Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label TULISAN SUMIYATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN SUMIYATI. Tampilkan semua postingan

Curahan Hati (Curhat) Sumiyati
Via Mail Hubungi Media Bawean

Media Bawean, 29 November 2012


Sumiyati setelah meninggalkan Pulau Bawean sejak lama, kemarin (selasa, 27/11/2012) melalui mail mengirim tulisan sebagai berikut :

Saat kita berada ditengah-tengah laut, dimana arah tak lagi bisa ditentukan dan diampun bukan pilihan, kita pasti melihat antara laut dan langit menyatu seakan-akan tanpa rasa dendam yang mengganjal kehidupan.

itulah yang membuatku pergi dari Pulau Bawean, pulau yang dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.

aku ingin MEREKA damai tanpa sedikitpun rasa dendam, karena dendam tidak akan pernah membuat hati kita tentram.

Oh, Bawean dan semuanya yang tidak akan pernah dapat aku lupakan, maafkan aku yang telah meninggalkanmu.

DAN

aku berharap masih ada ruang yang INDAH untukku.

Sumiyati (Penulis Media Bawean)
Menghilang Bersama Sang Pacar

Media Bawean, 28 September 2012 


Sumiyati sebagai Penulis Mingguan di Media Bawean telah pergi meninggalkan rumahnya, kemarin hari kamis (27/9/2012).

Dimanakah Sumiyati berada? Niman P. Samukri  (36 tahun) sebagai ayah Sumiyati memberikan keterangan di Kantor Polsek Sangkapura, bahwa anaknya diduga telah pergi meninggalkan Pulau Bawean, kemarin (kamis, 27/9/2012) dengan naik kapal menuju Pulau Jawa untuk bertemu sang pacar.

Menurut Niman, sebelumnya tidak ada prasangka anaknya akan meninggalkan rumah, disebabkan pagi hari berangkat ke sekolah dengan membawa bungkusan yang menurutnya pakaian olahraga.

Kabar menghilangnya sang juara I lomba menulis Media Bawean, baru diketahui setelah adiknya menerima sms yang isinya jangan dicari sudah pergi selamanya. Mengetahui adanya sms, langsung kedua orang tua Sumiyati mencari ke sekolah ternyata sudah pulang, lalu ditanyakan kepada teman-temannya juga tidak ada yuang mengetahuinya.

Niman menduga Sumiyati telah pergi bersama sang pacar yang dahulunya pernah tunangan selama beberapa bulan, sehubungan kedua orang tuanya menginginkan agar anaknya melanjutkan sekolah sehingga hubungannya pertunangan putus.

Ketika melapor di kantor Polsek Sangkapura, Niman sempat bertanya akankah Sumiyati akan pulang kembali ke Pulau Bawean? "Kerja keras selama ini hanya untuk mencukupi kebutuhan  rumah tangga dan pendidikan anak, tapi kenapa harus meninggalkan rumah sehingga membuat susah kepada orang tuanya,"katanya.

Media Bawean telah melakukan pengecekan di manifest penumpang pemberangkatan kapal, nama Sumiyati seperti tertera dibagian paling bawah. (bst)

Rahma Yang Bertangan Satu

Media Bawean, 14 Agustus 2012

Oleh : Sumiyati


Namanya Anggun Rahmawati. Wajahnya oval, hidungnya mancung, matanya bulat tapi tidak besar dan berkulit kuning langsat. Memang cantik, tapi siapa yang dapat menduga kalau Rahma, putri semata wayang Pak Rohim dengan Bu Romla itu terlahir cacat. Dia hanya mempunyai satu tangan karena tangan kirinya memang tidak ada sejak dia lahir. Walaupun hanya punya satu tangan, Rahma tidak pernah minder pada teman-temannya yang terlahir normal. Dia juga tidak pernah menyalahkan ibunya yang telah melahirkannya kedunia karena dia sangat yakin ibunya bukan tidak menjaganya sejak dia dalam kandungan sang ibu sehingga dia lahir tanpa tangan kiri. “Ya Allah… ini adalah anugerah-Mu. Aku rela Engkau menciptakanku hanya dengan satu tangan karena aku yakin dibalik ujian ini ada sesuatu yang Engkau istimewakan dariku. Aku mohon pada-Mu Ya Allah, tegarkanlah diriku dalam menghadapi cobaan-Mu ini”. Doa Rahma disela tangisnya.

Bagi Rahma terlahir cacat bukanlah akhir dari segalanya. Dia sangat yakin kalau Allah mempunyai maksud tertentu yang tidak bisa dia kira-kira. Masa kecil Rahmapun tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia juga bersekolah, belajar kelompok dan mengaji bersama disurau Pak Ahmad bahkan Rahma menjadi santri kesayangan Pak Ahmad karena Rahma santri beliau yang tercerdas. “Ya Allah…. Terima kasih Engkau telah menjadikan hamba anak yang cerdas. Insya Allah akan hamba jaga kecerdasan ini dengan baik. Tolonglah hamba dalam menjaga anugerah-Mu ini ya Allah, karena hamba yakin tidak ada yang patut dimintai pertolongan selain-Mu. Janganlah Engkau membuat hamba sombong karena kecerdasan yang Engkau berikan padaku”. Begitulah lantunan doa Rahma, anak yang terkenal dikampungnya karena kecerdasannya. Selain cerdas, dia juga rendah hati, ringan tangan dan ramah pada semua orang. Itulah mengapa Rahma sangat dikagumi oleh banyak orang.

Rahma juga anak yang tegar. Setiap kali dicaci teman-temannya Rahma tidak pernah merasa kecil hati apalagi dendam. Dia senantiasa memaafkan cacian teman-temannya . itulah Rahma yang selalu berpegang teguh pada akidahnya.

Hari demi hari terus berganti dengan seiringnya waktumembawa Rahma kemasa dewasa. “Abi, Umi, kalau diizinin Rahma mau melamar pekerjaan. Siapa tahu dapat meringankan beban Abi dan umi”. Kata Rahma dengan antusiasnya.

“Boleh-boleh saja. Tapi kamu harus ingat Rahma, sholat jangan sampai dinomerduakan karena kerja”. Kata Pak Rohim pada putrinya yang sangat beliau sayangi.

Rahma sangat senang karena orang tuanya mengizinkan dia bekerja. Dia juga mulai mengutak-atik komputernya guna mencari lowongan kerja lewat internet. Setiap perusahaan yang dikirimi lamaran pekerjaan oleh Rahma merasa tertarik pada prestasi Rahma yang cemerlang dan kelihaiannya dalam berbahasa Arab dan Inggris.. namun, setiap kali dia diundang untuk wawancara langsung dengan pemilik perusahaan, dia harus menguatkan diri dengan selembar surat yang berisi penolakan.

“Sebelumnya saya sangat tertarik dengan prestasi-prestasimu Rahma, sehingga sayapun memanggilmu untuk bertemu langsung dan Tanya jawab tentang seputar pekerjaan. Tapi, saya mohon maaf karena saya tidak bisa menerimamu Rahma. Saya yakin kamu pasti tahu alasan saya mengapa kamu ditolak untuk bekerja disini”. Kata Pak Handoko yang sedari tadi tampak bingung merangkai kata-kata yang pas agar tidak menyinggung perasaan Rahma.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti dengan kekurang saya. Bapak juga tidak perlu meminta maaf pada saya karena saya tidak bisa memaafkan Bapak yang tidak bersalah”. Kata Rahma penuh hormat dan tidak memendam marah sedikitpun.

“Terima kasih,Rahma. Ternyata selain cerdas dan sabar kau juga sangat baik. Semoga kamu mendapatkan pekerjaan sebaik hatimu”. Kata Pak Handoko. “Amin ya Robb. Terima kasih atas doanya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Pak. Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikum salam”.

Ternyata bukian hanya perusahaan Pak Handoko saja yang melakukan hal yang sama pada Rahma. Perusahaan yang lainpun juga demikian. Awalnya tertarik dan mengundang Rahma untuk wawancara mengenai seputar pekerjaan akhirnya ditolak juga dengan alasan dia terlahir cacat. “Ya Allah, saya hanya manusia biasa yang tidak bisa apa-apa tanpa petunjuk-Mu. Tidak tahu apa-apa tanpa kuasa-Mu. Saya mohon ya Allah tolong tergarkanlah hati saya dalam menghadapi kenyataan hidup yang harus saya jalani ini”. Bisik doa Rahma dalam hatinya yang tengah menangis.

Keesokan harinya , disore yang indah saat Rahma asyik mencabuti rumput ditaman mungilnya yang ada didepan rumahnya tiba-tiba datang tiga orang lelaki menghampirinya. “Selamat sore, Mbak”. Sapa lelaki yang memakai jas hitam seperti orang kantoran sedangkan dua orang temannya hanya diam saja.

“Selamat sore juga. Ehm…. Apa ada yang dapat saya bantu?”. Kata Rahma dengan ramahnya yang tidak dibuat-buat.

“Terima kasih, Mbak, maaf kalau saya mengganggu. Tempat tinggalnya Rahma, putrinya Pak Rohim disebelah mana ya?”.

“Itu tempat tinggalnya, Pak”. Rahma menunjuk kerumahnya. “Dan saya sendiri Rahma, putrinya Pak Rohim”. Rahmapun mengajak masuk tamunya. Kebetulan sore itu Abi dan Umi Rahma juga ada dirumah. Di sore itu keluarga Pak Rohim tampak berseri-seri menyambut kedatangan tiga orang tamunya.

“Bapak, Ibu, kedatangan kami kemari yaitu untuk meminta Rahma bekerja dikantor kami, itupun kalau Rahma berkenan”. Kata Pak Budi, lelaki yang memakai jas hitam. “Sebelumnya kami minta maaf , pak, bukannya kami menolak niat baik Bapak, tapi Bapak harus tahu dulu kalau Rahma itu hanya mempunyai satu tangan “. Kata Bu Romla. “Bagi kami itu bukan suatu masalah Bu, toh Rahma masih punya tangan walau hanya satu”. Kata Pak Budi. “Rahma kan sudah biasa melakukan pekerjaan dengan satu tangan. Bukankah begitu, Rahma?”. Lanjutnya.
“Iya, Pak”. Kata Rahma.

Akhirnya Rahma bekerja diperusahaan milik Pak Budi. Dia tampak sangat anggun dengan jas kantornya. “Alhamdulilah, terima kasih Ya Allah, akhirnya hamba dapat pekerjaan juga”. Katanya lirih. Lalu dia teringat dengan kata-kata almarhum kakeknya yang meninggal saat Rahma masih kelas 6 SD “Pada saatnya Allah akan memberikan apa yang kita inginkan. Jangan putus asa untuk terus berdoa dan berusaha”.

Selamat Tinggal Kesulitan

Media Bawean, 20 Juli 2012

Oleh : Sumiyati 
(Penulis Mingguan Media Bawean)

Banyak orang enggan bermimpi karena merasa tidak pantas atau malu, padahal menjadi sukses adalah hak setiap orang. Namun tidak begitu dengan Anita, yang berusaha menggapai mimpinya. Jika Ita memakai kacamata “Ita anak desa” seperti saat dia kanak-kanak, sulit dipercaya apa yang terjadi hari ini padanya. Rasanya tidak masuk akal, bahwa mimpi anak desa itu benar-benar akan menjadi kenyataan. Pada posisinya yang sekarang, dia menjadi sangat terpesona oleh ‘peta perjalanan’ nya dulu yang terlihat begitu stratejik dan sangat rapi. Sebuah perjalanan yang diatur oleh pakar manajemen hidup yang tiada duanya. Allah SWT.

“Andai aku punya usaha yang bisa menghasilkan uang, pasti aku tidak usah capek-capek mengemis pada papa untuk biaya berobat mama”. Kata Ita dalam kesalnya saat pulang dari rumah papanya yang menikah lagi setelah bercerai dengan mamanya. Masih terekam jelas bagaimana dirinya diusir bagai pengemis oleh papanya.

“Pa, Mama sedang sakit. Ita kemari dengan maksud agar Papa mau membantu biaya berobat Mama”. Kata Ita memelas.

“Masa bodoh!, Mamamu mati sekalipun aku tidak peduli”.

“Pa, aku mohon bantulah Mama! Kali ini saja”. Kata Ita lagi.

“Sudah pergi sana!”. Kata papa Ita sambil mendorong Ita dengan kerasnya. Itapun terlempar kehalaman dan lututnya menghantam keras salah satu pot besar yang ada dihalaman itu. Berdarah. Meskipun demikian, dia tetap memelas pada sang papa demi kesembuhan mamanya.namun kini usahanya gagal karena papanya sengaja melepas anjing peliharaanya yang ganas untuk mengusir Ita. Ita pulang dengan lutut yang memar dan berdarah. Dia bersumpah dalam hati tidak akan menginjakkan kakinya dirumah papanya itu lagi. Kelakuan papanya tidak akan pernah terlupakan.

Ditengah mirisnya kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kekurangan, Ita terus menyediakan ruang yang penuh dengan konsentrasi untuk menggapai keinginannya.’ingin membahagiakan mamanya’. “Mama bahagia jika kamu cerdas, patuh pada Mama, berakhlak mulia dan berguna bagi bangsa”. Kata sang Mama. Untuk mewujudkan semua itu, bukanlah hal yang rumit bagi Ita yang terkenal dengan kecerdasannya, tutur katanya yang bagai mutiara dan akhlaknya yang patut diacungi jempol. Tidak heran kalau disekolahnya dulu Ita menjadi siswi teladan. Bahan dikampusnya kinipun Ita menjadi mahasiswi yang sangat disegani oleh para mahasiswa/I yang lain dan dosennya. Perlu diketahui!, berkat kecerdasannya, Ita selalu mendapatkan beasiswa. Jangan heran kalau dari sekolah menengah pertama sampai di universitas, Ita tidak pernah membayar sepeserpun. Jangankan membayar kuliah, melanjutkan ke SMP saja rasanya tidak mungkin. Maklumlah, mama Ita hanya tukang cuci baju yang gajinya hanya cukup untuk membeli beras satu kilo dan sayur satu ikat. Meskipun makan hanya dengan sayur daun singkong dan sambal terasi, Ita sangat bersyukur, diri dan mamanya masih bisa makan. Ya begitulah masa kecil Ita yang selalu dirundung kemiskinan. Tapi karena kemiskinan itulah yang pada akhirnya membawa Ita pada sebuah kesuksesan. Bagi Ita, menjadi miskin itu enak. Nikmat. Karena dengan demikian, Ita memiliki kesempatan lebih banyak untuk bermimpi.

“Aku sangat mempercayai nasehat bahwa orang yang sungguh-sungguh miskin bukanlah orang yang tidak memiliki uang melainkan orang yang tidak memiliki mimpi. Kesulitan hidup sebetulnya mengandung banyak peluang yang dibutuhkan semua orang yang ingin maju dan mengejar mimpi: pelajaran hidup, latihan kesabaran dan uji tahan banting. Percaya padaku!, tidak ada sekolah yang mengajarkan itu pada kita semahal apapun kita bisa membayar. Yang bisa mengajarkan hanyalah pengalaman hidup yang nyata. Maka bersyukurlah kalau kita dianugerahi kesusahan hidup , karena kita dipercaya untuk belajar”. Kata Ita.

Ita juga sering menceritakan bagaimana sebuah jembatan dahsyat berhasil ia bangun diantara dataran kemiskinan dan kejayaan. Bagaimana semangat yang menyala-nyala dalam dirinya bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. “Inilah misteri hidup yang sesungguhnya. Tidak ada yang tidak mungkin jika segenap roh, energy dan hati kita mengupayakannya menjadi mungkin”. Imbuhnya.

“Dulu, aku juga orang miskin. Bahkan, boleh dikatakan orang termiskin dikampung. Tapi berkat kemiskinan itulah yang selalu mendorongku untuk maju. Semasa SMP, aku sudah mulai bekerja. Paginya sekolah, sorenya kerja dirumahnya Bu Santika yang membuka usaha bordir kecil-kecilan. Kecuali hari Senin dan Selasa karena pada hari itu aku harus mengikuti les Bahasa Inggris disekolah. Dengan begitu aku bisa mengurangi beban Mama. Tiga tahun kemudian Bu Santika beserta keluarganya pindah ke luar kota. Aku menggantikan usaha Bu Santika, kebetulan aku sudah paham membordir. Perlaha-lahan usaha itu terus berkembang pada akhirnya berkembang pesat sampai akhirnya aku harus menyediakan tempat khusus dan beberapa karyawan karena mulanya usaha itu aku buka dirumah. Tahun kedua dari dimulainya usaha itu, aku menambah satu usaha lagi yaitu usaha batik. Keduanya sama-sama berkembangnya dan banyak diminati orang. Kedua usaha itu pulalah yang pada akhirnya membawaku pada kesuksesan. Alhamdulillah, aku bisa mengangkat diri dan Mamaku dari kemiskinan.

Kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya karena dari kemiskinan itu kita punya banyak peluang untuk terus maju pantang mundur, berusaha dan berdoa. Percayalah, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Fa inna ma-‘al ‘usri yusraa.

Pengalaman Tak Terlupakan

Media Bawean, 29 Juni 2012

Oleh : Sumiyati
(Penulis Mingguan Media Bawean)

Pada awalnya saya sangat yakin, menulis adalah satu kata yang tidak dapat saya lakukan dengan mudah dan menyenangkan. Pikiran harus plong, suasana santai dan menyenangkan, menghafal teori dan teknik menulis adalah hal yang harus dimiliki untuk menulis, sedangkan saya merasa itu sangat tidak mungkin saya miliki. Namun, disaat saya kelas enam sekolah dasar di SDN Gelang Paci yang berada di Dsn, Gelang Paci. Ds, Gelang. Kec, Sumber Baru. Kab, Jember saya diminta agar mewakili kelas enam untuk mengikuti lomba adu membuat cerita pendek (cerpen). Jujur saja, saya hampir menangis wakti itu dari saking takutnya. Takut tidak bisa membuat cerpen untuk mengikuti lomba yang mengharuskan setiap kelas ada yang mewakili. “Bagaimana kalau sampai kalah dengan adik kelas?”, pikiiran itu selalu muncul disaat saya mau tidur dan tak jarang membuat saya tidak nyenyak tidur.

Perlombaan tinggal sepuluh hari lagi sedangkan saya tidak punya ide apa yang akan saya tulis untuk dijadikan cerpen?. Saat bingung dan takut kalah mencercah pikiranku, tiba-tiba mataku tertuju pada ratusan semut yang hilir mudik. Saya amati para semut yang selalu memyempatkan diri bertegur sapa dengan temannya setiap berpapasan walau temannya berjumlah ratusan bahkan ribuan. Timbullah ide untuk membuat cerpen tentang semut. Saya peras habis-habisan otak saya untuk merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraph, dan paragrapf menjadi sebuah cerpen. Alhamdulillah, cerpen yang saya garap dengan judul ‘Manusia Sombong Kalah Sama Semut’ selama Sembilan hari itu mendapat penghargaan yang sangat luar biasa dari guru-guru. Suatu hal yang sangat tidak saya duga. Nah, berawal dari cerpen itulah saya mulai tertarik untuk menulis.

Setiap menjumpai seorang penulis hebat, selalu muncul pertanyaan yang menggelitik hati. Bagaimana cara ia menulis, bagaimana cara ia mendapatkan inspirasi untuk cerita-ceritanya, bagaimana cara ia mengolah kata-kata dan merangkainya menjadi bahasa yang indah dan mempesona, dan seterusnya. Sayapun tertarik untuk mencoba membuat cerita tentang kehidupan saya. sangat sulit memang, tak jarang saya menbolak-balik hasil tulisan dan terkadang merasa kecewa keika melihat hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Mencoba lagi, hasinya tak jauh beda. Saya akhiri kegiatan menulis cerita itu, toh saya memang tidak punya minat menulis dan tak seorangpun guru pernah menganjurkan saya untuk menjadi seorang penulis. Putus asa. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat DI DALAM SUJUD CINTA (Catatan Hati Sumiyati), cerpen yang saya anggap tidak seperti yang saya harapkan, saya kirim ke Media Bawean untuk mencoba mengikuti lomba menulis opini dan berita yang diselenggarakan oleh Komunitas Wartawan Gresik (KWG) bersama Media Bawean. Alhamdulillah, jadi pemenang penulisan bahasa terbaik. Pengalaman yang tak akan terlupakan.

Menulis, yang semula saya anggap sungguh sulit, ternyata tidak sesulit yang saya pikirkan asal ada kemauan untuk belajar, belajar dan terus menulis. Sulit memang, melatih diri untuk terbiasa menulis, seperti saya sendiri yang tidak berminat unuk menulis. Dulu, sewaktu saya masih di Sekolah Dasar, saya menulis tergantung perasaan. Kalau sedang bahagia, tulisan saya rapi, tegak. Pokoknya dijamin indah. Sebaliknya, kalau sedang sedih, tulisan sayapun amburadul dan sulit dibaca selain saya sendiri yang membacanya. Saya anggap itu sebagai kebiasaan buruk saya yang harus dirubah. Pelan tapi pasti sayapun mengikis kebiasaan buruk itu. Alhamdulillah sukses. Sekarang, baik sedang bahagia maupun sedih tulisan saya tetap rapi dan menulis menjadi salah satu hobby saya.

Tak jarang saya dilempari pertanyaan menulis tentang kebiasaan menulis saya, dan pertanyaan yang palng sering di ajukan adalah sebagai berikut;

Penanya: Anda sangat sering menulis tentang orang-orang susah. Mengapa Anda tidak menulis tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup?

Saya: Mereka yang mengalami menyenangkan dalam hidup lebih sedikit disbanding mereka yang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.

Penanya: Apakah Anda memiliki jam-jam teratur , atau apakah Anda menulis ketika Anda ingin menulis?

Saya: Saya menulis saat saya punya kesempatan untuk menulis. Penanya: Pasti ada satu atau beberapa hal yang Anda anggap sebagai unsur terpenting dalam tulisan Anda. Apa itu?

Saya: Pertama; pelajari makna dan penggunaan kata-kata. Kedua; pelajari cara menyusun kalimat yang dapat mewakili pikiran yang dikehendaki. Ketiga; milikilah sesuatu yang pantas diucapkan sebelum memulai sebuah cerita. Keempat; pelajari cara penggunaan kekuatan emosional sebuah cerita untuk menghasilkan kesan-kesan abadi dalam pikiran para pembaca.

Penanya: Apa nasehat Anda bagi seorang penulis muda? Saya: Mantapkan diri untuk menulis sampai taraf bahwa siapa saja yang ingin berhasil dalam pekerjaannya pasti melalui masa-masa belajar. Dokter, pengacara, tukang roti, tukang potong rambut, mekanik, insinyur, tukang cetak dan bahkan tukang buat batu bata seperti ayah saya juga belajar plus dengan pengalaman. Mengapa para penulis muda tidak?.

Akhlak Karimah

Media Bawean, 22 Juni 2012

Oleh : Sumiyati 
(Penulis Mingguan Media Bawean)

Pada kesempatan kali ini Sumiyati mengangkat tema ‘Akhlak Karimah’. Memang,bagi yang sudah terpengaruh budaya barat yang dinilai maju dan modern, bercerita akhlak karimah di era globalisasi seperti sekarang ini dinilai kuno, jaman dulu (jadul), ketinggalan zaman, dheso, kampungan dan kurang maju. Bercerita akhlak di zaman ini, dimana dunia terbalik, adalah hal yang sangat ditertawakan. Sebentar, dunia terbalik?. Ya, sekarang ini dunia terbalik. Tidak percaya? Perlu bukti?.

Coba kita lihat! Sekarang ini, khususnya dalam soal berpenampilan, banyak laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki. Yang laki-laki rambutnya panjang, memakai perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, telinganya di beri anting layaknya seorang perempuan. Alasannya “Biar Keren”. Yang perempuan rambutnya dipotong pendek seperti laki-laki, memakai celana dan baju yang ketat, yang lebih parah lagi memakai celana di atas lutut dan baju pendek ketat sehingga lekukan tubuhnya terlihat seakan-akan tidak berpakaian dan dengan begitu sok PE-DEnya rambutnya dibiarkan terurai. Yuk kembali ke akhlak karimah!.

Apa sih akhlak karimah itu?
Secara terminology, akhlak adalah pola perilaku yang berdasarkan kepada dan memanifestasikan nilai-nilai Islam dan Ihsan . Menurut Imam Ghazali, akhlak yaitu suatu keadaan yang tertanam didalam jiwa yang menampilkan perbuatan dengan senang tanpa memerlukan penelitian dan pemikiran.

Sedangkan karimah berarti mulia, terpuji, baik. Apabila perbuatan yang keluar atau yang dilakukan itu baik dan terpuji menurut syariat dan akal maka perbuatan itu dinamakan akhlak yang mulia atau akhlakul karimah. Kebalikan akhlak karimah adalah akhlak mazmumah. Kendatipun manusia menilai baik, namun apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka hal itu tetap tidak baik. Sebaliknya, walaupun manusia menilai kurang baik, apabila Islam menyatakan baik, maka hal itu tetap baik.

Suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai akhlak jika ia memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
a. Dilakukan berulang-ulang (continue). Jika dilakukan sekali saja atau jarang-jarang maka tidak dapat disebut sebagai akhlak. Sebagai contoh: jika seseorang tiba-tiba memberi hadiah kepada orang lain karena alasan tertentu maka orang tersebut tidak dapat dikatan berakhlak mulia.

b. Timbul dengan sendirinya, tanpa pikir-pikir atau ditimbang berulang-ulang karena perbuatan itu telah menjadi kebiasaan baginya. Jika suatu perbuatan dilakukan setelah dipikir-pikir dan ditimbang-timbang, apalagi karena terpaksa maka, perbuatan itu bukanlah pencerminan akhlak (Ensiklopedia Islam, jilid 1, 1993:102).

Fungsi akhlakul karimah dalam kehidupan adalah sebagai buah dari satu-satunya latar belakang diciptakannya manusia, yaitu untuk beribadah (menyembah) kepada Allah swt. Karena akhlak karimah merupakan cerminan dari berbagai aktivitas ibadah kepada Allah swt. tanpa buah (akhlak karimah) ini maka ibadah hanyalah sebagai upacara dan gerak-gerik yang tidak memiliki nilai dan manfaat apa-apa.

Aqidah yang kuat merupakan akar bagi tegak dan kokohnya bangunan Islam. Kemudian syariah dan ibadah merupakan cabang-cabang yang akan membuatnya semakin rimbun, tampak subur, teduh dan kian menjulang. Sementara akhlak adalah buah yang akan dihasilkan oleh pohon yang berakar aqidah serta bercabang syariah dan berdaun ibadah. Pohon yang baik, tentunya akan menghasilkan buah yang baik. Maka, aqidah , syariah serta ibadah yang mantap tentunya akan menghasilkan akhlak yang mantap pula, yaitu akhlak karimah.

Akhlak merupakan salah satu factor kehidupan yang sangat mendasar dan vital. Hal ini dibuktikan dengan diutusnya Rasulullah saw. ke muka bumi ini yang tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana tertuang dalam salah satu hadits Rasulullah saw. yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (H.R. Al-Bukhari, Al- Baihaqi dan Hakim).

Selain itu, Rasulullah saw. juga bersabda “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhaknya”. ( HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi)

Berdasarkan hadits di atas, dapat dilihat sesungguhnya akhlak yang mulia bukan hanya diperuntukkan bagi umat muslim saja, namun bagi seluruh manusia. “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya:107).

Ayat ini dikaitkan dengan hadits yang berbunyi “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Menyiratkan satu isyarat bahwa Rasulullah saw di utus untuk akhlak manusia yang merupakan kunci untuk mendapatkan rahmat Allah swt. akhlak mulia menjadi salah satu perintah vital didalam Al-Quran yang dilaksanakan dengan meneladani Rasulullah saw. Aisyah ra. Ditanya mengenai akhlak Rasulullah saw, maka beliau menjawab “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”. (H.R. Muslim).

Dunia ini adalah alam sosialis yang mengharuskan setiap manusia atau bahkan hewan dan tumbuhan untuk dapat saling berinteraksi dengan baik. Dan itulah urgensi dari akhlakul karimah, sebagai sarana yang dapat melahirkan kehidupan social yang tenteram tanpa gontok-gontokan.

Menurut sebagian remaja, berbicara akhlak karimah dalam era globalisasi seperti sekarang ini dinilai kuno dan kurang maju. Anggapan seperti ini muncul karena sudah terpengaruh budaya barat yang dianggapnya maju dan modern. Padahal akhlak karimah amat penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam pergaulan remaja. Ahmad Syauky Bey (seorang penyair) mengatakan “Sesungguhnya suatu umat akan tetap memiliki nama harum selama umat tersebut memiliki akhlak (yang terpuji). Manakala akhlak (yang terpuji) lenyap, lenyap pulalah nama harum umat tersebut.

Islam menempatkanakhlak dalam posisi yang sangat sinifikan yang harus dipegang teguh oleh para pemeluknya, sampai-sampai perilaku yang baik (akhlak karimah) menjadi tolak ukur kualitas kebaikan seseorang.

Masa Lalu Membuat Sarah Ekstrim

Media Bawean, 15 Juni 2012 

Oleh : Sumiyati (Penulis Mingguan Media Bawean)

“Aku bukan lesbi, Fi”.kata Sarah, yang dikenal gadis dingin kepada lelaki. Sikapnya tehadap lelaki cuek-cuek saja. Dalam pandangannya hidupnya, lelaki hanyalah pelengkap penderitaan dari proses perjalanan manusia. Lelaki banyak menghadirkan masalah dan penghambat karier. “Dulu, sewaktu aku masih kelas dua sekolah dasar, aku melihat sendiri ayahku menyiksa mama. Mamaku di tampar, dipukul, kepalanya dibenturkan ke tembok, perhiasan dan uang mama dirampas, setelah itu pergi entah kemana sampai sekarang juga tidak kembali”. Kata Sarah pada Fifi, sahabat barunya yang hampir saja jadi korban penculikan kalau saja Sarah tidak segera menghajar para penculik Fifi yang berjumlah empat orang.

Sarah, yang dikenal jago karate setelah bertahun-tahun belajar jurus-jurus karate pada kakeknya, jangankan mengalahkan empat orang, dua puluh orang sekalipun bagi Sarah bukanlah suatu masalah yang rumit. Berawal dari kejahatan yang dilakukan ayah kepada mamanyalah yang membuat Sarah mempunyai keinginan menguasai semua jurus karate yang dimiliki kakeknya sebagai senjata dirinya dan kalau sewaktu-waktu ayahnya kembali menyakiti mamanya, dia tidak akan tinggal diam.

“Dalam kamus hidupku, lelaki itu menyakitkan, ngobral janji kalau sudah ada maunya, awalnya mesra-mesra tapi dibalik kemesraannya, ada pisau yang mengancam dan siap mencabik-cabik hati kita sewaktu-waktu. Itulah sebabnya aku tak mau dibuat pusing oleh lelaki, karena aku belum siap disakiti seperti mama”. Kata Sarah.

“Tapi, bagaimanapun juga kita sebagai perempuan tetap membutuhkannya”. Kata Fifi mencoba membuat Sarah agar tidak terlalu ekstrim terhadap lelaki.

“Memang, tapi kapan kita membutuhkannya? Waktu sendiri?”. Tanya Sarah memasang wajah angkuhnya “Sudahlah, Fi, aku jadi malas berteman dengan Doni kalau buntutnya kesitu juga”.

“Tapi Sar, Pak Doni itu orangnya baik, tak mungkin berbuat sejahat ayahmu”. Kata Mely, yang juga sahabat Sarah.

Tidak sedikit teman Sarah yang bermaksud mencarikan partner buat Sarah. Tapi tak satupun yang yang mendapat sambutan baik dari Sarah. Mungkin karena Sarah di sia-siakan ayahya sedari kecil, sehingga Sarah ekstrim pada lelaki. Walaupun demikian, bukan berarti Sarah tidak mau berteman dengan lelaki. Kalau hanya berteman dan bersahabat, Sarah tentu mau. Tapi, kalau sudah ke masalah pribadi, Sarah akan sangat cuek secuek-cueknya dan akhirnya Sarah tidak mau berteman lagi. Sedangkan Sarah yang menjadi incaran banyak lelaki, hanya cuek-cuek saja dan menanggapi seperlunya.

“Sar, ini ada ada bungkusan dari Pak Adang”. Kata Mely, sahabat Sarah yang sekantor dengan Sarah sambil memberikan bungkusan kepada Sarah.

“Buat aku? Tumben banget itu orang ngasih sesuatu sama aku. Biasanya nich Mel, pelitnya setengah mati”. Kata Sarah sambil membuka bungkusan dari Pak Adang, atasan Sarah yang jadi pimpinan perusahaan. Setelah dibuka, ternyata isinya berupa kunci sepeda motor, sebuah handphone, amplop dan boneka lucu. Sarah membuka amplop dan tersenyum kecut membaca isi surat Pak Adang yang mengatakan kalau hadiah itu sebagai ucapan terima kasih karena Sarah telah menyelamatkan nyawa dan hartanya saat dia habis mengambil uang di bank. Saat itu Sarah baru keluar dari toko roti, melihat seorang laki-laki di keroyok tiga orang preman, tanpa babibu lagi Sarah langsung mengirim satu tendangan ke punggung preman yang memegang koper Adang. Brukk! Preman itu ambruk dan Sarah segera mengambil koper itu.

“Bangsat!, siapa kau? Aku tidak punya urusan dengan kau!”. Kata si preman yang tinggi besar.

“Owh… ternyata anda belum mengenalku. Namaku Sarah Anjasmara, usiaku dua puluh tujuh tahun, hobbyku membasmi orang-oramg jahat seperti kalian”. Kata Sarah dingin. “Apa masih ada yang ingin anda tanyakan lagi?”.

“Ha ha ha ha, hai nona manis, jangan mimpi kau bisa membasmi kami. Sudah pergi sana!. Jangan sampai kami yang membasmimu nona cantik”. Kata yang kena tendangan Sarah.

“Kalau aku pergi sebelum menghajarmu, sama saja aku membiarkan kamu menghancurkan dunia”. Kata Sarah angkuh.

Tanpa diduga sitinggi besar mengirim satu pukulan ke pelipis Sarah. Namun, dengan tenang Sarah merendahkan kepalanya. Kemudian dengan gerakan yang mantap dan sulit diduga, Sarah mengayunkan tendangan karatenya mengarah kedagu preman itu. Tubuh si preman terjembab kebelakang. Bibirnya berdarah.

Melihat keadaan yang kurang menguntungkan itu, preman yang berkumis tebal meloncat dengan satu tendangan kearah muka Sarah. Namun, Sarah yang sudah mengira serangan itu, merendahkan kepalanya dan sebuah pukulan karate singgah ditengkuk preman itu. Para preman itu sungguh tidak mengira lawan yang dihadapinya demikian pandai menguasai jurus-jurus karate. Sarah kemudian mengirim satu pukulan telak mengenai rahang sikumis tebal. Matanya mendadak berkunang-kunang. Tiba-tiba dia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Lalu roboh tak berkutik. Pingsan.

”Maju!”. Bentak Sarah kepada sitinggi besar.

Sitinggi besarpun maju dengan geram dan menyerang Sarah dengan satu tendangan lurus mengarah dada. Sayang, dalam hal berkelahi preman itu bukanlah tandingan Sarah. Para preman itu dapat dikalahkan dengan begitu mudahnya.

“Sekarang ini kalian aku beri maaf, kalau masih penasaran dengan jurusku, kapan-kapan kita lanjutkan. Pergilah dan bawalah temanmu itu kerumah sakit”. Kata Sarah memberi kesempatan pada mereka untuk pergi. Merekapun pergi tergopoh-gopoh sambil memapah yang pingsan.

“Sarah, kau tidak apa-apa?”. Adang menghampiri Sarah. “Betapa tangkasnya Sarah dapat mengalahkan para preman itu”, pikir Adang.

“Seperti yang Bapak lihat, Pak, ini kopernya. Lain kali lebihlah berhati-hati! Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi”. Kata Sarah yang tetap menghormati Adang sebagai atasannya walau sebenarnya dia adalah sahabat Sarah sejak kecil.

Adang mencoba menerka sifat Sarah yang tampak tenang tapi lebih ganas dari seekor singa jantan. Ketenangannya itu mencerminkan diri Sarah yang berjiwa keras tapi dingin. Pantas membawakan peranan pembunuh berdarah dingin.

“Sar, kok malah bengong sich. Pasti mikir mana sepeda motornya ya? Kata Pak Adang sepeda motornya ada di kantor. Besok bisa kau ambil”. Kata Fifi menepis lamunan Sarah.

“I…i.. iya, Fi”. Sarah tersenyum malu.

Sarah dan Fifi sangat kaget melihat seorang laki-laki tengah pingsan dihalaman rumahnya. Dengan susah payah mereka memapahnya ke kemar tamu. Entah dari mana asalnya hati Sarah begitu teriris seolah-olah menangis melihat lelaki yang kini belum sadar juga. “Fi, kasihan sekali bapak ini. Entah mengapa hatiku sangat sedih melihat kondisinya”. Kata Sarah pada Fifi.

“Mugkin karena kamu berjiwa pahlawan, Sar”. Kata Fifi.

Dua hari Sarah dan Fifi merawat merawat lelaki itu dengan penuh sabar karena mamanya Sarah sudah empat hari di luar kota. Yang sangat membuat Sarah senang, lelaki itu sangat kenal dengan mamanya. Rupanya lelaki itu masih menunggu kedatangan mamanya Sarah untuk menjelaskan kalau dirinya adalah ayah Sarah.

Tiga hari setelahnya, mamanya Sarah pulang, dan lelaki itu masih ada di rumah Sarah. Hal yang sangat membuat Sarah kaget adalah setelah mamanya menjelaskan kalau lelaki itu adalah ayah kandung Sarah.

“Sarah, Allah saja mau memaafkan kesalahan hamba-Nya, apalagi kita yang hanya ciptaan-Nya. Sarah mau kan maafin papa?”.

“Sarah sudah dari dulu memaafkannya. Kesalahan papa hanya termaafkan tapi tidak terlupakan. Kalau sampai berbuat seperti dulu lagi, akan Sarah hajar. Sarah tidak mau mama disiksa lagi seperti dulu”. Kata Sarah sambil memeluk mamanya yang selama ini berperan jadi ayah sekaligus ibu buat Sarah.

“Tidak, Sarah. Kesalahan itu tidak akan pernah papa ulangi. Diusia papa yang tinggal seujung rambut ini akan papa habiskan untuk menjadi papa yang baik untukmu”. Kata papanya Sarah.

Sarah sangat bahagia, hari-harinya kini dilalui dengan papa dan mamanya. Semoga dengan kehadiran papanya, dia tak lagi jadi gadis dingin terhadap lelaki.

Karena Leukimia

Media Bawean, 8 Juni 2012 

Oleh : Sumiyati
(Penulis Mingguan Media Bawean)

Malam yang indah, sang dewi malam hadir menemani bintang-bintang yang bertaburan. Angin malam menyapa dengan ramah tapi terasa menusuk ketulang. Suara jangkrik mengerik mencoba menepis keheningan malam, entah berada dicelah mana. Maklumlah, rumah Rafika MeWah, mepet sawah maksudnya. Rafika menyandarkan tubuhnya disebuah pohon jati samping rumahnya sambil menatap tajam ke langit. Dia melihat awan putih yang bergerak perlahan dibawa angin.

Dia sadar hidup ini hanyalah satu putaran, malam-pagi-siang-sore kembali kemalam lagi, bagitulah hidup ini yang hanya berputar ditempatnya tanpa merasa lelah dan bosan. Allah SWT. menciptakan bulan untuk menemani malam dan matahari untuk menemani siang. Keduanya tidak mungkin bersatu. Air mata Rafika jatuh, teringat kesatu hal yang tidak mungkin dia satukan dalam hidupnya. Ya, hanya satu. “Kamu ibarat kencur yang mau menggapai langit, Ika. Pikir dong pakai otak”. Kata Angga, kakaknya Rafika. Ika sendiri tidak mengerti mengapa kakaknya selalu menganggap konyol cita-citanya yang ingin menjadi sekretaris?. Menjadi sekretaris bukanlah suatu masalah bagi Ika yang terkenal dengan kejujurannya, kepandaiannya dan kedisiplinannya. Tapi mengapa kakaknya selalu mengatakan semua cita-cita Ika akan sia-sia belaka?. “Ya Muhaimin….. berdosakah kalau aku bercita-cita? Bukankah setiap orang yang berakal sehat pasti mempunyai cita-cita?”. Ika terus mencoba menerka-nerka ada apa sebenarnya pada dirinya sambil menerawang langit yang diterangi sang rembulan tapi dia tak mendapatkan satupun jawaban.

Rembulan terus merangkak. Makin malam semakin tinggi. Cahayanya yang keperakan n menerangi mayapada. Suara gong-gongan anjing dan binatang malam lainnya ramai seperti sedang berpesta merayakan indahnya malam yang dihiasi oleh kerlap kerlip bintang. Bagi seorang pelaut zaman dahulu bintang adalah pemandu arah ketika pandangan terbatasi cakrawala. Jika langit tertutup mendung tebal, arah tak lagi bisa ditentukan. Maju tanpa arah tak tentu, diampun bukan pilihan. Hidup tanpa harapan dan cita, tentu juga bagai pelaut dimalam gelap saat langit menghitam. Dan Rafika, haruskah dia menjadi pelaut dimalam gelap gulita itu?.

Rafika terus mencari-cari jawaban tentang ada apa sebenarnya pada dirinya. “Allah menciptakan semesta dan isinya semua itu ada manfaatnya dan Allah tidak akan menciptakan sesuatu sia-sia, termasuk cita-citaku”. Kata Rafika seperti kepada dirinya sendiri. “Ya, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Biarpun seisi rumahku mengatakan cita-citaku konyol dan sia-sia, aku akan tetap berpegang pada cita-citaku”. Rafika menengadah kedua tangannya di depan dadanya. “Ya Robbku, ku mohon pada-Mu ridhoilah cita-citaku.”. Saat hati Rafika asyik melihat bintang dan hatinya mulai terhibur tiba-tiba, “Kadangkala kita bisa membuat rencana dan cita-cita, tapi akhirnya bisa juga kandas karena keadaan” dan wus……. Suara itu menghilang. Suara itu membuat Rafika merinding karena tidak seorangpun ada di situ kecuali dirinya. Mungkin karena suara itu tiba-tiba matanya kini berat dan tak bisa diajak kompromi lagi. Rafika segera masuk ke kamarnya lewat jendela. Setelah berdoa, dia langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur. Begitu kepalanya menyentuh bantal, terlelaplah dia dalam jiwanya yang resah. Dalam tidurnya, Rafika bermimpi bertemu dengan seorang kakek yang sedang berteduh dibawah pohon yang sangat rindang.

“Siang kek”. Sapa Rafika dengan begitu ramahnya dan terdengar merdu ditelinga sang kakek.

“Siang juga, nak”. Jawab sang kakek. Rafika yang pandai bergaul dengan cepatnya bisa kenal dengan kakek itu dan entah darimana mulanya sang kakek berkata “Nak, setiap orang pasti mempunyai keinginan, akan tetapi, manusia itu tergantung usia”. Lalu kreng….. kreng….. alarm berbunyi, membuat Rafika kaget dan terbangun. Dia menyesal karena sholat tahajjudnya bolong malam itu. Setelah rasa menyesalnya sedikit berkurang , iapun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk sholat subuh.

Berhari-hari Rafika berfikir apa maksud dari ucapan si kakek hingga terkadang otaknya tersita konsentrasinya pada tugas sekolahnya. Hal yang sangat membuat Rafika heran adalah kasih sayang orang tuanya yang dianggapnya berlebihan. Entah mengapa akhir-akhir ini ibunya selalu ada di dekatnya. Saat mau tidur, Rafika selalu ditemani dan dielus rambutnya sampai dia terlelap. Rafika sangat heran dengan orang tuanya yang memperlakukannya seperti anak kecil, padahal dia sendiri sudah delapan belas tahun. Dan yang sangat membuat Rafika bingung, dia semakin sering pusing, badannya cepat lelah.

Berminggu-minggu Rafika mencoba mencari jawaban, namun tak pernah mendapatkannya. Hingga disuatu hari dia menemukan selembar surat keterangan dari dokter mengenai penyakit leukemia.

“Bu, ini surat keterangan penyakit siapa?”. Tanya Rafika pada ibunya.

“A….. a…anu, itu miliknya almarhum pamanmu”. Jawab ibunya sengaja berbohong pada Rafika karena surat itu sebenarnya adalah miliknya.

“Lalu mengapa ayah dan ibu menyayangi Ika berlebihan sekali?”. Selidik Rafika membuat ibunya jadi bingung. Ibunya yang sudah mengira akan pertanyaan anaknya itu mencoba tidak setenang mungkin karena kalau tidak, Rafika akan curiga.

“Apakah kami selaku orang tuamu tidak boleh menyayangimu?”.

Rafika masih belum percaya dengan jawaban ibunya. Setahu Rafika dulu pamannya meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas, bukan karena penyakit leukemia. Entah mengapa disuatu sore sepulang dari les dia tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan ibunya.

“Mau tidak mau kita harus segera membawanya berobat, Ma, walaupun kemungkinannya sangat kecil”. Kata ayahnya Rafika bersungut-sungut. “Yang penting kita sudah berusaha, Ma. Seumpama takdirnya sudah sampai disitu, ya kita harus pasrah pada kehendak-Nya”.

“Tapi Pa, Mama tidak mau kehilangan Rafika”. Kata ibunya Rafika.

“Papa juga tidak mau, Ma. Tapi apa boleh buat kalau sudah takdirnya. Sudahlah, jangan menangis terus!. Takut ketahuan Rafika pokoknya dia tidak boleh sampai tahu mengenai penyakitnya”. Tapi terlambat. Dibalik pintu depan ada sosok Rafika yang sedari tadi mendengarkannya.”Ya Allah…. Ternyata inilah yang menyebabkan kedua orang tuaku mengatakan cita-citaku konyol”. Air matanya mengalir dipipinya yang putih. Lengkap sudah penderitaannya. “Pantas saja akhir-akhir ini orang tuaku berlebihan padaku, rupanya usiaku tidak akan lama lagi. Ah….. tidak. Aku tidak boleh begitu, bukankah hidup dan mati itu hanya Allah yang tahu? Ya Muhaimin…. Benarkah usiaku tinggal seujung rambut?”. Rafika berlari ketaman belakang rumahnya dengan perasaan yang tidak menentu. Antara cita-cita dan kematiannya sedang berkecamuk dalam benaknya.

“Hidup dan mati hanya Allah yang tahu”. Ya, begitulah kata Rafika yang selama ini jadi pedoman. Tapi, siapa yang tahu Rafika akan menghadap-Nya dua bulan setelah kalimat itu diucapkan?. ‘sesungguhnya kita milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kita semua akan kembali’.

Masa Lalu Membuat Sarah Ekstrim

Media Bawean, 1 Juni 2012

Tulisan Sumiyati

“Aku bukan lesbi, Fi”.kata Sarah, yang dikenal gadis dingin kepada lelaki. Sikapnya tehadap lelaki cuek-cuek saja. Dalam pandangannya hidupnya, lelaki hanyalah pelengkap penderitaan dari proses perjalanan manusia. Lelaki banyak menghadirkan masalah dan penghambat karier.

“Dulu, sewaktu aku masih kelas dua sekolah dasar, aku melihat sendiri ayahku menyiksa mama. Mamaku di tampar, dipukul, kepalanya dibenturkan ke tembok, perhiasan dan uang mama dirampas, setelah itu pergi entah kemana sampai sekarang juga tidak kembali”. Kata Sarah pada Fifi, sahabat barunya yang hampir saja jadi korban penculikan kalau saja Sarah tidak segera menghajar para penculik Fifi yang berjumlah empat orang.

Sarah, yang dikenal jago karate setelah bertahun-tahun belajar jurus-jurus karate pada kakeknya, jangankan mengalahkan empat orang, dua puluh orang sekalipun bagi Sarah bukanlah suatu masalah yang rumit. Berawal dari kejahatan yang dilakukan ayah kepada mamanyalah yang membuat Sarah mempunyai keinginan menguasai semua jurus karate yang dimiliki kakeknya sebagai senjata dirinya dan kalau sewaktu-waktu ayahnya kembali menyakiti mamanya, dia tidak akan tinggal diam. 

“Dalam kamus hidupku, lelaki itu menyakitkan, ngobral janji kalau sudah ada maunya, awalnya mesra-mesra tapi dibalik kemesraannya, ada pisau yang mengancam dan siap mencabik-cabik hati kita sewaktu-waktu. Itulah sebabnya aku tak mau dibuat pusing oleh lelaki, karena aku belum siap disakiti seperti mama”. Kata Sarah. 

“Tapi, bagaimanapun juga kita sebagai perempuan tetap membutuhkannya”. Kata Fifi mencoba membuat Sarah agar tidak terlalu ekstrim terhadap lelaki. “Memang, tapi kapan kita membutuhkannya? Waktu sendiri?”. Tanya Sarah memasang wajah angkuhnya “Sudahlah, Fi, aku jadi malas berteman dengan Doni kalau buntutnya kesitu juga”.

“Tapi Sar, Pak Doni itu orangnya baik, tak mungkin berbuat sejahat ayahmu”. Kata Mely, yang juga sahabat Sarah.

Tidak sedikit teman Sarah yang bermaksud mencarikan partner buat Sarah. Tapi tak satupun yang yang mendapat sambutan baik dari Sarah. Mungkin karena Sarah di sia-siakan ayahya sedari kecil, sehingga Sarah ekstrim pada lelaki. Walaupun demikian, bukan berarti Sarah tidak mau berteman dengan lelaki. Kalau hanya berteman dan bersahabat, Sarah tentu mau. Tapi, kalau sudah ke masalah pribadi, Sarah akan sangat cuek secuek-cueknya dan akhirnya Sarah tidak mau berteman lagi. Sedangkan Sarah yang menjadi incaran banyak lelaki, hanya cuek-cuek saja dan menanggapi seperlunya.

“Sar, ini ada ada bungkusan dari Pak Adang”. Kata Mely, sahabat Sarah yang sekantor dengan Sarah sambil memberikan bungkusan kepada Sarah.

“Buat aku? Tumben banget itu orang ngasih sesuatu sama aku. Biasanya nich Mel, pelitnya setengah mati”. Kata Sarah sambil membuka bungkusan dari Pak Adang, atasan Sarah yang jadi pimpinan perusahaan. Setelah dibuka, ternyata isinya berupa kunci sepeda motor, sebuah handphone, amplop dan boneka lucu. Sarah membuka amplop dan tersenyum kecut membaca isi surat Pak Adang yang mengatakan kalau hadiah itu sebagai ucapan terima kasih karena Sarah telah menyelamatkan nyawa dan hartanya saat dia habis mengambil uang di bank. Saat itu Sarah baru keluar dari toko roti, melihat seorang laki-laki di keroyok tiga orang preman, tanpa babibu lagi Sarah langsung mengirim satu tendangan ke punggung preman yang memegang koper Adang. Brukk! Preman itu ambruk dan Sarah segera mengambil koper itu.

“Bangsat!, siapa kau? Aku tidak punya urusan dengan kau!”. Kata si preman yang tinggi besar.

“Owh… ternyata anda belum mengenalku. Namaku Sarah Anjasmara, usiaku dua puluh tujuh tahun, hobbyku membasmi orang-oramg jahat seperti kalian”. Kata Sarah dingin. “Apa masih ada yang ingin anda tanyakan lagi?”.

“Ha ha ha ha, hai nona manis, jangan mimpi kau bisa membasmi kami. Sudah pergi sana!. Jangan sampai kami yang membasmimu nona cantik”. Kata yang kena tendangan Sarah.

“Kalau aku pergi sebelum menghajarmu, sama saja aku membiarkan kamu menghancurkan dunia”. Kata Sarah angkuh.

Tanpa diduga sitinggi besar mengirim satu pukulan ke pelipis Sarah. Namun, dengan tenang Sarah merendahkan kepalanya. Kemudian dengan gerakan yang mantap dan sulit diduga, Sarah mengayunkan tendangan karatenya mengarah kedagu preman itu. Tubuh si preman terjembab kebelakang. Bibirnya berdarah.

Melihat keadaan yang kurang menguntungkan itu, preman yang berkumis tebal meloncat dengan satu tendangan kearah muka Sarah. Namun, Sarah yang sudah mengira serangan itu, merendahkan kepalanya dan sebuah pukulan karate singgah ditengkuk preman itu. Para preman itu sungguh tidak mengira lawan yang dihadapinya demikian pandai menguasai jurus-jurus karate. Sarah kemudian mengirim satu pukulan telak mengenai rahang sikumis tebal. Matanya mendadak berkunang-kunang. Tiba-tiba dia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Lalu roboh tak berkutik. Pingsan. ”Maju!”. Bentak Sarah kepada sitinggi besar.

Sitinggi besarpun maju dengan geram dan menyerang Sarah dengan satu tendangan lurus mengarah dada. Sayang, dalam hal berkelahi preman itu bukanlah tandingan Sarah. Para preman itu dapat dikalahkan dengan begitu mudahnya.

“Sekarang ini kalian aku beri maaf, kalau masih penasaran dengan jurusku, kapan-kapan kita lanjutkan. Pergilah dan bawalah temanmu itu kerumah sakit”. Kata Sarah memberi kesempatan pada mereka untuk pergi. Merekapun pergi tergopoh-gopoh sambil memapah yang pingsan.

“Sarah, kau tidak apa-apa?”. Adang menghampiri Sarah. “Betapa tangkasnya Sarah dapat mengalahkan para preman itu”, pikir Adang.

“Seperti yang Bapak lihat, Pak, ini kopernya. Lain kali lebihlah berhati-hati! Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi”. Kata Sarah yang tetap menghormati Adang sebagai atasannya walau sebenarnya dia adalah sahabat Sarah sejak kecil.

Adang mencoba menerka sifat Sarah yang tampak tenang tapi lebih ganas dari seekor singa jantan. Ketenangannya itu mencerminkan diri Sarah yang berjiwa keras tapi dingin. Pantas membawakan peranan pembunuh berdarah dingin.

“Sar, kok malah bengong sich. Pasti mikir mana sepeda motornya ya? Kata Pak Adang sepeda motornya ada di kantor. Besok bisa kau ambil”. Kata Fifi menepis lamunan Sarah.

“I…i.. iya, Fi”. Sarah tersenyum malu.

Sarah dan Fifi sangat kaget melihat seorang laki-laki tengah pingsan dihalaman rumahnya. Dengan susah payah mereka memapahnya ke kemar tamu. Entah dari mana asalnya hati Sarah begitu teriris seolah-olah menangis melihat lelaki yang kini belum sadar juga. “Fi, kasihan sekali bapak ini. Entah mengapa hatiku sangat sedih melihat kondisinya”. Kata Sarah pada Fifi.

“Mugkin karena kamu berjiwa pahlawan, Sar”. Kata Fifi.

Dua hari Sarah dan Fifi merawat merawat lelaki itu dengan penuh sabar karena mamanya Sarah sudah empat hari di luar kota. Yang sangat membuat Sarah senang, lelaki itu sangat kenal dengan mamanya. Rupanya lelaki itu masih menunggu kedatangan mamanya Sarah untuk menjelaskan kalau dirinya adalah ayah Sarah.

Tiga hari setelahnya, mamanya Sarah pulang, dan lelaki itu masih ada di rumah Sarah. Hal yang sangat membuat Sarah kaget adalah setelah mamanya menjelaskan kalau lelaki itu adalah ayah kandung Sarah.

“Sarah, Allah saja mau memaafkan kesalahan hamba-Nya, apalagi kita yang hanya ciptaan-Nya. Sarah mau kan maafin papa?”.

“Sarah sudah dari dulu memaafkannya. Kesalahan papa hanya termaafkan tapi tidak terlupakan. Kalau sampai berbuat seperti dulu lagi, akan Sarah hajar. Sarah tidak mau mama disiksa lagi seperti dulu”. Kata Sarah sambil memeluk mamanya yang selama ini berperan jadi ayah sekaligus ibu buat Sarah.

“Tidak, Sarah. Kesalahan itu tidak akan pernah papa ulangi. Diusia papa yang tinggal seujung rambut ini akan papa habiskan untuk menjadi papa yang baik untukmu”. Kata papanya Sarah.

Sarah sangat bahagia, hari-harinya kini dilalui dengan papa dan mamanya. Sdmoga dengan kehadiran papanya, dia tak lagi jadi gadis dingin terhadap lelaki.

Gadis Bersepeda Engkol

Media Bawean, 24 Mei 2012 

Tulisan : Sumiyati


Aisyah menuju ke kamar ibunya yang hanya beralaskan selembar tikar sambil membawa sepiring nasi beserta lauknya dan segelas air putih. Dia melihat ibunya tengah menangis sambil memandang foto almarhum suaminya yang pulang ke Rahmatullah setahun yang lalu.

“Assalamu’alaikum, Bu”. Aisyah mengetuk pintu yang terbuka sambil mengucapkan salam. “Wa’alaikumussalam”. Bu Fatimah, ibunya Aisyah dengan cepat mengusap air matanya dan berusaha tersenyum pada putrinya yang terpaksa berhenti kuliah sejak kepergian suaminya sebagai tulang punggung keluarganya. Sedangkan Bu Fatimah sendiri yang berprofesi sebagai guru Taman Kanak-Kanak (TK), gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bayar tagihan listrik dan biaya sekolah Angga, anak bungsunya yang masih kelas tiga sekolah dasar.

“Ibu tidak boleh kerja dulu ya, Bu”. Kata Aisyah sambil membelai rambut ibunya dan mengecup keningnya. “Nanti kalau ibu sudah sembuh total, baru bisa kerja lagi. Sekarang, ibu makan dulu. Aisyah masakin sayur bayam dan tempe sambal goreng kesukaan ibu” dengan ramah Aisyah membujuk ibunya agar mau makan. Aisyah dengan cekatan dan penuh sabar menyuapi ibunya sampai di piring itu tidak ada sebutir nasipun yang tertinggal. Bagi keluarga Bu Fatimah, sekecil apapun rezeki yang Allah swt. jangan sampai disia-siakan termasuk sebutir nasi.

Aisyah tersenyum bahagia melihat ibunya sudah mulai lahap makan. Aisyah berlalu ke dapur setelah menyelimuti ibunya. Setelah memcuci piring dan gelas yang kotor, dia kembali ke kamar ibunya.
“Ibu, Isyah pamit dulu”. Kata Aisyah.
“Mau kemana?” Tanya Bu Fatimah.
“Isyah mau usaha kue kecil-kecilan, Bu. Isyah sendiri yang buat, terus dititipkan ke kantin-kantin dan warung kopi dengan rincian setiap laku lima kue, maka si pemilik kantin atau warkop menerima harga satu kue sebagai imbalannya. Dengan demikian kita sama-sama untung”. Kata Aisyah menjelaskan sambil berharap ibunya mau mendoakan agar kuenya cepat laku dan laba dari jualan itu bisa ditabung untuk kuliah nanti.

“Semoga keinginanmu diridhoi Allah swt, Isyah. Maafkan ibu, nak! Ibu tidak bisa membayar kuliah kamu. Ibu hanya bisa memdoakan semoga kamu bisa kuliah lagi seperti dulu”. Kata Bu Fatimah sambil menangis. “Berangkatlah, Isyah, hati-hati dan cepat pulang ya nak!”.

“Iya, bu. Isyah akan segera pulang kalau kuenya sudah terantar”. Kata Aisyah. Setiap pagi-pagi sekali Aisyah berangkat membawa kue-kue yang akan dititipkan ke kantin dan warung kopi yang bersedia menerima titipan kuenya, setelah itu dia pulang. Sore harinya Aisyah berangkat lagi untuk mengambil uang hasil penjualan kuenya.

“Isyah, kue-kue buatanmu laris manis. Bukan hanya orang yang biasa nongkrong disini saja yang beli, tetapi tetangga disini juga banyak yang beli. Kata mereka, kue buatanmu memang sangat enak dan harganya murah”. Kata Yola, salah satu pemilik warung kopi yang dititipi kue oleh Aisyah.

“Gimana kuenya enggak laris manis, Ma, yang bikin kan orangnya manis”. Sambung Benny, suami Yola.

“Mbak Yola dan Mas Benny bisa saja”. Kata Aisyah yang pipinya bersemu merah mendengar pujian Benny.

“Memang Isyah cantik dan manis kok”. Timpal Yola. “Oia Isyah, besok kuenya diperbanyak ya!”.

“Insya Allah, Mbak”. Kata Aisyah yang kemudian pergi setelah memberi imbalan sesuai kesepakatan pada Yola.

Aisyah pulang dengan perasaan bahagia, tak disangka kue buatannya banyak yang suka, setiap warkop dan kantin meminta agar besok kuenya diperbanyak lagi. Alhamdulilah….. meskipun diperbanyak, selalu habis dan semakin banyak peminatnya.

Disuati sore, saat Aisyah di tengah perjalanan pulang, dia melihat sebuah tas yang terbuat dari kulit ular tergeletak di tengah jalan. Aisyah segea turun dari sepeda engkolnya dan menyelamatkan tas itu. Aisyah mengayuh sepeda engkolnya dengan agak cepat menuju ke kantor polisi dengan maksud menyerahkan tas yang bukan miliknya itu pada polisi. Biar polisi sendiri yang mengatasinya.

“Selamat sore, Mbak, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang polisi yang berkumis tebal setelah mempersilahkan Aisyah duduk.

“Begini, Pak, tadi di tengah perjalanan saya menemukan tas ini. Kedatangan saya kemari hanya ingin menyerahkan tas ini, Pak”. Kata Aisyah sambil memberikan tas itu pada polisi.

“Saya buka dulu tasnya ya Mbak, siapa tahu ada nama pemiliknya di dalam”. Kata polisi sambil membuka tas itu dan mengeluarkan isinya. Spontan Aisyah kaget melihat isi tas itu yang ternyata semuanya barang-barang berharga seperti ATM, KTP, dokumen perusahaan, lembaran uang seratus ribuan dan perhiasan.

“Dimana Mbak temukan tas ini?” Tanya polisi penuh curiga. “Di Jalan Suka Damai, Pak. Sekitar tujuh kilo meter dari sini”. Kata Aisyah yang agak jengkel juga karena polisi itu memasang wajah curiga padanya. Dalam hatinya Aisyah berkata kok malah curiga ma aku sich apa tampangku lebih mirip pencopet daripada penjual kue?. “Begini, Mbak, saya catat nama dan alamat anda. Nanti akan saya kabari mbak kalau pemiliknya sudah mengambil tas ini. Nanti pemilik tas ini akan saya hubungi, kebetulan pemiliknya masih teman saya”. Kata polisi sambil sibuk mencatat nama dan alamat Aisyah.

“Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu karena ibu saya sakit dan sekarang sudah waktunya minum obat”. Kata Aisyah.

Ke esokan harinya tiga orang polisi, seorang laki-laki dan perempuan datang ke rumah Aisyah, membuat ibu Aisyah kaget karena Aisyah sedang mengantarkan kue-kuenya. “Kedatangan kami kemari, hanya untuk mengucapkan ribuan terima kasih pada anak Ibu yang telah menyelamatkan tas saya”. Kata perempuan itu.

“Oia Ron, mana gadis bersepeda engkol yang telah menyelamatkan tas istriku?”. Tanya laki-laki itu pada salah satu polisi yang mengawalnya.

“Aisyah masih mengantarkan kue-kuenya, nak”. Bu Fatimah yang menjawab setelah tahu laki-laki itu mencari Aisyah. Setelah lama berbincang-bincang, Aisyah datang.
“Assalamu’alaikum”. Kata Aisyah.
“Wa’alaikumussalam”. Jawab mereka serempak.
“Aisyah, terima kasih kau telah menyelamatkan tas saya “. Kata perempuan itu. “Sungguh tak pernah kuduga yang menyelamatkan tas saya gadis secantik kamu, Aisyah”. Katanya memuji.

“Ibumu sudag banyak cerita tentangmu, Aisyah. Kami akan membantu usahamu, anggap saja sebagai tanda terima kasih kami padamu. Kami memintamu mengantarkan kue-kue buatanmu ke kantin perusahaan kami yang tidak begitu jauh dari sini. Kalau kamu bersedia, hubungi kami”. Kata laki-laki itu sambil memberikan selembar kartu nama pada Aisyah. Setelah itu mereka semua pamit karena masih ada urusan.

Kini pelanggan Aisyah semakin banyak, hal itu membuat Aisyah meminta dua orang temannya untuk membantunya dengan menggajinya per orang empat ratus sebulan. Meskipun demikian, tidak ada kata rugi dalam usahanya, malah labanya berlipat ganda dan bulan yang akan datang Aisyah sudah bisa kuliah lagi.

Cita-Cita Riska

Media Bawean, 18 Mei 2012 

Oleh : Sumiyati (Penulis Mingguan Media Bawean) 

Saat adzan maghrib berkumandang, Riska baru datang dari Supermarket Indah Jaya, milik pamannya sekaligus tempat dia bekerja. Sebenarnya hal itu sungguh tidak pantas dia lakukan, selain usianya yang baru mencapai enam belas tahun dia anaknya orang yang sangat berada. Tekadnya untuk bisa membeli komputer sendirilah yang mampu membuat kedua orang tuanya mengizinkan dia bekerja. Baginya, komputer adalah pendorong cita-citanya untuk menjadi seorang penulis.

“Riska, kamu tidak perlu bekerja kalau hanya ingin membeli komputer!. Ayah mampu membelikan. Berapa lusin komputer yang kamu mau akan ayah belikan asal kamu berhenti kerja. Ayah tidak mau kamu sakit gara-gara kurang istirahat apalagi kalau sampai nilaimu anjlok”, kata Pak Ridwan, ayahnya Riska.

“Ayah tenang saja!, Riska bisa membagi waktu. Semuanya sudah jadwalnya, kapan waktunya istirahat, sholat, makan dan belajar. Mengenai komputer, Riska maunya beli pakai uang Riska sendiri. Kata pak gurunya Riska “Sesuatu yang di dapat dari hasil kerja sendiri walau hasilnya tidak seperti yang kita harapkan akan lebih memuaskan daripada mendapatkan sesuatu seperti yang kita harapkan tapi bukan dari hasil kita sendiri”. Kata Riska antusias.

“Riska, ini ada surat untukmu”. Bu Halimah, ibunya Riska memberikan sebuah suratpada Riska dengan wajah masam. Bu Halimah yang sudah tahu isi surat itu tampak kecewa sekali, entah berapa ribu surat seperti itu yang di terimanya, isinya selalu sama, yaitu tentang penolakan cerpen yang Riska kirim ke media cetak. Entah berapa puluh api unggun yang bisa Riska ciptakan dari ribuan cerpen yang di tolak beserta surat penolakan dari media cetak. Meskipun demikian, cita-citanya untuk menjadi seorang penulis tidak pernah surut dan bahkan dia semakin sering menulis cerpen dan mengirimnya ke media cetak. Kalau cerpennya di tolak di media cetak A, dia mengirimnya ke media cetak B dan kalau masih tetap ditolak, baru dia membuat cerpen yang baru dan mengirimnya lagi dan begitulah seterusnya.

“Ibu harap kamu bisa melupakan cita-citamu untuk menjadi penulis , Riska. Ibu rasa cita-citamu itu sebuah hal yang konyol. Coba kamu pikir!, apa yang kamu dapatkan selama ini dari menulis cerpen itu? Tidak ada kan? Paling-paling hanya surat penolakan saja yang kamu dapatkan”. Kata Bu Halimah mulai memasang wajah tidak sukanya.

“Ibu, bagi Riska ingin jadi penulis adalah bukan sebuah cita yang konyol, melainkan cita-cita yang mulia”. Rika tampak kecewa dengan komentar ibunya mengenai cita-citanya.

“Benar, Bu. Ayah sependapat dengan apa yang Riska katakan. Menurut ayah, cita-cita itu adalah pondasi kehidupan. Banyak orang yang akhirnya bunuh diri karena sudah tidak punya cita-cita yang menjadi pondasi kehidupannya. Misalnya, cita-citanya untuk menjadi apa gitu tidak kesampaian sehingga merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia ini dan bahkan cita-citanya untuk menjadi pendamping sang kekasih tidak menjadi kenyataan”. Kata pak Ridwan menimpali.

“Ibu tahu, ayah, yang Ibu takutkan nantinya Riska akan termasuk orang yang ayah katakan barusan”. Kata Bu Halimah.

“Ibu, jangan khawatir! Riska akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-cita Riska. Kalau seumpama Riska juga tidak bisa mewujudkannya, Riska tidak akan kecewa. Mungkin Riska memang tidak pantas menjadi penulis”. Respon Riska terhadap komentar ibunya.

Tekad kuat Riska yang berpegang teguh pada cita-citanya lagi-lagi dapat meluluhkan hati ibunya. Maklumlah, Riska anak bungsunya dan hanya Riskalah anaknya yang perempuan dari keempat anaknya, di samping itu Riska juga pandai mengambil hati orang tuanya. Sehingga apapun yang Riska inginkan selama tidak bertentangan dengan norma dan hukum, pasti dituruti.

Dengan seiringnya waktu yang berjalan, akhirnya Riska mempunyai komputer juga. Sekarang dia tidak perlu lagi menulis di kertas, setiap ada yang mau dia tulis langsung di ketik di komputernya. Naskah-naskah cerpen yang sudah dia kirim dan tidak ada satupun yang diterima, dia masukkan kedalam koper-koper yang besar lalu di simpan di dalam gudang.

Hal yang membuat Riska sangat bahagia adalah ketika cerpennya yang berjudul ‘Air Mata Tengah Malam’ dimana isinya menceritakan tentang doa Riska pada Yang Maha Kuasa yang di sertai dengan air mata ternyata di muat di salah satu media cetak. “Ya Allah…. Jangan Engkau cabut dulu nyawaku, sebelum aku jadi seorang penulis yang sukses”. Begitulah doa yang selalu Riska panjatkan dan Alhamdulillah, Allah swt. mengabulkannya.

Cita-cita Riska untuk menjadi penulis mulai ada titik terang. Di suatu sore waktu Riska sedang asyik duduk di depan komputernya, terdengar bel di bunyikan. Riska bergegas menuju ke pintu depan, ternyata seorang Pak Pos tengah berdiri di depan pintu kemudian memberikan sebuah surat kepada Riska, lalu berlalu setelah meminta tanda terima kepada Riska.

Riska sangat bahagia setelah membaca surat itu yang ternyata dari salah satu penerbit majalah di Surabaya. Di dalam suratnya, penerbit majalah itu mengatakan mau menerima tulisan Riska baik berupa cerpen maupun artikel dengan harga Rp 200.000,00 per cerpen dan Rp. 220.000,00 per artikel yang di muat.

PERLU KITA TAHU: Tidak ada jalan pintas untuk menjadi seorang penulis hebat. Ibarat perjalanan, ia penuh dengan tikungan, lekukan, kerikil tajam, rintangan, tanjakan, turunan, darah dan air mata. Bagi yang tidak sabar dengan belenggu penderitaan semua itu akan memusnahkan cita-citanya untuk menjadi seorang penulis. Namun sebaliknya, bagi yang kokoh dengan keinginan, semua itu adalah pengalaman yang sangat berharga dan tidak ternilai.

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean