Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label KORAN SINDO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KORAN SINDO. Tampilkan semua postingan

Pelayaran ke Bawean Dihentikan
Pasokan Sembako Kian Menipis

Media Bawean, 26 Juli 2013 

Pasokan sembako menjelang Lebaran di pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur (Jatim) mulai menipis, akibat terhentinya arus pelayaran menuju pulau berjarak 80 mil dari Pelabuhan Gresik, karena cuaca buruk.

Sebanyak lima unit kapal pengakut sembako, rute Gresik-Bawean tertahan di pelabuhan Gresik, karena kondisi cuaca buruk yang membahayakan lalu lintas pelayaran.

Sejak sepekan terakhir, sebanyak lima unit kapal penumpang dan kapal pengangkut barang tujuan Pulau Bawean, terpaksa bersandar di Pelabuhan Gresik akibat terhambat kondisi cuaca buruk.

Jika kondisi cuaca buruk terus berlanjut, warga Bawean akan mengalami krisis sembako pada perayaan Lebaran tahun ini.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Gresik untuk sementara melarang berlayar kapal-kapal tersebut, karena kondisi gelombang di perairan laut Jawa mencapai empat meter. Sehingga membahayakan lalu lintas pelayaran.

Humas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Gresik, Nanang Afandi mengatakan, larangan berlayar diberlakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan. "Karena menunggu cuaca kembali normal," katanya, Kamis (25/7/2013).

Larangan berlayar ini hanya untuk kapal dengan bobot mati di bawa 1.000 dead weight tonage (dwt). Sedangkan kapal yang berbobot mati lebih dari 1,000 dwt tetap diperbolehkan. (izz)

Sumber : SINDO

Dishub-Adpel Gresik Bikin Blunder

Media Bawean, 7 Februari 2013


Ketidakharmonisan Dinas Perhubungan (Dishub) dengan Administrator Pelabuhan (Adpel) Gresik dalam menentukan jadwal kapal penumpang ke Bawean kembali terjadi.

Akibatnya, ratusan calon penumpang di jalur strategis ini hampir terlibat adu jotos dengan staf Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik.Ketegangan ini bermula dari ketidakjelasan jadwal keberangkatan kapal menuju Bawean. Untuk hari Rabu (6/2) Dishub telah menjadwalkan keberangkatan Kapal MV Tungkal Samudera (MTS). Namun kenyataannya KMP Ekspres Bahari (EB) juga membuka layanan untuk pelayaran di hari yang sama.

Akibatnya sebagian besar calon penumpang lebih memilih Kapal EB yang telah lama beroperasi. Tercatat ada sekitar 250 calon penumpang yang memilih menggunakan kapal ini. Sedangkan Kapal MTS hanya mendapatkan 15 calon penumpang.“ Berapapun penumpang kami tetap berangkat. Karena ini jadwal kami,” ujar Adnan Khashogi, Pemilik PT Restu Pertiwi Buana selaku operator Kapal MTS, menjelang keberangkatan,kemarin.

Kapal MTS kemudian mengambil inisiatif berlayar lebih dulu daripada Kapal EB. Tapi tak lebih dari sepuluh menit berlayar, Kapal MTS putar haluan ke Pelabuhan Gresik. Usut punya usut, MTS diperintahkan kembali oleh Kadishub Ahmad Nurrudin. Berserta jajarannya Ahmad Nurrudin yang datang langsung ke pelabuhan, memerintahkan penumpang Kapal EB yang telah siap berlayar pindah ke Kapal MTS.

Perintah ini membuat ratusan penumpang kesal.Mereka beralasan jika semua barang bawaan telah masuk kargo kapal. Jika disuruh pindah keberangkatan dipastikan bakal molor. Namun Ahmad Nurudin ngotot dengan keputusannya. Bahkan dia memerintahkan stafnya untuk turun langsung memberitahukan kepada penumpang. Permintaan itu membuat penumpang dan petugas Dishub saling adu mulut.

Suasana semakin tegang ketika para penumpang yang menolak pindah mendorong salah satu petugas Dishub. Tak terima temannya diperlakukan seperti itu, sejumlah petugas Dishub mengerubuti penumpang yang melakukan aksi dorong.

Untung saja polisi serta aparat terkait yang ada di tempat tersebut sigap. Sehingga tidak sampai terjadi baku hantam. “Terus terang kami kecewa berat, atas pemaksaan dari pegawai Dishub. Bahwa kami disuruh pindah ke kapal Tungkal, padahal sudah beli tiket juga barang sudah di dalam. Kesalahan ini yang buat Dishub, bukan kami,” ujar Luthfi, 36, penumpang KMP EB asal Tambak.

Akhirnya, kedua kapal berangkat bersama-sama. Kapal MTS tetap dengan 15 penumpang dan KMP EB denga 250 orang penumpang. Kadishub Ahmad Nuruddin mengatakan keberangkatan Kapal MTS telah sesuai jadwal. Hanya dia merasa heran Kapal EB ikut berangkat. Padahal, bukan jadwalnya berlayar ke pulau Bawean. “Untuk itu, kami paksa mereka turun dan naik kapal yang sudah di beri jadwal oleh Dishub. Secara gratis, meskipun tidak mengantongi tiket kapal tersebut,”tukasnya.

Ditambahkan, pihaknya telah mengatur jadwal keberangkatan kapal yang menuju Pulau Bawean melalui dua operator. Tujuannya, agar pelayaran tidak dimonopoli oleh satu operator saja. Sekarang yang terjadi, adalah operator EB menyerobot dengan menaikkan puluhan penumpang. Padahal hari ini,bukanlah jadwal mereka.

Terpisah Kepala Administrator Pelabuhan Gresik,Abdul Aziz mengatakan,memang jadwal keberangkatan Kapal Tungkal, namun operator Kapal EB juga telah menjual tiket sekitar 200 lebih. Tindakan EB tidak dibenarkan,namun dari pada terjadi persoalan lebih parah, pihaknya terpaksa memberikan izin berlayar.

“Sehingga kami membuat kebijakan di perbolehkan untuk kali ini saja,Kapal Tungkal dan EB sama-sama berlayar ke pulau Bawean. Untuk berikutnya tidak diperbolehkan, bila ini nanti dilanggar lagi oleh EB,maka kami akan menjabut izin usahanya,” ancamnya. ashadi ik 

Sumber : SINDO

Ombak Kandangkan Ratusan Kapal

Media Bawean, 15 Januari 2013 

GRESIK – Cuaca buruk di kawasan Laut Jawa benarbenar menjadi bencana bagi lalu lintas menuju dan dari Pulau Bawean.

Ratusan kapal terpaksa tak bisa berlayar.Kondisi ini membuat ratusan calon penumpang dari Gresik ke Bawean keleleran. “Berdasarkan perkiraan Badan Metreologi dan Geofosika Tanjung Perak ketinggian ombak hingga kemarin rata-rata mencapai 3 meter dan tertinggi mencapai 4,5 meter. Kami belum bisa memastikan sampai kapan kondisi ini akan berlangsung,”ujar Kepala Seksi Kepelabuhan Adpel Gresik Nanang Affandi,kemarin.

Dia menjelaskan sejak Sabtu (5/1) Administrator Pelabuhan (Adpel) Gresik menghimbau larangan berlayar. Himbauan ini terpaksa dikeluarkan menyusul ketinggian ombak di Perairan Laut Jawa di atas ambang normal. “Kami tidak melarang, tetapi hanya menghimbau. Karena cuaca sangat ektrim dan belum stabil. Ketinggian ombak sampai 3 meter lebih,”terang Nanang. 

Pantau Media pelarangan kapal-kapal untuk berlayar membuat kapal-kapal kecil yang sudutnya di bawah 5 meter atau di bawah ketinggian ombak tidak berangkat.

Ratarata kapal yang tidak berangkat selain mengangkut penumpang Bawean, juga mengangkut bahan bangunan, pupuk dan kayu. “Satu harinya ada sekitar sepuluh unit kapal. Kalau sudah memasuki sepuluh hari ombak tinggi, berarti kapal yang tertahan sekitar seratus lebih,”ungkap Nanang. Dalam kesempatan itu, Nanang juga mengaku, tidak mendapat laporan ada barang-barang kiriman yang membusuk seperti sayuran dan buah-buahan. Karena di Pelabuhan Gresik lebih banyak konsentrasinya bahan bangunan, pupuk maupun kayu.

“Sedangkan untuk sayuran maupun buah banyak terkonsentrasi di Pelabuhan Tanjung Perak. Jadi tidak ada barang kiriman sampai membusuk. Kecuali, barang kiriman ke Bawean dan saat ini belum ada,”kata dia. Tentang kerugian, Nanang mengaku tidak tahu. Hanya informasi yang dihimpun, dari salah satu KLM yang mengangkut kayu, kompensasi tidak melaut, setiap ABK mendapat jatah Rp70 ribu perhari. Belum termasuk uang tambat maupun biaya pemeliharaan kapal.

“Ya tinggal mengalikan. Satu kapal ABK nya lebih dari enam orang. Ditambah biaya tambat dan pemeliharaan.Ya satu kapal puluhan juta,”aku Zainuddin, 54, salah satu ABK kapal barang. Selain itu,cuaca buruk juga membuat ratusan warga Bawean yang hendak pulang ke kampung halaman tertahan. Sedikitnya sampa saat ini ada 630 orang warga Bawean yang tertahan. Mereka rata-rata di penginapan dan tempat penampungan di sekretariat Kerukunan Warga Bawean Gresik (KWBG) di Jalan Basuki Rahmat. Kapal Ekspres Bahari 1C sejak beberapa hari lalu tidak berlayar.

“Tidak sedikit juga yang pelajar. Mereka sejak masa liburan sekolah sampai saat ini belum dapat kembali, karena ombak besar,”kata Mat Rifai,40,warga Sangkapura. ashadi ik 

Sumber : SINDO

Bawean Butuh Perhatian
Bisa Jadi Ikon Pariwisata Jatim

Media Bawean, 4 April 2012

GRESIK – Pulau Bawean diharapkan menjadi ikon pariwisata Jatim.Namun untuk mencapai keinginan tersebut, dibutuhkan pembangunan infrastruktur pembangunan jalan lingkar dan lapangan terbang.

Bupati Gresik Sambari Halim Radianto mengatakan, keindahan Pulau Bawean tidak kalah dengan Pulau Bali. ”Jika semua infrastruktur di Bawean sudah dibangun, saya yakin semua wisatawan luar negeri yang ke Bali akan beralih ke Bawean,” kata Sambari di hadapan empat anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan (Dapil) X (Gresik-Lamongan), kemarin.

Menurutnya, untuk pembangunan infrastruktur dibutuhkan anggaran cukup besar.Saat ini anggaran untuk pembangunan jalan lingkar sepanjang 54 kilometer baru tersedia Rp10 miliar. Karena itu, diharapkan ada bantuan dari Pemprov Jatim. Demikian juga dengan pembangunan lapangan terbang. Saat ini Pemkab Gresik sudah membebaskan tanah untuk landasan pacu (runway) sepanjang 750 meter.

Namun runway sepanjang itu masih kurang karena untuk landasan pesawat jenis Foker 28 setidaknya dibutuhkan runway sepanjang 1.500 meter. Sambari juga meminta adanya bantuan untuk pembangunan Bendungan Sembayat yang disebut Sembayat Barrage. Saat ini sudah anggaran sekitar Rp42 miliar, namun anggaran tersebut masih sangat kurang. Dia mengaku APBD Kabupaten Gresik tidak mampu mendanai semuanya.

”Saat ini APBD Gresik Rp1,4 triliun. Untuk pembangunan Sembayat Barrage, setidaknya Pemprov Jatim bisa membantu pendanaan 70%,”tandasnya. Ketua rombongan reses Kartika Hidayati mengatakan, Pulau Bawean memang harus ditata lebih baik agar pulau itu bisa lebih hidup.” Memang jika Bawean dibangun, keindahan alamnya tidak kalah dengan Mataram atau Lombok.

Bawean juga bisa menjadi ikon wisata Jatim,”katanya. Kodrat Sunyoto, anggota dewan dari Fraksi Partai Golkar menambahkan, Pulau Bawean bisa menjadi master pariwisata di Jatim. Dia siap bicara langsung ke Gubernur Jatim Soekarwo supaya Bewean lebih diperhatikan. Menurutnya, keberadaan lapangan terbang di Bawean akan sia-sia jika infrastruktur jalan lingkar Bawean tidak segera diperbaiki.

Sementara itu, Subroto Kalim dari Fraksi Demokrat juga menyatakan siap memfasilitasi permitaan dana pem-bangunan inrastruktur Bawean. ”Kami berempat sudah sepakat untuk bicara langsung ke Gubernur Jatim. Setidaknya dengan demikian Gubernur akan memberikan perhatian pada Bawean,”lanjutnya. lutfi yuhandi

Sumber : SINDO

Kapal Tenggelam,
Tujuh ABK Selamat

Media Bawean, 17 Agustus 2011

Sumber : Seputar Indonesia

GRESIK – Kapal Layar Motor (KLM) Berkat Putra Utama tenggelam di Perairan Bawean, kemarin malam. Beruntung tujuh anak buah kapal (ABK) selamat. Namun ratusan ton barang, motor dan mobil yang terangkut hilang.

Berdasarkan data manifes yang tercatat di Administrator Pelabuhan (Adpel) Gresik, kapal yang dinakhodai Bambang itu berangkat dari Pelabuhan Gresik pada Sabtu 13 Agustus 2011. Kapal berbobot mati 25 gross ton tersebut memuat semen 20 ton serta paving 25 ton. Diperkirakan nilai barang kapal yang diageni PT Usaha Jaya Bersama bernilai sekitar Rp3 miliar.

Kepala Syahbandar Adpel Gresik, Hermawan mengatakan, kapal berangkat pukul 22.00 WIB,saat itu kondisi cuaca di perairan Jawa bagian tengah normal.Kecepatan angin 5 - 14 knot dan ketinggian gelombang 0,5 - 1,3 meter. ”Jadwalnya kapal harusnya tiba di Bawean, Minggu (14/8) siang.Namun hingga Minggu malam kapal belum sampai.Kami baru tahu mereka ternyata mengalami kecelakaan dan tenggelam dari laporan Syahbandar Bawean,” akunya kepada wartawan, kemarin.

Khairil Anwar, salah satu ABK yang selamat kepada petugas mengatakan,kapal tenggelam setelah dihantam ombak setinggi tiga meter. Begitu kapal tenggelam,nahkoda memerintahkan ABK menyelematkan diri terjun ke laut.Pada saat bersama melintas kapal tug boat (TB) Budi Santoso.

”Akhirnya seluruh ABK diselamatkan oleh kru TB Budi Santoso.Mereka selanjutnya dibawa ke Pelabuhan Brondong, Lamongan untuk dimintai keterangan,” lanjut Hermawan. Hermawan menambahkan, hingga kini pihaknya belum mengetahui penyebab kecelakaan serta posisi tenggelamnya kapal.Termasuk kemungkinan dugaan kapal kelebihan muatan.

AdpelGresik,katadia,masih menunggu hasil pemeriksaan ABK KLM Berkat Putra Utama. Sementara Ponidi, pimpinan CV Upraja mengatakan,bila dirinya adalah salah satu pemilik barang. Kontraktor itu menyebut, bila dirinya memang memakai jasa KLM Bahtera untuk mengirim material proyek ke Bawean.

”Jumlahnya cukup banyak masing-masing paving 109 ton serta semen 1.100 sak atau setara dengan 44 ton,”tukasnya. Kemudian Syuhud, ABK kapal asal Sidogedungbatu menambahkan, selain material proyek kapal juga mengangkut tepung tapioka 10 ton,drum kosong sebanyak 120 buah, sepeda motor sebanyak 20 buah, dan sembako serta barang dagangan lainnya. ashadi ik

Bupati
“Todong” Biayai Kunker

Media Bawean, 22 November 2010

Sumber : Seputar Indonesia

GRESIK(SINDO) – Kunjungan kerja (kunker) rombongan Bupati Sambari Halim Radianto dan Wabup M Qosim ternyata dikeluhkan beberapa instansi di Kecamatan Sangkapura, Bawean.

Panitia “menodong”beberapa instansi untuk biaya akomodasi kunker lima hari di Bawean itu Instansi yang “ditodong”untuk menanggung biaya akomodasi itu antara lain kepala dinas setingkat kecamatan dan 17 kepala desa se- Kecamatan Sangkapura. Itu tampak dari surat yang dikeluarkan Camat Sangkapuran Suhaimi No 091/174/403.117/2010 tertanggal 15 November 2010.Dalam surat itu, semua instansi dimintai bantuan dana untuk menanggung beban rombongan bupati-wabup di Bawean, 24–28 November nanti.

Ada beberapa poin dalam surat itu.Pertama, pihak kecamatan meminta kepada instansi di tingkat kecamatan untuk meringankan beban biaya kunker. Kedua,jika pemerintah kabupaten me-mberikan dana bantuan kunker tersebut, dana bantuan untuk kunker yang diberikan instansi dan kepala desa akan dikembalikan lagi secara proporsional. Poin ketiga, semua instansi diminta mengumpulkan dana bantuannya kepada Zainuddin selaku Kasie Kesra Kecamatan Sangkapura. Bahkan, disebutkan pula sebagai panitia penggalangan dana adalah Kades Sawahmulya Hasan Ansari.

Akhirnya,di lampiran surat terkumpul uang Rp25 juta. Kendati semua instansi tidak membantah, tapi hal itu menjadi rasan-rasan. Ini mengingat sumbangan tersebut akomodasi kunker bupati-wabup ke Bawean baru pertama kali. Sebelumnya tidak pernah kunker bupati-wabup ke Bawean yang biayanya dibebankan kepada instansi daerah. “Ini baru pertama kali. Saya dapat keluhan dari beberapa instansi maupun kepala desa,mereka menyesalkan sumbangan tersebut.

Katanya, kalau tidak ada biaya, yo harusnya jangan kunker. Hingga tidak membebani kami,” ungkap Abdul Basit, Koordinator LSM Gerbang Bawean,kemarin. Camat Sangkapura Suhaimi yang dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa uang tersebut berklausul pinjaman, bukan menarik uang tanpa alasan. Bila nantinya Kecamatan Sangkapuran mendapatkan bantuan dari pemkab,dana dari instansi itu akan dikembalikan.“ Pengembaliannya tentu secara proporsional.

Dengan catatan pemkab memberikan bantuan ke kami,”tuturnya.Dia tidak bersedia menjawab apakah permintaan bantuan kepada instansi di kecamatan itu atas inisiatif dirinya atau ada perintah dari bupati. Adanya pungutan ini tentu meresahkan. Semua kegiatan bupatiwabup maupun instansi lain telah dibebankan pada APBD.Apalagi acara yang rencananya diikuti sekitar 70 kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) telah ditanggung APBD.

“Kami memang berangkat ke Bawean dengan 70–75 kepala SKPD. Namun, APBD hanya menanggung tiket kapal pulang pergi. Sementara biaya akomodasi di Bawean ditanggung kecamatan secara urunan,” ungkap Plt Sekda Gresik M Najib yang dikonfirmasi melalui ponselnya. Ketua DPRD Gresik Zulfan Hasyim meminta kunker itu dibatalkan. Politisi asal PKB itu cukup menyayangkan langkah pemkab yang membebankan biaya kunker ke masyarakat Bawean.

Kunker yang dilakukan pejabat selalu dibiayai APBD. “Seharusnya mereka ke Bawean membawa bantuan bagi masyarakat Bawean, bukan justru membebaninya. Saya sendiri tidak tahu agenda mereka ke Bawean.Sebab, sampai tadi siang (kemarin, red) saya belum menerima undangan,” aku Zulfan. Menurutnya, bila memang tidak ada dana ke Bawean,harusnya kunker ditunda sampai ada dana. Terlebih APBD 2011 sebentar lagi disepakati. Intinya adalah semua kunker tidak boleh membebani warga Bawean. (ashadi ik)

Idang Buang
Akhirnya Serahkan Diri

Media Bawean, 19 Oktober 2010

Sumber : SINDO

GRESIK(SINDO) – Idang Buang Guntur,terpidana korupsi reklamasi Bawean senilai Rp1,2 miliar,akhirnya menyerahkan diri.Kemarin,Buang sebelum dijebloskan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Banjarsari,Cerme,Gresik.

Pengusaha yang juga mantan Ketua PAC PKB Sangkapura,Bawean, tersebut hadir di Gedung Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik.Kehadiran Buang di gedung Jalan Raya Permata Perumahan Bunder Asri, Kecamatan Kebomas, sekitar pukul 11.00 WIB,tersebut didampingi penasihat hukumnya Irfan Choirie. Buang yang mengenakan kemeja hijau muda dipadu celana hitam segera masuk ke ruang Kasi Pidsus Kejari Gresik Selvia Desty R untuk keperluan proses administrasi. Tak lama kemudian Buang keluar dan duduk santai di ruang lobi. Sementara pengacaranya Irfan Choirie masih berada di dalam bersama Kasi Pidsus Selvia.Sekitar 10 menit kemudian, Irfan keluar dari ruangan.

“Menunggu surat penetapan,” ungkap Irfan kepada wartawan yang mencegatnya. Sementara itu, Buang terlihat sangat tenang.Tak sedikit pun tampak kesedihan di wajahnya,kendati sel tahanan sudah siap melahapnya selama empat tahun ke depan. Senyum kecil kerap ditunjukkannya. Dia bahkan masih sempat bersenda gurau saat bertemu dengan para wartawan di kantin Kejari Gresik. Ifran menuturkan, Buang sudah berada di Gresik sejak Minggu (17/10). Dia datang menggunakan KM Ekspres Bahari 8-B.Menurutnya, Buang sama sekali tidak berniat memenuhi panggilan jaksa untuk eksekusi atas putusan kasasi MA dalam perkara korupsi reklamasi Rp1,2 miliar.“Semuanya karena sakit.

Panggilan pertama, klien saya sakit diabetes. Pada panggilan kedua juga ada gangguan jantung.Panggilan ketiga ini sebenarnya klien saya juga sakit. Namun, itu kan tidak bisa dijadikan alasan. Jadi, dia tetap memaksakan diri datang,”papar adik kandung Effendy Choirie, anggota DPR RI tersebut. Buang yang berada disamping Irfan pun menganggukkan kepala tanda sepakat.Dia menunjukkan obatobatan yang dibawanya.Buang mengaku mengidap komplikasi penyakit. Selain diabetes dan jantung,dia juga menderita darah tinggi hingga gejala strok ringan.

“Namun,ya semuanya harus dijalani.Mau gimana lagi karena tidak bisa mengelak,” tuturnya dengan pasrah. Tak lama berselang,petugas Kejari Gresik memanggil Buang dan Irfan Choirie untuk menghadap Kasi Pidsus Selvia Desty R di ruang staf pidsus. Sekitar 10 menit selanjutnya Buang keluar dan digiring ke mobil tahanan Kejari Gresik untuk dibawa ke Rutan Banjarsari, Cerme. Tidak terlihat satu pun keluarga Buang. Saat dibawa ke Rutan Banjarsari Cerme,Buang hanya ditemani JPU Rimin. Sambil melambaikan tangan,Buang masuk ke mobil tahanan bernopol W 8143 AP. Kasi Pidsus Kejari Gresik Selvia Desty R saat ditemui mengungkapkan, eksekusi Buang ini adalah tindak lanjut putusan mahkamah agung (MA) dalam kasasi yang memvonis Buang selama empat tahun penjara.

Selain pidana penjara, Buang juga diwajibkan membayar denda Rp200 juta subsider empat bulan kurungan serta membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp361,4 juta.“Kalau hari ini yang bersangkutan tidak datang, terpaksa kami yang akan ke Bawean membawanya ke Gresik.Tapi syukurlah dia datang,”ujar Selvia. Buang bersama empat nama lain, yaitu Sumarsono (mantan Kepala Badan Lingkungan Hidup),Siti Kuntjarni (mantan Kabag TU Dinas LH, kini menjabat Sekretaris Inspektorat Kabupaten Gresik),Sihabudin (rekanan pemilik CV Daun Jaya),dan Zainal Arifin dinyatakan terbukti melakukan korupsi proyek reklamasi Rp1,2 miliar. Dari lima terdakwa, hanya Zainal yang divonis 1,5 tahun penjara dan menerima putusan itu.

Empat terdakwa lain, termasuk Buang, diputus bebas oleh Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Kejari Gresik pun mengajukan kasasi untuk empat berkas terdakwa ini.Namun, baru berkas kasasi Buang diputus. Sementara berkas kasasi tiga terdakwa lain sampai saat ini belum turun. (ashadi ikhsan)

Cuaca Buruk, Penumpang
Diangkut Kapal Besar

Media Bawean, 5 Oktober 2010

Sumber : SINDO
GRESIK(SINDO) – Mengantisipasi penumpukan penumpang di Pelabuhan Gresik, Administrator Pelabuhan (Adpel) Gresik mengerahkan KM Dharma Ferry II untuk mengangkut para penumpang ke Bawean.

Pasalnya, sampai saat ini Adpel masih melarang kapal penumpang Ekspres Bahari 8B dan KMP Dharma Kartika untuk berlayar. Kapal milik PT Dharma Lautan Utama itu diberangkatkan pada pukul 09.00 WIB dari Pelabuhan Gresik kemarin. Kapal tersebut mengangkut 556 orang penumpang dari total kapasitas 570 orang. Kapal tersebut juga mengangkut ratusan ton barang, baik makanan maupun minuman. Kapal tersebut diperkirakan mampu mengarungi 81 mil Gresik– Bawean dengan durasi 10 jam. Nantinya setelah sampai di Bawean, kapal tersebut akan langsung kembali ke Gresik dengan mengangkut ratusan penumpang yang sudah menunggu dua hari di Pelabuhan Bawean.

Kepala Adpel Gresik Abdul Azis mengatakan, pengoperasian kapal besar tersebut terpaksa dilakukan karena dua kapal reguler, KM EB 8-B yang terbuat dari fiberglass dan KM Dharma Kartika, tidak berani berlayar ke Bawean. Hal itu disebabkan ombak di perairan Gresik sampai kemarin mencapai ketinggian hingga 3,5 meter dan dorongan angin mencapai 20 knot. ”KM Dharma Ferry II kami pilih karena selain terbuat dari besi, kapal ini biasa melayari rute jauh dan melewati lautan. Menurut perhitungan kami,dengan ombak yang masih tinggi perlu sebuah kapal yang kuat dan besar untuk mengangkut penumpang dalam jumlah banyak.

Kapal ini mampu menahan serangan gelombang hingga ketinggian empat meter dan tetap melaju tenang,” ujarnya. Dia berharap, karena terbuat dari besi dan ukurannya besar, penumpang bersabar selama perjalanan. Sebab,kapal ini menempuh rute Bawean–Gresik sejauh 81 mil selama 10 jam, atau tiga kali lebih lama dari waktu tempuh KM EB 8-B yang hanya tiga jam. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Gresik Agus Muljono menyatakan akan meminta PT Dharma Lautan Utama menyiagakan kapal besar ini sampai cuaca pelayaran Gresik–Bawean kembali normal. ”Agar penumpang tidak semakin menumpuk,kami meminta PT Dharma Lautan mengoperasikan kapal cadangannya sampai cuaca memungkinkan kapal reguler beroperasi kembali,”paparnya.

Di sisi lain, cuaca di perairan Gresik masih belum membaik.Adpel Gresik masih melarang kapal berbahan kayu dan fiberglassuntuk berlayar. Akibatnya, puluhan kapal kayu jurusan luar Jawa dan satu kapal penumpang, yakni Ekspress Bahari (EB) 8B, berlabuh di Dermaga Pelabuhan Gresik. ”Kami tidak melarang kapal kayu atau kapal berbahan fiberglass untuk meninggalkan Pelabuhan Gresik. Kami hanya mengimbau karena berdasarkan ramalan BMKG cuaca masih membahayakan untuk pelayaran,” tuturnya. Ditambahkan, berdasarkan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim, Tanjung Perak, Surabaya, cuaca perairan Gresik masih tidak menentu.

Diperkirakan, sampai tiga hari ke depan tinggi gelombang Laut Jawa di sekitar Bawean dan Masalembu sekitar 2–3 meter. Sementara itu, dalam beberapa hari ini nelayan di Sidoarjo memilih untuk tidak melaut. Ini mereka lakukan dari pada harus menanggung risiko tenggelam di laut. Pasalnya, angin kencang yang berembus menyebabkan gelombang tinggi di pesisir timur Sidoarjo. Bahkan dalam tiga hari terakhir, terjadi gelombang tinggi lebih dari 3 meter dan cuaca buruk. Para nelayan pun banyak yang nganggur. “Gelombang tinggi,terutama saat sore hari.

Jadi, nelayan memilih menyandarkan perahunya dari pada diterjang ombak besar,”ungkap KetuaKelompokNelayanPutra Samudra, Desa Gisik Cemandi,Kecamatan Sedati,Syaiful Anam kemarin. (ashadi ik/abdul rouf)

Tarif Kirim Motor
Ke Bawean Diprotes

Media Bawean, 7 September 2010

Sumber : SINDO


GRESIK (SINDO) - Pengurus Pemuda Bawean Gresik (PBG) memprotes manajemen PT Dharma Lautan Utama (DLU) selaku pemilik KMP Dharma Kartika yang memberlakukan tarif pengiriman motor lebih mahal dibandingkan tiket penumpang.

Aksi protes itu dilakukan pengurus PBG,dipimpin Ketua PBG Raden Zakariyah. Raden Zakariyah dan beberapa pengurus kemarin menemui manajemen KMP Dharma Kartika yang hendak berangkat ke Bawean. Selain ditemui manajemen PT DLU,juga ditemui perwakilan Dinas Perhubungan dan Kapolsek KP3 Gresik AKP Suhariyani. Pengakuan Zakariyah,aksi protes dilakukan karena warga keberatan dengan tarif barang yang lebih malah dibandingkan tarif penumpang.

Setelah melakukan kajian atas biaya yang ditetapkan manajemen KMP Dahrama Kartika, ternyata cukup memberatkan pengguna jasa. ”Contohnya, tarif pengiriman satu unit sepeda motor ditetapkan Rp150.000.Padahal harga tiket penumpang Rp116.000. Ini kan aneh,”katanya. Dijelaskan, ketentuan yang ditetapkan pihak kapal selama bertahun- tahun tidak jelas. Apakah penentuan tarif tersebut berdasarkan pada jauhnya jarak tempuh atau berat barang yang diangkut, selama ini tidak ada ada penjelasan.

Menurutnya,seharusnya hal itu disesuaikan dengan standarnya. Pimpinan PT Dharma Lautan Utama (DLU),Sofyan kepada wartawan mengatakan, standarisasi tarif antara barang dengan penumpang sudah sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan manajemen. Kendati begitu, untuk barang-barang yang tidak diatur dalam ketentuan tersebut, berlaku sistem nego dengan batas-batasan tertentu.

Diakuinya, tarif angkut motor lebih mahal daripada tarif penumpang. Berdasarkan ketentuan manajemen KMP Dharma Kartika, untuk lintasan Gresik-Bawean sepanjang 81 mil yang disesuaikan SK Bupati, tarif penumpang ekonomi Rp110.000. Sedangkan tarif sepeda motor sesuai ketetapan perusahaan Rp150.000. ”Bedanya dengan arang-barang lain tidak ada asuransinya,sedangkan motor ada asuransinya,”punglas Sofyan. (ashadi ik)

Kapolda Jatim:
Tangkap Calo Tiket !

Media Bawean, 6 September 2010

Sumber : SINDO
GRESIK (SINDO) – Ini peringatan keras bagi para calo tiket. Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Badrodin Haiti bakal menindak tegas para calo tiket yang menaikkan harga tiket seenaknya.

Kapolda bahkan memerintahkan anak buahnya langsung menangkap calo tiket dan memprosesnya sesuai aturan yang ada. “Semua calo harus ditindak. Ditangkap dan diproses sehingga tidak meresahkan para pemudik,” tegasnya di sela-sela inspeksi mendadak (sidak) di Pos Pantau Mudik Lebaran Terminal Penumpang Pelabuhan Gresik kemarin. Kapolda Badrodin menegaskan, ini tidak hanya untuk para calo di Pelabuhan Gresik,melainkan semua praktik calo di semua daerah.

Pengawasan ketat juga dilakukan terhadap semua calo tiket mudik jalur bus dan kereta api.Sebab,bila tidak dilakukan pengawasan, para calo tersebut kian meresahkan masyarakat. “Kalau berpakaian polisi resmi, bisa-bisa para calonya kabur duluan. Namun,jika pakaian preman gampang melakukan pendeteksian. Mereka ditangkap untuk diproses,” tegas mantan Kapolda Sulteng tersebut.

Kapolda memaparkan, akan membantu pengamanan penumpang di laut dengan menerjunkan anggota Polair dan Brimob di dalam kapal.“Potensi kejahatan itu terjadi di mana-mana. Tidak terkecuali di laut. Karena itu, untuk mengantisipasi aksi pencurian di kapal,kami ikutkan anggota Polair dan Brimob pada setiap pemberangkatan kapal,” ungkap Badrodin didampingi Dirpolair Kombes Pol Nanang S Hidayat dan Kapolres Gresik AKBP Jacub Prajogo.

Perintah Kapolda Jatim ini dilatarbelakangi banyaknya para calo yang berkeliaran di Pelabuhan Gresik.Akibatnya, harga tiket penyeberangan Gresik–Bawean mengalami kenaikan signifikan. Para pemudik untuk kelas eksekutif KM Ekspres Bahari 8-B terkadang mendapatkan tiket hingga harga Rp300.000. Bukan hanya itu, tiket pelajar maupun mahasiswa dijual Rp130.000–Rp150.000.

Padahal, harga tiket resmi penyeberangan Gresik–Bawean untuk KM Ekspres Bahari 8-B, kelas pelajar/mahasiswa Rp90.000, kelas ekonomi Rp110.000, dan kelas eksekutif Rp125.000. Harga tiket setinggi itu pun sudah ludes sejak sepekan sebelum pemberangkatan. Artinya, para pemudik warga Bawean yang rata-rata didominasi para TKI yang pulang dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Australia, harus sudah pesan tiket sebulan sebelumnya.

“Saya dapat tiket ekonomi untuk pemberangkatan besok (hari ini) dengan harga Rp160.000. Itu pun saya pesan sudah sejak satu bulan lalu,” ungkap Komariyah, 41, warga Sangkapura,Bawean. Modus para calo adalah dengan memborong tiket yang dijual di agen-agen resmi KM Ekspres Bahari 8-B maupun KMP Dharma Kartika. Para calo tersebut memborong dengan harga resmi sesuai yang disyaratkan, yakni setiap pembeli hanya membeli tiga tiket.

Namun,tidak sedikit yang bermain mata dengan oknum agen resmi. Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Gresik Abdul Aziz mengungkapkan bahwa mereka sudah memerintahkan agen resmi untuk tidak menjual tiket ke para calo. Caranya dengan membatasi para pembeli tiket hanya boleh membeli maksimal tiga tiket. “Itu pun para pembeli harus menunjukkan KTP para calon pemudik.

Bila tidak bawa KTP tidak boleh dilayani,” paparnya. Bukan hanya itu, mereka juga memerintahkan masyarakat untuk tidak membeli tiket ke para calo. Tentunya dengan memasang pengumuman di terminal penumpang.“ Kami juga memeriksa para calon penumpang dengan identitas di KTP.

Bila berbeda nama yang di tiket dengan KTP, akan kami tolak untuk masuk ke penumpang,”tegas Aziz seraya menambahkan bahwa belum ada lonjakan penumpang. Dia menyebutkan, bahwa KM Ekspres Bahari yang berangkat kemarin tersisa 34 kursi dan KMP Dharma Kartika tersisa 15 kursi.

Penumpang Bus Umum Diperkirakan Turun

Sementara itu, pemudik yang menggunakan jasa angkutan darat bus umum selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2010 di Terminal Purbaya,Kota Madiun,diperkirakan turun dari tahun sebelumnya. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPTD) Terminal Purbaya Anung Judawidiarko mengungkapkan, penumpang bus diperkirakan turun sekitar 7% untuk kedatangan. Sementara untuk keberangkatan penumpang juga diperkirakan terjadi penurunan sekitar 5%.

UPTD Terminal Purbaya Kota Madiun memperkirakan pada Lebaran tahun ini jumlah kedatangan penumpang hanya mencapai 479.520 penumpang atau turun sekitar 7% dari kedatangan penumpang Lebaran tahun lalu yang mencapai 512.660 penumpang. Sementara itu, jumlah keberangkatan penumpang juga diperkirakan hanya mencapai 515.040 penumpang atau turun sekitar 5% dari keberangkatan penumpang Lebaran tahun lalu yang mencapai 541.986 penumpang.

Dia memaparkan, ada banyak faktor yang menyebabkan peminat angkutan darat bus umum merosot dalam beberapa tahun terakhir. Faktor itu antara lain kemudahan masyarakat mendapatkan kredit sepeda motor saat ini.“Masyarakat lebih memilih mudik menggunakan motor sendiri dari pada angkutan bus umum,”ungkapnya.

Selain alasan tersebut,rencana Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menggelar mudik gratis dengan tujuan beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur juga turut mempengaruhi. Pemprov telah menyediakan sedikitnya 71 bus untuk acara mudik gratis tersebut. Puncak arus mudik di Terminal Purbaya Kota Madiun akan terjadi pada H-3 dan puncak arus balik akan terjadi pada H+7 yang bertepatan dengan akhir pekan. (ashadi ik/ muhammad r/nanang f)

Bekal Menipis, Batal Hadiri Perkawinan Saudara

Media Bawean, 22 Juni 2010

Sumber : SINDO

Sudah lima hari Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Gresik melarang berlayar kapal penumpang maupun barang Gresik–Bawean karena ketinggian ombak mencapai 3 km.

GANG buntu di Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik,Kabupaten Gresik, Jawa Timur mendadak ramai. Sejak subuh terlihat puluhan warga keluar rumah, tepatnya di Penginapan H Hasan. Dinginnya hembusan angin pelabuhan tidak dirasakan. Mereka terlihat tetap bercengkrama dengan bahasa mirip logat Madura.

Seiring mentari yang kian menyembul meninggi, rombongan warga di gang buntu tersebut kian bertambah.Setiap rombongan pun sepertinya berbicara dengan topik yang sama yakni kapan kapal penyebrangan KMP Ekspres Bahari 8- B dan KM Dharma Kartika berangkat ke Bawean. “Kami belum tahu. Katanya masih menunggu kepastian dari Adpel,” ujar Abdul Basid, pegiat salah satu LSM di Bawean. Kondisi yang sama bukan hanya terjadi di gang buntu Kelurahan Bedilan.

Namun,hampir terjadi di semua penginapan, tidak terkecuali penginapan utama warga Bawean di Penginapan Bawean,Jalan Nyai Ageng Arem Arem.Terlihat di ruang tengah bergerombol orang dengan tumpukan dus bawaan yang ditaruh dekat dinding kamar. “Mau apa lagi. Ya, sambil menunggu kepastian kapal yang bisa dilakukan hanya menonton televisi,” ujar Muhammad Ashari, 46, warga Deket Agung, Kecamatan Sangkapura saat santai di Penginapan Bawean.

Jumlah penumpang KM Ekspres Bahari 8-B dan KM Dharma Kartika yang batal berangkat ke Pulau Bawean sekitar 332 orang lebih.Mereka rata-rata menginap di Pondok Hasan sebanyak 50 orang; Penginapan Putri 65 orang; Penginapan Wisata 40 orang; Penginapan Happak Jee 32 orang; Penginapan Putra Bawean 30 orang; Hotel Bahagia 40 orang; dan Hotel Putra Jaya sebanyak 15 orang.

Akibat penundaan berlayar kapal penumpang Gresik–Bawean oleh Adpel, para penumpang mengaku harus mengeluarkan biaya berlipat-lipat. Hal itu disebabkan biaya penginapan mulai dari Rp40.000 hingga Rp150.000 per hari. Belum termasuk makan dan minum serta keperluan lain. Jumlah warga yang menginap terus bertambah seiring kedatangan warga Bawean yang hendak pulang.

Mengingat masa liburan sekolah sudah datang.Akibatnya, beberapa penginapan menolak untuk menampung dengan alasan sudah penuh. Warga yang berada di penginapan rata-rata sudah satu minggu. Mereka berasal dari Malaysia, Singapura, serta dalam negeri dengan keperluan pulang karena orang tuanya sakit atau akan mendatangi perkawinan keluarga di Pulau Bawean.

Bukan hanya itu, sebagian warga juga terpaksa harus menunda keinginan bertemu keluarga. Bahkan tujuan pulang untuk menjenguk orang tua sakit pun harus tertunda sampai ada kepastian kapal berangkat. Bahkan ada keluarga Kepala Desa Kepuhteluk Amar gagal berangkat ke Gresik untuk menghadiri pesta perkawinan saudaranya di Kediri.Ada juga warga Bawean yang sudah siap berangkat ke Malaysia harus merelakan tiket yang dibelinya hangus.

Pulau Bawean merupakan gugusan kepulauan di Laut Jawa yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik. Pulau ini terletak di sebelah utara wilayah Gresik. Bawean berjarak 80 mil atau 120 km dari Kota Gresik dan membutuhkan waktu tiga jam bila ditempuh menggunakan kapal cepat atau delapan jam bila ditempuh menggunakan kapal biasa.

Sementara itu,di tengah kegundahan atas ketidakpastian berangkat ke Bawean,A Muhajir,anggota DPRD Kabupaten Gresik menyempatkan menemui warga Bawean. Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPRD Kabupaten Gresik itu mengatakan perlu ada alternatif bagi mereka selama menunggu pelayaran ke Bawean.Dia berharap adanya dukungan dari semua anggota Dewan dari Bawean. (ashadi ik)

Mahasiswa Bawean Tolak Politik Uang

Media Bawean, 10 Mei 2010

Sumber : SINDO

GRESIK (SI) – Ratusan mahasiswa asal Bawean yang tergabung Persatuan Mahasiswa Bawean (PMB) menggelar aksi keliling pulau tersebut. Sambil menyebarkan selebaran, mereka menyerukan kepada warga menolak kampanye negatif dan pasangan cabup pengguna politik uang (money politics).

Aksi dilakukan dengan mengambil start di Alun-alun Sangkapura. Selanjutnya, para mahasiswa yang kuliah di berbagai kota di Indonesia itu keliling mengambil jalur lingkar Pulau Bawean.Mereka menggunakan puluhan motor dan mobil pikap. Selain berorasi secara bergantian diatas mibil pikep, massa tersebut juga menyebarkan selebaran menolak politik uang dalam Pilbup 26 Mei. Diantara isi selebaran tersebut, jika ada yang menawarkan uang atau barang maka harus ditolak uangnya dan tolak orangnya. Kedua, tolak uangnya, terima calonnya.

Kemudian poin ketiga yaitu, tiga terima uangnya, tolak calonnya, jika calonnya jelek.Terakhir, supaya menetima uangnya, terima calonnya, tetapi saat pencoblosan tetap bebas memilih calon sesuai dengan keyakinannya. Ketua PMB, Syukron Makmun dalam rilisnya mengatakan, pilbup harus menjadi media positif untuk memilih pemimpin yang berkualitas dan peduli terhadap nasib rakyat. Mereka, tidak ingin pilbup berubah menjadi memilih rupiah yang lebih tinggi dari demokrasi.

“Warga jangan sampai melilih semen yang lebih banyak,dan sembako yang lebih bertimbun. Sehingga yang terpilih menjadi pemimpin dan wakil rakyat adalah mereka yang mempunyai modal besar,”katanya. (ashadi ik)

Mulai Juli 2010, Listrik di Bawean Nyala 24 Jam

Media Bawean, 20 April 2010

Sumber : SINDO

GRESIK (SI) – Penantian panjang warga Pulau Bawean agar listrik menyala 24 jam segera terealisasi. PT PLN Area Pelayanan Jaringan (APJ) Gresik memastikan, paling lambat Juli 2010 Pulau Bawean terang benderang.

Manajer PT PLN APJ Gresik Sujarwo mengungkapkan, pembahasan kebutuhan listrik di Pulau Bawean dengan PLN Distribusi Jatim sudah tuntas dan saat ini tengah dilakukan lelang jaringan. ”Kalau tidak ada persoalan yang dapat membatalkan proses lelang, kami optimistis paling lambat Juli 2010 Bawean sudah terang benderang selama 24 jam,” paparnya kemarin.

Saat ini kebutuhan listrik bagi 9.661 pelanggan di Bawean mencapai 2.100 kw. Jika jumlah pelanggan bertambah 9.300 orang,ke-butuhan energi yang harus disiapkan PT PLN mencapai 4.000 kw lagi. Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut,pihaknya akan menambah mesin pembangkit secara bertahap. Tahap awal akan direalisasikan 2 kva. ”Nantinya dalam jangka panjang, kami mengalihkan tenaga listrik di Bawean menjadi PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap),” beber mantan Manajer APJ Banyuwangi tersebut.

Sekadar informasi, hingga saat ini listrik di Pulau Bawean hanya menyala sekitar 17 jam setiap harinya.Itu pun tidak semua dapat terlayani, hanya sekitar 9.661 pelanggan yang dapat aliran listrik 17 jam.Sementara warga yang belum terlayani mencapai 9.300 warga. Warga pun protes.

Akhirnya,hasil pertemuan antara Pemkab, DPRD, dan PT PLN APJ Gresik disepakati memenuhi semua kebutuhan listrik warga Bawean. Ketua DPRD Gresik Zulfan Hasyim berharap tidak ada kendala dalam proses lelang sehingga persoalan listrik di Bawean dapat segera dituntaskan. (ashadi ik)

Bantuan Hukum Tersangka Ditarik

Media Bawean, 8 April 2010

Sumber : SINDO

GRESIK (SI) – Bantuan hukum dari Bagian Hukum Pemkab Gresik untuk empat dari lima tersangka dugaan korupsi ganti rugi tanaman Lapangan Terbang (Lapter) Bawean akhirnya ditarik.

Selain karena mengikuti saran dari Kejaksaan Negeri (Kejari), hal itu dilakukan karena para tersangka korupsi senilai Rp569,901 juta itu sudah memiliki penasihat hukum sendiri. Keempat tersangka tersebut adalah Sofyan, mantan Camat Tambak; Gatot Siswanto, mantan Camat Cerme; Joko S, mantan Sekretaris Kecamatan Tambak; serta Toni Wahjoe Santoso, mantan Kepala Bagian Pemerintahan.

Kepala Bagian Hukum Pemkab Gresik Sutarmo mengatakan, para tersangka sudah menunjuk pengacara sendiri. Namun Pemkab masih terus melakukan pemantauan dan memberikan konsultasi terhadap perkembangan penanganan kasus korupsi lapter. ”Sebelumnya ada empat tersangka yang mendapat pendampingan bantuan hukum. Pemkab melakukan pendampingan terhadap empat tersangka sejak mereka ditetapkan sebagai tersangka,” katanya kepada wartawan kemarin.

Sementara itu,Kepala Kejari Gresik Teuku Abdul Djalil yang dihubungi terpisah membantah informasi institusinya melarang pengacara Pemkab Gresik mendampingi tersangka korupsi. Menurutnya, tidak ada aturan, baik yang tertulis maupun tidak, melarang Pemkab memberikan pendampingan hukum kepada tersangka korupsi.”Silakan kalau pengacara pemkab mau melakukan pendampingan,”kata TA Djalil. (ashadi ik)

Puluhan Hektare Padi Terancam Puso

Media Bawean, 11 Maret 2010

Sumber : SINDO

GRESIK (SI) – Ratusan petani di Pulau Bawean resah.Pasalnya, puluhan hektare sawah yang ditanami padi terancam puso alias gagal panen.Pemicunya, curah hujan di pulau berjuluk Pulau Putri itu cukup rendah.

Padahal hampir seluruh areal sawah di Bawean merupakan sawah tadah hujan yang mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan. Asgar, 35, salah seorang petani Desa Sawahrujing menjelaskan, dia dan petani lainnya saat ini gelisah melihat areal sawah yang digarap dalam kondisi rusak total atau gagal panen.

”Tahun ini adalah kegagalan petani Bawean dalam bercocok tanam di sawah,”katanya. Selain curah hujan rendah yang menyebabkan pengairan kurang, tanaman padi yang ditanam akhir Januari lalu itu, kondisinya rentan dengan penyakit. Dia menjelaskan bahwa tanaman padinya sudah tidak bisa diharapkan untuk bisa dipanen karena kondisinya kekeringan dan diserbu penyakit.

”Dengan kondisi seperti ini, panen hasil tanaman padi akan menurun secara dratis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya. Petugas penyuluh lapangan Dinas Pertanian Kabupaten Gresik yang bertugas di Kecamatan Sangkapura, Parto, membenarkan adanya kerusakan itu.

Curah hujan yang biasanya tinggi intensitasnya pada bulan Desember hingga Februari, saat ini tidak terjadi. ”Kondisi ini diperparah dengan datangnya penyakit batang padi. Penyakit ini muncul akibat pemupukan yang tidak berimbang atau bisa dikatakan kurang,” terang dia. Karena kondisi itu, lanjut Parto, pihaknya tidak bisa memrediksi panen di Bawean.

Namun dia optimistis jika curah hujan mulai meningkat, masih ada harapan bagi petani untuk menikmati hasilnya. ”Hanya saja jika beberapa hari kedepan ternyata tidak turun hujan, secara otomatis predeksi gagal panen di Bawean akan terjadi,” jelasnya Petani di Desa Sawahrujing dan Komalasa,Kecamatan Sangkapura paling menderita.Sebab,batang tanaman mengering dan daunnya menguning. Sementara buliran padi tidak keluar. (ashadi ik)

Dua Camat Diberhentikan

Media Bawean, 3 Maret 2010

Sumber : SINDO

GRESIK(SI) – Sudah jatuh tertimpa tangga.Setelah ditahan menyusul penetapan sebagai tersangka dugaan korupsi ganti rugi tanaman Lapangan Terbang (Lapter) Bawean, Camat Cerme Gatot Siswanto dan Camat Tambak Sofyan diberhentikan sementara dari jabatannya.

Sejak ditahan bersama tiga tersangka lainnya, yakni Toni Wahjoe Santoso (mantan Kabag Pemerintahan Umum), Joko S (mantan Sekcam Tambak/sekarang Sekcam Sangkapura), dan Danauri (mantan Kades Tanjung Ori Kecamatan Tambak) pada 18 Februari 2010, urusan administrasi di dua kecamatan tersebut berkendala. Informasi yang berkembang untuk urusan administrasi yang terpengaruh adalah pengurusan KTP maupun kartu keluarga (KK). Bahkan, urusan lainnya yang membutuhkan pengesahan camat harus menunggu dibawa ke tahanan.

”Saat ini yang paling kami rasakan adalah surat menyurat. Sebab, kami selalu membawa surat-surat tersebut ke tahanan Polres Gresik,” ujar salah satu staf Kantor Kecamatan Cerme yang enggan disebut namanya. Atas dasar itulah, Kepala Bagian Hukum Sutarmo mengungkapkan, sejak ditahan penyidik Satreskrim Polres Gresik, kedua camat tersebut berhenti sementara dari jabatan yang melekatnya. ”Kami sudah melakukan kajian hukum tentang hal itu. Hasilnya memang berhenti sementara. Hasil kajian hukumnya dalam waktu dekat kami kirim ke BKD untuk ditindaklanjuti,” ungkapnya kemarin.

Sutarmo menegaskan, sampai saat ini permohonan pengalihan status tahanan menjadi tahanan kota belum mendapat jawaban dari Polres. Padahal, jawaban tersebut cukup diperlukan sebagai bahan kajian. ”Kami memang mendapat informasi dari media bahwa permohonan yang kami ajukan tidak dikabulkan. Namun kami belum mendapat surat jawaban tersebut,” katanya. Sementara Kepala Badan Kepegawaian Kuwadijo yang dikonfirmasi terkait pemberhentian sementara dua camat maupun satu orang sekcam tersebut mengaku masih menunggu hasil kajian dari bagian hukum.

Dia menegaskan, secara otomatis bila camatnya berhalangan, yang menjadi pelaksana tugas (Plt) adalah sekretaris kecamatan (sekcam).”Itu perlu surat ketetapan. Nah, ketetapan itu masih menunggu hasil kajian dari bagian hukum,”ucapnya. Seperti pernah diberitakan, polisi menahan lima orang tersangka dugaan korupsi ganti rugi tanaman Lapter Bawean. Mereka ditetapkan sebagai tersangka setelah menggelembungkan (mark up) uang ganti rugi tanaman lahan Lapter Bawean senilai Rp569.901.335, termasuk biaya transportasi Rp8,6 juta.

Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jatim, kerugian negara dalam proyek ini mencapai Rp474,761 juta dari anggaran APBD senilai Rp569,901 juta. Kerugian versi BPKP ini lebih besar Rp14 juta dari estimasi perhitungan penyidik Unit Tipikor. (ashadi ik)

Ajukan Pengalihan Penahanan

Media Bawean, 20 Februari 2010

Sumber : SINDO

GRESIK(SI) – Baru sehari ditahan di Mapolres Gresik, lima tersangka dugaan korupsi uang ganti rugi Lapangan Terbang (Lapter) Bawean sudah jera.

Mereka meminta untuk dialihkan status tahanan menjadi tahanan kota. Dari lima tersangka, empat di antaranya meminta bantuan Pemkab Gresik untuk mengajukan permohonan pengalihan status tahanan. Mereka adalah Toni Wahjoe Santoso, mantan Kabag Pemerintahan Umum; Gatot Siswanto, mantan Kasubag Agraria yang sekarang menjabat sebagai Camat Cerme; Sofyan, Camat Tambak; dan Joko S, mantan Sekcam Tambak yang sekarang sebagai Sekcam Sangkapura. Kepala Bagian Hukum Sutarmo mengatakan, karena di antara lima tersangka tersebut statusnya PNS dan pensiunan, maka menjadi kewenangan pemkab untuk melakukan pendampingan.

Langkah yang dilakukan pertama adalah mengajukan permohonan pengalihan status tahanan dengan penjamin masing- masing istri. ”Kami rencanakan hari ini (kemarin) sudah dikirim sehingga secepatnya mendapat tanggapan,”ujarnya, kemarin. Bagian Hukum Setkab Gresik sendiri sejak pemeriksaan tersangka, sudah menurunkan enam staf hukum. Namun, mereka tidak dapat berbuat banyak. Karena semua tersangka tetap dijebloskan ke tahanan mapolres. Pada Kamis (18/2) malam, sekitar pukul 22.30 WIB, bersama mantan Kades Tanjungori Danauri, mereka dikeler dari ruang Unit II ke ruang tahanan yang jaraknya sekitar 100 meter. Semua bawaan, mulai telepon seluler (ponsel) hingga dompet, disita polisi.

Mereka pun berjalan beriringan didampingi penyidik Unit II. Berjalan paling depan adalah mantan Kades Tanjungori Danauri, diikuti dengan Djoko S, Sofyan, Gatot Siswanto, terakhir Toni Wahjoe Santoso. Semua tersangka tampak melangkah dengan tenang.Bahkan, Gatot Siswanto berkali-kali mengumbarsenyumkepadawartawan. Namun, senyuman itu berubah kesedihan, tatkala kelimanya sampai di ruang ganti tahanan. Petugas meminta para tersangka melepas baju dan menggantikan dengan baju tahanan. Terlihat mata Gatot, Djoko maupun Toni sempat berkaca- kaca.

”Kami minta tolong jangan diganggu, jangan dipukul,” kata petugas kepada para tahanan yang menyambut kelima tersangka di pintu tahanan Polres Gresik. Meski begitu, kebiasaan hidup serba tercukupi membuat para pejabat pemkab tersebut tidak nyenyak tidur di tahanan. Bahkan, berkali-kali di antara mereka batuk- batuk. Apalagi, Toni yang pensiunan Kabag Pemerintahan Umum itu baru saja sembuh dari sakit. Kondisi tidur beralaskan lantai dan makan seadanya itu diperkirakan akan diterima para tahanan ganti rugi Lapter Bawean hingga beberapa hari kedepan.

Kasatreskrim AKP Fauzan Sukmawansyah menyebutkan, bila pihaknya masih memiliki waktu 20 hari, ditambah 60 hari sebelum melimpahkan perkara tersebut ke Kejari Gresik. ”Kami masih ada kesempatan untuk menyempurnakan BAP sebelum dilimpahkan,”tukasnya. Bukan hanya itu, mantan Kapolsekta Sidoarjo itu mengaku, hingga sore kemarin belum menerima surat permohonan pengalihan status tahanan kota. Kendati begitu, AKP Fauzan enggan berandai- andai menanggapi pengajuan permohonan tersebut. ”Nanti dulu, kalau ada surat permohonannya baru akan kami pertimbangkan. Sekarang tidak bisa berandaiandai,” katanya.

Seperti diberitakan kemarin, lima orang tersangka dugaan korupsi ganti rugi tanaman Lapter Bawean ditahan, setelah diperiksa maraton di Unit II Polres Gresik. Mereka ditahan setelah ada dugaan korupsi penggelembungan (markup) ganti rugi tanaman untuk lahan Lapter Bawean ditangani Polres Gresik sejak 2007. Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, penyidik sudah memeriksa 243 penggarap lahan yang diklaim telah menerima ganti rugi tanaman untuk lapter perintis di DesaTanjung Ori, KecamatanTambak, tersebut. Dalam pemeriksaan di Pulau Bawean, terungkap bahwa yang benar-benar menerima ganti rugi hanya 101 penggarap.Total ganti ruginya Rp109,1 juta.

Padahal, bukti surat perintah jalan (SPJ) yang dilaporkan ke Pemkab Gresik Rp569.901.335, termasuk biaya transportasi Rp8,6 juta. Berarti,ada selisih Rp460,8 juta yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Penyidik juga menemukan sejumlah kejanggalan. Salah satunya, 19 saksi yang dilaporkan mendapatkan ganti rugi ternyata telah meninggal sebelum proses ganti rugi dilakukan pada 2006.Ada juga bocah berusia 8 tahun yang mendapatkan ganti rugi Rp. 2 juta.

Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jatim, kerugian negara dalam proyek ini Rp. 474,761 juta dari anggaran APBD senilai Rp569,901 juta. (ashadi ik)

5 Tersangka Lapter Bawean Ditahan

Media Bawean, 19 Februari 2010

Sumber : SINDO

GRESIK(SI) –Lima orang tersangka dugaan korupsi ganti rugi tanaman Lapangan Terbang (Lapter) Bawean ditahan, setelah diperiksa maraton di Polres Gresik, kemarin.

Hingga pukul 22.00 tadi malam, sidang masih berlangsung. Hingga berita ini ditulis memang kelima tersangka belum ditahan karena pemeriksaan masih berlangsung. Namun Kasatreskrim Polres Gresik AKP Fauzan Sukmawansyah memastikan kelimanya bakal ditahan. Kelima tersangka yang ditahan adalah Toni Wahjoe Santoso, mantan Kabag Pemerintahan Umum; Gatot Siswanto, mantan Kasubag Agraria yang sekarang menjabat sebagai Camat Cerme; Sofyan, Camat Tambak; Joko S, mantan Sekcam Tambak yang sekarang sebagai Sekcam Sangkapura; dan Danauri, mantan Kades Tanjung Ori Kecamatan Tambak.

Dari lima orang yang menjalani pemeriksaan, hanya Danauri yang didampingi penasehat hukumnya, David Sinaga. Sementara Camat Tambak dan Camat Cerme didampingi staf dari Bagian Hukum Pemkab Gresik. Pemeriksaan yang dipimpin Ipda Arief Rosjidi itu berlangsung mulai pukul 08.00 pagi. Khusus Toni mulai diperiksa sesuai jeda istirahat sekitar pukul 12.00. Mereka diperiksa di ruang Unit III. Selain Ipda Arief Rosjidi, penyidik lainnya di antaranya Bripka I Ketut Riasa, Brigadir Saiful Rokhim, Briptu Siswanto, Serta Bripda Burhanudin. Pemeriksaan berlangsung tertutup sehingga tidak banyak yang diketahui seputar materi pertanyaan yang disampaikan penyidik.

Namun, pengakuan Danuari di selasela masa jeda pemeriksaan,mereka diperiksa sebagai tersangka perkara dugaan korupsi uang ganti rugi tanaman Lapter Bawean senilai Rp569.901.335, termasuk biaya transportasi Rp8,6 juta. ”Iya panggilan yang saya terima pemeriksaan sebagai tersangka,” akunya dengan nada polos. Disinggung tentang materi yang dipertanyakan, Danauri mengaku mengulangi pertanyaan yang pernah disampaikan saat pemeriksaan pertama. Menurutnya, penyidik kembali mempertanyakan siapa yang bertanggungjawab saat pemberian uang ganti rugi ke pemilik lahan.

“ Ya saya jawab, saya ini tidak tahu perkaranya, karena saya hanya menerima uang dari Pak Camat sebesar Rp180 juta. Itupun diminta lagi Pak Camat sebesar Rp30 juta,”katanya. Hanya, lanjut Danauri, pihaknya tidak bisa menunjukkan bukti kuitansi, karena kuitansi pembayaran tersebut hilang diterjang banjir. “Saat itu saya taruh di atas televisi, tapi karena terkena banjir jadinya hilang,”bebernya. Setelah massa istirahat berakhir sekitar pukul 01.00 WIB, kelima tersangka korupsi ganti rugi tanaman Lapter Bawean diperiksa lagi. Sampai berita ini ditulis, pemeriksaan tetap berlangsung. Informasinya, mereka akan ditahan.

Polres Gresik juga sempat berkonsultasi dengan Kejari Gresik. Sebagai catatan, dugaan korupsi mark-up ganti rugi tanaman untuk lahan Lapter Bawean ditangani Polres Gresik sejak 2007. Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, penyidik sudah memeriksa 243 penggarap lahan yang diklaim telah menerima ganti rugi tanaman untuk lapter perintis di Desa Tanjung Ori, Kecamatan Tambak, tersebut. Dalam pemeriksaan di Pulau Bawean, terungkap bahwa yang benar-benar menerima ganti rugi hanya 101 penggarap. Total ganti ruginya Rp109,1 juta. Padahal, bukti surat perintah jalan (SPJ) yang dilaporkan ke Pemkab Gresik Rp569.901.335, termasuk biaya transportasi Rp8,6 juta.

Berarti, ada selisih Rp460,8 juta yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Penyidik juga menemukan sejumlah kejanggalan. Salah satunya, 19 saksi yang dilaporkan mendapatkan ganti rugi ternyata telah meninggal sebelum proses ganti rugi dilakukan pada 2006. Ada juga bocah berusia 8 tahun yang mendapatkan ganti rugi Rp2 juta.

Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jatim, kerugian negara dalam proyek ini Rp474,761 juta dari anggaran APBD senilai Rp569,901 juta. (ashadi ik)

Elektabilitas Samwil Buntuti Khuluq

Media Bawean, 11 Februari 2010

Sumber : SINDO

GRESIK(SI) – Pelan tapi pasti,elektabilitas Ketua DPC Partai Demokrat Gresik H Samwil terus terdongkrak. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) mantan anggota legislatif tersebut membuntuti kepopuleran Husnul Khuluq di tempat teratas.

Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Gresik H Subki menjelaskan, bila survei tersebut dilakukan pada 15 Januari hingga 29 Januari lalu. Katanya, survei tersebut dilakukan LSI terhadap 800 responden yang tersebar di 18 kecamatan, termasuk dua kecamatan di Pulau Bawean. ”Survei itu menyebutkan Samwil menempati posisi ketiga. Sementara posisi Khuluq meraih suara mayoritas dari 800 responden yang menjadi subyek survei,” terang pengusaha transportasi tersebut kepada wartawan, kemarin.

Dijelaskan, kuatnya suara Husnul Khuluq, karena yang bersangkutan masih aktif sebagai sekretris daerah. Bahkan dia memperkirakan, posisi Khuluq sebagai Ketua PCNU Gresik cukup mendongkrak popularitasnya. Subki menambahkan, DPC Partai Demokrat Gresik memang menggunakan LSI sebagai lembaga survei untuk mengetahui kekuatan elektabilitas dan popularitas calon bupati. Karena survei tersebut sebagai bahan untuk penentuan rekomendasi. ”Hasilnya yang disampaikan LSI,Pak Samwil menempati posisi ketiga.

Persentase yang didapatkan tidak jauh beda dengan yang menempati di nomor dua.Namun, posisi Khuluq memiliki persentase yang cukup besar dan tidak mungkin dikejar oleh cabup lain,” tegas pengurus Demokrat yang kelahiran Sangkapura,Bawean tersebut. Dengan hasil demikian,dia optimistis bila DPC PD Gresik bisa menyandingkan Husnul Khuluq dengan H Samwil dalam pemilihan bupati (pilbup) yang akan digelar 26 Mei mendatang. Artinya, dengan posisi Khuluq yang teratas digandengkan dengan H Samwil sebagai calon wakil bupatinya, dia menjamin cukup kuat. ”Kami optimis kalau disandingkan bakal kuat,” tegas H Subki.

Samwil yang dikonfirmasi mengatakan, bila survei LSI tersebut sebagai acuan oleh DPP PD untuk memutuskan rekomendasi pasangan yang maju di pilbup. Bahkan, diakuinya bila hasil survei itu sejalan dengan keputusan Rekercab II PD Gresik yang diselenggarakan Januari lalu. ”Keputusan rakercab mengamanatkan Ketua DPC untuk menjadi kandidat nomor dua sebagai cawabup. Rekomendasi rakercab disampaikan jika hasil survei tidak dimungkinkan untuk menjadi orang nomor satu atau cabup,”tukasnya. Bahkan, Samwil pun tidak sungkan-sungkan menyebut bila dirinya siap menjadi wakil bupati Husnul Khuluq. ”Kalau melihat hasil surveinya seperti itu, saya siap jadi orang kedua,”katanya.

Sementara itu, sejumlah responden dari kalangan tokoh masyarakat dan ulama di Gresik menghendaki Husnul Khuluq sebagai calon bupati. Selain sebagai kader NU, posisi Khuluq yang didukung oleh PKB, PPP, PKNU cukup strategis. Posisi tersebut makin mantab jika disandingkan dengan tokoh yang diusung oleh Partai Demokrat. ”Duet tokoh NU dan Demokrat sangat tepat dan membangun Gresik ke depan, apalagi H Samwil kader NU. Selain kader NU, Samwil juga petinggi Demokrat yang mumpuni,” kata KH Aziz Ismail, mantan Wakil Dewan Syuro DPC PKB Gresik. (ashadi ik)

Pesta Miras, Empat ABK Tewas

Media Bawean, 4 Februari 2010

Sumber : SINDO

GRESIK (SI) – Empat anak buah kapal (ABK) Tugboat Lius VI tewas dan seorang lainnya kritis usai pesta minuman keras (miras) di Pelabuhan Sangkapura, kemarin. Mereka mengalami keracunan alkohol dari minuman keras Vodka yang dicampur Pepsi Blue. Peristiwa itu dimulai Senin (1/2) ketika TugBoat Lius VI menarik Kapal Kiat I yang bermuatan kayu mengalami kerusakan setelah berangkat dari Kalimantan menuju Pelabuhan Tanjung Mas,Semarang.

Mereka pun memutuskan sandar di Pelabuhan Sangkapura, Bawean, untuk melakukan perbaikan. Karena tidak kunjung selesai, sekitar pukul 12.00 WIB, ada sekitar lima ABK memutuskan untuk menggelar pesta miras di kapal. Tak tanggung-tanggung, satu krat atau 20 botol Vodka disiapkan ditambah puluhan botol Pepsi Blue.

Mereka yang ikut pesta itu adalah Richter Mamuca, 24,mualim I (chief officer) warga Balikpapan; Bonny Fertigo Gamis, 30,warga Samarinda selaku kapten kapal; Hiel Makambang,29,warga Menado sebagai mualim I (chiefofficer).Kemudian Fritz Harimisa, 26, warga Sangihe Talaud sebagai masinis kapal, dan Anggiat,27,warga Samarinda. “Menurut saksi, mereka pesta miras dari Senin siang sekitar pukul 12.00 WIB hingga Selasa (2/2) dini hari,” terang Kapolsek Sangkapura AKP Zamzami,kemarin.

Setelah melakukan pesta miras hingga dini hari,Anggiat dan Richter Mamuca ambruk. Karena kondisinya sangat mengkhawatirkan, keduanya dibawa ke Puskesmas Sangkapura untuk mendapat pertolongan. Namun,Richter Mamuca meninggal sebelum mendapat perawatan. Sementara Anggiat, menurut Zamzani,hingga kemarin petang belum sadarkan diri. Tak hanya mereka berdua yang telerberat.

Tiga lainnya yaitu Bonny Fertigo Gamis, Hiel Makambang, Fritz Harimisa ternyata juga mulai tak sadarkan diri. Oleh awak KM Dharma Kartika, ketiganya dikirim ke Gresik dengan harapan mendapat perawatan yang lebih baik. Jarak tempuh Sangkapura dengan Gresik yang mencapai 8-9 jam membuat kondisi tubuh ketiganya semakin drop.Selama dalam perjalanan KM Dharma Kartika mereka hanya mendapat perawatan dari perawat Puskesmas Sangkapura.

Dalam perjalanan itulah mereka secara bergiliran meregang nyawa. KM Dharma Kartika tiba di Pelabuhan Gresik sekitar pukul 17.59 WIB.Terlihat keluarga Fritz Harimisa ikut menjemput. Bahkan, tampak di antara adalah Kapolres Gresik AKBP Rinto Djatmono, Kasatreskrim AKP Fauzan S, serta Kapolse Sangkapura AKP Zamzami dan Kapolsek KP3 Gresik AKP Suhariyani.

Selanjutnya ketiga jenazah diangkut dengan mobil ambulan milik RS Semen Gresik, RS Petrokimia Gresik, RSU Ibnu Sina,dan ambulan milik Masjid Jami’ Gresik. Ketiganya dibawa ke RSU Ibnu Sina untuk diautopsi sebelum dibawa ke Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. Kapolres AKBP Rinto Djatmono mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil visum dari RSU Ibnu Sina untuk memastikan penyebab kematian para ABK tersebut.“

Hanya saya mendapat informasi katanya mereka melakukan pesta minum selama seharian.Tapi untuk mengungkap kebenarannya perlu menunggu hasil visum,” tegasnya. Sebaliknya keluarga Fritz Harimisa yang diwakili Pendeta Iriani, warga Jalan Ikan Gurami Surabaya menegaskan, bila baru mendapat informasi sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu info yang diterima kapal mengalami kerusakan terus berteduh di Pelabuhan Bawean. “Tak tahunya sudah meninggal,” katanya kepada wartawan.

Agus Harimisa,adik Fritz Harimisa menyatakan, keluarganya berkeinginan membawa jenazah kakaknya ke Sangihe Talaud Sulawesi Utara. Bahkan, bukan hanya kakaknya semua ABK yang meninggal akan dibawa ke Sangihe dan dimakamkan di sana.“Besok (hari ini, red) ada pesawat dari perusahaan yang menjemput jenazah termasuk di Bawean untuk dibawa ke Sangihe,” ujaranya saat turtun dari kapal mendampingi kakaknya dari Bawean ke Pelabuhan Gresik. (ashadi ik)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean