Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210

BERITA POPULER

adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label DESA BALIKTERUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DESA BALIKTERUS. Tampilkan semua postingan

Kritik Budaya Amaen di Bawean



Sejumlah kalangan menyoroti budaya amaen. Budaya ini berupa remaja pria mendatangi rumah perempuan pada malam hari. Sebagian tokoh di Bawean menilai budaya ini menjuru ke hal negatif dan seharusnya dihilangkan.

Adalah Kepala Desa Balik Terus, Abdul Aziz yang meminta budaya amaen dihapus. Di wilayah Desa Balik Terus, dia terang- terangan akan merazia pria dan perempuan yang berani amaen pada malam hari.

“Cara halus sudah tidak mampu, satu-satunya melalui kekerasan sebagai solusi terbaik agar mereka tidak berani amaen dengan mendatangi rumah si cewek,” katanya.

Dia melakukan sejumlah upaya untuk menindak mereka yang melanggar norma kesusilaaan. Pertama ditegur secara halus, kemudian jika melanggar lagi akan diperingatkan secara keras. “Kalau masih mokong ya dipukul disuruh pulang,” tegasnya.

Abdul Azis mengaku terpaksa memukul karena kepala dusun dan linmas sudah tidak mampu menanganinya. Sebab mereka melawan dan sebagian menanyakan undang- undangnya larangan amaen.

Menurut Aziz, si cowok yang amaen ke rumah cewek, bukan sekedar amaen saja, tapi mereka merusak. Mereka mengunakan kesempatan mencuri barang-barang seperti handphone, termasuk ayam milik masyarakat.

“Seringkali beroperasi tengah malam dari kampung ke kampung di desa Balik Terus, hanya memantau situasi dan kondisi agar budaya amaen segera hilang,”paparnya.

Jika si cowok tidak diketahui, hanya sepeda motor yang diketahui tempat parkirnya, maka ban dikempesi dan alat penghubung ke busi akan disita. Jika tidak terima dan ingin mengambil diminta datang ke rumah.

“Alhamdulillah sudah berkurang, dan semakin sempit ruang gerak mereka untuk amaen, termasuk hamil diluar nikah sudah tidak ada,”tuturnya.

Di desa sudah dibuat kesepakatan bersama bahwa jam berkunjung orang luar dibatasi sampai jam 20.00 atau jam 8 malam, terkecuali kunjungan darurat dipersilahkan.

Persoalannya menurut Kades, pada awal menghapus budaya negatif di wilayahnya bertentangan dengan masyarakat yang ingin mempertahankannya.(bst)

Terpaksa Belajar Dengan Lampu Teplok


Warga Dusun Sungaiterus Laok, Desa Balikterus Kecamatan Sangkapura menuntut janji Pemkab Gresik untuk mengaliri listrik wilayah mereka. Sebab, sampai saat ini warga hanya bisa menggunakan aliran listrik empat jam dalam sehari. Karuan, kondisi ini membuat para siswa kesulitan untuk belajar dan hanya memanfaatkan lampu teplok.

“Kami sudah menunggu puluhan tahun sampai sekarang belum ada perhatian untuk penerangan listrik di kampung. Padahal waktu malam hari, hidup di kampung gelap gulita,” kata Matrusi Kasun Sungaiterus Laok.

Menurut dia, sebenarnya ada listrik kampung yang menyala hanya 4 jam, mulai pukul 18.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Di atas jam 10 malam, kondisi di kampung sudah gelap gulita. “Tetapi listrik tersebut sangat mahal, untuk biaya listriknya saja Rp 15 ribu perbulan dan televisi dikenakan biaya sendiri Rp 28 ribu sebulan,” ungkap dia.

Dikatakan, tidak adanya aliran listrik ini membuat para siswa kesulitan untuk belajar. Setiap hari mereka hanya memanfaatkan lampu teplok sebagai penerangan untuk mengerjakan PR dari sekolah. “Terpaksa, memang tidak ada listrik mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Ditambahkan, pihaknya sudah seringkali mengajukan ke PT PLN Bawean melalui Kepala Desa Balikterus. Tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Termasuk tiang jaringan sampai sekarang belum terpasang. “Ada 98 rumah calon pelanggan PLN di dusun Sungaiterus Laok,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Rayon PT PLN Bawean Djoni Aswinarno mengatakan sampai saat ini masih belum ada tambahan untuk pemasangan listrik baru di Pulau Bawean. Alasannya sumber pembangkit masih belum mampu melayani pelanggan baru.

“Permohonan pemasangan listrik pelanggan baru sudah diajukan sebanyak 5 desa di Pulau Bawean. Semuanya tergantung keputusan atasan untuk melayani pemasangan baru,” pungkasnya. (bst)

Kontraktor Proyek Siluman Enggan Disalahkan

Persoalan proyek siluman di desa Balikterus, Sangkapura akhirnya mendapat respon dari kontraktor pelaksana proyek Rizal Sulaiman. Kontraktor enggan disalahkan dalam pembangunan proyek yang terkesan diam-diam. Sebab, dirinya merasa telah mendapat persetujuan dari Kepala Desa Balikterus termasuk warganya.

"Saya sudah melalui prosedur. Jadi saya siap untuk mempertanggungjawabkan hal ini bila diminta,"ujar Rizal Sulaiman kemarin.

Menurut dia, terkait pekerjaan proyek yang dilakukan secara bergotong royong itu sudah sesuai dengan kesepakatan. Selain itu, pihaknya juga tidak pernah memaksa warga untuk ikut menggarap proyek tersebut. "Itu kemauan warga bergotong royong, tidak ada paksaan,"ujar dia.

Terkait kelebihan anggaran proyek sebesar Rp 52 juta, Rizal tidak bisa menjelaskan dengan lebih rinci. "Tidak bisa saya jelaskan disini,"ungkapnya.

Dikatakan, pihaknya juga membantah adanya tuduhan pemalsuan tanda tangan Kades Balikterus. Sebab, tanda tangan tersebut memang dilakukan sendiri Kades Balikterus. Tidak benar jika kades mengaku tandatangannya dipalsu,"jelasnya..

Sementara itu, Kades Balikterus Abdul Aziz mengatakan persoalan pembangunan proyek siluman di Balikbakhilir belum selesai. "Ini persoalan pemerintahan, bukan soal pribadi. Jadi belum selesai terkait kasus ini,"pungkasnya. (bst)

Proyek Siluman, Pokmas dan Kades Balikterus Merasa Dikibuli



Proyek siluman pembangunan jalan di Desa Balikterus, Kecamatan Sangkapura mulai terkuak. Kemarin, Kelompok Masyarakat (Pokmas) Sajjah yang menerima aliran dana proyek tersebut merasa dikibuli. Penyebabnya, Pokmas hanya dijadikan alat makelar proyek untuk mencairkan anggaran pembangunan jalan dari pemerintah tersebut.

Bendahara Kelompok Masyarakat (Pokmas) Sajjah Marjusi mengaku memang menerima aliran dana untuk pekerjaan proyek yang diduga siluman. Namun, pihaknya mengaku bingung sehubungan tidak tahu menahu asal dana tersebut. “Saya tidak tahu kalau ternyata anggarannya dari pemerintah. Saya kira dari parpol,” ujarnya.

Menurut dia, awalnya ia diajak seseorang bernama Rizal untuk membuat rekening karena dijanjikan dapat proyek. Kemudian, setelah rekening jadi pihaknya kembali ke bank untuk proses pencairan uang proyek tersebut. “Memang awalnya saya diajak Rizal untuk membuat rekening ke bank, tujuannya ada proyek nantinya,” katanya.

Terus terang pihaknya sendiri merasa bingung, karena tidak tahu menahu soal adanya proyek jalan dari pemerintah. Ia kira, uang tersebut dari partai politik, sehingga tidak keberatan saat diajak ke bank untuk mencairkan uang. “Setelah uang dicairkan, saya cuma diberi Rp. 100 ribu saja, katanya untuk uang bensin yang datang ke bank,” ungkap dia.

Menurut Marjusi, dirinya baru mengetahui uang proyek tersebut dari pemerintah setelah mendapat informasi dari Kepala Desa Balikterus. Menurut kades, pihaknya dianggap sudah mencairkan uang proyek dari pemerintah. “Andaikata tahu dari awal tentunya saya tidak bersedia diajak Rizal untuk membuat rekening ataupun mencairkan uang di bank,” paparnya.

Sementara itu, Kades Balikterus, Kecamatan Sangkapura Abdul Aziz mengatakan ada seseorang yang telah memalsukan tanda tangannya. Terbukti, anggaran pembangunan jalan desa tersebut bisa dicairkan Rizal dan Marjusi. “Ironisnya, tandatangan saya juga dipalsu sehingga bisa mencairkan uang di bank,” terangnya.

Ia menambahkan, pembangunan jalan tersebut berasal dari anggaran Biro Api Jawa Timur sebesar Rp 75 juta. Namun anehnya, sesuai informasi warga, jalan yang dibangun ditaksir antara Rp 23 juta sampai Rp 24 juta. “Soalnya untuk pembangunanya dilakukan gotong royong sehingga warga tidak mendapat upah,” pungkas dia. (bst)

Warga Desa Balikterus Dapat Proyek Siluman


Warga Dusun Balikbak Hilir, Desa Balikterus, Kecamatan Sangkapura pertanyakan asal muasal proyek pembangunan jalan di desanya. Sebab, pembangunan jalan tersebut sampai saat ini tidak diketahui menggunakan anggaran apa. Bahkan, dilokasi juga tidak ditemukan adanya papan informasi kontraktor pelaksananya.

Ahdi pelaksana proyek tersebut mengaku mendapatkan semen sebanyak 150 sak, pasir 25 sebanyak colt dan batu koral sebanyak 23 colt dari seseorang.

Kemudian, warga langsung gotong royong untuk membangun jalan tersebut. “Dan saya dipilih menjadi pelaksana proyek,” kata dia.

Menurut dia, total anggaran pembangunan jalan sepanjang 208,5 meter diperkirakan antara Rp 23 juta sampai Rp 24 juta. “Itu total anggaran bahan bangunan yang ada, adapun pekerjaannya warga bergotong royong,” ujarnya.

Terkait dengan pemberi bantuan tersebut, pihaknya mengaku mendapatkannya dari seseorang bernama Rizal warga Desa Kebuntelukdalam. Namun, saat ditanya uang untuk beli ini dari mana yang bersangkutan menjawab warga tidak perlu tahu. “Selama ini Rizal ditanyakan asal usulnya, selalu menjawab tidak perlu tahu asalnya,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Rahmadi, Ketua RT di dusun Balikbakhilir mengaku bingung dengan asal usul proyek yang dibangun di kampungnya. “Apakah ini proyek pemerintah atau bantuan perorangan tidak ada yang tahu,” tuturnya.

Sementara itu, Rizal dihubungi via selulernya menjawab proyek di Balikbakhilir sudah sesuai. “Tidak ada masalahkan,”ujarnya singkat. (bst)

Abdul Azis Unggul Telak Sebagai Kades Balikterus 2 Periode

Media Bawean, 11 Juni 2013


Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di desa Balikterus, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, diselenggarakan hari ini (selasa, 11/6/2013).

Abdul Azis sebagai kepala desa Balikterus yang mencalonkan kembali untuk keduakalinya, berhasil mendulang perolehan suara terbanyak yaitu 765 suara.

Kemenangan telak, kades Balikterus sudah diprediksi sebelumnya oleh banyak orang. Kecintaan warga desa Balikterus berkat keberhasilan Abdul Azis selama menjabat sebagai kepala desa, diantaranya jalan sudah terselesaikan pembangunannya, serta selalu membantu warganya bila mengalami kesulitan ataupun menolong warganya yang sakit. (bst)

Berikut Hasil Penghitungan Suara Pilkades Balikterus
Daftar Pemilih Tetap (DPT) : 1.137
 Calon Nomor 1 (Abdul Azis) : 765 suara 
Calon Nomor 2 (Hatwi) : 203 suara 
Tidak Sah : 11 suara 
Tidak Hadir : 158

Sekcam Sangkapura Kunjungi Warganya di Balikterus

Media Bawean, 19 Juli 2011


Masih ingat dengan berita Rasiati asal Balikterus, Sangkapura yang hidupnya sebatang kara? H. Imam (Sekcam Sangkapura) ketika berkunjung ke Balikterus (senin, 18/9/2011) langsung berkunjung ke rumah Rasiati, bertujuan mengetahui kondisi sebenarnya.

Ketika Rasiati ditemui, sedang aktif mendengarkan radio yang diletakkan didekat kupingnyaa, sehubungan kedua alat pendengarannyaa kurang normal. Terlihat wajah keceriaan Rasiati saat disapa oleh H. Imam, menurutnya meminta maaf atas kekurangannya.

Rasiati adalah sosok perempuan yang hidupnya sebatang kara, dalam kondisi kedua matanya buta dan kedua alat pendengarannya kurang mampu. Rasiati mampu hidup sendirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya seperti memasak ataupun pergi ke sungai.

"Alhamdulillah, sekarang melaksanakan ibadah puasa sunnah, sebenarnya ingin melaksanakan shalat berjamaah tetapi kondisi tidak memungkinkan sehingga dilaksanakan sendiri di rumah,"katanya.

Tidak ada yang istimewa didalam rumah Rasiati yang berukuran sangat kecil, hanya seperangkat alat shalat dan radio sebagai penghibur sehari-harinya. Terlihat didalam panci, ada nasi untuk persiapan berbuka puasa, dengan masak cukup sempurna.

Mat Rusi sebagai Kepala Dusun Balikterus Laok, mengatakan setiap ada bantuan Raskin, selalu diprioritaskan untuk Rasiati untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.

Sedangkan H. Imam (Sekcam Sangkapura) merasa terenyuh dengan kisah Rasiyati, menurutnya sosok Rasiati adalah profil orang serba kekurangan yang hidupnya sebatang kara, serta kondisi fisik serba kekurangan, sehingga layak diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan. (bst)

Puing Bangunan Rumah Bekas Longsor Bawean

Media Bawean, 26 Juni 2011


Tragedi longsor di Pulau Bawean, tepatnya tanggal 6 Maret 2008 (4 tahun) merupakan peristiwa bencana terbesar selama ini. Sebanyak 71 rumah di Pulau Bawean rata dengan tanah dan 18 rumah lainnya retak-retak akibat longsor, serta 35 ekor sapi dilaporkan hilang tertimbun reruntuhan, dua masjid dan empat mushola rusak. Keretakan rumah yang terbelah tetapi tidak ambruk mencapai satu meter lebih.

Media Bawean (sabtu, 25/62011) menelusuri puing-puing bangunan yang ambruk di Dusun Laok Sawah, desa Balikterus, Sangkapura, Pulau Bawean. Terlihat sisa bongkahan tembok serta bekas lantai rata dengan tanah. 

Kepala Desa Balikterus, Abd. Aziz ditemui Media Bawean, mengatakan sampai saat ini berkas bangunan rumah yang roboh atau ambruk, serta rata dengan tanah kondisinya tetap seperti dahulu waktu tragedi bencana.

"Tidak ada satupun warga yang berani tinggal, semuanya memilih tempat yang aman,"katanya.

"Termasuk tanah- tanah milik warga sampai sekarang belum ada yang dikelolah, sehubungan terjadi perubahan struktur tanah akibat bergerak. Banyak tanah warga berupa sawah dan kebun, tidak bisa dimanfaatkan, disebabkan kondisi letak tanah terlalu miring,"jelasnya. (bst)

Budaya Amaen Bawean Dihapus Dengan Kekerasan

Media Bawean, 29 Januari 2011

Budaya amaen anak muda lelaki sama perempuan diwaktu malam hari, yaitu si cowok mendatangi rumah si cewek, termasuk salah satu budaya negatif, seharusnya dihapus total dari bumi Pulau Bawean.

Kepala Desa Balik Terus, Abdul Aziz ditemui Media Bawean, sabtu (29/1/2011) menyatakan mampu menghapus budaya amaen di wilayahnya dengan melalui kekerasan kepada siapapun yang berani amaen diwaktu malam hari.  

"Cara halus sudah tidak mampu, satu-satunya melalui kekerasan sebagai solusi terbaik agar mereka tidak berani amaen dengan mendatangi rumah si cewek,"katanya.

Kekerasan yang dilakukan? "Pertama diperingati, setelah memaksa yach dipukul disuruh pulang,"katanya dengan tegas.

Kenapa menggunakan kekerasan?, "Kepala Dusun dan Hansip sudah tidak mampu menanganinya, sebab mereka melawan dan sebagian menanyakan undang-undangnya larangan amaen,"jawabnya.

Menurut Abd. Aziz, si cowok yang amaen ke rumah cewek, bukan sekedar amaen saja, tapi mereka merusak dengan mengunakan kesempatan mencuri barang-barang seperti handphone, termasuk ayam milik masyarakat.

"Seringkali beroperasi tengah malam dari kampung ke kampung di desa Balik Terus, hanya memantau situasi dan kondisi agar budaya amaen segera hilang,"paparnya.

"Jika si cowok tidak diketahui, hanya sepeda motor yang diketahui tempat parkirnya, maka ban dikempesi dan alat penghubung ke busi akan disita, bila ingin mengambil silahkan datang ke rumah,"ujarnya.

"Alhamdulillah sudah berkurang, dan semakin sempit ruang gerak mereka untuk amaen, termasuk hamil diluar nikah sudah tidak ada,"tuturnya.

Di desa sudah dibuat kesepakatan bersama bahwa jam berkunjung orang luar dibatasi sampai jam 20.00 WIB atau jam 8 malam, terkecuali kunjungan darurat dipersilahkan. (bst)

Sulit Memberantas Amaen Di Pulau Bawean

Media Bawean, 6 September 2009

"Sulit untuk memberantas budaya amaen di Pulau Bawean", begitulah kata Kades Balik Terus Sangkapura Abd. Aziz kepada Media Bawean beberapa hari yang lalu.

"Sudah seringkali, saya melakukan tindakan tegas untuk menghilangkan budaya
amaen, tapi setelah beberapa hari kemudian bisa kambuh kembali," ujarnya.

Apa penyebab kegagalannya? Kades menjawab, "Sebab tidak ada dukungan dari orang tua, justru bila dilarang amaen oleh pihak aparat, justru bukan anaknya yang mendapat teguran, tapi pihak aparat yang mendapat cemohan," jawabnya.


Informasi yang diterima Media Bawean, amaen di Pulau Bawean memiliki jadwal khusus yaitu malam selasa dan jum'at. (bst)

Warga Balik Terus Banting Setir Kerja Ke Brunei Darussalam

Media Bawean, 24 Mei 2009

Warga Balikterus Mau Selip Padi

Di Dusun Sungaiterus Selatan desa Balikterus, banyak warganya memilih kerja ke Brunei Darussalam daripada ke Malaysia ataupun Singapura.

Menurut Musa, mengatakan, "Ada empat orang perempuan kerja rumah makan dan lima orang lelaki kerja bangunan di Brunei Darussalam. Sebentar lagi sudah ada dua orang perempuan siap berangkat kesana," katanya.

"Biayapun lebih mahal kesana (Brunei Darussalam : Red.) daripada ke Malaysia ataupun Singapura, yaitu satu orang biaya sebesar Rp.12 juta," ujarnya.

Kenapa Brunei Darussalam jadi pilihan untuk banting setir warga Balikterus, Musa menjawab, "kemungkinan kerja disana lebih menjanjikan dan gajinya lancar," jawabnya kepada Media Bawean. (bst)

Di Balikterus Selatan Banyak Rumah Ditinggal Ke Malaysia

Media Bawean, 17 Mei 2009

Rumah Ditinggal Pergi Pemiliknya

Rumah Ditinggal Pergi Pemiliknya
Rumah Ditinggal Pergi Pemiliknya

Di Balikterus ternyata banyak rumah yang ditinggal pemiliknya ke Malaysia. Dihitung oleh Media Bawean ada sekitar 5 rumah rusak di dusun Balikterus Selatan desa Balikterus.

Menurut Musa warga setempat kepada Media Bawean (17/5), mengatakan," Yach, inilah rumah yang ditinggal pemiliknya ke Malaysia. Ada yang sering pulang untuk bermain saja, diperbaiki lalu ditinggal lagi," katanya.

"Ada juga yang ditinggal pemiliknya sampai puluhan tahun, yaitu sudah 20 tahun lebih belum pulang," ujar Musa. (bst)

Korban Longsor Bersekolah Ditempat Darurat (2)

Media Bawean, 10 Januari 2009

Ruangan Kelas MI Pasar Angin-Angin

Ruangan Guru Mi Pasar Angin-Angin

Selain rumah yang sudah banyak roboh, ternyata tempat darurat untuk belajar mengajar siswa MI Pasar Angin-Angin sangat memprihatinkan. Rumah penduduk yang dijadikan ruangan sekolah, terbagi dalam 7 ruangan yang sangat kecil-kecil.

Menurut Kepala Madarasah Ibtidaiyah pasar Angin-Angin mengatakan, "jumlah guru pengajar ada 5 guru dan jumlah siswanya sebanyak 30 orang," katanya.

"Sedangkan gedung madrasah yang ada sangat memprihatinkan dan menakutkan disaat hujan, khawatir terjadi gerakan tanah yang mengakibatkan roboh seperti rumah-rumah yang ada didekat sini," ujarnya.

"Kami sangat mengharap adanya bantuan dari Pemerintah untuk gedung belajar mengajar," pintanya. (bst)

Korban Longsor Pasar Angin-Angin Belum Dapat Bantuan (1)

Media Bawean, 9 Januari 2009

Rumah Roboh Di Pasar Angin-Angin Desa Balikterus

Rumah Roboh Di Pasar Angin-Angin Desa Balikterus
Rumah Roboh Di Pasar Angin-Angin Desa Balikterus

Sudah hampir setahun korban longsor yang rumahnya roboh di Pasar Angin-Angin menunggu adanya bantuan dari Pemerintah. Ternyata didaerah lain, seperti Laoksabeh dan Candi sudah mencairkan dana bantuan, warga Pasar Angin-Angin seperesenpun tidak mendapatkan bantuan.

"Kurang apalagi untuk kami mendapatkan bantuan, kondisi rumah
bisa dilihat sendiri yang roboh dan retak-retak," katanya Warga Kepada Media Bawean saat berkunjung Ke Pasar Angin-Angin (9/1).

"Terusterang kami mau pindah tidak memiliki tanah dan dana untuk membangun rumah, terpaksa bertahan dirumah yang sudah hampir robah," katanya.

Sedangkan beberapa rumah yang sudah roboh sebanyak 18 rumah sudah mengungsi ke rumah saudaranya yang ada.

Kepdes Balikterus saat dihubungi Media Bawean, mengatakan, "Kami sudah melakukan permohonan bantuan untuk warga Pasar Angin-Angin, tapi sampai hari ini belum ada kejelasan kapan warga kami mendapat bantuan," katanya. (bst)

Bersambung....

Warga Bertahan Di Lokasi Rawan Bencana

Media Bawean, 14 Oktober 2008

Pasar Angin-Angin adalah salah satu tempat tinggal warga yang termasuk kawasan rawan bencana.

Menurut Mat Abah (70 th.) kepada Media Bawean, mengatakan," Di Pasar Angin-Angin masih ditempati oleh warga dan tidak ada yang pindah ke daerah lain," ujarnya.

"Meskipun kondisi rumah sudah retak-retak, warga masih bertahan tinggal disana. Sebab tidak punya tempat tinggal lagi," kata Mat Abah.

"Bila rumahnya retak, warga akan pindah tempat disekitarnya yang dianggap aman," jelasnya.

Saat ditanyakan oleh Media Bawean, apa mendapat bantuan dari Pemerintah? Mat Abar balik bertanya, "Bantuan apa Nak? (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean