Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label BAWEAN PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAWEAN PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

Belajar Pertanian Kepada Ahlinya
(Ir. Fathurahman)

Media Bawean, 3 Maret 2015





Siang hari ( 2/3/15) di desa Kebuntelukdalam. Sawah hijau menghampar bak permadani. Gemericik air dari pematang sawah mengalir merdu. Mendung tebal berarak di angkasa. Angin basah membelai wajah puluhan siswa MA Hasan Jufri yang sedang belajar ilmu pertanian kepada Ir. Fathurahman. Mantan kepala desa Kebuntelukdalam ini dikenal sebagai petani yang inovatif.

Ketekunannya membuahkan hasil yang gemilang. Beragam jenis sayuran dan buah-buahan ia hasilkan dari beberapa petak sawahnya. Seperti cabe,terong,kacang panjang,kolbis,sawi dan semangka dengan kualitas jempolan. Pada musimnya ia juga menanam padi seperti petani yang lain.

Para siswa belajar langsung mulai dari teknik pembibitan, perawatan, panen dan pemasaran. Ir. Fathurahman dengan telaten menjawab pertanyaan dari para siswa dan menunjukkan langsung contoh tanaman yang ada di sawah. “ Bawean ini tanahnya subur. Jika kita bisa memanfaatkan dengan baik maka kita tidak akan kekuarangan. Syaratnya harus tahu ilmunya. Jangan malu bertanya. Terus menanam dan belajar ” ujarnya.

Di tempat yang sama bapak Hijamudin, S.Pd (guru pendamping) menyampaikan harapannya kepada para siswa agar memanfaatkan waktunya untuk menanam sayuran di lahan kosong sekitar rumah. “Tanamlah sayuran di sekitar rumah kita. Paling tidak cukup untuk kebutuhan dapur sendiri. Ini konsep ketahanan pangan yang mulai ditinggalkan para pemuda. Yang riil bagi kita adalah bahwa semua kita butuh makan tiap hari. Jangan beli terus. Karena kita juga bisa menghasilkan” tutunya serius.

Diakhir pertemuan Ir. Fathurahman juga memberi nasehat kepada para siswa “ Menjadi petani itu sangat mulia. Petani memberi makan orang seluruh dunia” pungkas alumni fakultas pertanian UMM Malang ini.(kuncoro11)

Desa Daun Banjir Buah Rambutan

Media Bawean, 16 Januari 2015


Anda ingin menikmati buah rambutan, silahkan saja pergi ke desa Daun, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik. Hampir disepanjang jalan di Daun Laut, terpajang buah rambutan untuk dijual kepada pembeli.

Suhofi asal Daun Barat dihubungi Media Bawean (rabu, 14/1/2015) membenarkan terjadinya banjir buah rambutan di desa Daun. "Hampir disetiap halaman rumah warga terlihat pohon rambutan sedang mamerkan buahnya,"katanya.

"Jika ingin menikmatinya silahkan saja datang ke Daun, dijamin buahnya enak untuk dinikmati,"paparnya.

Ditanya asal usul buah rambutan di desa Daun, pegawai UPT. Perhubungan Bawean menjelaskan buah rambutan pertama masuk ke desa Daun dibawah Hapas (Almarhum), yaitu tahun 1986. "Sebelumnya juga ada buah rambutan tapi tidak semanis yang masuk mulai tahun 1986,"tuturnya.

"Genarasi selanjutnya  Bahrut dan Muhlas yang mendatangkan bibit dari Pulau Jawa dalam jumlah sangat banyak,"jelasnya.

"Setelah itu, hampir setiap warga di Daun memiliki pohon rambutan yang ditanam di halaman rumah ataupun di kebun,"jelasnya.

Menurutnya desa Daun termasuk paling cocok untuk menanam pohon rambutan, dibuktikan setiap musim buah selalu banjir rambutan.

Hasilnya menurutnya warga Daun sudah merasakan sendiri, selain dimakan bersama keluarga, juga dijual kepada pembeli secara otomatis meningkatkan perekonomian kerakyatan. (bst)

PT. Petrokimia Gresik
Siap Suplay 560 Ton ke Bawean

Media Bawean, 8 Januari 2015

Kelangkaan pupuk tingkat tinggi di Pulau Bawean, Gresik, ternyata sudah diantisipasi oleh pihak Koperasi Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik (K3PG) dengan menyediakan 560 ton sudah siap untuk dikirim.

Didik dari pihak Koperasi Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik (K3PG) dihubungi Media Bawean via selulernya (rabu, 7/1/2015), membenarkan adanya persediaan pupuk sebanyak 560 ton siap dikirim ke Pulau Bawean untuk mengatasi kelangkaan yang terjadi.

"Sekarang masih menunggu kesiapan dari pihak jasa transportasi untuk mengangkut pupuk ke Pulau Bawean,"ujarnya.

"Besok pagi (hari ini) akan dikoordinasikan kepada pihak transportir terkait pengiriman pupuk yang informasinya akan menggunakan perahu besar untuk mengangkut stok yang lebih banyak,"jelasnya. (bst)

Pulau Bawean Terancam Gagal Panen
Kelangkaan Pupuk Tingkat Tinggi

Media Bawean, 8 Januari 2015

Petani diseluruh Pulau Bawean, Gresik mengeluhkan kelangkaan pupuk yang terjadi, padahal bercocok tanam sudah dilakukannya sejak beberapa minggu lalu.

Kelangkaan pupuk terjadi dipicu minimnya pengiriman dari Pulau Jawa ke Pulau Bawean. 

Informasi yang dihimpun Media Bawean, untuk seluruh kecamatan Tambak belum menerima suplay pupuk, sedangkan kecamatan Sangkapura masih menerima suplay bulan desember dan januari.

Mamat pemilik kios pupuk bersubsidi di Sangkapura membenarkan adanya kelangkaan pupuk yang terjadi diakibatkan minimnya pengiriman dari Pulau Bawean. Padahal menurutnya sudah DO sejak 3 bulan yang lalu. "Adapun pupuk yang diterkirim sekarang masih belum mencapai 1% dari kebutuhan petani di Pulau Bawean.

Hal senada diungkapkan Mustain pemilik kios di Tambak, mengatakan kelangkaan pupuk terjadi disebabkan tidak ada pengiriman dari Gresik. "Melihat kondisi petani di Pulau Bawean tentunya merasa kasihan sehubungan terancam gagal panen,"katanya.

Lailatul Mukarromah, Kepala UPT Pertanian di Pulau Bawean membenarkan adanya kondisi kelangkaan Pupuk di wilayah kerjanya. "Kelangkaan pupuk bukan hanya di Pulau Bawean saja, di Gresik juga mengalami hal yang sama,"ujarnya.

"Kemarin sudah tersuplay sebanyak 25 ton milik kios di Sangkapura, itupun tidak ada tersuplay ke Tambak,"paparnya.

Sesuai informasi yang diterima menurut Irma (nama panggilannya) menyatakan persediaan pupuk untuk jatah Pulau Bawean sudah siap kirim ada di Gresik. "Pulau Bawean diprioritaskan oleh pihak PT. Petrokimia Gresik untuk pengiriman pupuk. Insya Allah seminggu lagi akan terkirim sebanyak 560 ton,"jelasnya.

"Wajar bila petani mengeluh sehubungan sekarang waktu pupuk pertama menjelang pupuk kedua. Apalagi pupuk merupakan kebutuhan pokok untuk tanaman di sawah. Bila tanpa pupuk secara otomatis akan gagal panen,"terangnya.

Untuk mengatasi kelangkaan pupuk di Pulau Bawean, UPT. Pertanian Pulau Bawean rutin melakukan koordinasi bersama Dinas Pertanian Gresik,penyuplai dari Petrokimia, termasuk bersama pemilik kios di Pulau Bawean. (bst)

BPTP Jatim Blusukan ke Pulau Bawean
Untuk Kedaulatan Pangan Masyarakat

Media Bawean, 2 November 2014


Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur blusukan datang ke Pulau Bawean, tepatnya di desa Gunungteguh, kecamatan Sangkapura, Gresik (sabtu, 1/11/2014). Kegiatan Pekan Agroinovasi di Bawean dalam rangka HUT Badan Litbangtan ke-40, bertemakan “Penjajagan Model Blusukan untuk Menumbuhkan Kedaulatan Pangan Masyarakat Pulau Bawean”.

Kedatangan tamu BPTP sebanyak 40 orang dalam rangka HUT Badan Litbangtan ke-40 disambut meriah di desa Gunungteguh, diantaranya pegelaran pencak silat Bawean dan kesenian dungkah.

Spontan rombongan yang berjumlah sebanyak 29 orang merasa terharu gembira atas sambutan warga desa Gunungteguh. "Sungguh luar biasa sambutan warga atas kedatangan rombongan BPTP,"kata Untung.

Kegiatan yang digelar selama 4 hari, tadi malam digelar acara pembukaan yang dihadiri seluruh rombongan, juga hadir Camat Sangkapura, Abdul Adim bersama seluruh perangkat desa Gunungteguh, serta masyarakat umum di desa Gunungteguh.

Dalam sambutannya, Abdul Haris, Kepala Desa Gunungteguh menyatakan senang dan menyambut gembira atas kedatangan seluruh tamu BPTP dalam Kegiatan Pekan Agroinovasi di Pulau Bawean yang dipusatkan di desa Gunungteguh.

"Kegiatan BPTP di desa Gunungteguh sudah memberikan manfaat besar kepada seluruh warga, dibuktikan setiap rumah tangga sudah menanam yang dikemas dalam polybag,"katanya.

Tim Kedaulatan Pangan (TKP) sesuai dilansir web BPTP Jawa Timur, akan melaksanakan tiga kegiatan utama, yaitu melakukan pelatihan budidaya beberapa sayuran sampai dengan olahannya, budidaya ternak dan PTT padi. Kedua, melaksanakan pemahaman wilayah secara cepat (RRA: Rapid Rural Apraisal). Ketiga, melakukan replikasi KRPL di dusun terdekat. Dari ketiga kegiatan itu diharapkan, masyarakat dapat memperoleh bekal teknologi yang diperlukan. BPTP Jatim akan memperoleh bahan-bahan evaluasi kegiatan ke depan di Bawean maupun di kepulauan lain di Jatim.

Peserta pelatihan adalah petani setempat. Dari 30 desa seluruh Pulau Bawean, masing-masing diwakili oleh dua orang peserta. Khusus untuk Desa Gunung Teguh, akan diwakili oleh 20 orang peserta. Hal itu mengingat desa ini merupakan lokasi KRPL BPTP Jatim yang sudah dimulai sejak bulan April 2014.

“Dari sisi waktu dan jumlah peserta, mungkin terlalu kecil untuk diharapkan dampaknya secara cepat dalam skala Bawean. Oleh karena itu, BPTP Jatim masih aan terus melanjutkan pendampingan, sekaligus melayani kebutuhan teknologi yang berkembang di masyarakat Bawean”, ungkap Kasi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian, Saiful Hosni, SP.

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka Pekan Bhakti Balitbangtan ini mengambil tema “Penjajagan Model Blusukan untuk Menumbuhkan Kedaulatan Pangan Masyarakat Pulau Bawean”. Dalam kesempatan itu BPTP Jatim menyalurkan bantuan benih padi kelas FS sebanyak 1,5 kuintal dan berbagai bahan usahatani sayur untuk replikasi KRPL. Didukung oleh PT Petrokimia Gresik, akan menyumbangkan pupuk 1,5 kuintal.

Atas permintaan Kades Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura, Bawean, Abdul Haris, BPTP Jatim juga menghadirkan Ketua RW 23, Kel. Purwantoro, Kec. Blimbing, kota Malang, Ir. Bambang Irianto, sebagai narasumber manajemen sampah rumah tangga. RW 23 adalah salah satu wilayah binaan BPTP Jatim yang berhasil menyabet berbagai penghargaan di tingkat Kota Malang dalam kegiatan penghijauan dan pengelolaan lingkungan. (bst)

Berburu Tikus di Desa Bululanjang

Media Bawean, 10 September 2014


Selama ini tikus tidak pernah laku dijual ke pasar, tapi kemarin (selasa, 9/9/2014) tikus dibeli Rp.500 per ekor dalam kegiatan memburu dan menangkapnya di Pesawahan Duku Durin, desa Bululanjang, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Kegiatan UPTD Pertanian Pulau Bawean bekerjasama dengan pemerintahan desa Bululanjang dihadiri Abdul Adim, Camat Sangkapura bersama aparat Muspika yang terjun langsung memburu dan menangkap tikus di sawah.

Sebelum acara pemburuan dimulai, Parto dari UPTD Pertanian menjelaskan tata cara memburu tikus, termasuk pemberian racun yang dibakar agar keluar dari sarangnya.

Sedangkan Umar, kades Bululanjang mengatakan kegiatan memburu dan menangkap tikus merupakan rutinitas tahunan untuk meningkatkan hasil pertanian di wilayahnya. Untuk memotivasi seluruh peserta, kades siap membeli tikus hasil tangkapan dengan harga Rp.500 per ekornya.

Dibantu siswa sekolah di SDN Bululanjang, aksi pemburuan tikus berlangsung seru dan penuh semangat dengan menggali lubang-lubang sarangnya di sawah.

Abdul Adim, Camat Sangkapura mengapresiasi kegiatan pemburuan tikus dan penangkapannya termasuk kegiatan layak ditiru oleh petani yang lain untuk meningkatkan hasil panen. Untuk mendukung kegiatan, seluruh aparat kecamatan Sangkapura bersama anggota Polsek dan Koramil terjun langsung ke sawah untuk turut memburu dan menangkap tikus.

Mardiyah dari Penyuluh Pertanian di Sangkapura menyatakan tikus termasuk perusak hasil panen di sawah. "Buktinya, banyak hasil panen gagal disebabkan dimakan tikus,"tuturnya.

Selesai panen, menurut Mardiyah, banyak tikus membuat sarang di sawah, setelah proses penanaman sampai tumbuh akan keluar untuk memakan buah padi. "Solusinya sekarang ini untuk memburu dan menangkap tikus nakal di sawah,"paparnya.

Setelah proses pemburuan dan penangkapan selesai, hasilnya terkumpul sebanyak 41 ekor tikus yang berhasil dimusnahkan. (bst)

Pulau Bawean Terancam Gagal Panen
Menunggu Turun Hujan dari Langit

Media Bawean, 14 Februari 2014


Petani di Pulau Bawean meratapi sawah miliknya terancam gagal panen tahun ini, sehubungan hujan tak kunjung turun dari langit.

Abd. Aziz, Kepala UPTD Pertanian Bawean dihubungi Media Bawean (jum'at, 14/2/2014) mengatakan hasil pertanian diseluruh Pulau Bawean terancam gagal panen, sehubungan hujan yang diharapkan untuk mengairi sawah ternyata tidak kunjung turun.

Setelah berkeliling ke seluruh desa di Pulau Bawean, Abd. Aziz menyatakan hampir seluruh sawah mengalami persoalan yang sama, yaitu mengalami kekeringan akibat tidak ada hujan selama sebulan lamanya.

"Hanya sawah terdekat irigasi saja yang tumbuh subur tanpa ada persoalan kekurangan air, itupun jumlahnya sangat terbatas,"katanya.

"Sungguh kasihan bagi petani yang menanam padi lebih awal, sudah dipastikan akan gagal panen sehubungan padi sudah mengandung tanpa ada air,"ujarnya.

Sedangkan petani yang menanam waktu akhir, menurutnya masih bisa diharapkan bisa tumbuh subur bila beberapa hari kemudian turun hujan. "Jika tidak turun hujan, dipastikan akan gagal panen juga,"tuturnya.

"Sebagian besar sawah di Pulau Bawean mengandalkan pengairannya menunggu turunnya air hujan, jika terjadi permasalahan seperti sekarang tidak turun hujan maka ancaman besar akan gagal panen,"terangnya  

"Jika seminggu kedepan masih belum turun hujan, sudah dipastikan Pulau Bawean akan gagal panen tahun ini,"tegasnya.

Abdul Adim, Camat Sangkapura membenarkan kondisi sawah banyak yang kering sehubungan hujan tak kunjung turun di bumi Pulau Bawean.

Apakah gagal panen akan mengancam paceklik di Pulau Bawean? Camat menyatakan tidak bakalan paceklik walaupun gagal panen. "Warga sudah memiliki persediaan padi yang disimpan dalam lumbungnya yang tercukupi untuk memenuhi kebutuhannya,"terangnya.

Disinggung soal jatah beras raskin, menurutnya beras raskin sudah ada yang berhak menerimanya, tidak bisa dibagikan kepada seluruh warga terkena dampak gagal panen. (bst).

Menggelar Shalat Memohon Hujan
Petani Bawean Terancam Gagal Panen

Media Bawean, 10 Fabruari 2014


Warga desa Bululanjang, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik menggelar shalat minta hujan (Istisqa'), yang dilaksanakan hari minggu (9/2/2014) bertempat di Lapangan desa Bululanjang.

Istisqa’ adalah memohon kepada Allah SWT. turunnya hujan karena kebutuhan hidup atas air sangat mendesak. Dengan demikian shalat istisqa’ berarti shalat yang dilakukan dalam rangka memohon hujan kepada Yang Maha Kuasa. Shalat Istisqa hukumnya sunnah muakkadah berdasarkan hadits nabi :

وسلم يستسقي فجعل الى الناس ظهره واستقبل القبلة وحول رداءه 
Rasulullah saw. keluar meminta hujan, beliau memunggungi jama’ah dan menghadap kiblat, mengubah posisi selendangnya, (HR. Muslim).

Akhwan, SH. Anggota DPRD Kabupaten Gresik dihubungi Media Bawean (minggu, 9/2/2014) mengatakan sudah melaksanakan shalat memohon hujan kepada Allah SWT. bersama seluruh warga di desa Bululanjang.

"Sungguh sangat memprihatinkan dengan kondisi pertanian di Pulau Bawean, semoga do'a seluruh warga desa Bululanjang dikabulkan, sehingga sawah yang sudah mengering bisa kembali tumbuh subur,"katanya.

Shalat Istisqa' diikuti sebanyak 600 orang asal desa Bululanjang, hadir Kyai Zubaidi Homaili (Rois Syuriah PCNU Bawean), Akhwan, SH. (Anggota DPRD Kabupaten Gresik), KH. Zakariyah (tokoh desa Bululanjang), dan lain-lain.

Umar, kepala desa Bululanjang menyatakan sawah milik warganya sudah mengering, hampir dipastikan untuk tahun ini mengalami gagal panen sehubungan tidak turun hujan mulai sejak penanaman benih sampai sekarang.

"Sungguh sedih melihat kondisi masyarakat, sawahnya terancam gagal panen. Lahan pertanian di sawah merupakan penunjang bagi warga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,"paparnya.

"Sebelumnya, hasil panen di sawah mencukupi untuk mencukupi kebutuhan makan selama setahun, tapi kondisi tahun ini sepertinya mengancam seluruh warga akan kekurangan beras,"terangnya.

Menurutnya, pemerintahan desa sudah mengintruksikan kepada seluruh warga agar gabah hasil panen tahun sebelumnya tetap disimpan di rumah. "Dilarang untuk dijual kepada orang lain,"tuturnya. (bst)

Pulau Bawean Memasuki Musim Tanam
Petugas Siap Perang Melawan Hama

Media Bawean, 4 Januari 2014



Memasuki waktu musim hujan, warga Pulau Bawean kembali turun ke sawah untuk bercocok tanam. 

Kaum ibu yang bercocok tanam di sawah disapa Media Bawean (sabtu, 3/1/2014), menyatakan sudah musimnya untuk memulai menggarap sawah yang dimilikinya. "Saya berprofesi bercocoktanam di sawah mendapatkan upah Rp.50ribu perharinya,"katanya.

"Lumayan untuk menambah penghasilan suami, apalagi saya termasuk warga Duku, desa Sungairujing yang rumahnya terancam hilang karena terkena longsor,"ujarnya.

H. Shaleh, pemilik sawah mengatakan sudah musimnya warga Bawean menggarap sawah yang dimilikinya.

"Gaji pekerja sebesar Rp.50ribu dengan makan 2 kali selama sehari,"paparnya.

Abd. Aziz, Kepala UPT Dinas Pertanian di Pulau Bawean membenarkan Pulau Bawean sudah memasuki waktu memulai bercocok tanam di sawah. "Di seluruh Pulau Bawean, petani sudah mulai menggarap sawahnya,"tuturnya.

Menurutnya, petani di Pulau Bawean dengan bercocok tanam dengan menggunakan jajar legowo diperkirakan sudah mencapai 40%, sedangkan 60% masih menggunakan cara yang lama.

"Untuk kebutuhan pupuk masih tercukupi, apalagi petani tergolong miskin mendapat bantuan gratis dari pemerintah,"jelasnya.

Adapun antisipasi perang melawan hama yang merusak tanaman petani, Abd. Aziz mengaku sudah mempersiapkan obat-obatan lengkap di kantor. "Jika terjadi kerusakan tanaman seperti tahun lalu, petugas sudah siap mengantisipasinya,"terangnya. (bst)

Buah Seribu Rasa dari Pulau Bawean
Makan Apapun Rasanya Manis

Media Bawean, 28 Mei 2013


Warga Desa Daun, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik dihebohkan penemuan buah seribu rasa. Buah setelah dimakan, lalu makan apapun akan terasa manis selama berjam-jam lamanya.

Wal hasil, sebelumnya buah seribu rasa tidak memiliki nilai jual dipasaran, langsung dicari banyak peminatnya dengan harga jual perpohon antara Rp. 300 ribu sampai Rp. 500 ribu.

Abd. Aziz sebagai Kepala Desa Daun, mengatakan bahwa buah seribu rasa sebelumnya diberi nama SEMPOL. "Untuk menaikkan nilainya serta menyesuaikan buah setelah dirasakannya, lalu diberi nama buah seribu rasa,"katanya.

"Dijamin setelah mengkonsumsi buah seribu rasa, makan apapun akan terasa manis, termasuk makan garam juga terasa manis tidak asin,"paparnya.

Awal ditemukannya buah seribu rasa, menurut Kades Daun, setelah diperintah oleh salah satu tokoh di Pulau Bawean untuk mencari buah yang bisa merubah rasa dari pahit menjadi manis.

Syahidan Fuad sebagai sekretaris Gapoktan desa Daun menyatakan pencarian buah seribu rasa melalui medan yang sulit, yaitu mencari masuk ke hutan rimba. "Itupun memerlukan waktu lama untuk menemukannya,"ujarnya.

"Sangatlah wajar bila harganya naik drastis, sehubungan warga yang mencarinya membutuhkan waktu melalui medan yang penuh tantangan,"jelasnya.

Naik harga buah seribu rasa, membuat banyak warga melakukan pencarian ke dalam hutan. Hasilnya lalu di jual kepada warga setempat yang mengumpulkan untuk dijual kepada peminatnya dari berbagai daerah di Pulau Bawean. (bst)

Buah Mentega asal Desa Daun
Juara III Kontes Buah Se- Jawa Timur

Media Bawean, 27 Mei 2013 


Pulau Bawean kaya dengan buah-buahan, diantaranya buah mentega asal Desa Daun, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik ditetapkan sebagai juara III dalam Kontes Buah Gebyar GAB Hortikultura se- Provinsi Jawa Timur.

Sambari Halim Radianto sebagai Bupati Gresik dalam acara Sambung Rasa, menyatakan buah mentega sudah berhasil menjuarai kontes buah se- Jawa Timur, sebagai juara III. "Dinas Pertanian Gresik segera melakukan pendataan pohon mentega se- Pulau Bawean, selanjutnya diberi bantuan dana untuk perawatannya,"katanya.

Buah mentega ditetapkan  sebagai buah lokal terbaik ke III dalam festival komoditas unggulan buah lokal se-Jawa Timur tahun 2013. Atas prestasi yang diraihnya, desa Daun menerima hadiah sebesar Rp. 1 juta.

Abd. Aziz sebagai Kepala Desa Daun, mengatakan buah mentega sama dengan buah merah, tapi buahnya putih dan rasa mentega. 

Menurutnya, se- desa Daun hanya ada 2 pohon mentega. "Terdahulunya jumlahnya sangat banyak, sehubungan buahnya tidak memiliki harga sehingga warga memilih ditebang,"paparnya.

"Kedepan tentunya pohon yang ada akan dirawat dengan baik, lalu akan melakukan gerakan penanaman pohon mentega di desa Daun,"ujarnya.

Informasi sesuai data dari Dinas Pertanian, jumlahnya buah mentega sebanyak 15 pohon se- Pulau Bawean. (bst)

Hasil Panen Padi Terancam Menurun
Akibat Wabah Hama Wereng di Bawean

Media Bawean, 19 Februari 2013 


Kabar buruk bagi petani di Pulau Bawean, akibat mewabahnya hama wereng di Pulau Bawean akan mengancam hasil panen padi tahun ini akan menurun drastis.

Abd. Aziz sebagai Kepala UPT. Petanian Pulau Bawean dihubungi Media Bawean (selasa, 19/2/2013) menyatakan hama wereng telah menyerang seluruh kawasan pertanian di Pulau Bawean.

Sebagai antisipasi, pihak UPT Petanian Bawean telah membagikan obat pembasmi hama wereng kepada petani secara gratis. "Berhubung sekarang belum ada kapal, sehingga pengiriman masih terkendala ada di Gresik,"katanya.

Menurutnya, hama wereng jenisnya berbentuk coklat, sedangkan pertama kali masuknya hama ke Pulau Bawean, sekitar dua tahun yang lalu ketika ada salah satu warga yang menanam padi sari wangi di Poktan Gunung Lanjang, desa Bululanjang.

"Sehubungan kondisi perubahan cuaca, yaitu tertlalu lembab sehingga hama wereng mewabah hampir merata di Pulau Bawean,"ujarnya.

"Jika umur padi masih belum berbuah, ada harapan besar masih bisa diselamatkan, walaupun hasilnya nanti akan ada penurunan. Sebaliknya jika umur padi sudah berbuah dan terkena hama wereng sudah dipastikan akan tidak menghasilkan alias gagal panen,"terangnya.

"Bagi petani di Pulau Bawean, yang mengetahui tanaman padinya sudah kena wabah hama wereng agar segera menghubungi ketua poktan setempat atau melaporkan langsung kepada petugas pertanian untuk mendapatkan bantuan obat pembasmi hama,"pungkasnya. (bst)

Layak Ditiru Oleh Warga Bawean
Manfaatkan Lahan Sawah Untuk Bertani

Media Bawean, 24 Agustus 2012 


Setelah panen raya di Pulau Bawean, terlihat bayak lahan pertanian untuk bercocok tanam padi yang menganggur sehubungan warganya tidak mempunyai gairah atau rangsangan memanfaatkannya,

Sebagai percontohan, Darul sebagai anggota Koramil Sangkapura memanfaatkan lahan pertanian milik warga dengan menanam cabe, terong, jagung dan tomat.

Hasilnya setelah Media Bawean membuktikan (jum'at, 24/8/2012), lumayan banyak dan menghasilkan. Menurut Darul, tanaman yang dikelolanya sebatas sampingan saja setelah pulang dari kantor.

"Dengan menanam cabe jenis lokal, cabe besar, cabe thailand dan tomat, serta jagung ternyata tumbuh subur ditanam di sawah sebanyak 3 bidang,"katanya.

"Tanaman cabe sebanyak 600 bibit dalam waktu singkat yaitu, 1,5 bulan sudah bisa dipetik buahnya, setiap minggu dipanen bisa menghasilkan Rp.500 ribu,"paparnya.

Darul menyatakan lahan persawahan di Pulau Bawean ternyata cukup bagus untuk dikelola sebagai ladang pertanian setelah bercocok tanam padi, diantara keisitimewannya ada tanah beranjangan yang mendukung tanaman tumbuh subur.

Selain dijual, hasil pertanian yang dikelola oleh Darul telah dibebaskan untuk tetangga dekatnya untuk menikmati hasil tanamannya, disebabkan ada lahan khusus yang bebas untuk diambil.

Sedangkan permintaan pasar di Pulau Bawean, terangnya sangat tinggi. "Permintaan dari pedagang di pasar sangat tinggi, jangan khawatir hasil bercocok tanam tidak laku dijual ke pasar,"terangnya.

"Semoga percontohan dengan menanam di sawah setelah panen raya, bisa ditiru oleh warga Pulau Bawean yang lain sehingga tidak ada istilah lahan menganggur,"harapannya. (bst)

Pohon Pisang Berbuah 4 Tandan
Di Sawah Laut, desa Sawahmulya

Media Bawean, 18 April 2012

Sungguh inovatif penemuan Iwan asal Sawahlaut, desa Sawahmulyan, Sangkapura, Pulau Bawean, yaitu satu pohon pisang berbuah sebanyak 4 tandan.

Ditemui Media Bawean (rabu, 18/4/2012), Iwan mengatakan pohon pisang berbuah 4 tandan asalnya diberi orang. "Setelah ditanam ternyata ada keanehan dibanding pohon pisang yang lain,"katanya.

"Keanehan yang muncul selalu dipelajari setiap hari  penyebab keanehan pohon pisang yang ditanamnya. Setelah ditanam beberapa bulan, pisang tersebut mulai bercabang menjadi 2, selanjutnya setiap cabang berbuah sebanyak 2 tandan,"jelasnya.

"Setelah 6 bulan lamanya, pohon pisang dengan 4 tandan buah mulai memasak, kemudian ambilnya untuk dimakan,"ujarnya.

Setelahnya, Iwan kembali menanam pisang dengan tata cara penanaman yang sama ternyata sekarang mulai bercabang seperti penanaman sebelumnya.

Iwan punya prediksi yang sama, pohon pisang yang ditanam akan kembali berbuah dengan 4 tandan.

Bagaimana resep dan tata cara penanaman? Iwan menjawab masih merahasikan belum saatnya diberit`kan kepada publik dengan alasan masih tahapan uji coba tahap kedua. (bst)

Panen Raya Kawasan Barat Bawean
Untung Banyak, Warga Senang

Media Bawean, 15 April 2012


Senyuman manis para petani di kawasan barat Pulau Bawean, setelah mengetahui hasil panen tahun ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.  

Penen raya di kawasan barat Pulau Bawean dimulai sejak hari kamis (12/4/2012), area sawah di Telukjatidawang sudah habis di panen, sedangkan  di Gelam masih terlihat hanya sebagian sudah di panen.

Pantauan Media Bawean (minggu, 15/4/2012) terlihat aktivitas warga baik lelaki maupun kaum perempuan turun ke sawah, melakukan panen dengan memakai sabit, dilanjutkan merontokkan hasilnya, lalu dibersihkan, kemudian diangkut pulang ke rumah.

Didi sebagai petani asal desa Gelam mengatakan hasil penen tahun ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.

Tetapi sebagian petani mengungkapkan, seperti yang disampaikan Laila menyatakan hasil panen tahun ini justru menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Entah apa penyebabnya, sehingga hasil panen bisa berkurang,"katanya.

Sepenjang jalan lingkar Pulau Bawean, terlihat banyak hamparan padi dijemur dipinggir jalan oleh pemiliknya. Juga banyak warga sedang membersihkan hasil panen dengan memanfaatkan angin untuk membersihkannya. (bst)

Buah Surga Di Bawean Tak Berharga

Media Bawean, 9 April 2012


Apakah Anda pernah merasakan kelezatan buah surga asal Pulau Bawean? Bila belum, silahkan mencoba kemudian bandingkan dengan rasa buah-buahan lainnya. Tentunya buah surga atau dikenal buah merah akan memiliki rasa berbeda lebih lezat dan gurih.

Buah merah termasuk jenis buah-buahan sampai sekarang belum ditemukan spesies tumbuhannya. Keistimewaannya, pohon buah merah hanya tumbuh dan berbuah di Pulau Bawean. Ironisnya buah ini tidak memiliki harga atau kurang laku dijual ke pasar, sehingga warga Pulau Bawean merasa enggan untuk merawat atau menanamnya.

Sampai sekarang buah merah tidak memiliki nama, jenisnya berbeda dengan buah merah asal Papua. Basofi Sudirman sebagai mantan Gubernur Jawa Timur ketika kunjungan kerja ke Pulau Bawean merasa tertarik untuk menikmati rasa buah merah. Setelah merasakan kenikmatan dan kelezatannya, beliau spontanitas memberikan nama buah merah menjadi buah surga asal Pulau Bawean.

Abd. Aziz sebagai Kepala Balai Penyuluhan  Pertanian (BPP) kecamatan Tambak, mengatakan buah merah di Pulau Bawean sudah mulai langkah, alasannya tidak memiliki harga jual di pasaran. "Dahulu pohon buah merah banyak tumbuh disetiap kampung, sekarang tinggal hitungan jari saja,"katanya.

Menurutnya, perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah, agar buah merah (buah surga) yang hanya tumbuh di Pulau Bawean tetap dilestarikan serta dikembangkan sehingga memiliki nilai jual dan berharga.

"Dinas Pertanian Gresik pernah mengambil bibit tanaman buah merah asal Pulau Bawean, ternyata pohonnya sampai sekarang belum berbuah,"ujarnya.

"Perlu adanya penelitian khusus agar pohon buah merah memiliki nama, serta diketahui khasiat yang dikandungnya,"paparnya.

Bagaimana rasa buah merah? "Enak, lezat dan gurih. Berbeda dengan buah-buahan lainnya terasa lemak, dan manis. Terasa sangat nikmat bila di juz,"jawabnya.

Perlu diketahui, musim buah merah di Pulau Bawean mulai bulan april sampai bulan agustus. Ciri-ciri buahnya ada semacam duri-duri kecil, setelah memegang langsung digarukkan ke rambut langsung hilang durinya. Jenisnya ada dua macam, yaitu buah merah dengan warna merah dan buah merah mantega berwarna putih.

Nur Yasin sebagai warga Sawahmulya, Sangkapura menyatakan dahulu di kampungnya banyak tumbuh pohon buah merah. "Bila musimnya, silahkan mengambil dan memakan sepuasnya tidak dijual alias gratis,"pungkasnya.

"Tapi sekarang sudah banyak ditebangi oleh warga, sehubungan buahnya tidak laku dijual ke pasar, serta adanya mitos bahwa pohonnya sebagai rumah makhluk halus,"ungkapnya. (bst)

Muspika Kecamatan Sangkapura
Kompak Mengikuti Panen Raya

Media Bawean, 2 April 2012


Panen raya padi jajar legowo sebagai proyek percontohan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Sangkapura di desa Patarselamat, diadakan hari senin (2/4/2012). Hadir dengan kompak Muspika kecamatan Sangkapura, yaitu H. Imam sebagai Camat Sangkapura, AKP. H. Zamzani, SH. sebagai Kapolsek Sangkapura dan Kapten Inf. Amin Kurdi sebagai Komandan Koramil Sangkapura, mengikuti acara panen raya yang dihadiri tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan panen raya ditandai dengan pemotongan padi secara bersamaan oleh Muspika kecamatan Sangkapura. Selanjutnya hasilnya diserahkan kepada pegawai BPP kecamatan Sangkapura untuk dilakukan pengukuran guna mengetahui hasil tingkat keberhasilan penanaman padi.

Mardiyah sebagai Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Sangkapura, mengatakan ada tiga tempat proyek percontohan penanaman padi jajar legowo, yaitu Dusun Patar, Dusun Disallam dan Dusun Sukela.

"Adapun tingkat keberhasilannya setelah dilakukan pengukuran, diketahui perhektar tanaman padi jajar legowo memperoleh 7,5 ton,"katanya.

"Selisih antara penanaman padi sistem tanam jajar legowo dengan penanaman padi umumnya yaitu 3 sampai 3,5 ton perhektarnya,"ujarnya.

"Harapannya, atas keberhasilan penanaman padi dengan cara jajar legowo semestinya masyarakat mencontoh agar memperoleh hasil tanam lebih banyak,"jelasnya.

Kapten Inf. Amin Kurdi sebagai Komandan Koramil Sangkapura, menyatakan dari awal penanaman sampai panen selalu mengikuti proyek percotohan penanaman padi dengan cara jajar legowo.

"Atas keberhasilan penanaman dengan cara jajar legowo, semestinya dicontoh oleh masyarakat dengan melakukan penanaman yang sama agar memperoleh hasil panen lebih banyak,"terangnya.

Merespon keberhasilan, AKP. H. Zamzani SH. mengajak kepada masyarakat agar merubah sistem penanaman padi sesuai petunjuk dan pengarahan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan Sangkapura.

"Merubah pola lama dengan tata cara yang tepat dan benar tentunya membawa keberuntungan besar kepada seluruh petani untuk meningkatkan hasil panen lebih banyak,"pungkasnya.

H. Imam sebagai Camat Sangkapura, mengatakan keberhasilan pertanian tidak terlepas dari ketersediaan pupuk yang mencukupi, sehingga pemantauan atas kebutuhan petani akan selalu dilakukan setiap saat. (bst)

Kios Pupuk Menjual Melebihi HET
Izinnya Terancam Dicabut

Media Bawean, 29 Maret 2012


Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Gresik menggelar workshop bertema "Pernilaian Integritas dan Akuntabilitas Pupuk Bersubsidi, hari kamis (29/3/2012), bertempat di Gedung Graha Petrokimia Gresik.

Hadir instansi dan dinas terkait, perwakilan petrokimia, distributor, ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan), serta petani dari berbagai daerah di Gresik.

Membahas persoalan pendistribusan pupuk bersubsidi di Pulau Bawean, hadir Homaidi sebagai ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) dari Pudakit Timur menyampaikan permasalahan yaitu keterlabatan pupuk dan pembayaran uang dimuka tapi barang belum diterima sampai sekarang. Serta menyampaikan tingginya harga jual pupuk di Pulau Bawean, yaitu jenis urea per sak Rp.105.000.

Abd. Manan Hadi dari PT. Petrokimia Gresik merespon persoalan di Pulau Bawean, mengakui memang benar pendistribusian pupuk ke Pulau Bawean mengalami keterlambatan disebabkan kondisi cuaca buruk. 

"Akibat cuaca buruk sehingga mengalami kesulitan mencari transportasi pengangkutan laut, menunggu sampai kondisi cuaca kembali normal,"katanya.

Rencananya kedepan, menurut Abd. Manan Hadi, untuk mengatasi permasalahan kondisi cuaca maka solusinya akan mencari gudang penampungan pupuk di Pulau Bawean, sehingga permasalahan kelangkaan bisa teratasi.

"Terkait soal harga jual harus sesuai harga eceran tertinggi, sesuai peraturan Rp,80.000 per sak, harusnya ditaati oleh kios di Pulau Bawean,"ujarnya.

"Bila menjual melebihi HET, silahkan laporkan melalui call center PT. Petrokimia Gresik (08001636363 atau 08001888777) saluran bebas pulsa,"terangnya.

"Laporan tentunya akan segera ditindaklanjuti, bila terbukti maka izin kios terancam untuk dicabut,"pungkasnya dengan nada tegas. (bst)

Panen Raya Di Pudakit Barat
Jajar Legowo Menguntungkan Petani

Media Bawean, 26 Maret 2012


Penanaman padi melalui tekhnik atau tata cara yang benar akan menghasilkan tanaman lebih banyak dibanding menggunakan pola lama yang berkembang di masyarakat Pulau Bawean. Terbukti hasil panen raya padi jajar legowo di desa Pudakit Barat, kecamatan Sangkapura, Gresik yang dilaksanakan hari senin (26/3/2012) telah menghasilkan lebih banyak dibandingkan penanaman biasa.

Panen raya proyek percontohan Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Sangkapura, ditandai perontokan padi oleh H. Imam sebagai Camat Sangkapura didampingi Mardiyah sebagai Kepala BPP Kecamatan Sangkapura, anggota Koramil Sangkapura, Kasi Kesra Sangkapura dan Kepala Desa Pudakit Barat.

Mardiyah sebagai Kepala  Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Sangkapura, mengatakan hasil panen padi jenis Inpari dengan tanam sistem jajar legowo tenryata hasilnya lebih banyak dibandingkan tanaman biasa. "Setelah dilakukan pengukuran hasilnya setiap 1 hektar tanaman bisa memperoleh 6,8 ton, sedangkan tanaman bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton,"katanya.

"Harapannya kepada seluruh petani di kecamatan Sangkapura agar melakukan penanaman dengam sistem jajar legowo, agar hasilnya lebih banyak,"ujarnya.

Menurutnya, semestinya hasilnya bila baik untuk perhektar bisa menghasilkan sampai 10 ton. "Tapi berhubungan situasi dan kondisi cuaca seperti hujan tengah malam, termasuk kecukupan air snagat berpegaruh terhadap hasil panen,"paparnya.

"Selama ini, penanaman padi dengan cara jajar legowo oleh orang Bawean ditakuti, dikarenakan berjajar dan kurang menyakinkan bila dilihat. Padahal ruas benih yang ditanam hanya 1 dan 2 saja, sedangkan penanaman biasa 5 sampai 10. Sedangkan hasil tanaman jajar legowo mencapai 50  tangkai dan tanaman biasa hanya 25 saja,"terangnya.

Perlu diketahui Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Sangkapura dalam masa tanam tahun 2012 ada 3 temp`t binaan, yaitu desa Pudakit Barat, desa Patarselamat dan desa Gunungteguh.

H. Imam sebagai Camat Sangkapura merespon gembira atas keberhasilan tanaman padi jajar legowo di desa Pudakit Barat. "Seharusnya masyarakat mengikuti pola atau tata cara yang disosialisasikan oleh Dinas Pertanian agar tanaman menghasilkan lebih banyak,"pungkasnya.

Sedangkan Sawidi sebagai Kepala Desa Pudakit Barat, setelah melihat keberhasilan cocok tanam, maka semua warga akan dianjurkan menggunakan cara tanam jajar legowo.

Junaidi sebagai pemilik sawah yang ditanami dengan cara jeaar legowo menyatakan akan melanjutkan menggunakan tata cara yang sama untuk penanaman selanjutnya. "Bila menghasilkan lebih banyak, kenapa harus menggunakan cara biasa yang hasilnya sedikit,"ungkapnya dengan tersenyum.

Setelah melakukan panen raya, Mardiyah sebagai Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Sangkapura mengajak seluruh rombongan melihat tanaman padi jajar legowo dikawasan lain di desa Pudakit Barat. (bst)

Petani Terancam Gagal Panen
Akibat Kurangnya Curah Hujan

Media Bawean, 29 Januari 2012


Kurangnya curah hujan di Pulau Bawean membawa dampak banyaknya sawah milik warga yang mengalami kekurangan air. Hampir diseluruh Pulau Bawean, khususnya sawah tidak ada irigasi mengalami kekeringan.

Kesedihan dan kesusahan menghantui para petani, setelah mereka mengeluarkan modal besar untuk bercocok tanam ternyata harapannya terancam gagal panen akibat curah hujan yang minim, sementara fasilitas irigasi tidak ada.

Idam asal Tambak, sebagai petani asal Tambak yang memiliki sawah di kawasan Sungairaya Lebak mengatakan tanamannya terancam gagal panen, setelah tidak ada hujan, sedangkan irigasi didekat sawahnya tidak bisa difungsikan. "Kita hanya bisa pasrah dan berdo'a, sedangkan modalnya untuk menggarap sawah sekitar harganya sepeda motor yang baru,"katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Sudirman asal Pudakit Timur, mengatakan petani banyak resah sehubungan kurangnya curah hujan, hampir seluruh sawah dikawasan barat mengalami kekeringan tidak ada airnya.

Abd. Aziz sebagai sebagai Kepala Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Tambak, membenarkan adanya banyak sawah di Pulau Bawean yang mengalami kekeringan akibat kurangnya curah hujan.

"Bila kondisi kekeringan sekarang dalam berumur muda masih ada hujan, besar harapan hasil penen masih bisa diharapkan bagus, tetapi bila seminggu kedepan masih belum ada hujan tentunya berdampak untuk gagal penen,"paparnya.

Kekeringan menurut Abd. Aziz bisa diantisipasi dengan memanfaatkan air sungai melalui irigasi, tapi permasalahannya untuk pembangunan irigasi memang wewenang Dinas Pertanian, sedangkan pembangunan dam penampungan air adalah wewenang Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

"Masalahnya di Pulau Bawean, yang banyak mengalami kerusakan adalah dam penampungan air sungai yang seharusnya segara dilakukan pembangunan oleh Dinas PU,"ujar Abd. Aziz.

Sedangkan Mardiyah sebagai Kepala Balai Penyuluhan Pertanian kecamatan Sangkapura menyatakan kondisi sawah di Sangkapura masih banyak yang berair, hanya di kawasan Pulangasih, Sungairujing yang kekurangan air.

Pernyataan Mardiyah bertolak belakang, setelah Media Bawean meninjau langsung kondisi sawah di bagian barat mulai desa Lebak hingga Pudakit Barat, (minggu, 29/1/2012), ternyata hampir seluruh sawah mengalami kekeringan tidak ada airnya. Terlihat kondisi tanah pecah-pecah kehausan ingin air.

M. Zen sebagai Kepala UPT PU Bawean dihubungi Media Bawean mengatakan hampir 60 sampai 70 % kondisi dam penampungan air sungai di Pulau Bawean mengalami rusak total. "Sudah seringkali dilaporkan kondisi setiap dam, tetapi sampai sekarang belum ada pembangunan yang berdampak merugikan kepada petani,"terangnya.

"Laporan sudah dikirim tentang kerusakan dam, tapi kapan pembangunan dilaksanakan sampai sekarang belum ada titik terang,"jelasnya.

Kepala Dinas PU Kabupaten Gresik, Tugas Husni Syarwanto dihubungi via ponselnya, menyatakan laporan tentang kerusakan dam di Pulau Bawean akan segera ditindaklanjuti. "Memang dam penampungan air sungai adalah wewenang Dinas PU, sedangkan irigasinya adalah wewenang Dinas Pertanian,"pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean