurun dari dahulu sampai sekarang. Hewan qurban berasal dari warga sendiri, warga Malaysia dan warga Singapura. 

Setelah selesai shalat idul adha berjamaah, warga berbondong-bondong mendatangi lokasi pemotongan hewan qurban, dengan cara di arak keliling kampung dengan diiringi gema takbir. 

"Alhamdulillah tahun ini sekalipun harga sapi mahal, ada peningkatan hewan Qurban dari tahun kemarin yakni 7 ekor sapi dan 2 ekor kambing, tahun ini meningkat jadi 8 ekor sapi,"kata Minfari warga Patar.

"Semua hewan tersebut berasal dari warga kampung sendiri, warga Malaysia dan warga Singapura yang masih mempercayai kampung Patar sebagai tempat pemotongan qurban,"ujarnya.

Sebagai bukti pelaksanaan pemotongan hewan qurban, dilakukan penyutingan bentuk video mulai awal sampai akhir kegiatan sebagi bukti telah melaksanakan kewajiban sebagai wujud kepercayaan yang diberikan. Harapannya untuk tahun depan ada peningkatan untuk Qurban, termasuk bantuan keuangan warga Singapura dan Malaysia untuk renovasi masjid.

Untuk penyaluran daging qurban sesuai yang telah disyariatkan dalam agama Islam. Bukan cuman warga luar kampung, termasuk warga Patar yang menikah keluar kecamatan juga mendapatkan daging Qurban. 

Setelah semua tersalurkan, seluruh warga hadir ke mesjid untuk mengadakan selamatan bersama. Berdo'a dan memohon semoga ibadah Qurban yang telah dilaksanakan diterima oleh Allah SWT.

Warga dusun Patar mengucapkan terimkasih kepada semua pihak, khususnya warga Malaysia dan Singapura.  Semoga Allah SWT. selalu memberikan kesehatan dan tembahan rejeki yang berlimpah. (bst)

Gerak Jalan Keliling Desa Patarselamat, Dalam Rangka HUT RI Ke-69 Tahun 2014

Media Bawean, 31 Agustus 2014











Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-69 tahun 2014, desa Patarselamat, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik menggelar berbagai macam kegiatan. Diantaranya gerak jalan keliling desa Patarselamat yang digelar hari sabtu (31/8/2014).

Gerak jalan yang diikuti sebanyak 36 regu dari perwakilan dusun, pemuda dan pelajar melalui rute kurang lebih 3 Kilometer. 

Agus Salam, kepala desa Patarselamat mengatakan kegiatan memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-69 dirayakan meriah berkat dukungan semua pihak, khususnya perangkat desa bersama seluruh masyarakat desa Patarselamat.

Diantaranya kegiatan gerak jalan serta pentas seni yang diikuti oleh perwakilan setiap dusun. "Kegiatan diselenggerakan diakhir bulan agustus, agar semua kegiatan terselesaikan keseluruhan, seperti karnaval dan gerak jalan tingkat kecamatan,"ujarnya. 

Untuk tahun berikutnya, Kades Patarselamat menyatakan siap untuk merayakan lebih meriah lagi. (bst)

Poko'e Nampang di Media Bawean, Gerak Jalan di Desa Patarselamat

Media Bawean, 31 Agustus 2014












Penasaran Ke Cokel, Ada Apa? Potensi Dusun yang Terpendam

Media Bawean, 3 Agustus 2014

Oleh : Matnadi (Guru SDN Patar Selamat)

Bercerita tentang padang pasir tentu pikiran terpaut pada kawasan Timur Tengah di Semenanjung Jazirah Arab. Sama halnya dengan bercerita tentang Dusun Cokel juga memiliki hamparan bahkan berbukit-bukit pasir dengan berjuta kubik terkandung di perut buminya. Perlu kiranya sedikit divalidasi mengenai nama dusun mungil yang termasuk ke dalam wilayah kedesaan (analog kelurahan) Patar Selamat Sangkapura Bawean Gresik. Fonim [e] pada nama dusun “Cokel” dilafalkan taling seperti pada kata /nenek/ bukan dibunyikan pepet seperti fonim [e] pada kata /belum/, tambah keliru lagi jika ditulis “Cukil” karena nama dusun itu bersifat arbitrer-konvensional setakat bagi pemilikinya. (penduduk setempat). Jadi, tidak perlu diubah-ubah dari aslinya. Apalagi fonem [e]-nya terlafalkan pepet menjadi nama Dusun Cokel akan mengerikan maknanya karena kata “cokel” itu menjambak leher atau kepala seseorang dari belakang atau dari samping kemudian ditekan hingga menekuk ke bawah dan terjungkal. Wow… seram…!

Dusun dengan segudang potensi baik alam maupun tradisinya memiliki nama asli atau nama historisnya yakni Dusun Karang Reja. Cukup beralasan mengapa dusun Cokel itu sebelumnya bernama dusun Karang Reja karena pada zaman dahulu (Bawean-tapongkor atau enje’enna,Red) kawasan dusun Cokel berupa hamparan batu karang yang mengonggok sepanjang areal dusun tersebut. Tinjauan secara histori geologis berjuta tahun silam dusun Cokel berupa lautan. Terbukti, adanya karang yang menghampar di permukaan wilayah Dusun Cokel sebagai tengara bahwa dulunya adalah berupa lautan dengan onggokan pasir sebagai peninggalannya. Di sinilah perlunya menghadirkan geolog yang mumpuni untuk melakukan kajian lebih dalam dan komprehensip.

Dusun Cokel mulai termasyhur atau kesohor namanya setelah pasirnya banyak diangkut para supplier bahan bangunan. Hampir seluruh bangunan mewah dan mentereng yang berdiri kokoh di antero Pulau Bawean bahan pasirnya didatangkan dari Dusun Cokel. Dengan menggunakan pola keseimbangan alam tempat penggalian atau penambangan pasir berjalan dengan aman dan lancar. Tentu, tetap memperhatikan Amdal terpadu. Pasir yang sudah ditambang sekian meter ke bawah tidak sampai sedalam galian sumur kebanyakan sudah diurug kembali dengan tanah datang atau tanah perkebunan dan persawahan. Sehingga yang dulunya bekas penambangan berupa ceruk (red: jhurgheng) menjadi rata kembali dengan tanah pemukiman penduduk. Bahkan, bekas penambangan yang sudah diratakan kembali berdiri beberapa rumah penduduk. Hal ini benar-benar membawa berkah bagi warga setempat baik pemilik areal pasir dan para pekerjanya. Hitung-hitung mengais rezeki di Dusun Cokel mudah sekali.

Banyak orang penasaran terhadap keberadaan Dusun Cokel , Ada apa sebenarnya di sana? Sebelum kepenasaranan itu terjawab alangkah gamblangnya penulis paparkan terlebih dahulu letak Dusun Cokel. Bila titik gerak di mulai dari pusat kota Sangkapura tepatnya dari jantung alun-alun Sangkapura menuju arah barat memasuki jalan protocol kabupaten Dusun Bengkosobung. Lepas itu, terus lurus ke arah barat menuju petilasan Cokro. Tidak sampai menikung ke kiri jalan yang menuju kantor Polisi Sektor Sangkapura terus lurus memasuki jalan makadam dusun Tellok. Dari Gapura Cokro lurus ke arah barat sampai pertelon dekat tower PT. Excel Comindo Pratama membelok ke kanan melintasi jalan makadam Tellok utara. Akses dari jalan ini tembus ke Dusun Pamasaran (red: bukan Penasaran). Melintasi jalan beton penuh liku menerus melewati jalan Dusun Pamasaran akan melintasi jalan utama di tengah persawahan. Habis jalan perasawahan itulah berujung atau berakhir pada Dusun Cokel. Sebelah barat berbatasan dengan Dusun Bungaran dan sebelah utara Dusun Gunung Malang. Kendaraan roda dua, tiga, dan roda empat pun mudah untuk menuju lokasi sebagai ujung jalan penghabisan. Tentu tanpa terminal atau areal parkir (bebas parkir).

Jumlah bangunan rumah di Dusun Cokel sekitar 45 rumah yang sudah permanen. Dari bangunan rumah yang ada bisa dijadikan barometer kemajuan kehidupan warganya di bandingngkan zaman lampau yang serba sederhana. Hampir setiap rumah saat ini memiliki kulkas dan televisi dengan berbagai tingkatan kelasnya. Untuk menangkap siaran, warga Dusun Cokel menggunakan piranti berupa antena parabola yang disambungkan ke receiver digital. Informasi-informasi teraktual dapat warga ikuti dengan sempurna. Tentu hal ini berkat masuknya jaringan PLN prabayar. Lebih irit…rit…rit.

Penduduk Dusun Cokel mayoritas merantau ke Malaysia untuk memperlekas dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya. Tidak heran jika ada acara selamatan atau acara kenduri kehadiran kaum laki-lakinya dapat dihitung dengan jari karena tinggal belasan saja. Sebagian kecil saja yang bercocok tanam sebagai petani dan peladang atau pekebun. Hasilnya cukup untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Terkadang masih ada sisa hasil usaha untuk di bawa ke pasar sebagai berkah dalam menuai hasil panennya. Kaum muda yang masih usia pelajar juga banyak yang masuk penjara suci di pondok pesantren dan tempat pendidikan umum lainnya. Mulai dari tingkat menengah, hingga perguruan Tinggi di tanah Jawa dan antero nusantara. Bahkan dari Dusun Cokel pulalah terlahir seorang pakar Bahasa Asing khususnya Bahasa Inggris yakni Bapak Aziz Minwari, S.Ag. Beliau sebagai jebolan pondok pesantren modern Gontor Ponorogo benar-benar mumpuni dan menguasai betul tentang bahasanya Mak Sale (Red: sebutan Bule oleh warga Malaysia). Di era tujuh puluhan, di Pulau Bawean beliau adalah salah satunya warga yang kerap kali dimintai sebagai guide oleh para turis atau pelancong manca negara. Hingga sekarang pun beliau masih aktif menjadi tenaga pengajar sebagai dosen di beberapa perguruan tingga di Pulau Bawean. Sulit untuk mencari tandingan beliau dalam berbahasa Inggris hingga saat ini karena gaya bertuturnya dalam Bahasa Inggris hampir sempurna mirip native speaker-nya.

Tidak hanya itu, dari Dusun Cokel pula mengorbit seorang kyai kondang dan karismatik yakni Kyai Salamet. Hampir setiap ada acara keagamaan semacam hajatan atau pengantenan, Maulid Nabi, kenduri atau selamatan lainnya kerap kali mengundang beliau karena kemahirannya membawa suasana dakwah yang nyambung dengan tradisi warga Bawean. Apalagi, saat berceramah dengan kental logat Maduranya membikin mustamiin kesemsem pada isi dan performa ceramahnya. Tambah pula kebolehan beliau membumbuhi ceramah atau pidatonya dengan joke-joke segar yang mampu menarik perhatian para hadirin. Intinya tidak membosankan karena selalu up-todate.Selain itu pula beliau bergerak dalam bidang pendidikan Madrasah Diniyah Ula di Dusun Cokel. Masih banyak kiprah beliau dalam membangun sumber daya manusia menuju insan kamil yang diidamkan bersama.

Mengenai tradisi yang pernah dilakoni warga Cokel secara turun-temurun yakni kebiasaan dan kepiawaiannya membuat anyaman bambu atau ori menjadi bakul. Biasanya, setiap tahun menjelang peringatan Maulid Nabi orderan bakul membajiri Dusun Cokel. Satu-satunya dusun yang mendapat kepercayaan sepenuhnya untuk mendesain bakul Maulid Nabi adalah warga Cokel. Termasuk jenis kerajinan berupa saring-saring sebagai tempat masakan yang dientas dari gorengan atau rebusan juga buatan asli kerajinan tangan dari Dusun Cokel. Setelah mengalami masa transisi memasuki era timba atau baldi maka memudar pula kerajinan membuat bakul atau saring-saring. Semua tergerus oleh kemajuan zaman. Namun, satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini di Dusun Cokel yakni terkenal dengan masakan kulinernya berupa Dodol (Bawean-Dhudhul, Red) yang berasa lezat selangit tiada taranya. Penikmat merasa kurang terus bila menyantapnya karena dodol produk Cokel tidak mem-blenek-kan. Banyak warga Sangkapura dan sekitarnya pada hari-hari istimewa memesan dodol buatan Mak Siksik atau Mak Siya dari Cokel. Entah apa yang menyebabkan bedanya rasa dengan dodol-dodol buatan atau olahan dusun lainnya. Bahkan, beberapa warga Bawean yang menetap di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Taiwan, Hongkong, Tiongkok, bahkan Australia pun banyak memesan Dodol buatan Mak Sik-sik dari Dusun Cokel. Terkuak sudah potensi Dusun yang terpendam. Meminjam istilah sastrawan gaek Suripan Sadi Hutomo, inilah yang disebut “Mutiara Yang Terlupakan..”

Aparat Desa Patarselamat Memakai Seragam Milik Anaknya

Media Bawean, 17 April 2014 

Perangkat desa Patarselamat, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, diduga memakai baju seragam yang seharusnya dipakai oleh anaknya untuk menjabat kepala dusun Gunung Malang. Artinya kepala dusun terpilih menggunakan ijazah milik anaknya untuk meloloskan dalam persyaratan.

Ironisnya, pemerintahan desa Patarselamat kecenderungan melindungi dengan dalih tidak ada satupun warganya yang bersedia menjadi kepala dusun daripada mengikuti sesuai aturan. Peraturan ditabraknya, sehingga ijazah milik anaknya dipakai oleh orang tuanya.

Terungkapnya kepala dusun menggunakan ijazah milik anaknya diungkap oleh BCW-LSM. 

Dari Nazar, Direktur Eksekutif BCW-LSM mengungkapkan aparat desa yang diduga “menggunakan" ijasah orang lain di Desa Patar selamat jelas melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa yang dipertegas dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 4 Tahun 2010 tentang pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa.

Lebih lanjut, Dari Nazar meminta ketegasan Bupati Gresik untuk memberikan sanksi administrasi kepada perangkat yang bermasalah dalam persyaratan sebagai aparatur desa di Patar Selamat. Serta mendesak kepada instansi terkait, untuk membuat surat edaran kepada kepala desa, agar melakukan pendataan ulang seluruh perangkat desa di Pulau Bawean.

Agus Salam, Kepala Desa Patarselamat ditemui Media Bawean (rabu, 16/4/2014), membenarkan perangkat desanya menggunakan ijazah anaknya untuk menjabat kepala dusun. Alasannya menurut Kades, di dusun Gunung Malang tidak ada satupun warganya yang bersedia menjadi kepala dusun.

"Tahun 2007, terpilih Hatman menjadi kepala dusun Gunung Malang, setahun kemudian tepatnya diakhir tahun 2008 mengundurkan diri,"paparnya.

"Setelah mundur, kemudian ditawarakan kepada masyarakat ternyata tidak ada yang mau menggantikannya, sehingga diadakan pemilihan langsung oleh seluruh warganya dan terpilih Sap'adi menjadi kepala dusun tapi tidak mempunyai ijazah sehingga untuk persyaratan menggunakan ijazah milik anaknya,"jelasnya.

Apakah tidak mengetahui persyaratan kepala dusun diwajibkan berijazah? "Tapi masyarakat tidak ada yang bersedia, daripada kosong sehingga hasil pemilihan oleh masyarakat ditetapkan dengan menggunakan ijazah milik anaknya,"jawabnya.

Menurut Agus Salam, sejak senin kemarin (14/4/2014), Abdurrahman sudah aktif bekerja di kantor Desa Patarselamat menggantikan Sap'adi sebagai Kepala Dusun Gunung Malang.

Kabag Administrasi Pemerintahan Umum M. Yusuf Anshori dihubungi via selulernya menjawab masih sibuk memimpin rapat. Sedangkan Abdul Adim, Camat Sangkapura meresponnya yach dikembalikan kepada aturan. (bst)

Hadapi Bumbung Kosong, Agus Salam Kembali Sebagai Kades

Media Bawean, 16 Maret 2013 


Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Patarselamat, kecamatan Sangkapura, Gresik diselenggarakan hari ini (sabtu, 16/3/2013). Agus Salam yang kini masih aktif sebagai kepala desa, tampil sebagai calon tunggal yang berhadapan dengan bumbung kosong dalam pemilihan.

Prediksi banyak orang, bahwa Agus Salam akan bersaing ketat dengan bumbung kosong ternyata meleset. Terbukti setelah penghitungan selesai, Agus Salam berhasil memperoleh suara sebanyak 1.066 suara, sedangkan bumbung kosong sebanyak 207 suara.

Atas keberhasilnnya, Agus Salam kembali memimpin sebagai kepala desa Patarselamat periode 2013-2018.

Adapun hasil penghitungan suara sebagai berikut : 
Agus Salam sebagai calon tunggal memperoleh 1.066 suara 
Bumbung Kosong sebagai calon penyeimbang memperoleh 207 suara 
Suara Tidak Sah sebanyak 23 suara 
Daftar Pemilih Tetap sebanyak 1.506 orang 
Tidak Hadir sebanyak 210 orang.

Ekonomi Warga Kuduk-Kuduk Ditunjang Kiriman Dari Malaysia

Media Bawean, 8 April 2012


Media Bawean (minggu, 8/4/2012) menjelajahi masuk kampung Kuduk-Kuduk, desa Patarselamat, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Waktu sore hari memasuki perkampungan terlihat sepi, hanya beberapa kaum perempuan sedang duduk-duduk di depan teras rumahnya. Oleh warga setempat diarahkan menuju lapangan sepak bola, alasannya ada latihan sepak bola oleh pelatih ternama Darul (anggota koramil Sangkapura).

Sampai di lapangan hijau, Media Bawean berwawancara bersama Usman sebagai tokoh pemuda Kuduk-Kuduk. Ditanya sumber penghasilan utama warga setempat, lelaki berbadan gemuk sempat berfikir lama, kemudian menjawab sumbernya mengandalkan kiriman dari negeri jiran Malaysia.

"Hampir setiap rumah mempunyai keluarga yang bekerja di Malaysia, umumnya sang suami merantau ke Malaysia, sedangkan isterinya menetap di rumah bertugas menjaga anak-anaknya,"katanya.

"Sementara kaum lelaki yang menetap sekarang, terdiri anak muda atau pemuda dan orang tua sudah lanjut usia tidak mampu bekerja,"paparnya.

"Kiriman dari negeri jiran Malaysia tentunya bervariasi disesuaikan dengan penghasilan bekerja. Antara Rp.500ribu sampai Rp.1juta, atau lebih banyak lagi bagi yang sukses bekerja,"ujarnya.

"Ada juga sebagian yang tidak menerima kiriman sampai berbulan sehubungan penghasilannya minim, ada sebagian pekerja yang menggunakan permit sampai bertahun-tahun tidak mampu untuk pulang kampung,"terangnya.

"Sebaliknya ada warga memiliki IC dengan penghasilan tinggi juga lupa pulang kampung atau lupa isteri di rumah, disebabkan menikah lagi di Malaysia,"ungkapnya.

Menurut Usman, sumbangsih warga Kuduk-Kuduk di Malaysia untuk pembangunan kampung snagat besar, diantaranya pembangunan masjid dan lapangan sepak bola yang sekarang dimanfaatkan pemuda berlatih main bola.

"Di Malaysia umumnya berada di Gombak, Syah Alam. Kajang, termasuk Serawak dan bekerja ke negara lain seperti Brunei Darussalam, serta di Singapore sudah menjadi penduduk tetap,"jelasnya.

"Warga yang menetap di Pulau Bawean, sebagian besar hanya bekerja ke sawah yang hasilnya cukup buat makan bersama keluarga,"pungkasnya.

Kesimpulannya menurut Usman, sumber penghasilan warga Kuduk-Kuduk ditunjang kiriman dari negeri jiran Malaysia. (bst)

Produksi Jarangan Di Desa Patarselamat

Media Bawean, 9 Maret 2010

Warga Sedang Membuat Jarangan

Warga Sedang Membuat Jarangan
Jarangan Sudah Selesai Pembuatan

Di dusun Disalam dan Sukela desa Patarselamat, kecamatan Sangkapura Pulau Bawean, warga setempat punya profesi kerja turun temurun, yaitu membuat jarangan. Jarangan dibuat dari tanah liat dicampur pasir, kemudian dibuat dengan kerajinan tangan. Proses pembuatan membutuhkan waktu lama sampai proses akhir adalah pembakaran. Kegunaan jarangan sebagai tempat pemindangan ikan, dengan harga satu biji Rp. 300.

Menurut salah satu pekerja ditemui Media Bawean, mengatakan, "Kerjanya lama dengan melalui beberapa proses, sedangkan hasilnya berharga murah. Tetapi ini adalah profesi turun temurun yang harus tetap dikerjakan," katanya dengan nada senyuman.

Zulfa sebagai pengepul Jarangan di desa Patarselamat, mengatakan, "Pembuatan jarangan akan meningkat disaat permintaan para pemindang ikan di Bawean semakin banyak," katanya.

"Meskipun permintaan tidak ada, warga tetap membuat jarangan dan hasilnya akan dikumpulkan menunggu adanya permintaan," jelas Zulfa. (bst)

Rukun Di Hari Tua, Menumbuk Kopi Berdua

Media Bawean, 9 Maret 2010

Keluarga Harmonis Dan Bahagia Di Hari Tua

Ketika liputan di dusun Dissalam desa Patarselamat Sangkapura, terlihat dari kejauhan kemesraan dua orang tua yang usianya tergolong lanjut. Mereka asyik bicara berdua dengan topik menumbuk kopi berdua.

Disapa Media Bawean, bapak bernama Abdus Syukur dengan ibu bernama Jamaliyah, menyambutnya dengan berkenalan. Menurutnya, "Saya punya anak banyak, bekerja di Malaysia dan Batam, setiap saat selalu ingat dan berkirim uang untuk mencukupi segala kebutuhan rumah tanggaku bersama ibunya anak-anak," kata Abdus Syukur.

Kenapa buah kopi ditumbuk, kok tidak diselip pakai mesin?, "penumbukan kopi ini disuruh orang, mereka merasa lebih enak ditumbuk daripada diselip pakai mesin," ujarnya.

"Setiap hari ada saja, orang berpesan kopi tumbukan, dari berbagai daerah di Patarselamat dan Sangkapura," jelasnya. (bst)

Kondisi Jembatan Menuju Balai Desa Patarselamat

Media Bawean, 6 Februari 2010

Jembatan Menuju Balai Desa Patarselamat

Jembatan Menuju Balai Desa Patarselamat

Saat Media Bawean akan melintas di jembatan menuju balai desa Patarselamat Sangkapura, hari ini (6/2), dari kejauhan terdengar, "Awas, berhenti jembatannya rusak," katanya dengan nada keras.

Ternyata jembatan penghubung ke balai desa Patarselamat kondisinya rusak berat dan butuh rehab segera sehubungan sebagai akses jalan warga setempat. "Rusak sudah lama, sampai sekarang belum diperbaiki, padahal jalan tersebut berfungsi sebagai penghubung ke balai desa. Entah kapan akan diperbaiki kembali," kata seorang warga kepada Media Bawean.

Seyogyanya jembatan tersebut mendapat prioritas utama untuk diperbaiki kembali oleh pihak terkait. Sehubungan fungsinya menurut warga sekitar sangat diperlukan sebagai penghubung pergi ke sawah ataupun ke jalan beberapa desa disekitarnya. (bst)

Jalan Amblas Tambah ParahKades Patarselamat Belum Melaporkan

Media Bawean, 4 Juni 2009

Jalan Amblas Di Kuduk-kuduk

Jalan amblas di Dusun Kuduk-kuduk tambah parah setelah dua hari yang lalu turun hujan lebat. Media Bawean hari ini (4/6), berkunjung kembali ke lokasi jalan amblas, ternyata disekitar jalan sudah banyak berserakan bebatuan. Kelebaran dan ketinggian jalan amblas yang menghubungkan Dusun Kuduk-kuduk dengan air terjun Grujukan bertambah lebar dari sebelumnya.

Sementara Kepala Desa Patarselamat sampai saat ini menurut Kasi Ekbang Kecamatan Sangkapura belum melaporkan ke kantor Kecamatan Sangkapura.

Jalan Amblas Ke Grujukan Dan Rumah Bukhari Akibat Hujan Kemarin

Media Bawean, 27 Mei 2009

Jalan Amblas Di Kuduk-Kuduk

Jalan Amblas Di Kuduk-Kuduk

Hujan lebat yang turun kemarin (26/5) di Pulau Bawean, selain mengakibatkan banjir di Lebak, juga membuat amblas jalan menuju Grujukan Kuduk-Kuduk Patarselamat dan rumah Bukhari di Gunung Gendang.

Putusnya jalan sekitar 5 meter dengan kedalaman sekitar 10 meter ke bawah. Menurut Usman (35 Th.) warga Kuduk-Kuduk kepada Media Bawean hari ini (27/5), mengatakan, "Putusnya jalan terjadi kemarin saat hujan lebat," katanya.

Apa perlu perbaikan, Usman menjawab, "jelas perlu perbaikan segera, bila tidak diperbaiki akan mengancam perekonomian masyarakat di Kuduk-Kuduk," ujarnya.

"Sebab area mata pencaharian warga terletak dijalur putus, untuk berkebun, mencari rumput dan lain-lain," papar Usman.

Selain mengancam perekonomian warga, juga akan memutuskan jalur ke obyek wisata air terjun Grujukan dan rumah Bukhari yang tinggal di Gunung Gendang dengan keluarganya.

Media Bawean untuk melintasi jalan putus, melewati jalan semak belukar berduri dan cukup menantang maut. (bst)

BPD : Mengklaim Kepala Desa Lemah

Media Bawean, 7 Sepetember 2008

Peristiwa pembunuhan berdarah di Desa Patar Selamat dengan tersangka Zaenal Abidin (23 th.) dan korban Sarifi (42 Th.). Menurut Ketua BPD Desa Patar Selamat, Fandy kepada Media Bawean mengatakan, "Ini adalah kelemahan Kepala Desa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di desa," katanya.

"Yang lebih ironis lagi peristiwa pembunuhan ini dilakukan didepan Kepala Desa sendiri, sehingga nyaris terkena tusukan" ujar Fandy.

"Sebenarnya Kepala Desa harus tegas dalam menghadapi segala persoalan yang ada di desa dan termasuk mengakomodir dari kelompok yang kalah dalam Pilkades. Sedikit banyak efek pilkades di Patar Selamat masih ada," tegas Fandy.

Sementara Kepala Desa Patar Selamat, Agus Salam dihubungi Media Bawean via ponselnya, saat ditanya tentang peristiwa pembunuhan dikaitkan dengan efek pilkades, menjawab, "Wallahu a'lam, " katanya singkat.

Menurut Salam, "Peristiwa ini sudah diselesaikan di Balai Desa, tapi setelah selesai ternyata masih berlanjut dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Zaenal cukup singkat dan cepat," katanya.

Kapolsek Sangkapura, AKP H. Zamzami, menanggapi
tentang kasus pembunuhan bermotif santet ini, mengatakan, "Berkas tersangka sudah dikirim ke Gresik, sementara tersangka masih dikurung dalam tahanan Polsek Sangkapura, Katanya.(bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean