Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label NAHDLIYIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NAHDLIYIN. Tampilkan semua postingan

Refleksi Harlah NU ke-90



Tulisan : Ali Asyhar (Dosen STAIHA dan Wakil Ketua PCNU)

Awal tahun 1900-an Kaum Wahabi semakin bengis . Mereka menyebarkan fahamnya dengan kekerasan. Siapa saja yang berbeda dengan mereka dibinasakan. Kaum Wahabi adalah penganut ajaran Muhamad bin Abdul Wahab di Nejed. Ciri-ciri ajaran Wahabi adalah gampang mengkafirkan sesama muslim. Mereka menyatakan bahwa ziarah kubur adalah perbuatan syirik dan bidah dhalalah. Akibatnya : kuburan Mala diratakan dengan tanah, ribuan makam sahabat Nabi di Baqi juga dihancurkan. Selangkah lagi mereka juga akan menghancurkan makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar di Madinah.

Di masa ini pula negeri-negeri islam mulai bangkit dari penjajahan. Di Hindia Belanda (sebutan Indonesia saat itu) Dr. Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo yang bercirikan nasionalisme. Perlawanan bersenjata mulai diganti dengan perlawanan organisasi modern. Pedang berganti pena. Ribuan warga pribumi bergabung di BO. Kemudian disusul dengan berdirinya Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam, Muhamadiyah, Indische Partij, Taman Siswa dll.

Tahun 1914 KH. Wahab Hasbullah pulang dari belajar di Mekah. Kepulangan Kiai Wahab ke Indonesia membawa 2 misi. Pertama : Menghadang penyebaran ajaran Wahabi yang mulai masuk ke Nusantara ( Sumatera) . Kedua : Mendorong kemerdekaan bangsa Indonesia. Para Kiai menyadari bahwa penjajah Belanda bukan hanya mengeruk kekayaan tetapi juga menyebarkan ajaran Kristen. Kiai Wahab membuat forum diskusi di Surabaya yang diberi nama Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran). Di dalam diskusi ini dirumuskan bersama konsep keislaman dan ke-Indonesiaan serta tahapan-tahapan menuju Indonesia merdeka. Tak lupa perdebatan tentang modernisasi islam. Aktif dalam diskusi tersebut antara lain : Kiai Wahab, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz, Kiai Mas Mansyur, Kiai Thohir Bakri dan tokoh-tokoh pemuda Surabaya.

Kajian Tashwirul Afkar menelorkan kesepakatan tentang pendirian madrasah Nahdlatul Wathan ( Kebangkitan Tanah Air). Madrasah ini disiapkan untuk mengkader calon-calon pemimpin bangsa. Sebagian pengasuh NW adalah : Kiai Wahab, Kiai Bisyri Syansuri, Kiai Cholil Kasingan Rembang, Kiai Abdul Halim Cirebon, Kiai Mashum dan Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz dll. Cabang cabang NW mulai berdiri di berbagai daerah. Di tahun ini juga Kiai Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan Saudagar). Tujuannya adalah menyatukan saudagar santri yang masih berserak.

Tahun 1915 Dunia internasional bergolak. Perang dunia I meluas. Blok Barat yang dimotori oleh Jerman dan Inggris menggempur Italia yang didukung oleh Kesultanan Turki Utsmaniyah (Ottoman) . Dinasti Turki Utsmaniyah adalah satu-satunya imperium islam yang multinasional, terkuat dan multi bahasa. Imperium ini membentang dari Eropa, Afrika Utara sampai tanduk Afrika. Kekalahan Italia dan tentara Ustmaniyah dalam perang dunia I menyebabkan Dinasti islam ini melemah. Puncaknya , terjadi perang saudara antara Sultan Mahmud 2 melawan Musthafa Kemal Attaturk yang mengusung nasionalisme. Porak-porandanya dinasti Utsmaniyah dimanfaatkan oleh Syarif Husen bin Ali untuk melepaskan diri dan menobatkan dirinya sebagai raja Hijaz (Makah-Madinah). Ia berhasil melepaskan diri dari Dinasti Ustmaniyah tahun 1917. Di saat yang sama, kaum Wahabi juga mendorong Ibnu Saud yang ambisius untuk merebut Nejed dari tangan Ustmaniyah. Koalisi Ibnu Saud dan Muhamad bin Abdul Wahab semakin kuat. Dinasti Ustmaniyah resmi bubar pada tanggal 1 Nopember 1922 setelah kalah berperang melawan Musthafa Kemal Attaturk. Propinsinya menjelma menjadi negara-negara merdeka.

Tahun 1923 KH. Wahab Hasbullah sowan kepada Hadratusyaikh Hasyim Asyari Jombang. Beliau menyampaikan perkembangan Nahdlatul Wathan dan keinginan para Kiai Pondok Pesantren untuk membentuk jamiyah ( organisasi). Jamiyah ini sangat diperlukan untuk menyatukan kekuatan dalam menghadapi gerakan Wahabi yang semakin brutal. Mereka sudah berani masuk-masuk kampung dan menjelek-jelekkan amaliyah para santri seperti tahlilan, ziarah kubur, istighatsah dan shalawatan. Gesekan kaum santri dengan Wahabi semakin meluas. KH. Hasyim Asyari belum memberikan respon. Beliau sangat hati-hati dan meminta pertolongan Allah.

Keresahan KH. Hasyim Asyari dirasakan juga oleh Syaikhona Khalil Bangkalan. Segera beliau menyuruh santri sekaligus cucunya sendiri yakni Kiai Asad Syamsul Arifin untuk sowan menemui Kiai Hasyim. Kiai Hasyim menerima tongkat dari Kiai Asad dan bacaan surat Thaha ayat 17 23. Beliau memahami bahwa gurunya tersebut merestui berdirinya jamiyahnya para ulama. Pada tahun 1924, di Mekah terjadi peristiwa penting. Ibnu Saud merebut Hijaz. Raja Syarif Husen melarikan diri ke Aman Yordania. Kaum Wahabi semakin merajalela.

Tahun 1925 Syaikhona Khalil Bangkalan kembali mengutus Kiai Asad sowan kepada Kiai Hasyim untuk menyerahkan tasbih dan bacaan Ya Jabbar, Ya Qahhar. Semakin mantaplah hati Kiai Hasyim. Namun beliau memerlukan restu juga dari Habib Hasyim Pekalongan dan Kiai Nawawi bin Noer Hasan Sidogiri. Habib Hasyim memberikan restu. Begitu pula Kiai Nawawi sembari berpesan agar NU tidak main-main dengan uang. Bila membutuhkan uang maka anggotanya harus urunan. Syaikhona Khalil wafat pada tahun 29 Ramadlan 1343 / 1925.

Kekejaman kaum Wahabi di Mekah dan sekitarnya semakin mengerikan. Mereka membumi hanguskan kota Thaif, membakar kitab-kitab tulisan para ulama dan menghancurkan makam-makam sahabat. Bahkan tempat-tempat bersejarah juga diluluh lantakkan. Rumah Abdul Muthalib dijadikan WC dan rumah Abu Thalib dijadikan kandang khimar. Mereka sengaja mengejek para ulama dan habaib. Merespon hal ini para Kiai berkumpul di Kertopaten Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 / 31 Januari 1926. Mereka sepakat membentuk Komite Hijaz dengan membawa 2 tuntutan. Pertama : Kaum Wahabi tidak boleh mengusik makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar di Madinah. Kedua : Para tamu Allah yang hadir di Makah-Madinah diberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan madzhabnya masing-masing. Misi berhasil. Raja Ibnu Saud mengabulkan permohonan para ulama Nusantara. Komite Hijaz ini diwakili oleh Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Fathurahman dan Hasan Gipo. Para kiai juga menyepakati berdirinya jamiyah yang diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama). Nama ini adalah usulan dari KH. Mas Alwi Abdul Aziz Surabaya.

Menjelang Muktamar NU pertama, jamiyah ini belum memiliki lambang. Kiai Wahab meminta kepada Kiai Ridlwan Abdulah untuk membuatnya. Kiai sepuh dari Surabaya ini dikenal jago melukis dan menulis kaligrafi Arab. Setelah shalat istikharah, kiai Ridlwan berhasil membuat gambar bumi sesuai mimpinya. Gambar ini di setujui oleh Kiai Hasyim Asyari. Beliau meminta agar gambar ini disowankan dulu kepada Kiai Nawawi. Kiai Sidogiri ini juga menyetujui dan menambahkan gambar tali yang mengikat bumi. Beliau dawuh Selama gambar tali itu masih melingkari bumi maka NU tidak akan pernah sirna. Tali yang melingkari bumi ini berjumlah 99 lilitan sesuai dengan asmaul husna. Pada saat pelaksanaan Muktamar, wakil dari pemerintah Belanda menanyakan arti lambang NU tersebut. Spontan Kiai Ridlwan Abdullah menjelaskannya meski tanpa persiapan. Pertolongan Allah datang kepada hamba-Nya yang ikhlas.

Di era awal, tiap tahun NU menggelar Muktamar. Hal ini wajar karena jumlah cabang belum banyak. Cabang NU pertama adalah Blora Jawa Tengah. Rais Akbar NU adalah Hadratusyaikh Hasyim Asyari. Sedangkan ketua Tanfidziyah pertama adalah Hasan Gipo. Saudagar keturunan Arab ini dikenal tangkas dan pemberani. Suatu hari ia menantang Muso untuk membuktikan bahwa tuhan itu ada. Keduanya duduk di rel untuk menunggu kereta lewat. Setelah kereta mendekat, spontan Muso lari terbirit-birit. Gembong komunis itu ternyata takut mati.

Akhirnya, selamat memperingati harlah NU. Semoga warga NU semakin berkualitas.

Nyai Hj Azizah Terpilih sebagai Ketua PC Muslimat



Nyai Hj Azizah Mahsuni terpilih sebagai Ketua PC Muslimat NU Bawean lima tahun kedepan. Pada Konferensi PC Muslimat NU Bawean Azizah unggul mutlak dengan memperoleh 41 suara, sedangkan calon ketua lainya Hj Fatimah hanya memperoleh 1 suara, Wiwin Suryaningsih 1 suara dan Halisatun Najiyah dapat 3 suara.

Azizah mengatakan kepengurusan muslimat NU Bawean akan dipadukan antara pengurus lama dan merekrut pengurus wajah baru untuk regenerasi. Perlu adanya keseriusan dalam menggerakkan ormas kaum ibu, khususnya dalam pemberdayaan serta keaktifan perkumpulan. Diantaranya kegiatan 3 bulan sekali akan menggelar pengajian akbar secara bergiliran disetiap desa.

Mengatasi persoalan kaum ibu di Pulau Bawean, Muslimat NU akan menggerakkan seluruh kepengurusan dari tingkat cabang sampai ranting. “Organisasi Muslimat NU harus aktif sebagai wadah kaum ibu untuk kemajuan bersama,”pungkasnya.

Jadwal konfrensi Muslimat Bawean sebenarnya digelar sebulan lalu. Namun rencananya itu batal lantaran terkendala cuaca baruk. Perwakilan Mulimat Jatim tidak bisa hadir ke Bawean karena tak ada kapal yang berlayar. “Baru saat ini bisa digelar, alhamdulillah berjalan lancar,” katanya. (bst)

Tidak Ada Kapal, Konferensi Muslimat Bawean Ditunda

Media Bawean, 1 Oktober 2015


Masih buruknya transportasi menuju Pulau Bawean membuat konferensi VII PC Muslimat NU Bawean gagal dilaksanakan. Penyebabnya, pengurus Muslimat NU Jatim gagal berlayar menuju pulau paling utara Gresik lantaran tidak mendapatkan kapal.

Ketua PC Muslimat NU Bawean Hj Fatimah mengatakan sudah melakukan persiapan untuk pelaksanaan acara, termasuk undangan sudah disebar seluruh Pulau Bawean. “Pengurus Wilayah Muslimat Jawa Timur juga sudah siap berangkat ke Pulau Bawean, tapi kapalnya tidak berangkat karena gelombang tinggi,” katanya.

Akhirnya undangan yang tersebar ditarik kembali sehubungan pelaksanaan konferensi ditunda sampai waktu belum ditentukan.

Sementara itu, Kepala Cabang PT Pelayaran SIM Gresik Reven Putra membenarkan kapal dilarang berangkat oleh petugas sehubungan gelombang tinggi sampai 3 meter di perairan laut jawa. “Untuk keberangkatan selanjutnya masih menunggu kondisi cuaca baik, sesuai hasil prakiraan BMKG ketinggian gelombang mencapai 3 meter sampai 3,5 meter,” terangnya.

Sementara itu, KMP Gili Iyang dari Paciran tujuan Pulau Bawean sesuai jadwal hari rabu malam kamis juga dilarang berangkat oleh petugas di Pelabuhan Paciran.Suhaemi, petugas ASDP Pulau Bawean menyatakan KMP. Gili Iyang tidak berangkat sehubungan adanya larangan dari petugas. “Ada surat dilarang berangkat dikarenakan gelombang tinggi sampai 3 meter,” pungkasnya.(bst)

Muslimat Ranting Sawahmulya Gelar Qurban

Media Bawean, 25 September 2015






Pengurus Ranting Muslimat NU Sawahmulya, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik menggelar pemotongan hewan qurban, hari kamis (24/9/2015).

Program rutin setiap tahun sejak tahun 1998 digelar dengan penuh keakraban antar sesama anggota Muslimat di desa Sawahmulya. Untuk tahun ini memotong 3 ekor sapi dan 4 ekor kambing.

Pemotongan hewan qurban dipimpin langsung oleh KH. Hazin, beliau langsung menyembelih hewan qurban yang bantu warga kampung.

Raden Khorriyah, sebagai pemimpin jamaah pengajian Muslimat Sawahmulya mengatakan pelaksanaan ibadah qurban rutin dilaksanakan setiap tahun dari hasil tabungan anggota muslimat.

Sebagai pimpinan jamaah, Raden Khorriyah mengaku gembira atas kekempokan anggotanya sebanyak 80 orang yang disebar di desa Sawahmulya. "Untuk pelaksanaan hewan qurban tahun ini juga diikuti warga dari Singapura dan Malaysia,"paparnya.

Adapun hasil pemotongan hewan qurban akan diprioritaskan untuk kaum dhuafa dan fakir miskin di desa Sawahmulya. (bst)

Awalnya Gegeran & Akhirnya Ger-Ger-An

Media Bawean, 7 Agustus 2015 
Oleh : Ali Asyhar (Wakil ketua PCNU Bawean dan dosen STAIHA)


Sebagian orang cemas melihat kondisi hari pertama Muktamar NU ke 33 di Jombang. Muktamar yang dibuka oleh presiden Jokowi malam sebelumnya yang nyaris sempurna tiba-tiba gaduh. Rapat pleno pengesahan tatib yang dipimpin oleh Slamet Efendy Yusuf berjalan alot. Peserta muktamar terbelah dalam menyikapi persoalan bagaimana cara memilih rais am. Sebagian mendukung dengan sistem ahlul halli wal aqdi (Ahwa / formatur) dan sebagian lagi memilih untuk diserahkan langsung kepada muktamirin.

Kedua faksi sama-sama memiliki alasan kuat. Kelompok pertama beralasan bahwa rais am adalah adalah imamnya para kiai. Sangat tidak elok antas apabila dipertandingkan. Kelompok kedua beralasan bahwa para peserta muktamar adalah wakil dari warga NU. Jadi mereka berhak menentukan pemimpinnya.

Alotnya pembahasan tatib ini berlanjut sampai hari kedua. Di tengah kebuntuan ini pejabat rais am yakni KH. Musthafa Bisri turun gunung. Ia menyerukan agar tata cara pemilihan rais am diserahkan kepada dewan syuriah. Dewan syuriah akan bermusyawarah. Walhasil, mayoritas memilih sistem ahlul halli wal aqdi.

Akhlaqul karimah


Pelajaran penting dari arena mukatamar NU kali ini adalah akhlaqul karimah. Sepanas-panasnya perbedaan pandangan para muktamirin namun ketika rais am sudah dawuh maka semuanya menerima. Mereka bisa menyingkirkan kepentingan masing-masing. Suasana sidang pleno yang awalnya tegang berubah syahdu oleh alunan shalawat badar. Air mata bercucuran.

Martin Van Bruineseen, seorang islamolog dari Belanda menyatakan bahwa NU selalu memiliki cara untuk mengurai situasi yang sulit. Martin adalah pemerhati NU kawakan. Kehadirannya di arena muktamar Jombang ini adalah yang pertama sejak Gus Dur tidak lagi di PBNU.

Kerendahan hati dan keihkalasan Gus Mus (KH. Musthafa Bisri) berlanjut. Ketika 9 kiai anggota ahlul halli wal aqdi memilihnya untuk menjadi rais am, ia tidak bersedia. Penolakannya ini bukan karena pembangkangan namun lebih kepada keteladanan. Jabatan adalah beban. Bila engkau merasa berat maka jangan engkau terima. Endingnya, rais am dijabat oleh KH. Makruf Amin (cucu Kiai Nawawi Banten).

Asa’d Said Juga mundur

Pada saat pemilihan ketua umum PBNU, kembali keteladanan itu kita dapatkan. Meski banyak nama beredar sebelumnya namun ketika pemilihan tahap 1 selesai maka perolehan suara adalah: KH. Said Aqil Siradj : 207 sedangkan As’ad Said Ali: 107. Pemilihan akan dilanjutkan tahap ke 2. Sekonyong-konyong Asad Said Ali meminta waktu untuk menyatakan : mempersilahkan KH. Said Aqil Siradj untuk menjadi ketua umum.

Panggung muktamar NU berakhir amat sejuk. Sikap kerendahan hati para kiai terbukti mampu menjadi inspirasi. Dinamika yang terjadi di awal muktamar adalah gambaran keteguhan hati untuk mempertahankan pendapat. Para kiai sudah sangat terbiasa berdebat dalam bahtsul masail. Namun ketawadhu’annya lebih dominan.

Pernik-pernik Muktamar NU Jombang


Jombang menjadi lautan masa bersarung. Muktamar ke 33 ini dilaksanakan di 4 pesantren ternama yaitu : Tebuireng, Tambakberas, Denanyar dan Rejoso. Para peserta menginap di 4 pesantren tersebut dan berkumpul di satu titik yakni alon-alon Jombang. Di sinilah tempat pembukaan dan sidang-sidang pleno.

Lalu lalang para kiai, ibu-ibu muslimat, Fatayat, Banser, Pagar Nusa dan semua banom serta lembaga begitu kentara.. Permusyawaratan para kiai ini menarik banyak gerbong. Semua media cetak dan elektronik hadir dan mewartakan setiap saat. Para tukang ojek, abang becak, penjual nasi pecel, souvenir, buku hatta tukang pijat kebagian rizki. Para muktamirin yang kecapekan berhenti sejenak untuk diurut leher dan kepalanya. Para penggembira juga ikut dibuat bersuka ria oleh pentas musik religi dan Rhoma Irama.

Muktamirin asal Pulau Bawean
Berziarah ke Makam Gus Dur

Media Bawean, 3 Agustus 2015

Lantunan shalawat dan ayat-ayat suci Alquran terus mengalun tak henti-hentinya di Kompleks Pemakaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berlokasi di Dusun Seblak, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Tampak orang tua, anak muda, laki-laki, dan perempuan duduk bersimpuh di tempat yang telah disediakan untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. di makam cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Di luar kompleks, para penziarah yang sebagian besar adalah peserta Muktamar Ke-33 NU terus berdatangan membentuk barisan yang tak putus-putus mulai dari gang Cukir hingga ke depan kompleks pemakaman.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean Abdul Halim Al Hasyi mengaku, menyempatkan diri berziarah ke makam Gus Dur karena kebetulan tengah mengikuti Muktamar NU di Jombang.

”Bagi peserta dan penggembira muktamar, ziarah ke makam Gus Dur memiliki daya tarik sendiri. Saya rombongan PCNU Bawean, Gresik dan keluarga selain menghadiri konvensi juga berziarah dan mengunjungi anak yang sedang belajar di sini,” ungkapnya.

Ada banyak manfaat yang diambil dari berziarah ke makam Gus Dur, selain melakukan tapak tilas juga memberikan spirit bagi anak-anak untuk mengenal NU dan tokoh - tokohnya lebih dekat.

”Saya ingin bagaimana anak-anak mengenal dan merasakan betul suasana NU itu sendiri karena saya sebagai pengurus cabang ini adalah momen yang efektif untuk memperkenalkan sejak dini anak-anak tentang NU,” katanya.

Rombongan PCNU Bawean Berangkat
Menuju Muktamar NU di Jombang

Media Bawean, 29 Juli 2015



Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-33 akan digelar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 1-5 Agustus 2015. Rencananya, Presiden Joko Widodo diundang untuk membuka Muktamar NU ini dan Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menutup Muktamar NU.

PCNU Bawean mengirim utusan sebanyak 30 orang untuk mengikuti Muktamar NU ke- 33 di Jombang. Utusan PCNU Bawean, diantaranya KH. Nizar, KH. Umar Faruq, Kyai Masyhud dan lainnya, terlihat naik kapal Express Bahari 8E menuju Gresik (29/7/2016).

Halim Alhasy sebagai koordinator Utusan Muktamar PCNU Bawean mengatakan sebanyak 30 utusan telah berangkat menuju arena muktamar di Jombang.

"Hari ini berangkat sebanyak 20 orang, sedangkan 10 orang lainnya sudah menunggu di Gresik,"katanya.

"Rencananya akan berangkat menuju arena Muktamar di Jombang direncanakan hari jum'at (31/7/2015),"paparnya.

Muhammad Faozi, Ketua PCNU Bawean ditemui Media Bawean setelah pembukaan PORSEMA ke-12, menyatakan sebanyak 30 orang sebagai utusan PCNU Bawean sudah siap mengikuti Muktamar NU di Jombang.

"Persiapan sudah matang, rencananya keberangkatan tidak sama sehubungan masih ada keperluan lain di Gresik,"jelasnya.

Menurutnya PCNU Bawean siap mengikuti Muktamar ke-33 di Jombang, termasuk mengikuti seluruh rangkain acara mulai pembukaan (tanggal 1 Agustus 2015) sampai penutupan (5 Agustus 2015). (bst)

Ranting NU Lebak Gelar Lailatul Ijtima' Kegiatan Sosial Santuni Anak Yatim

Media Bawean, 20 Februari 2014


Untuk ke sekian kalinya Pengurus NU ranting Lebak memberikan santunan kepada anak yatim. Pemberian santunan ini berbarengan dengan kegiatan lailatul ijtima yang rutin dilaksanakan sekali dalam sebulan.

Salah satu Program Tahunan Pengurus Ranting NU Lebak adalah Bakti Sosial yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Pada tahun 2013 (03 Maret 2013), Bakti Sosial ini diwujudkan dengan Kegiatan Sunnatan Massal untuk 14 anak kurang mampu yang berasal dari 7 Dusun di Desa Lebak.

Pada tahun 2014 ini, Bakti Sosial Pengurus Ranting NU Lebak diwujudkan dengan Kegiatan Pemberian Santunan kepada 35 (tiga puluh lima) anak yatim yang berasal dari 7 Dusun se-Desa Lebak. Setiap anak mendapatkan santunan sebesar Rp. 70.000,- (Tujuh puluh ribu rupiah).

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Kegiatan bulanan Pengurus Ranting NU Lebak yakni Kegiatan Lailatul Ijtima; yang dilaksanakan pada hari Sabtu (malam Ahad) tanggal 15 Februari 2014 yang bertempat di Masjid Baiturrahim Dusun Tanjung Anyar Desa Lebak.

Ketua NU ranting Lebak , Moh.Ilyas, S.Pdi menjelaskan bahwa santunan bagi anak yatim adalah kegiatan rutin dalam setiap kegiatan. “ Di setiap kegiatan NU ranting Lebak kami selalu memberikan santunan kepada anak yatim dan orang miskin. Jumlahnya bervariasi sesuai dengan kemampuan kami” ujarnya.

Kegiatan lailatul ijtima kali ini bertempat di masjid Tanjung Anyar Lebak Sangkapura. Setelah pembacaan surat Yasin dan istighasah dilanjutkan kajian aswaja dan pemberian santunan bagi 34 anak yatim. Uang santunan ini berasal dari kas NU ranting Lebak dan para donator. Diantaranya adalah bapak Nur Syamsi Sangkapura.

NU ranting Lebak adalah satu diantara beberapa ranting NU yang aktif. Kini ranting yang giat mengaktifkan Lazis NU ini juga memberi beasiswa bagi pelajar di tingkat dasar dan menengah. Wakil Ketua PCNU Bawean R.Abdul Aziz ,MM. memuji kegiatan-kegiatan tersebut. “ Semoga ranting NU yang lain segera mengikuti. Aktifkan kegiatannya baik kegiatan ritual maupun sosial” tambahnya.

Pelantikan Pengurus
MWCNU Sangkapura & MWCNU Lebak

Media Bawean, 22 Oktober 2013


Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Sangkapura dan Lebak telah dilantik oleh Pengurus Cabang NU Bawean, tadi malam (senin, 21/10/2013).

Pelantikan hasil konferensi MWCNU di desa Gunungteguh, dengan keputusan pemekaran menjadi 2 MWCNU, yaitu MWCNU Sangkapura terpilih Kyai Masyhud sebagai Rois Syuriah dan Moh. Yusuf sebagai Ketua Tanfidziyah, sedangkan MWCNU Lebak  terpilih KH. Zainuddin sebagai Rois Syuriah dan Hanafi sebagai Ketua Tanfidziyah.

Hadir dalam acara pelantikan para ulama se- Pulau Bawean, Pengurus NU se- Pulau Bawean, serta jamaah pengajian dengan penceramah KHR. Moh. Kholil As'ad Syamsul Arifin (Pengasuh Pesantren Walisongo, Mimbaan, Panji, Situbondo).

Mengawali ceramahnya, beliau mendo'akan semoga pengurus NU yang sudah dilantik bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik.

M. Fauzi (Ketua PCNU Bawean) mengatakan pengurus MWCNU Sangkapura dan Lebak melihat komposisinya termasuk pilihan yang terbaik serta tangguh. "Mereka akan mampu melaksanakan seluruh program dengan baik, bisa jadi pengurus cabang ditinggal jauh,"jelasnya.

Pelantikan MWCU yang dihadiri sekitar 15ribu warga nahdhiyin dipimpin oleh Gus Ali Asyhar, dilajutka ucapakan selamat dari Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Bawean kepada pengurus yang dilantiknya.

Melihat dominasi struktur kepungurusan MWCNU Lebak, semua kepala desa dijadikan pengurus. Sedangkan kepengurusan MWCNU Sangkapura sepertinya kepala desa tidak masuk dalam kepungurusan. (bst)

Upacara Harlah NU di Pulau Bawean

Media Bawean, 26 Mei 2013 


Memperingati hari lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) ke- 90, Pengurus Cabang NU (PCNU) Bawean menggelar upacara bendera bertempat di Alun-Alun kota Sangkapura, (hari minggu, 26/5/2013).

Upacara bendera yang diperkarsai oleh LP. Ma'arif cabang Bawean, dihadiri tokoh ulama NU se- Pulau Bawean, Muspika kecamatan Sangkapura, Pengurus PCNU Bawean, Ketua Muhammadiyah Sangkapura, Kepala Madrasah dibawa naungan LP. Ma'arif, Banom NU, serta siswa dari lembaga pendidikan NU di Pulau Bawean.

Memperingati Harlah NU dengan upacara bendera termasuk mengulami tradisi lama yang sebelumnya dirayakan dengan menyelenggarakan istighosah dan pengajian.

M. Fauzi Ra'uf sebagai Ketua PCNU Bawean dihubungi Media Bawean, mengatakan upacara bendera memperingati hari lahirnya NU bertujuan untuk menggairahkan NU di kalangan warga nahdliyin di Pulau Bawean.

"Termasuk mengenang jasa para pendiri dan pejuang NU yang telah ikut andil dalam memperjuangan kemerdekaan NKRI,"katanya.

Ditanya soal ukhwah, Ketua PCNU Bawean menyatakan peringatan Harlah NU ke-90 di Pulau Bawean untuk meningkatkan ukhuwah nahdliyah.

Setelah upacara bendera selesai, dilanjutkan penampilan kreasi seni dari lembaga pendidikan dibawah naungan LP. Ma'arif Cabang Bawean. (bst)

Keterangan : Foto dikirim oleh Raden Ali Masyhar.

PCNU Bawean Dukung Khuluq Jadi Bupati

Media Bawean, 5 Mei 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK— PCNU Bawean dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap Husnul Khuluq sebagai Calon Bupati (Cabup) Gresik periode 2010-2015. Khuluq yang saat ini menjabat Sekda Gresik dinilai sebagai kader terbaik dan orang nomor satu di NU Gresik.

Penegasan tersebut disampaikan Wakil Rais Syuriah PCNU Bawean, KH Nasir Maktub, saat menghadiri silaturrahim antara pengurus PCNU Gresik dengan tokoh Nahdliyin se-Bawean di di GOR Futsal Bawean, Senin (4/5). "Dengan dicalonkannya putra terbaik NU, Husnul Khuluq sebagai cabup Gresik, maka kami selaku Pengurus PCNU Bawean mendukung dan setuju sepenuhnya,"ujar KH Nasir Maktub yang juga Pengasuh Ponpes An-Nasiriah Guntung Bawean ini.

Hal senada disampaikan KH Najib Mahfud. Mewakili Rais Syuriah PCNU Gresik, ia mengajak keluarga besar Nahdliyin di Pulau Bawean bersama-sama mengantarkan putra terbaik NU dalam pemilihan Bupati Gresik mendatang. "Mari kita bersama-sama mendukung Pak Khuluq sebagai Cabup Gresik," tegasnya di hadapan sekitar 1.000 orang pengurus PCNU, MWCNU dan Pengurus Ranting NU se-Bawean.

Menanggapi dukungan tersebut, Husnul Khuluq selaku Ketua PCNU Gresik mengajak warga NU bersatu, bahkan dalam setiap momentum pemilihan. "Jangan hanya karena ditukar uang Rp 25 ribu lalu meninggalkan ulama. Sebagai warga NU, sudah seharusnya kita selalu bersama ulama, bukan meninggalkan para ulama," tandas Khuluq. (dik)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean