Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210

BERITA POPULER

adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label SURAT PEMBACA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SURAT PEMBACA. Tampilkan semua postingan

Surat Pembaca
Terima Kasih MAPENDA dan PLN

Media Bawean, 30 September 2013


Ali Asyhar (Wakil Ketua PCNU Bawean)

Dulu, tiap arus mudik dan arus balik lebaran maka bisa dipastikan stasiun kereta api penuh sesak penumpang. Mereka berdesakan dan saling gencet. Pintu masuk kereta tak cukup melayani sehingga jendela kereta ikut menjadi pintu masuk. Kerumunan manusia yang hilang rasa kemanusiaannya. Tak ada belas kasih dan empati. Semuanya focus urusannya masing-masing.

Kini, setelah Direktur Utama PT.Kereta Api dipegang Ignasius Jonan maka semuanya berubah lebih baik. Manjemen PT. KAI di benahi. Tiket dijual online sehingga mengurangi antrian di loket. Para calo tiket ditekan. Tidak boleh ada penumpang yang berdiri. Penjual asongan dilarang berjualan di dalam kereta api. Bangunan-bangunan liar di tanah milik PT. KAI digusur. Hasilnya luar biasa. Stasiun yang kumuh dan seram menjadi bersih dan seksi. Penumpang yang berjubel saat arus mudik dan arus balik lebaran menjadi tertib. Sehingga banyak wartawan yang kecele karena tidak ada berita lagi yang menghebohkan di stasiun. Pendek kata hal-hal yang semrawut, kumuh dan liar bisa dirubah menjadi baik asal ada keinginan yang kuat dan sungguh-sungguh.

Begitu pula para guru di Bawean. Dulu, tiap ada pencairan Tunjangan Profesi mereka tersenyum kecut. Tersenyum karena dapat uang dan kecut karena pasti ada potongan. Kini kecutnya telah tiada. Pada pencairan Tunjangan Profesi periode Januari-Juli 2013 mereka menerima secara utuh tanpa potongan. Para guru di bawah kementerian agama tidak lagi disunat Rp. 200.000.

Bukan hanya mapenda Gresik yang berubah baik. PLN Bawean juga bertambah cakep. Sudah tiga tahun ini PLN Bawean melayani masyarakat dengan prima. Tak ada lagi pemadaman. Tak ada lagi kabar tentang mafia listrik curah. Tak ada lagi kabar tentang BBM gelap yang dijual “orang-orang” PLN tengah malam. Kondisi ini harus disyukuri dan dijaga oleh semua pihak. PLN dan masyarakat. Mari kita bantu PLN dengan cara menghemat penggunaan listrik di tempat masing-masing.

Terima kasih Mapenda Gresik. Terima kasih dan selamat ulang tahun PLN Bawean. Kita mengharap perbaikan ini menular kepada instansi lain. Semoga Telkom Bawean juga menjadi lebih baik. Semoga tak ada lagi potongan untuk tunjangan guru terpencil. Semoga tak ada lagi biaya untuk tanda tangan pejabat.

Surat Pembaca : Jempol Untuk Polisi

Media Bawean, 11 Agustus 2013

Meski masih ada yang berjoget meliuk-liuk di atas mobil tetapi jumlahnya sudah menurun dibanding tahun lalu. Bahkan banyak diantara mereka yang balik kucing kembali ke kampungnya setelah diingatkan oleh Polisi.

Saya bangga dengan kinerja polisi yang serius menghilangkan pelanggaran. “ Tradisi” keliling Bawean dengan berjoget di atas mobil sudah saatnya dihapus. Setidaknya ada dua alasannya. Pertama : Mengganggu pengguna jalan dan warga karena suara sound system yang memekakkan. Kedua : Tidak ada nilai positif sama sekali bahkan terkesan urakan.

Selanjutnya mari kita bantu dan dukung polisi dengan cara melarang anak/keluarga kita untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut. Bagi aparat desa sudah saatnya tegas melarang warganya. Silaturahim adalah anjuran agama namun tidak boleh dikotori dengan perilaku yang tidak pantas.

Ada tradisi cantik saat hari raya di yakni bersepeda pancal keliling Pulau Bawean dengan aneka warna bendera. Lucu, unik, sehat dan tidak mengganggu. Bahkan para Caleg bisa titip bendera partai plus photonya.

Ali Asyhar , Warga Kebunagung Lebak Sangkapura

Surat Pembaca :
Semrawutnya Jasa Angkut Di Dermaga

Media Bawean, 14 Juli 2012

Hari Rabu, 27 Juni 2012 , yang lalu kami sekeluarga berlayar ke Gresik. Kapal Express Bahari PP. Pukul satu siang para penumpang mulai naik kapal. Kami membawa tiga barang yaitu satu tas besar warna hitam, satu tas jinjing warna merah dan satu dus berisi makanan. Kami menggunakan jasa angkut yang bernama Hasan. Sesampainya kami di atas kapal, Hasan hanya menyerahkan satu tas besar warna hitam. Sedangkan dua barang yang lain masih di bawah. Hasan juga sibuk mengangkut barang orang lain. Sampai kapal berangkat , Hasan belum menyerahkan dua barang kami. Wal-hasil , barang kami tidak terangkut dan hilang.

Kasus hilangnya barang penumpang sangat sering terjadi. Dua bulan lalu teman saya Ustadz Suruji dan Muwafiq juga kehilangan Tape Recorder dan satu dus besar berisi kitab dan buku. Barang itu sudah diangkat oleh tukang jasa angkut tetapi setelah ditunggu di terminal kedatangan ternyata tidak ada. Selama ini tukang jasa angkut selalu lepas tanggung jawab dan hanya menjawab hilang tanpa merasa bersalah. Anehnya, sampai saat ini pengelola dermaga Bawean belum melakukan apa-apa untuk menertibkan jasa angkut.

Melalui surat pembaca ini kami berharap pengelola dermaga Bawean, managemen Kapal Express Bahari dan pihak terkait duduk bersama. Kami yakin tukang jasa angkut di Bawean bisa tertib seperti tukang jasa angkut di pelabuhan Gresik dan penumpang tidak terus menerus dirugikan.

Ali Asyhar , Kebunagung Lebak Sangkapura Bawean

Surat Pembaca Media Bawean
Perihal Gangguan Telepon Telkom

Media Bawean, 6 Mei 2012

Kepada,
Yang Berbahagia,
Tuan Samsu Bari
Kepala PT. Telkom Bawean

Melalui,
Redaksi Media Bawean
Jl. Sawah Luar No. 1, Kotakusuma, Sangkapura
Gresik Jawa Timur 61181


6.5.2012

PENGADUAN MASALAH PERHUBUNGAN TELEKOMUNIKASI MELALUI TELEFON BIMBIT / TALIAN TELEKOM KE TAMPO, PUDAKIT BARAT KEC.SANGKAPURA DARI / KE MALAYSIA ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuan,
Salam hormat,

Dukacita dimaklumkan bahawa saya mewakili pihak ahli keluarga dan famili dari seluruh Tampo Pudakit Barat Kecamatan Sangkapura di Malaysia mohon pihak berkuasa di Bawean dapat mengatasi permasalahan perhubungan Telekomunikasi samada melalui penggunaan telefon bimbit maupun telefon Telekom @ yang menggunakan talian. Masalah untuk menghubungi ahli keluarga / famili ke kampong dari Malaysia dan juga Ke Malaysia dari kampong amat mengecewakan kerana sukar dihubungi yakni seolah-olah tiada gelombang penerimaan@signal penerimaan.

Kejadian ini telah berlaku sekian lama dan saya mewakili penduduk Tampo Pudakit Barat merayu agar pihak yang bertanggungjawab dapat memperbaiki kemudahan Telekomunikasi di Bawean secepat mungkin memandangkan banyak permasalahan atau berita yang lewat atau langsung tidak kami terima dari Malaysia terutamanya melibatkan berita kematian atau berita berkaitan ahli keluarga atau sanak saudara yang sakit tenat di kampong.

Permasalahan ini mungkin berpunca dari kekurangan pencawang di sekitar kawasan yang dilindungi bukit atau pergunungan terutama di Tampo Pudakit Barat serta ketiadaan fungsi telekomunikasi di pencawang di lokasi Gunung Mas, Bawean.

Sekali lagi, mohon pihak sidang redaksi dapat menyampaikan berita ini kepada Penguasa Telekomunikasi Pulau Bawean agar permasalahan ini dapat disegerakan setelah hampir 6 bulan penggunaan telefon bimbit langsung tidak berfungsi terutamanya di lokasi tertentu di Tampo Pudakit Barat Kecamatan Sangkapura.apabila cuba dihubungi dari Malaysia.

Sekian, terima kasih.

Yang benar,
AHMAD KAMAL 
Kuala Lumpur Malaysia


Respon Samsu Bari (Kepala PT. Telkom Bawean)
Silahkan ditulis nomor telepon yang mengalami gangguan, kemudian dilaporkan ke kantor PT. Telkom Bawean, Nomor Telepon (0325)421500

Surat Pembaca
Hore........ Kakak Pulang Kampung

Media Bawean, 17 Desember 2011


Kepulangan saya kali ini sedikit berbeda, karena saya pulang bersama kakak sulung saya yang sudah 24 tahun tidak pulang ke Bawean. Beserta suaminya yang 31 tahun baru menginjakkam kaki di kampung halaman Pulau Bawean, bersama empat ponakan saya. Sudah terbayang bagaimana sambutan para tetangga dan acara mandi bunga nanti (mandi bunga Khusus bagi mereka yang lama tidak pulang kampung, dan tradisi untuk buang sial katanya). 

Tak terbayangkan bahagia_nya emak dan bapakku menyambut kedatangan anak yang sejak pertama pergi merantau ke Malaysia belum sempat menginjakkan kaki lagi di tanah kelahirannya. Bahagia menyambut menantu yang selama ini hanya bisa mendengar suaranya lewat telpon dan melihat fotonya saja. Juga empat cucunya yang mulai tumbuh dewasa. Termasuk saya tentunya hahaa..Dan hari itu pun tiba. Hari Rabu, tanggal 14 Desember 2011. Kapal Bahari Express mulai berangkat, membawa kami bertujuh menuju pulau leluhur. Cuaca hari itu cerah dan gelombang laut syahdu seperti nyanyian P Ramlie (Dendang perantau). Dalam perjalanan di atas kapal menuju pulau Bawean, fikiranku mulai menerawang. Entah ini kepulangan saya yang keberapa?, ya sejak saya pertama kali merantau pada tahun 1999. 

Tak terasa kapal sudah merapat di Dermaga..Alhamdulillah akhirnya saya dan keluarga sampai di pulau tercinta, Bawean. Mulailah drama pertemuan dari sebuah perpisahan yang panjang. Ramai tangis bahagia terdengar..yah sebuah pemandangan yang mengharu biru. Sesaat saya terpikir, bahwa menjadi perantau bukan cita - cita. Tapi sebuah tuntutan hidup. Demi masa depan yang lebih baik. Meski resikonya harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Bahkan terkadang saat kita para perantau pulang, mereka hanya tinggal batu nisan.

Tulisan ini baru saya tulis setelah empat hari saya pulang. Seperti biasanya, Desember selalu kelabu. Pun kepulangan kali ini selalu disambut dengan hujan yang cukup besar. Tapi rangkaian acara selama di Bawean; ngoleleng Bhebien dan ke Pulau Noko harus tetap jalan. Semoga cuaca mulai bersabat, dan kita akan kembali merantau dengan cerita-cerita yang mengharu biru tentang keluarga dan kampong halaman tercinta.

yah...ini sedikit tulisan saya tentang perantau. Semoga banyak tulisan kanca-kanca selaen untuk berbagi pengalaman. *ini ceritaku, bagaimana ceritamu?* versi iklan ind**ie hehee...

Dari Munawaroh asal Pateken, Berdomisili di Batam

Untuk PLN Bawean,
Kebanggan Kita Bersama

MediaBawean, 31 Oktober 2011


Tiga tahun lalu PLN Bawean berada dalam titik nadir. Muncul istilah 1-1 yaitu sehari hidup dan sehari padam. Yang dimaksud hidup ini bukan menyala 24 jam melainkan hanya 17 jam yaitu dari jam 17.00 WIB sampai 10.00 WIB. Keresahan masyarakat sudah sampai puncaknya. Berbagai forum digelar untuk mencari solusi tetapi nihil.

Desember 2009 Dahlan Iskan ( pak Dis) dilantik menjadi Direktur Utama PLN. Pak Dis kemudian memetakan ribuan masalah yang membelenggu PLN. Pada intinya ribuan masalah itu bersumber dari satu masalah yaitu rusaknya mental orang-orang PLN. Maka mulailah pak Dis mencanangkan revolusi mental tahap 1 dan 2. Hasilnya luar biasa. Sehatnya mental orang-orang PLN menyebabkan ribuan masalah bisa terurai satu persatu. Byar-pet hilang, bahkan PLN berani membuat program sehari satu juta sambungan untuk menghilangkan daftar tunggu yang jumlahnya bejibun. Tahun 2010 PLN dinobatkan sebagi BUMN paling sehat, paling untung dan paling membanggakan.

Bawean-pun menjadi terang benderang. Tidak ada lagi keluhan dari masyarakat. Daftar tunggu mulai tersenyum bahkan pelanggan baru sudah memakai listrik prabayar. Listrik curah menghilang. Perbincangan tentang listrik nyaris tak terdengar. Semua cinta dan bangga dengan PLN.

Kini kebanggaan dan kecintaan itu mulai luntur kembali. Setelah Dahlan Iskan meninggalkan PLN dan menempati pos baru sebagai menteri BUMN, ada kekhawatiran jangan-jangan mental lama orang-orang PLN kambuh lagi. Di Bawean, sudah seminggu ini PLN byar-pet tiap hari. Apakah ini sinyal bahwa akan muncul lagi istilah 1-1 ?

Kami yakin dengan pernyataan pak Dis bahwa PLN adalah BUMN dengan SDM terbaik. Mohon klarifikasi management PLN Bawean.

Ali Asyhar, pelanggan dan pecinta PLN
Tinggal di Kebonagung Lebak Sangkapura

Surat Pembaca Media Bawean

Media Bawean, 13 Oktober 2011

Assalamu'alaikum.....

Saya bukan seorang penulis yang pandai, coretan ini terdorong dari hati nurani. Saya juga takut untuk merangkainya, tapi karena dorongan dari teman, akhirnya saya coba beranikan diri untuk menulisnya.

Perkembangan teknologi pada saat ini sangat memberikan manfaat bagi saya pribadi sebagai perantau yang tinggal jauh dari tanah kelahiran tercinta. Pulau Bawean. Internet/media online banyak memberiku mamfaat secara pribadi. Kerinduan akan tanah kelahiran menjadi terobati karena semua informasi tentang Bawean tersaji dengan mudah di media online. Pun bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara dari Bawean via jejaring sosial Facebook. Kalau saat ini teknologi tidak berkembag seperti sekarang, aku tidak tahu cara  apalagi untuk mengobati kerinduan dengan pulau tercinta Bawean dan saudara-saudara yang sama-sama merantau jauh dari pulau Bawean. 

Media Bawean adalah menu saya setiap hari, untuk tahu apa yang terjadi di pulauku Bawean. Media Bawean satu-satunya yang bisa memberikan kabar terkini dan terpercaya. Bicara Media Bawean tidak lepas dari pengelolanya yang kreatif dan pantang menyerah. Alhamdulillah saya sempat berjumpa dengan beliau (Abdul Basit) dan ikut serta mengantarkan rombongan keluarga saya dari Malaysia ke Pulau Noko. 

Untuk mendapatkan berita bukan hal muda. Penuh perjuangan dan pengorbanannya sangat berat. Bahkan beliau sampai menomerduakan keluarganya. Beliau bekerja keras untuk menyuguhkan berita bagi pembacanya yang tersebar di seluruh dunia. Tak kenal panas ataupun hujan dia mengejar berita entah itu siang ataupun malam. Itu semua demi kemajuan dan memartabatkan pulau bawean. Beliau tetap semangat meski faktanya tak ada gaji tetap untuk kerja kerasnya, yang ada hanya uang iklan yang tak seberapa,dan juga kadang ada donatur untuk membantunya. Sangat menyedihkan memang, Beliau selalu mengangkat berita dari yang menghibur sampai yang mengurai air mata. Beliau sosok yang sangat peduli dengan keadaan orang lain, tapi adakah yang peduli dengan dirinya? Mungkin saja dia gemuk karena kenyang makan kritik bukan kripik. 

Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi diantara pembaca Media Bawean, tulisan ini tidak untuk meraih simpati apalagi minta dikasihani. Sekedar inspirasi untuk saya pribadi tentang sebuah perjuangan dan semangat yang tak kenal lelah demi mewujudkan mimpi kearah yang lebih baik. 

Harapan saya, semoga Media Bawean tetap kritis, kreatif dan inspiratif. Juga menjadi penyemangat bagi orang-orang Bawean dimana pun untuk sama-sama mengambil peran penting dalam pembangunan dan kemajuan Bawean. Karena saya yakin, Bawean mempunyai banyak generasi yang cerdas dan semoga kecerdasan mereka dimanfaatkan untuk kemajuan Bawean sesuai dengan kapasitasnya. Saya bangga atas kerja-kerja Media Bawean, dan saya akan lebih bangga kalau kita warga Bawean juga berkarya dan terlibat dalam memajukan Bawean.

Wassalam.
Batam, 13 Oktober 2011
Muna Waro (Batam)

Suara Hati Junaida Masnuna
Merindukan Pulau Bawean

Media Bawean, 15 September 2011


Junaida Masnuna (26 th.) mengungkapkan kerinduannya ingin pulang ke Pulau Bawean, setelah 8 tahun tak pernah pulang kampung, dan sekarang menetap di ibu kota Jakarta.

"Bukan cuman rindu, tetapi rindunya sudah mendarah daging. Setelah beberapa kali berniat ingin pulang ke Pulau Bawean ternyata gagal,"katanya.

Alumni MTs. Mambaul Falah Tambilung Sokaoneng, menyatakan seluruh keluarganya sudah berdomisili di Jakarta. Gadis asal Pangarangan, desa Tanjungori, Tambak, mengaku rindu dengan rumah kosong milik keluarganya, sampai sekarang tidak ada orang menempatinya.

Bulan Agustus tahun 2004, meninggalkan Pulau Bawean dan melanjutkan studi kuliah di Jakarta. Sejak masuk di bangku kuliah, secara otomatis fokus belajar dan aktif bekerja. Siang hari bekerja dan malam hari kuliah.

"Selesai kuliah, bulan Desember 2008, ada rencana ingin pulang kampung ke Pulau Bawean, tetapi kebutuhan keuangan sangat banyak sehingga harus menundanya, apalagi cuti kerja hanya diberi 1 minggu saja,"paparnya.

Kemudian tahun 2010, punya keinginan untuk pulang ke Pulau Bawean. Ternyata ada calon suami melamarnya, sehingga ditunda kembali untuk pulang ke Pulau Bawean. "Ternyata kerinduanku untuk pulang ke Pulau Bawean tercinta setelah menikah nantinya,"terangnya.

Akibat kegagalan ingin pulang ke Pulau Bawean, pernah Junaida Masnuna langsung sakit seperti kesurupan. Bila ditanyakan, jawabannya hanya satu saja, yaitu ingin pulang kampung ke Pulau Bawean.


Aku cinta Pulau Bawean.......
Aku cinta Alam Pulau Bawean......
Walaupun Pulau Bawean letaknya terpencil, tetapi keseburan tanah dan pemandangannya tidak ada yang menandinginya.
I LOVE BOYAN CITY FOREVER.........

Surat Dari Erwin Di Prancis
Sutradara Film Bawean

Media Bawean, 18 Agustus 2011 



Assalamualaikum  Wr. Wb.

Saya harap Bapak Basit sehat bersama keluarga di bulan Ramadhan ini. 
Kira-kira 5 juta umat Islam di Perancis mengamalkan ibadah puasa hampir selama 16 jam di musim panas ini. Di sini, saya sedang sibuk menyunting proyek sampingan yang telah kita usahakan bersama pada tahun yang lalu. Selain itu, saya juga sibuk menjalankan tugas sebagai jurukam untuk penyiaran televisi di Eropah dan malangnya tahun ini tidak berpeluang untuk pulang disisi keluarga.

Ingin mengingat kembali   bekerjasama dengan Media Bawean, tanggal 3 Maret 2010. Saya datang dengan tujuan untuk menggali potensi budaya, seni, sosial dan lainnya, di Pulau Bawean dari segi perfilman. Setelah hampir sebulan di Pulau Bawean, rekaman itu disambung lagi dengan wawancara selanjutnya di Jakarta dan Singapura. (Produksi Rekaman selesai di pertengahan 2010). Semasa menyemak semula suntingan yang telah direkam tahun lalu, saya yakin bahwa terdapat banyak material ataupun bahan-bahan dari rekaman yang bisa digunakan untuk membentuk sebuah struktur cerita dokumentasi tentang subyek Bawean. Kini, saya sedang sibuk mencantumkan adengan-adegan dari rekaman yang bisa digunakan dan berharap suntingan film ini dapat cepat selesai untuk ditayangkan. Walaupun proses produksi perfilmen Bawean ini telah banyak memakan masa dan juga tenaga usaha kerjasama MB, (terutama Pak Basit dan Penasihatnya) proses suntingan film ini lebih sulit dari proses produksi perfilman. Tetapi sekarang, saya yakin film ini dapat diwujudkan pada satu ketika nanti.

Dengan itu, saya menulis untuk menyampaikan berita tentang perkembangan film Bawean yang berjudul ‘Keajaiban Iman’ atau pun ‘The Magic of Faith’ dalam bahasa Inggris. Film Bawean ini terinspirasi dari sebuah tulisan dalam bahasa Inggeris oleh Leslie Nevison, seorang wartawan sambilan dari Kanada, yang pernah berkunjung ke Pulau Bawean selama seminggu dengan undangan Haji Samri Barik dari Desa Paromaan, Tambak pada tahun 1999. Pada tahun itu, Nevison telah sempat bertemu dengan Almarhum Raden K.H. Abdurrahman di rumahnya dan pertemuan itu telah disebutkan oleh Nevison secara tulisan - sayangnya, saya tidak terfikir untuk bertemu dengan Almarhum pada tahun yang lalu. Film dokumentasi ini berdasarkan dari pengalaman Leslie Nevison sebagai seorang tetamu di Bawean. Selain mententangkan isu-isu seperti budaya perantauan dan masyarakat di Bawean, ia juga mententangkan pengalaman para wisata lain yang menemukan korelasi pengalaman mereka melalui filem ini - satu dekad kemudian. 

Melaui lelaman ini (Facebook Group) http://www.facebook.com/Baweans terdapat sebuah kumpulan khas untuk sesiapa yang ingin meninjau perkembangan film ini. Di sini juga, terdapat sedikit penerangan melalui gambaran yang telah direkam di Bawean pada tahun lalu. Walaupun film ‘Keajaiban Iman’ ini masih di rangkai penyuntingan, angka anggota kumpulan pada masa ini sudah mencapai 117 dan kebanyakkan dari mereka datang dari putra/putri Bawean di semenanjung Malaysia, Australia dan Indonesia. Dengan ini, saya berharap lebih ramai lagi akan menganggotai kumpulan filem ‘Keajaiban Iman’ dan bercadang untuk mengeluarkan sebuah ‘Trailer’ untuk penonton yang berminat memalui kumpulan Facebook ini apabila siap nanti. 

Saya mengucapkan selamat maengamalkan ibadah puasa dan selamat hari kemerdekaan Indonesia ke 66.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

M. Erwin
Sutradara filem Keajaiban Iman | The Magic of Faith
Dari ibu Kota Perancis, 17 Agustus 2011.

Antara Pulau Bawean Dengan Kota Batam

Media Bawean, 19 Desember 2009

Perkenalkan nama saya Fathanah Usman, berasal dari Pulau Bawean tepatnya di Gunung Durin desa Patarselamat Sangkapura,,...

Saya sedikit ingin shering nich... tentang perjalananku sehingga bisa seperti sekarang ini,,, memang tidak begitu sukses, cuma kebanggaan saja buatku sendiri...



Saya anak bungsu dari empat bersaudara, alumni Ponpes Hasan Jufri Lebak Sangkapura Pulau Bawean Gresik, Tahun 2008.

Perjalananku dibangku sekolah di Madrasah Aliyah mungkin kurang menarik, karena saya bukan termasuk siswa yang selalu berprestasi. Prestasiku hanya rengking lima sampai sepuluh besar di jurusan IPA.


Hari demi hari, minggu ke minggu, Alhamdulillah akhirnya saya bisa lulus ujian nasional. Saat lulus kuberpikir, mau kemana saya akan melangkahkan kaki untuk masa depan. Sementara teman- teman sudah daftar kuliah di Pulau Bawean dan melanjutkan kuliah ke Pulau Jawa.

Sedangkan diriku hanya termenung, akankah hanya bisa berdiam diri tanpa melanjutkan seperti teman-teamanku yang lain?
Saya sangat iri melihat dan mendengar teman-teman sudah melanjutkan ke perguruan tinggi, ingin rasanya ikut bersama mereka, tapi keadaan ekonomi keluargaku kurang memungkinkan.

Kemudian setelah perpisahan imtihan, saya langsung pulang ke rumah, dan mengungkapkan niat hati untuk melanjutkan belajar kejenjang yang lebih tinggi. Setelah sampai di rumah dan melihat sosok ibu di depan mata, tak tega rasanya untuk mengungkapkan niatku untuk kuliah. Karena kutahu sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas sudah dibiayai oleh orang tuaku tercinta.


Kuberpikir bagaimana caranya supaya bisa kuliah dengan biaya sendiri tanpa membebani orang tua. Besok harinya langsung mencari lowongan kerja mengajar dimana saja, tapi Allah SWT. mungkin belum mengizikannya. Seminggu saya mencari kerja di Bawean untuk biaya kuliah, tapi belum mendapatkan pekerjaan.

Sampai akhirnya, memutuskan untuk pergi ke kota Batam yang kebetulan ada saudaraku disana.
Dengan niat bulat dan tekat yang kuat, saya memberanikan diri meminta izin kepada orang tua untuk merantau ke kota Batam, dengan tujuan kuliah sambil kerja. Awalnya orang tuaku tidak mengizinkan, dikarenakan takut akan pergaulan bebas. Dengan segala macam cara untuk meyakinkan, alhamdulillah akhirnya orang tuaku mengizinkannya.

Seminggu kemudian kuberangkat ke kota Batam sendirian, tanpa didampingi siapapun.
Di kota Batam, saya tinggal bersama saudara, selama satu bulan setengah menganggur. Alhamdulillah saya diterima bekerja disalah satu Pondok Pesantren di Batam, walaupun gajinya kecil yang penting punya kerja untuk bisa kuliah. Selama empat bulan bekerja, tapi belum bisa kuliah, saya mencoba mendaftarkan diri di Universitas, tapi belum diterimanya.

Dianjurkan menunggu sampai tahun depan, karena persyaratan masuk kuliah harus mengabdi selama satu tahun. Dengan setianya kumenunggu selama satu tahun, untuk kuliah di Universitas tersebut, akhirnya bulan agustus 2009 saya diterima menjadi mahasiswa disalah satu universitas di kota Batam.


Alhamdulillah sekarang sudah melewati ujian semester satu, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar... Amin...(
fafat608@yahoo.com)

Beremma Kabher Oreng Bhebien...???

Media Bawean, 14 Juni 2009

Firdausi Nuzula Merindukan Pulau Bawean

Sudah 5 tahun saya tidak pulang ke Pulau Bawean, karena kesibukan belajar dan mengajar di Jakarta. Semua yang ada di Bawean hanya bisa aku saksikan lewat dunia maya (Media Bawean).

Alhamdulillah... Puji syukur kepada Allah SWT. dan dengan kehendak-Nyalah lewat jurnalis handal dan kreatif dari pemuda Pulau Bawean asli, saya bisa menjelajah Pulau Bawean walaupun fisik belum bisa sampai disana.

Lewat Media Bawean, saya sangat berharap akan lebih banyak lagi generasi-generasi Pulau Bawean yang makin tertarik dengan dunia jurnalistik. Walaupun dunia ini tidak menjanjikan materi yang berlimpah, tapi lewat ilmu-ilmu yang disebarkan, Insya Allah akan menghadirkan pahala yang berlimpah di sisi Allah SWT.


Seiring dengan semakin pesatnya arus modernisasi, generasi sekarang sangat dianjurkan dan diharapkan untuk tidak hanya bergelut dengan pelajaran yangg bersifat teori saja, tapi juga harus menguasai dunia yang 1 ini. Dunia Jurnalis.

Maju terus Media Bawean....
Walaupun fisik saling berjauhan...

Tetapi Ukhuwah tetap harus terjalin.


By : firdausi nuzula (fier_nz@yahoo.com)
Asal Pagerangan In Jakarta

Surat Pembaca Buat Khotibur Rasyadi Alwi, SE. M.Si.

Media Bawean, 6 Oktober 2008

Dari : Juman Mansyur (Bawean People in Bali)

Taqabbel Allahuminnawaminkum.

Saudaraku? Anda Caleg DPR bukan Caleg Gubernur atau Bupati, harusnya anda tahu DPR itu punya tugas mengoreksi bukan pengambil keputusan.

Saya sudah baca promo Anda, yang mau saya komentari pada poin transport laut Gresik - Bawean. Saya mau cerita pada era tahun 1970 s/d 1985 masih kapal kayu milik pengusaha Bawean ada (Harapan Jaya, Gunung Emas, Bawean Jaya, Bawean Murni, Mahkota, Masa Jaya) semua itu dinaungi sebuah agen, kalau tak salah CV. Sinar Harapan atau Karang Emas. Yang memfasilitasi waktu itu Alm. Pak Mansyur Polisi.

Hasilnya sangat stabil dan tidak carut marut kayak sekarang walau, akhirnya harus tenggelam. Nah harusnya anda dari sekarang berjuang, bukan nanti setelah duduk santai di kursi yang empuk. Cari tahu apa penyebab keruwetan itu dan sosialisasi ke Mantan Pengusaha Kapal dan orang yang dianggap Tokoh misalnya Kemas Aman, Halik Ngari dan lain-lain. Kalau cerita saya ini bohong tanya mereka.

Yang lebih penting jangan membawa-bawa Ormas Islam kecuali Anda merangkul keduanya, ingat yang bahwa Anda Partai Golkar. Kalau Anda bisa mencari dimana titik masalah keruwetannya penyebrangan itu. Ada kapal tak boleh berangkat hanya alasan izin cargo. Bawean tak perlu ada cargo/passenger, yang penting ada kapal dan layak jalan mari kita tumpangi. Kalau mengurus ini berhasil, haqulyaqin Anda bisa duduk dan tertidur di kursi yang sangat empuk selama 5 tahun.
Selamat berjuang! merdekaaa........

Salam Kenal Buat Pahlawan Kesiangan !!!

Media Bawean, 21 September 2008

Ternyata hanya seperti ini SDM LSM yang mengatasnamakan masyarakat Bawean!!!

Pada tanggal 20 September 2008, Saya pagi-pagi sekali menyanggong ke Agen Tiket Resmi Bahari Ekpress dan setelah berjam-jam saya tungguh akhirnya agen tiketpun dibuka dan alhamdulillah saya orang pertama yang dilayani oleh Petugas penjual tiket Ekpres Bahari dan setelah itu saya lansung pulang karena juga capek nungguh dari pagi, saya gak tahu apa yang terjadi setelah saya pulag kerumah.

Ternyata setelah keesokan harimya saya berniat akan mengambil tiket yang saya boking dan ternyata setelah sampai kesana dan saya tanyakan sama petugasnya tiket yang saya boking dibatalkan semua. Terus saya tanya kenapa terjadi seperti itu??? Terus petugas menjawab yang bikin olah seperti itu adalah BASIT.

Yang saya herankan apakah anda itu berhak untuk menyuruh membatalkan tiket yang telah diboking oleh masyarakat banyak dan tidakkah anda pikirkan berapa kerugian yang masyarakat pikul akibat oleh saudara yang sok pahlawan itu?????? bukan seperti itu caranya mengambil suatu keputusan??? Bayangkan apa anda tidak berfikir bagi orang yang jauh seperti dari teranggelek jauh-jauh ke Gresik hanya untuk memboking tiket, akhirnya akibat olah saudara orang tersebut tidak dapat tiket.

Kasiankan mereka!!! aku berharap saudara jangan jadi pahlawan kesiangan.

Anak Bawean

DARI REDAKSI MEDIA BAWEAN
Terima kasih atas mail

“Ada Apa Dengan Bawean……?”

Media Bawean, 10 September 2008

Mail Dari : SHALEHODDIN

Polemik yang terjadi akhir-akhir ini pada fenomena masyarakat bawean saat ini perlu kita sikapi dengan arif dan bijaksana “Ada Apa Dengan Bawean……?”


Pertanyaan besar itu perlu kita jawab sendiri dalam hati yang paling dalam, adanya kasus bencana alam, melambungnya harga sembako dan BBM, rote transportasi kapal yang tak menentu dan harga tiket yang mencekik masyarakat, politisi busuk yang piawai mempolitisir penderitaan masyarakat, dan adanya penjahat birokrasi di segala bidang (pemerintahan, pendidikan dan keamanan), sampai yang terakhir adanya konflik horizontal yang menyebabkan terjadinya pembunuhan di Dusun Patar Desa Patarselamat Kecamatan Sangkapura. Hal ini menurut sebagian banyak tokoh masyarakat Bawean diakibatkan oleh lemahnya Kepemimpinan Kepala Desa Patarselamat (Red. Kepala Desa wayang)

Terhadap pemberitaan kasus yang terakhir, Maka perlu saya sarankan kepada Media Bawean untuk tetap memberikan informasi yang jelas dan akurat terutama pada kasus yang terakhir. Semua berita yang Media Bawean Posting dari beberapa surat kabar (cth.Detik Surabaya) dan pernyataan-pernyataan dari berbagai pihak perlu difilter / crosscek dan lebih dulu dikonfrontasikan kepada pihak atau masyarakat benar-benar mengetahui kejadian tersebut. Karena dari beberapa pemberitaan yang di launching ke Internet tidak faktual dan ngawur.

Hal yang demikian itu akan menambah panas suasana yang sudah panas terutama bagi keluarga korban di dusun Patar. Indikasi pemberitaan yang mengarah pada usaha mengkamuflasekan kejadian yang sebenarnya, sudah sangat tampak. Pemberitaan peristiwa ini mulai dibelokkan pada masalah-masalah yang tidak ada hubungannya (pilkades, misalnya). Bagi orang yang biasa menunggangi dan suka meresahkan masyarakat bisa mendapatkan korban lebih banyak dengan hanya 1 peluru. Jika demikian siapa yang akan diuntungkan oleh pemberitaan dari Media Bawean?

Selain ini sudah sepatutnya media Bawean harus bersedia terus mengawal pemberitaan proses hukum yang akan di lalui oleh si pembunuh, sebagai referensi seberapa efektif kasus hukuman atas pembunuhan ini memberikan pengaruh dan efek jera bagi siapa saja yang punya kemungkinan dan niat untuk menghabisi nyawa orang lain. Thank’s…….Wassalam!

Dari Redaksi Media Bawean :
Terima kasih atas saran dan masukannya kepada Media Bawean. Adapun mengenai berita media lain yang diberitakan dalam Media Bawean, adalah bentuk informasi yang dilengkapi dengan sumber berita. Bila ada kekurangan, kurang faktul atau ngawur dalam pemberitaan Media Bawean, mungkin ini adalah kekurangan kami dalam pemberitaan di Media Bawean. Semoga kedepan Media Bawean akan lebih baik dan bisa menata diri untuk memberikan informasi yang aktual dan tidak ngawur. Terima Kasih.

Hei Caleg Bawean

Media Bawean, 9 September 2008

Mail Dari : Juman bin Mansyur (Boyans People)

Saya salah satu warga Indonesia yang terlahir di pulau ya sangat kecil dan terpencil (Pulau Bawean) dan saya sangat pemerhati dengan pulau itu. Menurut cerita (bukan dongeng) dulu pelayaran Surabaya - Bawean sangat normal dan stabil, walaupun kapal kayu seperti kapal omsini dan kapal-kapal putra daerah.

Akan tetapi seiring masa yang berlalu dan bertemu dengan masa yang modern dan menjamurnya para wakil rakyat dari Bawean di Kabupaten Gresik tidak membuahkan hasil yang memuaskan bagi warga Bawean sendiri, terutama soal penyebrangan. Ironis sekali terjadi di zaman modern dan reformasi.

Apa gunanya dialog yang menghabiskan banyak dana tanpa hasil dan mengimplementasikan kepada rakyat Bawean yang selalu habis karena tenggelam. Ada kapal yang mampu memberi kenyamanan tidak boleh jalan, alasannya izin cargo. Kalau kita lihat di semua penyebrangan yang ada di pulau-pulau di Indonesia tidak pernah mempersoalkan izin cargo atau lainnya. Contoh nyata kapal Rinjani, Dobon Solo, Tilong kabila itu didalamnya berbaur antara kendaraan, hewan, barang dan manusia.

Pesan buat semua Caleg Pemilu 2009 Dapil Bawean, untuk memperjuangkan satu saja keinginan rakyat Bawean , yaitu bagaimana penyebrangan Bawean jadi lancar. Kalau tidak bisa mending mundur saja atau denger dulu lagu iwan fals : wakil rakyat bukan paduan suara.

Dari Redaksi Media Bawean :
Terima kasih kepada Juman Bin Mansyur atas kiriman mailnya kepada Media Bawean. Kepada semua Caleg Pemilu 2009 Dapil Bawean, agar memperhatikan harapan warga Bawean. Bukan sekedar janji disaat kampanye saja, tapi bukti nyata memperjuangkan aspirasi warga Bawean saat terpilih sebagai wakil rakyat.

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean