Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
adsbybawean
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

Dewan Jelaskan Soal Kelangkaan Pupuk di Pulau Bawean


Para petani di Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur saat ini mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi. Padahal musim tanam pertama akan dimulai pada akhir Desember 2020. 

Mardiyah Petugas Dinas Pertanian di Pulau Bawean mengatakan masalah pupuk sebetulnya DO-nya yang dari Petro sudah keluar, sudah hampir 1 bulan. "Tapi yang jadi permasalahan itu diexpidisinya, yaitu di Muaralintas, katanya belum dapat kapal untuk muat pupuk sebanyak 400 ton ke Pulau Bawean,"katanya. 

Musa anggota DPRD Kabupaten Gresik merespon kelangkaan pupuk di Pulau Bawean menyatakan soal distribusi pupuk tahun ini jauh lebih buruk di banding tahun lalu. "Tahun lalu alhamdulillah lancar, tahun ini persoalannya karena selain pemerintah menerapkan eRDKK, juga menerapkan kartu tani untuk penyaluran pupuk subsidi,"ujarnya. 

Ketua Fraksi Partai Nasdem mengaku sudah 2 kali menemui K3PG terkait penyaluran pupuk ke Bawean. "Sejauh ini masih dapat janji dari distributor dan transportir,"ungkapnya.

Menurutnya soal kelangkaan pupuk bersubsidi tidak hanya di Pulau Bawean, semua kecamatan mengalami kelangkaan akibat penerapan kartu tani. 

Lebih lanjut Musa mengaku mendapat jawaban terakhir sekitar 5 hari lalu, K3PG telah menebus pupuk subsidi ke Bawean, tinggal nunggu transportirnya yang masih kirim ke luar pulau, mau carikan kapal angkut pupuk tapi tidak punya jaringan kapal kargo. 

"Kayaknya kedepan harus ada yang berani jadi distributor pupuk ke Pulau Bawean dari pengusaha Bawean sendiri, karena kalau tidak ya pasti akan selalu seperti ini,"paparnya.(bst)

Mengenal Buah Durian Bawean


Dari sejumlah wilayah di Bawean, salah satu yang terkenal akan duriannya adalah Dusun Balikterus, Desa Sungaiterus, Kecamatan Sangkapura. Tidak sulit menemukan pohon durian di sana. Mulai tanaman baru hingga pohon yang sudah berusia ratusan tahun.

Bukan hanya pohonnya yang menyebar, kualitas durian asal desa itu juga diakui warga Bawean. Rasanya supermanis. Bahkan, banyak yang menyebut manisnya melebihi durian montong. Namun, legitnya masih diselingi dengan rasa lain. Ada gurih-gurihnya hingga sedikit asam.

Misalnya, durian dari pohon milik Sapiudin. Warga setempat biasa menyebutnya durian balikterus. Untuk varietas itu ada dua jenis. Yang satu memiliki warna kuning jagung. Rasanya creamy dan manis, plus ada nuansa gurih.

Daging buahnya tidak berserat dan cukup tebal. Ponggenya juga khas, hanya seukuran kuku. ”Dari kulitnya juga lebih hijau kekuningan,” papar Sapiudin, pemilik pohon.

Durian berikutnya memiliki warna cenderung oranye. Varian yang satu ini tetap memiliki rasa manis yang menonjol. Namun, dagingnya lebih pulen dan ngetan. Dagingnya juga tebal. Kulitnya lebih kecokelatan.

Satu kilometer dari tempat Sapiudin, terdapat sebuah pohon durian tua. Dibutuhkan lima orang untuk bisa memeluk pohon itu. ”Kalau berbuah bisa sampai seribu lebih. Rasanya juga sangat manis. Tidak ada pahitnya,” papar Sulaiman, salah satu warga.

Sayang, tidak ada upaya untuk merawat pohon-pohon itu. Alhasil, banyak batang pohon yang kering dan ditumbuhi benalu. ”Sudah berkali-kali patah juga,” tambah Sulaiman.

Selain di Dusun Balikterus, durian di Bawean ditemukan di Dusun Gunung Soka. Ada pohon besar di sana. Nasibnya juga sama. Banyak yang penyakitan.

Memang musuh terbesar pohon-pohon durian raksasa adalah para pemburu kayu. Kayu tua biasa dimanfaatkan untuk membangun rumah. Para pemilik beralasan buah yang dihasilkan kurang tebal. Meski rasanya enak, itu tidak menjadi godaan untuk mempertahankannya.

Sebagian warga di sana sebenarnya cukup gencar menanam pohon durian. Namun, varietasnya asal Malaysia. Yakni, montong dan musang king. ”Bibitnya dibawa dari Malaysia langsung menggunakan kapal. Atau, kalau tidak, diambil dari Pulau Jawa,” papar Sapiudin yang sudah memiliki 100 pohon berbagai jenis.

Uniknya, meski suplai buah di pulau itu melimpah, durian asal Bawean tidak sampai dikirim ke luar. Sebab, dipasarkan di sana saja terkadang masih kurang. (jpc)

Dorong Kemajuan Pertanian di Pulau Bawean, Anggota Dewan Gelar Pembekalan dan Penyuluhan kepada 100 Petani



Potensi pertanian yang dimiliki Pulau Bawean Kabupaten Gresik sangat besar, dibuktikan banyaknya jenis tumbuhan yang bisa tumbuh subur dialamnya.

Musa Anggota DPRD Kabupaten Gresik asal daerah pemilihan Pulau Bawean menggelar pembekalan dan penyuluhan kepada petani melalui perwakilannya berjumlah 100 orang, kemarin hari minggu (3/11) bertempat di dusun Menara desa Gunungteguh kecamatan Sangkapura.

Menurutnya sesuai komitmen yaitu pemberdayaan masyarakat sudah dilakukan dengan memberikan pembekalan dan penyuluhan kepada petani di Pulau Bawean. "Mereka diajari tata cara bercocoktanam yang baik untuk tanaman lada, cengkeh dan durian tanpa kenal musim,"katanya.

Melalui kegiatan yang sudah dilakukannya diharapkan seluruh petani bisa memanfaatkan lahan yang ada untuk pengembangan ekonomi di Pulau Bawean.

Setelah pembekalan dan penyuluhan pertanian dilakukan, dilanjutkan pembekalan tekhnik penyiapan lahan, perawatan, pemupukan di Gunung Gendang Pulau Bawean.

Musa yang kini menjabat Ketua Fraksi Partai Nasdem di DPRD Kabupaten Gresik menyatakan salut atas kinerja UPT Pertanian di Pulau Bawean yang turut serta andil dalam mensukseskan kegiatan pembekalan dan penyuluhan kepada petani. "Mereka bertugas sebagai abdi negara yang baik dalam memperjuangkan kemajuan pertanian,"pungkasnya. (bst).

Tanam Padi Jajarlegowo Kurang Diminati Petani Bawean


Penanaman padi dengan cara jajarlegowo ternyata tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan dari petani di Bawean. Padahal hasilnya bisa meningkatkan 30 % dari hasil panen biasanya.

Lailatul Mukarramah Kepala UPT Pertanian Bawean membenarkan kurangnya respon petani untuk menanam padi dengan jajarlegowo. "Alasannya petani tidak mau sehubungan kesulitan mencari tenaga kerja untuk menanam padi di sawah,"katanya.

Mengatasi persoalan tersebut, UPT Pertanian Bawean langsung membuat regu tanam jajarlegowo yang dipusatkan di kampung Batulentang desa Telukjatidawang.

"Jangan khawatir bagi petani yang membutuhkan tenaga tanam padi jajarlegowo sudah dipersiapakan tenaganya yang siap melakukan penanaman di Bawean,"ujarnya.

Menurutnya hanya sebagian kecil saja yang menanam dengan jajar legowo. "Jika dipresentasekan hanya 20%, itupun petani yang paham dengan ilmu pertanian,"paparnya.

Langkah baru, ibu yang akrab dipanggil Irma menyatakan mempunyai tekhnologi baru untuk diterapkan bagi petani di Bawean.

Yaitu tanam singgang yang dilakukan setelah panen raya, yaitu batang padi disisakan 10 cm, setelahnya dibiarkan sampai tumbuh kembali yang usianya sampai 50 hari bisa dipanen kembali.

"Praktis karena tidak melakukan penanaman awal, juga tidak membutuhkan biaya besar seperti menanam waktu awalnya,"pungkasnya. (bst)

Buah Merah Kian Langka di Pulau Bawean


Apakah Anda pernah merasakan kelezatan buah surga asal Pulau Bawean? Bila belum, silahkan mencoba kemudian bandingkan dengan rasa buah-buahan lainnya. Tentunya buah surga atau dikenal buah merah akan memiliki rasa berbeda lebih lezat dan gurih.

Buah merah termasuk jenis buah-buahan sampai sekarang belum ditemukan spesies tumbuhannya. Keistimewaannya, pohon buah merah hanya tumbuh dan berbuah di Pulau Bawean. Ironisnya buah ini tidak memiliki harga atau kurang laku dijual ke pasar, sehingga warga Pulau Bawean merasa enggan untuk merawat atau menanamnya.

Sampai sekarang buah merah tidak memiliki nama, jenisnya berbeda dengan buah merah asal Papua. Almarhum Basofi Sudirman sebagai mantan Gubernur Jawa Timur ketika kunjungan kerja ke Pulau Bawean merasa tertarik untuk menikmati rasa buah merah. Setelah merasakan kenikmatan dan kelezatannya, beliau spontanitas memberikan nama buah merah menjadi buah surga asal Pulau Bawean.

Abdul Rozaq warga Tambak, mengatakan buah merah di Pulau Bawean sudah mulai langkah, alasannya tidak memiliki harga jual di pasaran. "Dahulu pohon buah merah banyak tumbuh disetiap kampung, sekarang tinggal hitungan jari saja,"katanya.

Menurutnya, perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah, agar buah merah (buah surga) yang hanya tumbuh di Pulau Bawean tetap dilestarikan serta dikembangkan sehingga memiliki nilai jual dan berharga.

"Dinas Pertanian Gresik pernah mengambil bibit tanaman buah merah asal Pulau Bawean, ternyata pohonnya sampai sekarang belum berbuah,"ujarnya.

"Perlu adanya penelitian khusus agar pohon buah merah memiliki nama, serta diketahui khasiat yang dikandungnya,"paparnya.

Bagaimana rasa buah merah? "Enak, lezat dan gurih. Berbeda dengan buah-buahan lainnya terasa lemak, dan manis. Terasa sangat nikmat bila di juz,"jawabnya.

Perlu diketahui, musim buah merah di Pulau Bawean mulai bulan april sampai bulan agustus. Ciri-ciri buahnya ada semacam duri-duri kecil, setelah memegang langsung digarukkan ke rambut langsung hilang durinya. Jenisnya ada dua macam, yaitu buah merah dengan warna merah dan buah merah mantega berwarna putih.

Nur Yasin sebagai warga Sawahmulya, Sangkapura menyatakan dahulu di kampungnya banyak tumbuh pohon buah merah. "Bila musimnya, silahkan mengambil dan memakan sepuasnya tidak dijual alias gratis,"pungkasnya.

"Tapi sekarang sudah banyak ditebangi oleh warga, sehubungan buahnya tidak laku dijual ke pasar, serta adanya mitos bahwa pohonnya sebagai rumah makhluk halus,"ungkapnya. (bst)

Kembangkan Durian Master di Pulau Bawean



Banyaknya lahan kosong di Pulau Bawean menjadikan Abdurrahman asal Tanjungori Tambak tertarik menawarkan durian master.

Durian master yang ditawarkan kepada warga Pulau Bawean tergolong istimewa sehubungan punya bobot berat sampai 17 kg. Sedangkan waktu penanaman sampai berbuah membutuhkan waktu selama 3 tahun.

Abdurrahman yang kini menetap di Jember mengatakan sudah seringkali pulang ke.kampung halamannya untuk mensosialisasikan penanaman buah durian master kepada warga. "Alhamdulillah responnya sangat bagus, sekarang sudah mulai banyak yang mengancam,"katanya.

Menurutnya tanah di Pulau Bawean sangat cocok untuk pengembangan buah durian master, baik didataran tinggi ataupun tanah miring dan lainnya. "Syaratnya buah durian master bisa berbuah harus bisa berinteraksi langsung dengan matahari,"ujarnya.

Selain itu, juga ada pemupukan sehingga bisa mempunyai kembang yang banyak. Tapi menurutnya kembang yang banyak harus dipotong, sehingga hanya berbuah kisaran 6 sampai 10 buah dengan berat sampai 17 kg. (bst)

Hasil Panen Anjlok di Pulau Bawean


Hasil tanam padi tahun ini mengalami penurunan drastis sehubungan serangan hama tikus dan tanaman terkena penyakit.

Akhirnya banyak petani melakukan panen sebelum waktunya, dari tenggang waktu 119 hari umur padi ditanam, cuma 80 hari sudah dilakukan aksi panen di sawah. Alasannya, khawatir jika ditunggu sampai waktunya, hasil tanam akan semakin habis.

Kepala UPT Pertanian Bawean Lailatul Mukarromah membenarkan adanya aksi panen sebelum waktunya, alasannya khawatir hasil semakin berkurang. "Gagal panen tahun ini disebabkan hama tikus dan tanaman diserang penyakit,"katanya.

Walaupun aksi panen sudah dilaksanakan, Irma memperkirakan hanya 20% saja yang sudah melakukan, sedangkan 80% masih menunggu sampai waktunya panen selama 80 hari.

Sesuai hasil mengubin atau menimbang hasil panen yang dilaksanakan UPT Pertanian Pulau Bawean memang hasilnya mengalami penurunan drastis. Diantaranya desa yang telah selesai dilaksanakan penimbangan, seperti desa Paromaan, Gerejek, dan lainnya. (bst)

Butuh Pelatihan, Kesulitan Pasarkan Hasil Tani


Hamparan lahan yang cukup luas di Pulau Bawean belum bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk pertanian. Ini lantaran para petani di pulau tersebut membutuhkan pelatihan cara bertanam dan cara memasarkan hasil tani.

Wiwin Suryaningsih warga Desa Lebak mengatakan pertanian di Pulau Bawean sudah beragam hasilnya. "Kalau dahulu orang hanya menanam padi, tapi sekarang sudah banyak yang menanam sayuran dan buah-buahan seperti semangka, melon, mangga bahkan buah naga," katanya.

Meski pertanian di Bawean sudah beraga, tetapi tidak semua petani paham bagaimana cara bertani yang benar. Sehingga, para petani termasuk dirinya sangat memerlukan pelatihan-pelatihan dari dinas terkait.

"Sangat perlu pendidikan langsung pelatihan bukan diajarin teori saja, apalagi diberi bibit unggul oleh pemerintah,"tuturnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pertanian Bawean Lailatul Mukarromah mengatakan kendala pengembangan pertanian disebabkan jenis sawah tadah hujan sehingga setahun hanya bisa dimanfaatkan sekali saja.

“Jelas tidak maksimal, soalnya disini belum ada irigasi hanya mengandalkan hujan. Makanya setahun hanya sekali tanamnya,” kata dia.

Selain itu, kesulitan pemasaran hasil tani di Pulau Bawean. "Contohnya buah semangka, saat petani melakukan panen ternyata kelabakan untuk memasarkan di Pulau Bawean karena terbatasnya pembeli yang ada,"paparnya.

Adapun soal adanya sayur mayur yang disuplai dari Pulau Jawa, menurut Irma memang tidak bisa tumbuh subur di Pulau Bawean. “Sebab itu tanaman yang ada di dataran tinggi,” pungkas dia. (bst)

Permintaan Sayur Mayur Meningkat di Bawean


Permintaan sayur mayur sejak awal ramadan meningkat. Sehingga butuh pasokan dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Siti Adawiyah pedagang sayuran, kebutuhan keluarga di bulan puasa meningkat dua kali lipat. Karena mereka memasak untuk berbuka dan bersahur.

Diantara sayuran yang paling laris, seperti kubis, terong, wortel, tomat dan lain-lain. “Pasokan dari dalam petani pulau Bawean sangat terbatas, sehingga membutuhkan pasokan lebih banyak dari luar,”ungkapnya.

Kepala UPT Pertanian Bawean Lailatul Mukorromah mengatakan banyak sayuran yang tidak bisa tumbuh didataran rendah seperti wortel, kentang dan lain-lain. Sehingga sayuran jenis ini harus dipasok dari luar Bawean. (bst)

Yuk Gresik Menyukai Buah Merah Bawean



Yuk Gresik tahun 2015 ternyata suka makan buah merah.

Keistimewaannya, pohon buah merah hanya tumbuh dan berbuah di Pulau Bawean. Hanya saja buah ini belum dijual ke pasaran, sehingga warga Pulau Bawean merasa engan untuk merawat atau menanamnya.

Basofi Sudirman sebagai mantan Gubernur Jawa Timur ketika kunjungan kerja ke Pulau Bawean merasa tertarik untuk menikmati rasa buah merah. Setelah merasakan kenikmatan dan kelezatannya, beliau spontanitas memberikan nama buah merah menjadi buah surga asal Pulau Bawean.

Lailatul Mukkarromah, Kepala UPT Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Bawean mengatakan buah merah termasuk salah satu buah-buahan yang hanya tumbuh di Pulau Bawean. “Di daerah lain tidak ada, hanya di Pulau Bawean saja yang tumbuh subur,”katanya.

Kepala UPT Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Bawean yang akrab dipanggil Irma menyatakan optimis buah merah akan punya nilai jual kepada wisawatan yang berkunjung ke Pulau Bawean. “Nantinya buah merah menjadi buah-buahan terfavorit dari Bawean,”tuturnya.

Apalagi buah merah memiliki rasa berbeda daripada buah-buahan lainnya.

Untuk melestarikan buah merah di Pulau Bawean, UPT Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Bawean sudah melakukan pembibitan.

Perlu diketahui, musim buah merah di Pulau Bawean mulai bulan april sampai bulan agustus. Ciri-ciri buahnya ada semacam duri-duri kecil Jenisnya ada dua macam, yaitu buah merah dengan warna merah dan buah merah mantega berwarna putih. (bst)

Pelatihan Untuk Tingkatkan Produksi Udang




Produksi udang di Pulau Bawean selama ini masih kurang maksimal. Itu terjadi karena minimnya pengetahuan tentang budidaya udang. Untuk meningkatkan hasil produksi udang, Dinas Kelautan dan Perikanan Gresik menggelar pelatihan di Bawean.

Sasaran pelatihan ini adalah petani tambak udang yang tersebar di Pulau Bawean. Mereka dilatih untuk memahami tata cara mengelolah tambak udang yang baik.

Mardiyah penyuluh pertanian di Sangkapura mengatakan, pelatihan bagi petani tambak udang bertujuan untuk mengembangkan pertambakan udang.

Sebagai pelatih, pihaknya mendatangkan dari beberapa pembicara yang ahli didalam pengelolaan tambak udang berasal dari Banyuwangi.

Menurutnya, perkembangan tambak udang di Pulau Bawean umumnya masih menggunakan cara tradisional. Sehingga perlu dirubah menjadi profesional. Dalam pelatihan juga dikenalkan cara membudidaya udang vaname.

Bustami, pemilik tambak di Desa Lebak mengunkapkan, pelatihan sangat diperlukan untuk mendidik kepada pengelola tambak udang di Pulau Bawean. “Adanya pelatihan saya harapkan bisa memajukan pertambakan di Pulau Bawean,” paparnya.

Adapun persoalan yang sering dihadapi oleh petani tambak udang, yaitu adanya banjir yang mengakibatkan kerugian sangat besar. (bst)

Koramil Sangkapura Gelar Sergap Petani



Jajaran TNI tak main-main dalam mengontrol dan mengawasi sektor pangan. Pada musim panen ini, dilakukan operasi Sergap atau serapan gabah petani. “TNI memastikan hasil panen petani diserap, tidak dipermainlkan tengkulak,” kata Komandan Koramil Sangkapura Kapten Inf Ahmad Salami.

Pada program ini komando Rayon Militer (Koramil) 17 Sangkapura kerahkan seluruh pasukan membantu target serapan gabah petani (Sergap) ke desa di kecamatan Sangkapura. Sejak musim panen, seluruh anggota koramil aktif terjun langsung ke sawah membantu petani, serta turut serta menjemur padi.

Ahmad mengatakan sesuai intruksi Panglima TNI, selama musim panen turut serta membantu petani dengan melakukan serapan gabah petani (sergap).

Selama berbaur bersama petani, melakukan pendataan hasil panen serta menyerap seluruh aspirasinya. Diantaranya keluhan yang selama ini dihadapi oleh petani.

Lebih lanjut Ahmad menjelaskan bahwa hasil pertanian di Pulau Bawean cuma dibuat konsumsi sendiri. “Tidak seperti di Pulau Jawa, hasilnya untuk dijual lagi kepada Bulog,”ujarnya.

Soal musim tanam tahun ini, tidak ada permasalahan bagi para petani. “Hanya hasilnya berkurang disebabkan hasil tanam padi banyak yang kosong buahnya,”paparnya. (bst)

Latih Warga Tanam Polowijo hingga Pastikan Pupuk Tersedia





Masyarakat mulai dilatih dan dimotivasi untuk memanfaatkan lahan pekarang ditanami polowijo. Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan sayur mayur yang selama ini dipasok dari Pulau Jawa.

Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Gresik menggelar berbahagia pelatihan di Pulau Bawean. Diantaranya pelatihan budidaya cabai , meningkatkan produksi, produktifitas dan mutu sayuran didesa Gelam, Minggu ( 24/4).

Eko Anindito P. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura mengatakan kegiatan di Pulau Bawean ini dijadwalkan berlangsung selama 3 hari. Tujuan dari pelatihan ini, mendorong warga untuk bercocok tanam sayur mayur. Ini karena kebiasaan orang Bawean selama ini ketergantungan sayur mayur dari Pulau Jawa. “Padahal melihat perkarangan milik warga masih banyak yang kosong, termasuk lahan kosong juga masih luas,”katanya.

Sebagai pendukung, warga juga dilatih membuat pupuk organik. Ini lantaran bahan-bahan pupuk organik tersedia. Pada bagian lain dilengkapi dengan sosialisasi antisipasi hama, dilanjutkan pemburuan tikus di sawah desa Sungaiteluk. “Tidak mendapatkan satupun tikus, artinya aman dari hama,”tuturnya.

Selain pelatihan kepada petani, juga digelar sosialisasi kepada pemilik kios pupuk bersama distributor untuk pupuk bersubsidi. Adapun penyaluran pupuk di Pulau Bawean menurut Eko, tidak ada permasalahan. “Pupuk bersubsidi mencukupi untuk petani, tidak terjadi kelangkaan,”pungkasnya. (bst)

Pahit Terasa Manis Bila Dimakan dengan Seribu Rasa



Buah seribu rasa mampu mengubah rasa di lidah. Rasa kecut atau asam, akan berubah manis setelah mengkonsumsi buah ini.

Seorang warga Dirman Fauzi menilai buah seribu rasa tergolong aneh. Buah ini mampu merubah rasa dari makanan yang kecut menjadi manis. “Sudah dua kali mencobanya, ternyata buah belimbing dan jeruk yang kecut berubah rasa manis setelah memakan buah seribu rasa,”katanya.

Penemuan buah ini berawal dari monyet yang makan buah mahoni. Padahal buah mahoni rasanya sangat pahit. Ternyata disela-sela makan buah mahoni, monyet diimbangi makan buah seribu rasa. Kemudian warga mencobanya ternyata memang benar-benar manis walaupun makan buah rasa pahit ataupun kecut. Buah ini tumbuh dataran tinggi. Warga butuh waktu dan Keterampilan khusus untuk mencarinya.

Sahidan, sekretaris Gapoktan desa Daun menyatakan pencarian buah seribu rasa melalui medan sangat sulit, yaitu ke hutan rimba. “Sangatlah wajar bila harganya mahal, sehubungan warga yang mencarinya membutuhkan waktu melalui medan penuh tantangan,”paparnya.

Abdul Aziz, kepala desa Daun menjelaskan buah seribu rasa sebelumnya diberi nama sempol. Untuk menaikkan nilai jualnya, namanya diganti seribu. “Dijamin setelah makan buah seribu rasa, setelahnya makan apapun akan terasa manis. Termasuk makan garam juga terasa manis tidak manis,”tuturnya.

Naiknya harga buah seribu rasa membuat banyak warga desa Daun melakukan pencarian ke hutan rimba. Hasilnya dijual kepada warga setempat yang mengumpulkan untuk dijual lagi kepada peminatnya dari berbagai daerah di Indonesia. (bst)

Gunakan Pupuk Berlebihan, Petani Tambak Gagal Panen




Para petani di Kecamatan Tambak merana lantaran mengalami gagal panen. Bagiamana tidak, dari padi yang mereka tanam beberapa bulan lalu hasilnya hanya separuh dari yang seharusnya didapatkan. Para petani mengaku rugi karena tidak bisa mengembalikan modal untuk menggarap sawah.

Kepala Desa Grejeg Tambak, Syamsi menurutnya petani mengaku rugi karena hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. “Turun drastis hasil panen tahun ini, karena hasil panen tahun ini hanya 50 persen dari panen tahun lalu,” ungkapnya.

Menurut dia, kegagalan ini lantaran para petani menanam padi pada saat curah hujan sudah cukup tinggi. Sehingga, pada yang mereka tanam bisa bisa berkembang dengan baik. “Selain itu, pemberian pupuk yang berlebihan juga membuat padi tidak memiliki isi,” terang dia.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Paromaan Tambak Kafil Kamsidi. Pihaknya membenarkan gagal panen tahun ini sedang dialami para petani diwilayahnya. “Hampir seluruh petani mengeluhkan karena hasilnya turun sampai 50 persen dibanding tahun lalu,” katanya.

Dikatakan, gagal panen tahun ini menunjukkan keanehan. Sebab, padi yang ada di sawah sebelum dipanen dalam kondisi baik. “Tidak ada serangan hama, termasuk pupuk juga lancar. Tapi hasil panen banyak yang kurang karena padi tidak ada isinya,” ujarnya. (bst)

Bulir Padi Banyak Kosong, Efek Gerhana Matahari Total


Petani di kecamatan Tambak mulai memanen sawah. Hasilnya tak sesuai harapan, 5,6 ton untuk 1 hektar.

Kepala UPT Pertanian Bawean Lailatul Mukarromah mengaku heran atas hasil panen tahun ini. Lantaran tidak ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya. 

“Padahal pola penanaman tahun ini sudah dilakukan pembinaan dan pemantauan Petani di kecamatan Tambak mulai memanen sawah. Hasilnya tak sesuai harapan, 5,6 ton untuk 1 hektar. mulai dari awal menanam benih sampai panen,”katanya.

Selain itu tanaman sepertinya tidak ada kerusakan, semua terlihat sangat bagus. Tapi setelah dilakukan panen ternyata hasilnya untuk 1 hektar sebanyak 5,6 ton. “Ternyata banyak tanaman yang buahnya kosong,”ujarnya.

Menurutnya Irma panggilan akrabnya ada persepsi di masyarakat bahwa turunnya hasil paman disebabkan adanya gerhana matahari total. “Tapi adanya belum menyakinkan, sehingga pihak petugas pertanian akan mencari tahu penyebab yang sebenarnya,”tegasnya.

Sebagai petugas pertanian, Irma mengaku sangat sedih atas hasilnya tidak ada peningkatan. “Ini hasil di kecamatan Tambak saja yang sudah dilakukan pengubinan, sedangkan di kecamatan Sangkapura sampai saat ini belum diketahui hasilnya sebab masih pendataan,”pungkasnya. (bst)

Manfaatkan Lahan Tidur di Bawean untuk Pertanian



Dinas Pertanian Kabupaten Gresik meluncurkan program pemanfaatan lahan tidur guna mendukung ketahanan pangan. Lahan-lahan tidur tersebut ditanami padi gogo. Sebagai percontohan lahan kering seluas 1 hektar di desa Daun Sangkapura mulai ditanami.

Pemilik lahan Sahidan mengaku senang atas penunjukan lahannya sebagai percontohan tanaman padi di lahan kering. Sebelumnya lahan kosong yang dimiliknya termasuk hutan tak terawat. “Apalagi seluruh pembiayaan ditanggung oleh pihak pemerintah,”ujarnya.

Dia berharap proyek ini berjalan sesuaihararapan. Selanjutnya bisa dicontoh warga yang lain untuk memanfaatkan lahan kosong.

Mardiyah pegawai penyuluh kecamatan Sangkapura mengatakan percontohan tanaman padi di lahan kering menjadi program pendukung ketahanan pangan.

Targetnya hasil tanam padi di Pulau Bawean meningkat. “Apalagi, sawah produktif semakin berkurang karena berubah menjadi pemukiman,” katanya.(bst)

Banjir Rusak 5 Hektar Sawah Desa Lebak




Banjir yang diakibatkan hujan deras kembali melanda kecamatan Sangkapura Bawean. Imbasnya tanaman padi seluas 5 hektar di desa Lebak roboh. “Banjir ini mengancam panen, petani akan mengalami kerugian,” kata pegawai penyuluh pertanian di Sangkapura, Mardiyah, Kamis (31/3).

Banjir ini diakui telah dilaporkan pada dinas terkait di Gresik. Hanya saja sampai saat ini belum ada respon sama sekali. Padahal petani berharap ada langkah kongkrit, misalnya ada penggantian biaya benih. “Sudah Saya laporkan, Cuma belum ada jawaban,” katanya.

Sedangkan Afandi, petugas UPT Pertanian dan Perkebunan di Pulau Bawean menyatakan masih mencari solusi untuk mengatasi padi yang roboh akibat terkena banjir. “Solusinya bisa diberi tali agar padi yang roboh bisa dinaikkan kembali,”ujarnya.

Selain itu, UPT Pertanian dan Perkebunan Pulau Bawean akan mengajukan bantuan bibit sebagai wujud keperdulian kepada petani yang terkena dampak banjir. (bst)

Petani Diminta Tak Resah, Stok Pupuk Aman


Suplai pupuk bersubsidi untuk Pulau Bawean dijamin aman dan mencukupi untuk musim tanam tahun ini. Ini karena ada kepastian persediaan pupuk di gudang penyimpanan, termasuk di gapoktan. “sekarang di gudang masih tersedia 3 ton pupuk urea, pupuk organik sebanyak 1,5 ton dan pupuk phonska masih tersisi 1,5 ton,” kata salah satu pemilik kios pupuk di desa Kepuhteluk Tambak Ridwan, Minggu (31/1).

Harga sesuai ketentuan pupuk urea dijual Rp.110 ribu per sak kepada petani dengan menerima ditempat, sedangkan Rp.90 ribu per sak mengambil sendiri di gudang. Selain pupuk urea, pupuk phonska dijual Rp.135 ribu dan pupuk organik dijual Rp.40 ribu.

Lebih lanjut Ridwan menyatakan suplai pupuk kepada seluruh petani masih cukup. “Tidak ada batasan bagi petani dalam pembelian pupuk, sesuai kebutuhannya masih bisa terlayani,”katanya.

Soal harga bila melebihi ketentuan yang ada, dipersilahkan petani untuk melapor kepada kios ataupun bisa melaporkan kepada pihak berwajib sehubungan melanggar harga yang sudah ditentukan. Hazin pemilik kios yang menangani desa Daun menyatakan persediaan masih banyak untuk melayani kebutuhan petani.

“Persediaan pupuk masih terjamin, termasuk harganya masih dijual sesuai ketentuan yang ada,”ujarnya.

Kepala UPT Dinas Pertanian Pulau Bawean membenarkan stok pupuk bersubsidi dari pemerintah masih tersedia banyak di kios yang melayani petani melalui Gapoktan di setiap desa.

“Dijamin persediaan pupuk tidak bakalan mengalami kelangkaan seperti tahun lalu, apalagi sekarang sudah dilayani 4 kios di kecamatan Tambak dan 2 kios di kecamatan Sangkapura,”pungkasnya. (bst)

Buah Naga Tumbuh Subur di Pulau Bawean



Buah naga ternyata bisa tumbuh subur di bumi Pulau Bawean. Muhammad Ilyas asal Menara desa Gunungteguh mengaku senang buah naga yang ditanam diperkarangan rumahnya ternyata bisa membawa keberuntungan.

Berawal dari pemberian batang pohon buah naga yang diberi saudaranya di Blitar sekitar 6 tahun yang lalu, setelah ditanam ternyata bisa tumbuh baik. "Sekarang sudah banyak pohonnya, termasuk diambil warga lainnya yang ingin menanamnya juga,"katanya.

Menurutnya musim buah naga berbuah pada bulan november sampai maret. Menariknya buah naga berbuahnya tidak bersamaan seperti buah lainnya. "Sepertinya bergantian berbuah sehingga tidak putus,"ujarnya.

Lumayan hasil panen bisa dijual untuk mencukupi kebutuhan bersama keluarga di rumah. "Belum sampai di pasar sudah habis terjual, harganya yang besar Rp.15 ribu, tanggung Rp.13 ribu dan kecil Rp.10 ribu. Lumayan setiap panen bisa memperoleh Rp.2 juta,"paparnya.

Selain dijual, buah naga juga dibagi-bagikan kepada tetangganya di kampung Menara.

Kepala UPT Pertanian Bawean Lailatul Mukarromah mengatakan struktur tanah sangat cocok untuk ditanam buah naga, terbukti banyak warga yang menanam berhasil.

Untuk mensosialisasikan penanaman buah naga di Pulau Bawean, pihaknya merencanakan membuat perkampungan yang khusus seluruh warganya menanam buah naga. "Buah naga sangat menguntungkan karena buahnya masih langka di Pulau Bawean, termasuk harganya masih tergolong mahal bila dibandingkan buah mangga,"pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean